Trust Me (Vkook Pair)

By chocochans

43.9K 2.9K 256

The Careless Taehyung More

Trust Me (VKook/TaeKook Pair)
Trust Me Chapter 2
Trust Me (Chapter 3)
Trust Me Chapter 4
Trust Me Chapter 6
Trust Me Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Attention! (Not Story Update)

Trust Me Chapter 5

2.9K 227 23
By chocochans

Title: Trust Me [Chapter 5]
Author: Chocochans
Genre: romance, yaoi
Length: Chaptered
Cast:
- Kim Taehyung
- Jeon Jungkook
- Kim Seokjin
- Yoon Yuji (OC)
- other casts

Chapter 5: Kiss and Pet Name

***

"Kalian..."

Rahang Seokjin mengeras, tangannya mengepal. Memperlihatkan susunan urat nadi yang kini mulai menggembung terisi penuh oleh darah. Nampak sekali laki - laki itu menahan amarahnya hingga wajah dan telinganya sedikit memerah.

Taehyung menatap hyung-nya nanar. Jantungnya mulai berpacu. Mengantisipasi kalau - kalau hyung-nya akan meneriakinya detik itu juga. Atau yang lebih parah, Seokjin akan menjewer telinga Taehyung hingga memerah.

"H-hai."

Menyerah. Akhirnya Seokjin hanya memasang senyum dan menyapa keduanya. Meski batinnya saat ini seperti sedang terjadi sebuah tornado hebat yang memporak -porandakan apapun yang dilaluinya. Rasa penat membuat emosinya sedikit memburuk malam itu.

Tidak. Seokjin tidak ingin terlihat buruk di mata teman Taehyung. Ia tak ingin citranya jatuh jika ia langsung menunjukkan amarahnya. Sangat kekanakan -pikir Seokjin. "Kau teman Taehyung?" Tanya Seokjin pada si pemuda rambut hitam gelap.

Si pemuda tersenyum pada Seokjin. "Ah ne, hyung-nim. Namaku Jeon Jungkook. Senang bertemu dengan anda."

Seokjin mengangguk. "Jungkook ya? Aku Kim Seokjin. Oh ya, Taehyung sempat bilang padaku dia bertemu seseorang, apa yang dimaksud adalah kau? Dan jangan terlalu formal padaku. Aku merasa sangat tua." Seokjin terkekeh.

Taehyung hanya melihat keduanya secara bergantian dengan panik. Ia menggigit bibir bawahnya hingga bibirnya memutih. Entah sudah ke berapa kalinya perutnya terasa sangat melilit. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana melihat Jungkook dan Seokjin yang bercakap - cakap dengan santai. Sangat berbeda dengan ekspresi ketika ia baru saja sampai di apartemen.

Melihat Seokjin yang berbicara pada Jungkook dengan santai seperti itu justru membuat Taehyung ingin ada badai salju sekali lagi yang membuatnya lenyap dari tempat itu, detik itu juga. Firasatnya mengatakan sesuatu yang tak baik akan terjadi.

"Tae, aku ingin mandi dulu. Dan nanti kita harus bicara." Ucap Seokjin pada Taehyung. "Maaf ya Jungkook, aku tinggal dulu." Tambahnya lalu tersenyum ramah pada Jungkook. Laki - laki itu kemudian berlalu menuju kamarnya.

Taehyung menatap punggung yang mulai menjauh itu. Punggung lebar yang selalu nampak nyaman untuknya bersandar sejenak. Melupakan sedikit kegundahan dalam hatinya, melepas sejenak segala beban yang dipikulnya.

Taehyung menghela nafas. Persis seperti dugaannya. Seokjin-ingin-berbicara-dengan-Kim-Taehyung. Dan itu tandanya -amat sangat- tidak baik. Mendapat tatapan mata dari Seokjin saja sudah membuat Taehyung mendelik. Seokjin sangat menyeramkan ketika marah, jika kalian ingin tahu.

Tapi jangan salah artikan menyeramkan sebagai meneriaki Taehyung, membentak Taehyung habis - habisan, menampar Taehyung, menjewer telinga Taehyung, atau yang paling parah membanting barang - barang yang ada di dekatnya. Itu bukan menyeramkan, itu anarkis.

Jungkook menepuk pundak Taehyung, "Hei, kau bilang hyung mu tidak suka jika temanmu berkunjung, apa aku adalah pengecualian?" Pemuda itu terkekeh.

Lagi, Taehyung menelan ludahnya bulat. Ia bahkan lupa jika Jungkook adalah bocah jenius yang mungkin punya IQ lebih dari 140. Dan sudah bisa dipastikan pemuda itu punya ingatan sangat baik.

Jungkook masih mengingat kata - katanya tadi pagi. Menyatakan bahwa Seokjin sedikit tidak senang jika teman Taehyung berkunjung ke apartemen. Dan sekarang, semuanya sangat terbalik 180 derajat. Seokjin malah bertingkah ramah -terlampau ramah pada Jungkook. Membuatnya kembali terlihat seperti orang idiot.

Ia bersumpah lain kali ia akan mencari teman dengan kadar pelupa yang sedikit akut dan tak terlalu pintar. Jadi ia tak perlu risau atau malu karena temannya tak akan mengingat satu patah katapun yang ia ucapkan.

Jungkook melirik jam yang terpajang di dinding, jam bulat dengan gambar tokoh Mario Bros. Kesukaan Seokjin. "Baiklah, sepertinya sudah sangat malam. Aku pulang dulu." Jungkook beranjak dari sofanya lalu memakai kembali mantel musim dinginnya setelah tadi sempat dilepasnya ketika sampai di apartemen Taehyung.

Taehyung mendongakkan pandangannya. "Tidak mau ku antar?" Tawarnya. Ia tahu, ia harus bicara dengan Seokjin setelah laki - laki itu menyelesaikan acara mandinya, tapi ia tetap menanyakan hal itu kepada Jungkook. Setidaknya untuk sekedar basa - basi. Tidak salah kan jika Taehyung menawarkan hal tersebut pada tamunya?

Jungkook menggeleng. "Tidak perlu. Jaraknya kan tidak terlalu jauh." Ia tersenyum pada Taehyung.

"Kalau begitu sampai depan gedung." Ujarnya seraya berjalan di belakang yang lebih muda.

Pemuda bergigi kelinci itu terkekeh. Menyerah pada tawaran Taehyung. "Baiklah baiklah. Terserah kau saja."

***

Angin dengan suhu rendah langsung menerpa setiap inci wajah Taehyung maupun Jungkook, membuat keduanya sedikit merinding. Dan Taehyung agaknya sedikit mengumpat dalam hati karena ia tak memakai jaket atau coat musim dinginnya padahal di luar sedang sangat dingin.

Ia hanya memakai celana panjang hitam yang dipadu dengan kaus lengan panjang warna abu - abu dan memakai sandal sebagai alas kaki. Tentu saja dengan pakaian seperti itu tak akan mampu menghalau dinginnya cuaca. Apalagi kaus yang dipakainya agak tipis, jadi angin bisa masuk ke celah - celah serat kausnya.

Jungkook terkekeh melihat Taehyung yang sedang menggosok - gosok tangannya sendiri. Menciptakan kehangatan untuk dirinya sendiri, sedikit mengurangi rasa dingin yang dirasakannya. "Harusnya kau memakai mantel." Ujar Jungkook.

Taehyung menoleh. "Aku lupa karena aku terus mengikuti dan mengimbangi langkahmu."

"Kalau begitu, itu salahmu sendiri." Cibir Jungkook.

"Iya aku tahu, Jeon Menyebalkan Jungkook." Taehyung membuang muka ke arah lain. Berpura - pura kesal pada Jungkook yang mencibirnya.

Jungkook mengangkat kedua alisnya. "Hei sejak kapan nama tengahku berganti?" Jungkook berkacak pinggang dan menatap Taehyung.

"Sejak aku mengatakannya. Aku tidak memakai mantel karna kau berjalan seperti the flash." Cibirnya.

Jungkook tertawa melihat tingkah Taehyung. Ia tak habis pikir bagaimana seseorang bersikap seperti itu ketika kesal. Seperti bocah usia 5 tahun -pikirnya. "Baiklah baiklah. Maaf." Lalu ia kembali terkekeh setelah mengucapkan kata maaf. Meskipun diucapkannya dengan nada bergurau.

Hening selama beberapa saat. Hanya suara deru mesin dan klakson kendaraan yang lalu lalang di jalan yang terdengar di antara mereka. Terbilang masih cukup ramai karena jam sudah menunjuk ke angka 9, terlebih di musim dingin seperti ini. Orang - orang pasti akan lebih memilih untuk tetap tinggal di ruangan berpenghangat ditemani secangkir minuman hangat.

Chu~

Taehyung membulatkan matanya dan sontak menoleh ke arah Jungkook. Menatap pemuda di sampingnya dengan rasa tak percaya. Mulutnya sedikit terbuka, menciptakan ruang di antara kedua bibir tebalnya. Ia hampir - hampir tak menyadari apa yang baru saja terjadi.

Jungkook baru saja mencium Taehyung.

Menciumnya..

Menciumnya..

DI PIPI!

Baik. Taehyung ingin seseorang mencubit pipinya. Mengatakan padanya bahwa semua yang baru saja terjadi adalah mimpi. Apa yang baru saja terjadi adalah khayalan. Apa yang baru saja terjadi tidaklah nyata. Ia ingin seseorang mengatakan padanya bahwa Jungkook tak mungkin menciumnya.

Tapi sebuah tepukan di bahu kiri Taehyung membuat pemuda itu sadar bahwa apa yang baru saja terjadi adaah nyata. Bukan mimpi atau khayalan semata. Hanya saja... Semua masih terasa begitu maya bagi Taehyung. Semua masih terlalu sulit untuk dicerna oleh akalnya.

Ia masih mengingat betul Jungkook terkejut -atau mungkin shock- saat Taehyung mengatakan ia menyukai Jungkook. Tidak, semuanya pasti hanya ilusi -pikir Taehyung.

Tapi kenapa tiba - tiba saja Jungkook menciumnya? Apa itu berarti Jungkook juga menyukai Taehyung? Ataukah ada alasan lain?

Taehyung tidak mengerti.

"Anggap saja sebagai permintaan maafku. Dan jangan lama - lama ada di luar, kau bisa terkena flu loh." Jungkook tertawa. "Baik lah aku pulang dulu. Dah!" Jungkook melambaikan tangan pada Taehyung sebelum melangkahkan kakinya pada bahu jalan yang dingin.

Taehyung hanya berdiam disana. Menatap kosong ke arah punggung kokoh Jungkook yang perlahan menjauh dan menjauh dalam dinginnya malam. Mencoba untuk kembali mencerna kilas kejadian beberapa menit yang lalu. Kejadian yang sungguh berada di luar dugaan Taehyung.

Terlalu sibuk berargumen dengan pikirannya sendiri, Taehyung baru menyadari bahwa buku - buku jarinya mulai terasa membeku dan mengkerut karena terkena dingin. Juga gigi - giginya yang mengeluarkan bunyi gemerutuk tanpa harus menunggu komando dari Taehyung.

Taehyung memutuskan untuk berjalan masuk ke dalam gedung apartemen dengan segudang pertanyaan yang berputar - putar di kepalanya. Membuat kepalanya terasa sedikit berdenyut - denyut ketika otaknya terus saja memutar waktu ke kejadian tadi. Memutarnya layaknya sebuah film yang ketika sudah selesai berlanjut ke film selanjutnya tanpa ada jeda barang sedetikpun dan entah kapan akan berhenti berputar.

Tanpa Taehyung sadari, tahu - tahu ia berdiri di depan pintu apartemennya. Taehyung terlalu sibuk melamun hingga tak menyadari bagaimana ia bisa sampai disana, di lantai apartemennya yang terletak di ujung lorong. Berjejer dengan dua apartemen lain.

Jari - jari panjang dan indah milik Taehyung mulai bergerak menekan tombol - tombol angka password apartemennya dengan luwesnya. Angka - angka yang telah dihafalnya setidaknya 5 tahun terakhir. Sejak mereka pindah ke apartemen tersebut.

Ia melangkah masuk. Melepas sandalnya lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu. Dimana ia mendapati Seokjin duduk di sofa tunggal, menyilangkan kakinya, menyesap secangkir latte low fat. Rambutnya masih basah, sebuah handuk putih kecil tersampir asal di bahunya. Mencegah tetesan air agar tak membasahi kausnya.

Hati dan pikirannya makin kalut manakala Seokjin menyuruhnya untuk duduk di sofa panjang tempatnya duduk bersama Jungkook seharian ini. Tatapan Seokjin yang begitu mengintimidasi terlihat seakan - akan ingin menguliti Taehyung hingga setiap inchi susunan otot, nadi, dan veranya dapat terlihat dengan jelas. Tatapan yang begitu tajam dan mendalam.

Pikiran Taehyung saat ini tidak dapat fokus dengan baik. Pikirannya saat ini masih dipenuhi oleh sosok Jeon Jungkook. Sampai saat ini pun film yang berputar di kepalanya masih terus berlanjut. Film yang sama yang diputar berulang - ulang. Taehyung merasa pening.

Seokjin mulai bicara. Taehyung tidak tau apa yang Seokjin katakan. Ia hanya bisa menangkap sedikit dari apa yang hyung-nya katakan. Kedengarannya seperti mengomel atau mungkin menasihati dirinya. Entah Taehyung tidak tau. Ia merasa jiwanya masih tertinggal di depan gedung. Masih menatap punggung kokoh Jungkook yang mulai menjauh.

"Kim Taehyung tatap aku dan dengarkan aku ketika aku berbicara padamu. Jangan membuatku seperti orang idiot yang berbicara dengan patung."

Taehyung tersadar dari lamunannya dan secara otomatis menatap Seokjin. Nada bicara Seokjin sedikit meninggi. Meskipun tidak keras, ucapan Seokjin barusan terasa memekakan telinganya. Ia tahu bahwa hyung-nya sangat kesal padanya. Mungkin bukan lagi soal Jungkook, melainkan dirinya yang tanpa disadari tidak mendengarkan Seokjin karena sedari tadi ia hanya memandang kosong ke arah televisi yang berjarak 2 meter di depannya.

"Maafkan aku." Hanya itu yang mampu Taehyung ucapkan. Hanya itu yang terlintas di pikirannya. Ia menundukkan kepalanya. Menatap kakinya yang terjulur menyentuh karpet tebal warna coklat muda -hampir krem- yang sangat lembut dan hangat itu.

"Terserah kau saja, Kim Taehyung."

Seokjin berlalu. Meninggalkan Taehyung yang masih sibuk dengan pikirannya.

***

Seokjin merebahkan tubuhnya pada kasur empuk kamarnya yang memiliki sprei putih. Kasur yang selalu menjadi tempat paling nyaman baginya. Tempatnya melepas beban di pundaknya untuk sejenak. Menjauhkan diri dari segala rutinitas pekerjaan yang membuatnya penat dan lelah setiap harinya.

Pikirannya melayang pada Taehyung. Ada rasa penyesalan di hatinya karena mengomel pada Taehyung seperti tadi padahal belum tentu Taehyung bersalah. Dan meskipun ia tak yakin Taehyung sepenuhnya mendengarkan ocehannya karena Seokjin melihat Taehyung hanya menatap lurus ke arah televisi yang tidak menyala, bukan menundukkan pandangannya seperti biasanya.

Ia sedikit menyesal karena kepenatannya membuatnya bertindak bodoh dan gegabah. Ia tak menyelidiki seluk beluk Jungkook terlebih dahulu sebelum ia mengomeli Taehyung. Ia terlalu khawatir jika Taehyung benar - benar menyukai Jungkook dan adiknya akan kembali menyukai laki - laki. Seokjin sama sekali tak menginginkan hal itu terjadi pada adiknya.

Ngomong - ngomong soal Jungkook dan Taehyung, Seokjin jadi terpikir kenapa adiknya tadi keluar apartemen saat ia mandi. Mengantar Jungkook? Lalu kenapa Taehyung menjadi banyak melamun seperti sedang memikirkan sesuatu, bahkan saat diomeli olehnya. Apakah Jungkook mengatakan sesuatu yang membuat adiknya gundah? Dan jika memang iya, apa yang dikatakan oleh Jungkook?

Ponsel Seokjin berdering. Ia mengambil ponsel yang ada di atas meja nakas dan mengamati sejenak layar ponselnya.

Dari Presdir Jung.

Seokjin segera menggeser tombol terima dan menempelkan ponsel itu di telinga kanannya.

"Yoboseyo."

"Oh Seokjin hyung, apa aku mengganggu tidurmu?"

Seokjin menggeleng, meski ia tahu Presdir tak akan tahu bahwa ia sedang menggelengkan kepalanya. "Belum. Ada apa?"

Tanpa sadar, Seokjin menyunggingkan seulas senyum pada bibir penuhnya. Membuat pipinya terangkat ke atas. Emosinya langsung mereda begitu mendengar suara sang Presdir. Penatnya terasa seperti langsung menguap ke udara begitu mendengar sang Presdir kembali memanggilnya dengan sebutan hyung. Ia merasa memiliki ikatan yang begitu dekat dengan Joseph Jung, lebih dari ikatan Presdir dan Sekretaris pribadi.

Terdengar helaan nafas lega dari sebrang sana,"Syukurlah. Ku kira aku mengganggu tidurmu. Eumm... Kau bilang kau bisa memasak kan?"

"Ya. Lalu?"

"Bisakah kau memasakkan sarapan untuk ku setiap pagi? Aku ingin merasakan bagaimana rasa masakanmu."

Blush~

Seokjin mendapati dirinya sendiri merona mendengar permintaan Presdir Jung. Entah kenapa kata sesederhana itu mampu menciptakan rona merah muda pada kulitnya yang putih pucat itu. Hatinya mendadak terasa dipenuhi bunga - bunga yang bermekaran di musim semi. Menciptakan warna - warni yang elok dan menyenangkan. Perutnya serasa dipenuhi jutaan kupu - kupu yang begitu menggelitik.

"Hyung? Kau masih disana? Halo?"

"Y-ya! A-aku masih disini. Sampai dimana kita tadi?"

"Bisa kau memasakkan untuk ku setiap pagi? Dan jika kau tidak keberatan, sekalian makan siang. Aku akan membeli microwave dan menaruhnya di ruangan kita agar kau dengan mudah memanaskan bekal yang kau bawa. Dan... Tenang saja, aku akan memberi gaji tambahan untukmu. Itupun jika kau tidak keberatan."

Seokjin kembali merona ketika Joseph menyebut ruang kerja Presdir dengan 'ruangan kita'. Bibirnya mengatup rapat. Menahan diri untuk tidak terlalu excited dengan setiap rangkaian kata yang diucapkan sang Presdir. Mungkin saja sang Presdir mengatakan seperti itu karena mereka memakai ruangan itu bersama - sama. Seokjin tak ingin terlampau percaya diri.

"Bagaimana, hyung?" Tanya sang Presdir memastikan.

"Tentu saja. Dengan senang hati. Aku tidak keberatan jika harus memasak banyak."

"Baiklah. Terimakasih, hyung. Eumm.. Selamat malam. Semoga tidurmu nyenyak, Jinnie hyung."

Klik.

Seokjin terhenyak mendengar dua kata terakhir yang diucapkan oleh sang Presdir. Dua kata terakhir sebelum Presdir memutus sambungan telpon dengannya. Sebuah kata yang sangat tidak asing bagi Seokjin namun sudah lama tak terdengar di telinga Seokjin.

Jinnie hyung.

Sebuah panggilan sayang dari seseorang. Seseorang yang pernah singgah di hati Seokjin. Seseorang yang pernah singgah di kehidupan Seokjin. Seseorang yang pernah mewarnai hari - harinya di masa lalu.

Dan hanya ada satu orang yang memanggilnya dengan sebutan Jinnie hyung....

***

Pagi telah menyambut sejak tadi. Matahari mulai menampakkan diri di ufuk timur. Menciptakan warna orange kemerahan di langit. Nampaknya hari ini akan cerah meskipun dinginnya suhu tak luput dari musim dingin kali ini. Hamparan salju berada dimana - mana. Sejauh mata memandang, hamparan putihnya salju yang menyilaukan karena terkena sinar matahari menjadi hal yang biasa.

Pagi ini Seokjin masih bergelut dengan bahan dan bumbu masakan di dapur. Seperti yang kemarin malam ia katakan pada Presdir Jung bahwa ia akan membawakan sang Presdir masakan buatannya sendiri. Jadi mulai hari ini Seokjin harus memasak paling sedikit 6 porsi setiap paginya. 3 porsi di pagi hari masing - masing 1 porsi untuk dirinya, Taehyung, dan sang Presdir. Lalu siangnya 3 porsi juga untuknya, Taehyung, dan sang Presdir.

Setelah beberapa menit, ia akhirnya selesai memasak. Ia berniat untuk mandi, bersiap - siap, sarapan dengan Taehyung, lalu berangkat dan membawakan sang Presdir bekal buatannya. Ia tidak yakin bahwa sang Presdir akan menyukai masakannya. Meskipun Taehyung mengatakan masakannya adalah masakan paling enak, Seokjin hanya khawatir karna lidah masing - masing orang berbeda.

Seokjin keluar kamar sudah dalam keadaan rapi dan wangi. Ia memakai kemeja putih, dasi hitam, dan celana bahan warna hitam. Kemeja itu melekat dengan sempurna pada tubuh Seokjin yang atletis. Membuat setiap lekukan tubuh Seokjin nampak jelas dan terlihat sangat sempurna. Semua kancingnya dikaitkan dan dasi yang melingkar dengan rapi pada kerah kemejanya. Sementara jasnya hanya disampirkan pada pundak kanannya.

Ia melangkah ke dapur untuk sarapan. Disana sudah ada Taehyung yang duduk si salah satu kursi, menghadap ke meja makan yang dipenuhi oleh masakan seokjin. Hanya duduk disana, terdiam tanpa melakukan apapun. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati dan pikirannya. Seokjin sendiri belum tahu apa penyebabnya. Seokjin hanya menerka jika ini karena Jungkook.

"Kenapa tidak segera sarapan?"

Taehyung mendongak. "Aku menunggumu."

Seokjin menghela nafas. Ia tahu kebiasaan lama adiknya yang masih terbawa sampai adiknya sedewasa sekarang. Jika Seokjin sedang ada di apartemen, adiknya itu tak akan makan sampai Seokjin mengajak makan bersama. Dan kadang Seokjin kesal karna Taehyung bisa saja kelaparan saking lamanya menunggunya.

"Tak perlu menungguku. Kau bisa makan lebih dulu jika kau sudah lapar." Ujar Seokjin seraya mengambil lauk untuk ditaruh di mangkuk Taehyung dengan sumpit.

Taehyung mendekatkan mangkuknya pada tangan Seokjin. Memudahkan hyungnya menaruh lauk pada mangkuknya. "Tapi aku merasa aku harus melakukannya."

Seokjin mengacak pelan rambut Taehyung dan tersenyum. "Maaf ya untuk semalam. Aku bertindak bodoh. Aku tidak seharusnya memarahimu." Ucap Seokjin penuh penyesalan.

"Tak apa hyung. Aku mengerti. Seharusnya aku yang minta maaf padamu."

"Sudah. Lanjutkan saja sarapanmu. Kau ada kuliah kan hari ini?"

Taehyung mengangguk lalu melahap sarapannya. Sejenak Taehyung baru menyadari jika Seokjin memasak lebih banyak dari biasanya. Ia melihat Seokjin yang telah selesai dengan sarapannya dan beranjak dari meja makan. Ia mengemas makanan tersebut ke dalam Tupperware.

"Hyung, kau akan makan sebanyak itu? Yang benar saja?"Tanya Taehyung penuh ketidakpercayaan.

"Tentu saja tidak. Presdir memintaku untuk memasakkannya sarapan dan makan siang."

Taehyung mengangguk.

"Baiklah. Hyung berangkat dulu. Semoga harimu menyenangkan!"

***

Seokjin memarkir mobilnya di basement. Berjejer dengan mobil - mobil lain. Lalu ia naik lift menuju ke ruangan sang Presdir. Ketika lift berdenting, Seokjin langsung keluar dengan membawa tas kecil berisi bekal makanan. Ia membuka pintu ruang Presdir dan mendapati sang Presdir sudah duduk di sofa seraya membaca koran.

Sang Presdir yang menyadari kedatangan Seokjin langsung melipat korannya dengan rapi dan menaruhnya kembali di atas meja. "Bangun kesiangan lagi, sleeping beauty?"

Seokjin mematung di belakang pintu. Ia menggigit bibirnya. Ia tak tahu bahwa Presdir Jung akan datang sepagi itu. Bahkan lebih pagi darinya. Padahal ia sudah merasa jika hari ini sudah berangkat sangat pagi. Lebih pagi dari jam kerja biasanya.

Kemudian Seokjin baru ingat telpon dari Presdir semalam jika ia meminta Seokjin membawakan bekal. Sudah bisa dipastikan jika saat ini Presdir Jung belum sarapan. Ia pasti berangkat pagi - pagi sekali karena ingin sarapan. Seokjin merutuki dirinya yang -sekali lagi- bertindak bodoh di depan Presdir Jung.

Sang Presdir menepuk bagian kosong dari sofa yang didudukinya. Mengisyaratkan Seokjin agar duduk di sampingnya. Seokjin mengangkat alisnya.

"Duduklah. Kita sarapan."

"Tapi aku sudah-"

"Kalau begitu suapi aku."

Bibir Seokjin mengatup rapat. Menahan diri untuk tidak tersenyum mendengar ucapan Presdir Jung barusan. "B-baik."

Seokjin segera duduk di samping Presdir Jung. Ia mengeluarkan bekalnya yang masih terasa hangat tersebut.

"Kau bawa apa?"

"Bibimbap. Aku tidak tahu makanan kesukaanmu. Jadi baru hanya membawa bibimbap karna aku merasa semua orang Korea akan menyukai bibimbap." Ujar Seokjin.

Presdir mengangguk. Ia hanya mengamati Seokjin yang sedang mencampur bibimbap-nya. Ada nasi, daging, berbagai macam sayuran semacam kecambah dan yang lainnya.

"Tunggu!" Presdir Jung menghentikan kegiatan Seokjin lalu menengok ke arah bibimbap yang ada di Tupperware. Lalu alisnya terlihat menukik tajam melihat isi bibimbap. "Kau mencampurnya dengan kecambah?"

"I-iya. Memangnya... Ada apa?" Tanya Seokjin hati - hati.

"aku alergi kecambah. Singkirkan." Titahnya. Presdir Jung menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa lalu melipat tangannya di depan dada. Ia menatap kesal ke arah Seokjin. "Pastikan tidak ada satupun yang tersisa."

Seokjin berhenti dan menatap sang Presdir. "Aku ingin bertanya."

"Apa?"

"Apa sebenarnya alasan kau memanggilku 'Jinnie Hyung' semalam, Joseph Jung?"

"Aku...."

-TBC-

Continue Reading

You'll Also Like

54.4K 6.5K 7
Sekuel After Graduation (S1) & After Engagement (S2) ada moment, ada cerita🤍
142K 18.1K 50
Bryan Adinata (Seonghyeon) Fabian Narendra (Keonho) Hujan turun tanpa ampun malam itu. Jalanan licin, lampu kota memantul di aspal basah. Fabian mema...
237K 25.4K 46
Di luar, dia adalah sosok dengan kulit porselen, mata selembut sutra, dan aura yang membuat para Alpha ingin berlutut melindunginya. Namun di dalam...
554K 52.4K 40
Aresh-seorang Dokter dari zaman Modern tiba-tiba terlempar ke sebuah negeri kuno yang masih ketinggalan zaman. Ia siap untuk mengacak-acak kerajaan m...
Wattpad App - Unlock exclusive features