"Anak anda mengidap penyakit leukemia" kata-kata dokter itu terus menghantuiku. Leukemia, bukankah itu penyakit yang mematikan? Apa gunanya aku hidup jika akhirnya pasti mati? Aku memutuskan untuk menghentikan semua aktifitasku. Sahabatku sempat bertanya-tanya, mengapa aku yang awalnya terlihat ceria pada semester pertama berubah drastis menjadi murung.
"Come on, we're friend. I know there's something wrong with you, bro!" Ujarnya sambil menepuk punggungku. Memang selama ini aku tidak pernah cerita dengan siapapun, termasuk kedua orang tuaku, jadi apa salahnya jika aku cerita dengannya? Toh, dia sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Aku menatap gumpalan darah yang berada di balik kulit telapak tanganku, aku memang terlihat seperti orang yang segar bugar.
"God, you're gonna marry someone?" Ucapnya. Mendengar ucapannya itu, aku yang awalnya sedih menjadi tertawa.
"Come on Niall! I'm serious!" Ucapku sambil terkekeh.
"Well, go on!" Ujarnya.
"Do you know leukemia?" Tanyaku.
"Jangan bilang elo terkena penyakit itu bro. Bercanda boleh, tapi itu gak lucu sama sekali!" Potong Niall dengan muka garangnya.
"Sorry Niall, kalo bisa gue juga maunya bilang kalo gue cuma terkena sariawan, sayangnya gue gak bisa karena sekarang gue itu mengidap penyakit Leukemia" jelasku dengan sedih. Niall terdiam mendengar ucapanku itu,
"Just because there's a huge wall in front of you, doesn't mean you should stop to reach your destination" dia mencoba menasehatiku.
"Absolutely I'll reach the destination, I'll reach the death soon" jawabku sambil tertawa kecil. Niall hanya dapat menatapku dengan raut muka yang sedih. Semenjak hari itu, Niall jadi sangat sering menasehatiku. Tapi, aku marah-marah karena sudah tidak tahan dengan semua nasehat Niall. Dia selalu menasehati tentang semua hal yang menjelaskan betapa berharganya sebuah kehidupan dengan muka bodohnya itu. Untuk apa aku terus-terusan menerima nasehat tentang kehidupan jika jelas-jelas umurku sudah tidak lama lagi? Dan semenjak saat itulah, Niall berhenti menasehatiku. Kami kembali menjalani hidup seperti biasa. Walaupun begitu, tentu saja Niall menganggap aku tidak seperti dulu. Aku adalah aku, ingin berubah atau tidak, inilah diriku.
**********
"Finally I found her bro!" Ujar Niall girang saat dia main ke rumahku.
"Who?" Tanyaku.
"The girl that I love. We used to go to the same school before, and now he's going to Cheyenne high school" oceh Niall. Aku berpikir sebentar sambil menggigit kuku tanganku.
"Oh, You've told me about the girl. You wanna shoot her in the farewell party, and you're not brave enough, right?" Ujarku sambil menaik turunkan alis mataku.
"Come on Grey, don't remember me about that!" Niall memperlihatkan wajah cemberutnya.
"Well, why don't you ask her to hang out with you then?" Ujarku.
"What? No!" Jawab Niall.
"So brave" ejekku sambil tertawa sinis.
"Listen, I promise that you'll see me have a beautiful house, and have two children in the future" Niall kembali memainkan gitarnya.
"And their mom is the girl" tambahnya lagi. Aku rasa dia lupa bahwa sudah satu tahun lamanya semenjak aku mengidap penyak sialan ini, waktu jatah hidupku sudah tidak lama lagi, mustahil bagiku untuk melihatnya di masa depan. Keesokan harinya, seperti biasa aku mendapatkan hadiah yang ditaruh diatas mejaku. Walaupun tidak selalu ada, hadiah atau surat selalu aku dapatkan setidaknya satu kali dalam seminggu.
"Present again? You're so lucky bro! May I?" Niall meminta izin untuk memakan coklat yang berada di dalam kotak hadiah yang dibukanya tanpa izin dariku.
"Whatever" jawabku sambil menjatuhkan diriku diatas kursi tempat aku duduk.
"A letter, wanna read? Or should I...?" Ujar Niall sambil mencoba untuk membaca kalimat yang tertulis di atas kertas berwarna hitam yang baru saja di temukannya di dalam kotak berisi coklat tadi.
"Wait!" Potongku.
"Give it to me!" Ujarku dengan antusias.
"Not as usual. But here is your letter" Niall memberikan kertas hitam itu padaku sambil memperlihatkan muka heran.
"So, what makes you interesting to that letter? You usually told me to read it for you, but now?" Oceh Niall sambil berbaring diatas mejanya, suaranya terdengar sedikit tidak jelas karena mulutnya dipenuhi oleh coklat.
"So? What did she wrote?" Ujar Niall setelah aku membaca isi surat tersebut.
"As usual" jawabku singkat sambil memasukkan kertas itu kedalam tasku.
"Well, but that's not as usual you save the paper. Do u know, everyone who sent me presents aren't as beauty as yours" ucap Niall sambil mencomot coklat berwarna putih.
"And one more thing, the chocolates aren't like yours" tambahnya.
"So that's the reason why do you always give it to your friends and take mine" ucapku sambil cemberut?
Saat jam istirahat, aku hanya dapat menontoni teman-temanku bermain basket di lapangan sambil mengingat masa-masa sebelum aku tahu bahwa aku menderita leukemia, aku selalu aktif bermain basket setiap hari. Tapi sekarang, mereka menganggap bahwa aku orang yang sombong. Mengapa tidak, dia mengira aku sudah tidak ingin bermain bersama mereka lagi karena aku terlalu populer untuk bersama mereka. Seharusnya, mereka tidak boleh menilai seseorang tanpa mengetahui kebenarannya. Dan tentu saja Niall tidak termasuk dalam hitungan, dia sudah tahu tentang apa yang terjadi padaku. Ya, disinilah aku selalu sendiri menikmati bekal yang dibawakan oleh mom untukku. Terserah jika orang-orang ingin mengejekku dengan sebutan anak mommy or sok higienis. Tapi yang jelas aku harus menghargai bekal dari mom, dia sudah susah bangun pagi-pagi hanya untuk membuatkan bekal untukku. Dan jujur saja, terkadang aku juga merasa gerah terus-terusan dianggap anak kecil oleh mom. Teman-temanku sering mencemoohku akibatnya. Saat ingin mengambil bekal, ada seseorang yang tidak kukenal membuka pintu kelas. Aku melihatnya dengan heran, pada saat itulah pipinya berubah menjadi merah.
"Umm.... Are you looking for someone?" Tanyaku.
"Well, I, umm...." Ujarnya dengan gugup. Aku hanya dapat menaikkan alis kananku.
"Have you read my letter?" Dia memainkan jari-jarinya sendiri sambil melihat lantai. Pada saat itulah aku baru ingat bahwa orang yang mengirimiku surat tadi pagi mengundangku untuk bertemu dirinya di dekat ruang piano pada jam istirahat, ternyata anak ini yang mengirimnya.
"Ow, I'm sorry. I forgot about our meeting. How long have you waited? Actually, I love your letter. You know, black and white. And...." Ujarku sambil beranjak dari kursiku untuk mendekatinya. Sejujurnya aku sedikit gugup, ini kali pertamanya aku hanya berdua bersama penggemarku. Bagaimana jika dia tidak menyukaiku? Bagaimana jika nada bicaraku salah? Bagaimana jika aku bertindak bodoh? NOOOO! Anehnya, aku dapat melihat perempuan yang tidak kukenal ini tertawa melihatku.
"What, what's wrong?" Tanyaku.
"Nothing, I just can't believe that you're so friendly. I guess that kind of cool guy and arrogant. But you're not. You're so different from what my boyfriends talking about" ujarnya sambil tertawa.
"Boyfriends? I'm sure you're a play girl" aku mengerutkan jidatku.
"Ow, no! They are my boyfriends, but just as friends" elaknya.
"Have you eaten the chocolates?" Tambahnya. "Oh, yes! Taste good!" Aku menunjukkan kedua jempolku.
"Come on, I know your friend ate them" ujarnya dengan wajah sedih. Sebenarnya aku juga sedikit tidak enak hati mendengar bahwa dia tahu kalau Niall memakan pemberian darinya yng seharusnya untukku.
"So, what's your name?" aku mencoba untuk mengubah topik. "Emma, Emma Charlotte. And you're Greyson Michael Chance" jawabnya sambil tersenyum.
"It'd be better if your name is Emma Charlotte Chance" aku membalas senyumannya itu. Pada saat itulah, pipinya berubah menjadi merah kembali.
"Well, I.... I guess that I have to go now. Bye Greyson" ujarnya. Aku sangat senang melihat ekspresi penggemarku saat aku puji atau aku gombali, mereka semua terlihat manis.
"She's cute!"Niall tiba-tiba datang dengan bau keringatnya yang menghilangkan nafsu makanku.
"She's too cute for you Grey, a girl like her is supposed to be with me" ujarnya sambil mencomot rotiku. Aku dapat melihat keringatnya yang menetes di beberapa potong roti lainnya.
"Do you wanna eat them? you must be very hungry" aku menyodorkan kotak bekalku kepada Niall.
"Absolutely" ujar Niall sambil mengambil dua potong roti sekaligus dan memasukkannya kedalam mulutnya tanpa ragu-ragu, aku hanya dapat menelan air liurku, membayangkan bagaimana rasanya jika mulutku dipenuhi oleh roti-roti itu, sudah pasti aku tidak akan kuat untuk menghabiskannya langsung.
**********
Beberapa hari setelah itu, aku dan Emma berteman baik, seperti aku berteman dengan Niall. Aku akhirnya baru tahu bahwa Emma itu termasuk kedalam kelompok PG. Kata 'PG' itu sendiri dikarang oleh Emma, yang berarti Popular Girls. Menurut teman satu kelasku, kelompok itu selain terkenal akan kekayaan dan ketenarannya, mereka juga terkenal akan kesombongannya. Sayangnya, aku tidak dapat menemukan satupun Sifat yang diberitahu oleh mereka dengan sifat yang ada pada diri Emma. Semua bertolak belakang dengan sifatnya. You know, I guess that Emma is a perfect girl. She's friendly, good looking, and humble. Wajar saja Niall menyukainya. Tapi hanya karena aku mengatakan bahwa dia perempuan yang sempurna, bukan berarti aku mencintainya. Aku hanya tidak suka dengan rumor tentang dirinya,banyak orang yang terlalu membesar-besarkan. Memang anggota kelompok lainnya bersifat seperti yang dikatakan oleh rumor, tapi tidak dengan Emma. Emma juga selalu menghargai orang lain, Niall sebagai contohnya. Walaupun Emma mengetahui perasaan Niall terhadapnya, dia tidak pernah tidak terlalu menyukai Niall yang menyebalkan, Sampai akhirnya, aku mengetahui sifat asli gadis bernama Emma Charlotte ini.