ATHENNA

By ditandra

512K 24.4K 354

Warning! Cerita ini sedang direvisi. Jika ada bagian cerita yang sedikit berubah, mohon dimaklum ya gaes dan... More

Prolog
pertemuan pertama?
pertemuan tak di duga
pria dari masa lalu
lagi-lagi dia
Megan : om genit
begitu dekat, tapi begitu jauh
Ivan : bibir manis, asam, pedas
Athenna : ciumanmu membuatku lemas
tanda jantung hati
selama ini aku merindukanmu
sekertaris gila dan boss mesum
Shane
truth
percayalah
liburan?
di tembak atau di todong?
kekasih sementara
ends but not the end
hamil lagi?
tak pernah ada yang berubah
hati yang mulai hangat
berbagi kisah
pada suatu hari...

mimpi yang jadi nyata

19.2K 1.1K 4
By ditandra

Didepan sebuah club malam, seorang gadis berkacamata dengan rambut yang dikuncir rapi. Menatap tanpa kedip pada untaian huruf yang terpampang jelas didepannya.

"Saturday Night's" bisiknya pada diri sendiri ketika membaca tulisan besar dihadapannya.

"Ayo masuk Anna!" Ajak pria yang hampir selama sebulan, selalu mengekori semua kegiatannya.

"Tapi Ivan..." ucapnya terputus, tampak ragu-ragu.

"Ayolah Anna! Tidak usah ragu, aku jamin di dalam sana menyenangkan" lalu tangan Ivan menggenggam tangan Anna, dan menariknya masuk ke dalam club.

Sepanjang jalan, ketika masuk kedalam club, mata pengunjung lain selalu memandang heran pada Anna.

Bagaimana tidak, Anna memakai tanktop putih longgar yang ditutupi sweater merah maroon, dengan rok putih yang menutupi pinggang hingga setengah betisnya.

Sungguh jauh berbeda dengan wanita-wanita yang dilewatinya sejak masuk kedalam club.

Pakaian minim, yang terbuka di depan maupun dibelakangnya. Wajah yang di poles makeup tebal nan sensual, dan sepatu higheel yang tidak kurang dari 12cm.

Suara racikan musik yang di sajikan sang DJ semakin jelas terdengar ketika sepasang kaki milik Anna menginjak lantai ruangan yang penuh dengan hingar-bingar dunia malam.

Mulai dari yang hanya duduk dan menikmati minuman, yang berjingkrak-jingkrak di lantai dansa, hingga yang sedang berciuman dengan tangan yang merayap ke setiap bagian tubuh pasangannya.

Ughh...

Sungguh pemandangan yang mengerikan bagi Anna, membuatnya harus menunduk ketika berjalan melewatinya.

"Ivan!"

Teriak seseorang wanita dari sebuah sofa besar entah berwarna apa. Karena suasana yang temaram, di tambah kelap-kelip lampu, membuat Anna sulit membedakan warna.

Ivan menghampiri, lalu memeluk sambil memberi sedikit kecupan di pipi wanita itu. "Kalian udah lama nunggu?" Tanya Ivan basa-basi.

"Ish... lo gak liat kita udah habis berapa botol, cuma buat nungguin kalian dari tadi?" Ucap  Parrish sinis, dengan tangan terlipat di dada.

'Entah Parrish memang selalu judes ketrika bicara, atau hanya jika ada dirinya disekitar Parrish dia jadi seperti itu?' Pikiran itu terus berkecamuk dikepala Anna, karena memang dia baru mengenal sosok Parrish dan teman-temannya baru-baru ini.

Disudut kursi sana ada Dastin yang bewajah kesal. juga Leon yang hanya menatapnya hanya sekilas dengan wajah datar, lalu kembali asik dengan seorang gadis berpenampilan super hot, entah siapa. Sepertinya Leon bukan orang yang terlalu banyak bicara, sementara Dastin tampak seperti orang yang galak karena sejak tadi dia terus menekuk wajahnya.

Akhirnya Anna ikut duduk bersama mereka dengan canggung, sambil sesekali melihat pemandangan disekelilingnya.

Ketika tiba-tiba dadanya sedikit terasa sesak dan matanya terasa pedas ingin menangis. Karena melihat Ivan dan Parrish berbincang-bincang dengan akrabnya. Bahkan jantungnya seakan berhenti ketika melihat mereka saling berbisik di telinga lalu tertawa riang, seolah mereka melupakan ada Anna di sudut sana bersama mereka.

Parrish! Siapa sih yang gak kenal dia? Mahasiswa paling populer dan paling cantik satu kampus. Seorang calon Dokter dengan latar belakang keluarga yang kaya raya tujuh turunan.

Dari desas-desus yang terdengar mulai dari planet Merkurius hingga ke planet Pluto yang kabur dari orbitnya, mengatakan bahwa Ivan dan Parrish adalah pasangan kekasih.

Tentu saja kenyataan dihadapannya membuat hati Anna semakin terasa diremas, melihat lelaki yang disukainya dekat dengan wanita lain.

Hampir saja air mata lolos dari mata hitam milik Anna, ketika menyadari kebodohannya. Anna menekan kesedihannya sendiri dan berfikir siapa dirinya hingga pantas untuk merasa sakit hati ketika  melihat kemesraan sepasang manusia yang memang terlihat cocok satu sama lain. Mungkin dirinya menyukai atau bahkan sedikit mencintai Ivan, tapi pantaskah Ivan mendapat rasa itu dari seorang gadis yang bahkan tidak bisa dibandingkan sedikitpun dengan sosok Parrish. Tapi kenyataan yang menamparnya semakin membuatnya ingin menangis meraung-raung.

Ketika sadar dari lamunannya, Anna melihat sebuah tangan yang terulur sambil memegang gelas kehadapannya.

"Ayo diminum, lo pasti haus" Tawar Ivan kepada Anna dengan senyum manis tapi juga tampak pahit dari sudut pandang Anna.

Anna menatap Parrish sedang tersenyum penuh harap.

Aneh.

Dastin masih dengan tatapan kesal, sementara Leon entah sudah menghilang kemana.

Ketika Anna menerima gelas, Dastin tiba-tiba menggebrak meja yang ada dihadapannya "Udahlah, gue udah muak sama permainan kalian. Lebih baik gue pulang sekarang dan lo!" tunjuknya pada Anna. "Mending lo pulang, jangan mau temenan sama mereka kalo gak mau hidup lo rusak!" Sambung Dastin, lalu dia berlalu menuju pintu keluar night club itu.

Anna menatap bingung punggung Dastin yang semakin menjauh, menuju pintu yang bertuliskan 'EXIT' diatasnya. Kata-kata Dastin sedikit membekas di kepala Anna, membuatnya sedikit merenung.

"Udahlah Dastin emang suka aneh, mungkin dia lagi ada masalah di kampus." Ucap Parrish cuek, sambil mengangkat gelas mengajak cheers.

Anna menatap ragu pada gelas di tangannya. Anna memang merasa tenggorokanya kering karena semua kejadian malam ini yang hampir tidak dapat dia percaya. Bahkan dirinya sendiri tidak percaya, jika saat ini dia sedang terdampar di sebuah night club.

Dengan sekali teguk Anna menghabiskan isi gelas itu dan berkata "Air tehnya enak."

____Athenna____

Athenna membelalakan matanya seketika, menatap langit-langit ruangan berwarna putih diatasnya. Fikirannya masih terfokus pada mimpinya barusan. Dadanya sedikit sesak ketika  kilasan kelam masa lalunya yang berusaha dia hilangkan, malah kembali muncul di mimpinya.

"Kamu sudah bangun?" suara berat yang familiar mengalun lembut di telinganya.

Sontak saja mata Athenna membulat tak percaya, lalu bangkit dari posisi tidurnya. Keringat dingin mulai bermunculan dipunggungnya, meski sulit tapi Athenna berusaha tidak menatap ke arah suara itu berasal. Berharap ini semua masih di dalam mimpi.

"Kenapa?" Tanya Ivan ketika Athenna akhirnya menatap pria itu dengan tatapan horror.

Athenna mendadak bisu, setelah mengalami mimpi buruk dan kini dia harus menghadapi pria yang ada dalam mimpi buruknya.

"A..aa... anda?" tanya Athenna terbata.

"Saya Ivan Lukinovich Smirnov, CEO baru disini." Sambil mengulurkan tangannya pada Athenna.

Athenna menatap ragu uluran tangan yang ada di hadapannya, namun dengan terpaksa dia menyambut uluran tangan itu.

"Athenna, sekertaris Mr. Smirnov senior dan kini akan menjadi sekertaris anda." Jawab Athenna sambil merasakan remasan yang cukup kuat di tangannya yang  sedang bergetar hebat.

'Bukankah tadi dia ditahan Pak security?' fikir Athenna, sambil menatap bingung pria di hadapannya.

"Saya berhasil mengatasi security dari apartemen kita" Jawab Ivan seolah bisa membaca fikiran Athenna.

"Lagi pula gedung Apartemen itu milik Ayah saya, saya rasa tidak akan sulit untuk mengatasi masalah kecil seperti itu bagi keluarga Smirnov." Sambung Ivan dengan senyum seringai terbit dari bibirnya.

Kenyataan itu semakin membuat Athenna semakin menganga tak percaya.

'Hhaha... jadi ini sekertaris gue? Lo udah membuat hari pertama kerja gue jadi rusak. Tunggu aja pembalasan dari gue, sekertaris cantik.' Fikir Ivan dengan seringaian yang tercetak jelas di wajahnya.

Athenna yang tersadar dan kaget memandang tubuhnya sendiri, yang hanya mengenakan blouse berwarna baby pink tanpa lengan dan rok hitam setengah pahanya yang terbalut stocking berwarna senada dengan kulitnya.

Dia menoleh kekiri dan kanan, dan akhirnya blazer hitam yang di carinya tersampir disandaran sofa. Buru-buru Athenna berdiri, lalu mengambil blazernya.

"Maaf Mr. Smirnov, saya ijin ke kamar mandi." Tanpa menunggu persetujuan dari Ivan, Athenna langsung meluncur menuju toilet.

____Athenna____

Jam menunjukan sudah pukul dua puluh dua, lebih tigapuluh lima menit malam. Namun Athenna belum beranjak menuju ke tempat tidur. Dia masih terjaga didepan tv sambil memeluk se-toples keripik singkong pedas yang sudah habis setengahnya.

ting! tong!

Athenna menoleh ke arah pintu "Siapa sih malam-malam gini? Masa jam segini ada yang nganterin paket?" Ucapnya pada diri sendiri.

Athenna beranjak dari kursi menuju pintu depan. Saat pintu terbuka Athenna membeku, tatapannya terpaku pada tamunya. Sementara Ivan sang tamu menganga dan hampir saja liurnya menetes ketika melihat penampilan Athenna.

Gaun tidur satin berwarna merah yang hanya menutupi setengah pahanya, dengan tali tipis yang melintang dibahunya. Dengan kacamata dan rambut di cepol asal, sehingga masih banyak anak rambut menjuntai disekitar wajahnya yang polos tanpa make up.

Athenna terbelalak ketika menyadari penampilannya sendiri. Lalu buru-buru menutup pintu, namun kaki Ivan lebih dulu mengganjalnya.

"A..ada... apa anda kesini?" Tanya Athenna gugup.

"Ah... a..anu... ini, aku cuma mau mengembalikan ini." Ivan sekuat tenaga menahan pintu, mencoba mencari celah untuk masuk.

"O..oke-oke, tapi tunggu sebentar diluar." ucap Athenna.

Setelah Ivan menyerah Athenna menutup pintu, lalu segera memakai jubah tidur satin miliknya. Lalu kembali menuju pintu, Athenna kemudian membuka kembali pintu apartemennya. Lalu berkata "Ada apa?"

Ivan menyodorkan kantong kresek kehadapan Athenna.

"Apa ini?" Athenna mengambil kantong kresek dari tangan Ivan.

"Lihat saja sendiri." Tanpa diundang, Ivan langsung menerobos kedalam rumah Athenna. Sementara sang tuan rumah sibuk mengorek-orek kantong kresek di tangannya.

'Ternyata ini belanjaan semalam yang berhamburan didalam lift. Rajin banget dia mau mungutin ini semua.' Fikir Athenna.

"tapi susu pisangnya kemana?" Tanya Athenna sedikit kesal.

"Ah, sorry. Tadi pagi sudah saya minum, Anggap saja sebagai kompensasi karena sudah menyelamatkan belanjaan kamu." jawab Ivan santai, sambil mengelilingi ruang tamu rumah Athenna.

'Cih...' Athenna mendecih kesal.

"Hey! siapa yang mengijinkan anda masuk?!" Bentak Athenna yang baru sadar, bahwa Ivan sudah masuk kedalam rumahnya tanpa ijin.

"kamu orangnya cukup bersih, pasti kamu rajin membereskan rumah. Ngomong-ngomong, boleh minta kopi?" Pinta Ivan tanpa perduli pertanyaan Athenna, sambil menjatuhkan tubuhnya diatas sofa berwarna putih.

"Maaf, disini tidak ada kopi! Jadi saya harap anda segera meninggalkan tempat tinggal saya. Atau... saya akan panggil security untuk menyeret anda pergi dari tempat ini." jawab Athenna ketus, sambil memeluk lengannya sendiri.

"Ahh... Kalo begitu teh saja." Mata Ivan tertutup, dengan punggung bersandar pada sofa. Tanpa perduli sedikitpun ucapan Athenna.

"Teh juga tidak ada!" masih dengan nada ketus.

"Hmm air putih juga boleh." Pinta Ivan dengan tidak tahu malu.

"Disini tidak ada air untuk anda!" jawab Athenna masih ketus.

"Kalau begitu buatkan saya makanan" ucap Ivan masih pantang menyerah.

Grrr... Athenna menggeram dalam hati.

"Dengar Mr. Smirnov,  apa anda tersesat atau anda terkena amnesia hingga anda pikir rumah saya adalah restoran? Apakah kejadian semalam mempengaruhi kerja otak anda? Apakah saya perlu membawa anda ke Rumah sakit, untuk memeriksa otak anda sekarang juga?" Athenna menarik nafas panjang.

"Jika anda lapar atau haus anda salah tempat jika datang ke tempat saya. Apa anda sadar, anda tidak punya etika, dengan bertamu ke rumah seorang perempuan ketika larut malam seperti ini itu salah? Sudah pasti hal tersebut tampak buruk dimata tetangga saya. Maka dari itu, saya mohon dengan hormat silahkan anda keluar dari rumah saya." Jelas Athenna panjang lebar.

Ivan menatap tepat kedalam mata coklat Athenna yang ada di balik kacamata, lalu seringai tampak di wajah tampan Ivan.

Ivan berpura-pura lemas, lalu berkata "Ah... sepertinya sulit untuk sekarang. Karena saya sangat kehausan dan kelaparan saat ini, apalagi dengan kejadian semalam dan lukanya masih terasa sakit sampai saat ini. Jadi saat ini tubuh saya sangat lemas, jika setelah saya keluar dari rumah kamu saya pingsan di jalan bagaimana? Apa kamu mau bertanggung jawab?"

Athenna menhirup nafas kasar, mencoba meredam rasa kesalnya dengan memijat keningnya sendiri. "Kenapa anda seperti ini kepada saya? Apa anda menginginkan permintaan maaf keluar dari mulut saya? Tapi itu tidak mungkin, karena pria mesum macam anda memang pantas mendapatkannya."

Ivan menyeringai "Karena kamu sekertaris saya dan kamu sudah menarik perhatian saya." Jawab Ivan santai.

"Saya memang pegawai anda, tapi hanya sampai jam kerja habis. Lalu setelah itu, kita bukan atasan dan bawahan lagi." Athenna mendapatkan ketenangannya kembali sebagai sekertaris professional.

Ivan menyeringai "ugh... kata-katamu begitu menyakiti hati saya Athenna. Tapi begitu mendengar kata 'kita' dalam ucapanmu, itu membuat hati saya sedikit terobati. Seperti akan ada harapan diantara kita berdua." Ucapnya tidak tahu malu.

Athenna merasa jijik dengan ucapan yang dilontarkan oleh Ivan, lalu berusaha untuk menekan emosinya agar dirinya tetap rasional.

tapi dari mana anda mendapatkan nomor Apartemen saya?" Athenna berusaha mengumpulkan kesabarannya.

"Apa kamu lupa, tower Apartemen ini milik ayah saya. Dan saya tidak akan pulang sebelum kamu membuatkan kopi dan makanan untuk saya." Ucap Ivan.

"Dan saya tidak suka dibantah, ingat itu!" Sambung Ivan.

Akhirnya Athenna mengalah, agar Ivan segera pergi dari rumahnya. Dia fikir jika mereka berdua sama-sama keras kepala, ini semua tidak akan pernah berakhir dan mereka hanya akan berdebat sepanjang malam tanpa akhir. Karena Athenna tau Ivan tidak akan mau mengalah.

"Dasar menyebalkan!" gerutu Athenna sambil berlalu menuju dapur yang hanya terhalang meja makan jika dari ruang tamu. Sementara Ivan tersenyum penuh kemenangan

_____ATHENNA_____

Ivan duduk di meja makan dan dihadapannya sudah tersaji secangkir kopi yang asapnya masih mengepul.

Ivan menatap kopi dihadapannya, ragu "Gak ada racunya kan?"

"Maunya sih saya tambahin racun, tapi sayang saya tidak punya stok racun dirumah." jawab Athenna dingin, sambil tangannya sibuk memasak untuk bos barunya yang menyebalkan itu.

"Hmm... rasanya pas sekali." Ucap Ivan setelah mencicip kopi buatan Athenna.

"Tentu saja, dua sendok teh kopi, satu sendok teh gula. Saya masih ingat takaran untuk anda." Ucap Athenna.

Ivan mengangguk-anggukan kepalanya, lalu tersadar "Dari mana kamu bisa tau, takaran kopi untuk saya? Saya rasa saya belum memberitahukanya sama kamu." Tanya Ivan heran.

Seketika, tubuh Athenna membeku, memikirkan alasan yang masuk akal yang harus dia berikan agar Ivan tidak curiga padanya.

Athenna tergagap. "Hmm... itu... eeee... oh itu, saya biasa membuatkan Mr. Smirnov senior kopi dengan takaran itu."

Athenna pun sedikit tenang saat melihat Ivan sepertinya percaya-percaya saja dengan ucapannya, lalu lanjut memasak. Sementara Ivan hanya terdiam menatap punggung Athenna. Melupakan kopi yang sudah hampir dingin dan lebih memilih memperhatikan lekuk tubuh Athenna dari belakang. Bongkahan bokong yang padat berisi, pinggul meliuk indah, tengkuk putih bersih yang menggiurkan, dan juga paha yang sungguh mulus.

Otak kotor Ivan mulai menggila, ia jadi ingin tahu. Seperti apa isi di balik gaun tidur satin yang di pakai wanita ini. Seringaian pun tanpa sadar tercetak diwajahnya. Hingga akhirnya sebuah sentuhan membawanya kembali dari alam khayal.

Athenna duduk di sebrang Ivan, sambil menyodorkan sepiring nasi goreng, lengkap dengan toping irisan mentimun dan tomat.

"Silahkan yang mulia, dan saya mohon cepat habiskan! Lalu cepat-cepatlah anda pulang!" Sarkas Athenna.

"Hmmm... enak! Tapi saya tidak suka tomat tolong singkirkan!" Ucap Ivan setelah suapan pertama masuk kedalam mulutnya.

Athenna geram dengan sikap arogan dan pemilih manusia yang ada di hadapannya ini, namun dia menahan diri dan dengan berat hati menyingkirkan tomat yang berada di atas nasi goreng Ivan.

Lalu Ivan kembali menikmati makanannya dalam diam, sementara Athenna menatapnya dengan yang rasa tertekan.

Tapi di sela waktu, Ivan tiba-tiba berhenti menyuap. Tangannya melayang diudara dengan sendok yang terisi penuh nasi goreng, matanya menerawang heran.

Athenna  pun menjadi sedikit was-was. "Kenapa?" Tanya Athenna heran.

"Ayah saya kan biasa minum kopi tanpa gula?"

Jederr...

Bagai kilat menyambar kepala Athenna, mendengar kenyataan yang terucap dari mulut Ivan. Athenna kaget bahkan untuk mengeluarkan suara dari mulutnya saja dia tidak sanggup.

'Sial! Kenapa Ivan harus ingat?!' Rutuk Athenna sambil menangis dalam hati.

sabtu, 03 oktober 2015

ada yang kangen aku ga? *plak,,,*
seperti biasa, jika ada waktu luang saya usahain nulis.

mohon maaf bila ada yang tidak berkenan, atau gak sesuai harapan.

kalo boleh minta vote atau commentnya, biar tambah semangat nulisnya. mau ngasih mie ayam juga boleh lho,,,!!! *dilemparin sendal jepit*

baca juga cerita gaje lainnya my heart beats.

kritik dan sarannya saya tunggu, agar saya bisa cepet-cepet memperbaiki diri.

terima kasih pada Allah SWT dan yang sudah mau menyempatkan baca cerita saya yang aneh bin gaje.

enjoy
@ditandra

Continue Reading

You'll Also Like

107K 4.6K 24
Follow dulu sebelum baca! Naila yang sejak dulu selalu menerima hinaan dari Darel terpaksa harus menikah dengan pria itu akibat mereka kepergok warga...
2.1M 60.6K 58
(FOLLOW DULU KALAU MAU BACA, SEBAGIAN PART ADA YANG DIACAK) Rasanya memang saat ini takdir belum berpihak pada Athena, diusianya yang masih 18 tahun...
1.4K 601 17
꧁ঔৣ🖤Aletta Inara❦🖤ঔৣ꧂ Note: {Sebagian part di hapus untuk kepentingan terbit!} Kehidupan yang penuh dengan bayang-bayang masa lalu yang kelam, kis...
1.5K 10 7
Pagi begitu cerah dedaunan bergemuruh turun secara bersamaan! Semerbak yang begitu harum dan menawan matahari yang begitu terang menarangi seluruh al...
Wattpad App - Unlock exclusive features