The Better Choice

By Almiradst

19.6K 8K 6.7K

No words can explain this story. Penasaran? Langsung baca aja. Copyright ® 2017 by Almiradst More

2 : Kawan dan Lawan
3 : Kawan dan Lawan (a)
Special page: Who Is the Main Character.
4 : Br[OK]en
5 : I'll Never Lose
6 : Si Codet Lisa dan Vika
7 : Latihan Upacara
8 : Over and Over Again
9 : Alun - Alun Kota
10 : Tugas Upacara Pertama
11 : Unexpected
12 : Toko Roti
13 : I Choose You
14 : Siluman Rafa
15 : Pertandingan
16 : Rules of Cruel
17 : I Don't Know
18 : Gojek Misterius
19 : Why Not?
20 : Secret Admirer
21 : VIDCALL & CURCOLL
22 : Ternyata
23 : Its okay, its fine

1 : M.O.S [Mos Oh Shit]

2.9K 966 1.5K
By Almiradst


Dari Sabang sampai Merauke, baru kutemukan satu yang sepertimu.

📎📎📎

Elvaretta Safa Haura yang akrab disapa Safa berada dalam masalah besar. Siswa Baru dari SMA Kebangsaan itu sedang membayangkan berdiri dihadapan dua mulut buaya dan harimau yang sangat mengerikan. Keduanya siap untuk menerkamnya kemudian mengunyah menggunakan gigi yang tajam dengan sangat keji ketika Safa kehilangan fokus. Andai ia bisa menghindar dari harimau tak ada jaminan ia juga bisa lepas dari buaya, ibarat pepatah sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Oke ini sangat lebay.

Semua terjadi memang karena kesalahan Safa. Ia tidak berhati-hati meletakkan barang yang untuk hari ini dan sampai hari lusa akan menjadi barang berharga. Lebih berharga daripada gadget yang ia punya. Rompi dari kardus yang bentuknya tokoh wayang Semar yang tidak salah lagi itu adalah atribut untuk MOS itu hilang karena kecerobohannya. Padahal butuh waktu setengah hari untuk membuatnya.

Safa mencoba mengingat-ingat kembali walaupun otaknya standar pentium satu setidaknya Safa mengingat sangat jelas tadi malam ia meletakkannya di kursi seberang meja makan. "Ah sial," dengus Safa mengayunkan satu kakinya.

Karena sudah cukup lama Safa mencari atribut yang hilang, Safa bergegas mengambil satu set baju putih abu-abu yang sudah tergantung rapi dikamar dan langsung memakainya.

Keringat sebesar biji jagung mulai menetes menyusuri lekuk wajahnya yang jauh dari kata sempurna. Rasa takut, gugup beradu menjadi satu. Membuat Safa tidak bisa berfikir jernih. Safa melirik arlojinya yang menujukkan pukul 06.20 WIB. Memang jarak rumah Safa dari sekolah tidak terlalu jauh, tapi bukan itu yang membuat Safa takut karena terlambat, melainkan atribut MOS yang ia belum temukan sama sekali, itu artinya Safa harus membuatnya lagi dalam waktu yang tersisa namun itu hal sangat Mustahil.

Ada dua kemungkinan yang menjadi penyebab artributnya hilang. Yang pertama karena atributnya diambil Dinambo adik perempuan Safa, umurnya masih 4 tahun karena bentuknya unik. Atau dipungut oleh Mamanya karena meletakannya dengan tidak bertanggung jawab.

"Mamaaaaaaa!!!" teriak Safa dengan sekuat tenaga

"Ada apa?" jawab Rita, Mama Safa dengan santai, sembari tangan yang memegang gagang sapu.

"Lihat atribut MOS ku nggak Ma, bentuknya tokoh wayang Semar warna putih hitam?" Safa mulai melonggarkan uratnya.

"Yang semalem kamu taruh di kursi itu?"

"Iya. Mama lihat?" tanya Safa dengan penuh harapan besar kaya nunggu gebetan.

"Kalau nggak salah lihat, diambil sama Dina tadi pagi," jawab Rita dengan pandangan yang tidak diarahkan pada Safa karena sibuk menyapu halaman rumah.

Wajah Safa berubah menjadi kesal."Kok gak dicegah sih?" Dengan nada lemas.

Pasti Dinambo sudah merusaknya. Sia-sia usaha Safa membuat atribut itu.

"Mama kira gak dipakai lagi soalnya berantakan banget," bela Rita.

"Dinambo sekarang dimana?"

"Dina ada dikamarnya."

Safa langsung tancap gas menuju kamar Dinambo setelah mendegar jawaban dari Mamanya. Ia berharap bisa menyelamatkan atributnya yang sangat berharga dari tangan perusak seorang Dinambo.

"Namboo.." panggil Safa dengan nada tinggi karena kesal dengan kelaluan adikknya.

"Apa kak?" jawab Dinambo dengan suara yang menggemaskan dan matanya membulat.

"Kardus kakak mana?" tanya Safa tanpa berkuda-kuda.

Dinambo mengacungkan jari telunjukkan dan mengarahkan bahwa atribut itu ada disudut kamar.
Untung saja barang yang Safa cari masih baik-baik saja. Belum ada cacat yang memperburuk bentuknya yang awalnya memang sudah sangat buruk. "Thanks god," celetuk Safa memeluk atributnya.

Cepat-cepat Safa memakai atribut MOS yang sudah ditemukan disudut kamar Dinambo. Safa tidak punya banyak waktu, hanya tersisa lima belas menit sedangkan ia belum memakai sepatu. Seandainya Safa adalah Harry Potter ia tidak perlu susah-susah seperti ini, hanya perlu mengayunkan tongkat saja sambil mengucapkan mantra khusus. Ah, memang Safa suka berandai-andai.

🍂🍂🍂

Tepat pukul tujuh kurang dua menit Safa sampai didepan pintu gerbang sekolah. SMA Kebangsaan. Dua orang berbadan kekar sudah berjaga-jaga didepan pintu dengan pandangan yang dingin dan bengis. Yang satu satpam karena memakai sragam satpam dan yang satu lagi adalah guru di sekolah itu.

Safa berjalan pelan sambil menundukkan kepala saat berjalan melewati mereka berdua. Mereka memandangi Safa dengan lekat-lekat bak seorang yang mencurigakan.
Safa bukan penjahat yang kabur dari penjara yang tengah menglabuhi orang yang mengejarnya agar tidak dibawa ke kantor polisi, ia hanya murid yang hampir terlambat dihari pertama masuk Sekolah.

Syukurlah. Tuhan masih melindungi Safa dari dua orang yang menakutkan. Ia berhasil melewati guru dan satpam yang sedang berjaga. Kemudian Safa mengarahkan kaki menuju kelas XA yang kebetulan terletak diujung lorong kedua yang berada disebelah utara dari Gerbang Sekolah. Keadaan sudah sangat sepi saat Safa berjalan menyusuri lorong Sekolah yang ternyata sangat menakutkan. Mungkin karena semua siswa sudah masuk ke kelas mereka masing-masing sedangkan Safa, sendirian.

Safa mengintip was-was dari jendela untuk memastikan apakah didalam sudah ada Kakak Pembina yang mengarahkan MOS hari ini .

Ternyata sudah ada lima orang di dalam kelas yang mengenakan rompi OSIS bewarna biru tua, dua cewek dan tiga cowok. Sialnya salah satu dari mereka ada yang memergoki Safa. Tanpa basa-basi Kakak Pembina berbadan tinggi, berkulit putih bersih dan berambut kecoklatan itu keluar menghampiri Safa yang tengah berada diluar.

Tidak membutuhkan proses lama, badan Safa lunglai dan menggigil karena ketakutan. Di hari pertama saja sudah membuat masalah dengan Kakak senior. Apalagi hari-hari berikutnya. Safa tidak bisa membayangkan buku pointnya akan dipenuhi dengan catatan merah dan point yang menumpuk.

Safa menundukkan kepalanya saat Senior berjenis kelamin laki-laki itu berjalan mendekat kearahnya.

"Kenapa kamu tundukin kepala?" bentak senior itu. Safa hanya membisu tanpa membalas dalam bentuk reaksi apapun. "Punya telinga nggak? Bisa dengar apa yang saya tanyakan tadi?" lanjutnya.

Safa masih tetap terdiam dan menelan ludah dalam-dalam. "Punya mulut nggak? kok nggak jawab?" tanya senior itu ketiga kalinya.

"Punya," jawab Safa dengan bibir gemetar.

"Kamu tahu sekarang jam berapa? kenapa kamu telat?" Mulut senior itu mendecak.

"Maaf kak," jawab Safa dengan nada melemah.

"Saya nggak butuh permintaan maaf dari kamu," balas senior itu dengan sangat ketus. "Kenapa tadi kamu ngintip dari jendela, punya sopan santun nggak?" katanya lagi dengan suara yang makin meninggi. "Tatap saya..!" suruh senior itu dengan nada memaksa.

Dengan sangat hati-hati Safa mulai manarik wajahnya menghadap arah senior. Iris mata berwarna coklat itu kini sudah berhadapan dengan Safa dengan pandangan yang tidak manusiawi, bengis, keras dan terkesan kejam . Seakan-akan Safa adalah sarapan paginya yang siap untuk disantap.

Tubuh Safa mulai bergetar hebat karena ketakutan. Safa tidak berkutik walaupun hanya 1mili sekalipun.

"Kenapa kamu telat!?" tanya senior itu tanpa berkedip.

"Tadi pagi saya bingung nyari atribut MOS saya yang hilang." Kali ini Safa menjawabnya dengan amat jujur.

"Yang singkat!" bentaknya

"Cari atribut MOS yang hilang."

"Yang tegas!"

Safa menarik pita suaranya dengan kencang. "Cari atribut MOS saya yang hilang!"

Senior itu sepertinya belum puas dengan jawaban yang Safa berikan, nyatanya tanpa berdosa ia langsung memberikan perintah kepada Safa. "Karena kamu telat, ada hukuman buat kamu." Senior melejitkan suaranya.

Sebernya Safa tidak masalah diberikan hukuman seberat apapun itu, yang penting baginya adalah tidak banyak omong alias cerewet. Dan sekali lagi Safa adalah orang yang tidak suka memperhatikan orang lain yang sok-sok an, sok sibuk, sok kaya, sok galak seperti Senior itu.

"Ikuti saya," suruh Senior menyuruh Safa untuk mengikutinya. Seandainya posisi sekarang ini Safa tidak bersalah, ia sangat malas untuk mengikuti semua yang diperintahkan. Memuakkan.

"Iya kak," balas Safa dengan langkah yang gontai dibelakangnya.

Kakak Senior itu menyuruh Safa untuk berjalan dibelakangnya. Ia berjalan masuk ke dalam kelas XA yang tepatnya adalah kelas asal Safa. Suasananya hening sekali seperti kuburan, semua siswa yang ada didalam kelas terlihat tengah dalam keadaan diam dengan pandangan kosong seperti ketakutan. "Ishh..menyebalkan" batin Safa sangat jengkel.

"Kamu siapa?" Senior itu menanyai Safa lagi dengan nada yang ditinggikan.

"Safa kak," jawab Safa lembut.

"Saya nggak tanya siapa nama kamu." Suaranya yang keras membuat Safa semakin dongkol.

"Lihat saya, jangan cuma tundukin kepala!" Sorot mata senior itu sangat tajam dan itu cukup menusuk-nusuk jantung Safa serta organ-organ vital lainnya. Safa berusaha menata hatinya agar tetap berdiri tegar dan menahan emosi.

"Sekarang jelasin sama semua teman-teman kamu kenapa telat."

Detik demi detik Safa memulai membuka kalimatnya daripada ia diam saja dan menjadi buntalan sushi mentah yang anyir dan menjijikkan.

Safa menjelaskan kronologi yang menyebabkannya terlambat masuk sekolah. Dan tanggapan dari mereka adalah menyorakki Safa bahkan ada yang melemparkannya dengan sebuntel kertas kumel. Senior itu sukses membuat Safa sangat tidak suka padanya. Sifat yang ingin memperlihatkan siapa dirinya, memamerkan ketegasan dan kewibawaan yang ia miliki. Sifat dan sikap yang sangat Safa benci. Munafik.

"Udah, Raf!", "Dek, kamu boleh duduk," sambungnya lagi seakan menyudahi eksekusi kesalahan yang sangat menyebalkan.
Safa memalingkan wajahnya kearah sumber suara. Sumber suara dari senior Pembina MOS yang menyuruhnya duduk.

Safa menuruti apa kata Senior tadi, ia mencari bangku kosong yang terletak di meja kedua dari depan meja guru.

Sensasi semriwing merebak disekujur Tubuh Safa bagaikan angin penyegar yang menyejukkan dari panasnya sikap senior yang bengis tadi. Cowok berambut hitam dan kulit bewarna kuning langsat itu tersenyum kepada Safa. Ia duduk di bangku guru sambil memainkan tangan yang ia remas. Sontak Safa ikut tersenyum membalasnya.

"Hai gue Lisa," sapa orang yang duduk disebalah Safa dan menjulurkan tangannya setelah ia berhasil mendarat di kursi dengan baik.

"Hai, Safa," balas Safa sumringah kepada perempuan yang berkacamata disebelahnya.

"Yang sabar ya," katanya

"Makasih.." balas Safa dengan senyum kamuflase.

Safa kemudian terdiam dan mengehentikan percakapannya dengan teman disebelahnya. Ia , merasa sedang dipandangi oleh Senior bengis tadi.

"Eh, lo tau gak sih siapa sebenernya Senior yang itu tuu yang lagi berdiri dideket pintu," tanya Safa dengan nada yang sangat pelan.

"Oh, tadi sih pada nggosipin namanya Rafandra Aqlan Lazuardi, lo gak tau sih, dia tuh terkenal sebagai dream ilustration."

Safa masih memutar kelopak matanya dan mencerna baik-baik apa yang Lisa ucapkan. "Maksut lo dream ilustration?" Safa menyipitkan kedua matanya.

"Jadi, setiap cewek yang ngefans sama dia tuh cuma mimpi aja, ilustrasi dalam mimpi mereka soalnya mustahil bisa dapetin Kak Rafa. Hahaha." Lisa terkekeh sendiri dengan perkataannya. Padahal menurut Safa, Rafa adalah fucking boy semenjak ia menginjakkan kaki di SMA Kebangsaan.

Safa tidak megambil pusing tentang pendapat apapun itu tentang Rafa, si Senior yang bengis tadi karena saat ini Senior yang menjadi Pahlawannya sedang tersenyum kepada Safa. Tidak mungkinkan Safa naksir kepada Kakak Senior itu, baru beberapa jam saja bertemu masa' udah terburu-buru mengindentifikasi perasaannya.

"Eh kalo yang itu, yang duduk di kursi guru?"

"Oh, itu kalo itu Kak Adit, temennya Kak Rafa.", "Kenapa? lo suka?" tanya Lisa mengintimidasi.

"Eh? enggak kok, ngalantur ajadeh," jawab Safa malu-malu.

Kemudian suasana atsmofir kelas kembali tenang dan semua siswa kelas XA mengikuti beberapa intruksi yang diberikan kepada Kakak Pembina MOS.

🍂🍂🍂

Hari yang melelahkan bagi Rafa, mengurusi siswa-siswa yang baru ia kenal. Terutama Safa anak baru yang berani-beraninya telat pada hari pertama masuk Sekolah.

Rafa berjalan menuju parkiran sambil memainkan poselnya yang sedaritadi berdering karena banyak notifikasi dari berbagai sosmed.

"Parah lo Raf." Susul Adit menepuk pundak Rafa sembari menggelengkan kepalanya.

Rafa tetap sibuk dengan ponselnya dan tidak menggubris apa yang dilontarkan Adit.

Happpp!!!

Adit menyambar ponsel Rafa, dan menjunjungya tinggi-tinggi namun percuma, karena Rafa tidak kalah tinggi dengan Adit. Adit tidak menyerah begitu saja ia masih mengarahkan ponsel itu ke kanan-ke kiri-ke depan-dan ke belakang ketika Rafa sedang berusaha mengambil ponsel miliknya.

"Mau lo apasih Dit?" tanya Rafa pasrah.

"Tega banget sih lo sama Adek kelas sendiri. Jangan gitu banget deh elo Raf. Ntar suka baru tau rasa lo."

Srrrrrrrrrrrrrtttttt.

Tanpa basa-basi Rafa mencengkeram dan memutar tangan kiri Adit, Memutarnya sampai kebelakang dan menekan punggung Adit dengan sikutnya. Alhasil Adit tidak berdaya dan melemaskan genggaman ponsel yang ada ditangan kanannya. "Dah puas ngomongnya?"

"Sakit woi, bangsat lu."

Rafa tertawa melihat Adit merintih kesakitan karena ulahnya. "Gue mau pulang. Lo gak ikut gue sekalian."

"Mau taroh mana motor gue."

"Taroh bagasi mobil gue"

"Yakali taroh bagasi mobil lu mana muat, bego."

"Hahaha yaudah gue duluan. Baik-baik ye lu."

Rafa berlalu meninggalkan Adit yang sedang berdiri kayak anak yang kehilangan orangtuanya di tempat keramaian.
Adit melihat sekeliling sekolahan. Ia tertuju pada satu titik yaitu, Safa.

Safa sengaja tidak langsung pulang karena habis ini ia akan pergi ke kepusat pertokoan yang ada diseberang Sekolah untuk membeli makanan kesukaan Dinambo yaitu Fried Chicken. yang dijual di emperan toko.

"Hai Safa," sapa Adit dengan senyum mengembang.

"Hallo," balas Safa tak percaya karena seseorang yang menyapanya adalah orang yang sedaritadi berputar-putar di atas kepala Safa yaitu Pahlawan itu.

"Nggak pulang? kamu besok masih MOS loh,"tanyanya.

"Ini baru mau pulang kok tapi mau ke toko seberang situ dulu.hehe", "Yaudah Kak, duluan ya." pamit Safa karena hari mulai beranjak sore. Dan pasti Dinambo menunggu bingkisan Freid Chicken dari Kakaknya.

"Oke, hati-hati ya!"

"Siap"

"Nama gue Adit."

Sebernya tidak perlu Adit mengatakannya karena memang Safa sudah tahu sedaritadi. Safa membalasnya dengan senyum gurih. Dan berlalu mendahului Adit.

Tidak cuma hal manis tentang Adit saja yang dibayangkan Safa, namun hal yang menyebalkan tidak mau ia ulangi lagi apalagi berurusan dengan orang yang bernama Rafa. Namanya akan terus terpatri dalam diri Safa sebagai orang ter sok, ter sombong, dan ter, ter lainnya.

TBC...







 
So, happy reading ya^^

Btw, bagi yang bertanya-tanya kok Safa manggilnya Dinambo sama adiknya, soalnya Dina itu uculll banget, pipinya tembem kaya bakpaoo. ({})

Tunggu di part selanjutnya ya! Thankyou.

Continue Reading

You'll Also Like

36.7K 1.5K 26
Love can change. Whether to Hate or whatever it. BELUM DI REVISI MAAF JIKA MASIH ADA TYPO. MOHON PENGERTIANNYA Jangan lupa vomment ya:) Makasih. Co...
80.8K 5.1K 45
Tell me if this wrong, cause i already addicted to you.
1.9M 79.3K 73
[PART LENGKAP] #1 IN KISAH REMAJA [22/02/2022] Galang Pramudya, ketua The Lion di SMA Elang, yang terkenal ganas dalam menghabisi musuhnya. Tapi beru...
2.3K 186 16
Kebersamaan dapat membuka celah dihati seiring berjalannya waktu. Berada disampingmu itu sebuah kenyamanan bagiku. Kamu yang selalu sabar, kamu yang...
Wattpad App - Unlock exclusive features