M I N E

By sjltami

183K 4.8K 167

Buku ini menceritakan tentang beberapa remaja SMA yang saling menyimpan rasa untuk satu sama lain. Awalnya se... More

Prologue
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
Flashback
Author's Note

42

5.3K 130 28
By sjltami

Author

Hari ini jantung Deva sudah ada. Dan, operasi dilaksanakan pada sore hari. Anna mengenggam tangan Deva. Anna teringat akan ciuman yang Deva berikan kepadanya. Anna tidak takut terhadapa Deva, terhadap ciumannya.

"Ann, doain aku ya lancar." Sebelum Deva masuk ruang operasi, ia memeluk Anna erat. Deva berjanji dia akan segera sembuh dari penyakitnya. Anna membalas pelukan Deva. Deva segera dibawa ke ruang operasi. Zasky memeluk Gruhan. "Kita sama-sama berdoa ya, Han."

"Iya, Zas. Terima kasih ya," Gruhan melirik Anna.

"Anna, terima kasih sudah merawat dan juga menjaga Deva disini."

"Iya, Om. Sama-sama."

"Anna, kamu udah siap?" Zasky bertanya kepada anak satu-satu nya itu.

"Iya, ma. Anna siap."

Yang tahu akan hal ini hanya Vio, Zasky, dan Gruhan. Zasky menceritakan semua nya kepada Gruhan. Zasky juga meminta Gruhan untuk berjanji tidak akan membocorkan rahasia ini kepada Deva.

Anna dan Zasky berangkat ke rumah sakit lain, agar tidak bertemu Deva. Anna akan dirawat inap di rumah sakit dan menjalani berbagai macam pengobatan, dan kemoterapi. Anna menguatkan dirinya, dia juga berjanji agar sembuh demi Zasky, dan juga Deva.

"Ma, tunggu.."

"Kenapa sayang?"

"Anna mau ngomong dulu sama Deva."

"Tapi Deva sedang dalam kondisi bius pasti, An. Kan dia sedang dalam proses setelah operasi."

"Iya, gapapa. Anna ngomong sama Deva saat dia lagi tidur."

Zasky mengangguk mengerti kemudian menunggu di mobil.

Operasi Deva berjalan dengan lancar. Setelah Gruhan menengok keadaan anak nya, Anna memasuki kamar Deva.

"Dev, aku bakal pergi dari sini. Aku akan di rawat inap sama kayak kamu gini, doain aku semoga pengobatan ku berhasil ya, Dev. Aku kaget lho waktu kamu....yah waktu kamu kayak gitu ke aku waktu itu..eeh haha aku jadi salting, padahal kamu ga ngeliatin aku, juga ga ngedengerin aku hehehe. "

Anna menggenggam tangan Deva.

"Aku janji sama kamu, dan sama Mama, kalo aku bakal sembuh dan kamu ga perlu tau penyakit aku ini. Kamu sembuh aku juga harus bisa sembuh, aku mau punya waktu bersama kamu lebih banyak lagi, Dev." Anna mencium kening Deva sebelum benar-benar pergi meninggalkannya.

"Om, kalo Deva udah bangun, kabarin aku ya. Makasih banget, om."

"Iya, An. Pasti om kabarin." Anna tersenyum kemudian berjalan menuju mobil Zasky.

***

Dua hari setelah operasi, Deva terbangun. Deva mendapati Gruhan duduk di samping ranjang rawat nya. "Syukurlah, akhirnya kamu sadarkan diri. Gimana perasaan mu, Dev?"

"Aku pusing kebanyakan tidur, hehe. Tapi enakkan."

"Iyalah tidur tiga hari."

"Hehe, Anna dimana, Pa?"

"Anna? Ooh..Anna. Ehm, dia ada dirumah, nanti Papa kabarin dia ya kalo kamu udah bangun."

"Sekarang, Pa..kabarin Anna sekarang," Ujar Deva, wajahnya terlihat memelas.

"Iya iya oke." Gruhan mengambil hp nya dan menelfon Zasky. Gruhan berjalan keluar kamar Deva.

Beberapa menit kemudian, Gruhan kembali masuk ke kamar Deva. Wajahnya tersenyum, "Anna udah papa kabarin. Nanti dia bakal jenguk kamu kok, Dev. Papa panggilin dokter dulu ya, buat cek keadaan kamu."

"Iya, Pa." Deva tersenyum senang. Akhirnya jantungnya kembali baik dan normal. Dan akhirnya dia dan Anna bisa bersama lagi tanpa ada hal yang harus mereka khawatirkan.

***

"Jantung Deva cocok dengan tubuhnya. Deva makin hari makin fit. Hari ini dia di perbolehkan pulang." Dokter tersenyum setelah memeriksa keadaan Deva. Sudah seminggu lebih Deva berada di rumah sakit, dan hari ini dia diperbolehkan untuk beristirahat di rumah saja.

"Pa, Anna dimana? Setiap Deva tanya Anna kenapa enggak dateng-dateng Papa pasti bilang 'sabar nanti juga dateng'. Anna kemana Pa?"

"Pulang dulu yuk, mungkin Anna ngasih kamu surprise di rumah."

"Kejutan aku udah sembuh? Ohiya bisa jadi heee.." Deva terkekeh karena ke-pedean nya.

Sampai di rumah, Deva tidak melihat Anna. Keadaan di rumah juga kosong, tidak ada orang, sama seperti dulu.

"Pa, Anna dimana?"

"Dev.."

Deva tidak mau mendengarkan Gruhan. Dengan cepat Deva berlari mengambil kunci mobil dan melesat secepat kilat ke runah Anna.

"DEVA KAMU BARU SEMBUH!!" Gruhan berteriak sekeras mungkin namun Deva tetap melesat pergi ke rumah Anna. Jantung baru Deva berdetak kencang, Deva berkeringat dingin. Panik, khawatir, bingung, itu yang dia rasakan.

Deva mengetuk-ngetuk pintu rumah Anna. Terlihat bendera kuning di depan rumah nya. Deva mengetuk-ngetuk pintu rumah Anna lebih keras. Zasky membuka pintu rumahnya.

"Deva?! Yaampun nak, syukurlah kamu sudah sembuh," Zasky memeluk Deva. Deva membalas pelukan Zasky. Di dalam rumah Anna terlihat Vio, Leo, dan juga Brian. Mereka semua berdiri ketika melihat kedatangan Deva.

"Ini ada apaan?" Deva bertanya dengan nada dingin, tubuhnya berkeringat dingin, tubuhnya sangat dingin, jantungnya berdetak lebih cepat.

"Anna dimana? Mana Anna?" Deva berlari menuju kamar Anna. Anna tidak ada di kamarnya.

"Dev, ada yang harus lo ketahui. Anna..." Brian tidak sanggup melanjutkan kata-kata nya.

"Anna udah enggak ada, Dev." Leo melanjutkan kata-kata Brian.

Dunia terasa berputar, kepala Deva semakin pening. Deva tidak dapat menahan air mata nya. Air mata keluar deras dari mata Deva mengalir ke bawah pipi nya yang dingin.

"Bohong! Lu semua bohong sama gua! Tan ga bener kan? Anna lagi pergi kan tan? Nanti dia balik kan tan?" Semua orang yang ada di rumah Anna memelum Deva dengan erat. Menyabarkannya. Deva tidak mempercayai hal ini, dia butuh penjelasan. Kenapa semua hal buruk ini dapat terjadi. Deva di bawa ke ruang tamu, Zasky memberikannya secangkir teh hangat. Deva tidak menyentuh teh tersebut.

"Anna..Anna mengidap penyakit kanker lambung. Tante juga shock ketika mendengar nya dari dokter. Anna tidak mau semua teman-teman nya tau akan hal ini. Vio lah satu-satu nya teman yang tahu. Dan, bapak mu, Gruhan, dia juga tau. Ketika dia mengabari tante bahwa kamu telah sadar, tante memberi tahu Anna, namun fisik nya sudah tidak kuat untum berpergian. Tiga hari setelah kamu sadar, penyakit Anna semakin parah, Anna terus memuntahkan banyak darah hingga dia kekurangan darah. Tubuhnya lemas, kulitnya putih pucat. Dan.." Zasky menangis kembali, mengingat betapa lemahnya putri satu-satu nya itu. Deva terdiam mendengarnya, wajahnya pucat, dia tidak dapat berkata apa-apa lagi. Deva menutup wajahnya dengan kedua tangannya, air mata keluar lagi. Matanya memerah, Deva mengacak-acak rambutnya. Rasanya dia ingin berteriak sekencang-kencangnya.

"Kami disini lagi ngebantuin Tante Zasky buat acara persiapan tujuh harian Anna." Ujar Vio. Vio ikut menangis lagi, dia kehilangan sahabat nya. Brian merangkulnya.

"Anna menitipkan ini pada tante." Zasky menyodorkan hp Anna.

"Sebaiknya kamu buka-buka saja di rumah, Dev. Tante juga enggak mengerti kenapa dia meminta tante buat ngasih hpnya ke kamu."

Deva menganggukkan kepala nya. "Makam Anna dimana, Tan? Bisa kita kesana?" Pinta Deva sambil mengusap mata nya. Akhirnya, mereka semua berangkat ke makam Anna.

Gruhan juga telah mendapat kabar dari Zasky bahwa putranya baik-baik saja di rumah nya.

"Hai, An." Deva memegang nisan Anna dan meletakkan bunga mawar putih yang ia cabut dari kebun di sekitar pemakaman.

"Maaf ya, aku baru bisa nengok kamu. Aku juga minta maaf aku cuma bisa bawa satu bunga doang." Deva menatap ke arah tanah yang sudah menimbun tubuh Anna.

"Kamu udah seneng ya, di surga sana, tempatnya para malaikat. Kamu malaikat aku kan hehe. Kamu udah enggak perlu lagi ngerasain sakit nya kanker di lambung kamu, Ann. Aku juga nih, An udah sembuh. Jantung aku ternyata cocok di tubuh aku. Tadi nya aku seneng banget kita bisa bareng-bareng lagi tanpa ada beban berat. Ternyata malah jadi kayak gini.." Deva menutup mulutnya kencang berusaha menahan tangisnya.

"Aku besok ke sini lagi kok, An. Sekarang aku harus pulang dulu ke rumah. Papa pasti udah panik aku main kabur aja tadi hehehe. Aku juga mau ngeliat isi buku yang kamu kasih ke aku." Sebelum meninggalkan makam, Deva memeluk nisan Anna, tidak peduli dengan semut-semut yang ada di atas nya.

Deva mengucapkan terima kasih kepada Zasky, dan juga teman-teman Anna yang lain.

"Lo mau ikut bantu buat tujuh harian Anna?" Vio menawarkan dengan lembut.

"Gua mau pulang aja ke rumah, sorry banget gua ga ngebantuin, tapi besok gua pasti dateng. Makasih ya semuanya." Deva berpamitan dan segera berjalan menuju mobilnya. Dia menaruh hp Anna di kursi penumpang di sampingnya. Deva menangis kembali di dalam mobilnya, dia melihat ke arah kursi tempat dulu saat pertama kali dia mengantarkan Anna pulang.

Gua masih ga percaya kalo lo udah ga ada disini, An. Kalo lo bener-bener udah ninggalin gua. Deva menyesali keadaannya, coba saja dia tidak mempunyai penyakit jantung, mungkin dia bisa merawat Anna, dia bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama Anna.

Deva sampai di depan rumah nya. Terlihat Gruhan masih menunggu di depan rumah. Senyuman terlukis di wajah Gruhan. Deva keluar dari mobil dan berjalan lunglai ke arah Gruhan yang langsung memeluknya, menguatkan hati nya. "Ikhlas kan, Dev agar Anna bisa tenang." Deva tidak menjawab, sebenarnya dia ingin sekali marah dan membentak Gruhan karena tidak memberitahu kan semua ini kepada nya, namun dia tidak mempunyai kekuatan apa-apa untuk melakukan itu. Deva berjalan ke kamarnya.

Deva mengutak-atik hp Anna, kemudian dia membuka line dan mencari kontak dirinya sendiri, dia ingin melihat chatt lama Anna dengan diri nya. Deva meng-klik chatts dan ternyata, ada sebuah pesan untuk dirinya yang belum terkirim oleh Anna. Deva mengklik send agar pesannya dapat dibaca dengan jelas.

Anna: Hai Dev, kamu udah baik-baik aja? Syukur banget yaa akhirnya kamu udah ga perlu ngerasain sakit di jantung kamu itu lagi. Aku seneng banget operasi nya berjalan lancar. Aku disini, juga udah mau sembuh hehe. Kamu belum tau ya? Aku kena kanker lambung stadium akhir. Aku juga enggak tau kenapa jadi gini, maaf aku sengaja enggak mau memberitahu ke kamu tentang ini. Aku janji sama diriku sendiri kalo aku bakalan sembuh demi kamu dan mama. Juga Vio. Aku sengaja, nulis di hp ini karena aku takut aku enggak kuat ngejalanin semua ini, aku takut tiba-tiba aku udah ga bisa nemenin kamu, mama, dan Vio lagi buat selamanya. Dan karena, berkat hp ini kita bisa ketemu hahaha. Aku enggak nyangka bisa sayang sama orang yang udah ngambil hp aku:b. Aku jadi enggak nyesel sedikit pun udah ngejatohin hp aku HAHA, walaupun itu emang enggak sengaja jatoh sih ya. Coba ga jatoh, aku sama kamu ga bakal kenal kan. Aku mau kamu simpen hp ini, supaya kamu selalu inget sama aku, Dev. Inget pertama kali kita kenal kayak gimana. Kalau hp ini sampe di kamu, dan kamu udah baca semua ini, aku minta maaf, aku udah enggak bisa hadir di bumi ini lagi. Aku sayang kamu, Dev. Satu bulan aku sengaja nemenin kamu sebelum aku dirawat dan di kemoterapi. Waktu sebulan yang bener-bener indah bagi aku. Dan makasih, kamu udah bisa jadi first kiss aku. Aku cinta kamu, Dev.

Deva menangis keras membacanya, dia berteriak sekencang mungkin hingga membuat Gruhan harus menenangkannya. Gruhan memeluk Deva yang masih berteriak-teriak seperti kerasukan setan. Deva berhenti berteriak namun masih sesegukkan karena menangis, matanya kali ini benar-benar merah seperti berdarah.

"Papa kenapa enggak bilang apa-apa ke Deva?"

"Anna bener-bener enggak mau kalo kamu sampai tahu semua ini, Dev."

"Deva udah kehilangan dua orang perempuan yang Deva sayang, Pa. Parahnya mereka menghilang dari hidup Deva buat selama-lama nya. Pertama mama, kedua Anna. Tuhan kenapa giniin Deva, Pa? Deva enggak ngerti, semua perempuan yang Deva bener-bener sayang dia ambil Pa!" Deva mengeluarkan amarahnya.

"Deva..kamu enggak boleh ngomong seperti itu, nak. Sabar, nak, sabar. Tuhan mengambil mama mu karena mama adalah orang yang baik, orang yang cocok untuk menjadi malaikatnya di surga sana. Dan Anna, Tuhan mengambil Anna ya karena Anna perempuan yang sangat baik, dan Tuhan tahu yang terbaik untuk mu, mungkin..Anna bukan yang terbaik untuk kamu. Kamu harus mengikhlaskan dia, nak."

Deva memeluk Gruhan lagi.

"Papa besok dateng ke acara tujuh harian Anna kan? Temenin Deva ya, Pa."

"Iya, papa besok dateng kok sama kamu."

***

Acara tujuh harian Anna berjalan lancar, selesai acara, Deva dan Gruhan pergi ke makam Anna. Kali ini, Deva sudah membeli satu buket bunga mawar merah untuk ditaruh di atas gundukkan tanah makam Anna.

"Hari ini tujuh harian kamu, An. Aku bawa bunga mawar, aku yakin pasti kamu suka." Deva meletakkannya di atas tanah. Gruhan memilih untuk menunggu saja di mobil, membiarkan anaknya berbicara pada Anna sendirian.

"Aku mau kamu tau satu hal, mungkin kamu bukan jodoh ku di dunia ini, mungkin kita enggak bisa bersama di dunia ini. Tapi aku yakin seratus satu persen kalo kamu adalah jodoh aku di akhirat nanti, Ann. Jadi, dengan siapa pun aku menikah nanti, aku pasti akan balik ke kamu tapi di akhirat. Aku sayang banget sama kamu, Ann. Makasih udah pernah jadi bagian dari hidup ku." Deva mencium nisan Anna sebelum pergi meninggalkan makam Anna.

Deva sudah dapat mengikhlaskan kepergian Anna, walaupun terkadang dia masih menangis saat membaca kembali pesan dari Anna dan mengingat kembali semua kenangannya bersama perempuan itu, Deva sudah ikhlas atas kepergian Anna. Deva yakin surga adalah tempat yang cocok untuk malaikat seperti Anna.

Continue Reading

You'll Also Like

25.8K 1.5K 21
PROSES REVISI Kisah cinta yang sangat rumit, dijalani oleh dua remaja sma cevic international high school, mereka saling mencintai tapi tidak bisa s...
2.8K 129 30
Aluna bimbang saat harus memilih Raga atau Alva. Tapi, kemudian sesuatu hal yang mengharuskan dua sejoli ini harus berpisah, dan sebuah titipan cornf...
2.2K 311 52
[FOLLOW SEBELUM BACA] Ini kisah perjalanan seorang gadis SMA yang berusaha melupakan luka hatinya di masa lalu, Ara. Lengkapnya Lunara Thalia Al-Hana...
409K 33.6K 33
Esktra kulikuler basket lah yang mempertemukan mereka. Sebuah kisah di masa SMA yang akan menjadi kenangan nantinya. Cerita ini tentang kehidupan p...
Wattpad App - Unlock exclusive features