"Mei, kau laki-laki?"
Betapa terkejutnya aku menyadari fakta bahwa seorang gadis manis di hadapanku sama sekali tidak memiliki dada. Dia lelaki! Astaga, jadi selama ini aku bergaul dengan seorang lelaki yang berpakaian perempuan dan sama sekali tidak waspada karena berpikir dia sejenis denganku. Ini sungguh mengejutkan dan memalukan di saat yang bersamaan, bagaimana mungkin aku belum menyadarinya hingga sekarang?
Mei yang kini mengerutkan dahi di depanku masih saja membisu berkat keterdiamanku. Mungkin dia sama terkejutnya denganku mengenai kesadaranku, tetapi yang paling berhak untuk kesal adalah aku. Jadi selama ini aku bercengkrama dan melalui keseharian di permainan pembunuhan ini dengan seorang lelaki, tetapi aku menyangka dia perempuan. Apa pula maksudnya berpakaian perempuan? Apa dia salah satu dari banyaknya rencana para petinggi untuk menghancurkanku?
Mei mendesah pelan. "Tara, aku dapat menjelaskannya-"
"Aku tidak perlu perjelasan! Persetan dengan kalian semua karena selalu dan selalu merengut apa yang kukira nyaman!" teriakku dengan kesal yang membuatnya terdiam. "Mengapa semua orang selalu ingin menjatuhkanku? Apa yang kulakukan?"
"Tara! Aku bukannya berusaha mempermainkanmu dan membuat para iblis di luar tertawa berkat keberhasilanku." Dia berusaha mendekatiku dan menenangkanku, tetapi aku begitu kesal hingga menjauhinya. "Tara, aku punya alasan mengapa melakukan ini semua."
"Dan apa itu? Agar kau bisa mendekatiku sebagai seorang perempuan dan berakhir menertawai kebodohanku karena tidak menyadarinya?"
Mei menghela nafas sebelum melipat kedua lengannya di atas dadanya. "Kalau aku memang berniat menipumu, pasti sekarang aku sudah gagal karena tertangkap basah," ujarnya dengan santai, matanya tetap menatapku walaupun aku membalasnya dengan pelototan. "Aku hanya menyamar sebagai perempuan karena tidak ingin kau kenali."
Aku mengerutkan dahi. "Jadi kau berpakaian perempuan dan membuatku merasa bodoh hanya demi tidak kukenali? Alasan macam apa itu, jangan harap akan kuterima."
"Tara, aku tahu kau telah kehilangan seluruh ingatanmu karena seseorang tetapi diriku takut kau mengenaliku. Aku ingin berada di di sini seperti dulu, tetapi bila kau mengingatku kau akan kembali... Menggila." Aku sama sekali tidak mengerti maksud akan ucapannya tentang alasannya menjelma menjadi perempuan agar tidak kukenali, tetapi aku yakin kami pernah bertemu dulu. "Maaf Tara."
Aku mendesah dengan kesal, melemaskan kakiku dan membuat tubuhku terduduk itu mudah, tetapi menatapnya yang memandangku dengan tatapan aneh itu sulit. "Bisa kau jelaskan masa-masa aku menggila agar aku lebih percaya?" Aku menepuk pelan titik kosong di sebelah kananku dan memintanya ikut duduk. "Kau tahu itu hakku untuk mengetahui masa laluku, kan?"
Mei duduk di sebelahku dengan pelan sebelum meragu sesaat, tampaknya dia ingin menimbang-nimbang antara memberitahuku atau tidak. Dia menghela nafas kesal sembari termenung di sebelahku, berusaha tenang dan bersuara. "Aku bukannya ingin menahan pengetahuanku mengeni masa lalumu karena malas mengabari, tetapi ini semua demimu." ujarnya yang mengundangku menahan nafas kesal karena tahu takkan diberitahu apa-apa. "Kau harus tahu bahwa kenangan-kenangan yang mungkin kembali padamu selama ini sungguh abstrak. Karena keacakan itulah aku tidak ingin membebanimu lagi dengan ingatan baru."
"Maksudmu?" tanyaku dengan bingung.
Mei tersenyum singkat. "Pasti kau sudah mulai mengingat-ingat masa lalumu sejak pertama kali di sini, kan? Dari masa SMA hingga kenangan di permainan terakhirmu, kau pasti sudah mengingat sedikit." Sebelum mengangguk singkat padanya, aku termenung sebentar. Benar katanya, aku ingat tentang Danar dan Lala di masa SMA-ku lalu tiba-tiba kenanganku ketika berada di rumah Arsani setelah dia menculikku. Sungguh abstrak memang kata yang tepat untuk mendeskripsikan kenangan yang kembali lagi padaku, tidak berurutan. "Karena itu kau pasti merasa pusing karena segala kenangan itu, makanya aku tidak ingin kau bertambah bingung."
Aku mulai mengerti maksudnya berniat menutupi pengetahuannya dariku, tetapi aku tetap ingin mengetahuinya. Aku ingin mengambil risiko.
Tunggu, sudah terlalu banyak yang kukorbankan selama ini mulai dari saat aku menerima ajakan Arsani dan pergi dari dunia manusia, apa sekarang aku akan melakukan kesalahan lagi? Aku tidak ingin berkorban demi sesuatu yang kukejar karena takut kehilangan, tetapi aku tahu dunia tidak sepolos itu dengan memberikan apa yang kuinginkan tanpa imbalan. Aku harus mengorbankan sesuatu, membuangnya demi memperoleh apa yang kuinginkan. Namun apa sekarang aku sudah siap untuk kehilangan lagi? Bukankah aku sudah terlalu banyak berkorban hingga tidak memiliki apapun yang tersisa lagi? Bukankah aku sudah lelah kehilangan?
"Mei." Gadis--atau lelaki--yang berada di sampingku itu langsung menoleh, menatapku dengan penasaran. "Beritahu aku."
Dia lagi-lagi menghela nafas, kentara sekali tidak setuju atas keinginanku mengetahui masa laluku. "Kau akan kuberitahu di saat yang tepat, Tara. Kau hanya perlu tersenyum dan menjalani hidup dengan penuh perjuangan hingga waktunya tiba," jelasnya yang membuatku mendengus kesal, apa dia sudah menyiapkan kata-kata itu sedari awal? "Aku pula ingin saat kau pada akhirnya mengingat segala memorimu, kau bukannya tercengang lalu menangis tetapi bersyukur karena telah berhasil melaluinya. Kau harus sadar betapa takdir selalu memihak kita, hingga akhir tiba dan kita meninggal."
Aku menatapnya yang kini tersenyum manis padaku, berkata bahwa aku harus bersabar tanpa suara yang membuatku terdiam. Apa sungguh aku belum siap menerima salah satu kenangan dari masa laluku, ataukah Mei melebih-lebihkan semuanya?
"Tara, mari kita tidur saja dulu dan bahas ini besok. Kau tentu tahu bahwa tubuhmu letih, kan?" saran Mei yang membuatku menoleh untuk mengangguk patuh. "Bagus, ayo ikut aku."
"Dan tidur sekamar? Maaf." Aku berdiri untuk mendahuluinya ke tangga, berniat berada di depan ketika memilih kamar nanti. "Sayang sekali untukmu aku tahu identitas sejatimu ya?"
Dia ikut berdiri dan tersenyum jahil di sebelahku. "Ya, harusnya kau tidak mengetahuinya sampai akhir." Mei mengedikkan bahunya dengan ekspresi yang jelas dibuat-buat kecewa. "Lagi pula aku juga tidak berniat melihatku ganti pakaian atau telanja-"
Pukulan keras mendarat di bahu kirinya dan teriakkannya langsung menggema mengantikan suara desisan marahku. "Untung kau bukan perempuan, jadi aku bisa menggamparmu! Dasar Mei, jangan pernah mengatakan kata-kata yang berawalan 't' itu di depan anak perempuan!"
Aku langsung menggerutu di depannya yang hanya tertawa pelan setelah kupukul, dan beranjak ke sisi tangga. "Asal kau tahu andai saja aku punya teman lain, kau takkan kupandang."
Mei mendengus selagi berjalan ke arahku. "Oh, ucapan sang putri kesepian," ujarnya yang mengundangku memutar-mutar bola mata kesal. "Bilang saja sih kalau kau suka aku di sini bersamamu selama ini."
Aku langsung merinding mendengarnya, dia sungguh sangat percaya diri tentang dirinya di hadapanku ternyata. Kukira dia hanya bercanda saja mengenaiku, berpura-pura menperhatikanku agar dekat saja denganku. Namun seketika aku berbalik di detik yang rupanya tepat, aku dapat melihat senyum tulusnya dan mata tanpa dustanya. Apa ini? Mengapa Mei malah terlihat mengenaliku jauh lebih lama dari sekarang dan menatapku seperti sedang berhadapan dengan teman lama? Apa jangan-jangan masa laluku yang dibicarakannya menyangkut dirinya? Apa mungkin aku memiliki suatu hubungan dengannya dahulu saat aku masih mengingat segalanya sejelas mengenal bentuk air?
Aku menghela nafas. "Mei, boleh kutahu siapa namamu?"
Mei terdiam sebentar bagai pertanyaan itu tidak diduganya, dan tersenyum paksa setelahnya. "Boleh kuberitahu besok saja, Tara? Untuk saat ini sebaiknya kau tetap memanggilku Mei, Mei Shakila yang manis."
Aku pun mengangguk singkat walaupun tetap penasaran mengapa dia berniat menyembunyikan namanya, dan berjalan ke atas tangga. Tangga rumah ini begitu mewah dengan pegangan yang berkilau mahal dan tapakan indah, tetapi bukan itulah yang kupikirkan. Aku penasaran mengapa pandangan mata Mei kepadaku terlihat sedih dan sungguh tidak ingin aku menderita terhadap masa laluku yang diketahuinya. Apa sungguh aku selemah itu di matanya, atau memang kenangan itu begitu buruk hingga orang sekuat apapun akan terbujur kaku karena terkejut?
"Aku sudah pantau keadaan rumah, tampaknya tidak ada siapapun di sini kecuali wanita itu," ujar Mei dari bawah, dia sedang mengekorku dari belakang. "Jadi kita tidak perlu ragu untuk bermalam di sini."
Aku mengangguk singkat. "Tolong kemarikan Rookie, aku ingin tidur bersamanya." Aku berbalik dan melihat Mei berjongkok sebentar demi mengangkat Rookie lalu menyerahkannya padaku. "Terimakasih."
Mei mengangkat alis saat aku telah memeluk Rookie di tanganku."Apa kau sungguh lebih memilih anjing itu daripada aku?"
Tatapan mata tajamku langsung membuatnya bungkam. "Kita tidak perlu candaan di sini, Mei. Aku sudah muak dengan segalanya terutama masalah hilang ingatan, dan sekarang kau ingin menambahnya?" Aku mendesah kencang dan berbalik demi menaiki anak tangga, berniat sampai ke atas dengan lebih cepat. "Aku ingin segera tidur dan menyusun rencana."
Ketika sampai di lantai atas dan berniat berkeliling untuk mencari kamar yang pas, Mei menahanku. "Rencana apa yang sedang kau bicarakan?"
Aku menoleh. "Aku tidak bisa selalu seperti ini, tidak membunuh yang membuatku dirugikan di permainan. Namun tetap saja aku tidak ingin melukai seorang pun hanya demi menang yang sangat biadab, ingin mencari jalan keluar lainnya." Aku melihat tatapan pasrah Mei kepadaku yang menjengkelkan. "Aku tahu memilih berpangku tangan dan tidak membunuh itu bodoh dan takkan mungkin membuatku menang, tetapi pasti ada suatu cara agar aku-"
Mei mengguncangkan bahuku dengan kencang hingga Rookie sontak terlepas dari genggamanku. "Tara, apa kau tidak juga mengerti bahwa membunuh adalah satu-satunya jalan keluar di sini? Kau ingin menenangkan permainan ini dan mengembalikan kehormatan keluargamu, tetapi kau malah manja dengan berkata tidak sudi melakukan persyaratan permainan?" tukasnya dengan marah. "Memangnya siapa kau hingga bisa mengeluh dan menolak membunuh padahal ingin menjadi nomor satu? Kau sudah besar Tara, jangan seperti bayi!"
"Lalu apa yang harus kulakukan?" teriakku yang membuatnya tercengang. "Kau tahu diriku yang dulu adalah pembunuh berdarah dingin, tetapi itu bukan berarti diriku yang sekarang juga seperti dia!"
Mei mundur selangkah dan menghela nafas frustasi, dia tampak lebih kebingungan dariku yang membuatku merasa aneh melihatnya. "Satu-satunya cara adalah mengembalikan dirimu yang dulu."
"Dan menjadi pembunuh lagi? Siapa kau bebas menentukan tentang apa yang akan kulakukan!"
Mei mengerutkan dahi. "Apa kau punya solusi lain, nona pintar?" Aku mendecakkan lidah mendengar intonasinya yang sengaja dinaikkannya di bagian terakhir. "Kalau tidak, diam dan dengarkan saja!"
"Ini hidupku, Mei!"
"Dan kau tidak tahu menahu tentangnya dan membantah seseorang yang ingin menbantumu!" teriak Mei dengan suara berat, dia sudah berubah menjadi lelaki, bukan gadis bersuara manis lagi. "Apa kau sadar posisimu sekarang?"
Aku menunduk. Aku memang marah kepada Mei karena berani-beraninya memutuskan sesuatu mengenaiku, dan malah menyuruhku kembali menjadi seorang pembunuh. Namun, dia juga benar tentang aku yang tidak tahu sama sekali tentang hidupku selama ini, dan betapa egoisnya karena menginginkan sesuatu tanpa mengorbankan apapun. Tanpa mengorbankan kesucian tanganku dari darah kental merah.
Namun apa yang bisa kulakukan, menerima segalanya dengan lapang dada dan mengikuti apa yang diperintahkan permainan?
Tidak!
"Tara, aku hanya berusaha bilang bahwa kau harus beradaptasi," ujar Mei berusaha menenangkanku, membuatku yakin bahwa ke depannya dia akan berniat memakai suara aslinya yakni laki-laki. "Kau tahu tidak ada cara lain, kan?"
Aku menggigit bibir. "Apa sungguh tidak ada cara lain?"
"Kalau ada, aku pasti sudah memberitahumu mengingat kau hilang ingatan dan tidak tahu lagi cara membunuh," jelasnya dengan cepat, tidak ingin membuang-buang waktu. "Kau sendiri juga sadar kan kemaren saat membunuh wanita itu? Sadar bahwa permainan yang kau jalani memang dari awal hanya untuk membunuh, dan kau tidak bisa mengubahnya."
Walaupun sakit rasanya di dada, aku tetap berusaha menimpalinya dengan mengangguk. Aku tidak ingin mengakui perkataannya dan masih tetap berkutat untuk mencari jalan keluar lainnya, tetapi Tara Fascienne, sang pembunuh berdarah dingin, di dalam tubuhku menginginkan hal sebaliknya. Mungkin takdirku memang menjadi pembunuh sebab tanganku entah sejak kapan gatal ingin memegang pisau dan mengulang kembali kejadian mengerikan kemaren. Mungkin aku memang seorang iblis yang sesungguhnya.
"Mei?" Gadis itu menoleh padaku yang kini menatapnya dengan penuh pemikiran. "Aku akan membunuh, sungguh. Namun jika harus melakukan hal yang sangat biadab itu, akan kulakukan dengan cepat agar korban takkan menderita terlalu lama."
Sungguh sesak mengatakan hal itu, bagai hatiku menjerit tidak menerima keputusanku, sedangkan tanganku semakin gatal ingin membunuh. Aku tidak tahu mengapa hati dan tubuhku berkata lain, hanya tahu satu hal kini.
Jika harus menjadi dan melakukan sesuatu, akan kulakukan dengan maksimal.
Mei tersenyum padaku. "Itu baru iblis kecilku."
***
Paginya, aku terbangun di salah satu kasur kamar yang berlokasi di dekat tangga. Kamarnya cukup luas dengan tv dan lemari kayu mewah menghiasi bagian kirinya. Kasur dan meja-meja kecil serta perabotan mewah lainnya seperti vas bunga diletakkan di bagian kanan, menghiasi lantai marmer kamar. Terdapat lampu gantung besar di langit-langit, menghiasi kamar dengan gemerlapnya saat cahaya mentari menerobos balkon kamar di sebelah tv. Sungguh mengesankan kamar ini, dapat kukatakan sama mewahnya dengan milikku di rumah Neah.
Neah....
Apa yang sedang dilakukannya sekarang di dunia nyata? Apa dia sungguh merindukanku dan berniat menjelajahi seluruh tempat demi menemukanku? Apa dia benar-benar ingin menjadi ibu dari seorang anak asing yang hanya sebatas putri angkatnya semata? Apa dia sungguh mencintaiku?
Aku menggelengkan kepala, berusaha melenyapkan berbagai pikiran buruk di kepalaku. Aku tidak perlu peduli dengan Neah, toh dia bukan Ibu kandungku dan hanya sebatas wanita yang merawatku semenjak kecil. Semenjak ditinggalkan orangtua asliku yang aku sendiri lupa kapan, pasti sudah lama sekali. Dan di tengah kesendirian yang menyesakkan, Neah rela mengangkatku menjadi putrinya padahal dia bisa memilih dari banyaknya anak di dunia. Dia merawatku dengan penuh kasih seorang ibu, hingga membuatku sesak karena sadar dia bukan wanita yang telah melahirkanku. Mungkin aku tidak mengingat sedikit pun mengenai hari-hariku bersamanya, tetapi orang brengsek yang telah melenyapkan ingatanku tidak dapat merengut rasa hangat yang kurasakan saat pertama kali bertemu dengannya lagi. Aku tahu sejak awal dia menyayangiku, tetapi fakta Neah bila ibuku pastilah memukul. Mungkin itulah alasannya aku kabur dari rumah dulu hingga membuat Neah bingung ke mana untuk menemukanku.
Namun sekarang aku sadar setelah memejamkan mata. Bahwa apa pentingnya hubungan darah dalam membentuk keluarga yang saling menyayangi? Bukankah yang paling penting adalah rasa sayang antara satu sama lain yang membuat kita semua keluarga? Karena jika pun kau memutuskan, pasti kau akan memilih keluarga akrab tapi tidak memiliki hubungan darah, daripada sedarah daging tapi saling cuek. Karena bukan hubungan darahlah yang paling penting, tetapi perasaan satu sama lain. Karena jika kau hanya memandang suatu keluarga dari hubungan darahnya semata, maka kau telah buta. Telah buta dari makna kasih sayang dan saling melengkapi satu sama lain yang membentuk kata keluarga.
Dan Neah-lah yang merawatku semenjak aku ditinggalkan oleh orangtuaku. Aku memang belum tahu pasti apa aku dibuang oleh mamaku sendiri, tetapi fakta bahwa Neah membesarkanku tanpa memikirkan hubungan darah, membuatku terharu. Mengapa kami bukan mama dan anak yang sesungguhnya? Mengapa orangtuaku harus iblis yang telah berbuat masalah hingga imbasnya tertimpa padaku, dan bukannya Neah saja? Aku lebih memilih manusia dibandingkan orangtua tidak tahu malu seperti mama dan papa iblisku itu yang sangat tidak bertanggung jawab. Tega sekali mereka meninggalkanku selama ini, dan bahkan setelah aku kembali ke dunia iblis, tanda-tanda keberadaan keduanya pun tidak ada.
Sungguh, kalau aku nanti bertemu dengan mereka entah bagaimana pun caranya, aku akan memukul keduanya. Memukul demi melepaskan berbagai macam rasa sakit di hati dan kecewa karena selama ini belum bertemu serta merasa dibuang. Lihat saja nanti.
"Aku harus bersiap-siap," ujarku dengan helaan nafas setelah melirik ke jam dinding kamar yang menunjukkan pukul tujuh pagi. "Mungkin hari ini merupakan saat bersejarah bagiku setelah lupa ingatan, yakni dimana aku menjadi iblis yang sesungguhnya."
Ya, aku sudah memutuskan untuk mengikuti jalannya takdir yang kerap memaksaku untuk menjadi iblis. Maka daripada aku merasa selalu sakit karena mencoba menahan insting keiblisanku, lebih baik aku pasrah saja dan menerima diriku apa adanya. Menerima diriku meskipun dia adalah pembunuh berdarah dingin. Sungguh, aku sedih mendefinisikan diri sendiri sebagai pembunuh, tetapi apa daya bila inilah aku yang sebenarnya? Pasti diriku di masa lalu juga memikirkan hal ini hingga rela membunuh, bukan karena alasan mencari respek semata.
Kami sudah lelah berlari dari kenyataan.
"Aih," keluhku sembari berjalan ke kamar mandi. Setelah mengguyur tubuh dan memakai sabun, aku tetap termenung selagi memikirkan hari ini. Apa sungguh aku cukup kuat untuk membunuh lagi? Kemaren hanyalah kecelakaan semata, bukan niatku untuk membunuh wanita dan anjingnya itu. Namun sekarang aku harus menjadi iblis permainan pembunuhan yang diwajibkan untuk menumpahkan darah secara sengaja, bukan hanya karena terdesak. "Bernafaslah."
Setelah mandi yang rasanya sangat lama itu, aku kembali ke kamar dan mengenakan salah satu pakaian di lemari kayu kamar ini. Aku menemukan celana kain berwarna merah muda dan atasan sebahu bermotif bunga. Aku langsung mengenakannya dan mengikat rambut panjangku ke atas menjadi ekor kuda demi mempermudah diriku bergerak nanti. Mempermudah membunuh.
Dalam hati, aku terisak, sungguh. Namun aku tahu aku sudah lelah berlari dari kenyataan. Sudah lelah berlari dari menjadi diri sendiri.
"Siapa sembilan orang yang baru bergabung?" tanyaku pada diri sendiri, berusaha mengingatnya selagi merapikan kasur. "Para lelaki ada enam, yakni: Alsyaf, Reza, Chad, Peter, Rangga, dan Verdy, lalu perempuan terdiri dari Lilis, Devila, dan Cheria?"
Aku kembali mencoba mengingat wajah kesembilannya, tetapi berkat cepatnya perubahan pengumuman kemaren dari satu orang ke orang lainnya, wajah mereka menjadi tercampur. Aku samar-samar ingat ada perempuan yang berambut cokelat pendek dan satunya hitam panjang sepinggang, tetapi di bayanganku malah kedua rambut itu bersatu padu menjadi aneh.
Aku menggeleng, nama mereka tidak terlalu penting karena kesembilannya merupakan musuhku di permainan ini. Mungkin di permainan sebelumnya aku unggul dengan peringkat pertama yang membua para petinggi gencar hingga memutuskan seseorang untuk menghilangkan ingatanku. Namun, sekarang aku sudah mulai menerima diriku yang sesungguhnya dan mencoba menjadi aku yang dulu meskipun sesak rasanya harus membunuh.
Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintuku yang membuatku menoleh. Setelah kukatakan silahkan masuk, pintu langsung bergerak membuka dan menampilkan sesosok lelaki tampan yang berbaju biru dan bercelana kain putih. Dia langsung tersenyum setelah melihatku yang membuatku bingung. Siapa dia? Apa yang ingin dilakukannya di sini? Rambut cokelatnya yang dipotong pendek sangat cocok untuk mata cokelat tuanya yang berbinar, membuatku salah tingkah karena baru kali ini setelah sekian lamanya melihat lelaki tampan. Memang Danar juga lelaki tampan, tetapi dia hanyalah kenangan dan tidak bisa melihatku dulu saat aku berkelana dalam waktu. Namun sekarang, di depanku berdirilah sesosok lelaki yang membuatku menunduk malu telah dilihatnya.
"Hei, mengapa kau menunduk?" tanyanya yang membuatku refleks mendongak dan menatap mata cokelat gelap itu. "Apa jangan-jangan kau tidak mengenaliku?"
Aku mengerutkan kening sebentar. Memangnya dia siapa hingga percaya diri sekali akan kukenal? "Siapa kau?" tanyaku yang membuatnya tertawa pelan, suara lelakinya sebenarnya cukup familiar, tetapi aku kurang yakin apa dugaanku tepat. "Jangan tertawa saja!"
Dia mendengus selagi menepukkan tangan kanannya ke atas kepalaku. "Ayo Tara, kita harus ke bawah," ujarnya yang membuat mataku melebar karena terkejut. Sebenarnya yang membuatku terkejut bukan karena dia mengetahui namaku, memang aku sangat dikenal di sini sebagai aib, tetapi suaranya itu. Dia memakai suara manis seorang gadis yang baru kuketahui sebagai lelaki. Dan lelaki inilah yang sekarang berdiri di hadapanku dengan gagahnya.
"Mei?" Sungguh mengejutkan melihat seorang lelaki yang berpakaian perempuan dengan manisnya kini menjadi lelaki dan juga keren. Kukira Mei hanyalah seorang lelaki manis yang lebih memilih menjadi perempuan karena memang cocok, tetapi ternyata dia juga tampan. "Masa sih?"
Dia tertawa lagi dengan lembutnya, bukan berniat menyinggungku tapi memang karena lucu melihatku terkejut. "Apa? Mulai jatuh cinta pada ketampananku?"
Aku memutar-mutar kedua mataku. "Jangan harap!"
----
Ini dia lanjutannya!
Maaf ya lama sekali, sebagai tebusan aku janji besok akan update lagi=)
Silahkan vote dan vomment bila menyukainya agar aku lebih semangat melanjutkannya.
Trims untuk semua.