Ms. CEO (II)

By viphoenix

109K 5K 4.4K

"it's not about married.. it's about stay married" More

Epilog-Prolog
Ketakutan
Kejutan
Tanpa Kamu
Rindu
Pacaran (lagi)
Nyonya Besar
Langit
Mengapa Diam?
Kumohon Berita Baik
Nol Menjadi Satu
Kabar Terbaru
Kepastian
Program
Empat Bulan
Golden Triangle
Ladang PBB
Hadeeehhh..
Bahagiamu Bahagiaku
Sensitif
Si Kembar
To Lazuardi Aurora
Berubah
Victoria Secret
Topeng
Rindu
Pisah
Akhir (?)
Lebur
Asal Usul Usil
Unbiological Sister
Pulang
Moving On
She's Mine
She's Mine!
Hari Baru
Lauterbrunnen
The Real Epilog

Hari Duka

5.1K 170 34
By viphoenix

"Kamu beneran ga bisa dateng?" tanya Batz kepada Nae via telpon.

"Sayang.. Aku baru sampai dan 10 menit lagi beliau datang. Aku janji, setelah selesai aku langsung kesana" ucap Nae penuh dengan nada penyesalan.

"Tapi kamu di Amerika!" teriak Batz sambil menangis.

"Aku udah siapin jet aku, sayang. Aku langsung pulang begitu selesai. Sayang.. Tolong" ucap Nae meminta pengertian.

"Terserah!!" teriak Batz memutuskan sambungan.

Di Amerika, Nae sedang bertemu dengan para pengusaha dunia.

Sedangkan di Thailand, nenek Batz meninggal dunia.

"Batz.." ucap Aom memeluk Batz dari samping. "Dia berubah, Aom. Bahkan di saat seperti ini dia tidak ada di sampingku" ucap Batz menangis.

"Ini bukan maunya, Batz. Dia selalu menemanimu selama nenek sakit kan? Saat dia pergi, nenek juga pergi. Tidak ada yang menyangka. Dia langsung pulang kan?" tanya Aom menatap Batz. Batz mengangguk.

"Tapi, Aom.."

"Udahlah, Batz. Sekarang fokus ke pemakaman nenek aja ya" ucap Aom. Batz mengangguk dan dibantu Darin untuk berdiri.

Selama pemakaman, hampir semua orang menanyakan keberadaan Nae. Batz yang sudah muak mendengar pertanyaan seperti ini, hanya bisa terus memeluk Aom dan Darin.

Saat sore hari, Batz melihat dia, seseorang yang sangat Batz cintai berada di ambang pintu kamar, menatapnya dan mulai berjalan ke arahnya.

"Sayang.." Panggilnya lirih. "Temuilah nenek. Ia pasti senang melihat menantu kesayangannya mendatanginya" ucap Batz dengan suara bergetar.

"Sudah, sayang. Aku sudah darisana" ucap Nae dan duduk di pinggir kasur, di samping Batz.

"Makasih" ucap Batz datar. "Kamu tidak perlu mengucapkan itu. Aku merasa teramat sangat bersalah saat mendengarnya. Kumohon maafkan aku" ucap Nae bersimpuh di hadapan Batz.

"Bangunlah. Tidak enak dilihat yang lain" ucap Batz datar tanpa menatap Nae. "Tidak sebelum kamu memaafkanku" ucap Nae menatap Batz. "Aku memaafkanmu. Mandilah. Victoria Secret itu terlalu menyengat di indra penciumanku" ucap Batz dan berlalu ke luar kamar dan duduk bergabung dengan AomDarin.

Nae menghela napas begitu mengendus wangi di kemejanya.

"Jangan terlalu menekannya" ucap Aom mengingatkan Batz. Batz mengangguk dan menyiapkan makanan untuk Nae.

Usai mandi, Nae turun dan mendekati AomDarin.
"Batz mana?" tanya Nae. "Di dapur" jawab Darin yang masih fokus memainkan hp nya.

"Sayang.." Nae melingkarkan tangannya di tubuh Batz dan mengecup pundak istrinya tersebut.

"Kamu mau makan kan?" tanya Batz. "Iya, sayang. Temani ya" ucap Nae manja. Batz mengangguk dan Nae mencium pipi Batz.

Batz menyiapkan makanan sementara Nae sudah duduk manis di meja makan.

"Kamu makan juga ya" ucap Nae begitu melihat Batz duduk di sampingnya. "Aku tadi sudah makan" jawab Batz mengambilkan nasi, lauk dan sayur ke piring Nae.

Nae mulai memakan makanan yang sidah disiapkan Batz.
"Maafkan aku ya, sayang" ucap Nae penuh penyesalan menatap Batz. "Aku sudah memaafkanmu. Jangan bersedih di depan makanan. Tidak baik" ucap Batz mengelus pipi Nae.

Nae meneteskan air matanya menatap Batz. Tangannya menggenggam erat tangan Batz yang berada di pipinya.

"Jangan menangis, sayang. Aku sudah memaafkanmu. Kita lupakan yaa" ucap Batz menghapus air mata Nae. Nae mengangguk dan mencium kening Batz.

"Mereka pasti bertahan kan, Aom?" gumam Darin menatap Aom. "Aamiin. Semoga harap kita adalah yang terbaik" ucap Aom menatap Darin. Darin mengangguk.

"Mah.. Mengapa mereka jadi sering goyah?" tanya Papah Batz. "Cuma guncangan awal, Pah" ucap Mamah yang sebenarnya juga ragu akan ucapannya.

Keesokan harinya.

Batz terbangun saat merasakan ada kecupan hangat di keningnya. Batz membuka matanya perlahan dan ia mendapatkan wajah istrinya tengah memandangnya sendu.

"Kamu mau kemana sudah rapih pagi-pagi gini?" tanya Batz duduk di kepala ranjang dan memperhatikan seksama penampilan Nae.

"Aku harus ke Kanada, sayang. Mantau proyek baru, karena seminggu lagi mau pembukaan" ucap Nae menggenggam tangan Batz.

"Kanada?? Sekarang??" tanya Batz dengan nada meninggi.

"I..iya, sayang" ucap Nae gugup. "Kenapa kamu ga ngasih tau aku?" tanya Batz dengan air mata yang sudah mengalir.

"Semalam, aku mau ngasih tau kamu, tapi kamu sudah tidur. Kamu terlihat sangat lelah, aku tidak tega membangunkanmu" ucap Nae dengan mata berkaca.

Nae tau, saat ini ia tengah menyakiti hati istrinya, lagi.

"Kamu baru sampe sore dan mau pergi lagi? Kamu lupa kita disini dalam rangka apa?" suara Batz bergetar, tak terelakkan lagi air mata membasahi pipinya.

Nae menghapus air mata Batz sementara ia menahan air matanya yang kapanpun siap terjatuh.

"Jangan menangis, sayang. Keberadaanku saat ini, meski hanya sebentar, itu buktiku kalau kamu tetap menjadi prioritasku" ucap Nae mengusap pipi Batz.

Batz akui memang benar ucapan Nae, mengingat kalau ia harus ke Kanada, seharusnya ia menetap di Inggris malam ini. Namun ia meluangkan waktu dan rela menyakitkan badan untuk kembali ke Thailand.

Tapi ego Batz menyangkalnya. Bagaimanapun juga, Nenek Batz wafat. Orang yang berpengaruh dalam kisah percintaan mereka dahulu. Seharusnya Nae ada disini, disampingnya, melewati hari-hari duka ini bersama.

"Kapan kamu pergi?" tanya Batz menghentikan tangisnya. "Aku masih punya waktu sepuluh menit lagi, sayang" Nae berbicara dengan melihat jam tangannya.

"Pergilah" ucap Batz datar.
"Sayang.. Aku mohon jangan marah. Maafkan aku" Nae menatap dalam mata Batz. Tangan kanannya mengusap pipi kiri Batz sedangkan tangan kirinya mengusap punggung tangan kanan Batz.

"Bagaimana aku tidak marah, Nae. Ini hari duka. Dan ini tentang orang yang sangat berharga bagiku. Tapi kamu sebagai pasanganku, tidak ada saat penguburannya bahkan sekarang kamu akan pergi lagi. Coba jelaskan bagian mana aku harus tidak marah, Nae!" ucap Batz dengan nada kembali meninggi.

"..."

"Lihatkan? Kamu tidak bisa menjawabnya. Sudah.. Pergilah. Jaga kesehatanmu dengan ingat jam makan. Aku mungkin tidak memegang hp hari ini. Akan banyak saudara yang datang. Segeralah pulang jika urusanmu telah selesai" ucap Batz datar dan menatap wajah Nae.

"Terima kasih, sayang. Aku mohon, maafkan aku" ucap Nae mengecup punggung tangan kanan Batz.

"Pergilah, sebelum aku berubah pikiran. Hati-hati" ucap Batz melepas usapan tangan kanan Nae di pipinya.

Nae mengangguk.
"Baiklah.. Aku pergi ya, sayang. Kamu juga harus makan. Aku mencintaimu" ucap Nae mengecup bibir Batz. Batz hanya membalasnya dengan anggukan.

Sepeninggalnya Nae dari kamar Batz, Batz masih terdiam. Hingga deru suara mobil Nae menjauhi rumah, Batz menangis sejadi-jadinya.

Ia menaruh wajahnya di bantal agar suara tangisnya teredam. Ia menggigit bantal agar semua orang yang ada di rumah ini tidak tahu keadaannya.

Meski ia sangat tahu bahwa orang-orang yang ada di rumahnya mengerti kesedihannya.

AomDarin hanya bisa saling tatap dan menghela napas setelah Nae berpamitan untuk pergi. Sementara Mamah menggenggam erat tangan Papah mencoba menguatkan diri.

Nae tahu apa yang dirasakan orang-orang terkasihnya. Ia sudah menyakiti banyak orang. Namun ini pilihannya.

Mamah menaruh wajahnya di pundak Papah dan menangis.

"Jangan menangis. Kita hanya bisa berdoa semoga mereka bisa mempertahankannya" ucap Papah mengelus rambut Mamah.

30 menit kemudian, Mamah Papah Nae datang. Mereka kemarin datang, namun harus pulang saat malam karena tidak membawa pakaian. Pagi ini mereka datang kembali.

"Pagi.." ucap Papah Nae memasuki rumah. "Pagi..." jawab semua yang ada di ruang tamu.

"Nae mana? Kenapa aku tidak melihat mobilnya?" tanya Mamah Nae menatap Papah Batz.

"Belum lama ia pergi. Ia berpamitan dengan kami untuk ke Kanada" jawab Papah Batz.

"Kanada??" tanya Mamah Nae terkejut dan dijawab anggukan oleh semuanya.

Mamah Papah Nae hanya bisa menghela napas pasrah dan meminta maaf atas kelakuan anaknya.

"Maafkan anak kami. Tidak seharusnya dia pergi" ucap Papah Nae.

Papah Batz merangkul pundak Papah Nae. "Gpp. Dengan kedatangannya kesini meski sebentar di tengah kepadatan aktivitasnya, itu sudah menunjukkan bahwa Batz di atas segalanya" ucap Papah Batz menenangkan orang tua Nae.

Meskipun pada kenyataannya Papah Batz sedikit kecewa akan keputusan Nae.

"Aku tahu kalian kecewa, sakit hati. Terlebih Batz. Ku mohon maafkan Nae" ucap Papah Batz menatap semuanya.

"Kami memaafkan Nae. Sudahlah.. Mari kita sarapan bersama" ucap Papah Batz mengalihkan pembicaraan.

Semua mengangguk dan mereka berjalan menuju meja makan.

"Batz mana?" tanya Mamah Nae. "Masih di kamar, Mah" jawab Aom. Lagi.. Mamah Nae menghela napas berat.

Continue Reading

You'll Also Like

1.3M 35.3K 55
𝒊𝒏 𝒘𝒉𝒊𝒄𝒉 dustin henderson's sister becomes far more involved with the mystery of will byer's disappearance and the escapee from hawkin's lab...
20.7M 620K 42
"Give me your hand." He ordered and i looked at him confused. He sighed before taking my left hand. I gasped when he suddenly put an engagement ring...
2.5M 174K 102
You don't know how or why, but you've been isekai'd into the world of Jujutsu Kaisen. Although your first instinct is to stay far away from the plot...
957K 98.3K 59
After a life of suffering, you die and awaken in the world of My Hero Academia, your favorite anime. But something's wrong. The characters you though...
Wattpad App - Unlock exclusive features