A Gift From God

By NizhaMiraldi

28.3K 1.4K 353

Kadang tidak habis pikir, kenapa orang-orang di Jakarta rela pergi pagi pulang pagi agar bisa membeli rumah d... More

Appetizer
Menu 1 : Namanya...
Menu 2 : Secarik Kertas Untuk Gita
Menu 3 : Kelas Kosong
Menu 4 : Barter
Menu 5 : Sakit
Menu 6 : Orangnya Galak!
Surat untuk Alfa
Menu 8 : Kenapa?
Menu 9 : Jangan Manis-Manis
Menu 10 : Khilaf
Menu 11 : Situ Siapanya?
Menu 12 : Mau Apa?
Menu 13 : Cowok Bermata Coklat
Menu 14 : He's Back!
Menu 15 : Memori Menyakitkan
Menu 16 : Mau Sampai Kapan?
Part 17 : OH
Part 18 : Cowok di Halte
Menu 19 : Bukan Alfa
Menu 20 : Please
Menu 21 : I hate you, I love you
Menu 22 : Gengsi
Menu 23 : Trauma
Menu 24 : Haruskah?
Resep: Move On
Menu 25 : Kotak Kenangan
Menu 26 : Berjuang itu capek!
Menu 27 : Teori Si Psikolog Gagal
Menu 28 : Iya
Menu 29 : Ngga!
Menu 30 : Salah ya?
Menu 31 : Malu tapi Mau
Menu 32 : Mungkin Sebuah Akhir
Menu 33 : Terbang Jauh.
Menu 34 : Sebuah Akhir
Surat Untuk Gita
Part yang Hilang
EXTRA PART 1
EXTRA PART 2 - Minta Restu
EXTRA PART 3 - SAH
EXTRA PART 4 : Salah Lagi!
EXTRA PART 5 : HOMESCAPES

Menu 7 : Cengeng

674 43 6
By NizhaMiraldi

Happy reading !

Alfa sedang memasukkan beberapa batang coklat ke dalam tasnya kala Gita turun ke ruang keluarga, sama seperti Gita, ia juga sudah berganti pakaian di kamar orang tuanya, jeans berwarna pudar dan kaos putih dilapisi jaket abu-abu kini melekat sempurna di tubuhnya, membuat Gita hampir tidak berkedip ketika sampai di hadapan Alfa.

"Kita mau kemana sih?" Tanya Gita seraya mengambil satu batang coklat yang belum dimasukkan Alfa kedalam tas.

"Nganter lo pulang," tangan Alfa dengan cepat mengambil kembali coklat dari tangan Gita, mengabaikan ucapan cewek itu yang mencibirnya pelit berkali-kali. "Ngapain lo malah duduk?"

"Auk!" Gita mengembungkan pipinya kesal, menendang Alfa begitu saja yang sudah siap dengan ransel di pundaknya. Cowok itu hanya menatap Gita tajam tanpa berniat membalas perlakuan Gita.

Mengingat sifat cueknya, harusnya Alfa sudah meninggalkan Gita begitu saja, namun ketika pandangan matanya bertubrukan dengan mata Gita, ada kilat kesedihan yang membuatnya mengingat seseorang, Alfa mengulurkan tangannya kearah Gita, menganggukkan kepala ketika cewek itu bertanya akan ikut Alfa bukannya dipulangkan ke rumah. Tentu saja Gita dengan sukarela menyambut uluran tangan Alfa, membiarkan tangannya digenggam sampai ke depan pintu rumah.

"Jangan rese dan jangan tanya apapun karna gue juga ngga bakal jawab, ngerti?" Kata Alfa sebelum menyerahkan helm ke tangan Gita, "Dan jangan nyuruh gue ngga ngebut karna bukan gue yang maksa lo ikut."

Bibir Gita mengerucut, namun mau tidak mau ia tetap mengangguk. Menerima helm dari Alfa dan langsung memakainya di kepala. Kalau boleh jujur, ini pertama kalinya ia akan merasakan naik kendaraan roda dua, orang tuanya selalu menyediakan mobil yang siap mengatarkannya kemanapun. Tapi tidak mungkin Gita jujur pada Alfa, bisa-bisa cowok itu akan mengerjainya habis-habisan di jalan, terlebih lagi ia tidak akan tau kemana dirinya akan dibawa. Yah daripada menderita di rumah, lebik baik ia ikut Alfa meskipun dengan resiko mengidap darah tinggi diusia muda, mengingat sifat cowok itu yang mudah sekali membuatnya naik darah.

"Sini," Alfa menarik tangan Gita agar tubuh cewek itu mendekat ke sisinya, mengaikat tali helm yang lupa dipasang oleh Gita. "Nanti jatoh malah nyusahin gue," katanya setelah selesai, ia mengedikkan kepalanya kebelakang, mengisyaratkan Gita supaya naik ke jok belakang.

"Bahkan Gilang ngga segalak lo," gerutu Gita untuk menghilangkan kegugupannya, bagaimana bisa jatungnya senorak ini ketika berdekatan dengan Alfa? Ia menuruti perintah cowok itu untuk naik keatas motor, tangannya memegang ujung jaket Alfa, takut akan jatuh kebelakang jika motor dinyalakan.

"Yaudah sana sama Gilang," jawab Alfa sambil menstarter motornya, membuat Gita tertawa tanpa bisa dicegah, "Dih baper hahahahahaha," tawa yang terdengar seperti ejekkan untuk Alfa.

Gita boleh saja terus tertawa, sementara tangan Alfa sudah menarik kopling dan kakinya sudah menginjak parseneling, tangannya perlahan melepaskan kopling, kini tangan kanannya menarik gas tanpa peringatan, membuat Gita tersentak dan memeluk Alfa tanpa sadar.

"Modus woy!" ejek Alfa dengan tawa puas, menepuk tangan Gita yang kini melingkari perutnya.

"Onyet lo!" Gita melepaskan pelukkannya, memukul Alfa berkali-kali dengan kesal, untung saja Alfa tidak bisa melihat wajahnya yang sudah memerah seperti tomat di pasar malam.

@@@

Matahari tepat di atas kepala ketika motor Alfa berhenti di sebuah rumah yang terletak di tengah perkampungan. Jangan tanya Gita sekarang ada dimana, yang ia tau bahwa sekarang dirinya tidak terlalu jauh dari ibukota, hanya 2 jam perjalanan ketika menuju ke tempat ini. Alfa mematikan motornya, menepuk lutut Gita agar cewek itu segera turun dari motornya. Belum sempat mulut Gita terbuka untuk bertanya ini rumah siapa, seorang gadis kecil keluar rumah menggunakan kursi roda.

"Kak Alfa, ya?" Gadis kecil itu dengan senyum cerah, sementara Gita menautkan kedua alisnya di balik punggung Alfa, ia yakin mata gadis kecil itu mengarah kearah Alfa, atau mungkin cowok itu yang tidak dikenali oleh pemilik rumah?

"Kok tau sih?" balas Alfa dengan suara lembut, kali ini sukses membuat mata Gita membeliak saking tidak percaya, seorang Alfa mempunyai sisi lembut? Sulit dipercaya! "Turun lo!" bentak Alfa dengan suara tertahan. Nah, kalau begini bagaimana Gita bisa percaya?

Gita turun dari motor dengan tampang kesal, meletakkan helm begitu saja di atas spion Alfa, lalu ia berjalan mendekati gadis kecil yang masih saja memasang senyum untuk menyambut kedatangan Alfa. "Tauu donggg, aku kan bisa cium bau coklat," kini gadis kecil itu menjulurkan lidahnya, membuat siapapun yang melihat akan gemas dibuatnya. "Kakak bawa temen, ya?"

Langkah Gita terhenti, jadi sejak tadi gadis kecil itu tidak mengetahui keberadaannya? Dengan cepat ia membalikkan badannya ke arah Alfa, menaikkan alis seolah bertanya tentang gadis kecil yang sedang duduk di kursi roda. Namun seperti ucapan cowok itu sebelumnya, Alfa tidak akan menjawab pertanyaan apapun yang keluar dari mulut Gita.

"Namanya kak Gita," Alfa turun dari motornya setelah melepas jaketnya, berjalan mendekat lalu merangkul Gita supaya melanjutkan langkah, ia melepas rangkulannya ketika sudah sampai di depan gadis kecil itu, berjongkok dan mengacak rambut anak kecil itu seperti biasanya. "Maaf ya baru sempet kesini lagi."

"Iya, ngga apa-apa," kedua tangan gadis kecil itu terulur kearah Alfa, "Coklatnya mana?"

Alfa membuka tasnya, memberikan empat batang coklat kepada gadis kecil itu, Gita yang berdiri di dekat mereka hanya bisa mendengus melihat coklat yang ada di tas Alfa kini berpindah tangan. "Nih ada sisa," secara tiba-tiba cowok itu melempar sebatang coklat pada Gita.

Tanpa mengucapkan terima kasih Gita langsung membuka coklat tersebut dan memakannya dengan lahap, cacing di dalam perutnya sudah konser minta diberi jatah makan. Selagi makan Gita menyiptkan matanya untuk memperhatikan gadis kecil yang menurutnya sangat menyedihkan, disaat anak seusianya sedang berlarian justru gadis kecil itu harus terjebak di kursi koda. "Nama kamu siapa?" Gita memberanikan diri untuk bertanya, rasanya sekedar bertanya tentang nama tidak akan membuat Alfa membunuhnya.

"Zahra Azwar," gadis kecil itu menepuk punggung tangan Alfa yang berada di pangkuannya, kepalanya membungkuk, meskipun dengan suara kecil tapi Gita dapat menangkap apa yang zahra bicarakan pada Alfa, "Kak Gita cantik ngga, Kak?"

Mulut Gita berhenti mengunyah, bibirnya terkatup rapat saat mendengar pertanyaan Zahra, benar dugaannya tadi, mata zahra tidak bisa digunakan untuk melihat. "Atau cantikkan kakak yang sering Kak Alfa ceritain?"

Eh? Gita menaikkan satu alisnya, sudut matanya melirik Alfa yang kini juga melirik kearahnya, seolah akan memberi nilai mana yang lebih baik untuk sebuah perbandingan. Dibandingkan itu menyebalkan, tapi lebih menyebalkan lagi jika Gita tidak dapat memuaskan rasa penasarannya tentang sosok yang sering diceritakan Alfa kepada Zahra. Jika seorang Alfa yang bercerita, Gita yakin sosok itu merupakan orang yang istimewa.

"Kalo orang yang Zahra maksud ada di meja belajar Kak Alfa, yah Kak Gita sih cuma remah roti tawar," pancing Gita untuk mengetahui reaksi Alfa. Benar saja telunjuk cowok itu langsung mengacung kearah Gita lengkap dengan tatapan matanya yang sekelam langit malam. "Gue cuma liat foto kok," klarifikasi Gita sebelum cowok itu murka.

"Sumpah!" tambah Gita dengan nafas tertahan, pasalnya kini Alfa sudah bangkit dari posisi berjongkoknya, matanya tidak lepas menatap Gita, membuat cewek itu terintimidasi dan gelisah sendiri. Alfa melangkah mendekat, mengikis jaraknya dengan Gita. "Nyari mati?" tanya Alfa dengan suara rendah namun cukup membuat bulir keringat bercucuran di pelipis Gita.

Otak Gita mengutuk, namun bibirnya berkhianat tidak mau mengeluarkan umpatan apapun untuk Alfa. Selama ini, Gita tidak pernah takut melawan siapapun, bahkan sewaktu menjadi murid baru ia tidak segan untuk mendamprat kakak kelasnya yang bertindak kurang ajar, tapi kenapa menghadapi seorang Alfa keberaniannya menghilang begitu saja? Seperti dementor yang menghisap kebahagiaan, keberadaan Alfa benar-benar menyiutkan nyalinya. Ia tidak pernah seperti ini ketika menghadapi orang lain, merasa takut sekaligus gugup, padahal cowok itu tidak pernah bermain tangan kepadanya, harusnya tidak ada alasan untuk Gita kalah dari Alfa.

"Paan sih norak banget, sana jauh-jauh," Gita memalingkan wajahnya, enggan menatap Alfa yang sepertinya siap menelannya bulat-bulat.

"Kak," Zahra mengintrupsi keduanya, membuat Alfa mau tidak mau melepaskan Gita, padahal cowok itu sedang menikmatinya wajah ketakutan Gita, meskipun tidak terlalu ketara, ia tau cewek itu mengepalkan tangannya untuk menyalurkan emosi yang tidak dilampiaskan padanya. "Udah waktunya nih."

"Oke," Alfa mengeluarkan alat perang Zahra dari tasnya, buku gambar A3 dan seperangkat cat air untuk gadis kecil itu melukis. Biasanya ketika menjelang sore saat Alfa datang, Zahra akan melukis di pinggir lapangan selagi cowok itu asik bermain sepak bola, Zahra sangat suka mengira-ngira seperti apa rupa Alfa lewat gambarnya. "Tapi jangan gambar kakak lagi ya," tambahnya seraya meletakkan buku gambar dan cat air di atas pangkuan Zahra.

Zahra tertawa kecil, tangannya terulur untuk meraba wajah Alfa, sampai dibagian hidung, tangannya langsung menjepit hidung Alfa yang mancungnya seperti perosotan TK. "Ih pedenyaaa," Zahra semakin gemas menjepitnya, membuat cowok itu mengaduh kesakitan. "Kak Gita ikut yah, nanti kita cerita-cerita pas kak Alfa main bola," seru Zahra dengan riang gembira.

Tidak ada jawaban yang meluncur dari bibir Gita, ia sibuk membekap mulutnya dengan punggung tangan kala indera penglihatannya melihat apa yang dilakukan Zahra kepada Alfa, hal yang sama selalu ia lakukan pada Dirga saat masih bersama. Mendung di matanya kembali terbit, sosok Dirga yang sempat dilupakannya beberapa jam kembali datang menyerang ingatan.

Meskipun terlihat urakan, tetap saja tidak merubah fakta bahwa Gita adalah kaum hawa, dimana perasaannya lebih mendominasi dibandingkan akal sehatnya. Sekuat apapun, ia tetap tidak mampu melawan kenangan bersama Dirga, ia membenci cowok itu, namun Gita tidak dapat mengelak kalau Dirga pernah membuatnya bahagia, menjadi sandarannya ketika lelah, dan yang selalu mengingatkannya bahwa ia berharga.

"Git," entah sejak kapan Alfa kembali berdiri di hadapan Gita, meraih tangan cewek itu yang digunakan untuk menutupi mulut, "Jangan bego, sakit hati boleh tapi jangan nyakitin diri," Alfa mengusap bekas gigitan di punggung tangan Gita dengan ibu jarinya.

"Sakit banget tau," keluh Gita seperti anak kecil yang habis jatuh dari tangga. "Lo juga galak banget lagi, ngga tau apa kalo gue lagi galau."

"Makanya kalo gue bilangin tuh nurut!"

"Emang gue bocah apa?" kata Gita tidak terima.

"Emang!"

"Galak!"

"Cengeng!"

Kurva melengkung tercipta di bibir mungil Zahra ketika mendengar obrolan Gita dan Alfa yang menurutnya seperti ayah dan anak. Selama ia mengenal Alfa, tidak sekalipun cowok itu membawa serta temannya saat menjenguknya, apalagi sampai mendengar Alfa mengomel seperti sekarang, meskipun ucapan cowok itu terdengar menyakitkan tapi Zahra dapat menebak itu semua dilakukan untuk menyembunyikan kebaikannya.

Jika Alfa segalak yang dikatakan Gita, apa mungkin cowok itu mau membiayai seluruh pengobatan Zahra?

@@@

Doain yah supaya bisa update seminggu sekali *siapa yang mau baca lol*

Continue Reading

You'll Also Like

88K 1K 18
[18+] Sebuah kumpulan novelet berisi 5 kisah cinta sederhana: Telanjur Nyaman; Commuter Line; Gulali Rasa Jingga; Dua Puluh Dua, Kala Itu; dan Kembal...
93.1K 9.3K 44
✅Follow dulu sebelum baca ya! ✅ Mungkin kah jatuh cinta dalam tujuh hari selama masa ospek?? Alayya, seorang gadis berusia delapan belas tahun yang...
23K 1K 41
Warning ❗Plis, no copy paste/plagiat cerita orang❗sebelum membaca Vote dan follow. Semua orang mengatakan Gita adalah penyebab kematian saudara kemba...
Wattpad App - Unlock exclusive features