Extraordinary Love

By OlynKim

999K 20K 247

[SEBAGIAN PART DIHAPUS UNTUK KEPENTINGAN PENERBITAN BUKU] Tiffany Miller. Gadis itu hanyalah seorang gadis be... More

Personal Assistant
Charm
This is not right..
Jealousy
Blush
Paris!
Suddenly Sweet
Chopper
Personal Island
Back To NY
Barbeque!

Meet..

89.6K 2.3K 25
By OlynKim


All Right Reserved

**

Aku menatap ribuan bulir air yang berjatuhan dari langit di pagi hari yang gelap sambil sesekali merutuk karena hujan masih belum berhenti sejak tadi padahal aku sudah terlambat ke kantor.

"Tif! Apa yang kau lakukan?" Adik perempuan ku, Ellie berdiri disana. Dia tampak rapi dan cantik dengan rok pensil hitam dan kemeja putih yang membungkus tubuhnya dengan sempurna.

"Menunggu hujan reda," jawabku singkat.

"Tutup jendela nya dan masuklah. Kau bisa sakit," omelnya. Terkadang dia bisa menjadi sangat dewasa hingga kadang aku berpikir mungkin akan lebih baik jika Ellie menjadi kakakku saja.

Aku menutup jendela dan berjalan ke ruang tamu bersama Ellie.

"Oh ya, sebentar lagi Julian akan datang menjemputku. Dia naik mobil. Kau mau tumpangan? Kita searah," ucap Ellie sambil menggigit selembar roti tawar, tangannya yang kosong ia gunakan untuk mengacak tas hitamnya, mencari sesuatu mungkin.

"Apa tidak merepotkan? Aku tidak ingin menggangu kalian tapi aku sudah telat," sejujurnya aku bukannya takut mengganggu acara 'lovey-dovey' Ellie dengan pacarnya -Jullian, aku hanya malas dijadikan obat nyamuk nantinya.

"Tentu. Ayo bersiap, dia sudah mau sam--" belum juga Ellie menyelesaikan kalimatnya, suara klakson mobil membuat kami membereskan barang-barang lalu memakai sepatu dan berjalan pelan ke halaman depan.

Aku melihat sebuah mobil ferrari berwarna biru tua berada didepan halaman rumah. Ada Julian yang sudah menunggu kami -atau Ellie tepatnya- dengan senyum lebar.
Aku membuka pintu mobil mahal yang tampak mengkilat itu dengan hati-hati.
"Hai tif! Long time no see, how's life?" Julian menyapaku dan tersenyum manis.

"Hai julian, life is great," balas ku singkat tanpa mau repot-repot menanyakan kembali. Just, he looks so fine, so its fine.

Julian sibuk berbincang dengan Ellie hingga tiba-tiba Julian bertanya padaku,

"Kau bekerja dimana sekarang?"

"Aku? SC company. Bagian akuntansi," aku lumayan bangga saat menjawab 'SC company' karena perusahaan itu cukup -ah tidak, bukan cukup, tapi sangat terkenal. Ada ribuan orang yang berharap untuk bisa bekerja di SC, bahkan saat aku menunggu di waiting room saat akan interview, ada seorang pria disebelahku menyeletuk
'Jadi cleaning service disini pun aku rela.'

"SC? bagaimana kau bisa masuk kesana? Perusahaan ayahku beberapa kali pernah bekerja sama dengan perusahaan itu," sahut Julian. Tidak heran. Dia adalah calon CEO dari suatu perusahaan yang setahuku begerak di bidang periklanan. Cukup besar.

"Awalnya aku hanya iseng mengajukan surat lamaranku. Tidak disangka aku diterima meskipun harus melakukan beberapa wawancara dan test yang cukup rumit dulu. Saingannya begitu banyak. "

"Beruntung kau. tahun lalu temanku bahkan ditolak hampir lima kali."

"Ya, karena banyak yang melamar. Itu kan perusahaan otomotif terbesar kedua di dunia," celetuk ku dengan bangga nya.

"Sejujurnya aku tidak percaya kakakku yang modelnya malas begini bisa masuk SC," komentar Ellie dengan wajah mengejek yang membuatku sontak memukul kepalanya dengan tas ku. Dia meringis kesakitan dan Julian menertawai kami.

"Dan bekeja disana pasti gajinya tinggi."

"Lumayan." Balasku terkekeh.

Setelah cukup lama Ellie dan Julian berbincang ringan, Tiba-tiba Julian berkata padaku

"Omong-omong CEO SC itu teman ku."

"Kau berteman dengan pria tua berkepala botak dengan senyuman ramah?" Tanya ku dengan wajah mengejek. Sejujurnya aku tidak tau bagaimana rupa CEO tempat ku bekerja, aku baru bekerja selama beberapa bulan dan kabarnya CEO itu pindah ke perusahaan cabang di Jepang sejak delapan bulan yang lalu. Tapi, bukannya kebanyakan pemimpin perusahaan ciri-cirinya seperti itu yah? Pria setengah baya yang menyebalkan gitu deh.

Julian menatapku dengan wajah shock. Tampaknya dia hampir mengerem mendadak mobil mahal nya.

"Memangnya kenapa?"

"Kau tidak tau CEO SC?" Tanyanya

Aku menggeleng

"Apa dia tidak seperti yang ku deskripsikan?"

"Tentu saja tidak!"

"Lalu bagaimana rupa nya?"

"Tidak. Lupakan. Kau lihat sendiri saja nanti."

Setelah itu aku tidak bersuara lagi.
Mobil melaju membelah jalanan, Julian dan Ellie lagi-lagi menjadikanku nyamuk mereka.

Aku meregangkan otot tanganku dengan bosan,
Sejujurnya aku lelah sekali. semalam aku lembur sampai jam dua belas dan berkat dokumen dokumen sialan itu jadi aku hanya tidur lima jam jadi aku berusaha menutup mataku meski hanya sebentar.

"Tif! Sudah sampai." Ellie berkata dengan lembut membuatku segera membuka mata ku dan berlari kecil keluar mobil setelah mengucapkan terimakasih dan pamitan

Hujan sudah reda.

Sambil menunggu lift, aku mematut diriku di pintu lift. Aku mengenakan rok hitam sedikit diatas lutut dengan kemeja berwarna senada serta tidak lupa flat shoes hitam dengan hak sekitar empat centimeter. Kenapa aku jadi seperti agen agen di film-film yang mengenakan pakaian serba hitam? Ugh lupakan.

Aku kembali melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tanganku, aku sudah telat tiga puluh menit. Tidak sempat lagi.

Aku berlari dan menaiki tangga darurat. Aku tidak yakin bisa sanggup sampai keatas karena kantor ku berada di lantai sembilan. Aku terus berlari melewati tangga demi tangga hingga sampai di lantai tujuan.

Aku sampai di lantai sembilan hanya dalam lima belas menit! Oh, sial aku sudah telat empat puluh lima menit!

Aku membuka tangga pintu darurat
dan berlari ke ruangan dimana karyawan bagian divisi akuntansi berada sambil mengendap tidak memerdulikan penampilanku yang sudah berantakan dan nafas tersengal seperti habis lari marathon.
"Hah, untung saja Mrs.Pam tidak ada," gumamku melihat sekeliling sambil terus mengendap endap.
"Ya kau benar, jika dia ada. Kau pasti sudah dimarahi," bisik sebuah suara.
"Ya, dia galak sekali. Tapi--"
Tunggu.. aku sedang berbicara dengan siapa?
"BERANI SEKALI KAU NONA MILLER!" Uh-oh.. itu adalah Mrs.Pam. Kerja bagus Tiffany!
"TELAT DAN MENGATAI KU SEKALI LAGI. KAU DIPECAT!" bentak mrs. Pam
"Maaf, aku tidak bermaksud.. aku menyesal.. Maaf."
"Kembali ke meja mu. Akan ada pengumuman penting sebentar lagi," ucapnya tajam.
Aku merapihkan rambutku.
"Maaf, Aku benar-benar tidak berniat terlambat dan mengatai anda. Aku bersumpah tadi hujan begitu deras jadi--"
"Tidak ada tapi-tapi. Untung saja kau tidak kupecat! Dan kau harus lembur untuk seminggu kedepan."
"Tapi--"
"PERGI KE MEJA MU SEKARANG!"

Aku sial sekali hari ini. Ahh jika tadi tidak hujan aku pasti tidak akan telat dan dibentak didepan semua karyawan. Malu nya.

"Baiklah. Aku benar-benar menyesal. Maaf." Ucapku membungkuk dalam.

Aku berjalan lesu ke meja ku dan mendapati Richard menatapku sambil menahan senyum.

"Hallo, Miss Late." Ejek Richard Fox, salah satu rekan sekaligus sahabatku yang katanya paling tampan dari divisi kami melihatku dengan tatapan minta dimutilasi.

"Kau tau hujan kan! Tidak usah memberikan tatapan menyebalkan mu it Mr.Fox!" Ucapku melemparkan gulungan kertas ke wajahnya.

"Kau-"

"Perhatian! Kalian semua segera bersiap-siap ke aula gedung. CEO kita akan pindah ke gedung ini hari ini jadi kita harus menyambutnya, dia sedang dalam perjalanan jadi cepatlah. Dan.. tolong perhatikan penampilan kalian. Terutama kau, nona Miller!" Mrs.Pam menatapku tajam membuatku menciut.

"Ba-ba- baik."

Aku pergi ke toilet wanita dan menatap diriku di kaca. Sialan, aku memang sangat berantakan.
Dengan terpaksa aku hanya menggerai rambut pirang terang alami ku dan menyisirnya agar terlihat rapi.
aku memakai bedak tipis dan liptint cherry. Setelah merasa diriku sudah cukup rapi, aku keluar dari toilet wanita dan merasa seseorang menarik tanganku.
Richard.

"Kau ini lama sekali! Kita harus cepat turun." Omel nya padaku.

Lift terbuka dan kami berdua langsung masuk kedalam.

Ting!

Aula di lantai satu sangat ramai oleh karyawan yang sudah berbaris dengan rapi. Aku mendengar bisik-bisik dari para wanita disini
"Hey, katanya CEO kita itu sangat tampan," ucap seseorang wanita entah dari divisi mana sambil terkikik
"Ya, aku pernah melihat fotonya. dia sangat seksi!" balas lainnya.
"Katanya dia seorang Player!" Ucap seorang perempuan yang tidak jauh dari ku sambil terkikik genit.
"Banyak juga yang bilang dia suka one night stand," ujar lainnya.
" Terserahlah, tapi dia sangat menggoda imam. Kuharap aku bisa menjadi pacarnya."
"Bermimpilah kau," sahut lainnya terkekeh.

Aku memutar mataku jengah.
Oh jadi CEO kami bukanlah pria tua botak seperti yang ku pikirkan?
Ah, aku jadi penasaran setampan apa sih dia?
Memang sih, akan sangat mudah aku mengetahui bagaimana wajahnya hanya dengan mengetikkan nama nya di Google, secara dia itu pemimpin dari perusahaan idaman tiap karyawan. Tapi sayangnya rasa penasaranku tidak sekuat itu. aAku tidak mau repot menghabiskan waktu enam puluh detikku hanya untuk research tentangnya.

aku langsung masuk ke barisan paling belakang. Sedangkan Richard sudah pergi ke bagian barisan pria. Tiba tiba Mrs. Pam menarikku untuk berdiri paling depan.

"A--"
"Diam dan berdiri saja disini." Dia menatapku tajam membuat nyaliku ciut.
"Baik."

Tidak lama kemudian, terdengar derap kaki yang kuyakini pasti si CEO itu. Bisa kudengar gadis-gadis dibelakang ku berbisik dan tertawa terkikik. Sementara aku hanya menunduk menatap sepatu ku.

Kami semua membungkuk sopan. Aku menatap orang itu. Ya benar. Dia memang tampan. Tubuhnya cukup tinggi, dada bidang dan lengan kekar nya terbentuk sempurna dibalik jas armani nya, aku berani taruhan perutnya pasti kota-kotak. Mata coklat tajam nya memperlihatkan tatapan mengintimidasi yang membuat siapapun tunduk, rambut spike nya terlilhat rapi dan bibir penuhnya benar-benar membuatku gila. Dari sini juga terlihat rambut-rambut tipis di sekitar dagu kokoh nya menambah kesan seksi.

Physically, He's definitely perfect! Aku beri dia sepuluh dari sepuluh.

"Saya Christopher Stan Cliffton. Mohon kerja sama nya," ucap nya datar dengan tatapan angkuh. tapi kenapa ngomong nya irit banget? Nilai nya ku turunkan dari 10/10 jadi 5/10.

Aku menatapnya tidak suka. Ih! Aku sudah ilfeel. Tidak jadi suka sama dia deh.

Aku mengalihkan wajah ku dan cemberut.

Karena semua orang di Lobby mendadak hening, mendadak pikiranku melayang ke semua kejadian mulai tadi pagi, kalau dipikir lagi hari ini aku sial sekali ya? pagi-pagi sudah hujan, dan aku terlambat lalu aku harus naik tangga dari lobby sampai lantai sembilan dan dimarahi mrs.Pam dan kedatangan CEO menyebalkan yang sudah tidak kusukai padahal berbicara saja tidak pernah.

"Apa yang kau lakukan," Aku mendengar Mrs.Pam berbisik.
Aku mendongakkan kepalaku dan sadar bahwa semua orang disini memperhatikanku termasuk CEO itu. Great! Aku baru sadar karena terlalu kesal tanpa sadar aku menghentakkan kakiku cukup keras.

"Emm,, Maaf. Maaf," Aku membungkuk berkali-kali dengan wajah yang sudah memerah. berharap mereka berhenti memandangku dan benar saja itu terjadi. Tapi tidak dengan pria itu. Dia tetap menatapku dengan pandangan menusuk dan dingin. Awalnya aku balas menatapnya selama beberapa detik.
Namun, begitu teringat kata 'dipecat'. aku langsung mengalihkan pandanganku dan menghindari tatapan tajam yang menusuk namun mempesona itu.

**

"Hey. Kau ini kenapa? Oh tuhan, aku tidak bisa membayangkan betapa malu nya kau tadi. Aku sampai tidak bisa menahan tawa ku saat melihat wajah mu yang memerah," Richard, si gila itu tertawa terbahak-bahak sambil memukul meja.
Aku mengambil gulungan kertas brosur di meja ku dan memukul kepala nya membuatnya meringis kesal.

"Kenapa kau memukulku?!"

"Kau yang salah. Siapa suruh berani menertawakanku!"

"Kau yang--"

"Terserah! Aku mau beli kopi. Kau mau?"

"Tidak. Ah ya, setelah ini aku langsung balik ke ruanganku ya. Kau bisa balik sendiri kan?"

"Ada apa memangnya? Ini kan masih jam makan siang."

"Kau lupa ya? Aku kan mengambil cuti semalam. Jadi pekerjaan ku menumpuk."

"Ah ya sudah. Bye."

Aku berjalan menuju kasir dan memesan secangkir latte.

"Terimakasih." Setelah memberikan beberapa lembar uang, aku berjalan cepat keluar cafe itu sambil sesekali menyeruput kopi ku.

Brakk

"Sial! Panas!" Aku dan orang yang kutabrak sama-sama mengumpat. Dengan kata-kata yang sama pula!

Aku mendongakkan kepala ku melihat siapa yang menabrak ku.

"Ah?" Gumamku pelan. Sial. Aku menabrak bossku!
Oh tidak. Kali ini aku harus mengesampingkan gengsi ku.

"Maaf." Aku membungkuk dan berniat segera beranjak.

"Hey. Kau harus tanggung jawab."

"A.. apa?"

"Ya. Ganti jas ku dengan yang sama persis. Atau setidaknya bersihkan noda ini. Kau cuci atau apakan terserah." Dia membuka jas nya menyodorkan padaku.

Aku mensipitkan mata menatapnya geram. Dia ini kan CEO SC company! Pastinya dia itu kaya dan punya banyak pelayan dan satu ton jas. Kenapa harus menyulitkanku seperti ini sih.

"Baiklah. Besok akan saya antarkan ke ruangan bapak," Aku mengambil jas itu dari tangannya dan permisi pergi secepatnya.

Continue Reading

You'll Also Like

413K 10.9K 38
Karena kematian orang tuanya, dan lelah dari pekerjaan paruh waktunya, Sarah memutuskan untuk mencari pekerjaan sebagai sekretaris CEO di sebuah peru...
1.9K 160 23
-- karena setiap kejadian dalam hidup adalah sebuah keajaiban yang harus kamu syukuri -- Danela, wanita lulusan harvard yang melamar kerja di Jeffers...
20.9M 1M 64
COMPLETED Highest Rank: #1 in Romance 09.01.2017 #3 in Romance 23. 08.2019 (Beberapa Part Sudah dikunci, follow akun nuna dulu, lalu masukan kembali...
1.9K 5 18
Ariella "Ella" mencengkeram dadanya dengan napas yang terengah-engah, berusaha berteriak, namun tangan tak terlihat menutup rapat mulutnya. Di hadapa...
Wattpad App - Unlock exclusive features