SENJA

By sitideviaagstna

470 46 13

Semuanya berubah dan berbeda drastis. Itulah yang dirasakan Putri Arum Senjani saat dirinya menginjak tingkat... More

Prolog
1
2
3
4
5
6
Putra Angkarsa Sebastian
8
10
11
12. Masak-Gengsi
13
14. Pulang

9

33 2 0
By sitideviaagstna


Saat ini Senjani dan Arvi sedang berada di kafe yang bernuansa putih. Alunan musik jazz terdengar saat mereka memasuki kafe tersebut. Senjani memilih tempat yang berdekatan dengan Jendela dan berada beberapa fiture klasik yang terpampang.

"De, betah gak ?"

"Do'ain aja betah ka"

"Ada yang mau kakak omongin sama kamu"

Senjani terlonjak kaget saat mendengar nada suara Arvi yang serius. Biasanya Arvi gak pernah ngomong seserius ini dengan Senjani.

"Apa ka?"

"Nanti dua bulan kedepan, kakak pergi ke luar negeri de. Mau nyelesain berkas perusahaan kakek"

"Dua bulan ka? Terus aku gimana ?" Lagi, lagi dan lagi, Senjani akan kehilangan waktu bersama Arvi, dua bulan bukanlah waktu yang singkat.

Arvi menatap Senjani dengan senyum penuhnya dan mulai meyakinkan Senjani "Nanti kakak usahain buat ngabarin kamu terus ya. Udah dong jangan sedih, cuma dua bulan"

-------

Hening, suasana yang sangat asing yang dirasakan Senjani saat ini, sejak pengakuan Arvi yang akan pergi selama dua bulan, Senjani tidak ingin membahasnya lagi, dan memilih untuk diam.

"Put. Kenapa?" Akhirnya Arvi yang memulai perbincangan diantara susasana hening yang berhadapan dengan mereka.

Senjani tetap diam, dan tidak menanggapi ucapan Arvi. Kemudian menepikan mobilnya dibahu jalan.

"De, kenapa sih? Jangan kaya gini. Kan tadi udah dijelasin"

"Gak"

"Kalau orang ngomong tuh liat orangnya jangan malingin pandangan!!!" Ok saat ini terdengar suara Arvi yang membentak Senjani.

Senjani terdiam menahan panas matanya saat ini. Baru kali ini Arvi membentaknya.

Arvi yang melihat Senjani langsung mengacak rambutnya dengan frustasi.

"Jangan diem terus dong. Maafin tadi kakak nyentak kamu" terdengar suara Arvi yang lebih lembut, disisi lain Senjani tidak dapat membendung air matanya lagi. Gadis itu langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil menunduk.

"Hei jangan nangis Put. Maafin yaa, yang masalah itu juga tadi kan udah dibahas sebelumnya. Tereus juga tadikan kakak udah janji bakal ngabarin kamu terus, jangan nangis lagi dong yaa" Arvi menarik salah satu tangan Senjani yang masih menutupi wajahnya, dan perlahan Arvi mengahapus air mata Senjani dengan ibu jarinya.

"Kakak janji?" Suara parau Senjani yang seperti berbisik masih terdengar oleh Arvi.

"Iya janji. Jangan nangis lagi. Jelek kaya badut tuh liatin idungnya merah kayaa tomat" Arvi yang tidak tahan melihat raut wajah Senjani mencubiti pipinya.

"Apaan sih ka. Sakit tau"

"Masihajagalaknyagakilang" Senjani melongo mendengar ucapan Arvi yang tidak jelas.

"Apa ka?"

"Enggak, untung gak denger. Mau mampir dulu gak beli Martabak?"

"Martabrak coklat susu keju ya ka?. Ayooooo"

Arvi menggeleng geleng mendengar senjani mengucapkan Martabak menjadi Martabrak. Arvi mengacak rambut Senjani "Martabak sayang bukan Martabrak"

"Ishhh apaan sih ka, rambutnya berantakan jadinya ishh. Yaudah ayo cepetan jalan"

Arvi terkekeh mlihat tingkah laku Senjani yang masih ke kanak- kanakannya.

Arvi mulai mengendarai mobilnya dengan kecepatan rata- rata, dan mulai mencari tukang Martabak Manis.

Arvi membagi tugas dengan Senjani, Senjani melihat dibagian bahu jalan sebelah kanan dan Arvi sebelah Kiri.

Sekitar lima belas menit mencari Senjani mendapatkan tukang jualan Martabak.

"Ka! Itu didepan ada tukang Martabrak"

"Martabak de. Yaudah bentar kakak pinggirin mobilnya dulu"

Setelah menepikan mobilnya, Senjani terlebih dahulu keluar dari mobil Arvi, dan Arvi mengikutinya dibelakang. Senjani terlihat senang saat ditawarkan Martabak Manis kesukaannya.

"Bang, Mas, Mang, Om. Martabrak Manisnya rasa Coklat Keju Susu satu makan disini, sama yang rasa Keju susu dibungkus ya!"

Abang- abang tukang jualannya hanya menatap Senjani dengan tatapan bingung mungkin seperti ini orang kenapa ya, manggil saya ko banyak banget ya? Ada abang, mas, mang sama om. Emang ane om nya dia apa?. Sayangnya cantik cantik ngomong Martabak aja jadi Martabrak.

"Maaf bang, maksudnya dia mah beli Martabak Manisnya rasa Coklat Keju susu dimakan disini satu, sama yang dibungkus rasa Keju Susu"

"Ohh.. iya silahkan duduk dulu"

"Ka, ko tadi si amang- amangnya aku pesen Martabrak malah bengong?"
Sadar akan Senjani yang bertanya kepada Arvi, Arvi tidak dapat menahan tawanya.

"Ishh ka ko malah ketwa sih?"

"Ya itu abis kamunya, manggil si abang- abangnya rombongan disebutin semuanya. Terus bilang Martabak aja Martabrak"

"Ya kan aku gak tau ka" dengan Malas Senjani memilih duduk jauh- jauh dari Arvi. Dan kini jarak mereka dihalangi dua buah bangku yang disediakan.

Arvi masih terus mentertawakan Senjani. Kepolosannya yang membuat Arvi senang bersama Senjani.

"Put put put, jangan ngambek lagi dong. Nanti gak dibeliin coklat sama es krim loh"

"Dimaafin deh. Tapi...."

"Tapi apa sayang?"

"Ishh apaan sih ka. Eskrim tiga coklat fua yang jumbo. Baru deh aku maafin"

"Mau bikin bangkrut nih anak" gumam Arvi dengan pelan namun..

"Aku denger loh kaaa!!!"

"Iyaa iyaa deh. Sini duduknya jangan jauh- jauhan"

Duapuluh menit kemudian, pesanan mereka sampai.

"Silahkan masnya, mbaknya dinikmati. Maaf menunggu masnya, mbaknya"

"Senjani pak! Nama saya Senjani bukan 'Mbaknya'"

"Ohhh.. iya iya mbaknya Senjani silahkan dinikmati"

"Tau ah" Lagi Arvi tertawa melihat tingkah Senjani yang terlewat polosnya.

"Yaudah malasih ya mas. Maaf dia lagi sensi sama orang" akhirnya Arvi membuat susasana menjadi lebih ringan. Karena dilihatnya abang- abang tukang martabak yang aneh melihat Senjani marah kepadanya.

"Ka? Jadikan eskrim sama Coklatnya?"

"Iya jadi. Tapi makan dulu nih Martabaknya"

Senjani dan Arvi langsung menyantap Martabak yang berada didepan mereka. Jangan salahkan mereka apabila berebutan Martabak. Karena Martabak ini merupakan salah satu makanan Favorit mereka.

"Ka pokonya yang ini buat aku. Tuhh lumayan coklatnya banyak"

"Enggak. Tadi kamu udah ngambil banyak. Yang ini buat kakak!"

"Gak mau ka, itu buat aku"

"Enggak! Buat kakak. Tadi kamu makan udah banyak, sekarang giliran kakak!"

"Ishh.. galak banget sih. Yaudah deh"

"Good girl"

Senjani hanya memperhatikan Arvi yang akan memakan potongan terakhir martabak itu. Martabrak ku yang banyak coklatnya, ntar kalau ka Arvi mau masukin ke mulut kamu, kamu langsung loncat ke aku yaa. Biar aku yang makan kamu.

Sadar akan diperhatikan oleh gadis cantik disebelahnya, Arvi menawarkan Martabak tersebut dan membagi dua.

"Nih.. udah jangan diliatin terus guenya"

"Apaan sih ka. Orang ngeliatin Martabraknya ko"

"Martabak!"

"Whtevr. Btw makasih ka!!"

Setelah sesi perdebatan Martabak, Senjani dan Arvi kembali pulang kerumah. Arvi mengantarkan Senjani sampai kedalam rumah untuk bertanggung jawab.

Maksudnya untuk bertanggung Jawab membawa senjani main terlalu lama, karena sebelumnya Senjani pamit hanya untuk membeli buku.

Saat Senjani membuka pintu tiba- tiba-------

-------

Apaan sih? Gantung banget. Gak jelas yaa. Maafkan semuanya. Maaf late update. Jangan lupa untuk memberikan vommentnya.

Next Chapter?

TO BE CONTINUED!

Continue Reading

You'll Also Like

239 53 7
Senja itu indah, bukan? Dia terlihat menenangkan, damai, namun apa yg kita tahu lebih dari itu? Mungkin saja dia menyimpan emosi, dan kesedihan di da...
10.8K 3K 18
Tujuh remaja dengan latar belakang yang bertolak belakang-anak pengusaha, buruh, yatim piatu, hingga pelarian dari masa lalu---dipertemukan oleh satu...
103 0 14
Selama cinta hadir, Seharusnya tak ada lagi ragu. Selama senja disini, Semua akan tetap baik-baik saja. -Awal sebuah kisah, SENJARA- Kisah ini bermul...
1.5K 1K 41
Ini adalah tentang pertemuan antara Senja dan juga Liona. Mereka bertemu pada saat MPLS sekolah dan mereka mulai saling mengenal satu sama lain pada...
Wattpad App - Unlock exclusive features