Memories

By azkitaz-

297K 23.8K 518

Semua itu berubah. Semua kisah kita dari awal, semua kisah yang kita ukir di sebuah kertas hilang sudah. Enta... More

Prolog
Awal dan Majikan Gila
Sebuah Firasat
(bukan) Hari Pertama
Maag
Sakit
Sebungkus Rokok
Sebuah Pengakuan
Who Is She?
Who Is She? (2)
Pertanyaan
Hujan
Rasa Ini
No Tittle
Cemburu
Lollipop
Obrolan Kecil
Happy New Year!
It's Hurt
Complicated
It's Over
Epilog
Hai
Promo!
Promoooosi😂
APRIL

"One Day" with Ali

12K 1K 6
By azkitaz-

"Ali? Ngapain?" Tanya Prilly dengan ekspresi kaget nya. Tangan nya masih memeluk nampan yang ia bawa, bahkan nampan itu hampir jatuh karena melihat Ali yang berdiri di dekat pintu kamar Cakka.

Ali tersenyum masam kemudian mengacak rambut Prilly singkat, kemudian jalan begitu saja menuju ruang tv.

Prilly sedikit mendengus kemudian berjalan mengikuti Ali, "Ini kan masih jam 12, lo bolos ya? Kok bolos sih?"

"Lii, kenapa pake bolos segala sih? Ali! Jawab jangan diem mulu!" Celoteh Prilly terus menerus. Ali kini duduk di atas sofa, meraih remote tv kemudian menyalakan nya.

Prilly ikut duduk disamping Ali, meraih remote itu lantas mematikan tv nya. Ali masih tetap diam, tidak protes atau ikut bicara. Prilly menghela napas nya sebentar, "Li, kenapa bolos? Gak kasian sama Mas Cakka udah nyari duit banyak buat kuliah tapi lo malah bolos kaya gini" Jelas Prilly panjang lebar.

Ali menoleh kearah Prilly, menatap mata coklat gadis itu, mata yang mirip atau mungkin sama dengan Alena. Gadis kecil nya.

"Bukan urusan lo" Jawab Ali datar namun tajam. Ia bangkit dari sofa kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Prilly yang masih terpaku di atas sofa.

"ALIIIIIIII"

---memories---

"Pagi Prilly"

"Pagi Mas, gimana udah mendingan?" Tanya Prilly sambi menyimpan semangkuk sop ayam di atas meja.

"Lumayan mendingan, hari ini saya mau ke Semarang Prill"

"Loh? Kenapa? Kan baru sembuh Mas, masa udah mau kerja lagi? Semarang pula" Prilly duduk di samping Cakka, mengambil sepiring nasi kemudian memberikan nya pada Cakka.

Dalam hati Prilly tak tenang, sejak kemarin Ali tidak keluar kamar. Bahkan untuk mengambil air minum pun tidak.

"Kalo saya gak kesana nanti perusahaan gak ke handle" Prilly mengangguk kemudian kedua nya makan dalam diam. Sesekali Prilly melirik kearah tangga. Mengharapkan seorang pria turun dari sana.

"Saya pergi dulu, kamu hati-hati di rumah. Oh iya, Ali mana?" Tanya Cakka sambil berdiri dari kursi nya.

"Ali kayaknya masih di kamar. Hati-hati Mas"

"Oh, saya kira dia gak pulang"

"Pulang kok mas"

Cakka mengangguk lalu berjalan mendekat kearah Prilly yang berdiri di dekat wastafel. "Hati-hati" bisik nya tepat di telinga Prilly. Dan lagi, benda lembab itu mendarat di kening Prilly. Jantung Prilly kembali berdegup. Ini kedua kali nya ia dicium oleh Cakka.

Rasanya.. Rasanya aneh. Ia merasa ingin menenggelamkan dirinya di laut saat ini juga. Ia merasa sebagai perempuan yang murahan. Dicium oleh dua bersaudara sekaligus. Di kening dan bibir nya.

Prilly kembali menetralkan jantung nya, sampai matanya tertuju pada pria yang sedang berdiri di ujung meja bar. Ali.

"Se--sejak kapan?" Tanya Prilly terbata-bata. Entah kenapa ia merasakan jantung nya kembali berdegup. Bahkan ini lebih kencang dibanding degupan saat bersama Cakka.

"Sejak lo di cium sama Cakka" Ali menjawab dengan nada dingin. Ia berjalan kearah kulkas, mengambil satu kotak susu murni dan juga dua roti tawar nya.

"Mau nasi goreng Li?" Tanya Prilly berusaha mengubah suasana canggung ini. Ali menggeleng kemudian duduk di salah satu kursi bar. Memakan roti itu tanpa nafsu. Sesekali meneguk susu murni yang berada di kotak itu.

Prilly duduk di hadapan Ali, menatap Ali yang sedari tadi memakan roti itu tanpa minat. Prilly ingat, sejak semalam Ali belum makan. Dengan cekatan Prilly mengambil kembali setumpuk roti. Mengolesi nya dengan selai coklat kesukaan Ali kemudian mengambil lagi susu murni yang kini bersuhu normal. Bukan suhu kulkas.

"Lo belum makan dari semalem, kalo emang gak mau nasi goreng, lo bisa makan lagi roti ini dan susu ini. Jangan yang dingin" Jelas Prilly sambil menyingkirkan susu dingin Ali.

Ali hanya diam, tidak merespon apapun.

"Li, kenapa sih?" Akhirnya. Tiga kata yang Prilly tahan semalaman akhirnya keluar juga.

"Gakpapa"

"Kalo gakpapa lo gak kaya gini. Ali yang gue kenal itu usil bukan dingin kaya gini.."

"Gue salah ya sama lo?"

Ali hanya diam dengan tatapan datar nya. Kemudian berdiri dari kursi nya, berjalan kearah Prilly yang menatap nya penuh arti. Dengan cepat, Ali meraih pundak Prilly, menarik kedalam pelukan nya. Mengusap punggung Prilly dengan lembut.

"Lo kenapa deh?" Tanya Prilly lagi.

Ali melepas pelukan nya, menangkup pipi Prilly dengan kedua tangan nya, "Prill, gue gak rela lo di cium sama Cakka kaya tadi"

"Gue gak mau lo di pegang sama cowo lain"

Saat itu juga, ia merasakan kupu-kupu dalam perut nya berterbangan. Kaki nya terasa lemas seketika. Dalam hati ia benar-benar bersyukur karna ia sekarang dalam posisi duduk.

Ali terus menatap Prilly lembut, mengusap pipi Prilly dengan kedua ibu jari nya, "Biarin gue hapus bekas ciuman Cakka" bisik Ali lembut.

Entah dorongan darimana, Prilly mengangguk lalu sedetik kemudian ia merasakan Ali mencium nya dengan lembut. Ciuman yang menenangkan. Ciuman yang membuat perut nya menggelitik.

---memories---

"Prillyyy! Lo ngapain sih di dapur mulu? Gak bosen apa?" Teriak Ali sambil memakan kacang dan melempar kulit nya asal. "Temenin nonton dulu kali"

"Bentar-bentar gue abis ngepel du-- ALI? LO GILA? ITU KULIT KACANG KENAPA JADI BERANTAKAN? ITU KALENG SODA KENAPA GAK LO BUANG?"

Ali yang sedari tadi tengah tiduran di sofa terperenjat. "Apa sih teriak-teriak"

Prilly menghela napas nya kesal, kemudian berjalan memunguti kulit kacang yang berserakan di lantai. Sabar Pril, resiko pembantu ya gini.

Prilly terus memunguti kulit kacang itu, padahal ia berharap bahwa kondisi ruang tv sudah bersih jadi ia tinggal membereskan kamar Ali dan mengepel seluruh lantai atas. Namun, ulah majikan nya ini benar-benar membuat nya kesal. Alhasil, ia harus mengulang menyapu ruangan ini lagi.

Ali menatap Prilly aneh namun sedetik kemudian ia ingat bahwa Prilly adalah salah satu ART disini. Bukan, bukan salah satu tapi memang hanya Prilly ART di rumah ini.

Ali turun dari atas sofa kemudian ikut berjongkok di depan Prilly, ikut mengambil kulit kacang yang berserakan dilantai. Prilly mendongak, melihat Ali yang ikut membantu nya, ada rasa hangat menjalar di hati nya namun buru-buru ia tepis dan tetap menunjukkan wajah cemberut nya.

"Prill, sorry gue gak tau kalo lo udah beres-beres ruangan ini"

"Hmm"

"Jangan marah dong, gue kan udah minta maaf"

"Hmm"

"Jangan gumam terus, jawab kek"

Prilly menatap Ali jengah, sedangkan Ali hanya memamerkan senyum lebar nya. Tanpa ada sedikit pun rasa bersalah.

"Prilly, jangan marah dong. Iya gue salah, gue udah berantakin ruangan ini. Sebagai rasa tanggung jawab gue, gue bakal bantuin lo ngepel lantai atas deh"
Prilly masih tetap diam, kemudian berdiri dan mengambil kaleng-kaleng soda yang telah kosong. Sedangkan Ali hanya mengikuti gerakan Prilly setiap Prilly bergerak.

"Prill maaf kali, ah lo alay gitu doang gak mau maafin"

"Prilly"

"Maaf Prill"

"Prilly maaf kali"

"Prill ma--" Dan skak. Prilly tidak bisa bergerak. Ali menutupi jalan nya. Ia terpojok di oleh tembok.

Ali menatap Prilly dengan tatapan melas nya, matanya seakan mengunci mata coklat Prilly. "Please, maaf Prilly" dan kini Ali mengeluarkan suara super lembut nya.

Prilly menelan ludah nya gugup, suara lembut Ali mampu membuat pipi nya memanas. Ditambah tatapan Ali dan jarak kedua nya yang sangat dekat. Dengan gerakan cepat Prilly mengangguk lalu kembali mengeluarkan ekspresi judes nya. Menjaga image nya di depan Ali.

"Iya gue maafin. Kalo gitu sekarang buang sampah ini. Gue tunggu diatas." Prilly memberikan kresek berisi sampah itu pada Ali. Kemudian mendorong Ali agar ia bisa keluar dari 'perangkap' buatan itu.

"Gitu dong, jangan marah terus. Ntar gue nyusul yaa" Prilly mendengus kemudian berjalan dengan cepat menaiki tangga. Dalam hati ia masih bersyukur karena tidak kembali di 'terkam' oleh Ali. Namun, hingga sekarang ia tidak bisa mengatasi jantung nya yang terus berdegup.

---memories---

"Lo yakin bakal ngepel ruangan gede ini? Please Prill, lo udah ngepel kamar Cakka, ruang musik, bahkan ruang gym juga udah lo pel dan sekarang lo ngepel ini? Gak cape apa?"

"Kalo mau ngeluh mending gak usah bantuin gue"

Ali mendengus kemudian mengambil alih tongkat pel yang Prilly pegang. "Udah, sekarang lo istirahat, duduk, atau buat jus jeruk buat kita. Ruangan ini biar gue yang pel"

"Apaan sih, tadi lo udah bantuin gue ngepel ruang lain. Jadi, sekarang lo duduk biar gue yang selesain ini"

"Nurut, lo baru sembuh dan sekarang lo istirahat. Gak ada bantahan."

Dengan berat hati Prilly mengangguk kemudian berjalan turun menuju dapur. "Prill, lo jus yang lain jangan jeruk. Itu asem!" Teriak Ali dari atas.

Prilly tersenyum kecil, bahkan Ali masih memperhatikan nya walaupun hal kecil.

Prilly kembali ke atas membawa dua gelas jus yang berbeda. Menyimpan nya di salah satu meja kemudian memperhatikan Ali yang sedang mengepel.

Keringat yang muncul di kening nya membuat Ali semakin seksi. Apalagi dengan kaos tanpa lengan yang Ali pakai. Demi apapun Ali ganteng banget. Seksi lagi. Eh, sadar Prilly! Lo gak boleh suka sama majikan lo sendiri.

"Li, nih minum dulu"

"Iya, bentar dikit lagi!" Ali menyimpan tongkat pel itu di pinggir ruangan, kemudian menghampiri Prilly yang berdiri di dekat meja.Mengambil bus jeruk dan meneguk nya sampai habis.

"Ahh, makasih Prill. Capek banget gue" Keluh Ali setelah meminum jus nya.

"Makasih ya, tumben lo baik"

"Gue emang baik kali"

"Baik kadang doang"

Ali berdecak tidak membalas ucapan Prilly, ia mengangkat kaos nya hingga tersingkap. Lalu, menghapus keringat nya dengan baju yang ia pakai. Namun, sebelum baju itu menempel di kening Ali, Prilly menahan nya. Memegang lengan Ali agar baju nya tidak di usapkan pada wajah nya.

"Jorok Li" Prilly berjinjit, menghapus keringat di kening Ali dengan tangan nya. Kemudian tangan nya beralih ke pipi dan yang terakhir leher nya.

Darah Ali berdesir, posisi nya sangat dekat dengan Prilly sekarang. Apalagi, dengan Prilly yang berjinjit. Ali dapat menghirup aroma parfume Prilly. Walaupun bercampur dengan keringat namun aroma bayi nya tetap terasa.

"Nah udah kan. Lo jorok sih pake baju segala" Omel Prilly sambil membenarkan cepolan rambut nya.

"Alah, itu mah modus lo pengen megang-megang gue kan?"

"Apaan modus-modus. Najis amat. Udah mendingan lo mandi sekarang biar bau badan lo ilang"

"Ah bau juga lo suka" Ali meraih Prilly ke dalam dekapan nya, menjepit leher Prilly dengan tangan nya. "Ali, Ali ihhh! Lepas lo bau ketek tau gak?!"

"Ah bawel lo bawellll"

"Gue mau beresin kamar lo tau!"

"Yaudah kalo gitu ayo kekamar"

Ali mengangkat tubuh Prilly, membopong nya di pundak lalu membawa nya kekamar.

"ALIIII TURUNIN GUE SEKARANGGGGG!"

Satu hari bersama Ali, walaupun setiap hari ia bersama Ali, namun hari ini rasanya lebih berbeda. Hanya karena Ali.

---memories---

Ali dan Prilly kini bersandar di sandaran sofa, menonton film yang Ali pilih. Tadinya, Prilly tidak ingin ikut menonton namun Ali tetap memaksanya.

Prilly menguap berkali-kali, karena efek membersihkan seluruh rumah tadi, tubuh nya terasa lemas. Walaupun di bantu Ali tetap saja rasa pegal tetap terasa.

"Prill, ngantuk ya?" Tanya Ali namun matanya tetap fokus pada televisi. Prilly hanya mengangguk, lalu lambat laun matanya terpejam dan kepala nya jatuh di pundak Ali.

Ali melirik kearah Prilly, gadis itu benar-benar tertidur. Ali memindahkan kepala Prilly pada paha nya, membuat tubuh Prilly berbaring di sofa dengan paha Ali sebagai bantalan.

Ali menatap setiap lekukan wajah Prilly, entah sejak kapan Ali menyadari bahwa dirinya mulai merasakan hal yang berbeda saat bersama Prilly. Jantung nya berdegup saat bersama Prilly, bahkan ia merasa bahagia hanya karena Prilly tersenyum.

Ali mengusap pipi Prilly, lalu matanya menatap kening Prilly. Kening yang dicium oleh kakak nya sendiri. Entah kenapa hati nya serasa di dicubit, rasa kesal memuncak saat melihat Prilly di sentuh bahkan di cium oleh pria lain.

"Prill, gue gak tau ini sejak kapan. Tapi, yang pasti gue sayang sama lo. Gue cemburu waktu Cakka nyium lo. Gue marah waktu dia peluk pinggang lo. Apa gue salah?

Gue gak tau. Gue gak bisa ngomong secara langsung sama lo, gue gak bisa ngungkapin ini. Gue ngerasa cemen tau Prill. Gue berasa anak alay mendem perasaan gini. Ngomong sambil ngusap pipi lo, padahal lo lagi tidur"

Ali menghentikan ucapan nya sebentar, kembali memperhatikan setiap lekukan wajah Prilly kemudian ia mengecup kening Prilly. Menyalurkan rasa sayang nya.

Tanpa ia sadari, wanita yang berbaring di paha nya ikut merasakan getaran di dada Ali. Entah mimpi atau apa, nyata nya Prilly ikut merasakan nya.

--memories---

Hiiii, makasih udah baca ya cerita baru akuuu!oh iya, jangan lupa vote dan comment karena itu bikin aku semangat nulis hahaha:D

Buat drugs sabar ya buat epilog atau extra part nya segera menyusulll((: oh iya cover buatan bebepQ tercintahhh @millganuari jangan lupa baca cerita dia juga yaaa!! Thank youuuu<3

Oh iya di mulmed itu Cakka yaaap

-azki-











Continue Reading

You'll Also Like

81.4K 3.8K 26
Kematian pasti akan menjemput kita entah kapan dan dimana. Namun sebelum kematian menjemput, kebahagian pasti akan datang, walau terkadang kebahagiaa...
2.1M 28.8K 11
"Brengsek! jadi ini tujuanmu membawaku kesini? menawarkanku kepada lelaki lelaki hidung belang yang menjijikan seperti mereka!?" sedetik kemudian api...
RANNA By medistin188

Teen Fiction

4.2K 220 23
Tidak semua hal yang berawal indah berakhir dengan indah. Tidak semua hal yang manis akan selamanya manis. Tidak semua hal yang selalu ada akan tetap...
5.1K 304 25
Dahulu ku mengenalmu paling Semua tentangmu tertawa denganmu Mengapa kini berubah asing Tak saling menyapa lupa ku pernah disana
Wattpad App - Unlock exclusive features