Aku tidak seharusnya menikmati ini seperti yang ku rasakan saat ini, bahkan aku tidak seharunya melakukan ini sama sekali, ini bukan bagian dari perjanjian, sama sekali bukan. Jadi hal yang sebaiknya aku lakukan adalah pergi dari sini dan tidak lagi memilih untuk melakukannya saat ada kesempatan lain datang
"Kau sepertinya sangat diam" ucapnya menatap ku curiga
"Kenapa?" Aku menoleh ke arahnya
"Aku mengatakan kau sepertinya sangat diam" ulangnya
"Aku sedang berpikir" balas ku singkat
"Tentang?"
"Apa yang akan aku lakukan setelah kita bercerai nanti" ucap ku menghela nafas, itu sama sekali bukan yang aku pikirkan, tapi sejak sudah tersebut, hal itu membuat ku benar berpikir tenangnya
"Kemungkinan tidak ada" balasnya menyembunyikan sesuatu yang sepertinya nada pahit "tapi kau bisa selalu menemukan pekerjaan, orang-orang akan ingin mempekerjakan mu"
"Kenapa begitu?" Tanya ku menatapnya bingung
"Kau mantan istri ku, mereka akan berpikir kau akan memberikan hal baik pada mereka" balasnya mengangkat bahu ringan
"Seperti apa? Memberikan perusahaan kalimat baik pada mu?"
"Ya, sesuatu semacam itu dan lainnya" balasnya tersenyum
"Bagaimana kau bisa yakin?" Tanya ku "aku bisa saja jadi tunawisma setelah kita bercerai" lanjut ku yang membuat tawanya meledak "apa?"
"Bercerai dengan ku akan membuat mu menjadi salah satu wanita berkekuasaan besar di kota, malah di negara bagian" balasnya menggigit bibirnya menahan tawa
"Bagaimana bisa perceraian kita menjadi pendongkrak reputasi ku?" Tanya ku tidak mengerti
"Well, istriku tersayang, biar aku jelaskan bagaimana perceraian kita menjadi pendongkrak reputasi mu" ia berdeham "perjanjian kita, 2 tahun pernikahan memberikan mu 20% harta ku. Dan mungkin kau sudah menebak kalau tanpa warisan kakek ku, aku tidak memiliki apapun, yang berarti, 20% mu adalah sebagian dari warisan kakek ku, dan warisan kakek ku adalah.."
"Absneth empire" bisik ku mengangguk mengerti "aku tidak berpikir kesana"
"Kau akan menjadi lebih berkuasa dan kaya dibandingkan dengan ku" ucapnya pelan
"Jangan konyol, Scott"
"Aku tidak konyol, itu kenyataan, kau memiliki banyak saham atas nama mu, yang aku yakin akan melonjak naik suatu hari nanti, lalu kau akan mendapat separuh harta ku. Kau akan menjadi lebih beruang daripada aku" jelasnya yakin
"Dan perusahaan mu akan berkembang pesat" tambah ku meyakinkannya dan ternyata gagal
"Tepat sekali, kau akan semakin beruang. Suami mu akan menjadi pria terberuntung di dunia karena memiliki mu"
"Scott, kau adalah suami ku" ucap ku datar "dan jelas kau sangat beruntung memiliki ku"
"Kau tahu bukan itu maksud ku" balasnya menghela nafas pelan "suami baru mu, pria yang akan menggantikan posisi ku"
"Aw, Scott, kau membuat ku terharu" goda ku bergerak mendekat padanya, tapi responnya membuat ku tersinggung, ia bergerak menjauhi ku "apa aku membuat mu tersinggung atau sesuatu?"
"Aku hanya sedang tidak mood untuk hal seperti itu" balasnya singkat
"Hal seperti apa? Aku hanya menyatakan perasaan ku, apa itu salah?" Tanya ku menahan emosi ku yang sedang sensitif
"Tidak, hanya saja... Ah, sudah lah lupakan" ia menghela nafas dan berdiri dari sofa
"Scott.. Apa yang salah dengan mu?" Aku ikut berdiri dan menahan tangannya
"Tidak ada, kau hanya membuat ku berpikir hal yang sama dari sisi ku" balasnya singkat dan tidak tertarik "kau sudah seperti bagian paket, aku sudah terlalu biasa memiliki mu di sekitar ku, kau membuat ku berpikir diri ku setelah bercerai, aku kemungkinan hanya akan kembali ke kebiasaan lama ku"
"Kita tidak harus bermusuhan setelah perceraian, kita masih bisa menjadi teman dekat, aku masih bisa menjadi teman mu, itu bukan sebuah masalah besar" ucap ku menggeleng "kau tidak harus khawatir kehilangan keberadaan ku" lanjut ku "aku bahkan bisa menjadi wingmen mu, atau dalam kasus ini, wingwomen, aku bisa membantu mu dengan--"
"Cukup" ucapnya mengangkat tangan, mencegah ku mengatakan lebih banyak
"Fine" ucap ku merasa kesal "jujur saja, apa masalah mu? Apa yang membuat emosi mu berubah tiba-tiba?"
"Aku sudah mengatakannya, kau membuat ku berpikir tentang diri ku" ucapnya ketus, sedikit tajam malah
"Ada hal lebih dari emosi mu saat ini, aku bersikeras kau mengatakannya pada ku" ucap ku keras kepala
"Tidak, aku tidak akan melakukan itu, itu bukan urusan mu"
"Kalau kau lupa, saat ini aku masih istri mu! Aku berhak untuk tahu apa yang mengganggu mu" ucap ku hampir menjerit. Aku tidak tahu hal sepele seperti ini dapat membuat sebuah pertengkaran di mulai
"Dan aku sudah memberitahunya pada mu, kau membuat ku berpikir tentang diri ku" balasnya tak mau kalah "berhenti menekan ku untuk sesuatu yang sudah aku utarakan, Lyss" dia terlihat marah, tapi tidak cukup marah untuk bersikap kasar dengan ku
"Kau tahu Scott, aku merasa kalau perceraian kita yang sudah dekat adalah hal yang baik, kita tidak akan bisa meneruskan pertunjukan ini kalau kita masih di awal waktu" ucap ku bergerak melewatinya
"Jangan kau berani berbicara seperti itu pada ku!" ia mencengkram lengan ku, menahan ku di tempat
"Dan jangan kau berani meng'manhandle' ku!" Balas ku menarik lengan ku dari cengkramannya, yang mengejutkannya tidak bekerja. Okay, bagaimana kalau kita mencairkan ini dengan cara lain? Setidaknya salah satu dari kita harus bersikap masuk akal.. "Apa kau sedang menggunakan obat?" Tanya ku berputar untuk menatapnya, tangannya masih tidak mengendur "kau tidak sakit bukan?" Aku mengangkat tangan ku menyentuh dahinya, memastikan dahinya tak panas
"Aku baik-baik saja" ucapnya menepis tangan ku tepat sebelum menyentuh dahinya
"Kau tidak ingin aku menyentuh mu? Okay, aku tidak akan" ucap ku "tapi itu tidak adil bukan?" Ia menatap ku dan aku melirik ke arah cengkramannya "kau mulai menghambat aliran darah ku" itu sebuah kebohongan, dia tidak mencengkram ku seketat itu
"Tangan ku tidak seketat itu" dan dia tahu itu.. Sial
"Oh, Scott, kenapa kita bertengkar? Ini sungguh sangat konyol" ucap ku menghela nafas, menyentuh pergelangan tangannya yang mencengkram ku "mari kita bersalaman dan berbaikan, ini sungguh tak penting diperdebatkan"
"Apa mau mu?" Ia menatap ku curiga, masih tetap tidak mengendur
"Mari berciuman saja atau sesuatu, aku tidak ingin bertengkar, mengingatkan ku pada pernikahan orang tua ku" seperti tubuh ku beracun, ia segera melepas lengan ku dan mengambil satu langkah mundur
"Pernikahan kita sama sekali tidak seperti pernikahan orang tua mu, atau orang tua ku" ia menggeleng
"Aku tahu" ucap ku datar "kita berbeda dengan mereka, jadi mari kita tetap lakukan itu, kita memiliki hal bagus di antara kita, jangan kacaukan dengan masalah sepele seperti ini" dia terdiam "sekarang bisa kita berciuman? Karena pertengkaran kita sedikit merangsang ku" apa yang salah dengan ku?
Bibirnya tertarik sedikit ke atas, setidaknya itu cukup menghiburnya "aku ada perasaan kau ketagihan dengan ku"
"Oh please.. Jangan memuja diri sendiri, satu-satunya alasan ku melakukannya hanya karena aku ingin berhubungan seks, dan kau yang terdekat yang bisa aku dapatkan" balas ku melayangkan tangan ku cuek
"Yeah, katakan saja apapun yang kau mau, sayang, tapi aku tidak mempercayai kalimat mu sedikit pun" balasnya bergerak untuk menjebak ku
"Sungguh aneh melihat mu satu detik marah dan di detik kemudian kau jadi penggoda" ucap ku kehabisan ruang bergerak
"Aku pikir pertengkaran kita merangsang mu sedikit" dia menyisakan jarak beberapa inci dari ku
"Memang" ucap ku hampir tercekat. Tepat setelah kata itu keluar, mulut ku sudah tertutup oleh miliknya. Aku terkejut dengan caranya mencium ku, ini tidak seperti yang biasanya, biasanya dia lembut dan tidak sekali pun memaksa, tapi yang ini, kali ini ciumannya kasar, tak sabaran, dan berantakan, seperti ia sedang terburu-buru, dan itu bukanlah dalam jenis yang baik, seperti yang aku katakan, berantakan.
Untuk beberapa saat, aku tidak meresponsnya, aku bahkan tidak membuka mulut ku untuk membiarkan lidahnya bermain, tapi satu dorongan dari pinggulnya membuat ku terkejut dan membuka mulut ku. Dia menggoda ku lebih jauh dengan menggosokan "bendanya" yang sudah siap dilepas ke titik sensitif ku entah bagaimana, dan tangan ku secara refleks bergerak ke rambutnya dan menariknya sebelum memperdalam ciumannya, menarik tubuhnya untuk menjadi lebih dekat dari yang sudah sangat dekat ini.
Akhir-akhir ini, kita sering sekali melakukannya, mungkin dia memang benar, mungkin memang aku ketagihan dengannya. Pembelaan ku, dia sangat hebat dalam hal itu, sepertinya dia selalu berhasil membawa ku ke puncak, dan jujur saja, aku sering memalsukan hal itu, tapi tidak dengannya, dia benar-benar bisa membuat ku orgasme, bahkan pernah lebih dari sekali dalam waktu yang berturut-turut, yang ku pikir mustahil.
Memang sepertinya harus ku akui kalau aku jatuh cinta padanya karena ia selalu bisa membawa ku ke puncak. Okay, itu mungkin bukan sebuah cinta yang cukup, tapi itu cukup cinta untuk bisa membuat seksnya lebih nikmat daripada seks normal lainnya yang pernah ku jalani.. Aku hanya berharap semoga aku tidak hamil karenanya.. Karena jujur saja, itu akan menjadi rumit dengan bagaimana kondisi kita saat ini yang tidak permanen
"Kau masih meminum pil?" Setiap saat kita akan melakukannya, dia selalu bertanya hal yang sama
Dan setiap saat, aku menjawab dengan jawaban yang sama "ya"
"Bagus" biasanya, walaupun aku mengatakan 'ya', ia akan masih tetap akan menggunakan lateks, "double protection" ucapnya satu hari dulu. Tapi kali ini, sama seperti saat pertama, kami melakukannya tanpa lateks, dan itu sungguh sangat benar-benar terasa 100x lebih baik dari sebelum-sebelumnya, entah kenapa aku juga tidak mengerti.
Sungguh aku tidak bisa berhenti berpikir tentang ini dan menikmatinya di saat yang sama, caranya melakukannya kali ini sangat berbeda dari sebelumnya, aku bisa merasakan kemarahan dan kefrustasian di setiap dorongannya, ini sungguh baru saja membawa ku ke level yang baru. Kau boleh panggil aku pelacur dan murahan karena mengatakan ini, tapi jujur saja, dari semua pria yang pernah tidur dengan ku, hanya Scott yang pernah membawa ku sampai setinggi ini, bahkan ia membuat ku merasa lebih tinggi dari saat aku menghirup mariyuana saat aku kuliah dulu, dan aku sungguh tinggi saat itu, jadi bayangkan saja..
"Scott," desah ku, menarik rambutnya, mengarahkan wajahnya untuk menatap wajah ku saat aku mengatakan "lebih cepat" aku merasa dirasuki sesuatu yang lain, walaupun memang ini bukanlah sesuatu yang unfamiliar lagi bagi ku
"Belum saatnya" bisiknya rendah dan serak di telinga ku "ini masih terlalu cepat untuk itu, baby" lanjutnya menggigit daun telinga ku, tapi dia memang mendorong lebih cepat dan lebih dalam, kalau itu bahkan masih mungkin..
Dia tahu sekali apa yang ia lakukan pada ku bisa dalam waktu singkat membuat ku orgasme, bahkan aku yakin ia memang sengaja melakukannya setiap saat kita melakukannya. Sampai saat ini, aku yakin ia sudah tahu apa-apa saja yang membuat tubuh ku merespon, dari hal tersimple, sampai yang terlalu rumit seperti ini.
Dia bernafas di leher ku, aku merasakan nafas hangatnya, masih tetap mendorong, lalu ia membalik posisi kita, aku tidak lagi di bawah, sekarang aku yang ada di atas, dan secara otomatis dengan gerakan itu, ia membiarkan ku mengambil alih, dan hal pertama yang aku lakukan adalah memutar pinggang ku, memposisikan dirinya untuk bisa masuk lebih dalam lagi, masuk ke tempat yang benar-benar aku inginkan, dengan itu, aku mendesah penuh nikmat, begitu juga dengannya. Aku tahu dia sudah dekat, sangat-sangat dekat, dan yakin dia tahu dari seberapa ketatnya aku, aku juga sudah sangat dekat. Dengan dua kali dorongan lainnya, kita melepaskannya, meleburkan diri ke satu sama lain, tapi seperti kita selalu, kita tidak pernah selesai di sana.
Aku menjatuhkan diri ku di atasnya, dia masih di dalam ku, bahkan saat tidak bergerak pun, dia di dalam ku sudah cukup membuat ku merasa gila.
"Aku harus ke kamar mandi" ucap ku saat tiba-tiba kantung kemih ku terasa penuh
"Tidak" ucapnya menahan ku di tempat
"Aku harus--" dia mendorong ke dalam ku lagi, membuat ku terkejut "buang air kecil" tambah ku hampir tak bersuara
"Tidak kah tahu di saat itu sex akan menjadi lebih nikmat?" Tanyanya kembali menggerakkan pinggulnya perlahan lagi. Sebenarnya, aku tahu itu... Aku bahkan pernah mencobanya, sayangnya itu tidak berakhir baik, ya memang itu menjadi lebih nikmat, tapi akhirnya aku mengeluarkan air kecil ku di sana dan berlari menuju kamar mandi dengan percuma, karena aku literally mengeluarkan air kecil ku saat berlari menuju kamar kecil
"Aku benar-benar harus ke kamar mandi" ucap ku melawan tangannya dan dengan sigap meloncat menuju ke kamar mandi dan aku mendengar tawanya yang terdengar lembut "Scott" panggil ku santai, dan aku mendengar ia menggumamkan sebuah 'hmm' "kenapa kita baru melakukan ini semua di tahun kedua?" Dia terdiam "maksud ku, kenapa kita bahkan tidak pernah mencoba sedikit pun?"
"Aku tidak tahu itu bagian dari perjanjian" jawabnya akhirnya, tapi nadanya aneh, seperti dia.. Aku tidak tahu katanya
"Kita tidak perlu ada perjanjian tentang sex, kau tahu?" Balas ku keluar dari kamar mandi "atau mungkin harus.. Seperti pasangan menikah yang membosankan dimana sex sekali pun harus dijadikan sebagai salah satu perjanjian dalam--"
"Okay, aku menerima poin mu" potongnya kembali menarik tubuh ku padanya sebelum memutar posisi kita dan aku kembali di bawah "dan, baby, kita jelas sekali bukan pasangan menikah yang membosankan" dengan itu, bibirnya kembali pada bibir ku. Seperti yang aku katakan... Kita tidak pernah selesai disana.