Hai para readers, maaf sebelumnya yaa soalnya udah jarang update dikarenakan gue ngga ada inspirasi okee... yang penting kan udah gue lanjut nih yaaa.-. jadi don't be angry yeahhh hmmm...
---Kiki's Pov---
Tak ku sangka, Echa gadis hujan itu adalah Caca, putri hujanku yang selama 4 tahun belakangan ini ku cari.
Dia tak berubah, hanya saja dia sekarang lebih cantik & tinggi.
Tapi, Silvia... kenapa dia bisa bersahabat dengan caca? aku akan mencari tau.
Oya, Silvia, seorang gadis yang 5 tahun lalu menyatakan perasaannya padaku dan akar dari kecelakaan yang dialami caca. Aku masih mengingatnya dengan sangat jelas.
Caca sudah resmi menjadi pacarku. Aku bahagia, sangat.
Siang sudah berlalu dan bergantikan senja yang indah. Aku mengatar caca, putri hujanku pulang ke rumahnya.
"caa bangun" dengan lembut aku mengelus punggung tangannya yang masih melingkar di pinggangku.
Dia menggeliat. "engh.. aku dimana?" ucapnya polos. Astaga dia masih saja cantik padahal baru saja bangun dari tidurnya.
"dirumah sayang" lirihku sambil sedikit terkekeh.
Dia turun dari motor ku, dan aku mengikutinya turun.
"kamu mau masuk dulu?" ucapnya lembut sekali. hah berbeda sekali saat pertama kali aku masuk sekolah.
"boleh deh, aku haus" ucapku terkekeh.
Dia membuka pintu rumahnya dan membiarkan ku masuk. Aku duduk di ruang tengah, ah aku kangen sekali dengan rumahnya.
Nampan yang ia bawa, di taruh di atas meja depan mataku "ini minumnya" ucapnya yang langsung duduk di sampingku.
Aku meminumnya dengan sekali tenggakan. Jujur aku benar² haus sekali. "terimakasih" ucapnya lalu memeluk pinggangku mesra.
"apaan sih ki, lepas ah" ucapnya sambil memberontak.
Aku melepas pelukannya. "kenapa sih? kamu gendutan yak? kok kayaknya aku meluk kamu, empuk banget" upss. mampus. Caca paling ngga suka di bilang gendut. padahal badannya sudah ideal.
"APAAAA!!!?? MASA AKU GENDUTAN? SERIUSS? AHHH" teriaknya yang pasti akan membuat kupingku pengang. Aku akan ke dokter THT setelah ini.
Aku mengelus puncak kepalanya. "ngga kok sayang, badan kamu ideal byy" by? baby. itu maksudku.
"seriusan?? huahh bundaaa" ujarnya sambil merajuk.
"iyaa, kamu cantik sayang, udah ah jangan kayak anak kecil. kamu kalo di sekolah, tomboy banget padahal aslinya manja banget wkwk" cibirku sambil menyenggol bahunya.
"apaan sih._." ucapnya dengan pipi yang blushing wkwkwk.
---Caca's Pov---
"apaan sih._." ucapku dengan pipiku yang blushing. anjir. ini memalukan._.
"caa aku boleh nanya?" ucapnya yang merangkul bahuku.
"hmmm" gumamku pelan.
"kamu sahabatan sama Silvia udah berapa lama?" ucapnya dengan nada hati-hati.
UHUK! aku memuntahkan kembali air yang sudah ku minum lagi.
Aku mencoba mengingat, asal muasal bagaimana aku bisa bersahabat dengannya. "hmm... ntahlah aku belum bisa mengingatnya" ucapku dengan menundukkan kepalaku.
Dia mengusap puncak kepalaku -lagi- "tak apaa, jangan dipaksa" ucapnya lembut. "yaudah ya ca, aku pulang. mama udah nungguin aku di rumah" ucapnya sambil memelukku.
Aku mengantarnya sampai pintu depan, dia memeluk ku dan kepalanya ditaruh dipuncak kepalaku. "aku sayang kamu ca" bisiknya lembut pas di telingaku, merinding.
Aku mencium tangannya. "aku lebih menyayangimu" CUP! aku mencium lembut pipinya.
Dia tersenyum. hmm. manis. "yaudah, dahh" ucapnya sambil melambaikan tangannya.
"dahh" dan dia menghilang di kegelapan. "Bintang, jaga dia saat aku tak ada:)" ucapku sambil menatap langit yang penuh bintang. "dan hujan, tolong temani dia dalam keadaan apapun. Jangan biarkan air matanya jatuh dan terlihat oleh orang lain." ucapku dalam hati sambil memejamkan mata. Tak kusadari, ada bintang jatuh. kau tau? secara tak langsung aku mengatakan harapanku.
###
Gelap berganti terang. Malam berganti pagi. Hari ini adalah weekend yeay!! Gue ngga bakalan kemana-mana, karena hari ini gue mau tidur sepuasnya.
Ting. Notifikasi line ku berbunyi. Siapakah itu?
'pagi sayang:*' dih? emot cium._. astogeh.-. ini anaknya siapa sih? jam 7 udah nge LINE aja._.
'hmm'
'singkat banget balesnya byy, kenapa?'
'gapapa'
'hari ini sibuk ngga by? jalan yuu, nanti jam 10 aku jemput yaa... dandan yang cantik, oke byee byy muacchh' bibir gue tersenyum tipis. emang sedikit alay sih, tapi kok jadi lucu yaa wkwk._.
'hari ini aku sibuk banget, sorry yaa'
'emang kamu mau kemana? sama siapa? mau ngapain? pulangnya jam berapa? naik apa? berangkatnya bareng siapa? trus berangkatnya jam berapa? mama udah tau..?' Buset. dia nanya apa nge wawancari gue sih, hahaha dia khawatir. Yes!
'ngga kemana-mana. cuman mau tidur aja seharian._.'
'hmm yaudah kalo kamu ngga mau kemana-mana aku ke rumah kamu yaa, TIDAK MENERIMA PENOLAKAN' selow mzz, pake capslock lagi.-.
Aku tidak membalasnya. huh menyebalkan._.
Ting. Siapa lagi? ngga bisa liat gue tenang dikit ngapa-_-
'ca, gue udah di depan rumah lo nih. gue langsung masuk aja yaa, lo di atas kan? di kamar lo? nanti gue langsung masuk aja yaa' Aku hanya men READ nya saja.
Tiba-tiba. "HAIII ECHAA" suara toa yang dulunya aku bahagia mendengarnya, dan sekarang aku mulai eneg mendengarnya. Kulihat dia memegang nampan yang berisikan soto ayam. makanan kesukaanku. MUNAFIK. satu kalimat yang langsung terlintas dalam otak&benak&naluriku saat melihatnya.
"eh elo sil" ucap gue berusaha tenang, untuk menutupi semuanya. "nih ca, soto ayam, kesukaan lo kan?" ucapnya sambil menyodorkan semangkok soto ayam. mmm lezat. eh tunggu! jangan makan dulu.
"nama panggilan kecil lo sisil kan?" ucap gue yang reflex dan berhasil membuat silvia tersedak dan segera meminum airnya.
"hmm..eh.. iya, kok lu tau? tau dari kak Kevin yaa" ucapnya berusaha tenang, tapi bisa gue liat dari sorot matanya dia berusaha menyembunyikan sesuatu.
"Gue inget semuanya. gue inget detail bagaimana gue bisa kecelakan & gue lupa ingatan. dan LO DATANG KE KEHIDUPAN GUE, MENGAKU SEBAGAI SAHABAT DARI KECIL GUE!? LO APA SIH SEBENERNYA? MUNAFIK LO! LO PURA PURA JADI SAHABAT GUE, BIAR GUE NGGA TAU KAN PENYEBAB GUE KECELAKAAN ADALAH ORANG YANG GUE ANGGEP SEBAGAI SAHABAT YAITU ELO! MUNA LO!" ucap gue yang langsung tersulut emosi. sudah bosan dibohongi oleh wanita ular seperti dia! gue jijik jadinya.
"caa, dengerin penjelasan gue dulu..pliss" dia memohon, sumpah! ini memuakkan! gue langsung menamparnya.
"Muna lo! setan!" ucap gue sambil menatap kebencian pada Silvia. dan tiba-tiba kak Kevin sudah muncul di balik pintu kamar gue, dia membantu cewe munafik ini berdiri dan malah memarahi gue, yang notabennya adalah adik kandungnya.
"lo kenapa sih ca? lo apain Silvia? lo gapapa kan sil?" wajah kak kevin menatap penuh ke khawatiran saat melihat kelakukan yang gue lakuin pada silvia. Pacaran. Ya! gue rasa mereka berdua memang sudah menjalin suatu hubungan.
"hmmm, ada hubungan apa lo sama dia?!" ucap gue yang sedikit menuntut, gue harus mengontrol emosi gue, bagaimanapun juga, kak kevin adalah kakak kandung gue.
"gue ngga ada hubungan apa apa sama kak kevin ca" dia mulai menangis. Air mata menjijikkan perlahan jatuh dari matanya.
"DIEM LO! GUE NANYA SAMA KAK KEVIN, BUKAN LO MUNAFIK" emosi gue makin tak bisa gue kontrol.
PLAK! Satu tamparan keras mendarat di pipi gue, gue liat. Tangan kak Kevin. Air mata gue perlahan jatuh, karena mengetahui kak kevin membela Silvia.
"apaan sih lo kak!! gue adik kandung lo, dia bukan siapa-siapa kita!" ucap gue yang membuat kak kevin tambah marah.
Tangan kak kevin menggantung di udara. Silvia menahan kak kevin agar tidak menamparku -lagi- "udah kak..." lirihnya yang semakin membuat aku jijik.
"Kenapa ngga jadi nampar?" tantang gue. "oh karena dia ya kak, wanita munafik dasar lo" ucap gue sambil menunjuk ke arah muka silvia.
"eca! shut up! gue pacarnya Silvia dari 3 minggu yang lalu" JDAR! kata-kata kak kevin membuat gue terlonjak kaget. Sedih. Marah. Kesal. BT. semuanya berkecamuk di dalam benak gue.
"apa.." lirihku yang mulai bakalan ambruk. "kenapa kak?" ucap gue butuh penjelasan yang pasti.
"gue sayang sama dia ca" ucapnya berusaha melembutkan nada bicaranya.
"TAPI LO TAU NGGA?! KARENA DIA, GUE KECELAKAAN DAN HILANG INGATAN. SEMUA TENTANG KIKI, PANGERAN BERKUDA PUTIH GUE HILANG SEKETIKA DARI INGATAN GUE! DIA YANG BUAT GUE HARUS MENINGGALKAN TANAH AIR CUMAN BUAT PEMULIHAN KARENA SCHOK BERAT GUE?! LO TAU NGGA" ucap gue penuh emosi. Gue bisa ngeliat Silvia bersembunyi di balik punggung kak kevin. sedangkan kak kevin hanya diam saja dan menunduk saat gue menjelaskan garis besarnya kenapa gue bisa se-emosi ini sama silvia.
"Gue tau semuanya" JDAR! petir seakan menghantam hati gue yang paling dalam. ombak menyapu bersih kenangan indah dulu. dan gunung seakan memuntahkan lava nya ke permukaan. 3 kata, yang langsung membuat gue runtuh. Kak kevin tau? kenapa dia ngga bilang? kenapa dia sembunyiin ini? 1001 pertanyaan sudah berperang meminta penjelasan dalam otak gue. Tapi gue terlalu lelah untuk bertengkar lebih lama lagi. Alhasil, gue yang keluar dari rumah ini.
"gue ngga tau harus gimana. gue capek. Gue pergi kak" ucap gue yang langsung mengambil kunci motor ninja gue. "GUE BERSUMPAH ATAS NAMA KILAT&PETIR sampai gue mati kak, gue ngga bakalan ngerestuin hubungan kalian. GUE JANJI" ikrar gue yang langsung disambut oleh kilatan petir yang memekakan telinga terdengar di telinga kak kevin. Kak kevin merinding dengan perkataan gue. begitupun dengan Silvia. Dan gue langsung tancap gas entah kemana.
Motor ninja gue membelah jalanan ibukota yang masih agak sepi. Tes. Tes. Tes. Hujan. Terimakasih Tuhan. Gue bisa nangis sepuasnya.
Tapi, tiba-tiba kepala gue pusing, pandangan gue berkunang-kunang. kabur. Dan sorot lampu menyilaukan mata gue, akhirnya semuanya gelap.
---Kiki's Pov---
Perasaan gue ngga enak. Kayak bakalan ada sesuatu yang terjadi. Tring! gue melihat nama yang tercetak. 'Caca cinta sejati gue' gue tersenyum dengan nama yang gue kasih sendiri di kontak nya dia. senyum gue memudar, saat seorang pria yang berbicara di sebrang sana.
'hallo' dia panik. kenapa?
'iya. ini siapa? kenapa handphone cewe gue ada di lo'
'maaf mas, tapi pacar mas ada di rumah sakit sekarang, dia kecelakaan dan sekarang dia koma'
'apa?! oke. saya akan kesana'
Tut.Tut.Tut. sambungan terputus.
Gue langsung bergegas ke rumah sakit dimana caca di rawat. Gue menyusuri lorong rumah sakit ini, kejadian 5 thn terulang kembali. gue mencari keberadaan ruang 'UGD'
Dari ujung lorong, gue bisa melihat kak kevin, om, tante, keluarga nya Caca, dan Silvia menundukkan wajahnya dan menangis sesenggukkan.
"caca mana?" bukannya menjawab pertanyaan gue, tante malah langsung berhambur kepelukan gue. Gue memeluk dan mengusap punggungnya. memberi ketenangan untuknya. "echa koma, kii' ucap tante yang secara seketika membuat kaki gue lemes. tapi gue ngga bisa jatoh sekarang.
"sekarang dia ada dimana?" ucap gue khawatir. Ah kenapa gue ngga bisa jaga gadis hujan gue? gue ngga mau kehilangan dia untuk kedua kali.
"dia di dalam" om menunjuk ke arah pintu UGD. Gue segera melepaskan pelukan gue pada tante dan langsung masuk ke ruang UGD.
Tes. Air mata yang sudah 5thn belakangan ini berhenti. Kini jatuh kembali. Gue melihat, putri hujan gue terbaring lemah tak berdaya di atas kasur dengan alat-alat medis yang banyak sekali menempel di tubuhnya.
Tut.Tut.Tut. suatu mesin berbunyi yang menandakan masih ada kehidupan di tubuh eca. Koma. dia koma. Air mata gue udah membasahi kaos yang gue pake. Dokter dan suster, sedang memeriksa echa. Mereka menghampiriku.
"bagaima keadaan echa dok?" ucap gue yang to the point.
"echa masih koma. pendarahan di otak nya sangat hebat, berdoa saja semoga ada mujizat dari Tuhan" mendengar perkataan dokter itu, kaki gue lemes. kesadaraan gue menipis&akhirnya semuanya gelap.
Hmm selesai juga Part ini. oya ending mungkin di part selanjutnya. oke byee:*