Kian & Kiara

By Thanazoe

2.3K 66 0

Kian dan Kiara adalah sepasang kekasih seperti kebanyakan pasangan lainnya. Mereka menghadapi masalah ringan... More

K&K 1
K&K 2
K&K 3
K&K 4
K&K 5
K&K 6
K&K 7
K&K 8
K&K 10
K&K 11
K&K 12
K&K 13
K&K 14
K&K 15 (1)

K&K 9

102 4 0
By Thanazoe

Aku membuka lokerku lalu mengambil beberapa alat tulis yang kubutuhkan hari ini. Aku menghela nafas lelah. Sejak bangun tidur tadi entah kenapa aku lebih sering menghela nafas. Jujur saja, aku tidak bersemangat untuk sekolah hari ini. Rasanya tumpukan beban dan masalah memang berdatangan dari tempat ini. Beberapa rekan OSIS dan ekskulku menyapa tapi aku hanya tersenyum dan selebih nya diam. Senyumpun tidak benar-benar dari hati.

Masalah yang cukup banyak menghampiriku membuatku lelah. Uangku yang masih sering hilang, hubunganku dengan Kian yang sedikit merenggang, nilai matematika yang sedikit menurun, dan masih banyak lagi. Asmaku juga akhir-akhir ini jadi sering kambuh. Aku sangat suka berdiam diri di balkon sekarang. Entah itu mengkhayal, menulis sesuatu di binder, atau memainkan handphone ku untuk sekedar selfie, dan main games.

"HAI KIARAAAAA!!!!"

Seketika orang-orang di koridor memperhatikan kami berdua. Aku mendesah sebal.

"Berisik dan malu-maluin," Kataku tepat di depan wajah nya.

Nadin cemberut lalu kami berjalan menuju kelas.

Nadin berdesis. "Semangat dong Ra!! Hari ini guru-guru pada ga masuk karena mau gerak jalan, otomatis kita free class."

Aku tersenyum miring. "Sorry, tapi untuk kali ini gue lebih suka merhatiin guru killer ngejelasin materi atau dikasih soal berpuluh-puluh nomber dari pada harus free class," Ucapku

Nadin berdecak. Selanjut nya aku bingung harus bagaimana lagi.

×××

Aku memasukan seluruh alat tulis ke dalam tas lalu mengaitkan gendongan tasku di bahu kanan. Aku menuju keluar kelas, saat di depan kelas handphoneku bergetar. Aku segera melihat siapa yang menelfonku.

'Ibu'

"Halo assalamualaikum,"

"Waalaikumsalam, kenapa bu ?"

"Kamu dimana ?"

"Ini disekolah bentar lagi pulang,"

"Kamu pulang sama Kian ?"

Aku terdiam sebentar dan bingung harus menjawab apa.

"Halo Ra ? Kamu masih hidup kan ?"

"Eh Iya bu, masih Bu, Kiara pulang naik angkot kayak nya bu. Kalo Ibu mau jemput ya jemput aja hehe,"

"Ya udah Ibu jemput ya sekalian sama Kenaya juga,"

"Oke"

Ibu memutuskan sambungan telfon nya. Aku lanjut berjalan dan berbelok ke arah koridor kelas 11 dan langsung menuju kelas Kenaya.

"Ada Kenaya ?" Tanyaku pada teman satu kelas nya.

"Ga ada Kak, Kenaya kayak nya lagi di lapangan belakang," Ucap nya.

"Oh gitu, ya udah makasih," Aku tersenyum sekilas dan langsung menuju lapangan belakang.

Ketika sampai disana aku melihat Kenaya dan teman-teman nya berdiri di pinggir lapangan sambil memberi semangat pada--

"Kak Kian! Ayo semangat!"

Kian.

Aku mendesis kesal lalu buru-buru menghampirinya.

"Ken," Kataku begitu aku berdiri di belakang nya. Kenaya dan teman-teman nya menoleh ke arahku.

Teman-teman Kenaya berubah menjadi lugu, beda dengan Kenaya yang malah menunjukan sisi keras nya.

"Pulang, Ibu jemput kita," Kataku.

"Duluan aja, gue bisa naik angkot atau ojek," Katanya.

"Pulang Kenaya! Lo lebih mentingin disini dan nyemangatin pacar gue?!" Tanyaku sambil menatap nya tajam.

"Terserah gue dong,"

"Kenaya pulang!" Bentakku. "Atau gue depak lo dari rumah itu," Ucapku.

Teman-teman nya mulai beringsut ketakutan. Kenaya berdecak kesal lalu mengambil tas nya dan berjalan duluan. Aku menyusul nya tanpa mau melihat Kian dulu sedang apa.

Kenaya sudah duduk di halte dengan muka yang di tekuk. Aku ikut duduk disamping nya.

"Kenapa sih lo ganggu terus momen indah gue ?" Tanya dia.

Keningku berkerut. "Momen indah lo bilang? Nyemangatin pacar gue lo bilang momen indah?! Bego!"

"Lah, orang gue di suruh pacar lo. Gimana sih!" Katanya. Aku mengerutkan kening.

"Maksud lo ?" Tanyaku tidak mengerti dengan apa yang Kenaya ucapkan.

Kenaya mengotak-atil handphone nya lalu memperlihatkanku sesuatu.

Disitu tertera chat Kian dan Kenaya. Kian menyuruh Kenaya untuk-- Oke aku tidak sanggup membaca nya lagi.
"Kian juga suka curhat sama gue tentang lo."

Tentangku.

"Sekarang yang bego siapa ? Lo atau gue ?" Saat Kenaya mengatakan itu sebuah mobil berhenti tepat di depan kami.

Aku duduk di jok samping kemudi dan Kenaya duduk di belakang.

Setelah lama menjalankan mobil nya, mungkin Ibu merasa aneh dengan keadaan kami.

"Ini pada kenapa sih ? Kok diem aja ?" Tanya Ibu.

"Bu, tau rumah Om Heri ga ?" Tanyaku.

Ibu mengangguk. "Boleh anterin aku kesana ?"

"Mau ngapain ?"

"Mau ketemu anak nya, ada urusan sebentar. Please.." Aku memohon. Ibu mengangguk. Tak lama mobil Ibu berhenti tepat di depan pagar rumah Om Heri. Aku mencium tangan ibu untuk berpamitan dan sekilas melirik ke jok belakang, Kenaya memperhatikanku.

"Nanti kasih tau Ibu kalo kamu mau pulang, biar Ibu jemput," Kata Ibu. Aku mengangguk lalu turun dari mobil.

Aku membuka pagar rumah ini lalu menutup nya kembali. Perlahan-lahan aku melangkah menuju pintu rumah, begitu aku sampai di depan pintu aku memijit bel.

Pijitan kedua.

Pijitan ketiga.

Ketika hendak memijit bel ke empat, pintu terbuka oleh seorang wanita setengah baya yang menggunakan jilbab seperti Ibuku.

"Cari siapa ?" Tanya nya ramah.

"Maaf Tante," Aku mencium tangan wanita itu. "Aku temen nya Kamal, Kamal nya ada tante ?" Tanyaku.

"Oh iya iya, ada sayang ayo masuk," Ucap nya lalu merangkulku untuk masuk.

"Kamu langsung ke kamar nya aja ya," Ucap Wanita ini yang ku tebak adalah Ibu nya Kamal.

"Boleh tante ?" Tanyaku.

"Iya boleh, gapapa kok kesana aja," Katanya. Aku mengangguk lalu menuju kamar Kamal yang sebelum nya ditunjuk oleh Wanita tadi.

Aku mengetuk pintu itu. Pintu terbuka menampakan seorang Kamal dengan pakaian rumahan nya dan rambut super acak-acakan.

"Eh? Kiara ? Lo kok ada disini ?" Tanya Kamal yang terlihat kebingungan.

Aku mengangguk. "Gue dianterin Ibu, gue mau ngomong sesuatu karena gue rasa lo orang yang cocok buat diajak ngobrol."

"Ya udah, masuk sini," Katanya. Aku masuk ke dalam kamar Kamal.

Kamar Kamal sangat rapih sekali dengan nuansa biru muda,abu-abu,biru tua, dan putih. Ada rak buku, lemari pakaian, meja belajar merangkap meja komputer,rak pajangan seperti miniatur dan mainan-mainan kecil, dan perlengkapan lainnya. Kamar Kamal juga memiliki pintu yang tembus ke halaman belakang rumah nya. Ada satu kolam berenang disana.

"Kita ngobrol di luar aja ya," Katanya sambil membuka pintu yang menuju ke halaman belakang. Ternyata disana ada kursi taman, tepat disamping pintu.

Aku dan Kamal duduk disana.

"Jadi?" Jeda sebentar. "Lo mau ngomong apa ?" Lanjutnya.

Aku menghela nafas. "Sebelum nya gue mau nanya dulu, lo ada hubungan apa sama Kenaya ?"

"Temen, tapi sebener nya gue lagi deketin dia," Ucap Kamal. Aku menatap nya sebentar lalu kembali ke pertanyaan.

"Lo temenan kan sama Kian pacar gue ?" Tanyaku.

Kamal terdiam. Sudah kuduga. Pasti ada suatu hal yang Kian maupun Kamal tutupi.

"I-Iya gue temenan sama dia, kenapa ?" Tanya Kamal.

"Oke, jadi gini. Hubungan gue sama Kian emang lagi renggang karena suatu hal. Dan ternyata akhir-akhir ini Kian suka curhat sama Kenaya padahal dia bilang sendiri kalo dia ga suka sama Kenaya, dia sebel sama Kenaya. Tapi nyatanya apa ? Dia malah suka curhat sama Kenaya, sampe Kian minta Kenaya buat nyemangatin dia pas futsal tadi! Intinya gue cemburu," Jelasku sambil menahan air mata yang ingin keluar.

"Gue juga ada rasa cemburu dikit. Lo ga coba ngobrol dulu gitu sama Kian ?" Tanya Kamal.

Aku menggeleng. "Jangankan ngobrol, kita ketemu juga cuma saling sapa. Gue harus apa Kamaaallll,"

Akhir nya air mataku tumpah.

"Yah jangan nangis dong, aduh gue jadi bingung harus apa," Kamal panik sendiri.

"Menurut gue lo harus ngomong baik-baik sama Kian dan gue juga akan ngomong sama Kenaya," Katanya.

Aku mengangguk lalu menghapus air mataku. "Setidak nya kalo gue udah cerita ke seseorang beban gue serasa ilang. Thanks ya."

Kamal tersenyum. "Sama-sama, jangan sungkan kalo mau cerita."

Aku terdiam sebentar sambil memperhatikan kolam berenang di depan sana. Seperti nya jika aku masuk kesana pasti segar sekali. Jadi ingin...

"Abang!"

Seorang gadis keluar dari pintu kamar Kamal.

Gadis itu memperhatikanku dengan detail. "Ini pacar nya abang ya ?"

Aku sedikit terkejut dengan pertanyaan nya.

"Bukan ih! So tau!!" Sembur Kamal.

"Biasa aja kali! Sewot banget buset. Hai Kak aku Hani, adik Kamal," Ucap Hani.

Aku tersenyum. "Aku Kiara."

Hani mengangguk. "Minjem pulpen dong bang, abis nih males beli,"

"Ambil ditempat pensil."

"Oke! Kak Kiara hati-hati sama Bang Kamal yang diam-diam menghanyutkan ya.."

"Berisik lo tai!!!"

Continue Reading

You'll Also Like

6K 755 6
Berawal dari Julio yang tiba-tiba mengajak Gista pacaran di depan banyak orang, membuat Gista yang tak suka Julio si cowok populer kelabakan mencari...
511 50 33
*** Part 13 telat update,terjadi sedikit kesalahan saat mempublis Terkadang kenyataan pahit itu bisa membawa kebahagian pada akhirnya. Hal itu yg mem...
613 17 31
UPDATE DUA KALI SEMINGGU Ini bukan kisah cinta seromantis romeo dan juliet.Ini juga bukan kisah cinta yang penuh pengorbanan layaknya adam dan hawa. ...
Wattpad App - Unlock exclusive features