The Change

By gadishnour-6

4.4K 210 17

Aku sebal sama kamu. Kamu yang selalu ngatur hidup aku. Aku sebal sama kamu, sama sifat kamu yang terlalu per... More

Prolog
Part 1. Bertemu
Part 2. Dinner
Part 3. Maaf
Part 5. Acara Sekolah
Part 6. Info Buruk
Part 7. Mulai
Part 8. Serius
Part 9. Try Out
Part 10. Date?
Part 11. Jadi Nyamuk?
Author's Note
Part 12. Hari Sabtu
Part 13. Gabut
Part 14. Terpuruk
Part 15. Jangan Sedih Lagi
Part 16. Bersama Alvira

Part 4. Bad Day?

247 13 0
By gadishnour-6

Alvira Pov

Aku tengah berdiri di balkon kamar. Menatap langit malam yang gelap. Ku pandang langit penuh bintang bertaburan. Berkelap-kelip seum-- Nah loh, kenapa jadi nyanyi begini?!

Aku gak ngerti, kenapa tadi Davin bertanya begitu ya. Ipa 12-3? Rara? Ya jelas aku satu-satunya murid yang dipanggil Rara disana. Dan dia bilang apa? Bandel? Holy shit!

Omong-omong aku tidak sendiri, di kamarku ada Kevin yang sedang tiduran di ranjangku, ia tidak mau keluar. Kevin terus memaksaku bercerita kenapa bisa aku pulang bersama Davin sehabis dari Cafe tadi. Beruntungnya Ayah dan Bunda belum pulang jadi aku tidak dimarahi.

"Ra, kamu tuh dari tadi bikin penasaran tau gak?" kata Kevin. Aku menatapnya lagi, seperti ku duga tingkat kekepoannya sudah mencapai level tinggi.

"Kepo banget sih!" ujarku cuek. Kevin mengambil selimut yang ada di atas lemariku, kemudian kembali tiduran berguling, ia menenggelamkan badannya di balik selimut. Lah lah dia ngapain coba?

Aku bisa mendengar suaranya dari sini walau pelan, "Kalau gak mau kasih tau, gue tidur sini, lo bawah, apa ngga lo tidur kamar gue sana,"

Apa-apaan? Gak ada deh. Tau sendiri aku malas dikamarnya. Kamarnya itu kotor, berantakan, dan mau tak mau aku harus membersihkan lebih dahulu.

"Jangan pake AC kalau mau tidur kamar gue, nanti remote nya gue ambil," lanjutnya.

Astaga! Apaan banget sih, karena gak diceritain terus dia jadi ngambek dan maunya tidur kamar gue. Gak deh.

"Ih apaan sih, kak. Gitu doang ngambek,"

Kevin membuka selimutnya lalu duduk bersila, "Nah yaudah dong, cepetan ceritain" paksanya.

"Huh, tadi gue ketemu trusdia ngajak pulang. Udah." jelasku singkat. Dia menatapku tak percaya.

"Gitu doang? Yaelah gak mungkin banget deh," ucap Kevin.

"Iya kayak gitu doang. Udah sono keluar," aku mengangkatnya berdiri lalu mendorong Kevin keluar kamarku.

"Eh eh, jangan-jangan lo suka ye sama dia" teriak Kevin ketika aku sudah menutup kamarku.

Hah? Suka? Dih ngaco banget. Ya engga lah, baru juga kenal.

"Gue.Gak.Suka.Woyy!" balasku penuh penekanan.
••
Pagi ini, seperti aktivitas biasa, Kevin mengantarku ke sekolah setelah aku memaksanya. Sebelum berangkat, kami sarapan dulu. Bunda sudah menyiapkan nasi goreng di meja.

"Yah, masa ya semalem ada yang di anteri--" ucapan Kevin terpotong, karena aku sudah membekap mulutnya dengan kedua tanganku.

"Berisik lo. Diem gak?!" aku membisiknya pelan takut-takut di dengar Ayah dan Bunda.

"Apa, Bang?" tanya Bunda. Aku menggeleng cepat, "Engga Bun, gak ada,"

"Semalem kenapa, dek?" tanya Ayah penasaran juga. Lagi-lagi aku menggeleng.

"Sudah ayok kak buruan, ntar gue telat lagi," teriakku kencang mengalihkan topik pembicaraan Ayah. Aku segera menarik Kevin yang tengah meminum air putih.

"Uhuk-uhuk!"

"Ra, jangan begitu dong! Pelan-pelan bang minum lagi tuh," kata Bunda. Ish Kevin mah sok batuk banget deh, bilang aja caper wkwk.

Selesai Kevin balik dari meja makan lagi, kami masuk ke dalam mobil. "Bun, Yah, Rara jalan dulu ya,"

Mobil Kevin melaju dengan kecepatan sedang. Huh lama banget rasanya pengen aku aja yang bawa terus ngebut sampai sekolah.

"Ra, besok pulang sekolah gue jemput lo ya, nah nanti dari situ kita langsung ke kampus gue ada acara" kata Kevin sambil menatap lurus kedepan.

"Ngapain deh?" tanyaku.

"Itu nanti ada kayak pentas seni dari setiap fakultas sih, kayak bahasa; puisi. Terus nanti bisa salurin bakat nyanyi kek, ngapain kek" jelas Kevin panjang.

"Oh ok boleh juga tuh," kataku. Tidak lama kemudian, mobilnya sampai di depan gerbang sekolahku.

"Gue duluan ka!" ucapku sambil menutup mobil.
**
"Hai Ra,"

Alvira menoleh ketika mendengar teriakan memanggil namanya. Itu Kendra. Ngapain lagi sih ini anak. Huft.

"Apaan? Jangan macem-macem lagi sama gue," kataku. Dia terkekeh, "Gak Ra, gue cuma mau ngajakin lo jalan aja besok. Bisa gak?" what?! Ngajakin jalan?

Aku menimbang-nimbang jawaban apa yang ingin kuberi. Sebenarnya aku penasaran kok tumbenan banget, Kendra ngajakin aku jalan. Tapi, besok juga Kevin ngajak ke kampusnya kan.

"Gue gak bisa, Ken. Kapan-kapan aja ya. Sorry," ucapku lalu melenggang pergi.

Dikelas sudah ada Adra, Kiana, dan Diva. Aku menghampirinya. Mereka tengah berbincang masalah razia perlengkapan.

"Eh bentar lagi Pak Rohim dateng woy!" teriak Rafli selaku ketua kelas dikelasku. Aku segera duduk ke kursiku kembali. Pak Rohim datang membawa penggaris panjang. Oh My God!

"Cepat cepat berdiri kalian!" aku dan seluruh murid berdiri. Pak Rohim berjalan mengecek kelengkapan seragam. Sekarang ia tepat dihadapanku. Mampus, mana lagi pake kaos kaki warna-warni lagi, argh!

"Rara, kamu tuh yaa! Pake kaos kaki warna-warni begitu, pink biru, gak nyambung gitu warnanya. Kalo mau pake pink-pink atau biru-biru. Ah tapi gak deh kalo buat sekolah harus pake putih" omelnya panjang.

"Buka kaos kaki kamu tuh, taruh depan!" suruhnya. Aku menunduk, yah sayang banget kalo disita, AAA tidakkk!

Perlahan aku berjongkok, membuka kaos kaki milikku itu. Lalu berjalan ke depan menaruh di meja. Setelah aku kembali lagi ke meja, Pak Rohim masih memperhatikan ku.

"ITU GESPER KEMANAA? HADUH RARA RARA. BAPAK CAPEK AH SAMA KAMU!" teriaknya stress. Maaf Pak, bapak mah ngomel mulu dah. Yaudah aku cuma nyengir kuda sambil menatapnya.

Kemarahan Pak Rohim berakhir saat aku disuruhnya untuk menyapu halaman sekolah yang penuh daun kering yang berjatuhan. Ia bilang kalau aku harus selesaikan itu sampai bunyi bel istirahat. Fyuhhh!

Aku mengambil sapu dan serokan yang diberikan oleh Pak Iwan -petugas kebersihan di sekolahku-. Langsung saja aku membersihkan taman ini sambil bergumam kecil mengikuti lirik lagu yang terpasang melalui earphone.

Kringg!!

Dengan langkah terburu-buru, aku memasuki kawasan kantin. Aku berfikir kalau masuk ke kantin lebih cepat masih sepi, ternyata dugaanku salah. Kursi dan meja semuanya sudah penuh. Aku juga tidak melihat Adra dan dua temanku itu. Kemana mereka.

Ku keluarkan ponsel yang ada disaku rok, lalu membuka chat dan mengirim pesan,

Alvira: Eh lo pada dimana? Kok gak ada di kantin?

Sambil menunggu balasan dari mereka, aku melangkahkan kaki ke sebuah warung mie ayam.

"Bu, mie ayam satu gak pake sayuran," ujarku.

"Iya neng. Tunggu sebentar," aku pun mengangguk kecil. Kemudian aku membuka ponselku saat merasa getaran cepat.

Adra: Gak Ra. Gue sama Diva lagi ke perpus cari bahan materi buat tugas kelompok.

Kiana: Ra, cepetan lo ke kelas. Kerjain tugas kelompok sama teman sebangku.

Alvira: Gak ah males gue. Mau makan dulu, Ki. Nanti aja pulang ke Cafe, ok?

Kiana: He'eh dah.

Yah sendirian lagi! Dengan langkah malas, aku berjalan ke taman setelah mengambil mie ayam yang diberi oleh Bu Iyem -penjualnya-.

"Sendiri aja?" tanya seseorang begitu aku duduk di kursi taman. Aku menoleh dan mendapati Ken yang berdiri disana.

"Iya lah lo gak liat apa?!" ucapku ketus. Ken duduk disampingku. Aku hanya mengabaikannya saja. Dan memilih untuk memulai makan mie ayam ku itu.

"Awas masih panas tuh" ujar Ken. Bodo amat, sok peduli banget. Dengan cepat tanpa ditiup, aku memakannya. WHATTTT THE F-- HAH HA HA PANAS. Aku bisa melihat mie ku yang bertumpah ke tangan.

Pruk.

Mie ayamku tumpah. Tumpah sodara sodara. Ke tanganku.

"Nah dibilangin juga apa! Sana cepetan cuci tangan, mau gue beliin lagi mie ayamnya?" tanya Ken lembut. Ada apaan sih bocah! Gak biasanya banget.

"Gak usah" kataku kemudian lari menuju kamar mandi cewek.

"Hahhhh sial banget sih hari ini!" gumamku kencang.
**
"Woi, masa aneh banget deh si Ken," ujarku saat ada pelajaran kosong dan aku mengobrol ria dengan tiga temanku. Mereka langsung menoleh ke arahku. Diva dan Adra menghadap belakang, membalikan tubuhnya. Sedangkan Kiana hanya menolehkan kepalanya dan tangannya masih setia bermain 1010.

"Iya. Tadi pagi dia ngajakin gue jalan besok. Trus tadi dia ada disamping gue trus sok sok lembut. Gue ngeri," kataku.

Adra tertawa kecil, "Hm, trus lo mau jalan sama dia besok?" tanyanya. Aku menggeleng pelan, "Besok kak Kevin juga ajak gue ke UI, ada acara katanya"

"Oh UI, iya gue juga ikut, Ra. Janjian yak disana!" kata Diva semangat.

"Woy! Serius lo? Iya iya ketemuan nanti," jawabku juga semangat.

"Terus tadi lo diapain sama dia? Kok sok lembut?"

"Dia bilang pas gue mau makan mie, 'Awas panas'. Tapi bener panas, karena panas, mie ayam gue jatoh. Trus dia bilang lagi 'mau gue beliin lagi?' gitu" jelasku. Mereka hanya tertawa menanggapnya.

"RARAAA! ULANGAN LO TUH SAMA PAK ROHIM LO DISURUH KESANA SEKARANG!" teriak Dendi dari arah pintu kelas sambil bawa tumpukan kertas ulangan.

Aku mengernyitkan dahi bingung, "Lah itu sama lo kan?"

"Khusus buat lo sama Pak Rohim, Ra!"

Aku melangkah menuju Pak Rohim malas, "Permisi Pak, saya mau ngambil kertas ulangannya"

Pak Rohim menoleh, "Nih" ia menyodorkan sebuah kertas dan diatasnya bertulisan angka '20'.

"Bapak capek. Mau jadi apa sih kamu. Kalau gak ngerti tuh ditanya! Pokoknya nanti pulang sekolah REMEDIAL!" katanya dan menekankan kata Remedial.

Huft! Sumpah sial banget hari ini, Bundaaaa!

--

Gadishnour-6 (nfr)

Continue Reading

You'll Also Like

1.7K 73 16
Masa lalu adalah hal mengerikan ketika seseorang mengingat dirinya dalam kegelapan, dimana sesorang merasa jiwanya begitu jauh dari agama, tak ada pe...
JAM PASIR By

Romance

38 0 2
Hal paling pengecut, yang selalu dilakukan oleh mereka yang jatuh cinta sendirian adalah, mencintai, berjuang lalu patah hati diam-diam. Alasan kenap...
50.7K 4.6K 8
Terlahir di kehidupan yang baru, Jaejoong harus dapat merubah kaadaan, ia harus dapat membuat Yunho kembali mencintainya seperti kehidupannya sebelum...
Wattpad App - Unlock exclusive features