Dear Diary,
Hari ini sama saja dengan hari lainnya. Nothing special; tidak berubah sedikitpun. Tidak ada kesenangan, begitupun kesedihan. Yang ada hanya kebosanan dan kekosongan. Aku merasa hidupku terlalu flat. There are no ups and downs in my life, only a flat-horizontal line. Sometimes I wonder how will it be if something's changed. Will I be happy with it? Or instead, being sad? But I guess, aku tidak akan menemukan jawabannya dalam waktu dekat. I mean, how could my life change that fast? Is it possible?
Buk! Kututup diariku asal-asalan. Hari ini sungguh melelahkan (re: membosankan). Aku mau tidur saja ah, siapa tau aku bisa memimpikan hal yang sangat indah, sampai-sampai nggak mau bangun lagi. HAHAHA.
Tapi, mencoba tidur dalam kondisi bosan seperti ini sangatlah susah dan tidaklah mudah, ternyata. Otakku yang kupaksa beristirahat malahan semakin keras saja bekerja, membuatku mengingat hal yang tidak seharusnya kuingat. Anganku berkelana kemana-mana. Imajinasiku semakin menjadi-jadi.
Kalau saja hal itu tidak terjadi...
Kalau saja mereka bukan mereka...
Semuanya pasti akan berbeda. 180 derajat dari keadaanku sekarang. Aku mungkin akan menjadi seorang cewek manis dan cheerful yang murah senyum. Bukannya aku yang sekarang, cewek pemurung yang kesepian dengan ekspresi do-i-look-like-i-care terpasang di wajahnya.
Apadaya, imajinasi hanyalah imajinasi.
"Dan yang berlalu biarlah berlalu. Yang sudah terjadi, janganlah disesali. Tidak baik."
Tanpa sadar, aku menggumamkan pesan yang selalu kuingat itu. Ah, jadi kangen mama. Coba saja aku sekarang bisa ada di samping mama, bercerita tentang segala hal. Tapi aku harus bisa bertahan, tidak lama lagi, kok, batinku. Ya, aku pasti bisa. Aku kan cewek strong.
Oh ya, pardon me for not introducing myself first. Jadi, um, hai, namaku Brooklyn. Brooklyn Alexandra, lebih tepatnya. Untuk saat ini, aku tinggal di London bersama Uncle Steve, Aunt Steph, dan sepupuku, Abigail. Kedua orang tuaku berada di Indonesia. Mereka mengirimku ke sini untuk melanjutkan sekolah. Aku berusia 20 tahun dan sedang menjalani tahun ketigaku di salah satu dari banyak medical school ternama di London. Yep, i am a doctor-soon-to-be! Aku masih harus bertahan 3 tahun lagi untuk bisa menyelesaikan studiku dan pulang ke Indonesia membawa gelar yang disisipkan di namaku dan membanggakan keluargaku. Semoga semuanya berjalan lancar seperti seharusnya, agar setidaknya ada 1 hal lagi yang bisa kutambahkan di dalam daftar "Wonderful Things Happened in Life" punyaku.
Sama halnya denganku, Abby, sepupuku juga sedang menjalani tahun keduanya di universitas. Bedanya, dia mengambil jurusan Art & Sciences. Abby merupakan sepupu sekaligus teman dekatku. Teman dekat di sini artinya sedikit banyak dia tahu gambaran kasar masalah yang kualami dalam hidup ini. Walaupun begitu, sosok Rain tetap tidak tergantikan.
Raina Claresta, yang akrab dipanggil Rain adalah sahabatku sejak SMP. She's my sister from another mother. Kami itu seperti kembar siam. Dimana ada dia, di situ ada aku. Semestinya. Namun, dikarenakan tujuan sekolah kami yang berbeda, kami harus terpaut jarak yang jauh. Sang calon psikolog tersebut sekarang berada di Amerika. Aku kangen sekali kepadanya, sudah berapa bulan lamanya sejak terakhir kali kami bertemu saat pulang ke Indonesia. Kami juga sudah tidak terlalu sering berkomunikasi akibat kesibukan masing-masing. Tetapi, mengutip apa yang orang bilang, "True friendship is not being inseparable. It's being separated and nothing changes."
And that's exactly what happen to me and Rain.
Terpisah ribuan kilometer dari kampung halamanku tercinta, Indonesia, membuatku seringkali merasa rindu terhadap orang yang seharusnya tidak kurindukan. Orang yang dulunya sangat dekat dan sangat penting bagiku. Tapi itu dulu, sudah berlalu. Dan jika bisa memilih, aku tidak ingin pernah bertemu lagi dengan orang itu. Well, sesuatu terjadi dan BOOM! Semuanya pun berubah. Tapi hidup tetap berjalan.
We keep going, we move on.