Angel Without Wings

De Barbiemalikx

54.1K 6.1K 960

Ketika kau memiliki seorang saudara seorang keparat, bajingan dan makhluk hina. Kau berharap kematian segera... Mais

i hate my brother
{Chapter 2} Fuck you Harry!
{Chapter 3} Manusia hina
{Chapter 4} go to the hell!
{Chapter 5} Unbreakable Vow
{Chapter 6} about him
{Chapter 7) Niall Horan
{Chapter 9} safe?
{Chapter 10} oh no!
{Chapter 11} Poor Brother
{Chapter 12} hell boy
{Chapter 13} broken family
{Chapter 14} Damned
{Chapter 15} confused
{Chapter 16} Confused (2)
{Chapter 17} Tragedy
{Chapter 18} Hazza ...
{Chapter 19) Harry's P.O.V
{Chapter 20} Brother's
{Chapter 21} Hazza's Cupcake
{Chapter 22} Hazza's cupcake (2)
{Chapter 23} My Guitar Teacher
{Chapter 24} afraid
{Chapter 25} She's back!
{capter 26} Rain.
{Capter 27} second chance
{Capter 28} You make me cry
{Capter 29} Broken
{Chapter 30) X-Factor
{Chapter 31} Everything is broken
{Chapter 32} He's gone.
{Chapter 33} i miss you
{Chapter 34} Irreplaceable
{Chapter 35} They're there for me
{Capter 36} New life .... Without you
{Capter 37} In Loving Memory
{Capter 38} Another guardian angel
{Capter 39} Wedding day
Epilog
Read Please
Harry??
Its Official!

{Chapter 8} Posesif Brother

1.5K 160 21
De Barbiemalikx

Aku bersedekap ketika Harry memaksaku untuk duduk. Aku dapat melihat kemarahan Harry nyaris mengendalikan seluruh raganya. Beberapa kali Harry memejamkan matanya, berusaha mengusir amarahnya yanh nyaris ia tumpahkan.

"Darimana kau mengenal Niall?"

"Apa itu urusanmu, Harry?"

"Darimana kau mengenal Niall, Syd."

"Berhenti mencampuri kehidupanku, Bajingan!"

"Astaga! Apakah terasa sulit mengatakan darimana kau mengenal bedebah itu?!" Louis nyaris memekik sebelum akhirnya Harry memberikan tatapan peringatan.

"Sydney, kau tidak tahu, Niall itu berbahaya. Dia keparat."

"Kau bajingan."

"Niall tidak baik untukmu, Syd. Dengarkan aku, kau adikku, Syd. Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu. Termasuk mencegah Niall mengganggumu."

"Dia tidak mengganguku, Harry. Dia guru privatku."

"Berguru dengan seorang bangsat? Astaga, rendah sekali."

"Tutup mulutmu, Louis! Ingat kau sedang bicara dengan adikku."

"Niall bukan orang yang baik, Syd."

"Benarkah? Kau menyebut pria seperti Niall itu tidak baik? Bagaimana caraku menyebut seorang keparat sepertimu? Kau bahkan lebih menjijikan dari sampah!"

"Bahkan teman pelacurku tidak pernah berkata seburuk itu. Mulutmu sangat kotor, Syd."

Sebuah pukulan mendarat di pipi mulus Louis. Louis yang nampak terkejut itu berteriak tidak terima.

"Jaga ucapanmu, keparat! Jangan pernah mengumpamakan adikku dengan pelacur-pelacurmu!" Harry berteriak didepan wajah Louis. Louis yang tidak senang segera mendorong Harry agar mundur dari hadapannya.

"Dia tidak baik, Syd. Niall itu keparat."

"Setidaknya dia tidak sejahat kau, Harry."

Harry berbalik. Dia mengacak rambutnya dengan kesal. Kulihat Harry berdercak menahan amarahnya.

"Sydney." Harry menjatuhkan lututnya didepanku. Kedua tangannya meraih tanganku, matanya menatapku lekat-lekat.

"Kumohon, jangan berdekatan dengan Niall. Dia tidak baik untukmu, Syd. Kau adalah permataku yang sangat berharga jadi aku tidak akan membiarkan tangan-tangan kotor dan nista menyentuhmu. Kau adikku, kebahagiaanku."

"Menjauh dariku, Harry." Aku menepiskan tangannya lalu mendorong dada Harry sehingga membuatnya terduduk.

"Kau dan teman keparatmu itu tidak berhak mengatur hidupku, Harry. Kalian itu makhluk yang tidak berharga. Sampah!" Ungkapku sebelum akhirnya aku pergi meninggalkannya. Aku masih sempat melihat kesedihan tersirat dimatanya. 

karena Harry adalah sumber masalah untukku. Dia terkutuk.

Aku tidak pernah lagi memiliki rasa kasih sayang padanya. Semuanya sudah menguap begitu saja seiring perputaran waktu.

Aku hanya melihat kebencian pada Harry. 

Tidak ada lagi Harry kakakku.

Tidak ada lagi Harry yang polos.

Bahlan, Aku sudah tidak memiliki seorang kakak lagi.

Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan seperti ini.

Keluargaku hancur. 

Ayahku mati karena bunuh diri, ibuku pergi bersama kekasih barunya dan meninggalkan kami lalu kakakku yang juga lebih memilih untuk masuk ke dunia hitam daripada memperhatikan adiknya.

Harry ...

Bahkan telah lenyap bersama kenangan tentang keluargaku. 

Perlahan, memoriku berputar disaat pertama kali kami menemukan jasad ayah di loteng. Saat itu, Harry-lah yang pertama kali kupeluk.

Kukatakan padanya dengan siapa kita akan tinggal.

Harry terus berusaha menenangkan tangisanku.

Beberapa tetangga turut prihatin pada kami di saat polisi sedang menurunkan jasad Ayah dari tali gantungnya. Mereka menawarkan kebaikannya untuk tinggal dirumah mereka sampai Ibu datang kembali dan menjemput kami. 

Kala itu, Harry menolak permintaan itu karena ia tahu Ibu tak akan pernah kembali. Harry mengatakan ia sanggup menjagaku sendirian.

Betapa ucapannya itu menenangkan hatiku.

Tapi sekarang, aku bahkan lupa jika kami pernah sedekat itu.

Tanpa kusadari, airmataku telah meluncur deras. Aku menyesal. Menyesal telah dibesarkan ditengah-tengah keluarga yang hancur.

Namun, terkadang rindu. Rindu saat-saat terindah bersama mereka.

"Kau menangis?" Sebuah suara berat mengejutkanku. 

"Apa maumu?" Aku menghapus airmata dengan keras.

"Apa ucapanku menyakitimu, Syd."

"Pergilah, Harry. Berhentilah menjadi kakakku."

"Aku akan terus menjagamu, Syd. Kau adalah adikku. Aku akan terus menjagamu walaupun suatu saat aku akan mati. Dan jika aku mati, aku akan menjadi bintang yang paling terang dilangit dan selalu menjagamu."

"Omong kosong! Dulu kau pernah berjanji akan menjagaku dan sekarang kau terjerat di dunia yang kelam."

"Sampai sekarang aku masih menjagamu, Syd."

"Kenapa Harry? Kenapa kau terus mengganggu hariku? Kau merusak semuanya! Masa depanku, kebahagiaanku, citraku disekolah?"

Harry hanya diam. Matanya terus menatapku dengan tatapan sendu.

"Pergilah dari kehidupanku, Harry. Pergilah selama-lamanya."

"Suatu hari nanti aku akan pergi, Syd. Tapi saat tugasku menjagamu sudah selesai."

●●●●●

"Sydney?!" Suara Lea membuatku menoleh. tampaknya dia kelelahan mengejarku.

"Apa?"

"bagaimana pelajaran gitarmu kemarin?"

"Semuanya berjalan lancar sebelum akhirnya Harry datang dan memukuli Niall."

"Memukuli Niall? Kau serius?"

"Ya. Keparat itu mengacaukan semuanya."

Lea menaikan satu alisnya, sebelum akhirnya dia menggelengkan kepalanya tidak percaya.

"Aku tidak percaya."

"Terserah, Lea. Aku tidak peduli."

Lea terkekeh pelan, sesekali dia menabrak bahuku sebagai tanda bahwa ia mempercayaiku. 

"Menurutku, Niall itu tampan."

"Apa maksudmu?" Aku menghentikan langkahku dan menatapnya aneh.

"Ya, Niall itu tampan. Lagipula, kurasa wajah kalian hampir sama."

Aku tergelak mendengarnya. Kudorong Lea hingga membuatnya mundur kebelakang lalu dia ikut tertawa bersamaku.

"Kau lucu, Lea."

"Hahah tapi, Hey, aku serius."

"Niall itu guru permainan gitarku. Ayolah, jangan konyol."

"Memangnya kenapa?"

"Sudahlah, Lea. Berhenti membicarakan sesuatu yang tidak penting."

"Sydney!" Seseorang memanggilku dan membuatku otomatis berhenti.

"Oh tidak, jangam Nicole lagi." Keluh Lea. Aku dengan santainya menunggu kedatangan Nicole.

"Apa?" Tantangku. Nicole tersenyum miring.

"Senang bertemu denganmu lagi, Styles."

"Kuharap kau segera pada intinya, Nic."

"Kau tidak suka berbasa-basi rupanya."

"Aku terlalu malas mendengar omong kosongmu,"

Nicole memandangku angkuh. Dia mengetuk-ngetukan kakinya ke lantai.

"bagaimana rasanya menjadi adik dari seorang bajingan?"

"Tutup mulutmu dan berhenti mencampuri urusanku!"

"Menyenangkan?"

"Hentikan, Jalang!"

"Jalang? Kau sebut aku jalang?"

Aku menatapnya tajam. Memberikan pandangan yang siap menerkamnya kapan saja.

"Kau tahu, Jika aku menjadi dirimu maka aku akan bunuh diri."

"Persetan!"

"Citraku di sekolah rusak karena saudara bajinganku. Terus menjadi korban pembullyan dan terlahir dari seorang wanita kotor yang bahkan rela meninggalkan suami dan anak-anaknya hanya untuk kekasih barunya."

"Berhenti menghina keluargaku!" Aku menarik satu lengannya lalu mencengkramnya kuat. Ketika aku berusaha meraih tulang pipinya dengan maksud akan mencengkramnya, Nicole menepiskan tanganku.

"terkutuklah kau, Sydney!"

"Kau jalang tidak tahu malu! Lihatlah apa yang dilakukan kakakmu itu. Kalian bajingan!"

"Apa maksudmu? Berhenti menyebutku bajingan."

"Pergilah ke luar dan lihatlah saudara keparatmu itu sedang memukuli seorang pria berambut pirang."

Darahku berdesir dengan cepat. Segera aku berlarian ke luar sekolah dan benar saja, aku mendapati Harry sedang memukuli seseorang berambut pirang. 

Niall!

"Hentikan!" Pekikku kuat. Aku berusaha melerai Harry walaupun aku tahh jika aku dapat terkena dampak pukulannya.

Harry tidak peduli, dia terus saja berusaha memukuli Niall. Jika ia bisa, Harry ingin menghancurkan wajah Niall.

"Berhenti, Harry!"

Harry menepiskan tanganku yang hendak melerainya. 

Kesal, sebuah tamparan keras kulayangkan di pipi Harry hingga membuatnya terdiam. Harry memandangku dengan tatapan tidak percaya.

"Kau memukulku, Syd?"

"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau terus saja mempermalukanku? Tidak puaskah kau menyakiti Niall kemarin? Kau ingin membunuhnya, begitu?'

"Aku berusaha melindungimu darinya, Syd."

"Omong kosong! Kau membuatku malu, sialan! Kau membuat keributan di sekolahku, kau juga memukuli guru private gitarku. Kenapa kau tidak mati saja, Harry?" Teriakku. Beberapa orang memandangiku aneh karena ucapan itu. Mungkin mereka heran karena aku tidak berpihak pada Harry.

"Kau baik-baik saja, Ni?" Aku berbalik kearah Niall. Menyentuh pipi Niall yang nampak memar akibat pukulan Harry.

"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."

"Apa yang kau lakukan disini? Kau datang tanpa memberitahuku?"

"Aku ingin menjemputmu. Awalnya aku merencanakan sebuah kejutan sebelum akhirnya--"

"Sialan! Jauhi adikku!" Teriak Harry di belakangku. Dia berusaha memukuli Niall lagi tapi aku melindungi Niall dengan bahuku.

"Cukup, Harry! Kau memalukan!" Sentakku.

"Syd, Kau tidak tahu siapa dia sebenarnya."

"Kita sudah membahas ini sebelumnya, Harry. Kau tidak berhak mencampuri hidupku. Kau tidak bisa mengaturku."

"Aku kakakmu, Syd."

"Pedulikah aku? Pergilah, Harry! Kau membuatku malu!" Aku mendorong tubuh Harry dengan kasar. Ekspresi Harry tetaplah sama. Diam dengan ekspresi dinginnya.

"Maafkan aku soal Harry. Dia selalu saja membuatku malu. Kau tahu bukan jika aku sangat membencinya?" Niall menganggukan kepalanya. Sesekali dia memegangi wajahnya yang tampak memar.

"Luka yang kemarin belum membaik dan sekarang Harry kembali memukulimu. Aku tidak tahu mengapa Harry sangat membencimu."

"Tak masalah, Syd. Harry sangat menyayangimu jadi dia ingin menjagamu." 

"Itu berlebihan."

"Sudahlah, jangan difikirkan. Aku datang kemari untuk menjemputmu."

Aku sedikit tercengang. Niall mengetahui letak sekolahku, bahkan aku tidak pernah mengatakan hal itu sebelumnya pada Niall.

"Darimana kau mengetahui bahwa aku bersekolah disini?"

Niall terlihat gugup sebelum akhirnya dia tersenyum.

"Bukankah kemarin kau yang telah memberitahuku tentang sekolahmu? Apa kau ingat?"

"Eh .... entahlah, kurasa aku tidak pernah mengatakannya padamu."

Niall diam. Kemudian dia mengambil gitarnya.

"Mau berlatih? Ini saatnya kau mempelajari metode Slur."

●●●●

"Teknik slur di bagi menjadi 2 yaitu : Hammer-On atau lebih dikenal ascending slur dan Pull-Off yang biasa disebut descending slur" jelas Niall. Aku hanya menganggukan kepalaku.

"Yang pertama, Hammer On.  Teknik dengan menggunakan 2 jari tangan kiri dan kemudian memetik senar gitar dengan cara mengetuk di not ke-2 yang lebih tinggi dengan menggunakan jari tangan kiri yang lain tanpa harus dipetik lagi."

"Dan Pull Off. Teknik dengan menggunakan 2 jari tangan kiri lalu memetik senar gitar dengan cara mengetuk pull di not ke-2 yang lebih tinggi dengan menggunakan jari tangan kiri yang lain tanpa harus dipetik lagi. sementara not Pertama masih berbunyi."

Pria beriris biru laut itu menjelaskan dengan telaten. Aku hanya tersenyum, berusaha memahamkan diri tentang penjelasannya.

"biar kutunjukkan bagaimana caranya." Niall mulai memetik senarnya. Memaikan permainan yang ia jelaskan tadi. Sesekali pria berambut pirang itu asyik pada permainannya sendiri.

"Seperti itu, Syd." 

"Ya, aku tahu, Ni."

"Besok aku akan membawamu kepada temanku. Dia mampu bernyanyi dengan bagus. Ini memang tidak masuk akal tapi bukan masalah jika kau menguasai kedua bakat menyanyi dan bermain gitarmu?"

"Tentu itu bukanlah masalah, Ni. Terimakasih telah bersedia membantuku." 

"Tak masalah, Sydney."

Vommet uyy biar semangat ngelanjutinnya 😉

Continue lendo

Você também vai gostar

1.4M 9.5K 13
[PRIVATE] Difficult. Sulit. "Kita akan bercerai setelah Anak ini lahir." Mengandung bayi yang tidak direncanakan atau bahkan hasil pemerkosaan buk...
16.2K 1.1K 49
"Kurasa aku akan baik-baik saja tanpamu.. seperti bermain skateboard tapi tanpa pengaman." "Artinya jika kau jatuh akan terluka." "Tepat sekali." ***...
77.4K 3.1K 14
[COMPLETED] Menghitung detik yang bergulir menghitung jarak yang membentang diantara kita berdua -Harry Styles. ⚠17+⚠
Wattpad App - Desbloqueie funcionalidades exclusivas