Kring kring.
Tap tap tap.
Suara langkah kaki yang tak asing itu terdengar di seluruh isi kelas. Semua anak terdiam akan kedatangan sosok ini.
"Selamat pagi, anak-anak." ucapnya.
"Selamat pagi, bu." jawab seluruh anak di kelas itu kepada wali kelas yang berdiri tepat di hadapan mereka.
"Kelas kalian kedatangan seorang murid baru. Dia pindahan dari Star High School. Perkenalkan dirimu, nak." kata wali kelas itu.
"Halo semua! Namaku Emersyn Brielle. Kalian bisa memanggilku Emersyn. Senang bisa bertemu kalian." ucapnya ramah. Anak baru ini bisa dibilang memiliki senyum yang cukup memikat para hati lelaki di kelas itu.
"Hai Emersyn." sapa seluruh anak di kelas itu.
"Ada yang ingin kalian tanyakan kepada Emersyn?" tanya wali kelas mereka, Ms. Liliana. Seorang anak mengangkat tangan.
"Saya mau nanya bu! Boleh dong tau nama facebooknya?" gombal anak itu, Asher namanya. Seorang playboy sekolahan yang memikat banyak hati perempuan.
Seluruh isi kelas tertawa mendengar pertanyaan tersebut.
"Gombal lu, Ash!"
"Bisa aja Asher. Anak baru udah diembat aja."
"Ciee ciee. Target baru, Ash?"
Emersyn hanya tersenyum ramah dengan semua teman kelasnya itu. Ia merasa beruntung akan memiliki teman kelas yang 'seseru' ini.
"Sudah sudah. Jangan ribut. Emersyn, kamu boleh duduk sekarang." ucap bu Liliana.
"Halo, apa ada yang duduk di sini?" tanya Emersyn lembut.
"Oh, tidak ada." jawab perempuan itu ramah.
"Aku duduk di sini ya." izin Emersyn ramah.
"Maggie." Perempuan itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum. Emersyn membalasnya ramah.
- - -
"Hai Emersyn cantik." sapa sekumpulan anak lelaki yang mendekati meja Emersyn setelah bel pulang berbunyi.
"Aku anterin pulang yuk." ajak salah satu dari sekumpulan anak itu, Franco.
"Eh berani banget lu, Co! Gue duluan yang ngajak. Bareng aku aja ya?" ajak salah seorang lagi, yang bernama Russel. Seketika sekumpulan anak lelaki itu menjadi ribut memperebutkan mengenai siapa yang akan mengantar Emersyn pulang.
"Aku pulang sama supirku aja. Makasih ya tawarannya." ucap Emersyn ramah. Dia sangat lugu. Membuat semua orang, khususnya kaum adam, terpikat dengan keluguan wajah dan tingkahnya.
"AAAAA!!!!!"
Teriak perempuan itu membuat seisi kelas menjadi kaget.
"Ada apa, Emersyn?!" tanya Maggie yang duduk disebelahnya kaget.
"Umm.. itu.. itu.. a..ada.. bangkai tikus di lokerku." ucap Emersyn ketakutan.
"APA?!?! Mana?!" teriak Asher yang berdiri di antara sekumpulan lelaki itu. Tanpa banyak pikir, dia mendekati meja Emersyn, dan melihat isi lokernya. Benar, ada bangkai tikus di sana. Emersyn yang ketakutan mulai menangis. Dia memeluk Maggie yang berada di sampingnya.
"Siapa yang berani melakulan ini?! Jujurlah!!! Kalau tidak, akan ku hajar kau saat aku mengetahuinya!!" seru Asher sambil memegang bangkai tikus itu. Tidak ada satupun di dalam kelas itu yang mengaku, karena tidak ada yang merasa melakukan hal menjijikkan seperti itu.
"Tidak seharusnya ada di antara kita yang berbuat seperti ini! Emersyn adalah anak baru. Kita juga harus menghargai dia! Mengerti?" ucap Scott bijak, sang ketua kelas.
Setelah Asher membuang bangkai tikus itu ke halaman belakang sekolah, ia kembali ke kelas untuk melihat keadaan Emersyn. Emersyn telah duduk manis kembali di tempatnya. Ia bersiap-siap untuk kembali ke rumah.
"Bye semuanya." ucap Emersyn ramah kepada teman-teman barunya saat menuju ke mobil.
"Hari pertama yang menarik." gumam Emersyn saat sudah berada di dalam mobil.
- - -
"Good morning, students."
"Good morning, sir." salam seisi kelas kepada Mr. Ben, guru bahasa Inggris di Bright Major School tersebut.
"Hari ini Mister ingin memberikan kalian tugas kelompok. Mister sudah melihat nama-nama kalian, dan Mister sudah membagi kalian ke dalam 6 kelompok. Silahkan dilihat kelompoknya masing-masing di papan tulis."
Group 3
Asher
Scott
Brenda
Franco
Maggie
Emersyn
"Yesss!!! Thank you, sir!! Gue sekelompok sama anak baru!!!" seru Franco girang. Dia memang playboy sekolah, tidak beda jauh dengan Asher.
"Tugasnya adalah kalian harus membuat drama, using English for sure, dan bergenre Romance. Sekarang Mister mau kalian duduk sesuai kelompok masing-masing, kemudian rundingkan ide cerita kalian. Silahkan." jelas Mr. Ben panjang lebar.
Seluruh murid duduk dengan kelompoknya masing-masing. Suara-suara pendapat mulai terdengar dari segala arah.
"Gimana kalau kita buat drama tentang cinta bertepuk sebelah tangan?"
"Nanti yang ngetik naskahnya siapa?"
"Nah! Ide bagus!"
"Aku setuju setuju setuju."
"Apa yang harus dipersiapkan?"
Berbeda dengan kelompok 3.
"Kamu suka warna apa, Emersyn?"
"Kamu lebih suka bunga atau cokelat?"
"Kok kamu bisa secantik ini sih?"
Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan tidak pernah tidak berhubungan dengan Emersyn. Ya, siapa lagi kalau bukan Asher dan Franco pelakunya.
"Sudah, sudah! Kalian ini! Kapan kita mau berunding?" tegur Scott.
"Jadi bagaimana? Kapan kita kerja kelompok?" Maggie membuka mulut.
"Bagaimana kalau hari Sabtu? Semuanya bisa?" tanya Scott.
"Bisa!" jawab yang lain serentak.
"Dimana?" tanya Brenda. Dia adalah anak terpintar di kelas ini. Itu tidak berarti dia adalah kutu buku. Dia juga sangatlah modis. Tidak heran apabila banyak kaum adam yang mendekatinya.
"Di rumah Emersyn, bagaimana?" tanya Franco, dengan maksud tertentu.
"Umm.. boleh. Kebetulah hari Sabtu rumahku gak dipakai untuk kegiatan lain kok. Pagi aja ya kerja kelompoknya." jawabnya lembut sambil tersenyum manis.
"Oke!! Sepakat ya? Sabtu pagi di rumah Emersyn." ucap Scott mengulang kembali hasil rundingan mereka.
"Oke!" jawab yang lain serentak. Emersyn tersenyum 'manis'.
- - -
Sabtu, 09:47
"Emersyn!" panggil Franco, bersama dengan teman sekelompok lainnya yang sudah berdiri di depan pintu sebuah rumah yang tampaknya sudah tua. Rumah itu memiliki halaman yang sangat luas, tetapi nampak tidak terawat.
"Emersyn!" panggil Maggie sambil menekan bel yang terletak di sebelah pintu tua dari kayu itu.
Ting nong. Ting nong.
"Iyaa, tunggu!" Terdengar suara seorang perempuan dari dalam rumah tua itu.
Ceklek.
"Ah, maaf ya. Kalian jadi lama menunggu. Aku tadi habis mandi, jadi gak kedengeran." ucap Emersyn lembut dengan wajah mungilnya yang menggemaskan itu.
"Ah tidak apa-apa, Emersyn. Kami juga baru sampai kok." jawab Asher.
"Umm.. silahkan masuk." ajaknya sambil tersenyum ramah. Asher, Franco, Scott, Maggie, dan Brenda pun masuk.
Rumah ini terlihat sangat antik. Tampaknya sudah lama. Rumah Emersyn memiliki 4 lantai, dan tiap lantainya sangat luas. Rumah kayu ini sangat besar. Sayangnya, terlihat kurang terawat.
"Sebentar ya, aku ambilin minum dulu." ucap Emersyn.
"Ah, tidak perlu repot-repot, Emersyn." jawab Brenda tidak enak.
"Tenang, gak repot kok. Hanya sekedar minuman. Lagipula ada pribahasa yang mengatakan bahwa 'Tamu adalah raja'." balas Emersyn lugu dan sangat sopan.
"Emersyn, Emersyn. Sudah cantik, baik, lugu, manis, pintar pula." puji Franco. Emersyn hanya tersenyum manis, sambil membawa 6 gelas berisi air putih dan menaruhnya di meja.
"Kamu tinggal sama siapa Emersyn? Mama papamu mana?" tanya Maggie.
Emersyn terpaku beberapa detik mendengar pertanyaan Maggie itu. Dia menarik nafas sebentar, lalu menjawabnya perlahan.
"Umm.. ayah dan ibuku sudah meninggal sejak lama. Sekarang aku tinggal sendiri bersama bibi-bibiku." jawabnya lembut.
Semua yang duduk di ruang tamu itu terdiam. Maggie yang menanyakan hal itu menjadi tidak enak.
"Maaf, Emersyn." ucap Maggie.
"Ah, tidak apa-apa. Aku sudah tidak terlalu memikirkan hal itu lagi. Mending kita mulai saja kerja kelompoknya." ucap Emersyn ramah sambil tersenyum, lesung di pipinya membuatnya tampak semakin manis.
"Ya, betul. Mari kita mulai pembuatan naskah dramanya." ajak Scott.
Emersyn tersenyum lagi.
-
To be continued~