What should I do about my heart that's been hurt from only giving love ?
I'm still young and sensitive, naive and sensitive, filled with tears.
No matter how much I want and beg
There's only an empty seat filled with tears
I just wait like a fool
(Terjemahan Sistar – Give it to me)
Angel melangkah ke luar tenda tuk menghirup udara pagi yang segar. Udara yang sepertinya bisa membuatnya merasa baikan, yah mungkin saja.
"Angel, kau sudah bangun ?" Ujar Jeremy yang tiba-tiba muncul sembari berjalan menghampiri Angel.
Angel hanya mengangguk pelan.
"Pagi ini cukup dingin yah, kau mau kopi panas ? Kebetulan aku bawa dua." Ujar Jeremy sembari meletakkan secangkir kopi di meja dekat Angel berada.
"Iyah, meskipun dingin aku tetap saja menyukai udara pagi. Untuk kopinya terima kasih." Ujar Angel sembari mengambil secangkir kopi yang diberikan oleh Jeremy.
Yah, sama seperti perasaanku saat ini. Meskipun mencintaimu berujung pedih, namun tetap tak menggoyahkanku untuk mencintaimu. Lagipula mana bisa aku berhenti mencintaimu, kalau hatiku tiap detik selalu memanggil namamu ?
"Kau ingin berjalan-jalan sebentar ?" Tawar Jeremy sembari mengulurkan tangannya kepada Angel.
Apa mengulurkan tangannya ? Apakah ini tidak berlebihan ?
Sial, belum apa-apa Angel sudah salah tingkah duluan.
---
"Jeremy, bolehkah aku bertanya sesuatu ?" Ujar Angel sembari menatap pemandangan disekelilingnya. Memang benar, pemandangan ini begitu indah. Namun tak sama dengan nuansa hati Angel yang begitu gersang, dan begitu memilukan.
“Silahkan bertanya saja, jangan bertingkah seperti itu. Seolah-olah hubungan kita kaku sekali.” Ujar Jeremy sembari tertawa ringan.
Mendengar hal itu Angel hanya menunduk, merasa tertohok akan perkataan Jeremy. Yah meski harus diakui, Angel kerap kali merasa kaku setiap berbicara dengan Jeremy. Padahal dulu ia biasa saja, bahkan saling bertengkar satu sama lain. Mungkin gara-gara senior Lolita mencium Jeremy. Atau mungkin karena senior Lolita telah kembali merajut kasih dengan Jeremy.
Persetan dengan kata “mungkin”. Sayangnya hal itu bukanlah kemungkinan. Melainkan sebuah fakta.
“Bukannya ingin mencampuri urusan pribadimu, tapi aku hanya penasaran saja. Hmmn apakah benar bahwa kau pernah berpacaran dengan senior Lolita dulu ?” Ujar Angel, kini pandangannya penuh dengan tanda tanya.
“Hmmmn begitulah.” Ujar Jeremy datar.
“Baiklah, berarti mereka memang sudah lama saling mengenal satu sama lain. “ Batin Angel, sembari menahan air matanya. Ia tak mau terlihat menangis, apalagi disini, di depan sosok yang dicintainya.
“Baiklah Angel, aku harus jujur kepadamu.” Ujar Jeremy sembari menghela nafas. Sementara Angel hanya melihat Jeremy dengan tatapan datar, lebih tepatnya dibuat-buat seolah tak terjadi apa-apa.
“Sebenarnya Lolita adalah cinta pertamaku.” Ujar Jeremy.
---------------------
“Selamat pagi Stanley, apakah kau melihat Jeremy ?” Ujar Lolita dengan nada ramah yang dibuat-buat.
“Hei, mengapa kau tidak bertanya kepadaku ? Memangnya kau tidak menganggapku ada hah ? Dasar wanita tidak tahu terima kasih. Bukannya bersyukur sudah bisa tidur di tenda, kau malah berbuat sebaliknya.Pasti ia benar-benar lupa caranya berterima kasih. Cih !” Umpat Vivilia dengan kasar. Ia sudah terlalu muak dengan kelakuan Lolita. Apa tidak cukup mengambil Jeremy dari sisi Angel ? Kini ia malah sok menggunakan nada ramah kepada Stanley ? Oh maaf saja, Vivilia tidak sebaik Angel.
“Habis sepertinya kau seperti tidak tahu apa-apa. Aku sudah bisa melihat itu dari ekspresimu. Daripada aku membuang waktuku dengan percuma, lebih baik aku bertanya saja kepada Stanley.”
“Apa kau bilang ? Jadi berbicara denganku hanya membuang waktumu saja ?”
“Begitulah.”
“Dasar kau !” Ujar Vivilia sembari mengepalkan tangannya. Rasanya wajar bila sebuah hantaman keras melayang di wajahnya. Sebab wajahnya terlalu baik jika disandingkan dengan sifatnya.
“Hentikan Vivilia !” Ujar Stanley sembari menyentuh pundak Vivilia. Vivilia menghela nafas sejenak lalu mengurungkan niat untuk menghantamkan tinjunya ke wajah Lolita.
“Lolita, aku tidak melihat Jeremy. Oh iya, apakah perlu aku memanggilmu dengan sebutan senior Lolita ?” Ujar Stanley dengan wajah ramahnya.
“Tidak usah, kau tak perlu repot-repot melakukan hal itu. Oh iya, Angel dimana ya ? Apakah kau melihatnya Stanley ?” Ujar Lolita.
“Wanita itu ! Aku benar-benar tidak dianggap disini !” Gunam Vivilia lalu meninggalkan Stanley dan Lolita.
“Aku juga tidak melihatnya. Maaf Lolita, aku permisi dulu.” Ujar Stanley lalu pergi menyusul Vivilia. Stanley tahu betul bahwa Vivilia benar-benar jengkel terhadap Lolita. Rasanya perlu tuk menenangkan suasana hati Vivilia, yah meskipun gadis itu sulit untuk ditaklukan.
“Kau mengapa pergi meninggalkannya begitu saja ?” Ujar Stanley sembari memegang pergelangan tangan Vivilia.
“Hei, buat apa kau memegang pergelangan tanganku tetapi dipikiranmu hanyalah wanita itu. Lebih baik kau susul dia dan biarkan aku disini. “ Ujar Vivilia sembari melepaskan genggaman Stanley.
“Habis kau tahu sendiri kan, dia itu sedang bertanya. Masa tidak ku jawab ?” Ujar Stanley dengan nada tak bersalah. Memang Stanley merasa ia tak bersalah.
“Yah, silahkan jawab semua pertanyaan darinya. Lalu silahkan mengobrol bersama dirinya. Tak apa.”
“Hei, kau cemburu yah ?”
“Tidak.” Ujar Vivilia sembari menggelengkan kepalanya. Padahal hatinya tahu pasti bahwa ia sangat cemburu, tapi ia gengsi untuk mengakuinya. Memang sulit sekali jika menyukai sosok orang yang ramah, sangat ramah malah.
“Kau bohong.”
“Sok tau sekali kau, tahu tentang apa kau tentang aku ?”
“Banyak.”
“Sebutkan jika kau memang tahu banyak tentang aku.”
“Salah satunya adalah bahwa kau saat ini sedang cemburu.”
Vivilia langsung terhenyak ketika mendengar kata-kata Stanley.
“Apa buktinya kalau aku sedang cemburu ?”
“Ekspresimu itu, ya kurasa ekspresimu itu sudah sangat melambangkan bahwa kau sangat cemburu dengan gadis yang bernama Lolita itu.”
“Baiklah kau benar. Tapi kalau kau sudah mengetahuinya mengapa tetap saja kau lakukan ?”
“Ya karena Lolita bertanya sesuatu kepadaku.”
“Terserahlah.”
“Hei, jangan marah dulu.”
“Aku tidak peduli.”
“Tapi aku sangat peduli kepadamu.” Ujar Stanley lalu memeluk Vivilia dari belakang. Vivilia yang sangat marah kini menjadi terdiam, lalu memeluk Stanley.
--------
“Baiklah Angel, aku harus jujur kepadamu.” Ujar Jeremy sembari menghela nafas. Sementara Angel hanya melihat Jeremy dengan tatapan datar, lebih tepatnya dibuat-buat seolah tak terjadi apa-apa.
“Sebenarnya Lolita adalah cinta pertamaku.” Ujar Jeremy.
Brakk
Angel pun terjatuh.
“Hei, kau baik-baik saja ? Kakimu terluka loh.” Ujar Jeremy sembari melihat pergelangan kaki Angel yang mulai terluka. Jeremy ragu apakah gadis ini bisa berjalan atau tidak.
“Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku. Ini hanya luka kecil, aku bisa berjalan baik.” Ujar Angel sembari berusaha berdiri.
“Yah, aku baik-baik saja. Seharusnya kau tidak perlu khawatirkan aku. Anggap lah dihati ini hanyalah sebuah luka kecil yang mungkin akan sembuh dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Dan tanpamu, aku bisa menjalani kehidupanku dengan baik. Jadi, tolong. Jangan kasihani aku. Aku baik-baik saja, aku kuat menghadapi semua ini.” Batin Angel.
“Kau yakin bisa berjalan dengan kondisi kaki seperti itu ?” Ujar Jeremy dengan ekspresi khawatir.
Brakk
Dan benar saja, Angel terjatuh lagi.
“Ku bilang juga apa, mana bisa kau berjalan dengan kondisi kaki seperti itu. Jangan memaksakan diri, itu tidak baik loh.” Ujar Jeremy lalu menggendong Angel di punggungnya.
“Kau benar, aku tidak bisa berjalan dengan baik. Kau benar, selama ini aku selalu memaksakan diri. Huwaaaaaaaa.” Ujar Angel lalu tangisnya pecah. Angel benar-benar menangis seperti anak kecil. Angel bukanlah menangisi kakinya yang terkilir, melainkan menangisi hatinya dan cintanya yang kandas.
“Ternyata tanpamu, aku seperti orang lumpuh. Tak bisa berjalan menyusuri kehidupanku. Hatiku hanya tertuju padamu. Aku selama ini selalu memaksakan diri bahwa aku kuat menghadapi ini semua. Tapi aku berbohong pada diriku sendiri. Hidupku tak berarti tanpa dirimu. Aku terlihat menyedihkan. Aku tidak kuat menghadapi semua ini.” Batin Angel.
“Hei jangan menangis seperti itu.” Ujar Jeremy menenangkan, tetapi tetap saja Angel tak peduli. Angel terus dan terus saja menangis.
“Aku bodoh sekali. Bagaimana aku bisa mengharapkan cinta dari Jeremy ? Sedangkan sainganku adalah senior Lolita, cinta pertamanya. Aku tahu betul bahwa seseorang sangat sulit melupakan cinta pertamanya. Aku tahu betul, cinta pertama itu memiliki kekuatan yang dashyat dibandingkan cinta-cinta lainnya. Sial ! Kenapa harus senior Lolita yang harus menjadi cinta pertamanya ? Kenapa bukan aku ? Kenapa ? Sialnya pula, kini Jeremy kembali menjemput cinta pertamanya. Sementara aku bagaikan segenggam pasir yang akan pergi diusir angin, cepat atau lambat. Dan aku akan pergi, tanpa meninggalkan bekas yang berarti. Baiklah ini sangat menyakitkan.” Batin Angel.
“Jangan menangis, kita sudah dekat. Apa kau tidak malu nanti dilihat Sesilia dan Sisilia ?” Ujar Jeremy lagi.
“Aku tidak peduli, lagipula jam segini mereka masih tidur kok.” Ujar Angel.
“Kau berkata tidak peduli, tapi sadarkah kau bahwa kau sudah tidak menangis lagi ?” Ujar Jeremy lalu tersenyum simpul.
“Diam, itu bukan urusanmu !” Ujar Angel lalu menjitak kepala Jeremy.
“Kalian berdua dari mana saja ?” Tanya Lolita dengan ekspresi cemburu sembari menahan marah. Tatapan bencinya kini benar-benar tertuju kepada Angel.
Ya, Lolita sedang cemburu sekarang.
Sementara Vivilia hanyalah tersenyum simpul. Rasanya Vivilia senang ketika melihat Lolita terbakar dengan api cemburu.
“Sekarang coba kau rasakan, bagaimana sakitnya hatimu ketika diselimuti oleh rasa cemburu.” Batin Vivilia.
“Ka kami habis jalan-jalan.” Ujar Angel dengan terbata-bata. Ia tahu pasti Senior Lolita sedang marah besar kepadanya. Angel pun sudah memberi isyarat pada Jeremy agar menurunkannya tapi Jeremy tetap enggan.
“Ah pria ini memang benar-benar egois ! Bagaimana kalau nanti aku dimarahi oleh Senior Lolita ? Dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Apa susahnya sih menurunkan aku dari punggungnya ? ” Batin Angel sembari mengepalkan tangannya.
“Apa kau bilang ? Jalan-jalan ? Bahkan orang bodoh pun tahu kalau kalian bukanlah sedang jalan-jalan tetapi kau itu digendong oleh Jeremy, yang sekarang ini adalah “pacarku”. Apakah kau tidak malu jika orang-orang menyangka bahwa kau adalah “orang ketiga perusak hubungan” ? Apa jangan-jangan kau sudah tidak mempunyai rasa malu lagi ?” Ujar Lolita.
“Lolita, kau berlebihan.” Ujar Jeremy pelan, kini ia mulai membuka suara.
Angel merasa kaget. Menurutnya, jarang sekali Jeremy membuka suara saat ia sedang dipojokkan oleh Senior Lolita.
Sebaliknya, Vivilia justru tersenyum simpul.
“Hei kau mengapa tersenyum ? Kau tidak sadar suasana disini sedang “panas” ?” Ujar Stanley sembari menjitak kecil kepala Vivilia.
“Bukan itu, inilah bagian yang aku suka. Sekaligus bagian yang aku tunggu-tunggu.” Ujar Vivilia.
“Apa kau bilang ? Aku berlebihan ? Setidaknya kata-kataku itu tadi fakta yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku tidak buta loh.” Ujar Lolita.
“Matamu tidak buta, tetapi hatimu yang buta.” Ujar Jeremy, kini tatapannya lurus memandang Lolita. Bukan, ini bukanlah tatapan terpana atau tatapan cinta. Ini hanyalah tatapan datar yang hanya Jeremy sajalah yang bisa mengerti.
“Sekarang kau yang berlebihan Jeremy.”
“Tidak, aku tidak berlebihan. Hatimu buta, karena kau hanya mempercayakan semuanya pada penglihatanmu saja. Aku menggendong Angel dikarenakan dia terjatuh sehingga ia tak bisa berjalan.Dan boleh jujur, bukan hanya hatimu. Hatiku juga buta. Jauh lebih buta daripada hatimu.”
“Maksudmu ?”
“Hatiku buta. Ia lupa caranya membedakan yang mana sosok “masa lalu” dan sosok “masa depan”. Untungnya, sekarang ia bisa membedakan.”
“Maksudmu ? Jangan bilang kalau kau.....”
“Iya, kau adalah sosok “masa laluku”. Masa lalu yang pasti akan tenggelam dengan seiring dengan berjalannya waktu.”
“Jeremy, ku mohon tolong bilang semua ini hanyalah kebohongan belaka.”
“Tidak, aku tidak berbohong kepadamu. Dan aku dapat memastikan. Bahwa kau, Lolita Dyandra adalah sosok masa laluku. Maaf.”