Alleiya (COMPLETED)

By PFid_Esrt

3.8K 305 7

Kisah kasih seorang gadis bernama Alleiya Winanta. More

Prolog
Alleiya - 1
Alleiya - 2
Alleiya - 3
Alleiya - 4
Alleiya - 6
Alleiya - 7

Alleiya - 5

337 33 1
By PFid_Esrt

Perjalanan hidup memang tidak selalu lurus, dan perjalanan cintapun tidak selalu mudah.

Adi dan Alleiya pada akhirnya akan bersatu juga, namun harus melalui satu titik yang disebut perpisahan. Kehadiran Bastian dalam hubungan mereka nyatanya tidak membuat keduanya terpisah untuk selamanya. Seolah Bastian hanya persinggahan sesaat ketika mereka lelah.

Pernikahan itu dilangsungkan sekedarnya saja. Sekedar menyatakan pada semua orang bahwa Alleiya dan Adi adalah sepasang suami istri. Sah secara hukum dan agama. Hanya meresmikan hubungan itu. Tamu yang diundang pun tidak terlalu banyak. Hanya keluarga dan teman dekat.

Keputusan itu awalnya sangat dipertanyakan oleh semua keluarga, termasuk keluarga Alleiya. Tapi jika memang hal ini untuk kebaikan Alleiya dan bayinya, mereka tak menolak. Seperti yang pernah Adi sampaikan, Alleiya pasti akan sangat membutuhkan seorang suami saat harinya nanti tiba untuk melahirkan.

Wanita itu kini sedang duduk di kursi pelaminan. Usia kandungannya yang memasuki enam bulan membuatnya mudah lelah. Berdiri selama satu jam cukup menguras tenaganya.

"Kamu cape?"

Alleiya mengangguki pertanyaan Adi. Memang benar dia sedang kelelahan.

"Mau istirahat dulu?"

Alleiya memaksakan senyumnya. "Tidak usah. Aku masih kuat. Lagipula bagaimana mungkin pengantin bisa meninggalkan pelaminan?"

Adi meraih tangan Alleiya, menggenggamnya lembut. "Hei, acara ini kita yang buat. Kita yang berhak di sini, sekalipun untuk menghentikan acara sampai di sini."

"Sudahlah. Aku tidak apa-apa. Ayah dan ibu sudah cape menyusun acara, tidak baik jika kita hentikan sebelum selesai."

"Tapi semua demi kebaikan kamu juga."

"Aku sudah bilang, aku baik-baik saja, bang."

"Baiklah. Dia juga tidak apa-apa kan?" Adi kini beralih mengelus perut buncit Alleiya. Alleiya mengangguk, mengiyakan kalau kandungannya juga baik-baik saja. Sejak pagi, anak dalam rahimnya memang anteng sekali, tidak sekalipun berbuat ulah yang menyusahkan ibunya. Seolah mengerti keadaan yang terjadi sekarang ini.

"Kalau ada apa-apa, atau butuh sesuatu jangan sungkan meminta padaku. Kamu bahkan sudah sangat nyaman dengan hal itu beberapa bulan yang lalu."

Alleiya menunduk, lalu mengangguk malu. Selama menjalin hubungan dengan pria itu, ia memang tidak pernah sungkan meminta apapun. Sekalipun itu adalah yang sangat pribadi. Baginya, Adi bukan hanya sekedar pacar saja. Adi adalah teman, sahabat, kakak, bahkan orang yang dia tuakan.

Berakhirnya acara membuat Alleiya menarik nafas lega. Siksaan tidak langsung itu berakhir sudah. Adi yang menangkap ekspresi itu hanya bisa mengulum senyumnya. Sebenarnya ia juga tidak tega jika harus menahan Alleiya berada di pelaminan sepanjang hari. Hanya saja wanita itu juga tidak mau meninggalkan singgasananya walau hanya sesaat.

"Apa yang lucu?" Ternyata Alleiya juga mengetahui senyum geli Adi.

"Tidak ada. Hanya saja wajahmu terlihat menggemaskan tadi."

Alleiya merengut.

Adi merangkul pinggang istrinya. Menuntun wanita itu dengan hati-hati. "Jangan cemberut begitu. Tidak cocok untukmu."

Alleiya malah memukul perut pria di sebelahnya. Pukulan ringan oleh tangan mungilnya. Tapi ia tersenyum juga. Merapalkan doa dalam hatinya, semoga apa yang dia dan Adi bina akan bertahan lama.

Ia bukan takut akan masalah yang harus mereka hadapi. Ia hanya takut kalau salah satu ataupun mereka berdua harus terpisah oleh maut secepat yang pernah ia alami sebelumnya.

"Abang!" Alleiya berseru dalam pelukan hangat Adi.

"Hm?"

Tidak ada balasan dari Alleiya.

"Apa kamu butuh sesuatu?"

Alleiya menggeleng. "Aku hanya ingin tau sesuatu."

"Katakan, apa itu?"

"Apa yang abang pikirkan saat kita resmi menjadi suami istri?" Alleiya bertanya tanpa mengubah posisinya. Pelukan hangat Adi di tubuhnya terlalu sayang jika harus dilepas.

Adi tampak berpikir sejenak. "Aku hanya memikirkan bagaimana caranya kita melakukan malam pertama kita ketika kandunganmu sudah sebesar ini."

"Apa? Abang mesum!" Alleiya melayangkan tangan mengenai pinggang suaminya.

Pria itu terkekeh. "Tapi memang itu yang abang pikirkan."

"Iya, lupakan saja. Mungkin itu sebabnya abang disebut bandot. Mesum sih!" gerutu Alleiya.

Adi tertawa. Dia memang sering dijuluki bandot oleh teman-temannya, entah untuk alasan apa. Padahal ia juga tidak separah tuduhan Alleiya tadi. Mungkin saja karena jenggot yang dibiarkan tumbuh di dagunya menyerupai kambing bandot. Entahlah.

Dikecupnya puncak kepala Alleiya dan dieratkannya pelukannya. "Kamu masih Alleiya-ku yang dulu."

"Ya, karena sampai sekarang masih abang yang memiliki keseluruhan hatiku. Bahkan hidupku."

"Aku tau. Itu sebabnya aku mau mengambil resiko atas tindakan ini."

Alleiya mendongak, menatap wajah suaminya. "Apa mungkin abang akan menyesal suatu saat nanti?"

Pertanyaan yang sebenarnya sangat meresahkan hati Alleiya. Bagaimana jika suatu hari nanti anak Bastian yang masih dalam kandungannya itu tidak diterima oleh Adi? Bagaimana jika anak ini juga suatu saat nanti mengetahui asal usulnya dan tidak mau menerima Adi sebagai ayahnya? Apalagi orang tua Bastian juga meminta agar nama almarhum anaknya itu disematkan dalam nama calon cucunya, demi mengenang anak satu-satunya.

"Mengapa bertanya seperti itu?"

"Jangan menanyaku balik. Jawab saja pertanyaanku."

Adi mendesah pendek. Memikirkan jawaban terbaik yang diinginkan oleh Alleiya. "Semoga tidak."

"Ya, semoga." Alleiya menyurukkan kembali wajahnya ke dada Adi. Semoga, semoga, semoga. Ia merapalkan kata itu beberapa kali dalam hatinya.

"Istirahatlah, sayang."

Tidak ada banyak yang berubah dalam kehidupan rumah tangga yang baru mereka jalani. Bagi Alleiya, hanya orangnya saja yang berganti namun sifatnya sama. Ditambah, dalam keluarga ini mereka punya saudara lain sehingga lebih ramai. Apalagi kedua abang Adi dan adiknya sudah menikah dan mempunyai keluarga masing-masing. Kehadiran tujuh orang keponakan tentu saja semakin meramaikan suasana.

Semua keluarga juga bersikap baik pada Alleiya. Mereka menerima kehadirannya dengan baik. Sejauh yang bisa ia lihat, sikap baik itu juga tulus. Sama seperti yang ia dapatkan pada keluarga sebelumnya.

Teringat tentang keluarga sebelumnya, Tania dan Daniel juga baik-baik saja. Keduanya masih sehat dan bugar. Mereka juga turut bahagia untuk pernikahan Alleiya dan Adi. Karena hal itu juga adalah keinginan terbesar mereka.

Alleiya tak pernah lupa untuk bertandang ke rumah sebelah, sekedar memastikan kondisi keduanya. Kadang menyempatkan diri untuk menyiapkan makan malam di sana.

Renata dan Anton pun tidak keberatan akan hal itu. Selama Alleiya mampu melakukannya tanpa paksaan dan tidak membahayakan janinnya. Karena memang mereka berteman dengan baik. Jika tidak ada Alleiya, mungkin mereka akan melakukan hal yang sama juga.

"Memangnya kamu tidak cape kerja dengan keadaan seperti ini?" Adi bertanya pada Alleiya saat menjemput wanita itu dari kantornya.

"Tidak."

"Jangan sampai orang-orang mengira kalau abang tidak memenuhi kebutuhanmu, jadi kamu harus bekerja terus sampai hamil besar seperti ini."

"Tidak akan, bang. Anggap saja ini untuk tabungan masa depan. Dan lagi, aku juga tidak mau kehilangan pekerjaanku. Mumpung bosnya baik, jadi tidak masalah. Suatu saat nanti bisa saja aku sangat membutuhkannya."

"Iya, abang mengerti. Tapi jangan sampai mengabaikan kesehatanmu dan anak kita."

Alleiya memberikan senyum meyakinkan. Ya, dia tidak akan mengabaikan hal itu. Dia sayang pada anaknya juga dirinya sendiri. Tanpa diminta pun, ia sudah tentu akan melakukannya. Dengan sangat baik.

"Kita mampir, ya, sebentar di minimarket depan. Stok susu di rumah sudah habis. Sekalian mau beli cokelat."

Adi mengangguk. Mengubah posisi mobilnya ke jalur lambat dan memasuki parkiran minimarket.

"Bukannya Adi masih baru sebulan menikahnya? Tapi kok istrinya sudah hamil besar begitu? Hamil duluan ya?"

Alleiya menghentikan tangannya yang akan mengambil susu dari raknya. Ocehan tentang dirinya tadi cukup mengganggu untuknya. Ingin rasanya menyumpal mulut-mulut biang gosip yang tidak tau aturan itu. Mereka bahkan tidak mencari tau seperti apa fakta sebenarnya.

"Bisa saja. Karena mereka menikahnya juga tidak mengundang banyak orang. Hanya keluarganya saja. Mungkin saja karena ingin menutupi hal itu." Suara lainnya menambahkan.

"Hei, dengan gelar yang disebut-sebutkan pada Adi, memang mungkin saja. Tapi sayangnya, wanita itu tidak bisa menjaga dirinya. Entah dari mana Adi menemukan wanita itu." Yang lain menambahkan.

Kedua telinga Alleiya ditutup dengan tangan oleh seseorang. Sudah pasti oleh suaminya yang muncul tiba-tiba. Padahal tadi ia meninggalkan pria itu di dalam mobil.

"Jangan dipikirkan. Yang penting kamu tidak seburuk yang mereka katakan. Kata-kata itu suatu saat akan berbalik pada mereka." Adi berbisik tepat di telinga Alleiya.

"Apa belanjanya sudah selesai?" lanjut Adi saat Alleiya hanya diam. Dilihatnya keranjang belanja Alleiya yang hanya berisikan cokelat favoritnya sejak dulu. "Susunya yang ini kan?" Dia menunjuk salah satu jenis susu di rak.

Alleiya mengangguk sehingga Adi yakin untuk mengambilnya. Dimasukkan dalam keranjang dan mengambil alih dari genggaman istrinya. "Apa ada yang lainnya?"

Alleiya menggeleng. Niat hati tadi ingin cuci mata, tapi menguap entah kemana.

Adi kemudian menggandengnya menuju kasir. Tidak ingin berlama-lama di tempat ini, yang bisa saja membuat kondisi hati Alleiya semakin buruk. Ia harus menjaga pikiran wanita itu.

Tbc
Vote & comment

Continue Reading

You'll Also Like

7M 533K 32
"Ayang pelukkk" "Yang kenceng meluknya" "Ayang mau makannn" "Ayangg ciummm" "Ayanggg ikutt" "Ayanggggg" Pertamanya sok-sok an nolak.. Ujung-ujun...
2.1M 4.4K 4
Mela benar - benar pasrah dengan yang terjadi pada dirinya. dia belum pernah merasakan nikmat yang seperti ini, badannya pun terus diggerayangi oleh...
21.6M 1.3M 62
Laki-laki itu menatap tajam gadis di hadapannya. "Kenapa dekat-dekat dia?" tanyanya dengan marah tertahan. Gadis itu mendongak menatap pacarnya itu...
20.8M 1.1M 38
Young adult romance #1 fiksi || "Mereka aneh, mereka memaksa, dan mereka menginginkanku. Tiga lelaki itu...yang sangat ingin kuhindari..." -Annaqil...
Wattpad App - Unlock exclusive features