Sepenggal kisahku dengannya...
aku seorang direktur muda dan dia seorang mahasiswa jenius...
hubungan yang dijembatani oleh jarak dan waktu membuatku terkadang berpikir, apakah dia mencintaiku? Merindukanku? Seperti diriku yang saat ini menderita tanpanya...
~SG~
*Aku tahu dalam setiap tatapanku, kita terhalang oleh jarak dan waktu. tapi aku yakin kalau nanti kita pasti bisa bertemu.*
"Ah... Kapan ya aku bisa ketemu denganmu lagi?" kata seorang pemuda pirang sambil menatap layar HP-nya
"Permisi, Naruto-sama. Rapat akan segera dimulai." Panggil sekretarisnya
"Ah, baik. Aku akan kesana 5 menit lagi. Kau duluan saja."
"Baik."
"Suke-chan. Semoga kau baik-baik saja disana."
~SG~
*Cinta itu aneh, dia gak selalu datang pada orang terdekat, tapi bisa padamu yang jauh disana*
"Aku mencintaimu, Uchiha-san."
"Maaf aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Aku sudah memiliki orang yang aku cintai."
"Apa dia juga mahasiswi disini?"
"Tidak. dia ada ditempat yang belum bisa aku jangkau."
~SG~
*Kita lucu ya, nangis bareng, ketawa bareng, tapi gak pernah bener-bener bareng untuk waktu yang lama. Someday we will ya!*
"Hey, apa kau tidak bosan memandanginya lewat HP begitu?" tanya Neji
"Untuk sekarang aku harus puas hanya bisa mendengarkan suara dan memandang gambarnya saja. Kau tahu sendiri kan bagaimana sibuknya dia sekarang? Aku tidak mau menjadi beban pikirannya. Apalagi sekarang masa-masa ujian." Jawab Naruto dengan tetap memandang foto
"Kalian berdua memang aneh."
"Biarin. Lebih baik kau urus calon istrimu yang cerewet itu." Sindir Naruto
"Ck." Nejipun keluar dari ruangan direktur Uzumaki Corp itu
~SG~
*Sebenarnya yang aku ingin tahu, apa kamu serindu ini sama aku, sesayang ini sama aku, sesakit ini jauh dariku*
"Sasuke, apa yang kau kerjakan sekarang?" terdengar suara Naruto yang sedang menelpon Sasuke
"Mengerjakan Skripsi."
"Masih lama?"
"Sepertinya."
"Tidak bisakah berhenti sebentar?"
"Kenapa?"
"Aku rindu."
"Sama siapa?"
"Eh? Dengan dirimulah. Memang siapa lagi yang aku ajak bicara di telpon ini?"
"Oh."
"Hm... Sudahlah. Sepertinya kau memang sedang tidak ingin diganggu. Oyasumi." Narutopun memutus telponnya
Setelah telpon dari Naruto terputus, Sasuke langsung menatap foto yang terpajang di laptopnya.
"Bodoh, aku juga merindukanmu. Baka-Naru."
~SG~
*Kamu nggak cuek kok, kamu cuma lupa kalau ada seseorang yang butuh banget kabar kamu dan khawatir setengah mati kalo kamu lupa ngabarin*
Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 tapi tidak ada sms atau telepon dari kekasih mungil berambut Raven itu.
"Apa yang kau lakukan disitu, Naru?" tanya Neji
"Tidak ada."
"Sepertinya kekasihmu sudah mulai bosan ya..."
"Neji..."
"Ya?"
"Kau ingin mati?" Naruto menguarkan hawa membunuh yang amat kuat hingga membuat Neji merinding
"Ahahaha... aku kan hanya bercanda..." kata Neji sembari menggaruk belakang kepala yang tidak gatal
"Tidak lucu!"
~SG~
*Kita mungkin tidak seperti lain yang bisa bebas bertemu kapan saja, tapi aku tau lewat doa, aku bisa memelukmu kapan saja*
"Bersabarlah sedikit lagi."
"Aku sudah lama bersabar Sasuke." Ungkap Naruto ketika akhirnya Sasuke menelpon setelah 3 hari tidak ada kabar
"Sedikit lagi."
"Demo..."
"Sedikit lagi."
"Ugh...Wagatta."
~SG~
*Bila Tuhan dengar doa ku malam ini, sampaikanlah sejuta rasa cinta ini padanya, aku rindu kamu.*
"Kami-sama... Sampai kapan aku harus menunggu? Tolong jaga dia untukku. Jangan biarkan seme lain mendekatinya. Kalau sampai ada yang mendekatinya atau dia membiarkan orang lain menyentuhnya maka aku pastikan tidak akan ada matahari untuknya esok." Ucap Naruto dengan hawa membunuh dari beranda apartmennya
Ditempat Sasuke...
"Hiii~ kenapa tiba-tiba bulu kuduk berdiri? Kami-sama, sabarkanlah hati Naruto untukku. Jangan biarkan dia melakukan tindakan ceroboh."
~SG~
*If I never met you, I wouldn't like you. If I didn't like you, I wouldn't love you. If I didn't love you, I wouldn't miss you. But I did, I do, and I will.*
"Berapa kali lagi kau menelpon baru kau puas, Naru?"
"Sampai rinduku hilang Sasuke. Kau tahu kan 3 tahun bukan waktu yang sedikit."
"Iyaa aku tahu."
"Kalau begitu biarkan aku mendengarkan suaramu sebentar lagi."
"Tapi aku masih sibuk mengerjakan skripsiku, Naru?"
"Oh begitu. Sepertinya kau sudah mulai tidak mencintaiku lagi."
"Bukan beg... Halo? Halo? Ck, kau selalu seperti itu. Tidak bisakah kau mengerti?" Sasuke frustasi karena Naruto memutus telpon secara tiba-tiba tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu.
Sementara itu, Naruto...
"CK!!! Kusso!!!" umpatnya sambil mengacak-acak rambut
~SG~
*Rasa rinduku tak kan tergantikan oleh foto atau suaramu aku butuh bertemu denganmu*
"Sasuke, aitakata." Gumam Naruto sambil memeluk foto Sasuke dalam keadaan tidur
.
.
.
"Sedikit lagi. Aku harus bisa menyelesaikannya bulan ini." Menoleh ke arah samping meja belajarnya, "Aku pasti bisa bertemu denganmu 2 bulan lagi. Ai takata yo, Naruto."
Setelah memandang poster Naruto yang ia temple di tembok, Sasuke kembali konsentrasi menyelesaikan skripsinya.
~SG~
*Ingin ku lukis wajah rembulan di kanvas merah sang malam, dengan sedikit guratan warna ungu dan jingga membentuk gulungan awan yang menyiratkan makna kerinduanku padamu*
"Haah..."
"Jangan suka menghela nafas saat makan, Baka." Tegur Neji
"Urusai."
"Bersabarlah. Seminggu lagi dia akan kembali padamu."
"Hn."
"Dasar merepotkan." Omel Neji
~SG~
*Cinta yang berawal dari mata, akan berakhir menjadi air mata. Cinta yang berawal dari hati, tidak akan pernah berakhir*
"Kau tahu, Sasuke?"
"Hn?"
"Kenapa aku mencintaimu?"
"Umh... Wajahku, mungkin."
"Itu hanya tambahan. Yang paling utama dari semua alasan aku mencintaimu adalah karena kamu telah memberikan ketulusan dan kesetiaan hatimu padaku."
"..."
"Sasuke?"
"..."
"Sasuke, kau tidak apa-apa?"
"..."
"Hei, Sasuke jaw..."
"Baka." Bisik Sasuke yang rupanya malu karena penyataan Naruto
~SG~
*Bagiku jarak tak pernah melemahkan. Jarak menjadikan mata lebih terbuka. Melihat seberapa kuat rasa yang ku miliki*
"Kenapa sih kau harus kuliah di luar negeri?"
"Supaya aku bisa sebanding denganmu."
"Sebanding bagaimana? Aku tidak melihatmu dari materi."
"Aku tahu, hanya..."
"Hanya..."
"Tidak ada lupakan. Oyasumi."
"Hah? Moshi-moshi?" Narutopun bingung dengan pernyataan terpenggal dari kekasihnya itu
~SG~
*Tak jarang aku bertindak bodoh saat aku merindukanmu. Memancing emosimu, pura-pura cuek, bahkan membuatmu khawatir agar kamu memperhatikanku*
Naruto menyuruh Neji untuk menelpon Sasuke.
"Neji, tolong kau telpon Sasuke."
"Telpon sendiri."
"Tidak harus kau yang menelpon."
"Hah?!!!!"
"Katakan padanya aku sedang sakit."
"Kau gila!? Aku tidak ingin terlibat pertengkaranmu dengan Sasuke. Bisa-bisa aku dicincang Itachi kalau sampai ketahuan."
"Kalau begitu bilang padanya aku bertemu wanita cantik."
"What the...!???" memijit kening, "Mungkin, sebaiknya aku membawamu ke rumah sakit jiwa. Otakmu bermasalah!"
"Cih, kalau tidak mau bantu ya sudah, tidak usah marah-marah."
"Bukannya aku tidak mau membantu. Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaannya? Disana dia sedang berjuang agar bisa cepat bertemu denganmu juga, bukan? Jangan sia-siakan usahanya, Baka-Naru."
"..."
Neji menatap Naruto yang nampaknya sedang memikirkan sesuatu
"Baiklah. Akan ku coba sabar 4 hari lagi."
"Bagus." Kembali menyelesaikan tugasnya
~SG~
*Kini aku benar-benar iri dengan orang-orang disekitarmu. Mereka yang dengan mudahnya bisa menghabiskan waktu bersamamu*
"Kau sedang apa? Dimana? Dengan siapa?"
"Berhentilah menanyakan hal itu, Naru."
"Lalu, aku harus menanyakan kapan kau pulang?"
"Tidak juga."
"Haah~ kau seharusnya tahu kalau aku juga tidak ingin menanyakan hal-hal seperti ini. Aku ingin melihat secara langsung apa, dimana dan dengan siapa kau sekarang. Tapi bukankah itu lebih tidak mungkin?"
"Dasar overprotective."
"Gara-gara kamu juga aku begini."
"Hn."
"Urayamashii..."
"Siapa?"
"Aku."
"Dengan siapa?"
"Segala sesuatu yang ada di dekatmu." Mendengar jawaban Naruto membuat Sasuke sedikit tersentak kaget
~SG~
*Ku coba melakukan aktivitas yang memakan waktu, berharap saat aku menemukan beberapa pesan/panggilan tak terjawab atas nama kontakmu di HP-ku*
"Presdir, ini kopian dokumen minggu lalu."
"Iya."
"Pak, ada jadwal meeting jam 11 nanti."
"Dimana?"
"Hotel Suna."
"Kau atur saja jadwalku untuk itu."
"Baik."
"Pak, ada yang ingin berbicara dengan anda di saluran 3."
"Oke." Angkat telpon, "Moshi-moshi..."
Neji yang melihat Naruto begitu menenggelamkan dirinya ke dalam pekerjaan hanya bisa menggumamkan kata "BAKA."
Pasalnya, sesekali Naruto pasti menengok layar Hp-nya.
~SG~
*Cemburu itu bagian dari mencintai, dan menyakiti itu bagian dari pengkhianat cinta*
Hari yang sudah ditunggu-tunggu tiba. Kedatangan Sasuke. Kepulangan belahan jiwanya. Kekasih hatinya.
Bergegas sudah Naruto mengendarai mobilnya menuju bandara. Namun, yang menyambutnya ketika sampai di bandara adalah pemandangan dimana Sasuke dipeluk seorang pria asing yang tidak dikenalnya sama sekali.
"Sasuke! Apa yang sedang kau lakukan!" bentak Naruto penuh emosi
"Naru, kau sudah dat..."
"Siapa dia!?"
"Hah?"
"Siapa lelaki brengsek yang sudah berani memelukmu!?"
PLAAAKKK!!!
Sasuke menampar Naruto, "Jaga bicaramu! Dia adalah Pamanku. Dia hanya menemaniku pulang kesini karena kebetulan dia punya urusan disini."
"Ah..." tidak bisa menjawab Naruto terlanjur membuat kekasihnya bersedih dan kecewa
"Perkenalkan, aku Madara, Paman Sasuke."
"Aku..."
"Aku tahu, kau Naruto bukan? Sasuke sudah banyak bercerita tentangmu."
"Maaf atas kelancangan omonganku tadi."
"Ah, daijoubu. Aku mengerti bagaimana susahnya menjalani hubungan jarak jauh selama 3 tahun itu. Dan kau, Sasuke. Kecemburuan Naruto berarti dia benar-benar mencintaimu. Maafkanlah dia."
"Ugh...mmm..."
"Gomenne, Sasuke!" ucap Naruto sambil melakukan dogeza (sujud ala Jepang)
"Baka!! Apa yang kau lakukan! Cepat berdiri!!!"
"Tidak sebelum kau memaafkanku."
"Hah~~ Iya iya, aku memafkanmu."
"Honto?"
"Hn."
"Yatta." Naruto segera memeluk Sasuke dan langsung dibalas oleh Sasuke
Sementara itu, tanpa mereka sadari, Madara telah meninggalkan mereka untuk melepas rindu yang sudah lama terpendam.
~SG~
*Rinduku ibarat anak sungai, butuh waktu dan jarak agar rinduku sampai pada muara, dan muara itu adalah kamu*
Selepas 10 menit memeluk Sasuke, Narutopun membawa Sasuke pulang ke apartmennya. Segera setelah mereka memasuki ruang tengah apartmennya, Naruto langsung, mendekap erat tubuh mungil Sasuke seolah-olah takut akan kehilangannya.
"Akhirnya... Akhirnya aku bisa memelukmu... Menciummu... memandangimu..."
"Umh..."
"Kita tidak akan terpisah lagi. Tidak akan pernah."
"Hn."
"Aishite iru, Sasuke."
"Aishite iru yo, Baka-Naru."
END
Gomenne lagi pengen bikin short-story...
Cerita ini ungkapan hati author un #curcolON
Spesial for Kris-nii...
So, i'm waiting for your comment...