Sylvia membuka matanya perlahan. Dilihatnya sekeliling, ruangan dengan warna putih dominan dan bau obat-obatan yang menyengat indra penciumannya. Kepalanya seketika dilanda pusing hebat. Ia menggerutu kesal. Bagaimana bisa ia ditinggal sendirian di dalam kamar rumah sakit? Sungguh keterlaluan!
Ia baru saja hendak mencoba bangkit dari tidurnya saat seseorang membuka pintu kamarnya.
"Sylvia" panggil orang itu kemudian segera menghampiri Sylvia dan membantu Sylvia bangun dari tidurnya. "Kau sudah lama siuman?" Tanya orang itu.
"Lumayan," sahut Sylvia dingin.
"Euhhh, ku harap kecelakaan kemarin tidak merusak sel syarafmu,"
"Apa maksudmu?" Tanya Sylvia heran dengan nada sedikit membentak
"Ooh, lihatlah. Kau terlihat lebih galak,"
"Maafkan aku Alicia, aku hanya kesal. Bahkan saat aku tengah sekarat di rumah sakit, kedua orang tuaku tak ada yang mau menungguku hingga siuman. Aku tersadar dalan keadaan sepi tengah menyelimutiku. Orang tua macam apa mereka?" Sungut Sylvia kesal. Raut antara kesal dan kecewa bersatu dalam wajah manisnya.
"Sstt, kau tak boleh berbicara seperti itu. Bagaimanapun juga mereka adalah orang tuamu. Kalian keluarga. Bagaimana pun juga, keluarga adalah tempat terakhir untuk kau pulang. Ya setidaknya, seperti itu yang ku baca di novel," ujar seseorang yang bernama Alicia itu. Terdengar kekehan pelan setelahnya. Ah, Sylvia ingin menjitak kepala Alicia saja rasanya.
"Kau terlalu banyak membaca novel Al," sanggah Sylvia.
"Hahaha, itu mengasyikkan Via. Nanti kalau kau datang ke rumahku, akan ku tunjukkan padamu koleksi novelku, kau harus membacanya dan kau pasti akan ketagihan," ujar Alicia semangat yang hanya dibalas cibiran oleh Sylvia. "Oh ya, aku lupa kau baru siuman. Aku harus memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu. Tunggu disini okay?" Ujar Alicia dan kemudian berlalu meninggalkan Sylvia.
Sylvia mendesah pelan, Alicia adalah gadis yang baik dan periang. Ia beruntung memiliki sahabat seperti Alicia. Baginya, hanya Alicia lah keluarga yang dimilikinya. Kedua orang tuanya selalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Bahkan saat ia harus terbaring di runah sakit pun, baik Mama atau Papanya tak ada yang menunjukkan simpatinya. Mereka masih tetap saja sibuk dengan urusan masing-masing.
***
Seragam putih abu-abu itu melekat pas di tubuh seorang pria putih dan jangkung. Tampan. Satu kata yang sudah mengartikan segalanya untuk mendeskripksikan lelaki ini. Rahang wajahnya yang kokok, manik matanya yang hitam, mata nya yang sipit, kulitnya yang putih. Intinya tampan, itu saja. Jika harus mendeskripsikan secara detail satu per satu hanya akan memakan waktu.
Pria itu kembali mematut dirinya di depan kaca. Setelah semua dirasa pas, ia pun keluar kamar menuju ruang makan untuk sarapan, sendiri. Ya sendiri.
"Den Alvin, ini bibi masakin nasi goreng kesukaan aden. Dimakan ya," ujar bi Narsi, asisten rumah tangga yang setiap harinya mengelola keadaan rumah saat sang empunya tak ada. Alvin yang baru sampai di depan meja makan mengangguk pelan. Kalimat yang diucapkan bi Narsih juga merupakan sarapan pagi untuknya. Karena kalimat itu lah yang setiap pagi nya diucpkan oleh beliau saat Alvin hendak sarapan. Bi Narsih memang sangat pintar memasak, setiap harinya Alvin selalu disuguhkan menu yang berbeda dan lezat. Andai saja ibunya sehebat bi Narsih dalam memasak.
Lagi, Alvin lagi-lagi duduk sendiri di meja makan dengan ukuran besar ini. Mungkin ukuran meja ini sebenarnya tidak begitu besar, namun jika hanya dipakai untuk satu orang, meja ini terasa sangatlah lapang.
Alvin segera menyelesaikan sarapan dan bergegas menuju sekolah barunya. Alvin bukanlah penduduk pindahan, namun akibat keikutsertaannya dalam tawuran geng motor di sekolah lamanya, mau tak mau ia harus ikut dikeluarkan dari sekolah. Sial memang.
***
"Mama kamu mungkin nanti siang tengah hari gitu bakal kemari. Aku berangkat sekolah dulu. Bye Sylvia sayangku," ujar Alicia seraya mengecek isi tas sekolahnya, barangkali ada sesuatu yang tertinggal.
"Jadi sampai setengah hari nanti aku sendirian disini? Di ruangan bau ini?" Tanya Sylvia histeris.
Alicia hanya mengedikkan bahunya, "Trus gimana donk? Salahin aja mama kamu, kenapa datangnya lama!" Balas Alicia ketus. Sylvia hanya memanyunkan bibirnya.
"Kamu gak usah sekolah donk Al, temenin aku disini okay, please," rengek Sylvia sambil memeluk lengan Alicia. Alicia segera menepisnya pelan.
"Sorry my lovely sista. Tapi kamu ingat kan ini hari apa? Senin, yes! Bapak ganteng masuk hari ini dan aku gak mau menghilangkan moment terindah yang kita tunggu seminggu sekali ini," balas Alicia sambil terkikik pelan. Sylvia lagi-lagi memanyunkan bibirnya. Menggemaskan.
"Alicia jahatttt!!!!" Seru Sylvia yang dibalas tawa sumringah oleh Alicia. Ia hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya ini.
"Udah ah, aku berangkat dulu. Aku gak mau telat. Dahh Sylvia sayang," ujar Alicia seraya meninggalkan ruang rawat Sylvia dengan Sylvia yang tengah mendengus kesal di dalamnya.
***