Chase

By refina21

3.8K 434 171

10 petunjuk. Di seluruh Eropa. Hanazono Fuuko bukanlah mahasiswa asing biasa. She is the talked of the town... More

Chapter 1 : München
Chapter 3 : Carousel
Chapter 4 : The Hippies
Chapter 5 : Österreich
Chapter 6 : The Wittermanns
Chapter 7 : die Würde
Chapter 8 : Liesl and co.
Chapter 9 : Confession
Chapter 10 : Phantom of the Opera act.1

Chapter 2 : The Letter

502 68 16
By refina21

Chapter 2

Hi readers. Wew, it's a bless having you guys here. Thank you for appreciating my story. And it would be super lovely if u guys click the vote button later.

Aku masih mengingat dengan jelas saat Fuuko mengetuk pintu depan apartemenku.Raut wajahnya menyiratkan ketakutan yang mendalam, dengan tergesa-gesa ia masuk ke apartemen dengan sepatu super kotor. Aku tahu Fuuko tahu peraturan di apartemen ini, semua orang harus melepaskan alas kakinya sebelum menginjak ruang tamu. Itu adalah sesuatu yang selalu kutemui di Jepang dan menerapkannya disini merupakan sesuatu yang sangat berguna. Fuuko biasanya dengan sopan melepas sepatu uggs nya. Hari ini tidak dan semua makin membingungkan ketika ia menyerahkan bayinya kepadaku,

"Kau harus menjaganya," ujarnya dengan gagap. Tatapan matanya kepadaku mengatakan bahwa ia sedang ketakutan dan dihantui oleh sesuatu. Sesuatu yang berbahaya. Dan saat itupun aku menyimpulkan bahwa dia depresi. Setelah menyerahkan bayinya kepadaku, ia pergi.

Begitu saja.

Dengan bayi ditanganku, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan. Dia tidak menyerahkan popok atau susu atau apalah yang berhubungan dengan dunia ke-bayi-an. Aku juga bukan tipe orang yang pandai mengurus bayi, for god sake i'm a man and majoring in electrical engineering!

Dan kau tahu apa ? Keesokan harinya, ditemukan sisa darah yang sangat banyak di apartemennya. Darah nya. Darah Fuuko. Kakakku hilang dengan darah nya di lantai. Aku bahkan tidak tahu bagaimana aku akan memberitahu orang tua kami. Ayahku punya penyakit jantung, aku tidak akan memberitahunya sampai kasus ini benar-benar selesai. Aku tidak mau menemukan dua anggota keluargaku 'hilang' dalam jangka waktu 1 minggu.

Sebelum kita masuk kesana, mari kita mulai dari awal.

Fuuko bukanlah tipe orang yang suka cari masalah. Dia tidak pergi ke pub setiap hari untuk minum. Dia juga bukan gadis yang suka berganti-ganti pasangan. Well, untuk hal itu memang harus ada sesuatu yang perlu dicurigai. Setahun lalu, Fuuko datang ke apartemenku dengan berderai air mata dan mengatakan bahwa dia hamil. Pacarnya-entah siapa, dia tidak pernah menyinggung kehidupan percintaan nya padaku. Yang aku tahu, Hanazono Haru, bayi yang kugendong sekarang, tidak Jepang sama sekali. Kecuali bagian rambutnya, rambut hitam lurus itu merupakan identitas kami. Selebihnya, kau bisa menebaknya sendiri. Ia seorang Kaukasia. Mata biru besar dan struktur wajah itu bukan milik Jepang. Oh, apakah aku melenceng dari topik pembicaraan ? Baik, tunggu sampai mana tadi kita-oh! Jadi, setelah melahirkan Haru, orang tuaku agak marah dan sejauh yang kutahu Fuuko tidak ikut pulang denganku Juli lalu. Fuuko merupakan seorang mahasiswa jurusan seni Ludwig Maximillian University yang lulus musim semi tahun ini. Tepat setelah ia melahirkan. Dia telah bekerja sebagai kurator barang-barang seni sejak saat itu. Dan sekembali dari Jepang Agustus lalu, aku belum melihat Fuuko. Tidak melihatnya sampai malam itu, malam ketika dia menyerahkan bayi kecilnya kepada adik laki-laki yang kebingungan.

Aku menggendong Haru dengan posisi aneh, aku tahu bayi 6 bulan ini tidak nyaman denganku. Ia menangis dan aku tidak tahu apa yang akan kulakukan. Apakah dia haus? Mungkin dia haus. Aku berencana pergi ke minimarket, yang letaknya cukup jauh. Di cuaca seperti ini. Dengan bayi. You have no idea what am i suffering from. Sambil berjalan, aku memikirkan Fuuko. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Aku sangat dekat. Sangat teramat dekat dengan Fuuko. Jarak usia kami tidak terlalu jauh sehingga menjadikannya teman sangat mudah sekali. Satu hal yang kami tak pernah bahas adalah kehidupan percintaan. Saat dia kuliah dulu, Fuuko sering bercerita tentang seni-seni yang akan dia apresiasi saat menjadi kurator. Tetapi, setelah lulus dan menjadi-apa yang kalian katakan sekarang sebagai cum laude, dan mendapatkan tawaran pekerjaan besar, kami jarang bertemu. Aku hanya melihat Haru sekali saat Fuuko melahirkan. Aku tahu Fuuko sibuk dan aku tahu dia menyewa nanny untuk Haru. Jujur saja, sebelum kejadian sera-menyerahkan bayi, aku kira hidupnya baik-baik saja.

Di minimarket, aku membeli apa saja yang aku pikir cocok untuk kebutuhan Haru. Sialnya, hujan salju turun lebat di luar dan aku harus bertahan sebentar di minimarket-kau tahu-untuk mendapatkan penghangat. Haru menangis kencang.

Saat itu pula seorang gadis berambut hitam menghampiriku dan menawarkan bantuan. Dari aksen dan wajahnya, jelas dia bukan Eropa. Asia. Gadis ini merupakan mahasiswa kedokteran di Ludwig Maximilian University, kampus yang cukup bergengsi pikirku. Bukannya aku merendahkan kampusku, Technische University of Munich, tapi LMU masuk 10 besar universitas terbaik Jerman. Masuk ke sana bukan hal mudah. Gadis baik ini yakin aku akan butuh bantuan di kemudian hari.

Dan benar saja, keesokan harinya aku mendapati diriku berada di kantor Frau Angela. Petugas administrasi LMU yang kebetulan tinggal di sebelah apartemenku. Dan dia tahu gadis itu siapa. Namanya Annika Tan, umurnya 19 tahun. Dari Indonesia. Aku akan menemuinya nanti sore, pikirku. Untuk saat ini, di musim dingin ini, sementara Haru tidur di apartemen, aku harus memanfaatkannya untuk mengambil beberapa jurnal ilmiah di perpustakaan.

Saat itulah, di saat paling absurd itu. Ketika aku meninggalkan keponakanku yang cengeng di apartemen, seseorang menelponku. Nomor tidak diketahui.

"Halo, selamat siang. Apakah anda Mr.Hanazono?" ucap suara lelaki di seberang sana. Bahasa Jerman nya sangat sempurna dan formal, aku menyimpulkan orang ini bukan sembarang orang.

"Ya benar," balasku dengan gugup. Ada sesuatu yang tidak beres. Aku merasakannya.

"Saya Officer Mekel dari divisi 89 kepolisian Munchen. Kami menginformasikan kalau kakak perempuan anda hilang. Dan ditemukan beberapa bukti bahwa dia telah dibunuh-"

"Tunggu apa ? Kau bercanda. Apakah ini Daniel Mann?" ini sebuah lelucon. Temanku Dan di kampus sering melakukan hal ini.

"Tidak, sir. Kami tidak bercanda, telah ditemukan jejak darah yang sangat banyak di dapur saudara perempuan anda,"

Saat itulah aku melihat surat yang terselip di dashboard mobilku. Warnanya ungu. Jelas merupakan warna kesukaan Fuuko. Di sampul amplopnya tertulis "For Aoi" dengan tulisan yang acak-acakan.

Lelucon macam apa lagi ini?

Aku menutup telepon polisi itu tanpa mengatakan sepatah katapun. Dan itu sangat teramat tidak sopan, aku mengerti itu. Tapi kawan, jika kau berada di situasi yang sangat membingungkan sepertiku, kau tidak akan lagi peduli apakah tindakanmu rasional atau tidak. Kau hanya melakukan apa yang kau pikir harus kaulakukan

Surat kaleng itu bodoh. Dan aku bukanlah detektif yang baik. Aku butuh seseorang yang kupercaya untuk memecahkan misteri ini. Anehnya, setelah menjemput Haru di apartemen, aku tidak mengarahkan mobilku ke asrama TU Munchen dimana semua teman-temanku berkumpul, aku mengemudi ke dorm LMU. Dorm LMU yang baru kuketahui tadi pagi.

Annika membuka pintu dormnya dengan malas-malasan. Rambutnya awut-awutan dan masih memakai pijama walaupun arlojiku telah menunjukkan pukul 5 sore. Memberitahunya semua hal yang kuketahui tentang Fuuko merupakan hal yang perlu dilakukan jika aku mau menyelesaikan misteri ini dengannya. Annika membuka surat kaleng itu dengan tenang, dan membacanya dengan lantang. Kuulangi, lantang. Aku tidak tahu mengapa dia melakukan itu, tapi itu cukup menggangguku. Walaupun begitu, aku membiarkannya berbuat apapun yang dia mau.

"Halo, Aoi. Jika kau menemukan surat ini, aku yakin para petugas kepolisian tengik itu telah menginformasikan kepadamu, bahwa Hanazono Fuuko, kakak yang sangat kau sayangi itu hilang. Atau mereka menginformasikan kepadamu bahwa ia telah dibunuh ? Lebih baik lagi. Entah kau akan mempercayai ini atau tidak, tetapi membunuhnya merupakan sesuatu hal yang mudah. Sangat mudah bagiku. Tidak-darah itu disana bukan karena aku membunuhnya di dapur apartemen lusuh itu. Aku hanya ingin memainkan para polisi sebentar, aku selalu melakukan itu. Memainkan polisi dengan petunjuk-petunjuk klise merupakan sebuah kesenangan yang hebat. Fetishku memang aneh. Oh ya, Aoi. Kau dapat menyelamatkannya malam itu. Ya, ketika dia pergi kerumahmu untuk menyerahkan bayinya. Tapi kau tidak menyelamatkannya, kau memilih untuk berdiri bengong dan pergi ke supermarket.

Satu hal yang harus kau tahu tentang Hanazono Fuuko adalah dia bukan seorang gadis yang baik. Maksudku, dia baik-tetapi tidak sebaik yang kaukira. Kau tidak tahu kan kelemahannya walaupun telah tinggal dengannya for goddamn 25 years ? Fuuko menyimpan masalah besar sendiri dan mengeluarkan masalah-masalah kecilnya ke publik. I didn't say that it isn't good nor wise, but that's her weakness. Kelemahan yang aku coba eksploitasi. Jika kau tahu segala masalah dan kelemahannya, aku yakin kau tidak akan menghormatinya sebagai kakak-sempurna-lulusan-LMU-cumlaude-dan-jadi-kurator.

Kau boleh tidak mempercayaiku dan membuang surat ini dan mengabaikannya. Tetapi, hanya aku yang punya jawabannya. Bukan polisi. Aku telah mengacaukan bukti-bukti pembunuhan itu. Aku ada disana ketika kau pulang ke Jepang musim panas tahun ini. Tentu, jika kau mau, aku akan memberitahukanmu kejadian sebenarnya. Tetapi, alangkah sangat tidak menyenangkannya jika aku memberitahumu tanpa beberapa permainan. Permainan yang sangat kausukai. Bukankah setiap remaja labil di dunia suka menjadi detektif? Nah, sekarang aku berikan kepadamu permainan detektif yang nyata. Dengan kasus yang benar-benar ada. Bukankah itu hebat? Kau harus berterima kasih denganku karena memberimu kesempatan langka seperti ini.

Well, Hanazono Aoi. Above all those thing i've rambled, on this stage, i know you've conclude that i am the murderer. I guess that's true. Dan untuk menambah bumbu di misteri ini, Aoi.

Kau mengenalku. Ya, walaupun secara teknis tidak dekat. Tapi, kau tahu aku.

I'll tell you the detail soon. Ah, sungguh musim dingin yang buruk ya? Kuasku tertinggal di taman. Sial.

P.S Don't tell the police. They're not gonna believe you, i promise"

Annika membaca surat itu dengan intonasi yang tepat. Dan surat itu tidak berbahasa Jerman melainkan berbahasa Inggris. Ketika aku sibuk dengan pikiranku dan teoriku, Annika tiba-tiba berkata penuh selidik.

"Menurutku, 'pembunuh' atau begitukah kau mau menyebut orang yang membuat surat ini ? Well, dia tidak professional. Aku tahu dimana dia menaruh clue selanjutnya.

"Apa?" balasku kaget.

"Oh, Aoi. Apakah kau tidak melihatnya?" ujarnya dengan tampang yang meremehkan diiringi dengan senyum licik. Sial, gadis ini.

"Kita akan ke Englischer Garten. Kau maunya kapan ? Hari ini atau besok?"

Well, readers. Untuk chapter awal ini memang membosankan. But, i promise you, the thrills are ahead, my dear.Dan seperti yang dikatakan temanku, terlalu banyak kata 'aku' yang mengganggu. Menurutku, ini dikarenakan aku kurang membaca sehingga stok kata-kataku menurun drastis. Okay, tonight i'll read Agatha Christie's and Doyle's works haha. Click the vote buttons and i'll give you all virtual hugs.

Bye for now!

Continue Reading

You'll Also Like

1K 24 25
Hari pertama di sekolah baru seharusnya menjadi awal yang biasa bagi Raviel Mahendra. Namun, segalanya berubah ketika pertemuannya dengan Raka-ketua...
466K 21.5K 88
#PDBTseries1 Di balik kesederhanaan Alesha Casilda, seorang mahasiswa baru yang gemar melakukan hal-hal gila dan tak terduga, tersembunyi cinta yang...
34.6K 2.1K 34
Ini mengenai gadis manis yang pendiam dan gemar menari. Merahasiakan segalanya di balik senyum dan tawa ceria. Sampai pada saat rahasianya tak lagi d...
2.2M 245K 44
Kondisi ekonomi Aluna tidak memungkinkan, memaksanya agar bersikap lebih dewasa, bertahan, serta meyakinkan ayahnya. Aluna kini bekerja, menjadi baby...
Wattpad App - Unlock exclusive features