Choi Seung Hyun POV
"Mau ku temani?" Tanyaku ketika kami sampai di lobby apartement. Ia menggeleng sambil tersenyum lalu dengan sedikit berlari meninggalkanku di mobil dan masuk ke dalam gedung apartemen.
Aku menghela nafas panjang sambil merebahkan tubuhku di kursi kemudi, membayangkan ekspresi Hyunsoo yang akan takjub dengan makan malam romantis yang sudah aku persiapkan untuknya. Aku menggunakan rooftop restoran Italia favorite nya dan aku setting seromantis mungkin, tak lupa aku menyewa restoran itu untuk lima jam kedepan.
Baiklah, aku akui aku bukan seseorang yang romantis sebelumnya. Aku ingin memperbaiki hubungan kami, khususnya di awal pernikahan kami yang sedikit menyakitkan untuknya. Jujur, aku terlalu naif untuk mengakui bahwa aku benar-benar jatuh cinta padanya. Namun sekarang aku akan belajar untuk menjadi romantis untuk menebus kesalahanku. Ya ini hanya sebagian kecil dari apa yang aku lakukan selama ini padanya.
Aku melirik jam tanganku dan menatap gedung apartemen itu dari kejauhan
'Sudah dua puluh menit.' Batinku
Tiba-tiba aku merasa sedikit gelisah, namun aku berushaa untuk biasa saja. Tidak mungkin kan suatu yang buruk terjadi pada Hyunsoo? Sedetik kemudian ponsel di dalam saku celanaku bergetar, aku merogohnya dan sedikit tersenyum lega kalau Hyunsoo sudah menemukan ponselnya.
"Anny-"
"BRAK!"
Bunyi apa itu?
"Hyunsoo, gwenchana?" Tanyaku dengan nada panik, bahkan secara reflek aku menegakan tubuhku. Tanpa pikir panjang aku keluar dari dalam mobil tanpa mematikan mesin sekalipun, biarkan siapapun mengambil mobil itu tapi tidak dengan Hyunsoo untuk kedua kalinya hilang dari jarak pandangku.
Aku berlari kedalam gedung menekan tombol lift berkali-kali dan menendang tong sampah didekat sana dengan kesal.
"Sial." Umpatku, seseorang staff gedung ini menghampiriku.
"Maaf tuan, tapi anda tidak diperkenankan untuk merusak properti apartement ini." Ucap general manager itu dengan sopan namun aku tidak menghiraukannya, aku segera melangkahkan kakiku ke pintu darurat. Berlari menaiki setiap anak tangga sambil berpikir dengan semua spekulasi negatif yang ada.
'Tidak, pasti Hyunsoo baik-baik saja. Pasti dia hanya tidak sengaja menjatuhkan ponselnya tadi, aku yakin' Batinku, berusaha menghibur diriku sendiri.
Tinggal beberapa anak tangga lagi dan aku sampai di lantai nomor delapan. Aku membuka pintu darurat itu kasar berlari menuju apartemenku dan mendapati pintunya sudah terbuka lebar. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat.
'Tenang Seunghyun, dia pasti baik-baik saja. Dia hanya ingin memberimu kejutan kecil. Ya, seperti itu.' Aku menghela nafas panjang sebelum melangkahkan kakiku ke dalam. Baik, sekarang aku hanya perlu menemukan dimana Hyunsoo bersembunyi.
"Hyunsoo-ah?" Panggilku dengan suara bergetar.
Aku melangkahkan kaki ke kamar kami dan mendapati keadaan kamar itu berantakan tak berbentuk. Padahal jelas dalam ingatanku kalau sebelum kami pergi, Hyunsoo sempat membereskan sprei kamar ini. Aku menekan speed dial di ponselku menunggu hingga nada sambung terdengar.
Ddrt..
Aku mencoba mencari sumber suara itu. Setauku, Hyunsoo selalu menggunakan tipe mode getar pada ponselanya. Jangan bilang kalau...
"Hyunsoo.." Lirihku dengan nada putus asa.
Aku meraih ponselnya dibawah tempat tidur, nafasku tercekat. Jangan bilang kalau dia menghilang lagi, jangan bilang kalau dia pergi secara diam-diam. Aku menekan tombol tutup pada ponselku, menatap ponsel Hyunsoo dalam diam. Tak terasa air mata sudah mengalir di kedua pipiku. Apa Hyunsoo sengaja kabur untuk kedua kalinya?
"Ini tidak mungkin." Ucapku entah pada siapa.
"Jelas-jelas dia mencintaiku, dia pasti sedang bersembunyi di ruangan ini. Ya, Hyunsoo aku tahu kau ada disini!"Ucapku ditengah tangisku. Aku tertawa kecil, mencoba mencarinya sekali lagi ke penjuru ruangan. Namun aku masih belum bisa menemukannya. Aku terduduk di ruang tengah, memandang kosong televisi dengan layar hitam itu.
Hyunsoo tidak mungkin pergi lagi.
Aku merasakan ponselku bergetar. Aku segera meraih benda tersebut dan mendapati sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
'Kalau kau ingin dia selamat, datang ke sebuah parbik tua di area Gangnam sendirian. Jangan membawa siapapun termasuk polisi. Kalau kau ingin Hyunsoo selamat.'
Aku membaca pesan itu berulang kali. Bahkan ini lebih mengerikan dari sebelumnya. Hyunsoo, dia pergi untuk kedua kalinya namun kali ini dia diculik dengan seseorang yang tak kuketahui identitasnya. Dengan tangan gemetar aku berusaha menelpon polisi.
"Annyeonghaseyo. Dengan kepolisian Seoul."
"Saya-"
' Jangan membawa siapapun termasuk polisi. Kalau kau ingin Hyunsoo selamat.'
Tulisan pada pesan singkat itu terngiang di otakku. Aku segera mematikan panggilan dan mengacak rambut frustasi. Apa yang harus kulakukan? Nyawa Hyunsoo bergantung padaku dan aku hanya membuang waktuku hanya untuk duduk disini tanpa bergerak sama sekali. Seunghyun, bahkan untuk berkorban terhadap seseorant yang sudah mengorbankan segalanya untukmu masih saja sulit.
Tapi ini Hyunsoo, dan dia sudah menjadi segalanya bagiku. Maka aku, harus menyelamatkannya. Aku beranjak dari tempatku dan segera melesat pergi dengan mobilku yang masih terparkir aman ditempat semula.
Hyunsoo-ah. Tunggu Oppa.
**
11.47 PM
Aku melangkahkan kakiku ke dalam gedung tersebut, seorang diri. Aku bisa merasakan kalau otot tubuhkj menegang membayangkan bagaimana penyiksaan yang Hyunsoo terima. Di tempat bau dan pengab seperti ini, ia menyekapnya selama beberapa jam. Sialan.
"Hyunsoo.." Panggilku.
KLENTANG.
Aku menoleh ke sumber suara dan mendapati Hyunsoo duduk di sebuah kursi dengan satu lampu kecil yang meneranginya, ia terikat disana dengan mulut yang disumpal sapu tangan. Ia menggumamkan sesuatu yang tak aku mengerti.Aku segera berlari kearahnya dan membuka penutup mulutnya terlebih dahulu.
"Pergi!" Ucapnya membuat aku tak mengerti.
"Kau sudah datang rupanya." Ucap seseorang di kegelapan sana, aku berusaha menyipitkan pandanganku untuk melihat wajahnya. Aku bisa melihat kalau dia menyeringai namun ia tetap tak menampakkan wajahnya.
"Siapa disana?" Tanyaku membuat ia tertawa pelan namun terkesan mengerikan. Ia melangkah maju, tampak seorang pria asing dan aku tidak tahu siapa.
"Lupa denganku?" Tanyanya membuat aku semakin bingung. Wajahnya sangat familiar, namun tetap saja aku tidak ingat.
"Oppa, aku takut." Bisik Hyunsoo membuat aku berdiri dihadapannya.
"Jangan bilang kau mendadak amnesia Choi Seunghyun. Kau lupa dengan ini?" Ucapnya dengan menendang sebuah kotak tepat berhenti dihadapanku. Aku segera membukanya tanpa ragu.
"Kacamata?" Tanyaku tak mengerti. Ia menyeringai sekali lagi.
"Ayolah, permainan ini tidak akan seru kalau kau tidak ingat apapun."
Aku mencoba mengingat semuanya namum nihil. Aku tidak memakai kacamata begitu juga Hyunsoo, penghilatan kami baik-baik saja lalu fungsi kacamata ini apa?
"Baik, masih ingat dengan sebutan kacamata kuda saat SMP? Yup, that's me!" Ucapnya membuat aku tersentak kaget. Aku ingat sekarang orang ini bernama Kang Joon, dia si culun yang sering aku bully saat SMP. Sial.
"Kau ingin balas dendam huh?" Tanyaku dengan nada meremehkan, sama seperti dulu.
"Oppa." Panggil Hyunsoo namun aku memberi isyarat padanya untuk diam.
"Tidak, hm mungkin juga iya. Tidak. Iya. Tidak. Iya. Hm, bagaimana kalau kubiarkan orang lain menjelaskan?" Tanyanya lalu muncul satu orang lagi yang sangat aku kenali, bahkan dari siluet tubuhnya pun aku tahu kalau itu Ga-In.
"Halo, Seunghyun." Ucapnya dengan nada meremehkan membuat aku mengepalkan tanganku. Ia tahu, seberapa bencinya dengan seseorang yang meremehkan kekuatanku dan sekarang ia meremehkanku sekarang.
"Wooh, lihat siapa yang sedang marah sekarang. Menyenangkan bukan merasa direndahkan?" Tanya Kang Joon padaku.
"Oh, Joonie. Ini masih permulaan, belum masuk ke intinya jadi santai saja dulu."
Ga-In mendekat kearahku, aku mengawasi setiap gerak-geriknya. Takut-takut ia membawa senjata dalam bentuk apapun untuk menyakiti aku dan Hyunsoo. Ia mengulurkan tangannya padaku.
"Aku berikam penawaran kecil, mungkin kau ingin berubah pikiran?" Ucapnya dengan tersenyum (sok) manis.
"Hm, kau menerimaku sebagai istrimu dan ceraikan Hyunsoo dan kaliam bisa hidup damai aman dan tentram tanpa harus bersama. Mudah bukan? Aku yakin kalau kau akan langsung menjawab iya." Ucapnya, aku mendesis dan menepis tangannya. Ia menatapku dengan pandangan tak percaya dan matanya memancarkan amarah dan kebencian yang sangat dalam.
"Baik, kau sudah memilih. Permainan di mulai."
**
HIYAAAA AKHIRNYA PART SELANJUTNYA BERHASIL DI PUBLISH! Sebentar lagi mendekati ending nih! gimana dengan part ini? Aku harap memuaskan ya, karena yang selanjutnya aku jamin akan lebih seru^^
Jangan lupa vote dan comment ya readers!
C.weirdostabi//dorotheagustin