hujan membasahi kotaku daun-daun yang berserakan karena ulah angin yang cukup kencang berhasil menjatuhkan keaspal. Sudut-sudut kota sangat sepi itu pasti karena orang-orang tak ingin terkena dinginnya udara hari ini mereka bersembuyi didalam gedung-gedung yang disebut tempat tinggal.
Air yang turun dari langit begitu tenang mengalir.
Aku memandanginya sejak tadi dibalik jendela. Beberapa kali aku menatap layar handphoneku, menekan tombol kunci yang berwalpaperkan fotoku dengan masa laluku. Hujan hari ini seperti mewakili perasaanku yang begitu amat sakit, aku tak ingin ada airmata lagi kejadiannya pun sudah terbilang lama namun sosok masalaluku tak bisa hilang begitu saja dari ingatanku. Udaranya semakin dingin sampai berhasil menembus tulang-tulangku. Aku memeluk erat tubuhku sendiri sambil memandangi langit yang masih menangis.
" acaa ....?"
Suara teriakan itu yang tak asing lagi terdengar dari telingaku, itu suara sahabatku yang bernama sherly. Ia sahabatku sejak aku masuk smk dan sampai saat ini tepatnya sudah duduk dibangku smk Kelas 3, ya sudah terbilang persahabatan kami cukup lama dan kita sangat akrab seperti saudara. Sherly memanggilku aca katanyasi panggilan sayang dia keaku padahal nama lengkapku Sasa Alfanso, ya tidak beda jauh lah.
" gausah teriak-teriak sher gue dengerko " ucapku kepada sherly dengan nada bicara lemas.
" lo ngapah ca? Sakit yaa? "
Ucap sherly sambil memegang keningku denga n raut wajah khawatir.
" ngga apaansi sher, lebay deh "
" oh gue tau, lo pasti lagi... hmmm " dengan raut wajah menduga-duga dan menatap layar handphoneku yang aku genggam.
"...." aku bergeming
" udah ca lupain fano, dia cuma bikin sakit hati doang ca lagian udah 2bulan masa lo mau gini terus si "
Ucap sherly dengan raut wajah yang mulai serius menasehatiku. Fano itu masalaluku ia meninggalkanku tanpa alasan yang logis sejak kepergian fano aku jadi wanita yang dingin terhadap laki-laki. Hubungan aku dan fano sudah cukup terbilang lama yaitu 2tahun. Tapi lenyap begitu saja , kenangan yang selalu terbayang disetiap pikiranku. Wajar saja karena aku dan fano selalu bersama setiap saat.
" tapi sher... " aku berkata kepada sherly sambil menahan airmata yang beberapa saat lagi jatuh.
" caa... " sherly mulai meyakinkanku dengan ucapannya. Aku memeluk sherly dan benar saja aku airmataku tak bisa ku bendung lama lagi ia mengalir dipipiku. setelah tangisku mereda sherly mengajakku ketoilet untuk membasuh wajahku agar terlihat lebih segar. Lalu kami berjalan beriringan kekelas karena bel sudah berbunyi tanda jam istirahat sudah habis.
Sial, hari ini ada pelajaran Pak Rino guru sejarah yang super killer dan pelajarannya sehabis jam istirahat ini ya, berarti Pak Rino aka segera masuk. Benar saja, tak berapa lama Pak Rino masuk anak kelasku langsung terdiam dan memberhentikan pembicaraan karena tak ingin kena hukuman seperti minggu lalu harus berdiri hormat selama jam belajaran Pak Rino berlangsung hingga habis jam pelajarannya. Tapi kali ini Pak Rino tidak sendirian kekelas ia bersama seorang siswa laki-laki yang cukup asing dimataku dan teman-teman.
" selamat siang anak-anak " ucap pak Rino menyapa dan akan segera memulai pelajaran
" siang pakkkkkk " ucap kami serentak menjawab Pak Rino
" hari ini kita kedatangan murid baru , silahkan perkenalkan diri " ucap Pak Rino yang sekaligus menyuruh anak baru itu memperkenalkn dirinya.
" kenalkan nama saya Ray Prasetya... " ucap anak baru yang bernama ray memperkenalkan dirinya dan segalanya, setelah memperkenalkan dirinya ia dipersilahkan duduk untuk mengikuti pelajaran Pak Rino. Ia duduk didepan kursi ku dan sherly. Ray sosok laki-laki yang bertubuh tinggi dengan hidung mancung dan rambut yang tertata rapi begitu juga penampilannya seperti rambutnya, rapi.
Jan lupa vomentnya guys;;)