" Cepat naik! Aku akan menjagamu dari bawah " Ucapnya yang membuyarkan lamunanku.
" Yang benar saja kau, Kau ingin aku memanjat pagar agar kita bisa keluar asrama? " Tanyaku sambil menampilkan tatapan ketidakpercayaanku jika ia akan menyuruhku memanjat.
" Kau benar-benar gila Styles! " Lanjutku.
" Aku memang gila " Sahutnya dengan senyum Jahilnya. " Cepat naik, Kau bisa naik pagar kan? " Tanyanya lagi sambil memperhatikanku dengan ragu, aku pun memutar mataku dan mulai memanjat pagar setinggi 3 meter tersebut.
Setelah aku berhasil turun dan diikuti dengan Harry, aku pun bisa melihat dunia bebas. Aku melihat sebuah mobil Lamborghini merah terparkir di depan gerbang Asrama kami.
" Itu milikmu? " Tanyaku sambil menunjuk ke arah mobil mewah tersebut, Lalu Harry pun mengangguk. "Bagaimana bisa tiba-tiba ada mobil Lamborghini merah disini padahal kau ada didalam asrama dan tidak pernah keluar? " Tanyaku binggung.
" Aku meminta Paul untuk membawanya kesini, FYI ini bukan pertama kalinya aku keluar. Sometimes aku pergi ke club bersama teman-temanku " Jawabnya Santai.
" Me-memangnya tidak ketahuan? " Tanyaku lagi.
" Sejauh ini belum sih, lagipula Ayahku petinggi di yayasan ini " Jawabnya sambil memasang wajah sombongnya.
Pantas saja. Kataku dalam hati.
" Silahkan tuan putri " Ucapnya sambil membukakan pintu mobilnya untukku, dan aku pun tertawa melihat tingkahnya yang seperti pangeran di film disney.
" Bagaimana bisa aku menjadi seorang putri? Aku kan tidak memakai gaun " Balasku sebelum masuk kedalam mobil mewah Harry.
" Just because you don't use a dress, does't mean you're not a Princess " Jawab Harry sambil mengelus puncak kepalaku, jawabannya itu seketika membuatku diam terpaku.
" Ayo masuk, tunggu apalagi? " Lanjutnya dan seketika membuatku kembali ke alam sadarku.
*
" Sudah sampai " Ucap Harry dan seketika mobilnya berhenti ketika Harry menginjak pedal rem nya.
" Ini tempat bermain Ski? " Tanyaku kepada Harry, sekarang ini ia sedang melepas sabuk pengamannya dan diikuti denganku.
" Iya, Memangnya kenapa? kau tidak suka bermain Ski? " Jawab Harry yang lebih terdengar seperti pertanyaan.
" Tidak, Aku suka sekali Ski " Ucapku girang dan aku langsung turun dari mobil tanpa menunggu Harry. aku sungguh senang sekali, karena sebelumnya aku belum pernah bermain Ski. Karena California tidak ada tempat Ski seperti ini, mengingat wilayahnya yang bersuhu tropis.
" Harry bagaimana cara bermainnya? Kan aku tidak memiliki sepatu seperti itu " Ucapku sambil menunjuk salah satu sepatu milik pengunjung.
" Ayo Ikut aku " Balasnya lalu menarik tanganku menuju sebuah toko peralatan bermain Ski.
Sesampainya di dalam toko tersebut, kami pun memilah-milih sepatu yang cocok untukku, dan akhirnya aku menemukan sepatu yang kucari.
" Cepat duduk " Ucapnya sambil menunjuk kearah kursi yang tersedia.
" Untuk apa? " Tanyaku sambil menaikkan sebelah alisku dengan sarkastis.
Lalu Harry memutar bola matanya. " Aku akan memakaikan sepatumu, bodoh! " Jawabnya.
" Ti-tidak usah, aku bisa memakainya sendiri kok " Balasku sambil menarik plastik yang berisi sepatu Ski berwarna putih.
" Cepat duduk! Jangan banyak bicara! " Dan seketika mulutku terkunci, aku pun duduk dan Harry mulai memakaikan sepatu Ski tersebut ke kakiku.
Dia sangat romantis, What! Apa yang kukatakan? Tidak,tidak, aku hanya salah bicara kok. Tanpa kusadari aku menggeleng-gelengkan kapalaku tidak jelas.
" Kei? Kau kenapa? " Tanyanya bingung melihat tingkahku yang menggeleng-gelengkan kepalaku.
" Ti-tidak apa-apa.. Aku hanya berpikir kau.. " Jawabku yang langsung terpotong.
" Kau apa? " Tanyanya sambil tersenyum jahil, aku pun hanya terdiam seperti sedang berpikir. " Kau Romantis, huh? " Lanjutnya lalu tertawa, dan aku hanya tersenyum kecil
dengan pipi yang memerah.
" Selesai " Ucapnya setelah selesai mengikat tali sepatuku.
" Thanks "
" Kau bisa bermain ski kan? " Tanyanya.
Harry.. Harry.. Kau ini bodoh atau apa? Ini kan hanya hal yang mudah, pasti aku bisa melakukannya walaupun aku sebelumnya belum pernah memainkannya.
Aku berlari menuju dataran yang diselimuti es tersebut dan apa yang terjadi...
BRUKK!!
Aw Bokongku...
Harry pun tertawa melihat kejadian memalukan yang aku alami " Are you oke? " Tanyanya sambil Tertawa cekikikan lalu mengangkat tubuhku yang terjatuh.
" Yes, I'm oke " Jawabku sambil mengelus elus bokongku, Harry pun membantu mengelus bokongku. Aku pun langsung memukul tangan nakalnyaa itu. " Harry, Jangan sentuh bokongku " Ucapku, lalu ia pun tertawa.
" Aku hanya membantumu kok " Balasnya sambil menggaruk kepalanya, yang sepertinya tidak gatal.
" Jangan lakukan lagi! " Ucapku masih dengan mengelus bokongku sendiri.
" Kau tidak bisa main Ski ya? " Tanyanya dan aku pun menyengir seperti orang bodoh.
" Hehe.. Iya, aku belum pernah main Ski sebelumnya " Jawabku masih dengan cengiranku.
" Pantas saja, seharusnya kau bilang dari awal " Ucapnya kali ini sambil memutar matanya.
" Heheh.. Maaf " Balasku lalu ia pun tersenyum.
" Dasar bodoh! Mari, aku akan mengajarkanmu "
" Pantas saja, seharusnya kau bilang dari awal " Ucapnya kali ini sambil memutar matanya.
" Heheh.. Maaf " Balasku lalu ia pun tersenyum.
" Dasar bodoh! Mari, aku akan mengajarimu "
HARRY'S P.O.V
" Dasar bodoh! Mari, aku akan mengajarimu " Pun aku dari belakang aku melingkarkan tanganku di pinggangnya, kini aku sangat dekat dengannya. Punggungnya dengan dadaku saling berhimpit, aku bisa menghirup aroma tubuhnya yang selalu membuatku mabok karenanya.
" Harry aku terbang... " Ucapnya sambil merentangkan tangannya, tingkah lakunya seperti anak kecil. Tapi aku suka itu.
Aku pun menggiringnya bermain Ski, bernari-nari diatas es, dan ia terlihat sangat bahagia. Aku bisa melihatnya dari senyum dan matanya.
" Kau sangat cantik " Bisikku tepat di telinganya.
" Terimakasih " Balasnya berbisik, tanpa kusadari pun menenggelamkan kepalaku di lehernya, menghirup aromanya dalam-dalam.
" Singkirkan rambut keritingmu yang menggelitikiku, Harry " Ucapnya kegelian. Aku pun tertawa kecil mendengarnya tertawa kegelian lalu menyingkirkan kepalaku dari lehernya.
Pun aku mengeluarkan kamera polaroidku, aku memotretnya yang kini sudah mulai bisa bermain Ski, bagiku ia tampak seperti seorang malaikat yang tuhan kirim untukku.
" Harry, jangan potret aku " Ucapnya sambil menepuk pundakku lalu aku pun tersenyum melihat tingkahnya. " Coba aku lihat hasilnya " Lanjutnya sambil mengambil kamera parnoidku.
Mulutnya menganga melihat hasil fotoku. Lalu aku pun tergelak ketika melihat hasil fotoku sendiri. " Lihat Kei! Disini wajahmu seperti anak babi " Ucapku sambil menunjuk foto Keira yang menekan hidungnya layaknya hidung babi.
" Harry, kau benar-benar tidak pandai mengambil gambar " Ucapnya.
" Kau saja yang tidak pandai berekspresi " Balasku lalu melipat tanganku didada.
Ckrekk!
Aku pun melirik ketika melihat Keira mengambil fotoku juga. " Apa yang kau lakukan? " Tanyaku.
" Lihat! Wajahmu seperti anak monyet yang minta nyusu pada ibunya " Ejeknya sambil menunjukkaan fotoku yang berekspresi cemberut.
" Berikan Padaku " Ucapku, tetapi tiba-tiba Keira menarik tanganku, menuju sebuah keramaian
TO BE CONTINUED!