After Sunshine

Por dear_ayri

172K 11K 653

Untuk seseorang yang mengira melupakan adalah jalan terbaik. Jawab aku. Mengapa diam diam gadis itu masih be... Más

prolog
Satu
Dua
Tiga
Empat
Lima
Enam
Tujuh
delapan
Sembilan
Sepuluh
Sebelas
Duabelas
Tiga Belas
Empat Belas
Lima Belas
Enam Belas
Tujuh Belas
Sembilan Belas
Dua Puluh
Dua Puluh Satu
Dua Puluh Dua
Dua Puluh Tiga
Teruntuk Shilla
Dua puluh Empat
Dua Puluh Lima
Dua Puluh Enam
Dua Puluh Tujuh
Dua Puluh Delapan
Dua Puluh Sembilan
Tiga Puluh
Tiga Puluh Satu
Teruntuk Juna
Tiga Puluh Dua
Tiga Puluh Tiga
Teruntuk Juna (2)
Tiga Puluh Empat
Tiga Puluh Lima
Tiga Puluh Enam
Tiga Puluh Tujuh (Ending)
Sepucuk Kertas Putih Susu
Epilog
A f t e r S u n s h i n e
J u n a & S h i l l a

Delapan belas

3.5K 256 10
Por dear_ayri

Juli 2009

Bahwa pantai selalu melepaskan tetes air yang pernah menerpanya
Melepaskan tetes air membali kelautan
Walau pantai tahu tetes air tak akan kembali.

Bahwa bintang tetap berkilau untuk langit
Walau terhalang bulan dan tertutup awan.

Bahwa aku mencintaimu walau tak pernah kau tahu

☆☆☆☆☆

Badan gadis itu menegang, kuku tangannya seakan mencengkram pinggiran meja sedangkan pandangannya menunduk, berusaha tenang, berusaha tak menampakan reaksi apapun di wajahnya, sesekali akibat wajahnya yang tertunduk ia merapikan rambutnya kembali kebelakang telinga.

Sepuluh menit yang lalu sebelum Yasmin pergi meninggalkannya ia masih bisa tenang, tapi setelah Yasmin pergi untuk memesan makanan dan meninggalkannya bersama Kevin, mendadak ia begitu mengutuki hari ini.

Disini, disalah satu restoran cepat saji yang ada disalah satu mall di Jakarta, ditempat ia duduk sekarang, disalah satu bangku didekat jendela kaca besar dan di depan Kevin, ia merutuki menerima ajakan Yasmin untuk pergi dengannya.

Seandainya saja ia tahu jika Kevin akan menyusul dirinya dan Yasmin sudah dipastikan ia lebih memilih meringkuk di tempat tidur.

Ia membuang pandangannya melihat keluar jendela, menatap para wanita yang sedang berbelanja dengan hebohnya karena ada diskon besar disalah satu toko yang berada didepannya. Ya sebisa mungkin ia melupakan kenyataan bahwa Kevin tengah menghadap kearahnya.

"Lo gak ikut Yasmin mesen makanan?"

Cengkeraman kuku Shilla di ujung meja melemas, mendadak tangannya sedikit bergetar, matanya yang sedari tadi fokus menatap keluar jendela sekarang mengerjap-ngerjap.

Ia menoleh ke arah Kevin dan menggeleng pelan. "Tadi dirumah gue udah makan."

Kevin tersenyum jahil. "Mau gue traktir cappuccino?"

Shilla terdiam melihat senyum jahil pria itu, dan ucapan pria itu membuatnya mengingat sebuah kejadian di siang hari, dikantin sekolah kala itu.

Shilla menyesapi secangkir cappuccino yang ia beli dikantin sekolah, ia duduk disalah satu kursi yang berada di kantin, matanya menatap Kelvin yang juga tengah menatapnya.

Shilla mengangkat tangan kirinya menunjukan telapak tangannya, sementara tangan kirinya mengangkat cangkir yang berisikan cappuccino kedekat mulutnya.

Ia menyesap cappuccinonya sebelum akhirnya meletakannya kembali keatas meja, tangan kirinya masih terangkat, masih menunjukan telapak tangannya pada Kevin, sesekali ia mengerak gerakannya.

"Ada lima hal yang bisa lo pake buat nyogok gue," tandas Shilla.

Raut wajah kevin yang tadinya bingung perlahan mengerti apa yang sedari tadi dilakukan Shilla.

"Pertama?" Tanya Kevin, seolah menunjukan rasa penasarannya akan ucapan Shilla.

Shilla menumpukan dagunya pada tangan kirinya, bibirnya tersenyum kepada Kevin.

"Langit malam yang penuh bintang,"

Kevin tersenyum mendengarnya. "Kedua?"

"Makanan,"jawab shilla.

Kevin berdecak mendengarnya, sepertinya semua orang akan tahu bahwa Shilla tak pernah menolak jika berurusan dengan makanan.

"Ketiga?"

"Novel romance,"

"Keempat?"

"Hmm... Tiket ke Yunani beserta hotel bintang lima,"

Kevin tertawa mendengar ucapan Shilla. Dan Shilla pun ikut tertawa.

"Dan yang terakhir?"

Shilla tersenyum lebar, mengangkat secangkir cappuccino miliknya. "Dan secangkir cappuccino"

Shilla menatap Kevin dengan senyum lebar. "Lo harus inget itu supaya nanti kalau lo minta bantuan gue lagi buat ngedeketin Yasmin dan gue gak mau, lo bisa sogok gue pake lima hal itu."

Kevin mengangguk mantap. "Ya karena kayaknya yang bisa gue lakuin dari lima hal itu ketika disekolah cuma bisa nraktir lo cappuccino sama makanan."

"Iya sih, lo ga bisa ngasih gue langit malam yang penuh bintang, gak bisa ngasih gue tiket ke Yunani," tandas Shilla.

"Tapi lo bisa beliin gue novel kok Vin," lanjutnya.

Kevin menggeleng kuat. "Gue pingin suatu hari nanti lo yang jadi penulisnya, bukan cuma sekedar beli karya orang buat lo baca."

Shilla berdecak kesal,tangannya menyentil dahi pria itu. "Lo fikir nulis novel segampang leha-leha di hari minggu?"

Sementara yang di marahi hanya tersenyum tanpa merasa bersalah.

"Shill,"

Suara Kevin yang memanggilnya membuat lamunannya terhenti, tangan pria itu bergerak gerak didepan wajahnya seolah menyadarkan Shilla dari lamunan.

Sebisa mungkin Shilla menatap Kevin dengan tatapan senormal mungkin, perlahan ia menggelengkan kepala, tak mengindahkan tawaran Kevin membelikannya secangkir cappuccino.

Ekspresi wajah Kevin berubah, mendadak wajah pria itu terlihat begitu lelah. "Bisa gak sih lo bersikap wajar aja?"

Shilla menatap Kevin yang tengah memicingkan matanya kepada Shilla.

"Bisa gak sih gak usah peduliin kata orang?"

Kevin menghela nafas berat. "Shill, Yasmin gak akan salah paham apapun kalau kita tetep deket."

Shilla tersenyum tipis, ia mengedikan bahunya berusaha bersikap dengan begitu santai. "Yasmin pernah suka sama Juna kan? Dan dia cemburu sama gue, gue cuma gak pingin aja suatu saat nanti kejadiannya keulang lagi."

Shilla menarik tasnya yang terletak diatas meja, lalu berdiri menghadap Kevin, "bilang sama Yasmin, gue ke toko buku duluan, nanti kalian nyusul aja."

Alih alih mengiyakan ucapan Shilla, kevin malah tersenyum miring. "Kasih gue satu alesan yang lebih masuk akal selain itu? Selain ketakutan lo tentang Yasmin yang bakal salah paham?"

Shilla terdiam, mengapa pria itu begitu bodoh, mengapa pria itu selalu menahannya, ia sudah mencoba berlari sekuat mungkin dari pria itu, tapi pria itu selalu saa menahannya.

Jika boleh jujur, Shilla mungkin akan berkata jika ia mencintai Kevin, berada didekat Kevin yang jelas jelas mencintai orang lain akan membuatnya sakit, itu adalah alasan sebenarnya mengapa ia bersikap seperti ini.

Shilla menggeleng pelan. "Itu satu satunya alasan yang masuk akal Vin, lo mau gue ngasih alasan apa lagi? Karena gue cemburu? Ya gak mungkin lah."

Shilla mengigit bibirnya kuat-kuat, menatap Kevin yang telah membuang pandangan. Untuk kali ini dan saat ini. Ia membenci dirinya sendiri yang selalu memilih terluka ketimbang mengakui perasaannya.

Perlahan ia beranjak pergi meninggalkan kevin sendiri. Meninggalkan Kevin yang masih tak percaya dengan ucapan yang diutarakan Shilla.

Karena gue cemburu? Ya gak mungkin lah.

Entah mengapa kata-kata itu membuatnya sakit.

☆☆☆☆☆

Shilla memegangi perutnya, menahan sakit akibat kelaparan. Ini hari pertamanya bertekat diet dengan sungguh sungguh, tapi perutnya tidak bisa diajak berkompromi dengan baik.

Ya anggaplah ia kekanak kanakak, anggaplah ia terlalu bodoh. Sehingga mau bersusah payah melakukan semua ini demi Kevin.

Setidaknya jika ia tidak bisa membuat Kevin menyukainya, mungkin setidaknya ia merasa pantas untuk menyukai pria itu.

Ia mengetuk dahinya sendiri, menggerutu tentang fikiran konyol yang ia fikirkan, tentang bagaimana suatu saat Kevin akan menyukainya jika ia berubah, jika ia bisa disejajarkan dengan perempuan cantik disekolahnya.

Tapi sejujurnya didalam hatinya, ia senang dengan keadaan seperti ini, atau lebih tepatnya tak ingin berharap lebih, karena jika suatu saat nanti seandainya ada suatu keajaiban Kevin menyukainya, entah apa yang harus ia lakukan ketika menghadapi Yasmin.

Shilla mengambil sebuah novel dari rak, membaca sedikit sinopsis yang berada di belakang novel tersebut, ia lapar dan ditambah harus memilih satu dari sekian banyak novel ditoko buku ini ia akan benar benar gila sekarang.

Shilla merogoh tasnya saat mendengar ponselnya berbunyi nyaring, sebuah panggilan masuk dari Juna tertulis di layar ponselnya.

Dari ponsel itu ia bisa mendengar Juna menyapanya, dan bertanya pertanyaan klasik.

"Di toko buku," Jawabnya pada Juna yang menanyakan dimana Shilla berada.

"Kangen?"

Shilla mengangguk pelan walau ia tahu tak akan ada gunannya, Juna tak akan melihatnya.

"Dua minggu lagi gue pulang, mau nitip apa?"

Shilla menggeleng pelan. "Enggak ada."

"Tumben,"

Hening, ia sama sekali tak berselera untuk terlalu banyak bicara, perasaannya sekarang masih belum begitu baik selepas menanggapi ucapan Kevin tadi.

Dan bukan Juna jika tak mengerti Shilla dengan baik, dari tempat yang jauh disana Juna mengetahui bahwa gadis itu tidak sedang baik baik saja, dari nada bicara gadis itu.

"Shill," panggil Juna selembut mungkin.

Dan mendengar nada bicara pria itu yang berubah, Shilla tahu bahwa Juna sedang berusaha ingin tahu apa yang ia alami.

Shilla menghela nafas berat, tangannya menepuk nepuk perutnya pelan, "Juna gue laper."

"Nasi goreng, martabak manis, jus jeruk, kue cubit, bolu coklat, ayam tepung, es krim," ucap Shilla.

Mendengar ucapan gadis itu Juna mengetahui bahwa gadis itu mengucapkan kata kata tanpa sadar, gadis itu tengah melantur.

"Ada banyak yang pingin gue makan, tapi gak bisa,"

Shilla menghela nafas. "Secangkir cappuccino, ya gue pingin secangkir cappuccino."

"Shill..."

"Jun..." Shilla memotong ucapan Juna dengan cepat.

"Abaiin aja yang tadi gue bilang,"

Shilla tak mendengar sahutan apapun dari pria itu, hening, mungkinkah sambungannya terputus?

"Juna?"

"Hmmm.."

Shilla tersenyum tipis mendengarnya. "Ada suatu hal yang pingin gue capai."

"Apa?"

"Nanti kalau lo balik gue bakal cerita semuanya," jawab Shilla.

Shilla mengambil sebuah novel lain dari rak besar itu, matanya menatap novel itu dengan lekat, tapi fikirannya tidak terfokus pada novel itu. "Hal itu ngebuat gue harus mengubah segalanya."

"Jadi buat ngedapetin hal itu? Lo mau ngeubah diri lo?"

Shilla mendengar helaan nafas pria itu.

"Gimana kalo gue lebih suka lo yang sekarang?"

Shilla menghela nafas memijat keningnya, "aduh Jun gue ngelantur deh kayaknya tadi."

"Yaudah pokoknya cepet pulang ya, atau lo bakal ngeliat gue mati kelaperan"

☆☆☆☆☆

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

-Sapardi Djoko Damono

☆☆☆☆☆

hai maaf atas typo yang mungkin bertebaran, maafin ya.

Maaf juga atas kengaretan terlama ini.

Semoga masih ada yg mau baca, trimakasih.

Mohon vote dan komennya :)

Seguir leyendo

También te gustarán

1.2K 19 22
Angkasa Dirgantara Reynand lelaki tampan bertubuh tinggi yang menjadi incaran para wanita sekaligus ketua dari geng motor yang terkenal. Angkasa tak...
4.3K 245 18
End dibalik segala kebohongan... 🥀💕🥀💕🥀💕🥀💕🥀💕🥀💕🥀 Dylean terpaksa harus kembali ke negara gingseng sana, negara kelahirannya. Meninggalkan...
1.8K 143 24
Langit Levarnan leopatra. pemuda tampan dengan segala kemisteriusan nya, pemuda dengan sifat antagonis itu menyimpan berbagai luka di hatinya, masa l...
174 8 15
Kalau tahu akan jadi seperti ini jadinya, kenapa aku tidak mulai dari awal cerita dalam diam ku? Rasanya menyenangkan hanya bicara dengan hati. Tida...
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas