Demi Ragaku

By DyaPrim

1.6K 116 0

Tidak perlu kusebutkan namaku. Abaikanlah pula masa laluku. Karena yang terpenting nanti aku akan memilih ops... More

1. Malam dingin
Kisahku
Kisahku
Kisahku
Kisahku
Kisahku
Masa Kini
Masa Kini
Kisahku
Masa Kini
Masa Kini
2. Pemberitahuan
Pemberitahuan
Permainan Dimulai
Pelatihan Dahulu
Pasrah
Bersama Mei Shakila
Haruskah Membunuh?
Mencoba Membunuh
Bukan Update
3. Tenggelam Dalam Masa Lalu
Menjadi Menjadi Hantu Masa Depan
Tengah Malam Dalam Permainan
Mei
Mengambil Risiko?
4. Namanya Rufus
Terbuai Dalam Mimpi
Mulai Titik Ini
Tahap Dua

Kenanganku

41 4 0
By DyaPrim

Bagus. Setelah terlena cukup lama berkat ketidaktahuanku mengenai permainan yang kuikuti sejak lama ini dan keterkejutanku mendapati akulah Tara Fascienne, haruskah pemberitahuan lelaki menyebalkan itu menghantamku lagi? Aku sudah hapal di luar kepala nama-nama pesaingku dalam permainan biadab ini--Maria, Mei, Lara, Ray, dan Rio--lalu mengapa sekarang sembilan orang lagi akan hadir mencipratkan darah manusia semakin cepat? Aku tahu orang-orang di sekitar sini hanya tiruan, robot ciptaan yang memang dibuat untuk dibunuh para iblis. Namun, rasanya tetap sesak menyadari kelakuan para iblis yang hanya berbatas pada membunuh dan malah bersaing melaluinya.

Kini aku sudah berada di depan rumah Neah, ragu untuk masuk atau tetap diam di luarnya. Aku sudah sempat menarik perhatiannya dengan membobol tadi, tidak ingin mendapat masalah lagi dan berakhir didiskualifikasi dari permainan yang mengharuskan membunuh tanpa ribut. Aku malah semakin bertanya-tanya, apa alasan sesungguhnya diriku di masa lalu mengikuti permainan keji ini. Apa benar hanya semata-mata demi membersihkan nama keluarga berkat menjadi aib yang bahkan aku sendiri melupakan penyebabnya, atau karena hal lain? Hal yang lebih sakti dari sekedar nama keluarga Fascienne.

Suara lantang lelaki menyebalkan yang menjadi komentator itu berseru riang mengumumkan pertempuran lainnya di salah satu rumah. Rio sedang berkelahi menggunakan pisau dengan seorang wanita tangguh, berusaha untuk membunuhnya secepatnya. Sang komentator berteriak mengabarkan keadaan fisik Rio yang sudah terluka dua baret berkat pertarungannya, nyatanya wanita itu tidak selemah penampilannya. Entah mengapa aku jadi teringat dengan Lala dari kenanganku, gadis yang terlihat bagai putri tapi sebenarnya tidak manis. Ya, dia memang lucu, tetapi bukan anggun dan bertabiat sangat keputrian seperti halnya persepsi kebanyakan orang.

"Rio sangat kesulitan di tahap ini! Dia terlalu meremehkan karena beberapa pertandingan sebelumnya, lawan yang diberikan pembina permainan tidak setangguh ini!" seru komentator itu dengan semangat, apa lelaki itu tidak kecapekan setelah berbicara lama dan berteriak? "Di lain sisi, Lara sudah membuntuti seorang lelaki sebayanya dan berniat menyerang dikala sepi! Iblis kecil itu sangat berhati hati dalam memilih waktu penyerangan."

Aku tidak menghiraukan perkataan-perkataan komentator, aku pula mengabaikan pikiranku tentang seberapa banyak iblis di luar sana yang sedang mencemoohku karena berdiam diri saja. Aku hanya terpaku pada kepalaku yang berdenyut-denyut kencang saat mataku menangkap wajah Neah di jendelanya seperti kemaren malam. Aku bergerak ke sisi taman dan mencoba merebahkan diri di atas rumput hijaunya, mulai menutup mata.

Mari kutinjau ulang situasi ini. Kemaren malam, aku membuka mata di tengah derasnya hujan yang menerpaku, merasa amat kebingungan karena tidak mengingat apa-apa. Di saat aku hilang ingatan yang baru kuketahui berkat permainan ini--lelaki menyebalkan itu yang mengabari--yang kuingat hanyalah kenangan masa lalu tentang Danar dan Lala. Itu pun hanya sebatas hingga aku dan Danar berlari bersama menuju kelas, tidak ingat siapa yang berakhir mentraktir lawannya. Aku sungguh ingin mengingat jati diriku yang sebenarnya, bukan sekedar tahu kenangan tentang kelakuanku dikala itu. Sungguh menyesakkan mengingat masa laluku yang hanya membuatku semakin berpikir siapakah dia. Siapakah aku. Terkutuklah orang gila yang membuatku hilang ingatan!

Mataku kubuka untuk menyapa langit biru di atas sana, terlihat sangat menenangkan dan tentram, berkebalikan dengan suasana hatiku yang biru. Tanpa sadar, kenangan kembali merambatiku dalam satu terjangan yang kuat.

***

"Kamu baik baik saja, Tara?" Aku melebarkan mata dan langsung menolehkan kepala ke arah suara, bertanya-tanya siapa yang memanggilku dengan intonasi sangat lembut. "Apa kau ingat yang baru saja terjadi?"

Aku membuka mata di tempat yang sangat asing bagiku, kutolehkan pandangan pada sekitar. Aku berada di sebuah kamar penuh perabotan merah, entah itu kasur yang kutempati, meja kelam di tengah ruangan dengan taplak bergaris emas, korden bermodel lama, ataupun cat dinding berbentuk iblis. Tunggu, apa aku sedang berada dalam salah satu kenangan yang kulupakan?

"Tara?" Aku menoleh kembali ke arah suara, lelaki berambut karamel dengan mata hitam kelam balas menatapku, senyumnya merekah ketika sadar aku memandangnya. "Kuulangi lagi pertanyaanku, apa kau baik-baik saja?"

Aku terduduk dari posisi tidurku, menatapnya dengan ekspresi yang tidak kukenali. "Apa yang telah terjadi?" tanyaku dengan kasar, tidak berniat bermulut manis di hadapan lelaki tampan tersebut. "Apa yang baru saja terjadi!"

Lelaki itu menghela nafas, baju merah kehitam-hitamannya ditariknya selagi memandangku dengan prihatin. Dia tidak langsung menjawab, tetapi mengulurkan tangan untuk membelai pipiku yang nyatanya dibaluti luka merah baru. Aku langsung menampiknya, jijik dengan uluran tangannya yang berniat menenangkanku.

Dia menghela nafas pasrah melihat tindakanku sembari berkata, "Kau tidak disambut terlalu baik di sini, para iblis remaja melemparimu batu." Dia meragakan aksi melempar batu dengan cepat layaknya aku tidak mengerti perkataannya. "Ada pula iblis dewasa yang mencoba membidikmu, tetapi darah leluhurmu membantumu menghindar dan memperdikit lukamu."

Aku mengangguk, sedikit kesal atas apa yang terjadi. "Sejak kau menjemputku dari dunia manusia dan mengabari bahwa aku bukan sekedar makhluk lemah itu, kehidupanku berubah. Kini, di dunia iblis tiada yang menerimaku, lalu mengapa aku tidak dapat berkehidupan seperti sebelumnya di alam manusia?" ujarku ketus. "Memangnya mengapa kalau aku iblis? Danar dan Lala pasti tetap mendampingiku walaupun mereka mengetahui yang sebenarnya, tidak peduli pendapat orang tentangku dan percaya aku tidak akan pernah menyakiti keduanya."

Lelaki tersebut menatapku jerih, terlihat jelas dia tidak menyetujui keinginanku untuk pergi dari sini. "Kalau kau beranggapan kau ditolak di dunia iblis dan ingin beralih ke alam manusia dan percaya mereka akan memperlakukanmu lebih baik, kau salah. Manusia bisa berubah lebih keji dari iblis bila mereka menguak siapa dirimu, Tara. Kau adalah seorang Fascienne, sang iblis."

Aku mendesakkan lidah mendengarnya, menatapnya dengan kesal bercampur marah. "Bisakah kau mengatakan hal lain? Semenjak kau datang untuk menculikku dari kehidupanku, tidak pernah sedetik pun aku bersyukur atas kehadiranmu!" teriakku lantang sembari memukul kencang pahaku, melampiaskannya pada diriku sendiri. "Mengapa kau harus menarikku? Mengapa kau harus membawaku ke dunia tanpa seorang pun menghargaiku?"

Tamparan kencang mendarat ke pipiku, tanpa sadar aku meletakkan tangan di semburat warna kemerahan itu. Apa lelaki itu baru saja menamparku? Tidak cukupkah takdir dan kehidupan yang menghajarku menyudutkanku?

"Aku tidak pernah menculikmu, dasar iblis manja!" ucap lelaki itu dengan amarah di wajahnya, membuatku terdiam seribu bahasa. "Aku tidak menculikmu dari duniamu, aku malah membawamu pulang ke pelukan bangsamu! Memangnya mengapa kalau kau dibenci karena merupakan aib kaum iblis? Tara, Kau dapat membungkam mulut mereka bila berusaha dan membuat semuanya menerimamu walaupun terpaksa."

Aku menatapnya dengan sedih, tidak tahu mau berkata apa. Maka hanya kata-kata pendeklah yang menanggapinya, "Apa yang dapat kulakukan untuk bisa diterima, Arsani?"

Lelaki yang kupanggil Arsani--itu pastilah namanya--menatapku sembari berkata, "Ada sebuah permainan bangsa iblis yang cukup sulit untuk memenangkannya. Setiap tahun, taruhan dan kesulitannya berbeda, ada yang harus saling memburu satu sama lain atau membunuh sesamanya. Namun, walaupun hanya sekedar permainan membunuh, imbalannya cukup mujarab bagi iblis muda seperti kau." Arsani mengangguk mengingat permainan itu sembari memainkan sisi baju merahnya. "Respek yang merupakan hal berarti bagi bangsa kita dan kemudahan untuk menjadi iblis sesungguhnya. Normalnya, iblis di bawah delapan belas tahun harus menunggu saat umurnya beranjak segitu sebelum mendapat kehormatan dan kekuatan keturunannya. Karena itu, bila Tara Fascienne yang mendapatkannya padahal kau sangat direndahkan sebagai aib, apa kata orang nanti?"

Aku menatapnya tanpa berkedip yang membuatnya tertawa melihatku. Benar kata Armani tentang permainan itu, walaupun semua orang memusuhiku karena aku merupakan anak terlarang yang tidak ingin disebutkan penyebabnya, mereka akan bungkam jika aku menang. Mungkin orang tuaku terusir berkatku dan menjalani kehidupan dengan menunduk, tetapi bila aku dapat mengembalikan kehormatan mereka, tiada yang berani menentangku lagi. Duhai, aku sangat menantikannya.

"Aku juga sangat kesulitan memenangkannya dua tahun silam," aku Arsani padaku, wajahnya terlihat sangat senang. "Waktu itu aku masih seusiamu tapi harus membunuh banyak sekali manusia demi mendapat respek dan kekuatan lebih cepat dari biasanya."

Aku menatapnya dengan lebih menghargai, dia masih berusia tujuh belas tahu tapi sudah dipandang lebih berkat kemenangannya mengalahkan berpuluh-puluh iblis dulu, bahkan lebih. Aku berkata, "Aku belum bisa melakukannya. Jika aku hanya terpaku pada bakatku semata tanpa melatihnya, apa jadinya nanti?"

Arsani menjentikkan jarinya, mendapatkan ide. "Dengan mengucapkan itu berarti kau setuju untuk menjalaninya kan? Tenang saja, Arasani akan ada untukmu dan membantumu bertambah kuat. Lagi pula, babak penyisihan pertama permainan akan berlangsung dua bulan lagi, masih cukup lama."

Aku mengangguk mengerti. Apapun yang terjadi nantinya bila aku mengikuti permainan itu, diriku pasti melakukan yang terbaik demi menang. Entah apa yang akan terjadi nanti setelah darah leluhurku lengkap memenuhi setiap sudut tubuhku dengan kekuatan, aku harus tetap berjuang demi keluargaku. Mungkin sekarang aku harus melupakan Danar dan Lala sebagai kenangan masa lalu yang indah karena kutahu sekuat apapun aku berusaha, diriku tidak dapat melihat mereka lagi. Aku tidak ingin jiwa iblisku menganggu mereka dan mau tidak mau, dapat menyakiti mereka yang kukasihi. Aku harus bertahan di duniaku, walaupun kutahu tiada yang menginginkanku bahkan orang tuaku. Namun, dunia manusia bukanlah tempatku berada sekuat apapun aku berusaha beradaptasi, takdir telah berucap walaupun menyesakkan dan aku terpaksa menurutinya.

"Ayo, Arsani."

Mulai dari hari itu, aku pun berjuang melatih kemampuan demi menjadi pesaing kuat melawan iblis lain dalam permainan pembunuhan. Saat itu aku belum tahu, bahwa orang tuaku lebih menyayangiku dari apa yang kutahu dan kehidupanku akan memutar menjadi baik. Namun, aku pula tidak tahu saat itu bahwa ingatan pentingku yang pasti akan menuntunku melewati segalanya akan lenyap dan membuatku tersesat ke dalam kegelapan karenanya.

Aku hanya belum tahu.

Continue Reading

You'll Also Like

11.9K 2.5K 17
Apa yang akan kalian lakukan jika kalian tiba-tiba bertemu seseorang yang kalian kenal, lalu ia mengakui dirinya sebagai iblis, dan mengatakan bahwa...
2.5K 16 4
Hidupku selalu tenang di panti asuhan terpencil, jauh dari hiruk-pikuk dunia. Aku hanya seorang anak yatim yang tak punya apa-apa, sampai suatu hari...
3.9M 103K 23
Beberapa bab ditarik karena dalam proses penerbitan. ~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~ Book 2 "Strong Girl". 💜 Kamu memang dia, tetapi kalian berbeda...
Wattpad App - Unlock exclusive features