Unlock My Heart

By mlyyns

123K 3.1K 32

Dari kejauhan, aku menyiratkan pertanyaan "Ada apa?" melalui pandanganku yang dingin saat pandangan kami bert... More

[Satu]
[Dua]
[Tiga]
[Empat]
[Lima]
[Enam]
[Delapan]
[Sembilan]
[Sepuluh]
[Sebelas]
[Dua Belas]
[Tiga Belas]
[Empat Belas]
[Lima Belas]

[Tujuh]

4.4K 192 3
By mlyyns

Karine menganga saat melangkah masuk ke pesawat pribadi milik Adrick. Nuansa putih mendominasi ruangan itu. Terdapat dua sofa panjang berbentuk L yang saling berhadapan dan satu sofa nyaman privasi. Itu pasti tempat Adrick biasa mendudukkan dirinya. Diantara sofa itu terdapat meja bulat kecil dengan kaca mengkilap.

Ia tidak sadar dan terus masuk ke penjuru pesawat. Meninggalkan Adrick yang sudah duduk di sofa privasinya itu. Langkah kaki Karine terhenti saat ia melihat ruangan yang berwarna putih juga. Tetapi ada meja kayu jati berwarna coklat untuk makan. Ada empat sofa nyaman mengelilingi meja coklat indah tersebut. Di samping meja ada tiga jendela pesawat kecil yang akan menampakkan keadaan awan awan saat terbang nanti.

Senyuman terbentuk di bibirnya. Seumur hidup ia tidak pernah berharap dapat menginjakkan kakinya di sini. Menjadi sekretaris Adrick benar benar menjungkirbalikkan hidupnya.

"Puas melihat-lihat​?" Suara berat Adrick menyapa. Karine memutar badannya. Menatap Adrick dengan enggan. "Maaf atas ketidaksopananku" Ujar Karine tidak enak. Dia benar benar lepas kendali saat melihat pesawat indah ini.

"Tidak apa. Jadwal pertemuan kita dengan Reyhan kapan ya?" Karine menatapnya sebentar. Pikirannya tiba tiba kosong begitu saja karena tidak menyangka Adrick bertanya hal itu. Lalu saat sadar ia tergepoh-gepoh mengambil jadwal di tas tangannya.

"Lusa, Son. Di Berners Tavern" Adrick mengangguk. Penerbangan ini memang dilakukan untuk bertemu dengan Reyhan, direktur muda dari Perusahaan Desain yang sangat terkenal di London. Tadinya Karine mengira hanya Adrick yang akan ada di pesawat ini. Ia tidak akan ikut. Tapi ternyata ekspetasinya berbeda dengan kenyataan.

Rencananya Adrick dan Reyhan akan bekerjasama membuat Fashion Show dengan tema Winter in London yang akan diadakan di Indonesia.

Mengingat hal ini membuatnya sedih lagi. Ia benar-benar ingin menuangkan idenya pada acara ini. Tetapi posisinya sekretaris sangat tidak memungkinkan.

"Kau bisa istirahat dulu. Penerbangan kita akan memakan waktu 15 jam" Karine mengernyitkan dahinya. Secepat itu? Tadi pagi ia sempat searching di internet, katanya penerbangan Jakarta-London akan memakan waktu 24 jam. Mungkin karena pesawat pribadi ini jadi lebih cepat.

Karine mengangguk dan berjalan menuju sofa di depan. Tentu saja ia akan tidur di Sofa yang terlihat empuk itu. Langkahnya terhenti saat Adrick memanggilnya. "Kau bisa tidur di kamar khusus. Jalan dari sini dua puluh langkah dan lihat ke kiri. Itu ruangannya" Ujarnya sebelum berlalu melewati Karine.

Kamar khusus? Dengan perasaan penasaran ia melangkah sesuai instruksi dari Adrick. Ia melihat pintu berwarna coklat mengkilap yang indah. Sebelum membukanya, jarinya sempat menyentuh pintu itu.

Napas Karine tercekat saat dia membuka ruangan itu. Di dalam ruangan itu di dominasi oleh warna abu-putih. Terdapat kasur minimalis berseprai biru langit, sofa berbentuk L yang tidak terlalu panjang. Hanya bisa diduduki tiga orang. Sepertinya ruangan ini khusus untuk sekretaris Adrick. Pikirnya. Karena di dalamnya terdapat laptop, printer dan lemari tempat untuk menyimpan beberapa file. Ana pasti sudah pernah beristirahat di kamar ini.

Tiba tiba sebuah pikiran tak seharusnya menyelinap ke dalam otak Karine. Kekasih Adrick pasti adalah orang yang beruntung. Bayangkan saja, ia memiliki pesawat pribadi semewah ini. Karine tidak dapat membayangkan sebesar apa kediaman Adrick.

Tetapi sepertinya ia tidak memiliki kekasih. Tidak pernah ada yang mengosipkan dirinya dengan seorang wanita. "Tentu saja! Mana ada wanita yang mau dengan pria bossy sepertinya! Untuk apa banyak uang tapi tidak dicintai!" Gerutu Karine.

"Aku bisa mendengarnya, rine" Karine tersentak saat mendengar suara Adrick dari arah pintu. "Jangan mengatai seseorang di belakangnya. Apalagi jika itu bosmu" Ujarnya sambil menyeringai lalu berjalan mengambil ponselnya di atas meja kecil tempat laptop yang dilihatnya tadi.

Napasku tercekat. Jantungku rasanya akan jatuh sekarang juga. Aku, sekretaris ketahuan mengatainya di belakangnya. Apalagi mengomentari hubungan percintaannya. Ini benar-benar memalukan! Karine merasa wajahnya sudah merah padam.

Untung saja Adrick langsung keluar sebelum Karine menjawab sesuatu. Hembusan napas lega keluar dari mulutnya. Sepertinya mood Adrick sedang baik, pikirnya. Karena biasanya dia hanya akan marah-marah, bukannya malah menyeringai seperti tadi.

Karine mendudukkan dirinya di atas kasur yang sangat empuk. Kasur ini pasti benar benar nyaman. Tubuhnya mendadak saja lemas saat tubuhnya berbaring sempurna di atas ranjang. Dia benar-benar​ membutuhkan istirahat. Perjalanan ini akan sangat panjang sepertinya.

Saat terbangun, langit-langit ​berwarna putih yang terlebih dahulu menyapa. Benar saja, ranjang ini benar-benar​ empuk. Mampu melepaskan semua kelelahannya dari kemarin. Meskipun tidur di pesawat. Dulu, saat perjalanannya untuk liburan bersama Dinda, dia tidak akan tidur pulas. Jelas saja, mereka hanya tidur di kursi penumpang. Ia meraba ponselnya yang ada di sisi kanannya.

Sudah delapan jam ia tertidur. Jujur saja ia mengeluh, perjalanan ini masih panjang meskipun ia sudah tertidur. Berdiri di depan kaca menampakkan wajahnya yang khas bangun tidur, rambut berantakan dan blazer dan roknya yang sedikit kusut. Jari-jari menyusuri rambutnya, merapikannya dengan pelan.

Jantungnya seakan berhenti berdetak saat ia melihat ke arah pintu kamar. Pintu kamar sudah terbuka dan menampilkan dirinya yang sedang bersandar di pintu.

Ia kembali menyeringai. Entah mengapa hari ini Karine menangkapnya menyeringai berkali-kali. Pria itu memang sulit dimengerti. Batinnya berbisik.

"Sudah bangun?" Tanyanya sambil tersenyum. Senyuman yang tak dapat diartikan oleh Karine. Ia mengangguk. Adrick mengajaknya keluar dari ruangan dengan memberikan isyarat untuk mengikutinya dari belakang. Tetapi sebelumnya ia meminta Karine untuk membawa beberapa dokumen.

Karine menurut sambil mengikuti langkah Adrick yang tenang. Sampailah mereka di ruang makan. Mereka duduk berhadapan. "Lapar?" Tanyanya tenang. "Tidak terlalu, sebenarnya" Jawab Karine. Jujur saja, ia tidak merasa lapar sekarang. "Kita akan makan. Sekarang" Jawabnya datar. Baik, Adrick yang bossy datang lagi. Gerutunya dalam hati.

"Classic Roast Chicken dan Soup Beef Barley, Renno" Ucap Adrick tanpa melihat menu. Sedangkan Karine sedang bingung membolak-balik menu di hadapannya sekarang.

"Apakah ada nasi goreng dan kerupuk?" Tanya Karine polos. Ia tidak terlalu tertarik untuk masalah makanan kebarat-baratan ini. Kecuali jika berhubungan dengan Cuprise, dia selalu tahu menu terbarunya dari dulu. Karena ia pecinta jeruk.

Adrick yang mendengar pertanyaan Karine pada Renno, koki pesawatnya tersenyum merasa lucu dengan Sekretarisnya ini. Renno mengangguk sopan sambil menatap Karine senang. Setelah selesai, ternyata Renno mempunyai menu nasi goreng andalan yang sangat terkenal di Inggris. Pantas saja ia terlihat senang saat Karine memesan nasi goreng.

Awan cerah beradu dengan kecepatan pesawat. Karine merasakan ketenangan saat melihat pemandangan itu dari jendela berukuran 30x30 cm itu.

"Apa kau memiliki ide yang menurutmu cocok untuk Fashion Show kali ini?" Tanya Adrick mengusik ketenangan Karine. Karine menatapnya dengan pernyataan tegas -Tentu-saja-aku-punya. Sebelum ia berhasil menjawab, Adrick kembali berkata "Apa idemu? Jelaskan" Ingin rasanya ia memaki Adrick yang selalu bisa membaca pikirannya.

"Menurutku akan lebih bagus bila konsep kita kali ini bukan di ruangan tertutup yang biasa melainkan di arena ice skating. Dengan konsep musim dingin pasti akan lebih cocok di tempat ini. Selain itu, kita juga bisa menam.." Ucapan Karine terhenti saat ia merasa ada yang janggal. Adrick menatapnya seakan bertanya mengapa ia berhenti. "Kenapa kau bertanya padaku? Sekarang aku bukan lagi tim kreatif." Ujar Karine bingung. "Memangnya kenapa?" Karine melongo saat ia berbalik bertanya. Ia merasa tidak seharusnya memaparkan konsepnya di saat ia bukan lagi tim kreatif. Tim kreatif memang mengurus banyak aspek.

Mulai dari bagaimana konsep lokasi peragaan busana, busana apa saja yang akan ditampilkan, modelnya siapa saja, merancang busana yang unik dan berbeda, memilih dan mengurus lokasi yang tepat.

"Aku hanya ingin tahu. Sepintar apa kamu hingga Denand terus memujimu di depanku." Ujarnya sambil tersenyum. Entah mengapa Karine merasa ia diremehkan. Tapi ia sedikit kaget ketika ternyata Denand memuji dirinya di belakangnya. Senang? Tentu saja.

"Untuk apa kau menjadikanku Sekretarismu kalau kamu tidak mempercayai kemampuanku?" Karine sedikit tersinggung dengan pernyataan Adrick barusan.

"Aku hanya ingin mengetahui kemampuanmu dalam bidang kreatif" Ujarnya santai, mengangkat bahunya. "Sayangnya, kau terlambat. Aku sudah menjadi sekretarismu, bukan lagi tim kreatif yang memaparkan ide" Ujar Karine ketus.

"Tapi baru saja kau memaparkan idemu" Karine tersentak saat mendengar jawaban Adrick yang benar. Menjawab pertanyaan dari orang mengenai idenya adalah suatu kebiasaan. Hal ini benar-benar membuatnya lupa bahwa ia bukan lagi bagian dari itu lagi.

"Hal itu tidak akan terjadi lagi" Ujar Karine datar. Sebelum Adrick menjawab, Renno sudah datang membawa menu yang tadi mereka pesan. Bersama seorang wanita di belakangnya membantunya.

Wanita itu melihat Adrick dengan penuh damba. Tangannya sedikit bergetar saat ia meletakkan sup yang dipesan Adrick di depan lelaki itu. Karine mendengus. Untuk apa ia mendambakan pria keras kepala seperti Adrick.

"Karena aku memang pantas didambakan" Jawab Adrick santai sebelum menyantap makanannya dengan elegan. Sedangkan Karine kembali tersentak kesekian kalinya. Pria ini benar-benar dapat membaca pikiranku! Ini gawat! Teriak Karine dalam hati berkali-kali sambil menyantap nasi gorengnya ragu-ragu. Tanpa menyangka bahwa harga nasi goreng itu 20 pounds.

"Kita akan kemana setelah ini?" Tanya Karine sambil menyantap makanannya yang benar-benar enak itu. Adrick hanya menatapnya datar dan mengangkat tangannya di udara.

Karine menutup bibirnya. Sepertinya Adrick tidak ingin berbicara saat sedang makan. Dia benar-benar bukan orang yang menyenangkan. Makinya sekali lagi dalam hati.

Continue Reading

You'll Also Like

52.8K 6.2K 41
Warning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 15/10/23 - 1...
222K 16.2K 16
BEBERAPA PART SAYA HAPUS UTK KEPENTINGAN PENERBITAN Warning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan...
1.1M 35K 88
WARNING !! Cerita ini bakal bikin kamu salting brutal dan senyam senyum sendiri!!! *Short Chapter Warning* - - - "Aku gak percaya kalau kamu cuma per...
507K 55.8K 30
Warning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 10/2/18 - 18...
Wattpad App - Unlock exclusive features