Seorang laki-laki melangkah dengan lebar menyusuri koridor yang nampak mulai ramai karena mungkin sebentar lagi bel pertanda pelajaran dimulai akan berdenting. Langkahnya semakin cepat, cepat dan cepat hingga kedua kakinya berhenti tepat di depan sebuah kelas. Laki-laki itu, sebut saja Iqbaal. Melepas sepatu dan meletakannya di atas rak sepatu. Kemudian masuk kedalam kelas yang sudah hampir terpenuhi oleh anak-anak.
"Baal!" Iqbaal mengangkat alisnya saat Ari, teman sekelasnya menyebut namanya. "Apa?" Sahut Iqbaal santai, ia melangkah menuju meja paling belakang. Tempat duduknya bersama Ari. "Tugas bahasa lo udah apa belum?" Tanya Ari saat Iqbaal meletakkan tasnya dikursi.
Iqbaal mendengus lalu duduk dan menyahut, "Sabar dong, Ri! Tenang ama gue, mah," Jawab Iqbaal. Ari mengangguk senang kemudian segera menampilkan wajah tidak sabarannya menunggu Iqbaal memberikan buku tugas Bahasa Indonesia untuk ia salin.
Tapi.. Ada yang aneh. Sampai sekarang si Iqbaal masih diam memainkan hapenya tanpa ada tanda-tanda akan memberikan buku itu. Kapan ngambilin bukunya buat Ari? Keburu Ari jadi abege mateng.
"Baal!" Ari menepuk punggung Iqbaal lumayan keras, yang tentunya berhasil membuat Iqbaal tersentak kaget. Iqbaal ngeliatin muka Ari yang udah dipenuhin iler. Gadeng. "Apasih, Ri.." Sahut Iqbaal bernada, saking gemesnya pakai nada sariosa. Heum tjanda.
Ari menghela nafas lalu mempersiapkan diri menanggapi Iqbaal yang kadang-kadang dungu._. "Buku tugas bahasanya mana, pe'a?!" Ari jadi gemes sendiri sedangkan Iqbaal nyengir, "Ooohhh.. itu.." Iqbaal manggut-manggut kayak orang bego, memutarbadan untuk mengambil tasnya.
Ari menunggu dengan sabar, lalu tidak lama Iqbaal mengeluarkan buku bersampul Boboi Boy yang berhasil membuat Ari menganga lebar. Udah SMA masih pake sampul begituan? Uceet...
"Nih." Iqbaal melempar buku bersampul Boboi Boy itu keatas meja Ari. Dengan cekatan Ari mengambil buku itu, lalu mengeluarkan buku tugas punya dia yang dibalut sampul Doraemon. Ck, apa bedanya Ari sama Iqbaal?
Setelah selesai berbenah dengan peralatan sekolah untuk mengerjakan tugas itu, Ari meraih buku Iqbaal yang tadi sempat diabaikan. Dengan dramatis, Ari membuja lembaran buku tugas Iqbaal. Namun sekejap kemudian raut wajah Ari berubah, "Mana, sih, baal?" Tanya Ari sembari membolak-balikan halaman buku Iqbaal.
"Nggak ada, ya, emangnya?" Bukannya menjawab pertanyaan Ari, Iqbaal malah berbalik menanya.
Ari mendengus pelan. "Nggak ada, Iqbaalku sayang..." Jawab Ari gemas. Iqbaal manggut-manggut dengan kening berkerut, "Berarti gue belum," Sahut Iqbaal santai.
GEDUBRAK!
Tiba-tiba Ari syok dan kejang-kejang terus jatoh kebawah meja.
Kang Iqbaal emang the best.
~~~
Gadis satu itu melempar tasnya ke kursi, membuat temannya yang ada disebelahnya terkejut bukan main dan langsung terbangun dari acara 'tungkurep diatas meja'nya.
"(Namakamuuuuuuu)!" Pekik temannya itu, (Namakamu) menatap Bella dengan alis bertaut dan wajah tanpa dosanya karena otak kecilnya tidak tahu apa alasan dibalik teriakan Bella.
Bella mendengus, takdir dah dia punya temen double ow–en begini.
"Kaget gue, goblok!" Sinis Bella, (Namakamu) yang baru ngeh langsung mangut-mangut kocak. Bella menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, kayaknya dia harus rajin-rajin bertapa supaya tahan menghadapi ke-lola-annya (Namakamu).
"Bell," Panggil (Namakamu).
"Hmm.." Bella berdeham singkat membalas panggilan (Namakamu). "Ada info terbaru tentang Iqbaal, gak, sih?" Tanya (Namakamu) dengan pelan takut si empu nama mendengar ucapannya.
(Namakamu) menopang kepalanya dengan tangan yang ia letakkan di atas meja sambil menatap kedepan sana, berlagak memperhatikan apa yang ada dipapan tulis padahal papan tulisnya bersih bening seperti tanpa kaca.. *eh iklan dong:v*
"Ada," Jawab Bella setelah beberapa detik diam. (Namakamu) melepas tatapan kosongnya pada papan tulis. Lantas segera beralih menatap Bella yang fokus dengan hapenya.
"Apaan?" Sembur (Namakamu). "Tuh doi lo baru dateng," jawab Bella datar, dagunya dimajuin kedepan untuk menunjuk si Iqbaal yang baru saja memasuki kelas dengan gagahnya.
Si Bella kok tau, ya? Padahal sih Iqbaal baru dateng. Wiii... si Bella berbakat jadi peramal, neh!
"Guys!" Suara dari depan kelas sana berhasil mengalihkan perhatian hampir seluruh penghuni kelas. Ckck.. si Ari ganggu aktifitas gosip pagi-paginya (Namakamu) nih. Aelah.
"Apaan, sih, Ri?!" Sahut (Namakamu) nyolot, kayaknya cewek spesies langka satu ini lupa lagi kalo dikelas ini ada Iqbaal. Mangkanya dia berani nyolot kayak begitu. Ari menatap (Namakamu) bentar lalu beralih menatap seluruh anak-anak di kelas. "Attention, please! Kembarannya Harry Styles mo ngomong ini!" Pekik Ari yang dijawab dengan sorakan tidak terima. "Najis! Kembarannya Harry Styles? Bukannya elo kembarannya bopak, ya?" nah eum keluar dah omongan sembelitnya (Namakamu).
Ari mengerucutkan bibirnya sebal. "Diem lu tampungan taek!" Sahut Ari sinis. "Udah, Ri. Lanjutin aja," Tegur Iqbaal. Ari mengangguk kemudian bebicara panjang lebar tentang alasan mengapa ia berdiri di depan kelas sekarang ini.
"Jadi, besok ada kegiatan pramuka untuk yang pertama buat anak kelas sepuluh. So, satu kelas ada dua regu, regu cowok dan cewek. Nah berhubung dikelas kita udah pas dua puluh orang, cewe sepuluh cowo sepuluh, jadi yang tentang regu its oke wae, ya? Terus-terus, gue disini cuman mau ngasih arahan buat pemilihan ketua regu, nah yang jelas gue ngga kepengen. Jadii.. ada yang berniat? Atau pengen mengajukan saran?"
Bella menyikut lengan (Namakamu) dengan sikunya, membuat (Namakamu) mengaduh pelan dan memberikan tatapan horor tertuju untuk Bella. "Lo aja dih yang jadi ketua regu, biar hidup gue tenang," Ucap Bella, (Namakamu) menyerngit. Apa hubungannya menjadikan (Namakamu) menjadi ketua regu dengan ketenangan hidup Bella?
"Lah emangnya napa kalo gue jadi ketua regu?"
"Baris kita kan pasti beda, lo didepan gue dibelakang, jadi gue ngga pusing kalo ada elo," Jawab Bella santai. (Namakamu) menyerngit, lagi.
Otaknya yang memang pas-pas-an terlalu sulit menerima apa yang dimaksud Bella. Membuat Bella hanya bisa menghela nafas sembari menunggu (Namakamu) mencerna omongannya, Bella udah gemesh pake buangeeeet..
'TUK!'
Sangking gemesnya Bella memukul kepala (Namakamu) tanpa hati menggunakan bolpoinnya. (Namakamu) meringis. Tangan kanannya terangkat mengelus jidat jenongnya sambil mengaduh pelan. "Ngga usah dipikirin, keburu gue lumutan!" Sinis Bella, (Namakamu) mendengus. Sebegitu lolanya kah dia?
"Ok, ketua regu yang cowok Iqbaal, wakilnya Hanif, udah setuju, kan? Terus, yang cewe udah nemu?" Tanya Ari, tapi hening. Tidak ada yang membalas. "Saran gue sih (Namakamu) aja, Ri!" Pekik Khalda, (Namakamu) yang lagi asik menikmati foto shirtlessnya Harry kaget bukan main. Dia takut ke geep ngeliat fotonya Harry yang aduhai membahana ulalah seperti itu..
(Namakamu) menyimpan ponselnya segera kemudian menyahut, "Napa jadi gua? Ntar kalo regunya jadi amburegul ameseyu jan salahin gue, yak?" Sahut (Namakamu) asal, Bella terkekeh menanggapi sikap (Namakamu) yang kelewat jujur.
Ari menatap (Namakamu) intens, sebelah alisnya terangkat. "Yaudah oke, regu cowok Iqbaal, regu cewek (Namakamu). Wakilnya biar gue yang nentuin sendiri, ngga ada penolakan kalau udah terpilih. Wakil buat regu cowok tetep Hanif, dan buat yang cewek wakilnya Dianty aja, ya? Okay ngga ada penolakan buat Dianty, biar cepet. Sekarang buat masing-masing regu, tentuin jabatan anggotanya. Kalau udah, tulis dikertas selembar dan kumpulin ke gue sebelum istirahat, makasih!" Tutup Ari dengan keputusan kelewat bijak, kemudian Ari melangkah menuju kursinya tak perduli dengan tatapan memelas Dianty.
"Fix gue males jadi Wakil! Gue pasti dibarisan paling belakang, panas tauuuu.." Eluh Dianty, Dianty berbalik badan menghadap (Namakamu) dan Bella. Wajahnya yang emang cantik terlihat menggemaskan, beda sama (Namakamu). Kalo Dianty menggemaskan, dia mah amit-amit.
(Namakamu) tersenyum tipis, "Domat, yang penting besok gue satu barisan sama Iqbaal.." Cicit (Namakamu) pelan, hanya terdengar oleh Bella, Dianty serta Khalda. "Ah, elu mah doi mulu yang dipikirin." Bella mengusap wajah (Namakamu) kasar. Membuat (Namakamu) memekik tidak terima karena kerudung yang ia kenakan ikut tertarik dan berakhir rusak.
"Dasar Bellatung ngeselin!" Cibir (Namakamu), mata Bella membola ketika dirinya dikatai bellatung. Hih nggak ngaca rupanya nih anak monyet. "Kalo gue Bellatung, lo apa dong?" Tanya Bella nyolot, (Namakamu) tertawa sumbang. "Temennya Bellatung, lah!"
~~~
(Namakamu) mengibaskan kertas yang ada digenggamannya kekiri dan kanan. Berusaha menciptakan angin dari kegiatan yang ia lakukan. Sumpah demi cicak makan eeq badak, ini tuh panas banget! (Namakamu) nggak bisa membayangkan gimana panasnya di neraka kalau didunia saja sudah panas kayak begini. Nah masalahnya itu, kalau (Namakamu) sudah sadar kayak begituan kenapa dia belum insyaf aja, yak? Fix ini perlu digaris bawahi dan patut ditanyakan.
"(Namakamu)?" (Namakamu) menoleh mencari sumber suara, siapa yang telah menyerukan namanya?
Dan tatapan (Namakamu) mengedar kearah barisan laki-laki, karena menurut telinganya, yang ia denger suara laki-laki. Ketika mata (Namakamu) bertemu dengan mata Iqbaal, seketika jantungnya berdebar tidak karuan. Darahnya berdesir naik. Dan keringat dingin mulai bercucuran di kening (Namakamu).
Terdengar suara helaan nafas. Kok banyak banget, ya, yang menghela nafas? Mungkin capek sama sikap lola (Namakamu) kali, yak? Kasian ya (Namakamu). "Gue yang manggil, oon!" (Namakamu) terkesiap. Oh si Ale, toh! Ra mudeng (Namakamu), maz.
"Apaan, sih, Le?" Tanya (Namakamu), Ale menggeleng pelan. "Pengen ngetes telinga lo, doang," Jawab Ale santai dengan watadosnya.
Gedubrak. (Namakamu) serasa dilemparin pake batu akik sebanyak berton-ton. "Najis lo dasar! Minta dibacok," Cibir (Namakamu), Ale alias Aure Samil Cafi terkekeh pelan.
Manis juga senyumnya Ale. Leh ugha. But, Eiiitttsss.. (Namakamu) udah punya Iqbaal! Jaga mata, jaga hati, jaga pikiran. Itu semua cuman buat Iqbaal. Eaaaghhhh....
Aha! (Namakamu) punya ide! (Namakamu) mengeluarkan ponselnya kemudian berjalan mundur sedikit, si Khalda yang lagi kipas-kipasan kaget karena (Namakamu) nggak sengaja menginjak kakinya.
"Sakit, begok!" Cicit Khalda, sedangkan (Namakamu) cuman bisa nyengir. "Sorry ngga sengaja, lindungin gue dari yang lain, dong. Gue mau ngefoto Iqbaal, nih. Siapa tau kalo bagus bisa jadi lockscreen, kan mayan jadi semangat pas maen hape," bisik (Namakamu), Khalda mendengus tapi mengiyakan permintaan (Namakamu).
'ckrek'
Yes! (Namakamu) berhasil mendapatkan foto candidnya Iqbaal. Yuhuu...
~~~
Iqbaal menghembuskan nafas beratnya. Dengan sangat-sangat terpaksa dia harus berdiri dibarisan paling depan karena itu memang sebuah keharusan bagi ketua regu. Berdiri tepat menghadap matahari yang sedang panas-panasnya. Mana upacara pembukaannya lama sekali, kaka pembinanya kebanyakan ceramah, sih. Minta disumpelin duit segepok kali, ye!
"(Namakamu)?" Sekilas Iqbaal mendengar suara Ale memanggil cewek tengil yang ada disebelahnya. Eiiittss.. jan salah, tengil-tengil gitu lucu tauk! Bukan maksud Iqbaal ngejelekin.
Dari ekor mata Iqbaal, dia bisa melihat (Namakamu) lagi celingak-celinguk mencari orang yang memanggil namanya. Dan sudut bibir Iqbaal sedikit terangkat membentuk sebuah senyuman, tetapi segera ia tahan. Nanti dikira orang gila kalau senyum-senyum sendiri tanpa sebab, masa orang ganteng dikatain gilak. Kan nggak lucu. Tapi, Iqbaal senyum itu ada alasannya, kok! Tapiiii.. ngga ada yang boleh tau alasannya. Cuma dia dan Allah serta author yang boleh tau.
Disaat mata Iqbaal bertemu pandang dengan (Namakamu), Iqbaal merasa ada perbedaan dari sikap (Namakamu) sebelumnya. Entah apa itu, Iqbaal ngga tahu, dan enggan untuk mencari tahu.
"Apaan, sih, Le?" Tanya (Namakamu). Adeuuuhhh.. suaranya itu kok jadi kayak lembut-lembut, gitu, ya? Biasanya Iqbaal hanya mendengar suara (Namakamu) teriak-teriak kayak kucing garong.
"Pengen ngetes telinga lo,doang." Seketika Iqbaal pengen ketawa sekencang-kencanfnya setelah mendengr jawaban dari keisengan Ale.
Sekilas Iqbaal menyadari wajah (Namakamu) memerah. Mungkin dia marah atau malah tergoda. "Najis lo dasar! Minta dibacok." Cibirnya.
Iqbaal tersenyum dalam hati. Entah kenapa, sejak pertama kali bertemu dengan (Namakamu) ia merasakan kalau (Namakamu) ini memilik sesuatu yang berbeda. Entah apa itu, Iqbaal tidak tahu.
~~~
Langkah kaki yang semulanya lebar kini melamban. Semakin lambat, lambat dan lambat. Seperti diberi efek slow motion.
(Namakamu) tersenyum miris. Ia merasa Tuhan terlalu jahat kepadanya, Tuhan berlaku tidak adil kepadanya. Kenapa apa yang selalu diharapkannya tidak pernah menjadi nyata? Kenapa hidupnya selalu dilingkupi aura kesedihan? Apa yang sebenarnya direncanakan Tuhan? Apakah sesuatu yang lebih baik atau bahkan lebih buruk dan nyaris membuatnya menangis menderita?
Semangat (Namakamu) luruh, seakan jatuh kedasar tanah bersama angan yang melayang terbang diterpa angin. Isak tangisnya mulai tidak terbendung. Dan akhirnya, cairan terlarang itu mengalir deras dengan sendirinya. Diiringi rintihan kesakitan yang tidak bisa ia kendali. Tanpa perduli ini tempat umum, ia menangis dengan sesenggukan. Tidak perduli menjadi pusat perhatian segelintir orang yang berlalu lalang.
"Ya Allah.." (Namakamu) menghembuskan nafas dan menghirupnya perlahan. Mengisi kekosongan oksigen diparu-parunya. Rasa ini terlalu menyesakkan. Dia bukan gadis kuat yang bisa menanggung beban percintaan diumur sebelia ini, dia hanya seorang gadis lemah yang cuman bisa menangis dikala ia sudah tidak sanggup untuk menahan sesuatu itu terlalu lama.
(Namakamu) mengedarkan pandangannya, halte sudah sepi dan ia tidak berani untuk menunggu jemputan Zeno disana. Ia lebih memilih menunggu di musholla seberang sekolah, cukup ramai.
Secara tidak sengaja, (Namakamu) melihat Iqbaal yang mungkin memperhatikannya tadi. Karena saat (Namakamu) menatapnya, Iqbaal segera mengalihkan pandangannya.
Syuutt! Jangan geer dulu, (Namakamu)! Siapa tau Iqbaal lagi mencari-cari supirnya eh malah kebetulan ngeliat elo! Jangan geer kalau Iqbaal lagi merhatiin lo. Lah emangnya penting banget gitu Iqbaal merhatiin lo?
(Namakamu) menepis air matanya yang masih terus mengalir. Isakan-isakan kecil pun masih terdengar. Terdengar menyakitkan. Dada (Namakamu) sesak, sesak oleh perasaan marah dan kecewa.
Gadis itu meraih ponsel yang ada didalam tasnya, kemudian segera menekan nomer handphone Zeno. Setelah tersambung, (Namakamu) segera meluncurkan omelan untuk Zeno. "Zeeenn.. lama banget, sih, sumpah! Sekolah udah sepi. Kalau gini terus mendingan gue suruh Ayah sewa supir, aja! Gue cape nungguin, lo, hikss.." Lirih (Namakamu).
Ini keterlaluan. (Namakamu) susah menunggu Zeno lebih dari setengah jam tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Semakin membuat dirinya ingin menangis saja.
Perasaan (Namakamu) sudah campur aduk. Hati dan pikirannya tidak bisa dibawa berkompromi untuk saat ini. 'Lo kenapa nangis?' Tanya Zeno dari seberang sana entah dimana.
(Namakamu) menghembuskan nafas beratnya. "Gue nangis gara-gara elo ngaret banget. Cepetan, sih, Zen! Sumpah.. gu–gue ngga pengen pu–punya kakak nga–ngaret kaya eloo–hikss..." Ucap (Namakamu) tersendat-sendat.
Kemudian (Namakamu) lebih memilih memutuskan sambungan telpon itu secara sepihak. Pokoknya, kalau sampai sepuluh menit lagi Zeno belum datang, (Namakamu) nggak segan bakalan pulang jalan kaki dan ngga bakalan mau dianter-jemput Zeno lagi.
(Namakamu) mengedarkan pandangannya, lagi. Masih ada Iqbaal. Syukurlah. Dia ngga sendirian disini. Tapi, ngomong-ngomong.. secara nggak langsung dia nangis dihadapan Iqbaal, dong? Kyaaa! Malu-maluin banget. Ini semua gara-gara Aldi! Ya, gara-gara Aldi. Si mantan doi paling ngeselin plus rese.
[ps: doi yg dimaksud dicerita ini tuh semacam gebetan, jadi kalonya mantan doi berarti mantan gebetan. Biar gahol gidu lhoo..]
Flashback on~
(Namakamu) melangkah menuju gerbang sekolah, takut-takut Zeno udah dateng. Masalahnya Zeno ini susah ditebak, kadang ngareett reeet reeet kadang cepet. Tapi langkah (Namakamu) terhenti saat ada yang narik tangannya, (Namakamu) kaget dan langsung balik badan. Pengen tau siapa yang menghentikan langkahnya.
Dan (Namakamu) kaget dua kali lipat dari awal pas tau siapa yang narik tangannya. Aldi? Ada urusan apa? "Hai, (Namakamu)!" Sapa Aldi riang. Yeah. Dia yang riang, bukan (Namakamu). Tau gak sih gimana rasanya di 'hai' sama mantan doi–gebetan–, disaat kita udah bener-bener move on? Kalo iya, itu yang (Namakamu) rasain saat ini. Jangan sampai (Namakamu) galmup. Jangan sampe!
"Euhm.. apa, Al?" Tanya (Namakamu) canggung. Aldi tersenyum dan meraih kedua tangan (Namakamu). "Sorry.." Gumam Aldi, (Namakamu) menyerngit. Maaf? Untuk? "Kenapa, Al? Lo ngga ada salah sama gue, kok.." Lirih (Namakamu), suaranya berubah serak. Bulir-bulir airmata siap meluncur namun berhasil ia tahan. Tidak mungkin ia menangis dihadapan Aldi dan memperlihatkan sisi lemahnya. Ia terlalu emosional.
"Maaf, gue baru sadar sama perhatian yang lo kasih selama ini. Gue.. gue terlalu buruk buat lo, (Namakamu). Gue ngga bisa bales perasaan lo, dan gue harap lo bisa nerima itu. Maaf.." Aldi memberikan tatapan yang selalu berhasil membuat (Namakamu) seolah lumpuh hanya karena itu. "Lo ngga salah, Ald. Lo ngga perlu minta maaf. Yang salah itu gue, gue salah karena sayang sama orang yang ngga pernah sadar sama perhatian yang gue kasih selama ini." Tutur (Namakamu), kemudian ia melepaskan genggaman hangat Aldi yang selama ini ia dambakan. (Namakamu) berlari meninggalkan Aldi yang diam seribu bahasa dengan perasaan bersalah. Ketahuilah, (Namakamu) tidak butuh itu!
Flashback off~
'Tinn.. Tinn..' (Namakamu) tersentak saat suara klakson itu memenuhi gendang telinganya. Ternyata dia melamun, selama sepuluh menit full. (Namakamu) berdiri,melangkah menghampiri Zeno dan menaiki scooternya. (Namakamu) menatap sekitar,ternyata Iqbaal sudah pulang. Mungkin, buktinya ia sudah tidak ada ditempat semula.