KEMAL NATHAWIJAYA
"Ngapain juga lo tau? Kalo entar sakit hati gimana?"
"Lo beneran suka sama Aldrian?"
Entah kenapa, pertanyaan itu terlontar begitu aja dari mulut gue. Walau sebenernya gue nggak tau kenapa gue bertanya begitu, tetap saja itu memancing rasa keingintahuan gue.
Gue memandang cewek mungil yang sekarang berada beberapa langkah di depan gue. Cewek dari puluhan cewek yang gue kenal. Tapi cuma dia yang bisa ngebuat efek besar buat gue sendiri. Entahlah. Dia cantik, dia rajin, dia baik terkecuali buat gue, dia lucu, tapi bukan itu yang menarik perhatian gue. Dan sekarang gue bener-bener bisa bilang kalo gue suka sama Bella. Dia satu-satunya cewek yang selalu bisa ngebuat jantung gue berdetak kencang.
"Menurut lo gue pacaran sama dia, tandanya gue suka apa nggak?" Bella balik bertanya.
Ya suka. Udah jelas banget lo suka sama dia. Dasar bego, ngapain pake gue nanya itu segala?
"Kenapa tiba-tiba lo nanya begitu?"
"Nggak kenapa-kenapa" jawab gue lalu duduk menyender tembok.
"Gue bingung deh sama lo, sebenernya lo itu..." Bella berjalan mendekat dan langsung duduk di samping gue, "Sebenernya lo itu siapanya Vania sih?"
Gue sedikit tersentak, "Temen. Kenapa? Lo cemburu ya?" gurau gue.
"Nggak, gue serius. Dia tuh siapa elo?" tanya Bella yang terlihat penasaran.
"Ya dia temen gue. Waktu itu dia pernah bilang kan kalo dulu dia juga pernah sekolah disini--"
"Dan dulu ternyata lo itu deket sama dia?" timpal Bella.
"Ya gitulah,"
"Gue nggak tau loh kalo dia pernah sekolah disini dan deket sama lo..."
"Ngapain juga lo tau? Kalo entar sakit hati gimana?"
Bella hanya memandangku sejenak, lalu ekspresinya berubah kesal sambil menjitak kepala gue, "Dasar playboy!"
Gue langsung tertawa, "Sekali lagi gue bukan playboy seperti yang sering lo bilang. Buktinya, lo pernah tau mantan gue siapa aja? Nggak kan? Karena gue emang belum pernah pacaran"
Bella melotot mendengarnya, seakan nggak percaya dengan kata-kata terakhir yang gue ucapin, "Se..serius lo?"
"Ya enggaklah, bodoh!" Gue langsung mencubit pipinya gemas. "Tapi asal lo tau aja, gue bukan playboy."
Bella mengelus-elus pipinya karena tadi gue cubit, "Gue nggak pernah liat lo deket sama cewek, jangan-jangan lo homo ya?" tanyanya dengan tatapan menyeledik.
Gue kembali mencubit pipinya sehingga membuat cewek itu memukul gue, "Oohh jadi menurut lo, lo itu cowok? Sekarang kan lo lagi deket sama gue..."
"Ehh--"
Gue membisikkan sesuatu pada telinga cewek itu, "Gue suka sama lo Bel"
Dan jelas aja, cewek itu langsung menoleh ke arah gue dengan ekspresi wajah kaget dan berubah jadi merah. Gue makin tertawa geli lalu membisikkan sesuatu lagi padanya, "Tapi gue boong, maaf ya"
"Apaan sih! Nggak lucu tau! Lo tau gue hampir mati kalo deket sama lo!" seru Bella sambil melipatkan tangan di dada.
"Siapa juga yang ngelawak? Lo kira gue lenong? Hahahaha! Bilang aja lo salting kan kalo gue godain??" goda gue sambil menunjuk-nunjuk cewek itu.
Wajah Bella bertambah merah, "Si..siapa juga yang salting! Elo kali yang salting! Buktinya gue nggak terpengaruh dengan tatapan 30 detik lo itu kan?" jelas Bella. Melihat gue yang tiba-tiba diam, dia langsung tertawa penuh kemenangan, "Nah! Sekarang siapa yang salting??"
Gue hanya terdiam sejenak, lalu kembali menyunggingkan senyum jail, "Gue yakin pasti kali ini lo bakal suka sama gue!"
"Idih kepedean banget! Mending gue sama Mores daripada elo!" celutuk Bella.
"Yakin?? Gue jauh lebih ganteng loh dibanding Mores"
"Dasar cowok tebar pesona, lo kira lo ganteng apa? Ngaca dulu sono!"
Gue hanya tertawa geli, "Buktinya, banyak kok yang suka sama gue. Tinggal gue kedipin mata, bidadari langsung banyak yang nempel. Bu Bekti sekalipun bisa gue godain, tapi sayangnya udah tua sih"
"Dasar cowok sok ke--"
"Kemal?"
Gue dan Bella langsung menoleh ketika Vania tiba-tiba nongol entah sejak kapan. "Ngapain disini? Bukannya--"
"Gue sama Bella kabur. Ohh ini tuh udah bel ya? Yaudah deh gue ke kelas dulu ya"
"Jadi ini alasan semua perubahan kamu ke aku? Kamu suka sama Bella kan?"
Langkah gue terhenti begitu mendengar Vania berkata begitu, gue membalikkan badan dan cewek berambut panjang itu menatap tajam ke arah gue. "Lo ngomong apa sih?" tanya gue pura-pura nggak ngerti. Gue melirik Bella yang tampak berdiri mematung di belakang Vania.
"Kamu udah janji buat jadi pacar aku! Kenapa kamu masih deket-deket sama dia?" seru Vania yang sepertinya marah karena nada bicaranya sengaja ditinggikan.
"Pacar?" Kali ini Bella ikut bersuara.
"Heh! Denger ya! Jangan jadi cewek menel yang hobi deket sama pacar orang! Lo sendiri udah punya pacar kan?" Bentak Vania kepada Bella.
"Apa-apaan sih Van? Siapa yang jadi pacar lo?" gue buru-buru menahan cewek itu kalau dia berbuat lebih kepada Bella.
"Kamu udah janji sama aku, kamu bakal jadi pacar aku. Ngapain kamu deket sama dia? Kamu suka sama Bella?" Tanpa sadar, air mata Vania bobol dan dia segera mengusapnya kasar.
"Asal lo tau ya, gue nggak pernah menel ke cowok. Kalo lo bilang dari dulu Kemal udah punya pacar, gue juga nggak bakalan deket sama dia." balas Bella lalu beranjak pergi.
Gue segera menarik tangannya tapi dia melepaskannya dengan kasar, "Nggak usah deket-deket gue lagi, yang ada selalu ada masalah" cewek itu pun pergi.
Gue hanya menghembuskan napas berat lalu menatap tajam ke arah Vania, "Mau lo apa sih? Lo mau ngerusak hidup gue? Lo mau ngatur-ngatur hidup gue? Gue deket sama siapa kek, suka sama siapa kek, itu bukan urusan lo!"
"Aku cuma mau kamu jadi pacar aku, itu aja. Lagipula kamu udah janji ke aku. Kamu bakal sanggupin apapun itu janjinya. Dan sekarang aku minta kamu pacaran sama aku, kenapa kamu nggak nepatin janji kamu?" balas Vania cepat. "Kamu nggak tau? Sulit banget buat aku dapetin perhatian kamu! Kamu malah asyik dengan dunia kamu sendiri, kamu nggak mikirin kehadiran aku. Kamu lebih milih deket sama cewek yang jelas-jelas udah punya pacar!"
Tanpa terasa, gue sudah mengepal kedua tangan. "Lo juga mikir buat elo sendiri. Lo nggak mikirin gue. Lo nggak mikirin apakah gue mau pacaran sama elo. Apakah gue masih mau nerima kehadiran lo disini. Lo cuma mikir buat kesenangan lo sendiri."
"Lo tau? Di dunia ini, kehidupan tuh nggak ada yang konsisten. Semua pasti berubah. Begitu juga perasaan gue ke elo. Semua bisa berubah. Lo yang duluan pergi gitu aja dan ketika lo balik kesini, lo maksa gue buat jadi pacar lo? Asal lo tau, sesuatu yang dipaksakan itu pasti hasilnya nggak bakal baik."
Vania hanya terdiam mematung, seakan omongan gue barusan benar-benar menamparnya.
"Tapi lo udah janji Mal..."
"Gue bilang bakal gue usahain apapun itu janjinya. Gue nggak bilang bakalan sanggup."
Vania hanya menatap gue sejenak lalu dia pergi tanpa bilang apa-apa setelahnya.
***
Gue mengambil beberapa coklat batangan dan bunga mawar yang membuat gue bersin-bersin lantaran disemproti parfume yang begitu menusuk dari loker.
"Woi Mal, si Sakti ngajak main poker di rumahnya malem ini. Lo bisa nggak?" seru Mores dari luar kelas.
Gue mangut-mangut sambil berpikir siapa Sakti. Oh! Gue inget. Kakak kelas yang dulu pernah sekomplotan sama gue. "Tumben banget dia ajak adek kelas main poker lagi?" Ya, kebetulan. Waktu gue kelas sepuluh, gue, Mores, Agung, dan Willie pernah diajak main poker sama dia. Alhasil kita berempat selalu menang ngalahin anak kelas sebelas dan dua belas. Jelas karena gue yang ngajarin mereka bertiga taktik main poker. Bukan cuma sekali dua kali kita menang, tapi udah berkali-kali. Maka dari itu, Sakti jarang banget ngajak gue bertiga main poker lagi.
Kepala Mores nongol dari celah jendela, "Kurang tau juga sih. Tapi kan lumayan Mal kalo menang. Btw, bagi dong coklat!"
Gue melempar coklat batangan ke arah Mores dan langsung ditangkap cowok itu, "Thanks yo. Tadi gue liat Bella nangis keluar dari lapangan basket indoor. Kenapa ya tuh cewek?"
Bella nangis? Gue langsung memutar bola mata, pasti tuh cowok sialan penyebabnya. "Dia udah pulang?" tanya gue sambil memasukkan beberapa coklat batangan ke tas dan sisanya dimasukkan ke kolong meja. Sedangkan setangkai mawar yang disemproti parfume menusuk gue taruh di loker Agung--pasti besok cowok gendut itu kesenangan karena ngira kalo ada cewek yang naksir dia.
"Tadi sih gue liat dia udah keluar sekolah" jawab Mores.
Gue langsung mengambil tas dan berlari keluar kelas, "Gue duluan ya cuy!"