Cruel

By RiskaArdianti3

245K 18.2K 677

Kejadian itu berlangsung beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih menjadi gadis yang baik, ketika aku menga... More

Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
Chapter 19
Chapter 20
Chapter 21
Chapter 22
Chapter 24
Chapter 25
Chapter 26
Chapter 27
Chapter 28
Chapter 29
Chapter 30
Chapter 31
Chapter 32
Ucapan Terima Kasih dan Sequel
Epilog
Sequel dari Cruel

Chapter 23

6.3K 567 19
By RiskaArdianti3

Perlahan-lahan aku membuka mataku ketika kurasakan seluruh tubuhku sakit sekali dan kepalaku juga terasa pening.

Saat mataku terbuka seluruhnya hal pertama yang ku lihat adalah kamar yang indah dengan berbagai macam barang-barang mewah di dalamnya.

Kamar itu luas, lebih luas tiga kali lipat dari kamarku yang ada di rumah. Semua barang-barangnya berpelitur emas bahkan beberapa diantaranya bertahtakan berlian.

Aku mengerjap, mencoba mengenali kamar semewah ini namun hasilnya nihil, aku tak kenal dimana aku sekarang. Kemudian aku kembali mengingat-ingat apa yang telah terjadi padaku sehingga aku berada di tempat ini.

Dan ingatan tentang Peter yang menyelamatkanku dari cengkeraman keluarga Alvis dan membawaku ke dalam kereta kuda tercetak jelas dalam ingatanku, tapi setelah itu aku tak mengingat apapun.

Sebenarnya, dimana aku sekarang? Apakah Peter menjualku ke majikan baru yang lebih kaya dari keluarga Bagman?

Pikiran-pikiran negativ itu bermunculan di otakku, membuatku merasa takut.
Bagaimana kalau nanti majikanku lebih jahat dari Bagman? Bagaimana kalau aku disiksa lagi?

Aku mencoba bangkit untuk pergi dari tempat ini namun gerakanku tertahan ketika pintu menjeblak terbuka menampilkan seorang gadis kecil cantik berambuat pirang, wajahnya terasa familiar bagiku.

Ketika melihatku, gadis itu tersenyum manis.

"Kau sudah siuman?" tanyanya lembut.

Aku mengangguk.

Dia meneliti wajahku lalu berkata pelan. "Kau pingsan selama dua hari. Tapi ku rasa sekarang kau baik-baik saja."

Aku mengerjap dan pemahaman baru terlintas di benakku, jadi  aku pingsan? pantas saja aku tak mengingat apapun.

"Kau mencari Thomas ya? Bersabarlah dia pasti akan menemuimu, sekarang dia sedang berbincang dengan tabib."

Aku mengernyit. "Siapa Thomas dan dimana aku?"

Gadis itu menatapku bingung. "Bukankah kau teman Thomas? Dia kemarin bicara seperti itu pada kami dan kau sekarang ada di kamarku."

"Aku tak kenal siapa Thomas dan kau ini siapa?"

"Aku Charlotte, anak Wali Kota."

Aku meneliti wajahnya dan sadar bahwa kami pernah bertemu sebelumnya di acara makan malam keluarga Bagman, pantas saja wajahnya tidak asing.

"Nah Charlotte, kau tahu dimana temanku yang membawaku kemari? Dia pria tampan berambut hitam, hidungnya sangat mancung dan matanya berwarna cokelat. Namanya Peter."

"Astaga! Peter dan Thomas adalah orang yang sama, dia itu kakakku dan ku kira dia jarang sekali menggunakan nama tengahnya untuk berkenalan dengan orang lain. Biasanya dia selalu memakai nama depannya." ujar Charlotte sambil terkikik geli.

Aku melongo menatapnya, jadi selama ini Peter berbohong kepadaku dan bukankah Charlotte anak dari Wali Kota? Apakah tandanya Peter juga...

"Kau tidak berbohong padaku kan?" tanyaku sambil menatap gadis kecil itu.

Dia menggeleng sambil tersenyum kecil. "Buat apa aku berbohong? Dia kakakku, Thomas Peter Walker."

"Tapi kau anak dari Wali Kota."

"Apakah ada yang salah dari anak Wali Kota?" tanyanya bingung.

"Tidak.... bukan begitu, masalahnya Peter bilang dia adalah seorang...."

"Dengarlah, kakakku memang selalu merendah. Jadi semua yang dia ucapkan padamu mungkin tidak benar."

Aku mengerjap, bodoh sekali diriku seharusnya akulah yang lebih tahu karena tak mungkin kan seorang anak penjual obat bisa serapih itu dalam berpenampilan? Kalau tidak salah, sebelumnya aku memang pernah berpikir begitu tapi aku selalu menyangkalnya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Charlotte khawatir.

Aku mengangguk.

"Tapi wajahmu terlihat syok."

"Aku..."

"Tapi bagaimana kau bisa mengenal kakakku? Bukankah kau seorang budak di rumah kediaman Bagman? Aku pernah melihatmu saat berkunjung kesana."

"Kami bertemu di perpustakaan saat aku bekerja disana."

"Kau Elise kan?"

Aku membenarkan.

Dia memegang bahuku "Kau bukan Lady bangsawan, tapi kau secantik mereka."

Aku tersenyum karena baru kali ini ada seseorang yang mengatakan aku cantik.

"Terima kasih." ucapku.

"Sama-sama. Tapi Elise, aku bisa membuatmu lebih berkali-kali lipat lebih cantik. Tunggu sampai pelayan-pelayanku mendandanimu."

Pintu menjeblak terbuka menampilkan Peter yang tengah tersenyum menampilkan sederet giginya yang rapih.
"Tak usah didandani-pun Elise sudah cantik." ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya padaku, membuat jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya.

"Kakak, kau bisa mengetuk pintu terlebih dahulu!" kata Charlotte sebal.

Peter tertawa. "Sorry Charry, aku mau mengetuk pintu sebenarnya, tapi aku tidak tahan untuk tidak berkomentar atas ucapanmu tadi."

Charlotte mendengus kecil, membuat Peter tertawa melihatnya. Beberapa saat kemudian Peter mengalihkan wajahnya ke arahku.

"Aku senang kau sudah sadar Elise. Selamat datang di rumahku, kau pasti sudah berkenalan dengan Charlotte bukan?"

Aku mengangguk.

"Baiklah, asal kau tahu dialah yang menyuruhku membawamu ke kamarnya. Dia dari dulu memang menginginkan seseorang untuk dijadikan temannya, makanya saat dia tahu aku membawa seorang gadis, dia langsung menyuruhku membawamu kesini dan menyuruh pelayannya memakaikan gaun kesayangannya padamu, dia juga yang mengobati luka-lukamu."

Aku mengucapkan terima kasih dengan serak dan meneliti luka-luka yang ada di kaki dan tanganku yang perlahan sembuh, kemudian memandang gaun yang ku pakai saat ini. Gaun biru muda berlengan pendek yang sangat pas di tubuhku, aku baru sadar bahwa aku telah ganti baju.

"Kau menyukainya Elise?" tanya Charlotte padaku.

Aku mengangguk sungkan.

"Kalau begitu, itu boleh untukmu."

Aku kembali mengangguk karena tak tahu harus mengatakan apa.

Aku mengalihkan pandanganku dari gaun itu lalu menatal Peter.
"Bisakah kita berbicara?"

Peter mengangguk. "Bicaralah."

"Aku ingin berbicara di tempat lain."

"Kau belum sembuh benar. Sebaiknya kau istirahat dulu, kita bisa berbicara nanti."

Aku menggeleng. "Sekarang saja, ku rasa aku sudah sedikit lebih baik, punggungku juga tidak terasa sakit."

Peter menatapku sejenak lalu bergumam pelan. "Baiklah, sisir rambutmu terlebih dahulu sebelum kita keluar. Aku akan menunggumu di balik pintu kamar ini."

Aku mengangguk lalu memandang Charlotte. "Bisakah kau membantuku?"

"Tentu, Elise."

Peter kemudian pergi dan Charlotte membawaku duduk di depan meja riasnya. Dia mulai menyisiriku dengan lembut.

"Rambutmu sangat kotor dan lepek, aku bisa menyuruh pelayan untuk menyikat rambutmu dan membasuhnya dengan air." katanya

"Tidak perlu." ucapku cepat. "Aku buru-buru Charlotte, lagipula aku bisa menyikat rambutku sendiri nanti."

"Hmmm baiklah."

Aku melihat pantulan diriku di cermin rias, wajahku pucat dan sangat tirus beberapa luka memar tercetak jelas di sudut bibirku dan jidatku, bekas tamparan dan benturan kepala sepertinya.

"Tampangmu parah sekali." ucap Charlotte di belakangku.

"Ya. Tapi beberapa hari kedepan pasti sembuh."

"Kau harus meminum ramuannya setelah ini."

"Ramuan apa?"

"Ramuan untuk mengeringkan luka-lukamu."

"Baiklah."

Charlotte mulai mengepang rambutku.

"Kau tahu Elise, sebenarnya aku tak pernah menghias rambut seseorang sebelumnya."

Aku melirik sekilas ke arahnya. "Benarkah?"

"Ya dan ternyata sangat mudah melakukannya."

Aku tersenyum membenarkan. "Selain kau dan Peter, siapa lagi yang tinggal disini?"

"Ayah dan ibuku serta pelayan-pelayan kami."

Mendengar pelayan membuatku bergidik ngeri.

"Pelayan disini semuanya sejahtera Elise, mereka di beri makan dengan layak juga ruangan yang bagus untuk tidur. Setiap bulannya kami selalu memberikan mereka cuti." ucap Charlotte yang sepertinya membaca raut wajahku.

"Oh...."

"Ya, sebelum menjadi pelayan di kediaman Bagman kau tinggal dimana?"

"Di pedesaan dekat lereng bukit, aku tinggal bersama orang tuaku dan adik-adikku."

"Wow, aku ingin sekali ke desa tapi mereka tak pernah mengijinkannya. Adik-adikmu masih sekolah?"

"Ya, mereka sekolah di salah satu sekolahan terkenal di desaku."

"Pasti menyenangkan, aku juga sekolah tapi hanya seputar tata krama, musik, menjahit, dan lainnya. Tak bisa bermain seperti anak-anak yang lain."

Aku tersenyum. "Kau bisa bermain dengan kedua adikku, Alan dan Marry. Umur mereka pasti tak begitu jauh darimu, Alan 13 tahun dan Marry 11 tahun."

Charlotte mengangguk, sekarang dia menyanggul rambutku dan menjepitkan beberapa jepitan.
"Tapi aku tak mungkin bisa bermain, mereka pasti melarangku. Nah selesai!"

Aku menatap rambut rapihku di cermin dan tersenyum pada Charlotte. "Terima kasih."

"Sama-sama. Sekarang minumlah ini." dia mengulurkan botol yang ditutup dengan gabus padaku.

Aku menerimanya, lalu meminumnya sedikit demi sedikit. Rasanya manis dan terasa dingin di tenggorokanku.

"Sekali lagi terima kasih Charlotte."

Dia mengangguk. "Pergilah dan temui kakakku."

Aku tersenyum lalu melangkah pelan menuju pintu kamar, saat aku membukanya terlihat Peter yang sedang berdiri dengan raut was-was di wajahnya. Dia mendongak ketika melihatku.

"Sudah selesai?"

"Ya."

"Baiklah, ayo!"

Aku mengikutinya dari belakang melewati lorong-lorong yang di jaga oleh beberapa pengawal di setiap sudutnya, lalu berbelok ke kiri menuju pintu luar yang mengarah ke sebuah taman.

Taman itu ternyata luas, terdapat beberapa macam jenis bunga seperti dandelion, mawar putih, tulip, lavender dan bunga yang tak pernah ku lihat sebelumnya. Taman yang benar-benar menakjubkan sampai-sampai aku terperangah melihatnya.

Peter membawaku berjalan di jalanan setapak lalu duduk di salah satu bangku panjang yang ada disana. Kami terdiam beberapa waktu dengan pikiran masing-masing.

Beberapa menit kemudian suasana masih sama.Aku tak mencoba membuka suara untuk memulai percakapan begitupula dengan Peter yang sekarang sedang asik memandang lebah-lebah yang sedang menghisap nektar bunga-bunga.

Karena aku mulai bosan, aku mengambil inisiatif untuk memulai pembicaraan.

"Terima kasih." itu ucapan pertama kali yang keluar dari mulutku.

Peter mengalihkan pandangannya dari sang lebah, lalu menatapku. "Untuk apa?"

"Semuanya. Kau menolongku dari keluarga brengsek itu, membebaskanku dari perbudakan, membawaku ke tempat ini dan segalanya. Aku tak bisa membalas jasa-jasamu."

"Sudahlah. Tak usah dipikirkan."

Aku menarik napas dalam-dalam. "Ku kira kau tak jadi membebaskanku, tapi kau datang di waktu yang tepat. Aku hampir saja menyerah untuk hidup, yah... meskipun aku sedikit kecewa saat tahu kau nisa menolongku karena kekuasaanmu di kota ini."

"Maksudnya?"

"Kau anak seorang Wali Kota, semua orang tahu itu dan kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan dengan kekuasaanmu."

"Dengar, aku bukannya....."

"Sudahlah, aku tahu semuanya. Kau tak perlu berbohong lagi sekarang."

"Bukan begitu Elise, aku hanya tidak mau kau menjauhiku karena statusku."

Aku menatapnya datar. "Aku bukan tipe pemilih dalam bergaul, asal kau tahu saja."

Peter menggenggam tanganku. "Maafkan aku Elise aku tahu kau pasti kesal padaku. Tapi percayalah, aku melakukannya karena terpaksa. Aku tertarik padamu sejak pertama kali kita bertemu dan aku tahu kau orang biasa bukan seorang Lady dari kalangan bangsawan, jadi aku juga mengenalkan diri sebagai orang biasa agar kau tak canggung padaku."

Aku memejamkan mataku, Peter telah baik padaku jadi mana mungkin aku bisa marah padanya? "Baiklah, permintaan maaf diterima. Jadi sekarang haruskah aku memanggilmu dengan sebutan 'Tuan' atau mungkin 'My Lord' ?"

Peter mendengus. "Kau tahu aku tak suka dengan embel-embel itu."

Aku tertawa begitupula dengan Peter. Kami tertawa bersama dan terus tertawa sampai mataku berair. Aku bahagia, ya.... jenis kebahagian yang tak pernah kurasakan sebelumnya dan ini karena seorang Peter, teman sekaligus penyelamatku dan sekarang aku tahu, hari paling beruntung di dalam kehidupanku adalah hari saat aku bertemu dengannya.

Jadi, apakah menurutmu aku jatuh cinta padanya? Ya, kurasa begitu.



Kyaaaaaaaa akhirnya bisa update juga, maaf bagi yang menunggu kelanjutan cerita yang absurd ini ekwkwk....

Aku baru sempat nulis di wp karena aku sibuk ngurusin ospek ekwkw maklum mahasiswa baru haha #abaikan

Terima kasih bagi yang sempat membaca cerita ini, vote apalagi yang sampai berkomentar.... Kalian baik sekali.... Hehehehe

Baiklah, semoga chapter ini ga bikin kalian bosan...

Byeeeee :*

Continue Reading

You'll Also Like

3.1M 155K 52
(SUDAH TERBIT) PESAN DI SHOPEE LOVELYMEDIA. "Lihat saudaramu yang lain! Mereka berprestasi! Tidak buat onar! Membanggakan orang tua!" Baginya yang te...
24.7K 1.3K 22
• 𝘔𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘧𝘢𝘷𝘰𝘳𝘪𝘵𝘬𝘶 • ―ꦱꦏꦶꦪ [TAHAP REVISI, SABAR] ⚠️DILARANG KERAS MEMPLAGIAT KARYA INI DALAM BENT...
29.2K 1.4K 53
Today I meet you, but tomorrow I lose you🥀 ▪▪▪ "Kita dipertemukan lewat kejadian saat kau jatuh dari motor, dan dipisahkan lewat kejadian itu juga?"...
4.4K 922 4
Trauma- di sembuhkan -trauma lagi. Apa hanya itu skenario hidup Alesha? *** Enjoy reading my story, beb. Call me runa.
Wattpad App - Unlock exclusive features