TEARS | COMPLETED

By fangirlsbabes

18K 2.1K 1.3K

Key Anderson is just a poor girl who met with a nice guy named Louis Tomlinson and then she fell in love with... More

Tears #1
Tears #2
Tears #3
Tears #4
Tears #5
Tears #6
Tears #7
Tears #8
Tears #9
Tears #10
Tears #11
Tears #12
Tears #13
Tears #14
Tears #16
Tears #17
Tears #18
Tears #19
Tears #20
Tears #21
Tears #22
Tears #23
Tears #24
Tears #25
Tears #26
Tears #27
Tears #28
Tears #29
Tears #30
Tears #31
Tears #32
Tears #33
Tears #34
Tears #35
Tears #36
Tears #37
Tears #38
Tears #39
Tears #40
Epilog
Author's Identity
Thanks and All Credits
ANNOUNCEMENT

Tears #15

433 52 30
By fangirlsbabes

Harry's Prov

Kupercepat langkah kakiku menyusuri koridor yang dipadati oleh manusia-manusia bodoh ini. Kulebarkan pandanganku hingga melihat sosok Cherry yang sedang bersandar dilokernya. Kutarik paksa lengannya sehingga membuatnya menjerit meminta aku untuk melepaskannya.

Apa aku akan melepaskannya? Tentu saja tidak sebelum dia menjawab pertanyaanku.

"Berengsek!" Dia memegang lengannya yang memerah akibat cengkramanku. "Jika kau meminta bantuanku jawabannya, Tidak! Kau bahkan memperlakukanku seperti anjing basah yang kotor dan menjijikan." Dia meringis meratapi lengannya yang masih memerah itu.

Emosiku mulai terpancing, namun harusku netralisir karena aku tidak mau membunuh Cherry hanya karena hal kecil.

"Dimana Key?" Cherry masih bungkam namun matanya menatap penuh dendam padaku. Nyalinya terbilang cukup besar rupanya. Kugengam lagi pergelangan tangannya yang memerah itu sehingga ia meringis kesakitan.

"Aku — aku tidak tau. Lepaskan aku, Harry. Kumohon, aku berjanji akan membantumu." Dengan itu aku langsung melemparkan lengannya dengan kasar.

"Dimana Key?"

"Aku tidak tau. Sudah kubilang, bukan?

"Kau berbohong!"

"Aku bersumpah, Harry. Aku belum menemuinya pagi ini."

"Apa dia masih bersama Louis?"

"Kurasa masih. Kenapa?"

"Bukan urusanmu! Apa kau sudah menceritakan masalah Megan?" Gadis itu, gadis? Aku tidak yakin dia masih gadis, abaikan. Cherry tiba-tiba mematung ditempatnya ketika aku menanyakan masalah Megan. Bisa kuprediksi bahwa jawabannya adalah belum.

"Belum."

Prediksiku benar.

"Kau bersekongkol dengan Louis? Sangat bodoh."

"Harry ini semua bukan hanya masalah Louis dan Megan tapi kau juga dalam masalah yang sama bahkan kita semua tidak pernah tau siapa sebenarnya yang seharusnya menanggung ini semua, tapi kau Harry! Kau selalu membuat semua ini sebagai kesalahan Louis, padahal belum tentu Louis yang—"

"Cukup jalang!" Aku langsung keluar dari ruangan laboratorium ini dan menutup pintunya kasar membiarkan jalang itu sendirian didalam sana.

Berengsek! Berani-beraninya dia menyalahkanku dan menyeretku masuk kedalam permasalahan konyol ini.

**

"Harry!!" Kuhentikan langkahku saat mendengar suara orang memanggilku. Baron? Ada urusan apa pria ini denganku. "Bisa kita bicara sebentar? Ini tentang masalah, Key."

"Baron, kit—"

"Namaku Jason, bukan Baron." Persetan dengan namanya yang membingungkan itu. Aku langsung membawa Bar—Jason kedepan loker paling pojok karena disini tidak begitu ramai jadi kuyakin tidak akan ada yang mendengar kami.

"Ada apa?"

"Dimana Megan sekarang?"

"Apa-apain ini? Kau menanyakan jalang itu padaku?"

"Harry bisakah kau menjawabnya saja?"

"Kudengar jalang itu di Manhttan."

"Berarti benar."

"Apanya yang benar?"

"Tidak. Kau sudah menghubungi Megan kembali?"

"Persetan dengan jalang itu. Bisakah kau tidak membahas jalang itu dihadapanku?" Lancanf sekali Jos—Jason maksudku menanyakan jalang menyedihkan itu dihadapanku.

Memangnya siapa dia?

"Namanya Megan. Persetan jika kau memanggilnya dengan sebutan apa tapi ingatlah dia pun tidur bersamamu lebih dari lima kali Harry."

[suara pukulan]

"Berhenti membahas jalang yang menyedihkan itu dihadapanku jika kau masih ingin hidup. Keparat!" Segera kutinggalkan bajingan ini terkapar dilantai setelah kulayangkan pukulanku dirahangnya yang sukses membuat bibirnya mengeluarkan darah.

To : Cherry
Berikan aku nomor ponsel Key. H

From : Cherry
+11448 xxxx xxxx jangan katakan bahwa aku yang memberikan. Aku memohon.

Kuabaikan pesan yang disampaikan jalang itu dan lebih memilih untuk menghubungi Key secepatnya. Nada sambung sudah terdengar namun tak kunjung diangkat olehnya.

Louis's Prov

Kuraih tubuh kecilnya kedalam pelukanku dan kubelai lembut rambut coklatnya yang lembut itu. Dia masih memeluku sekuat tenaganya sambil mengutarakan banyak pertanyaan, tapi aku lebih memilih untuk bungkam dan terus memeluknya melepaskan kerinduanku.

"Louis?" Aku mendongakan kepalaku dan menangkap seorang perempuan yang sekali tidak inginku lihat. Dia menunjukan wajah senangnya, namun aku sama sekali tidak mengharapkan dia senang karena tujuanku hanya untuk dia, gadis yang ada dipelukanku ini—Charlotte atau kupanggil Lottie.

"Boo bear, maukah kau menonton televisi denganku? Kemudian kita buat istana lego yang besar sekali untuk Boneka baruku, mau?" Aku mengangguk setuju dengan permintaan gadis kecilku ini. Dia mengiringku menuju ruang bermainnya yang didominasi dengan warna ungu dan merah muda. Lottie mengeluarkan kotak berisi lego-legonya kemudian memintaku untuk membawakannya keruang televisi.

"Letakkan itu disini sebagai pembatas Boo" Aku menuruti permintaannya. Dia dengan serius menyusun satu-persatu legonya agar membangun sebuah istana untuk boneknya, menggemaskan.

Key? Aku harus mangabarinya atau jangan-jangan dia sudah menghubungiku?

Kucari-cari ponsel disekitaran tempat dudukku namun tidak kunjung menemukannya padahal aku membawanya.

"Mencari ini?" Lagi-lagi perempuan ini. Sungguh, aku benar-benar tidak ingin mendengar suara perempuan ini yang sangat menggelikan. Namun, dengan terpaksa aku memalingkan wajahku kearahnya yang sedang memegang ponselku. "Sepertinya kau sedang menunggu kabar?" Aku tetap bungkam dan terus memperhatikan layar ponselku. "Kau tidak akan mendapatkan kabar apapun dari entahlah siapa itu jika kau belum mematikan mode pesawatmu" Aku baru sadar jika mode pesawat diponselku belum sempat kumatikan.

Bodoh! Baru saja ponselku normal sudah terpampang dilayar nama orang yang kucintai, Key.

"Key, kau disana?"

"Astaga Louis. Aku merindukanmu! Bagaimana keadaanmu?" Key terus mengoceh disebrang sana. Aku sangat menikmati setiap kata yang ia keluarkan dari bibirnya. "Lou, kau disana?"

"Ya, aku disini. Aku juga merindukanmu. Aku berjanji akan menelponmu atau mungkin skype?"

"Pilihan yang bagus! Lekaslah pulang. Lou, sekarang makan dan istirahatlah. Aku tidak mau kau kembali ke Inggris dengan keadaan yang mengerikan."

"Baik, Mrs. Tomlison. Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu, Lou."

Jalang ini, Baiklah, Megan masih berdiri berkacang pinggang memperhatikan Lottie sekaligus menguping pembicaraanku dengan Key.

"Aku membuatkanmu salad ayam, kesukaanmu."

"Tidak lapar."

"Kau tidak perlu menjaga gengsimu. Ini juga rumahmu Boo, maksudku Louis."

"Cukup! Jika kubilang tidak dapat kupastikan tetap tidak! Rumah ini milik Harry biar kuperjelas padamu."

"Boo bear apa kau marah pada Ibu?" Aku langsung memalingkan wajahku saat mendengar suara Lottie yang sedikit bergetar, aku tidak bermaksud membuatnya takut.

"Tidak sayang. Boo bear tidak marah padaku. Kami hanya sedang bercanda, bukan begitu Boo—Boo bear?" Aku mengangguk acuh tanpa menatap kearahnya. Lottie pun kembali sibuk dengan lego-legonya yang sudah hampir mencapai bagian atap.

Kuhempaskan tubuhku diatas sofa, Lottie sudah tertidur sekitar setengah jam yang lalu sedangkan Megan? Oh haruskah aku menjelaskannya juga?

Malam ini aku memilih tidur disofa karena disini hanya terdapat dua kamar yaitu kamar milik Lottie dan Megan. Jangan harap aku akan satu ranjang dengannya karena untuk membayangkan saja sudah muak. Kubolak-balik tubuhku diatas sofa mencoba mencari posisi yang nyaman agar aku tertidur. Disela kesunyian ini aku membayangkan sosok Key, sebenarnya bentuk tubuhnya.

Kubayangkan lembut bibirnya, kubayangkan halus kulitnya dan sialnya membayangkan segitu saja sudah membuatku mengeras. Dengan cepat kugelengkan kepalaku berusaha kembali kedunia nyata, kuharap reaksi dibawah sana tidak berlebihan, karena aku tidak ingin berakhir dikamar mandi sambil meneriak-neriakan namanya bersamaan dengan pelepasan konyolku.

[suara benda terjatuh]

Aku mendengar suara sesuatu terjatuh, tapi apa? Aku bangkit dari posisiku menuju tempat asal dari suara itu dan ternyata suara itu berasal dari pantry, kupercepat langkah kakiku menuju pantry. Pupil mataku membesar ketika melihat sesosok perempuan berambut pirang yang mengenakan piyama berwarna merah maroon tergeletak dilantai, Megan.

Dengan enggan akupun meraih tubuhnya kedalam gendonganku. Jujur, aku tidak ingin tapi aku tidak setega itu karena disini hanya akulah yang dapat menolongnya.bKubaringkan perempuan ini diatas ranjang kemudian kututupi setengah tubuhnya dengan selimut berwarna senada dengan sprei ranjangnya.

"Louis." Gumamnya. Aku menghentikan langkahku tanpa memutar tubuhku. "Temani aku. Sungguh, kepalaku terasa sangat sakit, Lou." Perempuan ini merengek dengan manjanya membuatku merasa geli.

Megan memiliki penyakit cephalalgia [sakit kepala akut] bahkan penyakit ini hampir membuat persalinannya gagal karena tekanan darahnya yang tidak stabil. Beruntungnya ia adalah perempuan yang kuat.

Apa aku baru saja memujinya? Bukan, itu bukan pujian.

"Kumohon, aku berjanji kita tidak akan melakukan apapun. Kau bisa tidur disisi kanan dan aku disini kirinya." Ia menunjuk kearah sisi kanan dan kiri kasur.

Haruskah?

Kurebahkan tubuhku diatas ranjang yang sama dengan Megan. Ini kali pertama setelah dua tahun kami tidak pernah tidur bersama dalam satu ranjang. Kumiringkan tubuhku kearah jendela agar aku tidak perlu melihat sosoknya. Selang sepuluh menit aku masih dalam posisiku, sedangkan Megan mungkin sudah tertidur karena terdengar dengkuran halus. Badanku sudah lelah dengan posisi ini, jadi kubalikan tubuhku sehingga sekarang berposisi lurus sejajar dengan ranjang.

Keparat!

Pupil mataku membesar saat tidak sengaja melirik kearah Megan. Piyama berwarna merah yang dikenakannya terbuka sekitar tiga sampai empat kancing.

Apa dia sengaja menggodaku?

Kugelengkan kepalaku dengan cepat, kutampar diriku kedunia nyata karena bagaimanapun aku ini seorang pria. Batin dan Hormonku sedang berperang besar-besaran, ini sungguh sulit. Bahkan sesuatu dibawah sana yang sudah tenang tadi kini mulai kembali berontak.

"Lou." Dahiku sontak mengerut saat mendengar ucapan perempuan disebelahku ini.

Apa dia baru saja mendesahkan namaku?

"Ayolah." Aku menganga mendengar racauannya itu. Kutebak sepertinya Megan bermimpi sedang bercinta denganku dan sialnya pergerakan dibawah sana semakin keras dan tak terkendali. Jantungku berdegup-degup kencang saat Megan merubah posisi tidurnya menjadi memiring menghadap kepadaku. Dari posisi ini aku bisa melihat dengan jelas kemulusan leher jenjangnya serta buah dadanya yang begitu ranum. Sial!

Jalang ini masih meracau dengan mata tertutup. Jujur, begitu panas dan telah berhasil membuat darahku berdesir hebat. Kugeser posisiku agar sedikit mendekat dengan tubuhnya kemudian kurentangkan tangan kananku secara perlahan-lahan kewajahnya. Kubelai pipinya kemudian kumasukan satu jari telunjukku kemulutnya.

Hanya suara desahan yang terdengar dari mulutnya saat aku memasukan jariku kemulutnya. Kutarik perlahan maju mundur seiringan permainan lidahnya dijari-jariku. Aku menggigit bibir bawahku saat merasakan sebuah kenikmatan yang ia berikan. Kutambahkan jari tengahku kedalam mulutnya kemudian menariknya maju mundur kembali. Dibawah sana sudah sangat mengeras. Kupercepat gerak jari-jariku dimulutnya hingga Megan berdesah.

Aku mencintaimu Louis .....

Bagaimana aku bisa melakukan ini?

Kutarik jari-jariku dari mulut Megan kemudian berangsur-angsur bangkit dan keluar dari kamarnya tanpa peduli keadaannya disana.

Kuhempaskan bokongku diatas sofa. Aku merenungkan perbuatan bodohku tadi. Jam sudah menunjukan pukul dua malam, tapi batinku berkata aku harus menelpon Key.

"Lou? Kaukah itu?"

"Iya. Apakah aku menggangu tidurmu?"

"Tidak. Ada apa?"

"Bukan apa-apa. Aku hanya ingin kau tau bahwa aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu, Key."

"Lou." Suaranya yang serak karena terbangun dari tidurnya kini terdengar parau seperti tengah menangis.

"Jangan menangis. Aku mencintaimu."

"Aku merindukanmu, Lou. Ya Tuhan aku sangat merindukanmu." Tangisnya pecah. Rasanya aku ingin menyayat-nyayat kulitku sendiri setelah apa yang kulakukan tadi. Gadisku merindukanku tapi aku malah melakukan hal bodoh dengan seorang jalang.

"Aku berjanji akan secepatnya pulang dan akan langsung menemuimu. Aku mencintaimu sayang sangat mencintaimu."

"Aku—" Ia menghembuskan nafas "Aku juga mencintaimu, Lou, sangat mencintaimu."

Harry's Prov

Kuteguk bir yang ada digengamanku ini. Pesta difrat memang selalu ramai dan meriah. Entahlah, mungkin karena frat ini dipenuhi dengan para jalang-jalang. Suara musik semakin keras saja. Sebenarnya, aku tidak terlalu suka dengan musik seperti ini, ya tapi apa boleh buat?

"Hey keriting, mau kutemani?" Seorang jalang pirang memakai kau abu-abu dengan rok pendek langsung menggerayangi tubuhku yang tak lain tak bukan adalah Brit.

"Pergilah!" Jalang itu langsung meninggalkanku saat itu juga. Akhir-akhir ini aku tidak bersemangat untuk bercinta dengan para jalang ini karena mungkin aku hanya menginginkan satu orang, seorang gadis yang istimewa.

"Harry, kemarilah." Kulebarkan pandanganku saat terdengar suara yang memanggil namaku, Niall. Kulangkahkan kakiku mendekati mereka. Mataku langsung terfokus pada seorang gadis yang memakai celana pendek dengan kemaja lengan panjang berwarna putih.

"Key, kau mau segelas lagi?" Benar, itu adalah Key. Tubuhnya amat menggoda dengan pakaian seperti itu ditambah lagi wajahnya yang cantik.

Keparat! Tiba-tiba terbayang wajah bajingan Louis yang menyeringai penuh kemenangan.

Kuterawang-terawang wajah gadis itu yang sudah terlihat sayu dan matanya memerah. Dia mabuk. Batinku sontak bersorak penuh kemenangan saat mengetahui dia sudah dalam kondisi mabuk. Gadis itu menatapku dengan matanya yang memerah, sedangkan yang lain sibuk dengan urusannya. Aku tidak akan membuang kesempatan emas ini. Kuraih lengan gadis itu lalu membantunya bangun dari posisi duduknya. Dia terlalu lemah, saat kutarik lengannya ia langsung ringsut kedalam pelukanku. Aku suka ini.

Kutangkup seluruh wajahnya ditelapak tanganku, ia menatapku dengan sayu. Kudekatkan wajahku kearah wajahnya kemudian kulumat habis bibir merah mudanya yang kecil itu. Key membalas ciumanku dengan ahli. Dia melahap bibirku dengan kasar dan membuatku tanpa basa-basi langsung menuntun dirinya yang sudah mabuk ini masuk kedalam kamar Niall yang sudah biasa kupinjam.

Setelah mengunci pintu langsung kutarik pinggulnya hingga wajah kami saling bertemu. Kembali kulumat bibirnya dengan panas sampai ia pun membalasnya dengan begitu handal.

She is a good kisser when she was drunk.

Tangannya mengalung keleherku dengan sempurna, matanya terpejam menikmati ciuman kami. Kurapatkan tubuhnya ditembok tanpa melepas ciuman kami, kemudian pinggulnya kuangkat dengan mudah. Ciumanku turun keleher jenjangnya, tak terlewat kugigit kecil daun telinganya. Dengan sengaja, kuhembuskan nafasku yang memburu disekitaran lehernya hingga ia mendesah tertahan. Jari-jarinya kini menelusup kedalam rambut ikalku dan menariknya asal, ini tidak sakit melainkan nikmat.

Dia melengguh saat ciumanku kini terarah pada dadanya. Aku mendengar desahan kenikmatannya yang langsung membuatku menghempaskan tubuh lemahnya diatas ranjang. Kuciumi bibirnya sambil melepas satu persatu kancing kemeja yang ia kenakan kemudian menurunkan ciumanku sampai kedadanya. Kutelusupkan tanganku kepunggungnya, membuat dirinya mengerti dan mengangkat punggungnya saat aku berusaha melepaskan tali branya.

Setelah terlepas kulemparkan bra biru itu kesembarang arah. Kuamati sebentar buah dadanya kemudian kuletakan wajahku diantara keduanya. Kuhirup sebentar dan kuberikan tanda kepemilikan disana.

Kulepaskan kaus serta celanaku hingga hanya boxer yang menutupi tubuhku atau lebih tepatnya ereksiku yang sudah sesak didalam sana. Kulumat perlahan buah dada kirinya sedangkan tangan kiriku bermain-main dengan puting yang sudah mengeras itu. Key mengeluarkan desahannya begitu menggoda dan menggairahkan.

Tangan kananku mulai bekerja untuk melepaskan celana pendeknya, dan berhasil. Jari- jariku menusuk-nusuk area sensitifnya dari luar celana dalam merah mudanya yang sudah basah.

"Kumohon!"

"Apa? Aku tidak bisa mendengarmu, memohonlah. Sebut namaku."

"Harry, kumohon!" Aku telah berhasil membuatnya memohon padaku. Nah, sekarang aku akan membuatnya menjeritkan namaku dengan penuh kenikmatan yang tidak pernah ia rasa sebelumnya.

Kulepaskan boxerku yang sudah sangat sesak ini lalu kuraih bungkusan foil silver yang ada dilaci meja kamar Niall kemudian memakainnya dengan cepat. Kuambangi tubuh mungil Key yang menggairahkan itu kemudian kembali kucium bibirnya dengan lembut.

Gadis itu melengguh kesakitan bercampur dengan kenikmatan. Aku tau dia sudah tidak virgin tapi ia masih terasa sempit dan nikmat. Kupompa secara perlahan-lahan, kumainkan jari-jariku diklitorisnya sehingga membuat tubuhnya menggelinjang menikmati perbuatanku ini dan membuatku menyeringai puas.

"Harry, kumohon lebih cepat!"

"Sesuai permintaanmu." Kupompa pinggulku maju mundur dengan cepat hingga terdengar desahan-desahan menggairahkannya. Kupompa habis tenagaku hingga ereksiku begitu memenuhi dirinya saat ini. Key mendapatkan pelepasan pertamanya, kini kupercepat kembali pompaanku agar kami keluar bersamaan.

Dia terlihat begitu panas dan begitu mengairahkan, apalagi buah dadanya berguncang naik dan turun. Kulumat buah dada kanan dan kirinya secara bergantian hingga membuatnya mendesah semakin keras.

"Harry." Kupompa tanpa henti hingga aku akan mencapai pelepasanku. Aku ringsut disebalah tubuhnya. Tubuh kami terselimut oleh keringat yang tidak terpengaruh pendingin ruangan masih dalam temperatur normal. Aku meraih tubuhnya kedalam pelukanku, kukecup lembut bibirnya kemudian ia menatap kedua mataku lekat-lekat.

"Harry"

"Ya?"

"Kumohon jangan beritahu siapa-siapa tentang ini." Aku mengangguk dan selanjutnya kulumat bibirnya kembali. Key membalas ciumanku dengan amat lembut, sangat lembut.

Continue Reading

You'll Also Like

8.4M 660K 76
"Gue udah bilang, gue gak mau jadi pacar lo Galak!!" Pekik Gisha menolak tegas. "Gue gak peduli. Intinya, lo pacar gue! Dan lagi, Siapa yang lo maksu...
18.8K 1K 5
bagaimana kalau member one direction saling jatuh cinta satu sama lain? apakah perasaan itu akan menganggu karir mereka? NOT FOR LARRY HATERS. THIS...
98.5K 11K 20
[AU] Saat seorang Harry Styles, cowok populer di kampusnya terbelit banyak masalah pribadi yang banyak menjadi penyebab berubahnya sikap dan sifatnya...
1.7K 229 10
Hanyalah kisah cinta antara seorang pria bernama harry styles dengan seorang gadis bernama hailee clark. Love! Problem! And find the way! - - - - BAB...
Wattpad App - Unlock exclusive features