Special Event of DreamersWritersGroup
-------------Dea Story---------------
"Maaf," Ucapnya dengan tergesa dan berlalu tanpa melihat seseorang yang di tabraknya.
Velly terus berjalan dengan membenarkan tas selempangnya yang sesekali merosot dari lengan mungilnya.
Gadis itu terus saja mencaci dirinya sendiri karena bangun kesiangan hingga pada akhirnya ia harus berangkat tergesa-gesa seperti sekarang.
Star's Caf
Plang itu kini sudah ada di depan matanya. Setelah selama 20 menit ia harus berjalan kaki dan akhirnya ia sekarang sampai.
Jika kalian bertanya kenapa Velly tak memakai angkutan umum maka jawabannya adalah karena ia tak mau membuang uangnya yang sangat minim ini.
Velly mengusap wajahnya sebelum ia membuka pintu masuk Caf tersebut.
Pandangan tak mengenakkan yang selalu ia lihat setiap hari kini ada lagi di hadapannya.
Seorang lelaki yang sangat ia kenal tengah merangkul seorang wanita berparas cantik di sudut Caf.
Lelaki itu menatap Velly sekilas lalu berpaling darinya dan kembali bercengkrama dengan wanita yang Velly sendiri tak tahu siapa dia.
Lelaki itu berbeda, ia sangat berbeda saat hanya sedang bersama Velly. Ya, saat mereka hanya berdua saja, sifatnya tak akan acuh dan menatapnya dengan sorotan tak kenal. Sungguh berbeda dari biasanya.
Dengan hati yang berkecamuk juga pikiran tak tenang, Velly berjalan menunduk dan cepat-cepat menuju dapur Caf itu untuk bersiap-siap bekerja.
"Kenapa telat ?" Tivani, teman akrabnya di tempat kerja ini menyapanya.
Ia membawa nampan yang di atasnya berisikan segelas minuman lemon tea dan milkshake.
"Aku bangun kesiangan," Jawab Velly jujur.
Tivani menghela napasnya memaklumi dan tersenyum lelah melihat Velly.
"Mr.Deren mencarimu Velly, sepertinya dia akan memarahimu,"
Velly membulatkan matanya. Jantungnya berdegup kencang dan ia merasa takut. Namun rasa itu segera ia tepis, ia takut jika Tivani akan mengetahui perubahan wajahnya yang kini sedikit pucat.
"Keningmu... keningmu kenapa Velly ?"
Tivani berusaha memegang kening Velly yang memar, namun dengan segera Velly menjauh dari Tivani agar tak menyentuhnya. Itu akan terasa sangat sakit.
"Ti-tidak apa-apa," Jawab Velly gugup. Mana mungkin ia akan bilang pada Tivani kalau ini adalah ulah Deren ?
"Aku mengantar pesanan dulu," Tivani menatapnya dengan bingung lalu tersenyum dan melangkah menjauhinya.
Velly mengangguk menanggapinya lalu ia mulai berjalan mendekati lokernya.
Velly meletakkan tasnya di dalam loker. Lagi-lagi gadis itu menemukan selembar kertas dengan warna pink berbentuk hati. Ini terjadi setiap pagi.
Selamat pagi sweetheart, semoga harimu menyenangkan.
From 'D' your love
Velly tersenyum miris setelah membaca surat berwarna pink itu.
Lelaki itu berbeda, ia seperti memiliki kepribadian ganda.
Velly mengusap wajahnya frustasi karena bisa-bisanya ia jatuh cinta dengan lelaki itu.
Cinta memang buta
"Velly ada pesanan di meja nomor 07," Seru Ricky--kepala maid di sini.
Velly segera menutup lockernya, merapikan seragam kerjanya lalu berjalan menghampiri Ricky untuk mengambil sebuah nampan yang sudah berisikan segelas juice strowberry.
"Di meja itu ada Mr.Deren, kau harus hati-hati membawanya karena ada Mrs.Farra--kekasihnya," Jelas Ricky yang membuat hati Velly tertohok.
Velly mengangguk gugup lalu mulai berjalan dengan hati-hati menuju meja tempat Mr.Deren dan kekasihnya berada.
Sesampainya di sana, Velly tak kunjung menyerahkan pesanan Big Boss-pemilik Caf ini. Gadis itu malah berdiri seperti patung dan menatap kedua manusia di hadapannya dengan perasaan sakit.
Apa sebenarnya rencananya ? setiap hari dia melakukan ini dengan wanita yang berbeda.
"Hey, apa yang kau lihat ?!" Sebuah suara tegas membuat Velly mengerjap kaget.
"Ma-maaf," Velly segera memberikan pesanan tuannya itu dengan sopan.
"Sayang, seharusnya kau memecat pelayan yang tak sopan ini,"
Wanita itu bergelayut manja di lengan Deren. Velly merasa jantungnya di remas dan di tancapi beribu-tibu pisau belati.
Dia selingkuh untuk yang kesekian kalinya.
"Tidak bisa sayang, Dia pelayan terbaik di sini." Jawab Deren santai.
Pelayan ??
Ya Velly, seharusnya kau sadar. Kau hanyalah pelayan di sini !
Tangan Velly gemetar saat sudah meletakkan gelas itu. Dengan tak sengaja, ia menumpahkan juice itu dan membasahi dress selutut milik Farra.
"Oh Sh*t," Farra mengumpat kesal dan bangkit. Mengakibatkan semua orang yang berada di Caf itu menoleh ke arahnya.
"Ma-maaf.." Ujar Velly gugup dan berusaha membersihkan dress Farra yang berwarna magenta itu.
"Kau, kau wanita... ah bit*h ini dress ku mahal, kau tak akan bisa menggantinya walaupun dengan gajimu setahun bekerja di sini bodoh !!!"
Velly gemetar, Ia gemetar karena mendapat tatapan mematikan dari Deren, tatapan tajam yang sebelumnya tak pernah ia dapatkan jika lelaki itu hanya bersamanya.
"Ikut aku !" Deren menarik kasar lengan Velly menjauh dan berada di luar Caf.
"Apa yang kau lakukan bit*h ?!!!"
Velly tersentak dan menatap Deren dengan pandangan nanar.
"Seharusnya aku yang bertanya Der----"
"Diam, jangan berisik bodoh !! Bagaimana kalau Farra mendengarnya ?!!! " Deren membekap mulut Velly.
Air matanya sudah luruh, ia tak tahu jika ia akan merasa sesakit ini jika berpacaran dengan Deren-bossnya sendiri.
"Sudah berapa kali ku bilang, kalau di tempat kerja, kau harus memanggilku dengan Mr.Deren, sama seperti yang lainnya. Kau hanyalah pelayan !" Bentak Deren pelan berupa bisikkan.
Velly mengangguk takut namun air matanya masih tetap mengalir deras dari pelupuk matanya.
"Maaf," Ucap velly lirih.
"Kita ketemu nanti malam, aku akan menjemputmu."
Ucap Deren lalu lelaki itu mulai memasuki Caf dan menghampiri Farra yang sudah berulang kali mengumpat kesal karena kecerobohan Velly.
Velly memegang dada kirinya yang berdetak kencang dan terasa sangat sakit.
Ditatapnya Deren dari luar, lelaki itu tengah mencium Farra untuk menenangkannya,itu ciuman tulus.
Ciuman tulus yang biasanya Deren berikan untuk Velly.
Velly tersenyum miris lalu mengusap air matanya dan berjalan memasuki Caf lewat pintu belakang.
Ia harus ke toilet untuk merapikan penampilannya agar wajahnya terlihat lebih baik.
Sesakit inikah untuk mencintaimu Tuan Deren Loud ?
××-××-××-××-××
19.00 WIB
Velly duduk pada sebuah sofa di dalam apartement Deren. Malam yang sunyi ini membuatnya bosan dan ingin segera pergi dari tempat ini.
Namun ia tak bisa, ia harus melakukan yang di perintahkan Deren setiap malamnya.
Tanpa ia sadari, buliran bening tengah mengalir dari sudut matanya.
Velly bangkit dan menuju ke balkon, di tatapnya bintang yang bertebaran di langit.
Indah
"Jika aku bisa meminta, tolong rubah Deren agar mencintaiku,"
Velly memandang langit tanpa bosan. Semua bebannya seakan terangkat dan membuatnya sedikit lega.
Tubuhnya gemetar saat di rasa ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
Tangan kekar itu telah melingkar di perutnya. Dagu tegas telah tersandar di bahu mungilnya. Deru nafas yang sangat ia rindukan sudah menghiasi leher jenjangnya.
Velly menangis dalam diam, andai Deren melakukan ini karena alasan mencintainya, ia akan rela melepaskan semuanya.
Namun kenyataan berkata lain, Deren tak mencintainya dan Velly hanya di manfaatkan untuk menjadi wanita pengganti masa lalu Deren.
Deren membalikkan tubuh Velly agar menatapnya.
"Aku merindukanmu," Gumamnya parau.
Deren mendekatkan wajahnya dengan wajah Velly dan mencium gadis itu lembut.
Ciuman tulus, ciuman tulus yang tadi juga Deren berikan pada Farra.
Deren menghentikan ciumannya saat menyadari sesuatu yang basah mengenai hidungnya. Ia menyadari sesuatu, Velly menangis.
Deren mengepalkan tangannya kesal. Ia tak suka wanita menangis, ia sangat membencinya !
"Kau membuatku marah !!" Dengan paksa, Deren menjambak rambut Velly dan menyeretnya ke kamar Deren yang berukuran king size.
Di hempaskannya dengan kasar tubuh gadis malang itu di atas kasur. Velly meringis kesakitan pada tubuh juga kepalanya yang terasa pusing.
Tubuh yang sudah di penuhi dengan luka cambuk bahkan cakaran itu membuat tubuhnya terasa sangat sakit.
Deren melonggarkan dasinya dan membuka bajunya dengan cepat. Matanya beralih menatap Velly yang sudah menangis terisak.
Dengan sorotan mata tajam, Deren merobek baju Velly seluruhnya, hingga gadis itu tak menggunakan sehelai benangpun di tubuhnya.
Velly semakin terisak saat Deren mendekat dan siap menamparnya.
"Ja-jangan..." Velly memekik ketakutan
PLAK
Satu tamparan mendarat dengan sangat keras di pipi kiri gadis itu. Bibirnya sedikit robek hingga mengeluarkan darah segar dari sana.
Deren menindih tubuh Velly dan mendesaknya secara paksa.
Velly berteriak tak tertahankan. Ia benci ini, Ia benci jika selalu di siksa seperti ini.
"Hen-tikan Deren.. ku-mohon," Velly menangis terisak dan mencengkram sprei kasur dengan erat.
"Lisyaaa...." Desahan sialan itu keluar dari mulut Deren.
Velly menggigit bibir bawahnya saat mendengar nama itu. Ini yang selalu Deren lakukan saat bercinta dengannya.
Lisya.. nama kekasih Deren yang sudah meninggal tiga tahun lalu karena kecelakaan. Deren tak bisa melupakan Lisya karena ia masih sangat mencintainya.
Hingga ia di pertemukan dengan Velly, gadis yang sangat mirip dengan kekasihnya itu. Terjadilah perjanjian di antara mereka. Velly menjadi pacarnya dan hanya akan menjadi pemuas nafsu Deren saja. Namun Velly mendapatkan uang di sini sebagai imbalannya.
Tapi Deren benci melihat wanita menangis, itu tanda mereka lemah, dan ia tak suka itu !!
Deren melihat Velly yang sudah terisak tak tertahankan. Mata gadis itu sembab dan tubuhnya penuh denga bekas cakaran Deren.
Deren menghentikan semuanya, ia bangkit lalu duduk di tepi ranjang.
Di tatapnya sekilas dengan senyuman miring gadis malang yang kini terkapar lemas di atas ranjang.
"Ini uangmu," Deren melempar kasar uang itu di wajah Velly.
Gadis itu terisak dan melempar uang itu ke lantai.
Mata Deren berkilat saat ia tahu bahwa Velly membuang uangnya.
"APA KAU MAU MELAWANKU HAAH ???!!!!" Deren berteriak di depan wajah Velly.
Tangannya sudah siap melayang dan menampar wajah gadis itu, namun entah kenapa, ia menghentikannya.
"Apa kau tak punya rasa cinta sedikitpun untukku ?" Velly menatap nanar Deren. Lelaki itu hanya diam tak bersuara.
"Tidakkah ... kau berpikir bahwa... aku merasa sakit di sini ?" Velly berusaha mengusap air matanya dengan tangan yang gemetar.
"Kau memperlakukanku seperti hewan,"
Mata Deren berkilat marah.
"Aku mau melakukan ini bukan karena uangmu,"
Deren mengepalkan tangannya dan menampar Velly keras sangat keras hingga gadis itu hampir tak sadarkan diri.
"Aku... aku melakukan ini.. ka-karena... ak-aku mencintaimu," Velly berkata dengan terbata-bata.
Deren membulatkan matanya tak percaya. Velly mencintaiya ?
Sebersit rasa haru juga perasaan bersalah hinggap di hatinya. Di belainya wajah gadis yang ada di hadapannya ini.
Seketika Deren panik saat menyadari sesuatu. Velly, gadis itu tak bernafas. Velly memejamkan matanya dan ia tak bernafas ???
"Velly, Velly bangun !!!" Deren berkata tegas. Ia yakin Velly akan segera bangun dan menatap matanya.
Namun nihil, harapannya sia-sia.
"Bangun, Heiii ?!!!!"
Tak ada respon, Velly tetap diam dan tak membuka matanya.
"VELLY...."
Di rangkulnya gadis itu dengan rasa penuh penyesalan. Betapa bodohnya ia telah menyia-nyiakan Velly yang sangat tulus mencintainya.
Velly berbeda Deren, ia tak sama dengan wanita yang selalu kau kencani. Velly polos dan ia sangat mencintaimu.
Velly menginginkan cinta juga perhatianmu, bukan hartamu.
Seharusnya kau sadar, dan kau membalas cintanya.
Saat hati ini merasa harus bersabar, maka aku akan melakukannya.
Saat hati ini harus meronta dan meminta keadilan agar kau menganggapku di depan mereka.. aku tak akan melakukannya.
Saat hati ini merasa tersakiti oleh ribuan pisau yang di tancapkan, aku akan menerimanya karena.. itulah pengorbanan. Itulah pengorbanan cinta untukmu.
Namun...
Kau hanyalah menganggapku sebagai wanita yang hanya menginginkan hartamu.
Kau bahkan memperlakukanku seperti hewan saat aku harus memenuhi kepuasan biologismu.
Aku tak lelah walau kau harus menampar bahkan memukulku sekalipun.
Tapi aku lelah dengan kata-katamu yang menyakiti hatiku. Sehingga .. sehingga aku akan lebih memilih terpejam dan lenyap dari hadapanmu untuk selamanya...
Velly Sheren
T H E E N D
D
ok. 10 April 2016