Forever and Always

Von erikaHN16

108 0 0

Mehr

Forever and Always
Chapter 1
Chapter 3
Chapter 4

Chapter 2

7 0 0
Von erikaHN16

Melissa Morris and Michael Parker

     Melissa melihat-lihat dress yang terdapat disalah satu toko di mall. Bersama kedua sahabatnya, Claire dan Karen. Dia melihat long dress berwarna pink yang dihiasi butiran-butiran manik-manik berwarna perak. "Kau suka itu?" tanya Claire. "Yeah, bagus. Aku sangat suka." jawab Melissa sambil tersenyum manis kepada Claire. "Ambil saja!" seru Claire juga sambil tersenyum.

"Ahaha, baiklah. Kau sudah menemukan dress sesuai selera?" tanya Melissa.

"Sudah. Ini dia, bagaimana menurut mu? Bagus untukku?" balas Claire sambil menunjukkan mini dress berwarna krem indah yang dimana dibagian bawah ada hiasan manik-manik perak.

"Wah, bagus. Claire, kau memang bagus dalam selera fashion."

"Ahaha, bisa saja kau ini. Kau juga. Akukan belajar darimu Mel."

"Haha, ya ya. Bagaimana dengan Karen?"

"Jangan tanya soal dia. Dia malah berkenalan dengan seorang pria yang tiba-tiba datang menghampiri kita tadi dan malah mengiyakan ajakan dari pria itu."

"Hah? Karen biasanya tidak seperti itu. Kau tahu siapa pria itu?"

"Yap, dia Joey. Teman Hunter di klub football."

"Pantas saja. Karen sudah menyukai Joey dari kelas 3 SMP."

"Haha, iya kau benar."

"Bagaimana dengan Hunter? Jika Joey datang, berarti satu klub football biasanya juga ada disini."

"Jangan sembarangan bicara. Tidak mungkin Hunter disini."

"Apa kau yakin? Lihat dibutik seberang! Yang berjambul, mengalungkan earphone dilehernya, dan memakai baju T-shirt merah."

"Apa?"

          Claire memalingkan wajahnya menuju tempat yang dimaksud Melissa. "Kau benar Melissa. Sebaiknya kita bayar dress pilihan kita lalu pulang!" seru Claire sambil menarik tangan Melissa.menuju kasir. "Kau ini kenapa? Hunter itu kekasihmu. Mengapa kau begitu malas bertemu dengannya?" tanya Melissa heran.

"Ah, bukan urusanmu." jawab Claire sambil menaruh dress pilihannya dan pilihan Melissa. "Waw, sepertinya pangeranmu tahu kita berada disini?" ucap Melissa dengan nada yang setengah panik. "Apa?" tanya Claire kaget. Lalu datang seorang pria dan menyapa mereka. "Hei Melissa, hei Claire." sapa pria itu. "Hola Hunter." balas Melissa dengan penuh senyuman. "Kalian sedang memilih baju untuk prom besok?" tanya Hunter. "Ya tentu saja." jawab Melissa.

"Boleh aku lihat?"

"Tidak." sambung Claire tegas.

"Baby, why?" tanya Hunter dengan memohon.

"Ini rahasia. Kau boleh mengetahuinya besok malam."

"Ah, baiklah. Kalian udah selesaikan? Aku antar ya?"

"Tidak usah, kami ingin jalan-jalan dulu. Iyakan Melissa?"

        Saat ditanya, Melissa melihat Michael berjalan melewati toko tempat mereka berada. "Ah, kata siapa? Sudah sana! Kalian berdua pulang saja. Aku sedang ada urusan yang baru aku ingat." jawab Melissa dengan nada yang terburu-buru. "Urusan apa?" tanya Claire heran. "Ada deh. Pokoknya kalian pulang duluan saja! Aku pergi dulu. Bye!" ujar Melissa sambil mengambil dressnya dan berlari keluar meninggalkan Hunter dan Claire. Dia mencari-cari sosok seorang Michael ditengah keramaian. "Dimana orang itu?" tanya Melissa sambil terus mencari-cari Michael. Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya. Melissa sontak kaget. Dia menoleh. Ternyata... Michael yang menepuknya. "Melissa?" tanya Michael. "Michael, sedang apa kau disini?" tanya Melissa. "Aku ingin keatas, membeli cd musik. Kau sendiri?" balas Michael.

"A.. Aku habis membeli dress untuk acara prom sekolah besok malam."

"Oh begitu. Sepertinya tadi kau mencari seseorang. Siapa yang kau cari?" tanya Michael. Tapi nadanya kali ini seperti menggoda.

"Ah, itu. Ya, begitulah. Tapi sekarang sudah tidak."

"Ehm, karena yang kau cari sudah berada didepanmu?"

"Apa?"

"Hahaha, sudah lupakan saja. Oh iya, kau mau menemaniku ke toko cd?"

"Baiklah, aku mau."

"Ayo...!"

         Melissa hanya tersenyum tiba-tiba ada Pesan dari Claire.

From: Claire Stanton

         Melissa Morris, akan ku terror kau. Kau meninggalkan aku dengan Hunter. Awas kau! -__-

          Melissa hanya tersenyum karena sms dari teman baiknya itu. Biarkan, sama-sama untung. Kau berdua dengan kekasihmu. Aku berdua dengan calon pacarku. Batin Melissa. "Are you alright?" tanya Michael. "Ah, yes I am." jawab Melissa. "Kau itu memang aneh. Tapi keanehanmu itu membuatku tertarik." balas Michael.

"Maaf, maksudmu?" tanya Melissa bingung.

"Melissa, maukah kau menjadi kekasihku?"

"Apa? Kau serius?"

"Ya, aku serius. Aku tak pernah seserius ini. Ya, aku tahu kita baru mengenal beberapa hari. Tapi semenjak bertemu dipertandingan itu, aku selalu teringat padamu."

"Kau berlebihan."

"Tidak. Kau tidak percayakan aku kembali ke kafeteria untuk melihat apa kau masih ada disana atau tidak."

"Benarkah?"

"Ya. jadi Melissa, apa kau mau menjadi kekasihku?"

"Ya, aku mau."

"Benarkah?"

"Ya, tentu saja."

"Hooooooorrrrrrrreeeeeeeeeeeeeeeeee!! Kau tahu? Sepertinya aku laki-laki yang paling bahagia didunia hari ini."

"Haha, apa-apaan kau ini? Kau tidak merasakan orang-orang melihatmu dengan tatapan heran?"

"Biarkan saja mereka begitu. Yang penting kau jadi milikku sekarang."

"Ahahaha, ya ya. Terserah lah."

        Kini perjuangan itu berhasil. Sebenarnya tidak terlalu berjuang keras, tapi Melissa bersyukur, kini Michael telah menjadi kekasihnya.

        Claire Stanton and Hunter Anderson

Claire berjalan dengan digandeng oleh Hunter. Dia pasrah saja. Disatu sisi dia ingin melepaskan gandengan ini. Tapi disisi lain dia tidak ingin melepaskannya. Gandengan hangat itu membuat Claire nyaman. Dia mempererat genggaman tangannya. "Ada apa?" tanya Hunter. "Apa?" Claire balik tanya. "Tumben sekali kau menggenggam tanganku sangat erat? Kau takut kehilanganku?" tanya Hunter sembari menggoda. "Kau tidak mau?" tanya Claire dengan nada sedikit kesal. "Ahaha, tentu aku mau." jawab Hunter dengan tertawa.

"Oh iya, sedang apa kau di disini?" tanya Claire heran.

"Hey gadis manis, mall itu tempat umum. Jadi aku boleh kesinikan untuk jalan-jalan?"

"Ya boleh, tapi kenapa kau kesini?"

"Ehm, sama sepertimu. Mecari tuxedo untuk besok malam."

"Aku tidak menyangka. Kau mencari tuxedo? Setahuku yang ku dengar, kau tidak pernah membeli tuxedo untuk acara prom?"

"Kau mendengar darimana?"

"Dari anak-anak perempuan yang pernah menjadi teman kencanmu. Padahal mereka baik hati mengajakmu, tapi kau tidak mau."

"Aku malas jika seperti itu. Karena kali ini pasangan prom ku adalah dirimu, aku mau tampil beda dari sebelumnya. Dengan membeli, memilih, dan memakai tuxedo pilihanku."

"Memangnya kau tidak mempunyai tuxedo?"

"Tidak."

"Selama ini yang kau pakai itu tuxedo siapa?"

"Punya kakak ku."

"Tapi jujur saja, walaupun kau meminjam kau selalu menjadi prom king. Hahaha"

"Hahaha, ya tentu saja."

"Dasar kau ini!" seru Claire sambil melemparkan senyum manisnya.

"Claire."

"Apa Hunter?"

"Kau lapar?"

"Tidak, kau lapar?"

"Iya, hehehe."

"Haha, kau ini! Ya sudah, kau mau makan apa?"

"Aku mau makan jika kau ikut makan."

"Apa? Hunter, aku tidak lapar. Kau makan saja. aku menunggui mu."

"Tidak, biarkan aku lapar jika kau tidak mau makan bersama ku."

"Baiklah aku mau. Kita makan apa?"

"Ehm, di resto italia saja."

"Baiklah."

"Ayo ke mobil!"

"Iya. Justin, sehabis makan kita jalan-jalan ya? Mau tidak?"

"Ehm, bagaimana ya?"

"Yah sudah kalo tidak mau."

"Tentu mau sayang. Apa sih yang tidak untuk dirimu?"

"Memang tidak ada urusan lain?"

"Tidak."

"Tidak latihan football?"

"Tidak my baby. seminggu ini tidak latihan. Kita harus memikirkan ulangan kenaikan kelas."

"Baiklah. Ayo! Kita kemobil sekarang, kau pasti sudah sangat laparkan?"

"Ahaha, iya. Ayo!"

        Claire dan Hunter berjalan menuju mobil Hunter. Mereka masuk kedalam mobil Hunter, lalu Hunter melajukan mobilnya menuju resto Italia yang dekat dengan sekolah mereka. "Claire." panggil Hunter lembut. "Apa?" balas Claire tak kalah lembut. "Ketika ulangan kenaikkan kelas nanti, maukah kau belajar bersama denganku?" tanya Hunter. "Tentu saja, kenapa tidak?" balas Claire.

"Baiklah. Untuk tempat, bergantian saja. Misal hari ini dirumah mu, besok dirumah ku."

"Ofcourse my boy."

"Okay my girl."

        Judy Carter and James Horan

   Judy mengambil handphonenya. Lalu mencari nama James dikontak dan memencet tombol hijau yang berarti menelfon. "Halo?" ucap James dengan suara lirih. "Halo, James? Kau ada acara hari ini?" tanya Judy. "Tidak, ada apa? Kau ada acara?"

"Kau kerumah ku sekarang!"

"Ada apa?"

"Sudahlah, datang saja!"

"Baik, aku akan segera kesana."

"Aku tunggu 30 menit lagi."

"Jangan 30 menit. Aku baru bangun tidur."

"My god, baru bangun?"

"Yap, kau tidak dengar suara ku begini?"

"Ya, terdengar malas. Bau mulutmu tercium sampai sini."

"Hah? Yang benar?"

"Hahaha, tentu tidak bodoh. Sudah, ku tunggu kau secepatnya. Bye!"

          Judy mematikan telfonnya. "Apa-apaan gadis ini? Ah, aku sebaiknya bergegas bersiap-siap. Kurang lebih 30 menit kemudian, James menancapkan gas menuju rumah Judy. Sesampainya dirumah besar Judy, James memakirkan mobilnya di tempat khusus yang sudah Judy beri tanda "James Horan" ditempat parkir itu. James mengetuk pintu utama rumah Judy. Pelayan pun membukanya. Tiba-tiba Judy datang dan langsung menarik tangan James. "Hey, ada apa kau menarik ku?" tanya James pada Judy yang menarik tangan James sembari berlari kecil. "Sudah ikut saja!" ujar Judy pada James.

          James hanya pasrah dengan apa yang Judy lakukan padanya. Tak lama, mereka sampai dihalaman belakang. "OMG Judy, apa yang terjadi dengan halaman belakang rumahmu? Berantakan sekali?" tanya James kaget. "Justru itu aku memerlukan bantuan mu." jawab Judy enteng. "Ah, aku mengerti sekarang. Kau menelfon ku supaya aku membantumu, begitu?" tanya James lagi.

"Ehehe, iya. Kau pasti mau, iyakan?"

"Tidak. Enak saja. Kau fikir aku ini pembantu mu?"

"Bukan, kau itu supir pribadiku."

"Nah, tunggu-tunggu, apa maksudmu aku supir pribadimu?"

"Haha, James. Kau ini siap siaga jika aku mau berpergian kemana pun. Hei ingat, kau yang mengajukan diri!"

"Iya, tapi hanya pengantar, bukan pembantu."

"Ah, ayolah James! Tolong aku! Aku mohon!"

"Memangnya semua ini untuk apa?"

"Karena hari ini adalah hari ulang tahun ku, aku ingin mengadakan birthday party disini."

"APA? Jadi hari ini hari ulang tahun mu?"

"Iya."

"Kau santai saja Judy. Biar agen ku yang urus semuanya."

"Apa? Agen mu? Apa tidak merepotkan?"

"Tidak. Itu urusan ku. Ngomong-ngomong kau sudah merencanakan semua ini sejak kapan?"

"Sejak lama, sebelum kita saling mengenal."

"Undangan sudah sebar?"

"Sudah."

"Dress?"

"Ehm, sudah ada sih. Tapi sepertinya aku jadi tidak minat lagi terhadap gaun itu."

"Oh, baiklah. Mau aku antar cari gaun untuk nanti malam?"

"Ehm, baiklah. Kau juga harus beli tuxedo! Aku mengundang mu sebagai tamu spesial."

"Ah, itu gampang. Ayo!"

"Tunggu. Aku mau mengambil purse ku dulu."

"Ok."

          5 Menit kemudian...

          Judy menghampiri James yang baru saja selesai menelfon. "James." panggil Judy. "Hei, sudah siap?" tanya James. "Sudah. Kau baru menelfon siapa tadi?" tanya Judy. "Agen ku yang akan menghias rumah mu. 10 menit lagi dia akan sampai. Aku sudah suruh pelayan-pelayan rumahmu untuk menunggu." jawab James.

"Oh, baiklah. Ayo kita ke butik!"

"Ya, ayo!"

          James dan Judy bergegas menuju mobil. Tak lama, James menancapkan mobilnya dengan kecepatan sedang. "James, kau tahukan dimana lokasi butik?" tanya Judy. "Ya, butik yang waktu itu kita kunjungi bersama mommy mu itukan?" balas James. "Haha, ya. Kau benar sekali." saut Judy.

          Tiba-tiba handphone James berdering. James yang melihat layar, lalu mematikannya. "Kenapa kau mematikannya?" tanya Judy heran. "Biarkan saja. Hanya telfon tidak jelas." jawab James. "Bagaimana jika itu telfon penting?" tanya Judy lagi. "Biarkan saja." jawab James lagi.

          Tidak lama, mereka sampai. Mereka masuk bersama. "Aku carikan tuxedo ya untuk nanti malam?" tanya Judy pada James. "Ya, boleh. Lagipula, seleramu tidak jelek juga." jawab James. "Ah, kau ini. Baiklah. Aku pilihkan dulu ya!" ujar Judy yang berjalan menuju bagian tuxedo. James hanya tersenyum lalu duduk dirunag tunggu. Sesekali dia melihat handphonenya yang berbunyi lalu mematikan lagi. Judy memperhatikan James yang sedari tadi sibuk dengan handphonenya.Ada apa dengan James? Tidak biasanya dia risih seperti ini? batin Judy. Judy berjalan menuju James yang sedang duduk. "Ini! Coba satu per satu!" seru Judy. "Baik Miss Carter. Aku titip handphone ku ya!" balas James. "Iya." balas Judy.

           James berjalan menuju ruang ganti. Tiba-tiba handphonen James berdering. Judy memutuskan mengangkat telfon yang ternyata dari Eleanor. Belum sempat Judy berbicara, Eleanor sudah berbicara terlebih dahulu. "Halo James? Mengapa dari tadi telfon dari aku tidak kau angkat. Aku sangat merindukanmu. Bicara lah satu kata saja. Aku sangat ingin mendengar suara mu!" ucap Eleanor. "Ehm, maaf. James sedang tidak disini." balas Judy. "Hei, kau siapa? Pacar baru James? James sedang dimana?" balas Eleanor dengan ramah. "James sedang mencoba beberapa baju. Mungkin dia agak lama."

"Oh, bilang saja. Tadi Eleanor, pacarnya menelfon. Ngomong-ngomong kau bukan Judykan?" 

"Memangnya kenapa?"

"Aku benci dengan namanya Judy. Gara-gara Judy, James berubah. Dia tidak mempunyai waktu dengan ku lagi. Dia lebih sering menceritakan soaL Judy. Aku muak dengan perempuan bernama Judy."

"Oh, jadi begitu."

"Ya, begitu."

"Kau muak dengan Judy?"

"Ya, dia perempuan menyebalkan."

"Memang kau tahu Judy itu seperti apa?"

"Tidak sih, tapi dari caranya mempengaruhi James sepertinya dia perebut pacar orang."

"APA? Hei, enak saja! Lancang sekali mulutmu? Jangan komentar jika kau tidak tahu apa-apa."

"Mengapa kau jadi marah-marah begini?"

"Kau mau tahu mengapa aku marah padamu?"

"Ya tentu saja. Kau ini masih normalkan?"

"Aku ini Judy. Asal kau tahu, yang namanya Eleanor itu bukan pacar James Horan lagi. Eleanor itu hanya perempuan yang berani mempermainkan hati pria baik seperti James. Jangan kau telfon James lagi, atau kau akan menyesal karena tidak menyimak perkataanku ini. Mengerti?"

            Judy mematikan telfonnya. Tetapi James sudah ada disampingnya. "Ah, James. Maafkan aku. Aku berani mengangkat telfon ini. Aku hanya penasaran saja. Siapa yang dari tadi mengganggu kenyamanan mu." ujar James. James duduk disebelah Judy. Dia tersenyum kepada Judy dengan sangat manis. "Tidak apa. Terimakasih Judy Carter telah membelaku. Aku sadar sekarang, dia hanya memanfaatkan aku." balas James.

"Maksudmu?"

"Pria selingkuhannya itu kini bersama seorang wanita yang dijodohkan orangtuanya. Jadi dia kembali padaku."

"Hah? Tidak punya hati Eleanor itu. Sudah, jangan dipikirkan. Aku akan melindungimu dari penyihir seperti Eleanor."

"Hahaha, dasar kau ini. Jika ingin melindungi ku, kau harus melindungi hatiku juga dong?"

"Itu otomatis. Haha."

"Jika begitu, Judy Carter, maukah kau menjadi kekasihku?"

"Apa?"

"Aku ulangi. Judy Carter, apa kau mau menjadi kekasihku?"

"Apa kau serius?"

"Ya, aku sadar. Selama ini aku mencintai mu."

"Owh, so sweet. Ya, aku mau menjadi kekasihmu James Horan."

"Benarkah?"

"Iya."

         James dan Judy saling berpelukan. Dan lalu mereka saling bercanda.

Weiterlesen
Wattpad-App - Exklusive Funktionen freischalten