A Loveship

By xxyyey

4.6K 258 13

[Completed] Ini bukan masalah persahabatan atau cinta biasa. Ini masalah ketika kalian sudah tidak bisa meras... More

PROLOG
Bab 1
Bab 2
Bab 3
Bab 4
Bab 5
Bab 6
Bab 7
Bab 8
Bab 9
Bab 10
Bab 11
Bab 12
Bab 13
Bab 14
Bab 15
Bab 16
Bab 17
Bab 19
Bab 20
Bab 21
Bab 22
Bab 23
Bab 24
Bab 25
Bab 26
Bab 27
Bab 28
Bab 29
Bab 30
Bab 31
Bab 32
Bab 33
Bab 34
Bab 35
Bab 36
Bab 37
Bab 38
EPILOG

Bab 18

90 7 0
By xxyyey

BELLA NATASYA
"Gue sama Al udah putus. Baru kemarin."

Aku mengusap air mata yang sedaritadi menetes, aku tidak tahu rupa wajahku saat ini seperti apa. Yang jelas moodku memang kurang stabil karena hari ini adalah endingnya. Akhir cerita aku dan Aldrian.

Aku putus dengannya.

Kulihat motor ninja tiba-tiba berhenti di depan halte bus, tanpa melihat siapa pengendaranya, aku sudah tahu itu Kemal. Setelah melepas helm-nya dan turun dari motor, dia duduk di sampingku.

"Mendingan lo pergi karena gue nggak mau dituduh yang enggak-enggak sama pacar lo itu." kataku langsung to the point.

"Gue sama Vania nggak pacaran." jawab Kemal sengit.

"Yaudah sana pergi, gue lagi nggak mau diganggu."

Kemal hanya tertawa kecil, "Emangnya gue ngeganggu elo? Nggak kan?" tanyanya sambil merogoh saku seragamnya, "Nih tisu, elap air mata sama ingus lo itu. Nanti orang-orang ngira gue yang nangisin elo.."

Aku langsung mengambil tisu itu, "Makasih. Tapi mulai sekarang lo nggak usah sok baik sama gue. Gue duluan," aku beranjak berdiri begitu bus yang kunanti telah tiba.

Kudengar Kemal berseru, "Hati-hati" tapi aku tidak menghiraukannya. Kulihat samar-samar sosok cowok jangkung itu menatapku di balik kaca bus--dan disana air mataku pun kembali menetes.

***

Aku memegangi lutut sambil menyeka keringat dengan punggung tangan, kemudian Helen dan Keenan datang menghampiriku, "Ayo Bel..lari lagi..." seru mereka sambil membantuku untuk berlari tiga keliling lagi.

Belum setengah lapangan kulewati, aku sudah menunduk sambil terus memegangi lutut, "Gue nggak kuat Hel, Kee. Kalian duluan aja" kataku lemas.

"Ayo Bel, masa lo mau yang ketinggalan dibelakang? Tuh liat, anak-anak cowok bentar lagi selesai lari. Kita harus gercep" ujar Helen sambil membantuku untuk berlari kecil.

"Mereka kan cowok, jelas aja cepet." sergahku pelan.

"Tuh liat! Si Kemal, Mores, sama Willi udah main basket aja!" seru Keenan sambil menunjuk genk brutal-nya Kemal yang sedang asyik bermain basket. "Ayo Bel, semangat! Biar kita bisa cepet ke kantin!"

Aku menghela napas lalu mulai berjalan sedangkan Helen dan Keenan  berlari di depan. Untuk berjalan saja kakiku sudah gemeteran, apalagi untuk berlari? Ini salahku karena tidak sarapan tadi pagi lantaran menghindar dari telat.

"Kem! Lempar bolanya kesini!" seru Willi yang sudah melambaikan tangannya.

"Siap bos!" balas Kemal, cowok itu langsung melempar bola ke arah Willi, tapi ternyata kurasakan kepalaku ditodong benda keras lalu semuanya menghitam.

***

Aku membuka kedua mataku dan langsung tercium aroma minyak kayu putih, kulihat Helen dan Keenan berteriak senang begitu melihatku.

"Lo nggak apa-apa kan Bel?" tanya mereka berdua khawatir.

Aku menggeleng pelan, "Ini kenapa sih?" tanyaku lemas.

"Tadi lo pingsan! Gue sampe kaget ngeliat lo tiba-tiba ambruk!" jelas Helen sambil memasang tampang khawatir, "Ini semua emang gara-gara si Kemal sih! Dia ngelempar bola basket ke arah lo jadi lo pingsan deh" timpal Keenan. "Tapi dia baik sih, buktinya dia yang gotong lo ke UKS" sambungnya.

Aku sedikit tersentak mendengar cerita dari kedua sahabatku. "Orang-orang yang baru kenal Kemal pasti bakal bilang cowok itu nakal, jahat, bandel, tapi sebenernya dia punya hati yang baik. Gue jadi curiga, kayaknya dia suka sama elo deh Bel" celutuk Helen.

Aku hanya tertawa kecil.

"Tapi sayangnya lo udah punya pacar sih..." timpal Keenan mengiyakan.

"Gue sama Al udah putus. Baru kemarin." kataku pelan--berhasil membuat kedua sahabatku berteriak nggak percaya.

"Terus terus gimana?! Kenapa lo putus sama dia?!" tanya mereka berdua yang terlihat antusias mendengar ceritanya.

Aku mengangkat bahu, "Udah deh entar aja. Gue lagi males ngomong masalah dia, kalo gue nangis lagi gimana? Mending kalian berdua beliin gue makan ya, nih uangnya" aku memberi Keenan uang sepuluh ribuan dan cewek berambut bob itu mengangguk.

"Yaudah kita beli dulu, janji ya harus cerita! Daaah!" seru mereka berdua sambil berjalan keluar UKS.

Untungnya di UKS, tidak ada orang, biasanya Bu Widia selalu stay disini, tapi sekarang aku tidak melihat kehadiran guru itu.

Aku berusaha bangun dan menyenderkan tubuh ke bantal, lama-lama entah kenapa air mataku kembali menetes. Aku jadi teringat kemarin saat Aldrian menarikku ke suatu tempat sepi sepulang sekolah. Dia cerita banyak hal yang aku sendiri nggak tahu--padahal kurang lebih aku berteman lama dengannya, ditambah hubungan pacaran kami tentunya. Itu semua membuatku teringat akan cowok itu--cowok yang dulu sempat membuat jantungku berdebar setiap kali bertemu. Tapi entah kenapa, sekarang-sekarang ini semuanya berlainan.

Aku tahu dia mengiyakan berakhirnya hubungan kami karena terbawa emosi. Emosi yang dia buat sendiri karena penyebabnya adalah Kemal. Dia selalu bilang aku suka dengannya, aku berusaha keras untuk meyakinkan dia kalau hubungan antara aku dan Kemal hanya sebatas teman. Tapi kau tahu kan...Aldrian memang emosional, jelas saja dia tidak percaya dan malah makin menyudutkanku.

"Cewek-cewek lain kalo nangis keliatan lucu, tapi lo kok enggak ya?" Pandanganku beralih pada Kemal yang sudah duduk di meja UKS entah sejak kapan.

Buru-buru aku menghapus air mataku dengan kasar, "Terserah lo. Ngapain disini? Gara-gara lo gue hampir kena geger otak tau" balasku sengit.

Kulihat cowok itu tertawa, "Sori sori, abis lo ringkih banget kena bola langsung pingsan. Nggak sarapan bukan?"

Aku menoleh ke arahnya, "Lo tuh ngejek gue atau khawatir sih sama gue?"

"Ya bisa dibilang dua-duanya sih, oiya nih makan" Kemal memberiku kantung plastik yang berisi makanan, entah makanan apa itu karena di styrofoam. "Dari Helen sama Keenan" lanjutnya.

Aku mengambilnya dan langsung membuka styrofoam yang ternyata berisi bubur ayam. "Terus mereka kemana?" tanyaku sambil menyuap satu sendok bubur ke mulut.

"Gue suruh ke kelas, abis udah bel juga sih"

"Udah bel kok lo nggak masuk?" Pertanyaan bodoh, bagi guru-guru pasti mereka sujud syukur kalau Kemal tidak ada di kelas. Selama dua jam pelajaran pasti kelas berlangsung nyaman tentram tanpa pengganggu yang hobi bikin darah tinggi.

"Gue maunya nemenin elo"

Sontak jawaban itu membuat aku tersedak dan terbatuk-batuk, sampai Kemal lari ngambil minum di dispenser dan langsung memberikannya padaku. "Jawaban gue buat lo kaget ya?" celutuknya geli.

"Bukan kaget, tapi geli! Dasar gombal" balasku, kembali melanjutkan memakan bubur.

"Kalo gue nembak lo disini, yang ada lo pasti muntah" ujar Kemal sambil mangut-mangut.

"Apaan sih? Iya muntah ke muka lo" kataku kesal.

Kemal hanya tertawa, lalu tiba-tiba HP-nya berdering. Dia segera merogoh saku celananya dan mengangkat telfon, "Halo? Oh iya iya, buset bener tuh? Hahaha siapa dulu dong, Kemal gitu. Sip entar gue ambil" lalu cowok itu kembali memasukkan HP-nya ke saku celana.

Melihat ekspresi wajahnya berubah sumingrah, aku langsung bertanya, "Kayaknya ada something?"  

"Jelas lah, gue, Mores, Agung, Willie menang main poker di rumah si Sakti." jawab Kemal bangga.

"Elo? Mores Agung Willie main poker? Di rumah Kak Sakti? Lo gila apa, kalo sampe ada guru yang tau gimana?" tanyaku benar-benar nggak percaya. Ternyata cowok itu lebih berandalan dari yang kukira.

"Buktinya sampe sekarang nggak ada yang tau kan?" jawab Kemal enteng.

"Sekarang gue tau, kalo gue bilang itu ke guru gimana?" tantangku berhasil membuat cowok itu menyipitkan matanya.

"Ya bisa aja sih. Tapi nanti-nanti jangan nyalahin gue kalo lo diapa-apain sama komplotannya si Sakti. Hiii sereem" balas Kemal sambil menyunggingkan senyum misterius.

Aku sendiri membayangkan kalau aku sampai diculik secara paksa sama komplotan Kak Sakti yang suka tawuran itu. Kalau aku sampai dianiaya gara-gara melaporkan mereka ke guru gimana? Maka dari itu aku memutuskan lebih baik menutup mulut.

"Lo itu bad boys banget ya" komentarku sambil menoleh ke arahnya.

"Cute bad boys kayaknya lebih cocok" timpal Kemal.

Aku mendengus kesal, "Gue nggak pernah ngerti sama lo"

"Apa yang lo mau tau dari gue?" tanya Kemal sambil berjalan mendekatiku.

Aku langsung menjaga jarak dengannya begitu tahu bahwa cowok itu menundukkan tubuhnya sehingga bisa jelas terlihat wajahnya yang dekat dengan wajahku. Hembusan napas cowok itu membuat kedua mataku langsung melotot ngeri.

Aku pun langsung mendorong tubuh cowok itu agar menjauh, "Nggak ada. Gue sama sekali nggak tertarik."

Kemal hanya tertawa geli, "Lucu ya kalo godain elo. Ada deg-deg-ser gimana gitu. Yaudah gue mau cabut dulu," cowok itu pun melangkah keluar UKS.

Aku hanya menatapnya ngeri dengan jantung yang masih terus berdebar.

***

Esok paginya, aku keluar dari perpustakaan sambil membawa banyak buku yang berhasil menghalangi jalan. Buku-buku inilah yang nanti akan dibagikan ke kelas untuk pelajaran B.Sunda.

Buk!

"Aduh..." kataku meringis kesakitan sambil memegangi kening. Kulihat buku-buku sudah berceceran di lantai.

"Sori ya, lo nggak apa-apa?" Uluran tangan cowok sedikit membuatku jadi kikuk, tapi aku malah bangkit sendiri.

Aku sedikit tersentak melihat cowok jangkung yang ada di hadapanku sambil memungut beberapa buku-buku yang berceceran dan memberikannya padaku. Cowok itu ganteng walaupun jauh lebih ganteng Kemal. Tapi setidaknya 11 12 lah sama cowok itu. Dia memakai anting di telinga kirinya. Menandakan bahwa dia bad boys juga seperti Kemal.

Rupanya dia memang sedikit mirip dengan cowok berandal itu.

"Gue Arya. Omong-omong lo tau nggak gedung kelas dua belas dimana?" tanyanya sambil menoleh ke kanan ke kiri.

Ohh dia kakak kelas baru toh, gumamku. "Disana kak, turun tangga terus lurus terus belok ke kiri. Deket koridor toilet cowok." kataku sambil menunjukkan arah.

"Anterin gue yuk, gue nggak ngerti nih sekolah" ujar Kak Arya.

Hah? Dia minta aku nganterin dia? Terus buku-buku seabrek ini gimana? Seakan dia tahu isi kepalaku seperti apa, dia langsung ngomong, "Sini bukunya biar sebagian gue bawa. Tapi lo anterin gue." Cowok itu pun mengambil beberapa buku dari tanganku. "Nah yuk!"

Dengan berat hati aku pun mengikuti langkah Kak Arya, mulai menyusuri jalan menuju gedung kelas dua belas. "Oh iya, nama lo siapa?" tanyanya.

"Bella kak" jawabku.

"Bella siapa?"

"Bella Natasya."

"Lo kelas?"

"Kelas sebelas kak"

"Ohh adek kelas toh ternyata. Gue kira lo kelas sepuluh, abis tampang lo lucu banget sih"

Aku tertawa, tawa yang terdengar dipaksakan. Setelah sampai di gedung kelas dua belas, "Nih kak gedungnya. Kalo mau nanya dimana kelasnya, bisa tanya ke meja piket disana" kataku sambil menunjuk meja piket yang sudah disinggahi guru.

Kak Arya mengangguk, "Thanks ya kalo gitu. Lo emang adek kelas yang baik, cantik pula."

Aku tidak tahu harus bilang apa, alhasil aku hanya cengengesan nggak jelas.

"Yaudah sampe ketemu lagi, nih buku-buku lo" Kak Arya mengembalikan buku-buku ke tumpukan buku yang kubawa dan berjalan masuk ke gedung kelas dua belas.

Aku menghembuskan napas lega, dasar cowok pemaksa. Lalu berjalan kembali ke kelas.

Setelah bel pulang sekolah berdering, giliran aku dan Mores yang mengembalikan buku-buku B.Sunda ke perpustakaan. Selama di perjalanan, tak henti-hentinya cowok itu bercerita tentang Vania yang membuat moodku kesal tiba-tiba.

"Terus udah gitu--"

"Mos, lo tuh beneran suka ya sama dia?" potongku.

Kali ini Mores salting sendiri, "Gimana ya Bel, iya sih gue suka sama dia. Tapi dia sukanya sama Kemal"

Tepat dugaanku, bisa dilihat cewek itu walaulun pendiam tapi sebenernya tergila-gila dengan Kemal. Dia juga berani menuduhku dekat-dekat dengan pacar orang. "Terus Kemal juga suka sama dia?" tanyaku.

Mores menggeleng, "Gue nggak pernah tau kisah asmara tuh cowok. Dia juga nggak suka cerita-cerita masalah itu ke gue. So sampe sekarang gue nggak tau dia suka sama siapa." balas Mores, "Padahal ya Bel, sekali kedip banyak banget cewek yang mau jadi pacarnya. Secara dia itu ganteng, tajir, pentolan sekolah, siapa coba yang nggak mau punya pacar kayak dia? Sayangnya dia suka rada tertutup masalah cewek"

Aku mangut-mangut, Kemal memang punya semuanya. Ganteng, tajir, tinggi, jago berantem. Tapi sayangnya dia bego dan berandalan, batinku. "Kemal tuh sebenernya kayak gimana sih kalo lagi diluar sekolah? Lo kan suka nongkrong bareng dia" entah kenapa, aku penasaran dengan pertanyaanku itu.

Mores berpikir sejenak, "Intinya dia satu dari puluhan anak berandalan. Unik, pokoknya beda banget deh dari yang lain"

"Maksud lo?"

"Iya. Di luar sekolah, biasanya gue sering nongkrong bareng dia dan anak-anak kelas sebelas dan dua belas. Tempat nongkrong kita itu di  warung mie ayam yang deket dengan kosan cewek. Biasalah lo tau kayak gimana cowok-cowok sering ngegodain mbak-mbak kosan. Setiap ada cewek lewat, semua orang ngegodain kecuali Kemal yang hanya ketawa-ketawa aja. Jadi nggak salah kalo cewek-cewek lebih suka sama Kemal secara dia berandal tapi nggak banyak tingkah."

Ya, dia emang beda dari kebanyakan cowok.

Aku dan Mores memasuki perpustakaan dan langsung menaruh buku-buku yang tadi sempat dipinjem. Setelah pamit, kami berdua pun keluar lagi dari perpustakaan. Ternyata ada Vania yang sedaritadi berdiri entah sejak kapan.

"Gue mau bicara sama lo, Bel." ujarnya cepat.

Aku menoleh ke arah Mores yang wajahnya langsung memerah karena cewek yang dia taksir ada di hadapannya. "Mos gue duluan ya, kalo masih ada Helen dan Keenan bilang aja mereka pulang duluan." kataku lalu pergi mengikuti Vania.

Kami sampai di koridor sepi dekat lapangan basket indoor, "Kenapa?" tanyaku langsung to the point.

"Gue udah pernah bilang jangan deketin Kemal, apa lo budek?" Kulihat ekspresi wajah Vania berubah serius.

Aku hanya memutar bola mata, "Gue juga pernah bilang, emang lo siapa dia?" balasku sengit.

Kedua tangan Vania terkepal, "Gue nggak segan-segan beri lo pelajaran kalo lo hirauin peringatan gue!"

Aku hanya menatap tajam ke arah cewek itu sambil berjalan mendekat, "Gue nggak takut" lalu membalikkan badan dan pergi.

"Brengsek lo Bella Natasya! Pantes aja lo putus sama Al kalo kelakuan lo kayak gini?!"

Langkahku terhenti, aku berbalik dan berjalan mendekatinya. "Lo nggak tau apa-apa tentang gue! Jadi jaga bicara lo!" bentakku.

Vania mengambil botol minum yang tergeletak di lantai dan langsung mengguyurkan isi airnya ke arahku, tapi dengan cepat aku menahannya sehingga cewek itu yang terkena guyuran air. Mau tidak mau membawa seragamnya sedikit basah dan roknya terciprat air. "Kurang ajar!!!" jeritnya histeris.

"Jangan paksain diri lo buat dapet perhatian Kemal, karena jelas-jelas cowo itu nggak suka sama lo." kataku lalu pergi.

"Sialan lo! Awas aja gue pasti bakal bales perbuatan lo ini!" seru Vania.

Aku terus melangkah seama  pura-pura tidak mendengar kata-katanya.

Continue Reading

You'll Also Like

8.9K 5.8K 36
perang "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan keci...
20.1K 685 75
BLURB! Ternyata dunia ini benar-benar sempit. Luka lama yang kukira sudah sembuh, datang lagi tanpa aba-aba. Namaku Anita, seorang ibu tunggal yang b...
7.3K 378 20
Amelia masih memiliki cerita, kenangan, dan ingatan yang disimpan sendiri Mencintai seseorang bertahun-tahun Mencoba merubah diri Segala usaha ia la...
2.3K 186 16
Kebersamaan dapat membuka celah dihati seiring berjalannya waktu. Berada disampingmu itu sebuah kenyamanan bagiku. Kamu yang selalu sabar, kamu yang...
Wattpad App - Unlock exclusive features