MY DREAMS

By ceritaanis

14.4K 185 27

Rara, seorang gadis yang mengidolakan boyband paling fenomenal di Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Coboy Jun... More

SATU
DUA
TIGA

END

2.7K 72 19
By ceritaanis

-RARA POV-

Seminggu sudah aku berpacaran dengan Bastian. Rasanya ada rasa bahagia karena bisa berpacaran dengan idola sendiri dan karena aku juga sangat mencintainya, ada rasa takut karena kata fanbase-fanbase ditwitter Bastian itu terkenal playboy tapi sekarang aku dan dia harus saling percaya satu sama lain aja itu udah cukup dan ada rasa sedih karena aku sudah menghianati sahabat kecilku---Fakhri. Dulu ia pernah berjanji padaku.

“Rara,aku pengen kamu selalu ada disampingku. Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku janji aku akan selalu ada disampingmu. Aku nggak mau ngelihat kamu bahagia karena orang lain bukan karena aku. Aku munafik ya tapi ini kenyataannya. Kamu juga harus janji sama aku ya kalau udah gede nanti kita harus terus bersama” ucap Fakhri 7 tahun yang lalu. Tapi mau bagaimana lagi ia sudah menghilang dan tak menepati janjinya, aku pun begitu. Aku dan Fakhri itu sama-sama BODO!

Biarlah mungkin kenanganku dulu memang seharusnya dilupakan tak perlu diungkit-ungkit kembali karena itu akan membuat sakit hati. Sekarang yang harus aku hadapi itu masa depan bukan masa lalu.

‘Mungkin inilah rasanya cinta pada pandang pertama senyuman manismu itu buat aku’

Handphoneku.

Aku pun sesegera mungkin mengambil handphoneku. Ternyata dari ‘Bastian<3’

“Hai babe” sapanya disebrang sana.

“Iya babe,kenapa?” tanyaku lesu.

“Kamu kenapa? Ko lesu gitu? Sakit?” tanyanya balik.

“Gak apa-apa kok”

“Bohong. Kamu kenapa? Aku ke rumah kamu sekarang ya?” Aduh Bas. Kamu perhatian banget sih sama aku. Beruntung banget aku punya pacar kaya kamu. Pokonya aku nggak bakal sia-sia’in kamu.

“Eh gak usah, aku cuman capek habis beres-beres kamar hehe” jawabku bohong.

“Bener?Aku nggak suka sama orang yang bohong lho” katanya tak percaya. Duhduhduh babas babas tau aja kalo aku bohong.

“Iya honey sayang babe darling prince kuuuu aduh alay deh” jawabku asal-asalan.

“Haha kamu lucu ih, yaudah kamu istirahat ya”

“Gamau” kataku bt.

“Kenapa?”

“Aku kangen kamu. Aku pengen ketemu sama kamu. Aku sekarang kemarkas ya” kataku pelan dan langsung memutuskan hubungan telefon karena aku tahu kalau aku menunggu jawaban dari Bastian pasti nggak bakal boleh soalnya akunya kaya lagi lesu gitu-_-tapi aku kangen dia. Aku pun sesegera mungkin mengambil tas kecil.

“Mau kemana?” Tanya Keisya tiba-tiba melihatku berjalan keluar rumah.

“Mau kemarkas coboyjr” ketusku.

“Oh” katanya lalu langsung masuk kedalam rumah. Ah dasar aneh tuh si Key.

***

-BASTIAN POV-

“Haduh du duh gimana nih” Gumamku pelan

“Gimana apanya bas?” Tanya Aldi.

“Rara mau ke markas” jawabku panik

“Lah tenang aja kali bas, ka nada si Iqbaal dirumah” sambung kiki sambil memakan makanannya.

“Iya juga ya, habis dia main tutup telepon aja gak nunggu jawaban dari gue padahal kan dia gak tau kalo gue lagi ke distro sama kalian” kataku ketus.

“Haha yaudah yuk kita cari baju lagi, lagian percuma bas kalo balik kerumah soalnya kita ini kan baru sampe disini-_-” sambung Aldi

“Iya hehe” jawabku lemes.

Gue dan yang lain pun memutuskan untuk meneruskan perjalanan ke Toko Baju. Kalau aja aku nggak ikut ajakan Aldi&Kiki ke Distro pasti sekarang bisa ketemu sama Rara.

***

-RARA POV-

Seneng banget aku bisa ketemu sama Bastian sekarang padahal kemarin baru aja ketemu rasanya seperti sudah bertahun-tahun nggak ketemu #iniserius mungkin ini yang namanya kangen banget

*tingtong*

*tingtong*

*tingtong*

“Kok nggak ada yang nyaut sih?” Gumamku pelan. Aku pun mencoba membuka gagang pintu dan ternyata pintunya nggak dikunci, alhasil aku masuk kedalam diam-diam seperti maling mau mencuri(?) Aku santai aja masuk kemarkas coboyjr karena sebelumnya aku pernah masuk kesini dan coboyjr juga sudah nganggap aku seperti keluarganya sendiri. Seneng deh:O

Tiba-tiba saja aku melihat cowok sedang jongkok didapur sambil memegang kakinya, langsung saja aku menghampiri cowo tersebut.

“Hmmm…”Aku hanya berdehem dibelakang punggungnya karena aku tak tahu jelas siapa cowok tersebut dan cowok itu pun langsung membalikan badannya kearahku. Sontak aku terkejut ketika tahu cowok tersebut IQBAAL.

“Ngapain kamu disini?” Tanyanya sambil terus memegang kakinya.

“Kamu kenapa?” Tanyaku balik sambil melihat ke kaki iqbaal dan berjongkok menghadapanya.

“Ga apa apa kok, Cuma jatuh dari tangga doang” jawabnya santai.

“Tapi itu kaki kamu berdarah, aku ambilin obat merah ya” Aku pun langsung sesegera mungkin mengambil obat merah dikotak P3K dan kembali ke dapur.

***

-IQBAAL POV-

“Makasih ya” ucapku sambil tersenyum padanya.

“Okey, lain kali hati-hati. Yaudah aku pulang dulu ya lagi pula Bastiannya juga nggak ada” katanya lemes dan langsung berdiri tetapi aku langsung menahan tangannya dan ia pun membalikan badan sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Kalung kamu bagus” kataku polos.

“Hah?Ini cuman kalung biasa hehe” jawabnya lesu.

“Tapi kayanya itu kalung punya banyak arti ya buat kamu?” Tanyaku penasaran. Jujur aku masih curiga apa benar Rara ini adalah Rara sahabat masa kecilku atau bukan. Ya aku tahu Rara yang didepanku ini beda banget sama Rara sahabat masa kecilku tapi namanya sama dan kalung itu pun…

“I-iya sih—“

“Ohehe tuh kan, cerita dong sama aku hehe” kataku sambil memamerkan behelku dihadapannya. Ia hanya mengangguk pelan. Lalu ia pun duduk dikursi dan aku duduk dihadapannya. Aku menatap mata dia lekat-lekat.

“Jadi gini dulu aku punya sahabat namanya Fakhri tapi jujur aku nggak pernah tahu nama panjangnya apa haha Cuma dia nyuruh aku manggil Fakhri aja. Aku sayang banget sama dia tapi sekarang dia udah menghilang nggak tau kemana. Aku tiap hari nangisin dia haha aku cengeng ya. Padahal dulu 7 tahun yg lalu dia janji bakal selalu ada disamping aku, tapi sekarang aku bersyukur aku udah punya Bastian yang ngertiin aku yang saying sama aku dan aku pun saying banget sama dia” katanya parau dengan mata berkaca-kaca

DEG!! Perasaan sedih, seneng, kesal, kecewa bercampur menjadi satu. Ra, kamu tahu nggak yang sekarang ada dihadapan kamu itu FAKHRI. Aku emang salah dulu aku ninggalin kamu tanpa ngasih kabar ke kamu. Aku emang salah dulu aku nggak pernah ngasih tau kalau nama panjang aku itu IQBAAL DHIAFAKHRI RAMADHAN. Aku BODOH! Tapi sekarang orang-orang lebih sering memanggil ku iqbaal. Lalu aku harus bagaimana sekarang? Aku bingung ya tuhan. Aku takut kalau aku jujur nanti dia marah dan benci sama aku. Aku nggak mau itu terjadi. Aku nggak mau:’)

***

“Ra,udah dong jangan nangis lagi ntar cantiknya hilang loh. Aku kan jadi ikut nangis” ucapku menatap Rara dengan mata berkaca-kaca

“Ka-kamu nangis? Ko bisa sih? Padahal kan aku cuman cerita masa laluku” katanya sambil menghapus air mata yang jatuh kepipinya.

“………..” Aku canggung. Ngga bisa berkata apa-apa. Aku masih merasa bersalah. Tiba-tiba saja aku langsung menghampiri dan memeluknya dengan erat tanpa ada rasa malu karena dia itu masih berstatus pacar-Bastian.

“Baal?” ucapnya sambil berusaha melepaskan pelukanku. Tapi aku semakin erat memeluk Rara. Karena aku nggak mau kehilangan dia lagi, cukup dulu aku kehilangan dia tapi sekarang aku nggak mau.

“Rara..Iqbaal…!” Teriak seseorang diambang pintu, sontak aku terkejut dan melepaskan pelukanku pada Rara dan melihat ke ambang pintu ternyata itu, BASTIAN!

“Bas,dengerin dulu ini nggak seperti apa yang loe lihat” kataku sedikit membentak dan berdiri menghampiri Bastian lalu tiba-tiba BUUUUG sebuah hantaman keras mengenai perutku. Sakit sekali. Perih.

“Loe tuh ya baal…. Gue ga nyangka sama loe baal” teriak Bastian sambil narik keatas kerah baju gue tapi gue berhasil menepis tangannya dan menatap mata Bastian dalam-dalam sambil menarik nafas panjang.

“Bastian, loe tau kan kalo gue ga suka berantem dengan cara kekerasan seperti ini. Loe kenal gue udah berapa lama sih?” ketus gue sedikit berteriak dan yang pasti teriakan gue itu dapat terdengar oleh Rara. Mendengar perkataan terakhir gue barusan Bastian hanya menatapku dan Rara bergantian.

“Bas, kamu percaya kan sama aku?” Tanya Rara tiba-tiba.

“Iya….aku percaya kok.” Ucap Bastian sambil menarik nafas panjang. “Maafin gue sob” sambung Bastian sambil menepuk pundakku. Aku hanya tersenyum tipis.

“Nah gitu dong” ucap Aldi dan Kiki berbarengan sambil menepuk pundak gue dan Bastian lalu pergi kekamar masing-masing. Dan tinggal aku, Bastian dan Rara yang berada di ruang tamu.

“Oh iya ngapain tadi kalian peluk-pelukan? Mesra banget” ucap Bastian sambil menatap kearah gue dan Rara bergantian. Sinis.

“Tanyain aja ke iqbaal, aku juga gak tau. Tiba-tiba aja dia meluk aku bas” jawab Rara polos banget-_-

Aduh Ra, kamu polos banget sih.

“Baal?” kata Bastian melirik kearah gue. Tatapannya sinis banget.

“Basssss,itu nyokap loe nelpon tuh buruan sini” ucap Aldi berteriak dari arah kamar.

Hufffft untung saja.

“Huh iya bentar” teriak Bastian. “Kamu mau pulang atau pengen disini aja?” Tanya Bastian pada Rara.

“Hmm pengennya sih sama kamu dulu tapi pulang aja deh bas” ucap Rara.

“Yaudah kamu diantar sama Iqbaal aja ya pulangnya soalnya nyokap nelpon nih” jawab Bastian.

“Hmmm….e….mm” Nih Rara kenapa sih-_-

Bastian pun langsung meninggalkanku dan Rara diruang tamu.

“Ra?” ucapku singkat.

-RARA POV-

“Yaudah kamu diantar sama Iqbaal aja ya pulangnya soalnya nyokap nelpon nih” jawab Bastian.

“Hmmm….e….mm” ucapku grogi. Habis gatau mau jawab apa aku masih grogi pas Iqbaal meluk aku. Tiba-tiba aja pas Iqbaal meluk aku rasanya nyaman banget dan nggak mau ngelepas, pengennya terus dipeluk. Yaampun Ra sadar kamu udah punya pacar.

Bastian pun langsung meninggalkanku dan Iqbaal diruang tamu.

“Ra?” ucap iqbaal singkat.

“Ya?” jawabku tanpa melihat mata Iqbaal. Hanya menunduk menatap lantai.

“Lihat mataku Ra” Tapi aku pura-pura tidak mendengar ucapan Iqbaal tersebut. Ntahlah masih ada rasa malu. Tapi kok Iqbaal nggak ada Rasa malu ya? Atau aku nya aja yang lebay._.

“Ra, TATAP MATAKU PLEASEEEEEEE” ucap Iqbaal sekali lagi sambil mengangkat daguku sehingga aku sekarang tatap menatap dengan Iqbaal. Aku bisa merasakan detak jantung Iqbaal dan nafas Iqbaal dari hidungnya karena aku bertatap dengannya hanya beberapa sentimeter dari wajahnya…dekat sekali. Oh my gosh. Tuhan tolong aku. Aku ngga kuat seperti ini terus.

“Baal….loe mau ngapain…” ucap aku yang masih menatap mata Iqbaal tanpa berkedip #okeinilebay-_-

“Gak kok tenang aja gue ga ngapa-ngapain loe kok. Yaudah sekarang aku antar pulang kamu ya” jawabnya langsung melepaskan daguku dan aku hanya mengangguk pelan.

Udah itu aja? Ih gak jelas banget sih nih Iqbaal-_-v cium kek……. #okebalikkenaskah

Selama diperjalanan pulang aku hanya bisa diam menatap kearah kaca mobil dan Iqbaal pun sibuk menyetir mobilnya. Tapi aku ngerasa ini bukan jalan arah kerumah aku…….lah ini mau kemana?

“Baal, kayanya ini bukan jalan kerumah gue deh” kataku polos

“Iya emang bukan jalan kerumah loe” jawabnya tanpa menengok kearahku.

“Lah? Mau kemana kita?” tanyaku heran.

“Bandung” jawabnya singkat sambil terus mengemudi mobilnya.

“Gila loe?!! Bandung?! Ebuset jangan bercanda loe baal. Jarak Jakarta-Bandung itu butuh waktu 6 jam lebih” bentak aku.

“Gue emang gila tapi gue ga bercanda. Udah mending loe diem aja gue mau nunjukin suatu tempat disana” ucapnya sambil menatap serius mata aku.

Bandung. Kota kembang. Kota metropolitan. Kota kelahiranku sekaligus kota kenangan. Kota itu sangat berarti bagiku karena kota itulah pembuktian bahwa aku dan Fakhri dulu bersahabat. Banyak sekali kenangan disana. Aku pun masih ingat ketika Fakhri pertama kali memberikan sebuah kalung persahabatan, ya kalung itu masih aku simpan dan sekarang pun aku pakai. Dulu Fakhri sering mengajakku jalan-jalan ke taman apa ya namanya aku lupa._. tapi aku masih ingat betul taman itu. Tamannya indah sekali. Flashback banget. Sebenarnya Iqbaal ngapain sih ngajak aku ke Bandung. Ah tau deh. Aku langsung saja membuka tasku dan mengambil i-phoneku.

“Jangan kasih tau Bastian ya kalau kamu lagi sama aku dan jangan kasih tau keluargamu” ucap Iqbaal mengagetkanku.

“Iya deh iya, tapi sebenarnya kita mau ngapain sih ke Bandung? Ini udah jam 13.00 siang baal. Takut dicariin sodara gue” kataku panik.

“Lihat saja nanti. Oke oke tenang saja, mungkin kita akan bermalam disana” jawabnya santai.

“APAAA?! Maksud loe kita nginep? Gasalah? Udah deh baal loe jangan bercanda, bercanda loe lucu sumpah bikin gue ngakak” ucapku sambil sedikit tertawa.

“Gak… gue serius. Tenang aja sekarang gue udah bilang ke Bastian dan yang lain kalo gue mau nginep dirumah nenek gue dan loe tinggal bilang ke sodara loe kalo loe mau nginep dirumah temen loe” jawabnya serius.

“Baal, loe ga lucu. Kalo mau ngajak nginep itu jangan dadakan gini dong. Mana gue santai gini gabawa perlengkapan baju dan sebagainya” ucapku lemah.

“Udah tenang aja, nanti disana loe pinjam baju tetangga gue aja hahaha. Nanti loe nginep dirumah nenek gue ya. Lagipula percuma kalo kita kesana terus balik lagai percuma yak an? Jadi sekalian nginep aja kan seru tuh haha” jawabnya sambil tertawa.

“Sialan loe” ketusku.

Setelah aku berdebat dengan Iqbaal dan perdebatan itu akhirnya aku harus mengalah untuk menuruti kemauan Iqbaal. Aku hanya terdiam menatap kearah kaca spion mobil Iqbaal sambil mendengarkan musik di Ipodku. Hawa kantuk pun mulai menjalar ketubuhku tak kuasa aku mencoba untuk menutup mata dan mulai tertidur pulas.

***

-IQBAAL POV-

Aku rencananya mau membawa Rara ke Bandung karena Bandung adalah kota kenanganku bersamanya dulu dan aku ingin meminta maaf semuanya ditempat itu semula sekaligus menjelaskan semuanya. Ya m au bagaimana lagi dulu aku pertama kenal dia ditempat itu, menjadi sahabatnya ditempat itu, berpisah dengannya pun ditempat itu dan sekarang aku harus meminta maaf pun ditempat itu. Karena Bandung adalah tempat paling bersejarah bagi hidupku. Aku beruntung karena mempunyai sahabat seperti Rara walau harus melewati rintangan demi rintangan sehingga aku bisa bertemu dengannya lagi. Memang rasanya sakit sekali ketika tahu Rara itu masih berstatus pacarnya Bastian tapi mau bagaimana lagi aku tak bisa menjadi perusak hubungan mereka. Tapi aku akan menunggu Rara . Ya menunggunya. Hanya itu.

Aku melihat kesamping tempat dudukku, Rara tertidur. Manis sekali. Tapi aku harus membangunkannya karena sudah sampai.

“Hei, Ra. Bangun kita udah sampai” ucapku sambil menggoyang-goyangkan tubuh Rara. Tapi nihil Rara tak mau bangun juga. Terpaksa aku mendekatkan wajah ku ketelinganya lalu berbisik “Hei Rara ayo bangun kita sudah sampai di Bandung” ucapku sekali lagi dengan lemah lembut. Lalu ia mencoba untuk membuka dan mengucek matanya. Aku hanya tersenyum kecil dihadapannya.

“Ngapain kamu deket deket aku hu?” ucapnya sambil menguap dan mendorong tubuhku yang memang wajahku berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Kalau aku kelepasan mungkin aku sudah mencium bibir tipisnya yang merah menggoda. Haha.

“Ga ngapa-ngapain, ayo bangun kita sudah sampe di Bandung” jawabku sambil keluar dari mobil dan Rara pun ikut keluar.

Bandung. Aku menghirup udara perlahan dan menghembuskannya. Sama sekali tidak berubah. Bandung masih seperti dulu. Masih indah dan sejuk sekali. Aku melihat Rara dia hanya tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya ke udara dan menarik nafas panjang. Aku dapat merasakan bahwa ia pun merindukan tempat ini.

“Hu tempat ini penuh dengan kenangan” ucapnya berbicara sendiri sambil melihat-lihat sekitar perumahan nenekku.

“Penuh dengan kenangan. Malah banyak sekali kenangan ditempat ini” ucapku tak mau kalah. Ia pun melirik kearahku.

“Maksudmu? Oh iya kayanya aku kenal banget sama perumahan ini deh. Tapi aku lupa haduh lupa banget malah” katanya sambil menepuk-nepuk dahinya.

“Gak, Haha? Emang kamu pernah kesini?” tanyaku pura-pura tak tahu.

“Ini tempat kelahiranku bodoh”

“Ohaha, yasudah kita masuk dulu yuk” ajakku sambil menarik tangan kanan Rara.

***

“Assalamualaikum” ucapku sambil mengetok-ngetok pintu kayu yang sudah rapuh itu. Lalu tiba tiba wanita paruh baya pun datang menyambut kehadiranku dan memelukku dengan erat.

“Kamu sudah besar saja nak” kata Nenekku sambil membelai punggungku.

“Haha iya nek lama nggak kemari, gimana kabar nenek baik?” tanyaku melepaskan pelukan hangat seorang nenek.

“Baik kok, ini siapa nak?” tanyanya sambil melihat kearah Rara.

“Oh itu Rara nek, mau nginep disini boleh ya nek boleh yaaa” rayuku.

“Boleh, eh iya cantik juga, kayanya nenek pernah kenal sama kamu deh tapi waktu kapan ya? Aduh nenek lupa maklum udah pikun” kata Nenekku berbicara kepada Rara.

“Aduh saya juga lupa ne, emang nene kenal sama saya? Dan saya pun seperti nggak asing menginjak dirumah ini” ucap Rara sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Aku tau kok Ra itu kepala kamu gak gatal beneran….

“Yaudah deh Nek aku sama Rara kedalam dulu aja, nanti aja intropeksi Raranya. Kan baru sampai” kataku sambil menarik tangan Rara masuk kedalam Rumah.

***

“Ra, kamu tidur dikamar aku ya bareng sama aku” jawabku santai sambil merebahkan tubuh diatas ranjang. Jujur aku kangen banget sama kamar ini walaupun nuansanya sudah sangat berbeda dengan kamarku dulu. Tapi tetap aja yang namanya kangen tuh kangen bangettttttttttttt. Mungkin Rara ga mengenal betul kamar ini. Yap kamarku dulu tinggal diBandung.

“APAAAA?! TIDUR SAMA KAMU?SERANJANG GITU MAKSUDNYA? YANG BENER AJA?!!” Teriak Rara sambil duduk diranjangku.

“Iyaa,emang kenapa? Emang kamu mau tidur sama nenek aku? Atau mau tidur disofa? Nanti ada hantu gimana?” jawabku asal-asalan sambil sedikit tertawa.

“Hffft,oke deh oke awas aja kalo loe macem-macem.Untung aja kasur ini lebar banget jadi bisa jaga jarak tidur sama kamunya” katanya sambil cemberut. Cute sekali.

“Haha kamu lucu ya, tenang aja aku gabakal apa-apain kamu” Memang benar sih kasurku sangat lebar sekali. Sumpah. Lebarrrrrrr banget. “Yaudah cepet mandi terus ganti baju udah gitu aku bakal ngajak kamu kesuatu tempat,okay” sambungku sambil memberikan kaos merah polos.

“Iya” jawabnya singkat.

***

-RARA POV-

“Yuk, kita pergi. Jalan kaki aja ya” kata Iqbaal sambil narik tanganku erat sekali.

“Eh….nek kami pamit dulu yaaaaaa” teriakku dari arah jauh.

Aku dan Iqbaal pun mulai berjalan. Hening. Diam. Sunyi. Sepi. Yap Iqbaal malam ini mau mengajakku kesuatu tempat…….entah apa namanya. Aku tak tahu. Karena ia tidak memberitahuku. Btw, kenapa ya setiap Iqbaal narik/megang tanganku selalu saja aku tersenyum salah tingkah. Apa? Tunggu?!! SALAH TINGKAH? Gak. Gak mungkin. Ini ga harus terjadi.

“Iqbaaaaaaal!!!!” Teriak seseorang dari arah belakang memanggil nama ‘Iqbaal’. Aku menoleh. Dan ternyata yang memanggil itu seorang cewe? Siapa dia……

“Oliv….Olivvvviaaaa!!!” kata Iqbaal sambil terkejut.

Ada apa ini? Siapa cewe tersebut? Olivia? Pacar iqbaal? Gak. Gak mungkin pacar Iqbaal. Jelas-jelas kata fanbase twitter Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan itu belum pernah pacaran sampai sekarang. Gak boleh terjadi…. Tunggu? Apa? Kenapa kamu harus ngurus hidup Iqbaal, Ra? Kamu bukan siapa-siapanya? Ingat kamu udah punya pacar! Asdfzxcv

Olivia pun berlari menghampiri Iqbaal yang berada disamping kiriku. Ia sempat melirik kearahku dengan tatapan tajam, sinis sekali. Sepertinya ia tak menyukaiku. Memang cewe ini terlihat songong sekali sekaligus menyebalkan.

“Iqbaal, aku kangen banget sama kamuuuu” kata Oliv sambil mengecup pipi kanan Iqbaal. Tapi Iqbaal tak membalas kecupan tersebut, ia hanya membalasnya dengan tersenyum.

“Aku juga kangen kamu, oliv” jawab Iqbaal lembut. Olivia pun langsung memeluk Iqbaal erat sekali dan Iqbaal membalas pelukan tersebut. Hft kok hati ini sakit banget ya….sumpah kaya ditusuk-tusuk pakai pisau gitu._.

“Baal siapa dia?!” tunjuk Oliv tepat dihidungku dengan tatapan sinisnya. Gadis ini sungguh Kurang ajar sekali.

“Maaf aku mengganggu kalian, aku akan pergi sekarang” kataku sambil meninggalkan Iqbaal dan Oliv tapi tiba-tiba Iqbaal menahan tanganku. Aku menoleh.

“Kamu mau kemana?” Tanya Iqbaal.

“Mau ke--“ belum selesai berbicara, Oliv memotongnya. Fvck.

“Udah baal, biarin dia pergi. Dia hanya pengganggu saja. Lebih bagus lagi dia pergi selama-lamanya” celetuk Oliv yang terus memeluk Iqbaal dengan erat sekali.

Fvck you Oliv. Kamu seperti wanita murahan yang tidak tahu perasaan orang lain. Perkataanmu tersebut membuat amarahku memuncak tapi aku harus sabar Karena aku tak mau mencari keributan dengan wanita murahan ini. Lebih baik aku meninggalkan mereka daripada nanti aku menjadi gila karena Oliv. Aku langsung sesegera mungkin menepis kasar tangan Iqbaal yang masih terus menggenggamku .

“Raaaa! Tunggu. Please.” Teriak Iqbaal. Aku mengacuhkannya dan terus berlari tak kusangka air mataku jatuh mengenai pipiku. Aku tak tahu apa ini namanya? Yang jelas ini sakit sekali melebihi diiris oleh pisau yang tajam.

***

-IQBAAL POV-

“Lepasin gue, oliv!. Gue harus kejar Rara! Lepasin gue! Cepat” bentakku sambil terus mencoba melepaskan tangan Oliv yang masih melingkar diperutku.

“Rara?Oh namanya Rara. Dasar cewek murahan” celetuk Oliv.

Sungguh aku membencimu. Mengapa kamu mengatakan seperti itu pada sahabat kecilku? Damn. Aku tak menyangka setelah 6 tahun yang lalu kamu selalu ada untukku, disampingku. Tapi mengapa kamu jadi seperti ini? Omonganmu itu membuat amarahku memuncak. Dulu 6 tahun yang lalu kamu yang selalu mengisi hari-hari ku, dulu 6 tahun lalu pula kamu yang membuat hari-hariku indah lagi semenjak aku berpisah bersama sahabat kecilku, Rara. Dulu 6 tahun yang lalu juga kamu mendengarkan curahan hatiku tentang Rara dan kamu memberikan saran yang baik. Tapi sekarang? Oh gosh. Aku tahu kamu tak tahu kalau Rara yang barusan itu Sahabat kecilku. BODOH.

“Jangan pernah bilang dia CEWE MURAHAN!” bentakku

“Terus apa? Cewek ga punya malu karena gapunya kemaluan dan urat malunya putus? Gitu?! Atau cewek yang---”

Aku langsung mendorong tubuh Oliv hingga tersungkur jatuh ketanah.

“Jaga omonganmu! Aku tak menyangka kamu bisa seperti....wanita nakal” ucapku polos. Lalu ia hanya terdiam. Tak marah? Mungkin ia menyadarinya HAHA. Aku langsung beranjak pergi meninggalkan Oliv tapi tiba-tiba ada yang menahan kakiku, ya siapa lagi kalau bukan OLIV.

“Apa?!!”ketusku.

“Please,jangan pergi. Aku pengen cerita penting sekali. Please beri aku kesempatan” ucapnya parau dengan mata berkaca-kaca lalu menangis. Oh gosh. Menangis? Aku tak suka dan tak tega melihat perempuan menangis seperti ini. Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus meninggalkannya dan menyusul Rara atau memberi kesempatan untuk berbicara dengan wanita jalang ini. Ops.

“Hmm..a…iii…baiklah.” ucapku. BODOH! Kenapa aku berbicara seperti itu?

“Jadi gini…”

***

-RARA POV-

*kamariqbaal*

Bete. Kesal. Sedih. Cemburu. Tunggu…APAAA? CEMBURU? Gak mungkin. Gak. Kamu harus ingat kamu sudah punya pacar, BASTIAN.

Bastian? Kangen banget sama dia……coba sms dia aja kali ya.

To; Bastian ♥

Hai bas. good night, love you♥;*

Beberapa menit kemudian…

From; Bastian♥

Hai Ra, good night too. Love you too so badly mwah! ;*♥

Aku pun langsung membalas pesan tersebut tapi tiba-tiba handphoneku bordering ‘Mungkin Inilah Rasanya cinta pada pandang pertama senyuman manismu itu buat’

BASTIAN! ♥

---

“Halo babe?” sapaku sambil tersenyum. Aku tahu senyumanku tak dapat diketahui oleh Bastian, haha bodoh.

“Halo sayang… kamu dimana? Sama siapa? Lagi ngapain? Kata Key kamu nginep dirumah Kania temen kamu tapi kok pas aku kesana kamu ga ada? Jangan bohong sama aku.” tanyanya pensaran

DEG. Maafkan aku bas. Maaf. Aku bodoh. Ini salahku dan salah Iqbaal juga yang tak boleh memberitahu mu dan yang lain. Mengapa juga aku harus menuruti kata-kata Iqbaal?

“Aku…aku..aku lagi dibandung sama Iqbaal” jawabku lemah.

“Apaaaaa?!!! jadi...........”bentak Bastian.

*cekreeek(?)* Aku langsung menoleh kearah pintu dan tak sengaja aku mematikan handphoneku.

“Astaga aku lupa…aduh gimana nih” gumamku dalam hati sambil menepuk jidat. Aku lupa karena aku mematikan handphoneku padahal aku sedang telpon dengan Bastian. Takutnya dia salah paham.

“Ra, kamu belum tidur? Maaf ya soal tadi…” ucap Iqbaal yang masih berdiri didepan pintu.

“Belum, tadi abis teleponan sama Bastian. Iya hah ga apa apa kali, yg tadi dijalan itu pacar kamu ya?” kataku polos.

“Bastian?kenapa loe telponan sama dia?! Bukan kok Oliv bukan pacarku sumpah, gabohong” jawabnya.

“Kenapa gitu? Bastian kan pacarku, kamu gaada hak lah aku telponan sama dia. Oh bukan pacar… kalo emang pacar kamu juga ga apa-apa kok, cocok banget” kataku ngasal.

“Hmm,maaf soalnya kan –ah sudahlah. Kok gitu sih? Oliv bukan tipe cewek aku kok” ucapnya lemah. Ini kenapa sih si Iqbaal? Aneh.

“Yaudah deh aku tidur duluan ya..” kataku langsung merebahkan tubuh dikasur. Dan Iqbaal pun ikut berbaring tidur disamping kananku. Deg banget. Baru kali ini aku tidur seranjang sama artis sekaligus teman. Deg woy deg. Tapi kok aku ngerasa nyaman ya? Walaupun tidur disampingnya ada jarak kurang lebih 10cm.

“Btw, temen kamu yang namanya Oliv oliv itu kayanya teman lama kamu ya?”ucapku tanpa melirik kearah Iqbaal. gatau kenapa pengen banget ngomong gitu, habis penasaran sih.

“Hah?Apa?” kata Iqbaal sambil menoleh padaku. Aku hanya meliriknya sekilas. “Hmmm, iya dia teman lama ku 6 tahun yg lalu….oh iya sebelumnya aku minta maaf ya pas tadi dia ngomong lancing kekamu. Tadi dia cerita ke aku kalau dia besok mau pergi ke Singapura buat kemoterapi soalnya dia mengidap kanker otak dan dia senang karena tadi bisa ketemu sama aku walau hanya sebentar…….dan dia bilang kalau dia suka sama aku tapi dia gabisa selamanya di Bandung. Dan dia bilang aku sama kamu cocok banget walaupun dia gasuka sama keberadaan kamu”sambungnya sambil memiringkan tubuhnya menghadapku. Kalian tau gak? Tidur seranjang itu kaya udah suami istri sumpah-_- DEG SUMPAH. Oliv bilang kalau aku cocok sama Iqbaal? Aku kan udah punya pacar, astaga.

“Oh gitu…semoga dia cepat sembuh deh. Oliv itu teman masa kecilmu 6 tahun yang lalu? Huh jadi kangen sama Fakhri. Dia gimana ya sekarang? Dia udah lupa gak ya sama aku?” Gumamku pelan.

“Fakhri pasti baik-baik aja kok, dia gak akan lupa sama kamu. Dia malah selalu memikirkanmu. Tau gak? Kalau kata aku sih si Fakhri itu cinta sama kamu,sayang sama kamu.” ucap Iqbaal sambil tersenyum kepadaku.

“Maksud kamu? Haha sok tau banget sih…kamu kan gatau Fakhri hahaha” kataku tertawa keras.

“Haha aku serius. Kalau misalnya Fakhri ada disekitas sini, kamu bakal gimana?” tanyanya penasan. Baal udah napa gausah ngomongin Fakhri lagi….jadi kangen tau.

“Hmmm. Ya aku…aku…aku seneng lah walaupun agak kecewa karena udah bertahun-tahun dia gak ngabarin aku tapi tetap aja aku senang banget. Karena aku sayang dia. Udah dong baal jangan ngomongin Fakhri lagi, aku jadi kangen sama dia. Yaudah aku tidur dulu ya”ucapku lemah dan langsung mencoba menutup mata.

“Good night” ucap Iqbaal yang langsung mencoba menutup mata. Aku memang mendengarkan dia bicara ‘Good night’ tapi aku berpura-pura sudah terhanyut dalam mimpi(?).-.

“Good night too baal” kataku dalam hati.

***

-BASTIAN POV-

“Sial! Sialan!” ucapku sambil membanting handphone kesofa.

“Kenapa bas?!” Tanya Kiki khawatir.

“Bangggg, Rara ke bandung sama Iqbaal terus dia tadi malah matiin handphone aku” ketusku.

“Hah? Sama Iqbaal? Kok bisa? Wah Bas jangan jangan Rara selingkuh nih bas bahaya nih” sambung Aldi tiba-tiba.

“Gamungkin” jawabku singkat.

“Iya gamungkin, bas kayanya ada saingan baru nih” ucap Kiki.

“Maksudnya? Iqbaal suka gitu sama Rara?” tanyaku penasaran.

“Gatau deh, tapi emang sih dilihat-lihat Rara cocoknya sama Iqbaal bukan sama loe bas” kata Kiki. Sumpah omongan Kiki barusan bikin hati aku ditusuk-tusuk. Sakit banget. </3

“Kok kalian malah belain Iqbaal sih? Bukannya gue?” bentak aku.

“Gue bukan masalah belain siapa-siapa bas. Gue ini abang loe dan gue ngerti soal cinta. Asal loe tau ya waktu tadi siang Rara sama Iqbaal pelukan itu mereka itu kelihatannya kaya gamau kepisah gitu apa ya namanya gatau deh lupa. Kalau gapercaya loe buktiin kalo dia itu emang masih cinta sama loe!” ucap Kiki sedikit membentak.

“Oke oke sekarang gue mau pergi ke Bandung!” kataku dan bergegas pergi kekamar untuk menyiapkan perlengkapan baju dan sebagainya.

“Bandung? Serius bas? Ini udah jam 12malam! Kalau loe mau pergi sekarang gue sama Aldi juga ikut. Takutnya loe kenapa-napa” ucap Kiki sedikit ketus.

“Tapi ki?” sambung Aldi.

“Oke kalian ikut. Cepat siapkan keperluan kalian semua” ucapku langsung berlari kekamar tidur.

--

“Ki, loe kok bawa tasnya tiga sih?” Tanya Aldi sambil menggaruk-garukan kepalanya yang tak gatal.

“Emm.. hehe kan sekalian buat liburan disana kan asik” jawab Kiki asal-asalan.

“Tapi kok 2 tas yang loe jinjing itu kok ringan? Isinya apa?” Tanya Aldi makin penasaran dan menghampiri 2 tas yang dijinjing oleh Kiki. “coba gue buka ya” sambung aldi.

“Apa isinya, di?” tanyaku yang ikut penasaran.

“Nih lihat aja” ucap Aldi memasang muka datar.

“Astagaa bangggg, loe gasalah bawa makanan sebanyak ini?!” kataku kaget. Masa aja ini si Abang bawa makanan snack dan roti sebanyak 2 tas. Gila.

“Malah segitu tuh kurang tauuuu” ucap Kiki sambil memajukan bibirnya.

“Ah udahlah cepat kita pergi” ucapku santai dan pergi keluar rumah.

--

Sumpah aku takut. Takut yang dikatakan Aldi dan Kiki itu benar-benar terjadi. Bagaimana Rara selingkuh? Atau Rara suka sama Iqbaal? Arrghh!. Kenapa juga Rara malah mau ikut kerumah nenek Iqbaal? Kenapa coba? Atau mungkin Iqbaal mau mengajak Rara ke Bandung buat cari sahabat kecil nya itu ya? Tapi apa hubungannya sama Rara coba? Gak masuk akal. Eh tunggu dulu Iqbaal pernah cerita kalau sahabat kecilnya itu namanya Rara Windi? Ya Rara Windi. Nama depannya sama percis sama pacar aku. Apa jangan-jangan…Ah mustahil. Gak mungkin lah. HAHAHA.

***

-IQBAAL POV-

Pagi ini indah sekali. Ketika bangun tidur sudah bisa melihat orang yang aku sayang. Coba deh bayangkan pas kalian bangun tidur terus disamping kamu itu ada orang yang kamu sayang? Rasanya gimana coba…… nah tau kan rasanya gimana? sama percis yang aku alamin saat ini.

“Fakhri… beruntung banget ya dia. Tiap hari selalu ada dipikirannya Rara, cewek lugu. Manis. Lucu. Cantik. HAHA kamu bodoh atau tolol sih. Udah tau Fakhri itu kamu. Ya jelas. Aku sangat beruntung sekali ya. Aku dan Rara itu saling mencintai tapi apa daya Rara sudah mempunyai pacar dan ini salah aku sendiri kenapa dulu aku lebih mementingkan cita-citaku menjadi penyanyi tanpa memperhatikan orang disekitarku. Mungkin kalau aku dulu masih bersama Rara sampai sekarang aku sudah menjadi pacarnya ya:’)” gumamku dalam hati sambil melirik kearah Rara yang masih tertidur pulas disampingku dan membelai lembut puncak kepala Rara.

“Baal? Loe ngapain megang-megang kepala gue?” Tanya Rara sambil melirik tanganku yang masih menempel di kepala Rara. Mati loe. Puas loe baal. Harus gimana nih? Aduh-_- Bayangkan deh? Iqbaal sama Rara udah kaya suami istri broo~

"Hmm, aku.........aku…tadi itu dijidat kamu eh emm udah yuk bangun kita keluar aku mau ngajak kesuatu tempat deh, kan kemarin ga jadi gara2 Oliv” ucapku gugup dan langsung bangun dari tempat tidur. Rara pun mengikuti langkah kakiku dari arah belakang.

“Eh tunggu… tapi gue belum mandi?” ucap Rara tiba-tiba. Aku pun menolehnya dan melihat ujung kepala hingga ujung kakinya. Sangat terlihat kusut.

“Hm, yaudah mandi dulu. Aku juga mau mandi dibawah. ” Tanpa menunggu jawaban dari Rara, aku langsung berlari keluar kamar tidur dan pergi kelantai dasar untuk segera mandi.

***

BASTIAN POV-

“Woiiii, bang, aldi bangun. Kita udah sampai tol Buah Batu - Bandung nih” ucapku berteriak sambil terus menyetir tanpa menengok kearah samping dan belakang mobil.

“Eh..emm..hoammm. Udah nyampe? Loe gatidur bas?” Ucap Aldi menguap dan menggerakan badannya kekanan dan kekiri.

“Gatidur? Bego atau tolol sih loe di? Udah tau gue lagi nyetir dari tengah malam sampai skrg. Otak loe dipakenya buat mikirin salsha mulu sih” Kataku blakblakan sambil terus mengemudi mobil. Sedangkan aldi malah garuk-garuk kepala yang tak gatal itu.

“Kita sampai rumah nenek Iqbaal kapan?” Tanya Kiki tiba-tiba. Terlihat ia sedang mengucek-ucek matanya.

Aku memutar kedua bola mataku. “Gatau, paling 30 menitan lagi sampai” ucapku masih dalam keadaan menyetir mobil. Aldi dan Kiki pun hanya membalasnya dengan mengangguk pelan.

---oOo---

RARA POV-

“Udara pagi di Bandung dingin bangetttttttttt” gumamku pelan sambil menyilangkan tangan ke dada. Aku melirih kearah jam dinding diruang tamu, jam masih menunjukan pukul 05.45. Ini masih pagi sekali.

“Dingin ya?” ucap Iqbaal menoleh kearahku.

“Yaiyalah. Ngapain sih pagi-pagi gini udah ngajak keluar rumah? Mending tidur-tiduran dikasur sambil main handphone terus buka twitter ” ketusku tanpa menoleh kearah Iqbaal. Yap sekarang aku dan Iqbaal sudah selesai mandi dan sedang berjalan entah kemana itu yang jelas aku hanya harus mengikuti langkah kakinya kemana pun ia pergi. Menyebalkan sekali.

“tidur, main handphone, buka twitter? Loe jones dong?” ucap Iqbaal santai. Aku terbelalak kaget mendengar ucapan terakhir Iqbaal tersebut. Aku hanya membalasnya dengan tatapan tajam seakan ingin membunuhnya. “Maaf gue kan cuman bercanda” Guman Iqbaal sambil memasang muka sok cemberut. Aku hanya berdehem kecil dan melanjutkan berjalan mengikuti gerak langkah kaki Iqbaal. Tunggu… tunggu… Iqbaal mau bawa aku kemana? Kayanya aku kenal banget sama daerah ini. Familier gitu. Aku coba tuk ingat-ingat kembali tapi percuma aku nggak bisa ingat sama daerah ini. Maklum aku memang pelupa tapi aku merasa ini daerah sangat familier dihidup aku. Tapi apa? Aku lupa. Benar-benar lupa. Aku mencoba mengingatnya kembali. Argggh percuma. Percuma. Percuma saja. Aku tetap nggak bisa ingat. Aku amnesia? Haha konyol sekali. Aku nggak amnesia, tapi aku memang orangnya pelupa.

--

“Udah sampai” ucap Iqbaal singkat.

“Danau?”

“Iya, apa? Kamu ingat sesuatu ditempat ini?”

“Hmm…nggak”

“Masa? Coba ingat-ingat dong” Aku coba mengingat apa yang ada didanau ini. Perlahan aku coba mengingatnya. Tapi dalam ingatanku, aku hanya bisa melihat seorang sedang diam ditepi danau namun seorang tersebut tak nampak jelas wajahnya seperti apa. Yang ada dibenakku saat ini hanyalah Fakhri seorang. Loh? Kenapa dia? Aduh coba ingat-ingat lagi deh. Astaga. Ternyata benar yang ada diingatanku sekarang ada seorang anak kecil perempuan dan laki-laki sedang bermain ditepi danau. Yap! Seorang perempuan itu….Aku. Dan laki-lakinya itu Fakhri. Yap benar. Fakhri. Sudah kuduga.

“Fakhri” ucapku sambil menatap mata Iqbaal dalam-dalam.

“Fakhri? Oke bagus kalau loe ingat. Gue sekarang mau cerita ya, loe dengerin baik-baik” Ucap Iqbaal yang masih menatap danau. Aku hanya membalasnya dengan anggukan pelan.

“Dulu. Ada seorang anak kecil cewe dan cowo. Mereka sering menghabiskan waktunya didanau ini sampai nggak tahu waktu. Si cowo itu pernah berjanji ke sicewe ‘Aku janji bakal ada disamping kamu. Kamu juga harus ada disamping aku. Karena aku takut kehilangan kamu. Aku janji. Kamu juga harus janji ya’ kamu tahu apa? Si cowo itu menghilang entah kemana dan nggak pernah kabarin sahabat cewe itu. Dia telah menghianati janjinya. Dia juga berhari-hari selalu memikirkan cewe itu. Cewe itu pun sama selalu memikirkan cowo itu. Mereka saling mencintai satu sama lain. Namun apa? Disisi lain ternyata Cewe itu pun mengingkari janjinya karena dia telah bersama cowo lain. Tapi sahabat cowo itu nggak akan menyerah untuk mencari sahabat cewenya itu dan kamu tahu apa? Mereka akhirnya dipertemukan. Cewe itu nggak pernah sadar kalau Cowok itu selalu ada disisinya, mendoakannya bahkan sekarang ada bersamanya didanau ini.” Ucapnya detail. Tanpa terasa air mataku jatuh mengenai pipiku. Aku sempat tak mengerti sama alur cerita yang iqbaal ceritain barusan. Ada didanau ini sekarang? Aku sungguh-sungguh tak mengerti. Cerita nya sungguh sama percis apa yang aku dialamin dimasa kecilku. Sama bahkan benar-benar sama. Apa mungkin Iqbaal ini? Ah nggak mungkin lah… Nggak akan mungkin. Jika benar Iqbaal ini Fakhri. Aku akan membencinya seumur hidupku. Aku bersumpah akan membencinya. Ada keheningan diantara Aku dan Iqbaal sesaat lalu beberapa 2 menit kemudian Aku pun angkat bicara.

-

“Maksud loe apa? Apa loe emangnya…emm.. Fakhri…hmm tapi kayanya gak mungkin loe Fakhri deh haha mana mungkin loe Fakhri. Aku ini ada-ada aja ya” ketusku sambil melirik tajam kearah Iqbaal. Tanpa kesadaranku Iqbaal langsung menghapus air mataku dan menyentuh kedua pipiku. Aku hanya bisa menutup mata dan merasakan sentuhan tangan lembut Iqbaal. Dan lagi-lagi aku menjatuhkan air mataku didepan Iqbaal. Sungguh aku tak mengerti kenapa aku menangis? Aku tak mengerti. Aku diam sejenak memikirkan mengapa aku menangis.

“Gak mungkin? Hal yang gak mungkin terjadi pasti mungkin terjadi. Dan loe harus nerima itu semua” Ucap Iqbaal barusan membuatku sadar. Aku tahu aku sedang berhadapan dengan siapa sekarang Aku tahu. Aku sadar sekarang. Benar-benar sadar.

“Gue…gue…gue…gue ha-harus pergi” ucapku menepiskan kedua tangan Iqbaal yang masih menyentuh pipiku. Tapi Iqbaal menahan tanganku dengan sedikit kasar ketika aku ingin beranjak pergi jauh dari Iqbaal.

“Ra. Maaf. Aku salah. Aku emang salah. Dan kamu juga emang salah! ” ucapnya sedikit berteriak. Aku tetap tak mau melihat wajah Iqbaal atau Fakhri atau apa lah aku gak peduli. Karena aku sudah bersumpah pada diriku sendiri aku akan membencinya seumur hidupku. Disuatu sisi aku merasa, sedang ada yang memperhatikan aku dan Iqbaal. Tapi mungkin itu firasatku saja. Tapi aku benar-benar merasa sejak pertama aku dan Iqbaal didanau ini seperti ada orang yang memperhatikan gerak-gerikku dan Iqbaal.

-

“Tapi loe jahat! Loe jahat! Loe jahat fakhri loe jahat sama gue loe jahat!” Tak tahu kenapa aku langsung berbalik badan menghadap Iqbaal dan memukul-mukul dada Iqbaal dengan keras tanpa terasa air mataku jatuh lagi… lagi…lagi…dan lagi. Aku sudah nggak kuat. Kenapa kamu hadir dihidupku disaat yang nggak tepat sih? Kenapa coba? Kenapa?!

“Loe boleh mukul gue, nampar gue, siksa gue, boleh kok boleh dengan senang hati gue terima. Karena gue emang jahat” Ucapan Iqbaal barusan membuat aku menatap matanya dalam-dalam. “Kenapa? Tampar gue Ra. Tampar! Gue rela kok rela sumpah” sambung Iqbaal sambil menggenggam tangan kananku kepipi kirinya.

“Nggak. Aku nggak bisaaaaaa!” teriakku sambil langsung memeluk tubuh Iqbaal. Dan Iqbaal pun membalas pelukanku. Aku mulai menangis lagi didalam dadanya yang bidang. Aku benar-benar nggak kuat. Aku nggak peduli kaos polonya basah karena tangisanku.

“Keluarin tangisan kamu Ra! Keluarin. Sampai kamu benar-benar lega” ucap Iqbaal sambil mengelus-elus rambutku dengan lembut.. Aku menghapus air mataku karena sudah cukup banyak aku menangis didepan Iqbaal. Aku malu. Tapi rasanya aku ingin terus menangis…menangis…menangis lagi. Huh! Dasar cengeng. “Yuk kita pulang. Nanti aku jelasin dirumah. Maaf ya sekali lagi. Ra.” Sambung Iqbaal lalu menggenggam tangan kananku.

---oOo---

BASTIAN POV-

“Itu didanau ada siapa sih? Kayanya gue kenal deh” ucapku sambil berhenti menyetir mobil.

“Itu Iqbaal sama Rara kayanya” jawab Aldi santai.

“Iqbaal? Rara?! “ ucapku kaget.

“Hah?! Iya bas! Itu Iqbaal sama Rara! Ayo kita turun!” sambung Kiki ikut terkejut.

Aku pun sesegera mungkin turun dari mobil diikuti oleh Aldi dan Kiki dari belakang. Ketika aku ingin berjalan menghampiri mereka, aku langsung mematung dibalik pohon besar. Aku kaget sekali melihat Rara berpelukan dengan Iqbaal. Apa-apaan ini?!

“Udah bas udah tenang. Jangan bertindak yg engga-engga bas. Kita perhatikan dulu mereka” bisik Kiki sambil menepuk pundakku. Mau tenang gimana? Coba kalian bayangkan. Pacar sendiri pelukan dengan sahabat kita? Sakit nggak?!

“Nggak bisa ki! Ini udah keterlaluan namanya” bentakku menatap Kiki dan Aldi dengan pelototan yang tajam.

“Bas! Kita perhatikan mereka dulu!” bentak Kiki tak kalah menyeramkan. Terpaksa aku menuruti kata Abang dan Aldi. Amarahku sudah semakin memuncak ketika aku melihat Rara terus memeluk Iqbaal dan sebaliknya Iqbaal pun membalas pelukan Rara. Sabar bas sabar. Tahan , jangan emosi. Aku melihat mereka sudah selesai berpelukan dan langsung pergi. Refleks aku langsung mengejar mereka dr arah belakang dan menarik paksa tangan kiri Rara. Ia dan Iqbaal pun menoleh.

“Bas-bastian?!” ucap Rara melotot kearahku.

“Sejak kapan loe disini?” sambung Iqbaal tak kalah kaget.

“Sejak Rara nangis dan kalian berpelukan lama sekali” ketusku sambil menatap Iqbaal tajam.

“Bas. Dengerin dulu bas. Ini nggak seperti apa yang loe pikirkan!” bentak Rara sambil memegang kedua tanganku.

“Udahlah. Loe nggak pernah peka sama perasaan gue, Ra. Gue tau kita pacaran belum sampai 1bulan apalagi 1minggu tapi gue ngerasa kalo kita emang…..emang gak cocok” ucapku berhenti sesaat untuk mengambil nafas pendek. “Apalagi loe sampai pergi ke Bandung sama Iqbaal tanpa ngabarin gue. Loe ini pacar gue atau bukan sih? Maaf gue ngomongnya sedikit kasar dan pakai ‘loe-gue’ seengganya gue bisa jujur sama perasaan gue ini dan sekarang gue ke Bandung cuman pengen tau kamu ngapain sama Iqbaal dan ternyata—“ Tiba-tiba saja ketika aku ingin melanjutkan berbicara, Iqbaal sudah memotongnya.

“Udah cukup bas! Loe udah puas bas?Lihat Rara bas lihat dia!” potong Iqbaal sedikit membentak. Aku tak menjawab perkataan Iqbaal. Aku langsung menoleh kearah Rara karena sedari tadi aku berbicara aku tak menatap matanya sama sekali, aku hanya menatap ke Danau. Tak terduga sedari tadi aku berbicara… Rara menangis sambil menundukan kepalanya. Apa dia menangis? Kenapa dia menangis?

“Hei Ra? Kamu kenapa nangis? Percuma nangis juga Ra. Air mata loe terlalu berharga di sia-sian buat nangisin cowok kaya gue. Gak berguna” ucapku sambil mengangkat wajah Rara sehingga aku dan dia saling bertatapan walaupun ia tetap menangis dihadapanku. “Ra? I love u” sambungku sambil mengecup kening Rara dan Rara pun memelukku dalam-dalam sambil terisak. Dengan canggung aku membalas pelukannya. “Mungkin—ini—yang te—rakhir kalinya” sambungku sekali lagi dengan terbata-bata.Perlahan Rara melepaskan pelukannya dan menghapus air mata yang keluar dari kelopak matanya.

“A-apa? Ma-maksud kamu itu bas?” ucap Rara dengan suara seraknya.

“Kita putus Ra.” Balasku singkat tanpa menatap mata Rara.

“A—apa bas? Pu—tus? Kenapa bas?“

“Ya kita gak cocok aja. Yaudahlah” ucapku lalu pergi meninggalkan Rara dan Iqbaal karena aku tak kuat untuk melihat Rara menangis. Aku nggak tega melihat ia terluka tapi mau bagaimana lagi aku sudah tak kuasa menahan kekecewaan ini semua. Sejujurnya aku masih tak rela melepaskan Rara tapi ini memang sudah kehendak Tuhan. Mungkin suatu saat nanti aku bisa mendapatkan yang lebih baik darinya.

“Bassssss!” teriak Rara dengan suara serak namun aku menghiraukannya. Aku tak peduli. Aku sudah cukup sakit hati dibuat olehnya.

***

RARA POV-

“Kita putus Ra.” Balasnya singkat tanpa menatap mataku. Apa putus? Putus? Secepat inikah Bas? Kita pacaran aja belum sampai 1bulan. Kenapa sih Bas loe orangnya sensitive. Kenapa bas?!

“A—apa bas? Pu—tus? Kenapa bas?“ ucapku kaget.

“Ya kita gak cocok aja. Yaudahlah” ucapnya lalu pergi meninggalkanku dan Iqbaal

“Bassssss!” teriakku dengan suara serak namun Bastian menghiraukanku.

“Udahlah Ra. Kan kata Bastian juga ‘Percuma nangis juga Ra. Air mata loe terlalu berharga di sia-sian buat nangisin cowok kaya Bastian. Gak berguna’ udahlah move on aja” ucap Iqbaal tiba-tiba yang membuat aku terkejut dengan perkataannya. Move on? Secepat itu aku bisa move on dari Bastian? Haha lucu banget.

“Move on? Loe gila apa? Loe juga sama baal! Loe jahat! loe jahat! Malah loe lebih jahat dari Bastian!” ucapku tak mau kalah.

“Iya gue tau gue jahat. Loe juga jahat.” Kata Iqbaal datar dan langsung memainkan handphonenya. Entahlah dia sedang sms dengan siapa. Yang jelas aku tak peduli karena yang sedang ada dibenakku sekarang hanyalah Bastian. “Emm, Ra maaf sekarang gue gak bisa ngejelasin semua tentang diri gue. Yang jelas loe udah tau kan kalau gue Fakhri. Dan loe nggak perlu minta bukti apapun kan? Kalau loe mau bukti yang jelas, gue masih punya kalung ‘RaraFakhri’ kok. Percayalah. Dan satu lagi loe manggil gue Iqbaal aja ya jangan Fakhri. Tapi nggak apa-apa kalo loe pengen manggil gue Fakhri juga” Sejujurnya sekarang aku lebih nyaman memanggil dia Iqbaal. Tapi kenapa Iqbaal ngomong gini? Sumpah demi apa jujur ya gue masih nggak percaya kalau Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan itu sahabat masa kecil gue. Ya wajarlah nggak percaya. Kan dia itu seorang artis dan masa dia sahabat masa kecil gue? Mungkin comate diluar sana banyak yang iri sama hidup gue. Karena bisa pacaran sama Bastian dan punya sahabat seorang artis yaitu Iqbaal.

-

“Kenapa loe ngomong gitu? Ya gue percaya loe Fakhri”ucapku sambil tersenyum tipis.

“Gue harus pergi Ra. Gue harus ke tangerang sekarang dan udah ditunggu sama Bastian,Aldi dan Kiki di BIP. soalnya ada latihan koreo buat 3hari lagi konser 30 kota. Loe gimana dong Ra?” ucapnya panik.

“Oh jadi Bastian, Kiki sama Aldi masih didaerah sini? Yaudah nggak apa-apa.”

“Iya. Tapi loe balik ke jakartanya gimana?”

“Yaudah tenang aja di Bandung kan ada paman aku. Suruh minta ante raja sama paman aku hehe” ucapku terkekeh. Jujur sebenarnya aku masih ingin Iqbaal disamping aku.

“Iya Ra tapi—“

-

Aku tak mendengar dan tak mau peduli lagi dengan kelanjutan perkataan Iqbaal. Yang aku tahu, hubungan apapun diantara aku dan Iqbaal sudah selesai.

***

Secara harfiah aku tahu bagaimana rasanya sakit hati, tapi aku tak mengizinkan diriku sendiri untuk terlalu larut. Sebisa mungkin aku mencari kegiatan ditengah-tengah kekosongan yang membuatku teringat Iqbaal bahkan Bastian. Karena tak ada lagi komunikasi antara aku dan Iqbaal maupun Bastian. Mungkin Coboy Junior sedang sibuk-sibuknya untuk konser 30 kota dan sudah melupakanku.

“Kamu nggak akan bunuh diri kan, Ra?” Tanya Mamaku disuatu siang ketika sudah mendengar kisahku. Ya Mamahku dan Anas sudah pulang dari England 2 minggu yang lalu. Dan Keisya? Keisya masih ada dirumahku maksudnya dirumah orangtuaku.

Aku hanya bisa tertawa lemah. “Mah, Rara nggak sefrustasi itu tahu”

“Ya siapa tahu aja , kamu kan suka nekat”

“Engga mah, Rara nggak bakal bunuh diri. Mama tuh ya”

Tak jauh beda dengan mamahku, Keisya, Anas bahkan menyangka aku akan menjadi gila jika terus-terusan berada dirumah.

Meski rasanya sakit tapi aku tidak terlalu terpuruk.

--

Hari ini tepat 3 bulan sejak kejadian di Danau, aku membawa diriku menuju Danau itu lagi tempat yang dulu sering kudatangi bersama Iqbaal dimasa kecil dan tempat saat aku dan Bastian mengakhiri masa pacaran.

Aku berjanji kepada diriku sendiri, ini adalah tempat terakhir yang akan kudatangi yang berkaitan dengan kenanganku dengan Iqbaal. Setelah itu, aku akan menutup rapat-rapat segala sesuatu yang berkaitan dengan Iqbaal.

Ketika aku melangkahkan kaki menuju setapak yang mengarah kesekitar danau, aku menghirup udara dalam-dalam. Aaah… Rasanya sudah lama sekali aku tidak kesini. Rasa damainya masih sama sepeti dulu. Aku mengedarkan padanganku kesekitar taman menyerap setiap sudut yang dulu pernah ku isi bersama Iqbaal. Betapa aku rindu berada disisi Iqbaal.

--

Sebelumnya aku selalu membuang jauh-jauh rasa kehilangan Iqbaal tapi hari ini menjadi pengecualian. Aku membiarkan diriku terbawa hanyut ke dalam kenangan bersama Iqbaal. Dan asal kalian ketahui aku sudah benar-benar melupakan Bastian.

Aku duduk disalah satu batu dan membiarkan air mataku bergulir dan kering dengan sendirinya akibat tertiup angin kencang.

-

“Aku kangen kamu, baal. Meski aku tahu nggak seharusnya aku sedih kaya gini, tapi aku nggak tahan. Kenangan tentang kamu terlalu banyak dan sudah menempel dihati aku secara permanen.“ Lalu setelahnya aku menenggelamkan wajahku kedalam lututku dalam-dalam dan mulai terisak.

Entah sudah berapa lama aku berada disini sampai akhirnya aku melirik jam tanganku. Jarumnya menunjukkan pukul setengah lima sore.

Menarik nafas dalam-dalam, aku berusaha untuk tersenyum mengiklhaskan. Mengikhlaskan sesuatu tentang Iqbaal.

Masih sambil tersenyum, aku berbalik dan bersiap untuk pergi dari sana. Aku nyaris pingsan ketika langsung berhadapan dengan seseorang yang sejak dari tadi mengisi otakku seharian ini. Berharap aku hanya berhalusinasi, aku mengerjapkan mataku berkali-kali untuk memastikan bahwa sosoknya hanya khayalanku semata. Tapi Tubuh Iqbaal masih tetap sama.

“Iqbaal….?”

”Ra, hai” balasnya sambil tersenyum lemah.Dia terlihat makin kurus dan pucat seperti orang yang belum tidur selama berhari-hari.

Dengan canggung aku membalas senyumannya dan berusaha melangkah sejauh mungkin. “Eh, hai. Gue baru mau pergi,kok. Jadi……kayanya…gue duluan, deh, ya” Secepat kilat aku berjalan untuk melewati Iqbaal, tetapi baru beberapa langkah aku berjalan melewatinya lengan atasku ditahan oleh Iqbaal.

“Ra….” Bisiknya serak. Kumohon, kumohon. Jangan sekarang baal. Aku tidak meneguhkan hatiku hari ini. Ini terlalu cepat.

Tanpa menoleh aku mencoba melepaskan genggaman tangan Iqbaal dari lenganku. Bukannya melepas genggamannya, Iqbaal justru meraih telapakku dan memutar tubuhku, lalu tak kusangka sama sekali ia membawaku kedalam pelukannya.

Setengah bersyukur bisa merasakan kehadiran Iqbaal. Kembali aku memejamkan kedua mataku dan menaruh daguku diatas bahunya tanpa berani membalas pelukannya.

“Jahat…lo jahat….baal” bisikku yang mulai terisak.

Kurasakan kelembutan tangan Iqbaal yang mengelus puncak kepalaku perlahan dan sekitar tulang belakangku.

“Maaf aku nggak ngabarin kamu selama 3bulan ini, aku sibuk Ra. Dan sekarang aku habis konser di Bandung terus rasanya aku ingin sekali mampir kedanau ini dan ternyata kamu ada disini. Aku bersyukur banget Ra.” Balasnya dengan bisikan tepat ditelingaku.

Untuk waktu yang terasa damai kami berdua saling berpelukan satu sama lain dan menikmati kehadiran masing-masing. Tuhan…. Aku tidak keberatan jika harus dicabut nyawa dalam dekapan hangat Iqbaal seperti ini.

“Ra…..” Perlahan Iqbaal melepaskan pelukannya. Dengan enggan aku keluar dari pelukan hangatnya. “Aku kangen banget sama kamu. Oh iya soal Bastian, tenang aja dia udah rela melupakan kamu. Dia benar-benar rela lagi pula dia sekarang balikan sama mantannya itu lho Baby Mamesa” ucapnya. Bastian playboy. Cepat sekali ia melupakanku. Ah sudahlah lagipula aku pun sudah melupakannya. Aku menunduk tanpa menatap mata Iqbaal.

Tanpa kusangka Iqbaal menangkup kedua pipiku sehingga aku terpaksa mengangkat wajahku untuk membalas tatapannya. Dengan rakus aku mengamati setiap detail wajah Iqbaal yang kurindukan setiap sentinya. #lebay #balikkenaskah #seriuslagiya

“Jangan gini……baal…..” protesku lemah.

“Ra, lihat aku” ucapnya serak. “Maaf karena aku terlalu egosi. Tapi kamu tahu apa? 3 bulan ini, aku nggak bisa berhenti mikirin kamu. Ra, aku sekarat. Ternyata aku nggak bisa tanpa kamu. Tanpa aku sadari kamu sudah lama jadi bagian yang terpenting dalam hidup aku”

Rasanya aku ingin menangis tersedu-sedu. Ingin rasanya aku memercayai Iqbaal sepenuhnya. Aku menatap mata Iqbaal dalam-dalam, berusaha mencari tanda-tanda kebohongan didalamnya.

“Kamu….kamu….kamu yakin baal?”

Iqbaal terdiam sesaat, lalu mengangguk mantap.

“Selama 3 bulan ini aku udah mikir. Awalnya emang sedikit ragu tapi setelah aku pikir lebih dalam ternyata yang bikin ragu adalah perasaan takut kehilangan kamu, Ra. Kamu tahu waktu kita ketemu pertama kali dicaffe trans studio? Terus pas kita ketemu di gramedia? Aku terlihat canggung ketika berada disisimu dan aku merasa risih waktu kamu pakai kalung ‘RaraFakhri’ . Dan gilanya lagi waktu itu aku nyolot pengen tidur bareng kamu haha konyol nggak tuh. Terus waktu bangun tidur disamping kamu, aku ngelus-ngelus kepala kamu dengan bodohnya kamu nanya kenapa aku ngelakuin kaya gitu? Tapi aku malah gugup aneh banget kan haha” ucap Iqbaal terkekeh dengan serak.

Aku bingung dan tak mampu berkata-kata dengan hati berdegup tak karuan.

“Haha iya. Ini bukan tentang seberapa lama kita sudah saling kenal atau seberapa lama kamu ada disamping aku. Ini tentang bagaimana kamu yang selalu mempunyai arti untuk aku seiring waktu kita bersama. Baik waktu yang lalu, hari ini, maupun diwaktu selanjutnya” Iqbaal meraih salah satu tanganku dan membawanya kedenyut jantungnya yang bergema teratur.

“Mulai besok kamu boleh lebih jahat atau egosi dan aku akan nurutin semua keinginan kamu. Jangan pergi, Ra. Aku mohon. Aku nggak bisa kalau nggak ada kamu. Aku hilang arah, Ra. Tetaplah disampingku sampai waktu yang kita perlukan untuk bersama habis. Jadilah tempatku untuk selalu berpegang. Kamu terlalu berharga untuk aku lepas. Kamu mau kan jadi pacarku?”

Runtuh sudah dinding keraguanku untuk Iqbaal. Aku melingkarkan kedua tanganku diseputar lehernya dan memeluknya dalam-dalam sambil terisak.

“Ra?” bisik Iqbaal frustasi. “Apa ini artinya ‘iya’?”

Tak mampu bicara akibat isak tangisku, aku hanya bisa mengangguk berulang-ulang untuk meyakinkan Iqbaal. Kurasakan kedua lengannya mengangkat pinggingku dan memutarnya beberapa kali.

“Aku sayang kamu” bisiknya sungguh-sungguh.

“Aku juga sayang kamu” balasku tak kalah serius.

Rasanya aku tak bisa berhenti tersenyum dan bersyukur. Semoga apa yang dikatakan Iqbaal benar. Semuanya akan baik-baik saja. Selama ada Iqbaal disampingku, menjagaku seperti apa yang ia janjikan.

-TAMAT-

posted by; @Anisafn_

Maaf nggak jelas. Komentar ya thxxx;-)

Continue Reading

You'll Also Like

238K 2.5K 63
CERITANYA LENGKAP YAWW🧡 BACA DULU SEBELUM BERARGUMEN ⚠️⚠️ seorang gadis yang menikah dengan kemauan orang tuanya hanya karena demi kebaikannya dan k...
3.4K 169 17
[FOLLOW DULU UNTUK BISA MEMBACA CERITANYA] Kisah dimana seorang perempuan yang selalu diteror sosok bayangan hitam dalam mimpinya. Rara (saja) namany...
130 26 6
Korea adalah negara impian bagi fangirl kpop. Bagaimana rasanya bisa bersekolah disana? Rara Akhirnya lulus Exchange ke korea. Memulai hidup baru din...
121K 4.9K 31
"apa yang lo lakukuin?" tanya Rara dengan darah yang mengalir bercampur dengan air hujan "membunuh mu agar semuanya kembali pada saya" kata seseorang...
Wattpad App - Unlock exclusive features