-Kylie POV-
"Merry Cristmas, beautiful"
"Oh Tuhan, kau membuatku kaget" ucapku saat melihat Liam berdiri di depan pintu rumahku memakai pakaian serba merah dan membawa bunga.
"Thanks" ucapku saat menerima bunga dari Liam.
"Kemana orangtuamu dan Sidney?" tanya Liam saat melihat rumahku kosong.
"Mereka berlibur ke rumah grandma" jawabku sambil menyusun bunga dari Liam di vas.
"Dan kau tidak ikut?"
"Nope"
"Kenapa?"
"Sedang malas saja. Lagipula minggu depan grandma akan kesini"
"Huh payah. Malam ini Harry mengadakan pesta. Wanna join?" tawar Liam.
"Mau!!" ucapku dengan semangat.
"Okay, nanti Chesca akan kusuruh kesini untuk mendandanimu. Karna aku yakin kau tidak bisa berdandan" ucap Liam sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan meremehkanku, tuan"
"Aku hanya berbicara fakta"
"Terserah kau saja, botak"
"Okay then, aku dan Harry akan menjemput kalian jam setengah tujuh"
"Okesip"
"Bye Kyle!" ucap Liam lalu masuk ke mobilnya.
"Bye Li"
----------------------------
"Chesca!!"
"Whooaa, calm down, babe. Ayo kita bersiap" ucap Chesca dan langsung menaruh semua barang bawaannya di kasurku. Aku bersumpah ini sangat banyak. Oh, ini pertanda buruk untukku.
"What are you waiting for? C'mon, duduk disini" ucapnya sambil mendorongku duduk di meja rias.
"Ches, ini sangat berlebihan" ucapku saat Chesca memakaikan maskara.
"No, ini membuatmu lebih cantik, honey. Percaya padaku"
Bukanya aku meragukan Chesca untuk nendandaniku, tapi aku sangat tidak percaya diri jika harus memakai make up sebanyak ini.
-----------------------------
Tin.. Tin..
Mendengar bunyi klakson mobil dari depan rumahku, pertanda Harry dan Liam sudah sampai, aku dan Chesca pun bergegas untuk keluar, tak lupa kami berdua merapikan tatanan kami terlebih dahulu.
"Kau yakin tampilanku tidak terlihat, uhm--aneh?" tanyaku.
"Stop merendahkan diri, Edwards. You look perfect" jawabnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ready?" lanjutnya.
"Yaps"
Dengan itupun aku dan Chesca keluar dari rumahku. Diluar, aku melihat Liam dan Harry yang sudah menunggu kita diluar mobil.
Oh, mereka sangat tampan. Bedanya malam ini Harry memakai fedora sedangkan Liam tidak.
"Hm, hai" sapaku saat mendatangi mereka.
Mereka berdua pun memandangku dan Chesca secara bergantian tanpa berkedip. Ini berlebihan.
"Oh man, apakah sekarang kita ada di surga? Mengapa kita sudah bertemu bidadari secantik mereka" ucap Harry pada Liam.
"Kita memang cantik, Styles. Lagipula mana mungkin kau masuk surga jika dosa mu sangat banyak" ucap Chesca sarcas dan memutar bola matanya.
"Jangan begitu, babe" ucap Harry yang lalu ingin mencium bibir Chesca tapi dengan cepat Chesca menolehkan kepalanyanya, jadi akhirnya Harry mencium pipi Chesca.
"Not now, Harry. Kau bisa membuat ini berantakan" kata Chesca.
"Ugh, fine! Ayo kita berangkat, princess" ucap Harry lalu membukakan pintu mobilnya untuk Chesca. Mereka pun berangkat duluan.
Haha, mereka adalah pasangan yang lucu sekaligus menggelikan di waktu bersamaan.
"Mereka aneh" ucap Liam tiba-tiba.
"Yeah, I know that, haha"
"Hmm, by the way kau sangat cantik, Kyle" puji Liam.
"Really?"
"Yas, sangat cantik"
"Thanks. Kau juga, uhm--sangat tampan"
"Yeah, aku tau kau akan berkata seperti itu" aku langsung memutar bola mataku mendengar ucapan Liam.
"Ayo kita berangkat" lanjutnya.
-------------------------
-Author POV-
"Kau mau minum apa? Biar kuambilkan" tanya Liam.
"Samakan saja denganmu. Tapi aku tidak ingin mabuk. Kutunggu kau di balkon"
Liam pun mengangguk lalu pergi mengambil minuman, sedangkan Kyle pergi ke balkon menunggu Liam.
Won't you stay till the a.m
All my favorite conversation
Always made in the a.m, yeah..
Kyle bersenandung kecil sambil menunggu Liam. Tapi tiba-tiba dia mendengar pintu balkon dibuka, tanda ada orang yang masuk.
"Cepat sekali kau mengambil minuman" ucapnya tanpa mengalihkan pandangan yang ia lihat dari balkon.
"Ekhem" setelah mendengar dehaman dari seseorang, barulah ia menyadari jika yang datang tadi adalah bukan Liam. Kyle pun menoleh kebelakang untuk memastikan siapa yang berada di balkon bersamanya.
"Zayn?" gumamnya saat melihat siapa yang datang.
Ya, ternyata yang saat ini di balkon bersamanya adalah seorang Zayn Malik, mantan kekasihnya.
"Hmm, apa yang kau lakukan?" tanya Kyle.
Mendadak suasana di balkon yang tadinya sangat tenang, seketika berubah menjadi sangat canggung.
"Umm, apa kau melihat Zoey? Atau mungkin Niall?" tanya Zayn balik.
"Tidak" jawab Kyle sambil menggelengkan kepala.
"Hm, boleh aku kesitu? Kurasa kita perlu bicara" ucap Zayn.
Karna Kyle tidak juga menjawab Zayn, jadi ia langsung saja berjalan kearah tempat disamping Kyle tanpa persetujuan Kyle terlebih dahulu.
"So, ada apa?" tanya Kyle to the point.
"Sorry" ucap Zayn.
"For what?"
"For everything"
"Za--"
"Aku minta maaf telah berkata kasar padamu waktu itu. Aku minta maaf tentang permainan sialan ini. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Sungguh. Aku hanya ingin membuktikan ke Niall jika aku tidak secemen yang ia kira"
"Jadi kau pikir setelah kai membohongiku, kau menjadi hebat?! Kau tidak mengerti perasaanku, Zayn! Aku mencintaimu! Apa itu kurang jelas?? Kau--"
"I'm so sorry, Kylie" tiba-tiba saja Zayn langsung memeluk Kyle dan seketika itu pula air mata Kyle jatuh.
"Maafkan aku. Aku tau aku bajingan. Aku tau aku sudah menyakitimu. Aku tau aku salah. Maafkan aku" ucap Zayn, lalu Kyle melepaskan pelukannya dan mengelap air matanya sendiri.
"Apa kata maaf itu menurutmu cukup untukku??"
"Kyle, aku menyesal" ucapnya lalu menundukkan kepala.
"Menyesal? Menyesal kau bilang? Kau menyakitiku secara terang-terangan Zayn! Jika kau hanya menyesal tentang tantangan ini, kau pasti tidak akan membiarkanku melihatmu bermesraan dengan pacar barumu itu! Aku hancur Zayn!" ucap Kyle berteriak didepan Zayn.
"Aku tidak bermaksud"
"Bajingan kau Zayn"
"Terserah kau mau mengataiku apa, aku memang pantas menerima itu. Aku sangat menyesal, aku minta maaf, Kyle"
"Aku tidak mau bertemu denganmu lagi Zayn. Sekarang, kau bisa pergi dari sini" ucap Kyle.
"Tap--"
"Pergi Zayn"
"Kyle"
"Aku mohon" pinta Kyle.
"Baiklah, aku akan pergi. Sekali lagi aku minta maaf, Kylie" ucap Zayn lalu berbalik badan untuk keluar.
"Aku benci saat aku masih mencintaimu, Zayn" gumamnya sambil menundukkan kepala.
"I love you too, Kyle" sontak Kyle langsung mendongakan kepalanya mendengar ucapan Zayn yang sedang tidak menghadapnya itu.
"As friend" lanjutnya.
Lalu Zayn pun pergi. Sedangkan Kyle, dia kembali menutup wajahnya dengan tangannya dan menangis lagi.
'Tuhan, tadi itu sangat menyakitkan' batin Kyle.
"Kyle?"
"Oh hai, Li. Kau lama sekali" ucap Kyle dan mengusap air matanya dengan kasar.
"Aku sudah selesai daritadi" ucap Liam lalu berjalan kearah Kyle dan memberikan minumannya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Liam.
"Maksudmu?"
"Kau tau betul apa maksudku. Kenapa kau bisa menangis lagi? Apa yang telah dia lakukan?" ucap Liam.
"Li, aku sungguh ti--"
"Kylie, please"
"Tadi dia minta maaf denganku. Dan mungkin aku terlalu membawa perasaan, jadi aku menangis" jelas Kyle.
"Lalu kau memaafkannya?" tanya Liam.
"Entahlah, aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya menyuruhnya pergi dan tidak menemuiku lagi" jelas Kyle.
"Kenapa begitu? Bukannya kau masih mencintainya?" tanya Liam lagi.
"Maka dari itu aku ingin move on darinya" jawab Kyle.
"Jangan menangis lagi" ucap Liam dan merangkul Kyle.
"Ada yang lebih mencintaimu, Kyle" lanjutnya dengan sangat pelan, seperti gumaman.
"Apa?"
"Tidak, lupakan saja"
-----------------------------
-Zayn POV-
"Oh Tuhan, kau dari mana saja, pirang?" tanyaku saat melihat Niall sibuk dengan cupcake nya.
"Apa? Aku hanya kelaparan, jadi aku mencari makan" jawabnya tanpa bersalah.
"Sekarang dimana Zoey? Kau tadi bersamanya kan?" tanyaku.
"Eh, uhm, Zoey ya?" ucapnya sambil menggaruk tengkuknya.
"Dasar bodoh! Cepat cari dia"
"Hm, tunggu aku menghabiskan ini semua ya"
"Kelamaan bodoh. Aku akan mencarinya sendiri saja"
Ting!
Bunyi dari handphone ku pertanda sms masuk membuatku harus menunda niatku mencari Zoey, dan akupun membuka sms nya.
From : Zoey
"I'm sorry, Z. Aku pulang duluan, ada urusan mendadak. Aku pulang dengan Jessie. See ya babe :* "
To : Zoey
"Okay then, be carefull, princess. Goodnight :* "
From : Zoey
"Yeah. Goodnight too"
"Who's that?" tanya Niall.
"From Zoey. Katanya dia pulang duluan sama Jessie" jawabku.
"Ohh"
"Kalo gitu, aku juga ingin pulang, Horan. Bye"
"Yeah. Bye"
Setelah itupun aku berjalan keluar dari flat dan mencari mobilku di parkiran. Setelah mendapatkan mobilku, akupun segera masuk.
Tapi saat aku ingin menyalakan mesinnya, aku melihat dompet Zoey yang tertinggal di bangku penumpang. Tadinya aku berpikiran untuk mengembalikannya besok, tapi mengingat jalan menuju apartment ku searah denga apartment Zoey, jadi aku berniat mengembalikannya dulu sebelum pulang. Lagian pasti Zoey juga belum tidur.
-------------------------------
Ting tong..
"Zoo" aku memencet bel apartment nya dan memanggil nama kekasihku.
Ting tong..
Aku mencoba untuk memencet bel nya lagi ketika tidak ada jawaban dari dalam.
"Zoey, honey?" ah, Zayn bodoh! Mengapa tidak menelponnya saja?
Aku pun mengambil ponselku dan menelpon Zoey.
Tersambung, tapi tidak ada jawaban.
Where's she? Apa sudah tidur? Ah tidak mungkin dia sudah tidur jam segini.
Saat aku ingin mencoba untuk menelponnya lagi, aku mendengar suara Zoey yang sesekali tertawa. Aku tidak tau dia sedang mengobrol apa dan mengobrol dengan siapa. Apa mungkin tadi Jessie sempat kesini? Ah sudahlah, daripada aku bingung dengan semua pertanyaan yang ada di pikiranku, aku pun mencoba masuk ke dalam.
Ceklek. Pintunya tidak dikunci.
"Zoo? Zoey?"
"Babe? You there?"
Saat aku ingin berjalan kearah kamarnya karna aku melihat ruang tengah kosong, tiba-tiba saja aku mendengar ada sesuatu yang jatuh dari arah dapur.
"Who is there? Zoey?"
"Oh fuck" umpatku saat melihat Zoey yang duduk di meja pantry dan berciuman dengan seorang lelaki lain.
Mereka yang belum menyadari kehadiranku tetap asyik dengan kegiatannya sampai tidak memperdulikan barang-barang yang berjatuhan dari meja pantry.
"Oh, malam natal yang sangat indah" ucapku ketus.
Seketika itu pula mereka menghentikan kegiatannya dan menyadari kehadiranku. Akupun melihat wajah panik Zoey yang menatapku.
"Za-zayn-a-aku-aku"
"Ssstt, lanjutkan saja kegiatan kalian. Aku hanya mengembalikan dompetmu" ucapku lalu melemparkan dompet Zoey ke meja yang ada disampingku dan berbalik untuk keluar.
"Zayn!" aku merasakan Zoey turun dari meja pantry, aku pun berhenti sejenak tanpa berbalik badan.
"Dan-oh ingat, kita tidak ada hubungan lagi, nona" ucapku lalu berjalan keluar.
"Zayn wait!" Zoey mencoba menghentikanku, tapi sepertinya ditarik kembali oleh lelaki tadi. Aku tidak peduli lagi.
Ternyata Liam dan Kyle benar.
She's a bitch.
-----------------------------
-Author POV-
"Bantu aku, please"
"Tidak tidak, aku tidak bisa"
"Tolonglah, aku tidak bisa melakukannya sendiri"
"I'm so busy. Sorry"
"Ayolah, please. Aku tau kau akan sangat membantu"
"Okay okay. Karna aku manusia berhati malaikat, aku akan membantumu"
"Oh, termakasih banyak. Kau terbaik, Styles!"
******************
HAHA gantung. Biarin