Back to December

By januarynight

16K 1.1K 114

Sebuah masa lalu tidak dapat untuk di ubah. More

SINOPSIS
BAB 1
BAB 2
BAB 3
BAB 4
BAB 5
BAB 6
BAB 7
BAB 8
BAB 9
BAB 10
BAB 11
BAB 12
BAB 13
BAB 15
Author's Note
SEQUEL

BAB 14

652 56 2
By januarynight

“People come and people go. The best will always stay” - Priskila Andromeda

***

Backsound : Cho Kyuhyun - At Gwanghwamun

****

BULAN Desember kini telah datang menghampiri, lengkap dengan awan hitam yang bergelayut di ujung cakrawala. Gelap. Bahkan tidak ada celah awan putih segaris pun.

Aldrin terduduk di taman--- didekat kedai kopi langganannya dulu saat dirinya dan Kila masih menjadi mahasiswa. Seminggu setelah kejadian itu, Aldrin memutuskan meninggalkan Vegas dan meninggalkan semua kenangan di New York. Dia menutup semua cerita tentang dirinya dan Vanessa. Bahkan sejak ia melihat liputan gadis itu yang keluar dari hotel dan menangis , Aldrin benar-benar lost contact dengan Vanessa. Aldrin bukan orang yang egois ataupun kacang lupa kulitnya. Dia berulang kali menghubungi gadis itu namun hasilnya nihil. Vanessa hilang tak berjejak. Mungkin ia butuh waktu sendiri. Namun dua hari setelah berita itu, Vanessa menghubunginya menggunakan telepon umum. Gadis itu hanya mengatakan jika pernikahan mereka batal dan Vanessa langsung menutup telepon itu bahkan sebelum Aldrin mengucap sepatah kata.

Dan disinilah Aldrin sekarang, di tanah kelahirannya.

Kila.

Satu nama yang mampu membuat degup jantung Aldrin menggila. Satu nama yang membuat napas Aldrin sesak dan tertohok godam dengan telak. Satu nama yang membuat Aldrin berani mengingkari sumpahnya. Satu nama yang membuat Aldrin kembali terperosok jatuh di parit bumi terdalam tempat hatinya dulu bersemayam. Semua berakhir. Benarkah?

Kila tidak ada kabarnya semenjak hari dimana ia memilih pergi bersama Raka. Tepat dimana hari penembakan itu. Kila hanya menulis satu pesan untuk Aldrin. Pesan abu-abu.

KilsKilaa : People come and people go. The best will always stay.

Dua kalimat abu-abu tak bermakna. Atau mungkin hanya Aldrin yang tidak mampu menelaah apa pesan di balik kata itu.

Semua yang datang pasti ada masanya untuk pergi. Namun itu hanya untuk orang yang tidak mau memperjuangkan apa yang memang pantas untuk di perjuangkan.

Menyerah?

Tidak. Aldrin tidak menyerah untuk gadis itu. Kila adalah degup jantungnya. Dia akan berjuang. Aldrin memang tidak sekaya Raka namun ia punya cinta yang besar untuk Kila. Aldrin masih mampu mencukupi kebutuhan Kila jika suatu saat nanti mereka memilih bersama.

Aroma kopi menguar membuyarkan lamunan Aldrin. Pria itu menengok ke belakang dan melihat kedai kopi yang ramai. Aldrin menghela napas berat dan pandangannya tertumpu pada jalanan di depannya.

Dulu, Aldrin selalu melewati jalan ini saat pulang kampus dengan motornya. Tentu saja dengan membonceng Kila. Bahkan gadis itu mati-matian menolak mencicipi kopi saat Aldrin mengajaknya ke kedai itu.

Tapi setelah beberapa kali Aldrin mengajaknya, Kila malah semakin maniak dengan kopi. Bahkan gadis itu mewajibkan Aldrin untuk mengajaknya ke kedai itu minimal sekali dalam seminggu.

Aldrin tertawa kecil lengkap dengan sebulir airmata yang ikut turun perlahan ketika memorinya mengulang kisah-kisah indahnya dulu.

Sesak.

Sangat!!!

Tidak selamanya kenangan meninggalkan kebahagiaan. Ada Kalanya kenangan menorehkan sebuah pembelajaran atau bahkan luka. Kehidupan adalah sebuah pentas pertunjukkan yang harus di lakoni manusia. Akan selalu ada awal,perjuangan,kekalahan,liku hidup,dan akhir. Hidup tidak melulu soal kebahagiaan ataupun happy ending.

Tetesan hujan perlahan turun membasuh bumi, bercumbu dengan tanah gersang, bermesraan dengan angin semilir. Aldrin masih enggan untuk bangkit. Dia masih menatap jalan di depannya. Akankah orang yang ia nanti akan datang? . Aldrin tersenyum getir. Bahkan pesan itu tidak pernah sampai ke Kila. Semua akses gadis itu tertutup dan tidak bisa di hubungi. Aldrin hanya seperti pengejar bulan. Bagai punguk bodoh yang masih percaya jika bulan akan mendatanginya.

Aldrin hanya berpikir untuk mendatangi tempat ini. Mungkin Kila akan lewat sini.

MUNGKIN.

Hujan bertambah deras namun Aldrin sama sekali tidak goyah. Kila pasti datang, kata ini seperti mantra yang selalu di ucap Aldrin.

***

Kila berdiri di belakang kaca besar, pandangannya jatuh pada jalanan ibukota yang padat meski hujan tengah turun dengan deras.

Kila merapatkan cardigan yang membungkus tubuhnya. Pikirannya berkelana pada satu pria yang mampu mengalihkan hidupnya.

Aldrin.

Kila tahu bagaimana pria itu mengkhawatirkannya. Puluhan pesan selalu hadir di ponsel Kila setiap harinya. Pesan yang sama.

Kamu dimana?

Kila memang tidak pernah benar-benar membuka pesan itu. Kila juga tidak berniat untuk mengingkari janjinya untuk tidak lagi mematahkan hati pria itu. Dia hanya butuh waktu. Sebentar saja.

Sebuah tangan kokoh memeluknya dari belakang. Kila tersadar dari lamunannya dan menoleh. Ia menemukan Raka yang sedang menumpukan dagunya pada pundak Kila.

“Sedang melamunkan apa?” , Raka mengeratkan pelukannya. Menikmati aroma parfum Kila yang memabukkan.

“Tidak ada. Hanya melihat jalanan macet. Sudah minum obat?”

Sejak kejadian itu ,Kila memutuskan untuk memprioritaskan Raka di atas segalanya. Ia berhutang nyawa dengan pria ini. Bahkan saat Raka baru melewati masa kritisnya, pria ini masih sempat menanyakan bagaimana keadaan Kila.

Kila merawatnya dan membawa pulang Raka ke Indonesia. Dua hari yang lalu pria ini menyatakan cinta pada Kila.

Dan Kila hanya menjawab, Kita jalani saja. Jika kita berjodoh , Tuhan akan mempersatukan kita.

Kini Raka tidak lagi mencintai Kila dalam diam. Dia memperjuangkan perasaannya. Dia selalu menunjukkan kasih sayangnya pada gadis cantik ini. Seperti saat ini.

“Itu tidak enak, Kila. Aku benci minum obat”

“Tapi kamu harus minum biar cepat sembuh. Jangan membangkang”

“Siap Princess

Kila berbalik dan menatap mata Raka.

“Apa luka jahitannya masih sakit?”

“Tidak. Aku sudah baik-baik saja”

“Syukurlah. Aku lega jika kamu baik-baik saja”

“Apa kamu akan pergi?” , Raka mengeluarkan pertanyaan itu dengan spontan. Inilah yang beberapa hari mengganjal di hatinya. Apakah Kila akan memilih Pria itu lagi saat Raka sudah sehat seperti semula.

“Apa maksudmu? Kalau yang kau maksud pergi adalah pulang ke rumah. Jawabannya iya. Aku akan pulang”

“Kau tau apa yang aku maksud, Kila”

Kila mendesah. Dia sendiri pun masih bingung. Apakah hatinya masih untuk Aldrin sepenuhnya.

Di lain sisi , dia juga tidak ingin melukai perasaan Raka. Raka adalah pria yang tidak pantas untuk di sakiti. Dia sempurna dan baik. Tapi tetap saja, tidak ada getaran apapun saat dirinya ada di samping Raka.

Kila masih terdiam di tempatnya. “Tidak usah di pikirkan” , Raka mengulas senyum lembutnya dan mengusap lembut pipi Kila.

“Mau ku antar pulang?” lanjutnya.

Kila menggelengkan kepala dan menggenggam erat jemari Raka. “Tidak usah. Aku bisa sendiri. Kamu istirahat aja”

“Aku antar ke basement kalau gitu.”

Kila mengambil sling bag dan kacamata hitamnya. Raka melingkarkan tangannya ke pinggang Kila dan berjalan ke arah lift . Hanya mereka berdua yang ada di dalam lift. Raka memilih menyandarkan bahunya ke samping.

“Aku antar ya”

“Tidak usah Raka”

“Tapi di luar masih hujan deras. Aku takut kamu kenapa-kenapa”

Kila mengulas senyum dan mengusap lembut bahu pria itu, ”Aku akan baik-baik aja”

Bunyi ting pada lift menghentikan percakapan keduanya. Raka melihat kerumunan wartawan yang duduk di salah sudut basement. Dan secepat kilat ketika mereka mengetahui Kila , para pewarta itu berlari menghampiri keduanya.

Raka merangkul pundak Kila dan berjalan ke mobil tanpa memperdulikan sorot kamera ataupun blitz yang mengambil gambar keduanya.

Raka mencium puncak kepala Kila, “Hati-hati di jalan. i love you

Kila mengangguk, “i love you too

Gadis itu masuk ke dalam mobil dan memacu kendaraannya meninggalkan basement apartement itu.

***

Aldrin mengeratkan jaketnya yang sudah sangat basah. Bibirnya sudah pucat pasi bahkan matanya sudah memerah karena terlalu banyak air hujan yang menerpanya.

Dia masih tergugu di kursi taman. Masih menatap jalanan sepi di depannya.

“Dia pasti datang” , lirihnya dengan bibir gemetar.

Sudah satu jam lebih Aldrin duduk di tempat itu namun tidak ada tanda-tanda seseorang yang ia tunggu akan datang.

Sebulir airmatanya kembali jatuh. Aldrin berterimakasih pada hujan yang setidaknya mampu menyamarkan tangisannya. Aldrin jatuh sekali lagi. Dia terpuruk.

Suara petir terdengar samar di telinga Aldrin. Pria itu mendesah , ia harus pulang. Dia tidak ingin berakhir di rumah sakit. Ia ingin terus memperjuangkan cintanya dan hal itu membutuhkan fisik yang sehat.

Aldrin bangkit dari duduknya dan berbalik untuk masuk ke mobilnya yang terparkir di depan kedai kopi.

Bertepatan dengan Aldrin yang menjauh dari tempat itu. Sebuah mercedez benz sport putih melaju di jalanan yang di pandangi Aldrin tadi. Seorang gadis cantik yang menatap kosong jalanan lah yang ada di dalam mobil itu.

Kila.

***

Typo? sorry

****

a/n

tinggal 1 part kalau nggak 2 part. huahhh akhirnya bakal bungkus.

bahh!! at gwanghwamun bikin gue nangis kejer. ayang kyu emang demen bgt bikin gue baper :'(

gila. gue sampe flu nyelesaiin part ini.

Continue Reading

You'll Also Like

25.9M 2M 92
[CHAPTER MASIH LENGKAP, EXTRA CHAPTER TERSEDIA DI KARYAKARSA] Sembari menunggu jadwal wisuda, Sabrina memutuskan menerima tawaran bekerja sementara d...
1.6M 124K 50
Nara, seorang pekerja kafe part time yang sedang menempuh pendidikan kedokteran, nggak pernah menyangka kalau hobi baca webtoon nya bakal berakhir tr...
THEORUZ By L I L Y

Teen Fiction

19.6M 765K 23
Adaptasi Theoruz kini sudah tayang di Vidio! - Definisi jagain jodoh sendiri - "Gue kira jagain bocil biasa, eh ternyata jagain jodoh sendiri. Ternya...
35.5M 2.4M 61
Heaven Higher Favian. Namanya berartikan surga, tampangnya juga sangat surgawi. Tapi sial, kelakuannya tak mencerminkan sebagai penghuni surga. Cowo...
Wattpad App - Unlock exclusive features