PREGNANT SERIES || Because I'...

By penapika

593K 8.6K 1K

"Baik, saya akan menikah dengan Kevin." Mila tidak pernah tahu, jika karena kalimat itu, hidupnya harus terje... More

[0] CAST
[1] Mila's Side - The Begin.
[2] Kevin's Side - Menjadi Superheronya?
[3] Mila's Side - Aku menyesal.
[4] Writer's Side - Hanya Satu Bulan.
[5] Kemil's Side - Ada apa dengan Mila?
[6] Kemil's Side - Mila hamil?
[7] Mila's Side - Sok Tidak Perduli.
[8] Kemil's Side - 'Bayi Kita'.
[9] Kevin's Side - Bawaan Bayi.
[10] Kevin's Side - Psikopat?
[11] Kevin's Side - Dia ingin melakukannya?
[12] Mila's Side - Sisi lain Kevin.
[13] Mila's Side - Dia mencintaiku?
[14] Mila's Side - 'Aku ingin melakukannya'.
[15] Kevin's Side - Sahabat.

[16] Mila's Side - Kehangatan milik Kevin.

12.8K 504 77
By penapika

“Kevin, dia tidak seburuk yang kamu pikir kan?” aku mengatakannya, membuka pembicaraan dengan Gwen yang masih sibuk menata peralatannya kembali ke dalam tasnya.

Gwen sudah memeriksa keadaanku, dan katanya keadaan bayiku baik-baik saja. Hanya bagian pinggulku yang sedikit memar akibat terjatuh tadi.

“Aku tidak ingin membahasnya,” setelahnya, Gwen berdiri dari duduknya, beranjak pergi dari tempatnya, tetapi tanganku lebih dulu menahannya.

“Tolong dengarkan aku sebentar, Gwen,” aku menatap Gwen dengan pandangan memohon, berharap dia mau mendengarku.

Dan beruntung Gwen mau melakukannya.

“Apapun yang akan kamu katakan tidak akan membuatku menyukainya, Mila” ujarnya, memberikan peringatan padaku sebelum aku berhasil mengatakan sesuatu.

Membuatku menghela napas pelan.

Sepertinya membuat Gwen luluh akan lebih sulit dari yang kupikirkan. Tetapi aku tetap ingin berusaha melakukannya.

“Tidak masalah, Gwen. Aku tidak akan memaksamu untuk menyukainya, tetapi tolong, jangan membencinya,” ujarku,

Setelahnya aku bisa melihat Gwen menggerakkan tubuhnya, beralih menghadapku, dengan tatapan dalamnya.

“Bicaralah. Aku akan mendengarnya,” ujarnya, membuatku tersenyum pada akhirnya.

“Kamu mengenalku kan? Kamu tahu berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk bisa mencintai Adrian setelah kak Rey pergi meninggalkanku. Sama seperti saat itu, ini juga tidak mudah bagiku, Gwen,” aku mengatakannya, mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya.

Hanya Gwen dan Rafa, orang terdekatku yang tersisa selain bibi.

Jadi aku tidak ingin kehilangan mereka juga, hanya karena mereka tidak menyetujui keputusanku.

Gwen mengangguk, kemudian bertanya, “Lalu?”

“Aku tahu kamu marah, Gwen. Aku juga. Aku sempat membencinya, menghardiknya, bahkan memperlakukannya dengan buruk. Tapi setelah melihat sikapnya selama sebulan ini, aku sadar bahwa Kevin bukanlah orang yang buruk,”

Aku sengaja memberikan jeda sejenak, berusaha untuk tenang dalam menghadapi Gwen, berhati-hati juga agar tidak salah bicara dengannya.

“Kevin, dia mencintaiku sejak dua tahun yang lalu. Dia menjagaku, mengawasiku, dan menyayangiku tanpa sepengetahuanku. Bahkan mungkin kasih sayang yang dia berikan melebihi apa yang sudah Adrian berikan padaku,”

“Dan karena itu kamu mau menikah dengannya? Karena dia menyayangimu melebihi Adrian?” sindir Gwen sarkas, membuatku menggeleng, aku tahu persis inti dari pertanyaan Gwen padaku.

“Aku mau menikah dengannya karena aku pikir ini jalan terbaik untuk kami bertiga,”

Gwen mengerutkan dahinya, lalu bertanya, “Apa maksudmu?”

“Seperti yang kamu tahu, aku sedang hamil, Gwen. Dan bayi ini adalah anak Kevin. Jadi bagaimana aku bisa kembali pada Adrian saat aku justru mengandung anak dari pria lain?” aku mengatakannya, mengungkapkan alasan yang sebenarnya.

“Apalagi saat aku tahu bahwa Kevin sangat menyayangiku dan menyayangi bayi kami, melebihi apapun di dunia ini. Jadi jika kamu menjadi aku, apa kamu akan memilih untuk tetap kembali pada Adrian? Dan berakhir dengan membuatnya menderita setelah mengetahui semuanya?”

Gwen terdiam, mungkin sedang merenungi perkataanku sebelumnya. “Aku hanya ingin melihatmu bahagia, Mila,”

Dan aku mendekatinya, memegang kedua tangannya yang dia letakkan di atas pahanya, “Aku tahu. Mungkin ini terdengar tidak masuk akal, tetapi aku yakin Kevin akan berusaha untuk membahagiakanku, seperti yang sudah dia lakukan sebelumnya,”

“Tapi dia sudah pernah menyakitimu sekali, bisa saja dia akan melakukannya lagi, kan?”

“Dan mungkin juga tidak, iya kan?” kataku, membalikkan perkataan Gwen, bukan untuk membela Kevin, tetapi aku berusaha untuk membuat Gwen bisa melihat realita yang ada di depannya.

Bukan berpacu pada satu kesalahan saja.

“Tapi aku masih tidak yakin dia akan membuatmu bahagia,” ujar Gwen, mengatakan keraguannya.

“Mungkin kamu harus bicara dengan Arya, atau tidak perlu Arya, kamu bisa menanyakan soal Kevin pada Chris. Kamu tahu Chris berada di pihak yang netral kan? Dia tidak berpihak pada Kevin ataupun Adrian,” ujarku, mencoba cara lain untuk meyakinkan Gwen.

“Mila, aku –”

“Aku akan melakukan apapun yang kamu katakan, Gwen. Jika setelah kamu tahu bagaimana Kevin, dan masih tidak mengijinkan aku menikah dengannya, maka aku tidak akan menikah dengan Kevin,” kataku, membuat sebuah keputusan final.

Membuat Gwen membulatkan matanya, sangking terkejutnya, “Kenapa? Maksudku, kenapa harus mengikutiku?” tanyanya, bingung.

Sedang aku hanya menjawabnya dengan tersenyum, “Kamu adalah keluargaku, Gwen. Dan aku tidak bisa menikah dengannya, jika salah satu keluargaku menentangnya. Selain itu ...” aku sengaja menggantungkan ucapanku, membuat Gwen menuntutku untuk melanjutkannya.

“Selain itu?” tuntutnya.

“Aku yakin bahwa apapun yang kamu lakukan, semuanya untuk kebaikanku,” ujarku, membuat Gwen berangsur memelukku, memasukkanku ke dalam dekapan hangatnya.

Aku merindukan Gwen, merindukan pelukan hangat seseorang yang sudah menemaniku dan menjagaku selama kurang lebih dua belas tahun ini.





O0O





“Pinggulnya masih sakit?” tanya Kevin, dengan nada cemasnya.

Terlihat sekali bahwa dia masih sangat mengkhawatirkanku, meski Gwen sudah berkata bahwa keadaanku dan bayiku baik-baik saja.

Kini kami berdua sudah berada di apartemen milik Kevin, sengaja menunda jadwal fitting baju pengantin kami karena keadaanku tidak memungkinkan untuk melakukannya.

Menanggapi pertanyaan Kevin sebelumnya, aku menggeleng “Aku baik-baik saja, Kevin,” kataku, berusaha menenangkannya yang terlihat masih gelisah.

“Maaf. Karena melindungiku, kamu harus terluka,”

Kevin mengatakannya, dengan kepala menunduk, membuatku memegang sebelah tangannya, lalu berkata, “Bukan salah kamu kok. Memang aku saja yang kurang hati-hati,”

Tapi aku yakin Kevin masih berusaha menyalahkan dirinya sendiri, terlihat dari bagaimana dia tidak ingin menatapku saat ini.

“Hei, apa pemandangan lantai lebih menarik dariku? Kenapa tidak mau melihatku?” aku memegang dagu Kevin, sedikit memaksanya untuk menatapku.

Aku bisa melihat kesedihan dalam matanya saat menatapku, membuatku terenyuh. Sekali lagi menyadarkanku, betapa besar rasa sayang Kevin padaku.

Setelahnya Kevin mendekatkan tubuhnya padaku, memasukkanku ke dalam pelukan hangatnya yang perlahan menjadi tempat ternyaman untukku.

“Jangan terluka lagi. Aku tidak sanggup melihatnya,” ungkapnya, mengeluarkan kegelisahan yang dirasakannya.

Aku membalas pelukan Kevin, mengeratkannya dengan tubuhku, “Akan aku usahakan,” ujarku.

“Aku ambil kompresan dulu,”

Kevin segera mengatakannya, setelah mengurai pelukannya denganku, membuatku segera menahan tangannya yang hendak pergi menuju dapur.

“Untuk apa?” tanyaku, bingung.

Sedang Kevin dengan lembut mengusap tanganku yang berada di lengannya, seraya berkata, “Untuk mengompres pinggulmu biar cepat sembuh,”

“Tapi Gwen sudah mengobatinya,”

Kevin tersenyum, sangat manis, membuat kadar ketampanannya meningkat beberapa kali, “Aku tahu. Tapi tetap harus dikompres biar memarnya cepat hilang,” ungkapnya.

Setelahnya Kevin sudah pergi ke dapur, menyiapkan kompresan yang dia maksudkan.

Saat kembali, Kevin segera membaringkan tubuhku di atas sofa, menghadapnya yang sedang duduk di lantai dengan tangannya yang sibuk dengan kompresan.

Setelahnya, perlahan dia membuka kaos yang kukenakan sedikit ke atas, menampakkan bekas kebiruan di pinggulku, membuat Kevin menatapnya dengan sendu.

“Ini lebih buruk dari yang aku pikirkan. Kamu benar-benar tidak ingin ke rumah sakit?” ungkapnya, kembali mengkhawatirkanku.

Sedang aku hanya menggeleng, “Tidak perlu, ini hanya – akhhh”

“Maaf. Sakit ya?” tanyanya, merasa bersalah karena aku merintih setelah Kevin mencoba meletakkan kompresnya di atas memarku dengan sedikit menekannya.

“Kita ke rumah sakit saja ya?”

Kevin kembali mengatakannya, dengan nada paniknya, persis seperti saat pertama kali dia melihatku jatuh tadi.

Kelihatan kalut dan takut.

Tapi aku tetap menggeleng, bersikeras menolaknya.

Aku tidak suka berada di rumah sakit, karena hal itu akan mengingatkanku dengan berbagai kejadian menyeramkan di masa lalu.

“Tolong, jangan memaksaku, Kevin. Aku tidak suka berada di rumah sakit,” ungkapku, dengan menggenggam erat sebelah tangannya, atau bahkan meremasnya.

Membuat Kevin menatapku curiga, membuatku memalingkan muka dengan sengaja.

Aku tidak ingin Kevin mengetahuinya, tidak untuk saat ini.


“Hei, kenapa?”

Kevin mendekatiku, memegang daguku untuk menatapnya, persis seperti apa yang kulakukan padanya sebelumnya.

Tatapannya sangat teduh, membuatku ingin menceritakan segalanya pada Kevin.

Tetapi tidak, ini bukan waktu yang tepat.

Yang terjadi setelahnya, membuatku terkejut. Kevin kembali memelukku, seraya berkata, “Tidak apa-apa kalau masih belum ingin cerita. Aku bisa mengerti. Dan aku juga tidak akan memaksa kamu ke rumah sakit,” 

Detik setelahnya, air mataku lolos jatuh begitu saja.

Aku menangis dalam pelukannya, membuat Kevin berkali-kali mengusap lembut surai hitam milikku dan mengecupnya.

Aku bisa merasakan kasih sayang Kevin padaku, meski hanya dengan sikap sederhananya.

Dan tanpa aku sadari, perlahan aku membuka hatiku untuk diisi oleh satu nama.

Alexander Kevin Andreas.






O0O






“Kamu mau aku masakin apa?” tanya Kevin, saat ini dia sedang sibuk membuka lemari es yang ada di dapur apartemennya. Ingin membuatkan makanan untukku katanya.

Tetapi sejak aku tinggal di apartemen ini tiga hari yang lalu, aku memang selalu memakan masakan Kevin.

Dia melayaniku dengan sangat baik selama aku disini, membuatku selalu terenyuh dengan sikap hangat dan manisnya.

Kevin, benar-benar membuatku merasa menjadi perempuan yang sangat berharga untuknya.

“Hmmm,” aku hanya bergumam, berpikir kira-kira kali ini aku ingin memakan apa.

Karena selama tiga hari terakhir, Kevin juga selalu memasak makanan yang aku minta, lebih tepatnya mungkin kemauan bayi kami juga.

“Lagi tidak ingin sesuatu?” tanya Kevin, saat melihatku hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan yang dia lontarkan sebelumnya, membuatku menggelengkan kepala.

“Aku ingin sesuatu, tapi bukan masakan,” kataku, membuat Kevin menarik perhatiannya padaku, menatapku dengan tatapan teduhnya yang selalu aku suka.

“Terus?” tanyanya, menuntut jawaban dariku, lalu aku menanggapinya, “Tapi kamu jangan marah ya,” kataku, memperingatinya, membuat Kevin berhasil mengerutkan dahinya.

“Tidak akan marah kalau kamu mintanya bukan sesuatu yang berbahaya,” katanya, dengan senyuman khas miliknya, membuatku ikut tersenyum dengan cara yang sama.

“Aku mau kita makan malam sama Gwen, disini,” kataku, membuat Kevin membulatkan matanya sempurna, tentunya dia pasti terkejut.

Apalagi setelah perseteruan yang terjadi antara Gwen dan Kevin tadi.

“Boleh ya?” kataku, memelas, dan memohon padanya, membuat Kevin mengangguk dan melemparkan senyumnya.

“Boleh kok. Mau kamu yang telpon Gwen, atau aku yang telpon Chris?” tanyanya, lalu aku menjawab, “Biar aku yang telpon Gwen,”

Setelahnya aku segera turun dari tempat duduk di depan bar, berjalan cepat untuk mengambil ponselku yang terletak di sofa ruang tamu sebelum Kevin meneriakkan sesuatu padaku.

“Jalannya pelan-pelan, sayang” katanya, membuatku segera membalikkan badan untuk menghadapnya.

“Barusan kamu manggil aku apa?” tanyaku, membuat Kevin berjalan mendekatiku, sebelah tangannya menarik pinggulku pelan, hingga merapat dengan tubuhnya, membuat detak jantungku berhasil berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Aku manggil kamu sayang. Kenapa? Kamu tidak suka?” tanyanya, dengan senyuman yang berhasil membuatku terbuai dengan ketampanannya.

Ya Tuhan, kenapa sih Kevin harus setampan ini?

Membuatku benar-benar jatuh ke dalam pesonanya.

“Kalau calon suaminya tanya itu dijawab dong,” katanya, memprotesku dengan mempoutkan bibirnya lucu, membuatku terkekeh melihatnya.

Kevin ini terkadang bisa menjadi pria dewasa, tetapi juga bisa menjadi bayi besar seperti sekarang.

“Kok malah diketawain sih,” rengeknya, semakin menekuk wajahnya, membuatku semakin gemas melihatnya.

Kenapa Kevin bisa menjadi seimut ini?

Cup.

Tanpa sadar aku mendekatkan diriku padanya, memberikan kecupan pada bibir Kevin yang sudah maju, menggodaku untuk menciumnya.

Tetapi setelah sadar dengan apa yang aku lakukan, aku segera mendorong tubuh Kevin menjauh, dan melangkah cepat karena malu sebelum tangan Kevin berhasil mencekalku,  membalikkan tubuhku, dan menempelkan benda kenyal miliknya pada bibirku.

Kevin menciumku, dengan lembut dan manis. Membuatku menegang di tempat sangking terkejutnya.

Bahkan dengan lihainya, bibirnya bermain di atas dan bawah permukaan bibirku, memaksaku untuk membuka mulutku dan membalas ciumannya.

Semakin lama, ciuman Kevin semakin menuntut, membuatku tanpa sengaja mengeluarkan desahan yang sekuat tenaga aku tahan untuk tidak keluar, “eungh,”

Lenguhan kecil keluar dari mulutku, membuat mata Kevin membulat dan segera melepaskan ciumannya.

Membuatku ikut terkejut dengan sikapnya.

“Maaf,” ujarnya, membuat hatiku merasakan sakit saat itu juga.

Entah kenapa perkataan Kevin barusan justru menyakitiku.

Kenapa dia harus minta maaf?

Apa Kevin menyesal karena telah menciumku?

“Loh kok nangis?” setelahnya Kevin kembali mendekat, saat tanpa sadar air mataku jatuh begitu saja, entahlah.

Aku sendiri tidak tahu kenapa.

Hanya saja ...

“Jangan menyentuhku,” ujarku, menangkis tangan Kevin yang hendak mengusap bekas air mata di pipiku, membuatnya tersentak, dan menatapku dengan bingung.

“Seharusnya kamu jangan menciumku, kalau akhirnya kamu menyesal setelah melakukannya,” ungkapku, meluapkan kemarahanku, sedang Kevin masih berdiri di tempatnya, dengan ekspresi terkejutnya.

Setelahnya, Kevin menatapku dengan sendu, melangkahkan kakinya kembali untuk mendekatiku, dan menarik tubuhku untuk masuk ke dalam pelukannya.

Aku memberontak, tidak ingin terlihat lemah di depannya.

Tetapi perkataan Kevin berhasil menghentikanku, “Diam dulu. Aku mau jelasin,” katanya, seraya sebelah tangannya mengusap lembut surai hitam milikku. Membuatku merasa tenang berada dalam dekapannya.

“Kamu salah paham, sayang. Aku minta maaf bukan karena itu,” katanya, sekali lagi memanggilku dengan sebutan ‘sayang’ yang terdengar sangat renyah di telingaku.

“Aku minta maaf karena aku takut kamu belum siap. Takut kamu menjadi tidak nyaman berada disini. Aku tidak pernah menyesal karena melakukannya,” Kevin mengatakannya, dengan nada lembut yang menunjukkan ketulusannya.

Aku terdiam, masih menikmati kenyamanan berada dalam pelukan Kevin.

“Maaf ya, kalau aku jadi buat kamu salah paham. Maksudku bukan begitu padahal,” katanya, sekali lagi meminta maaf atas kesalahan yang tidak sengaja dia lakukan.

Membuatku kembali terenyuh dengan semua perkataan dan perbuatannya.

Dan saat Kevin akan mengurai pelukannya, aku menahannya, “Jangan dilepas,” kataku, dengan nada manja khas milikku, membuat Kevin melemparkan pertanyaannya, “Kenapa?”

“Anak kamu minta dipeluk sama ayahnya,” ungkapku, memakai alasan klise seperti biasanya.

Sejak aku hamil, aku selalu memakai anak ini sebagai alasan setiap tindakanku yang terlihat tidak masuk akal.

Kevin terkekeh, dia sedikit melonggarkan pelukannya untuk menatapku, “Anak aku atau kamu yang mau?” katanya, diselingi kerlingan jahilnya, membuat sebelah tanganku yang berada di belakang tubuhnya kini memukulnya.

Enak saja. Memang anaknya yang mau kok.

“Yasudah kalau tidak percaya,” aku sudah beranjak untuk mengurai pelukannya, tetapi Kevin justru mengeratkan tubuhnya padaku, mendekatkan kepalaku pada dada bidangnya, membuatku tersenyum dalam pelukannya.

Sepertinya pelukan Kevin sudah menjadi tempat ternyaman bagiku saat ini.

“Jangan marah sayang, kan aku hanya bercanda,” ungkapnya, dengan kekehan di akhir kalimatnya, sedang aku tidak menjawabnya, lebih sibuk menikmati kenyamanan dari pelukan yang Kevin berikan.

“Boleh peluk sepuasnya kok, sampai besok juga boleh,” katanya, membuatku tersenyum lebar, tetapi Kevin tidak bisa melihatnya, karena aku sepenuhnya menyembunyikan wajahku pada dada bidangnya.

“Tapi pindah yuk sayang. Jangan disini,” katanya, membuatku mendongakkan kepalaku menatapnya,

“Kamu bisa capek kalau kelamaan berdiri, apalagi pinggulnya masih sakit kan,” katanya, terlihat kecemasan dalam tatapannya saat mengatakan itu, membuatku sekali lagi merasa haru dengan segala perhatian yang Kevin berikan padaku.

Andai Gwen melihat semua ini sekarang, bisa aku jamin dia pasti akan merubah sikapnya pada Kevin. 

“Tapi jangan di kamar ya,” kataku, membuat Kevin menaikkan sebelah alisnya, “Kenapa memang?” tanyanya, membuatku ragu untuk mengatakan alasannya.

Apa harus aku mengatakan ini pada Kevin?

Kalau dia berakhir dengan tersinggung dengan perkataanku bagaimana?

“Nanti kalau di kamar, aku takut kamu ...”

Aku sengaja menggantungkan perkataanku, membuat Kevin justru tersenyum gemas melihat tingkahku.

“Kamu takut aku ngapa-ngapain kamu ya?” dan aku mengangguk dengan polosnya.

Membuat Kevin mengacak gemas rambutku dengan tangannya.

Dan berakhir dengan aku mempoutkan bibirku karena kesal dengan perlakuannya.

“Gemas banget sih sama calon istriku ini,”

Kini Kevin justru beralih mencubit kedua pipi chubbyku dengan gemas, membuatku melemparkan tatapan tajam padanya, yang hanya dibalas dengan tawa yang keluar dari mulutnya.

Menyebalkan.

“Aku gak akan ngapa-ngapain kamu kok. Kata kak Arin, kalau usia kandungan masih dini, masih gak boleh diapa-apain, takut kenapa-kenapa sama babynya di dalam,” jelas Kevin, mengatakan sesuatu yang justru tidak aku ketahui.

Setelahnya Kevin menyipitkan matanya, menatapku dengan curiga, lalu melanjutkan perkataannya sebelumnya, “Kamu belum baca buku panduan yang aku kasih ke kamu ya?”

Dan pertanyaan Kevin barusan, membuatku menunjukkan cengiran lebar, menatap Kevin dengan penuh rasa bersalah.

Ya habis gimana kalau belum sempat.

“Kok belum dibaca sih? Kan kamu perlu tahu itu, biar bisa hati-hati kalau makan dan ngapa-ngapain, gak sembarangan,” protesnya, memarahiku, masih dengan nada lembutnya.

Tidak ada emosinya sama sekali, berusaha agar tidak menyinggungku.

“Kan sudah ada kamu yang paham, jadi buat apa aku baca juga?” kataku, dengan santai, membuat Kevin mencubit gemas pipiku.

Tapi kali ini aku tidak memprotesnya, lama-lama kebanyakan protes juga capek, jadi terserah Kevin saja kalau mau ngapa-ngapain.

“Ya kan sebagai jaga-jaga kalau aku lagi gak sama kamu. Aku sudah capek-capek bikin loh, masa kamu gak baca,” katanya, kembali mengeluarkan kekesalannya.

Terlihat sekali kalau Kevin mencoba menahan amarahnya ketika berbicara denganku.

“Makanya kamu jangan jauh-jauh dari aku, jangan tinggalin aku mau sebentar aja,”

Dan perkataanku barusan berhasil membuat Kevin menarik kedua sudut bibirnya ke atas, mengulurkan tangannya kembali untuk mengusap wajahku dengan lembut, seraya berkata, “Manja banget ya calon istriku,” komentarnya.

Sedang aku hanya membalasnya dengan berkata, “Gak papalah. Kan sama calon suami sendiri,”

“Hmmm dasar,” dan berakhir dengan Kevin mengacak gemas rambutku kembali, membuatku juga ikut melemparkan senyum manisku padanya.



To Be Continue ...

Hayo hayo?

Gemas gak kalian sama part ini?? 😁

Tenang, pika akan tepatin janji kok, akan pika update lagi  part selanjutnya sesuai perjanjian kita kemarin ...

Tapi boleh pika minta komennya yang banyak? 😁

Oh iya, "kemarin ada yang tanya spam komen boleh gak?" Boleh kok ... Asal jangan spam kata-kata "next" doang gitu yaa ❤️



©️ psproject

Surabaya, 20 Juni 2020.

Continue Reading

You'll Also Like

63K 8.2K 40
Judul : ᴊᴇᴏɴ ᴛᴡɪɴs Author : DiazOktaFiqi Genre : BL| Fiksi | Romance | Medic-Militer Request: SintaPurnama480 TIPE : Geregetan Bahasa : Indonesia...
1.4M 58.9K 13
[Bukan Novel Terjemahan] {Transmigrasi series ke 1 by :feliz_liaa26} Judul awal : I will always be me The Love Antagonist Judul...
2.2M 28K 10
(Pindah ke Dreame) #1 in karma (1/11/2020) #1 in Abimanyu (3/11/2020) #1 in Hurt Romance (3/11/2020) #2 in Chicklit (12/11/2020) #1 in Single Parent...
72.4K 7.3K 30
『 end! genderswitch // marriage life 』Dua manusia polos nan penurut, disatukan jadi pasutri yang cuma kenalan beberapa jam. Jaehyun tidak mengira ba...
Wattpad App - Unlock exclusive features