The Chain of Disasters [REVIS...

By faustinamelia27

3.7K 1.4K 467

Grenda mengalami banyak masalah setelah sempat berbincang dengan Citra yang sempat menangis karena sering di... More

Prologue
1
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

2

324 138 66
By faustinamelia27

Vina POV

SEHARUSNYA aku bisa menolong orang lain.

Aku dan Grenda baru saja ingin memasuki ruang serbaguna lantai 3 karena mendengar suara seorang siswi yang menangis. Sepertinya anak itu berada di sana karena tempat itu menjadi tempat yang ideal untuk bersembunyi, berhubung tempat itu tidak akan dikunjungi bila tidak ada keperluan untuk menggunakan ruangan itu. Aku pikir ini akan menjadi hal yang bagus karena sejujurnya aku adalah orang yang kepo, hehehe. Kalau kita kepo berarti kita peduli. Ya, 'kan? Sayangnya, bel masuk kelas menyebabkan kami harus menunda kegiatan ini. Aku jamin setelah ini aku akan mengantuk karena pelajaran berikutnya di kelasku adalah pelajaran PPKn. Yah, inilah nasib kelasku di hari Senin, banyak pelajaran yang membosankan, bahkan semuanya hehehe (manusiawi 'kan kalau bosan?)

Setelah aku tersuntuk karena belajar yang rasanya lama sekali apabila pelajaran yang membosankan tersebut berlangsung, aku mengajak Grenda untuk melakukan hal yang sempat tertunda saat istirahat pertama—aku kan perlu membawa partner untuk melakukan penyelidikan itu—pada saat kami semua sudah pulang sekolah. Aku dan Grenda berusaha untuk mencari siapa yang menangis tadi—seperti biasa, aku yang kepo yang mendesaknya untuk melakukan kegiatan ini—dan menuju ke ruangan tadi ketika sebagian siswa yang kelasnya di lantai ini sudah ke bawah sehingga lebih kecil kemungkinannya untuk menarik perhatian orang-orang. Kan kita berniat baik, bukan berniat jahat. Kami hanya penasaran—ralat, mungkin hanya aku yang sebenarnya sangat penasaran.

"Gren, lo udah siap?" tanyaku antusias ketika aku melihat koridor lantai 3 yang sudah mulai sepi karena cukup banyak siswa yang sudah turun ke lantai bawah—kan kalau pulang pasti lewat gerbang di lantai itu, nggak mungkin gerbangnya di atas, dikira mau terjun, apa?

"Ya, bisa lihat sendiri." Kulihat dia sudah membereskan buku-buku dan peralatan tulisnya dengan rapi. Dia memang benar-benar perfeksionis, salah satunya mengenai kerapian.

"Ayo, beraksi!" ucapku antusias. Entah mengapa aku antusiasnya kebangetan kali ini.

Oh, ya, tadi aku berhasil mengajak sahabatku yang tidak suka mengurusi kehidupan orang, lho. Dia memang memiliki prinsip "urusi hidupmu dulu sebelum mengurusi urusan orang lain. Kalau ngurus hidup sendiri aja nggak becus, gimana ngurusin orang?" yang terkadang—atau mungkin mutlak—benar. Tujuan aku kepo itu adalah ingin membantu orang lain kalau ada kesusahan. Aku sebenarnya berniat baik, kok. Aku memang kepo, tapi aku ini pendengar dan penjaga rahasia yang baik. Selama ini, rahasia yang diungkapkan Grenda kepadaku tak ada yang bocor sedikitpun karena sudah kusegel rahasianya dalam hatiku.

"Eh, Gren, kita lanjutin lagi yang tadi, yuk!" ajakku tadi.

"Ngapain? Kan udah lewat. Lagian anak itu kalau nanti baru didatengin masa masih nangis? Bocah juga kalau nangis nggak sampai berjam-jam tahu, nggak? Dia kan pasti ada kerjaan lain," balasnya terdengar sewot.

"Tapi, kalau dia nggak nangis lagi, siapa tahu kita bisa nemuin dia di ruang serbaguna tadi," balasku tak ingin kalah.

"Kalau kita masuk terus tahu-tahu bukan dia orang yang nangis?" tanyanya.

"Ya makanya itu jadi misi kita kalau lo ikut. Gue kan seperti biasa jadi orang kepo, tapi feeling gue nggak enak soal itu anak. Gue yakin kayaknya dia ada masalah di sekolah ini sampai-sampai dia ngumpet di ruang sergun buat nangis doang. Kan lo tahu kalau kepo itu bermanfaat asal ingin membantu orang yang mungkin kesusahan. Jadi, kita sebagai manusia kan makhluk sosial, perlu saling membantu." Oke, ocehanku kali ini mungkin terdengar seperti ceramah. Aku melihat Grenda yang mungkin tidak mengindahkan seluruh kata-kataku karena terlalu panjang. Ya sudahlah, aku sebenarnya berniat baik.

"Ya udah, ayo!" balasnya terdengar menyerah dan terpaksa. Akhirnya!

"Hore!" Spontan aku berteriak. Namanya juga senang, hehehe....

Sip, sekarang kami akan menjalankan aksi kami. Kami akan berusaha berjalan dengan santai supaya tidak disangka siswa lain bahwa kami ingin melakukan sesuatu yang jahat kepada orang lain. Kami berjalan perlahan menuju ujung koridor dari arah kelas kami—yang jelas melewati toilet tadi—dan akhirnya kami sekarang berada di depan ruang serbaguna itu. Kami berusaha mendengar siapa tahu ada suara siswi itu menangis lagi dan bila itu terjadi, kami akan langsung memasuki ruangan itu dan menanyakannya mengapa ia menangis. Alih-alih ada suara orang menangis, aku mendengar—mungkin Grenda juga, dia kan tidak budeg—ada suara derap langkah kaki yang semakin mendekat ke arah kami. Ya, seorang siswa yang kuketahui bernama Tyo.

"Kalian lagi ngapain?" tanyanya mungkin curiga kepada kami yang sedang berada di pojok begini.

"Lo nggak usah kepo, ah! Ini urusan pribadi kita, sana!" usirku. Akhirnya dia tidak bertanya lagi dan langsung meninggalkan kami.

Berhubung sudah tidak ada penganggu lagi, kami langsung berusaha mendengarkan sesuatu di depan ruangan itu. Ruangan itu terlihat terbuka setengahnya. Setelah kami berlama-lama di sana, tidak ada suara apapun yang terdengar. Kemungkinan besar, siswi itu sudah tidak ada di sini lagi. Benar juga kata Grenda, pasti dia tidak akan menangis lagi. Toh, kayak dia tidak ada kerjaan saja.

"Gren," ucapku pelan, "kayaknya nggak ada anak itu lagi, deh."

"Tuh kan, dibilangin apa. Pasti udah nggak ada. Logikanya aja, nggak mungkin dia masih nangis di kelas, nangisnya di-pause, terus di-resume lagi pas pulang sekolah. Kan nggak lucu, ini kan bukan dunia game yang mainnya play pause resume," omelnya.

"Iya deh, iya. Gue salah, Gren. Sebelum kita balik, mau coba masuk?" ajakku. Dia menyetujuinya—lebih tepatnya menyuruhku—dengan memberi gerakan dagu yang dimajukan ke arah ruang serbaguna untuk masuk ke dalam.

Daripada menghabiskan waktu dengan memprotes mengapa hanya aku yang masuk ke dalam, aku langsung saja masuk tanpa banyak cincong secara perlahan supaya tidak menimbulkan kecurigaan bila ada orang di dalam. Aku mendorong pintu supaya lebih terbuka secara perlahan dan melongok ke dalam ruangan itu. Ternyata tak ada seorang pun di dalam. Tak ada perubahan setelah aku melihat-lihat selama beberapa detik. Dengan pasrah, aku keluar dari ruangan itu dan menarik pintu sesuai dengan posisi awal sebelum aku masuk yaitu setengah terbuka.

Aku menatap Grenda dan menggeleng. Grenda pun berkata, "Ya udah, kita balik."

"Sori, Gren. Mungkin gue membuang-buang waktu lo," ucapku dengan rasa bersalah.

"Nggak apa-apa. Santai aja. Relain aja," balasnya.

"Padahal gue masih penasaran, sebenarnya. Menurut lo, masalahnya masalah kecil atau besar?" tanyaku.

"Bisa besar, bisa kecil. Tapi, kalau didengar dari tangisannya, tampaknya dia sedih banget. Mungkin bagi dia itu adalah masalah besar," balasnya. Aku setuju dengan pendapatnya. "Ingat, merelakan 'kan bukan berarti melupakan."

"Bener juga. Ya udah kita turun, yuk!" ajakku. Setelah itu, kami mulai berjalan menuruni tangga yang berada di dekat ruang serbaguna tadi.

Aku akan menceritakan sedikit mengenai aku dan sahabatku. Aku adalah Vina Cherryl, yang terkadang—atau bahkan sering—diledek "ceri" karena nama belakangku yang sekilas terdengar seperti ceri. Di angkatan kami, nama Vina dimiliki oleh 5 anak—pasaran banget kan namaku—yang untungnya berbeda kelas semua, kecuali aku dengan Vina yang bernama asli Vina Felisita yang sering dipanggil nasi atau Vina nasi karena nasi merupakan singkatan dari "Vina sipit"—matanya benar-benar sipit.

"Vin, langsung pulang?" tanya Grenda mendadak.

"Mungkin, kalau kita tidak menemukan apa-apa lagi." Aku tetap bersikeras setelah ini kami akan mendapatkan suatu hal yang penting.

Aku memiliki sahabat yang wow banget (pastinya si Grenda Violetta yang sangat terkenal di angkatanku). Sudah pintar (dia juara umum angkatanku), cantik, baik pula. Serius deh, aku sering minder kalau sedang bersamanya. Apalagi dia cantik banget karena dia adalah anak blasteran Indo-Jerman (darah Jermannya dari ibunya). Ya, walaupun dia juga memiliki kekurangan, aku tetap menerimanya sebagai sahabatku, kok.

Warna rambutnya adalah platinum blonde dan iris matanya—astaga, keren banget—mengalami heterochromia sentral sehingga iris mata di sekitar pupilnya berwarna coklat dan bagian luar irisnya berwarna biru. Sayangnya, ia menutupi keunikan matanya dengan menggunakan lensa kontak berwarna coklat seperti orang Indonesia pada umumnya (jangan beritahu dia kalau aku membocorkan salah satu rahasianya hehehe).

"Akhirnya nyampe juga," ucapku lumayan lelah. Padahal ini sudah kegiatan kami sehari-hari, yaitu naik-turun tangga. Grenda tidak membalas ucapanku—antara ucapanku tidak terdengar atau dia memang menganggap itu tak penting untuk dijawab.

Aku melihat ke sekeliling kami di lantai terbawah ini. Masih ada beberapa siswa yang berkeliaran di dalam sekolah. Sekolahku bisa dibilang bagus—atau bahkan sangat bagus bagi kebanyakan orang—karena fasilitasnya yang terbilang lengkap. Gedung berlantai empat yang luas, bahkan berdesain kotak ke arah dalam. Ya, sejujurnya sekolahku bertaraf nasional—bukannya aku sombong, ya. Tapi, sekolahku tidak terbilang mahal untuk ukuran sekolah yang besar dan fasilitas lumayan lengkap, juga kualitasnya yang terbilang bagus. Maka dari itu, aku memutuskan untuk masuk ke sekolah ini—mungkin bukan hanya aku yang memiliki pemikiran seperti itu.

Sampai akhirnya, aku melayangkan pandanganku ke arah seorang anak yang terlihat sedang sendirian. Aku tahu anak itu juga kelas sebelas seperti kami, bedanya dia mengambil jurusan IPS. Dia adalah Citra. Keberadaannya di sekolah ini biasa saja alias tidak terlalu dikenal. Aku melihat ada sesuatu yang menarik dari dirinya ketika kulihat ke arahnya saat ini, yaitu matanya yang terlihat sembap—patut dicurigai, 'kan? Mata sembap berarti dalam waktu yang dekat, pasti dia menangis. Aha! Apa dia yang menangis di ruang serbaguna saat istirahat tadi? Aku harus langsung memastikannya. Maka dari itu, langsung saja aku memanggil Grenda dan mengajaknya melakukan misi ini kembali, tentu saja.

"Grenda, ada hal yang menarik, nih!" kataku girang.

"Apa lagi?" tanyanya. Dari nada bicaranya, mungkin dia bete. Tak apa-apa, deh. Hal ini lebih penting.

"Itu, lihat ke arah Citra!" perintahku. Dia langsung menoleh ke arah yang kumaksud.

"Apanya yang menarik?" Aduh, masa dia tidak melihatnya?

Dia malah melanjutkan, "Nggak ada yang menarik."

Berhubung aku sudah gereget, kuputuskan langsung blak-blakan, "Itu lihat bagian matanya!"

Kulihat dia menelaah sebentar, kemudian aku rasa dia sudah menemukan hal yang menarik.

"Matanya sembap?" Aku mengangguk. Akhirnya dia sadar juga. Begini, nih, efek kepintarannya yang dahsyat. Kalau ada hal yang kurang atau tidak penting bagi dirinya, kepintarannya tidak akan terpakai.

"Kalau sembap artinya apa?" Aku berusaha memancingnya.

"Oh, iya. Berarti habis nangis." Yash! "Maksudnya, kita lanjutkan misi tadi?"

"Iya, dong. Masa main pulang aja. Siapa tahu ada hal penting," balasku. "Ayo, kita samperin dia! Mumpung dia sendirian saat ini."

Kami langsung berjalan mendekati Citra sebelum dia keluar dari sekolah. Kemungkinan besar dia belum dijemput (karena kalau dia tidak dijemput, seharusnya dia sudah pulang. Ngapain dia ada di sini? Seperti tidak ada kerjaan saja di rumahnya). Saat kami sudah dekat dengannya yang berada di dekat gerbang sekolah, kami melihat dia menatap kami berdua penuh harap karena tidak ada teman—atau bahkan mungkin menatap penuh kebingungan mengapa kami menghampiri mereka. Untuk menghilangkan hawa canggung, aku melambai-lambaikan tanganku ke arahnya dan dia membalas dengan sebuah senyuman. Berhubung aku lebih mudah bergaul dengan banyak orang, akulah yang memulai pembicaraan saat kami sudah berada di hadapannya.

"Halo, Cit. Lo belum pulang?" tanyaku berusaha ramah. Pastinya pakai basa-basi terlebih dahulu. Masa langsung tancap gas?

"Halo juga. Kalau gue udah pulang, nggak mungkin gue ada di sini," balasnya. Ternyata dia punya selera humor yang baik juga. "Kalian kenapa ke sini?"

Aku yakin dia merasa risi dengan kedatangan kami, orang yang biasanya tidak dekat dengannya. Karena itu, aku berusaha membalasnya dengan santai, "Ya nggak apa-apa. Lagian lo kan lagi sendirian. Kita nggak boleh nemenin lo, ya?"

Dia terdiam selama beberapa detik, "Boleh sih, cuma nggak kayak biasanya. Kalian kan nggak deket sama gue. Ya udah, kalian di sini aja."

Sip! Langkah awalku berhasil. Sekarang kami (atau mungkin aku saja) yang menunggu waktu yang pas untuk menanyakan hal itu. Akhirnya setelah beberapa menit, aku sudah merasa tidak sabar karena sedari tadi tidak ada yang berbicara. Rasanya canggung sekali. Mungkin sebenarnya bukan hanya aku yang merasakan ketidaknyamanan ini. Aku pikir, ini akan menjadi hal yang bagus untuk membuka pembicaraan kembali.

"Lo dijemputnya kapan, Cit?" tanyaku membuka pembicaraan.

"Hmm, mungkin bakal sampai sini 15 menit lagi." Waduh! Kalau bisa, penjemputnya jangan cepat datang. Aku mau menanyakan hal penting dahulu.

Aku memasang raut wajah simpati, "Oh, gitu. Kami bakal nemenin lo, kok." Kupikir ini saat yang tepat untuk menanyakannya, "Itu ... ngomong-ngomong, lo tadi nangis? Kalau iya, kenapa?"

Dia tidak menjawab pertanyaanku selama beberapa detik. Aku yakin dia sedang menutupi sesuatu, tetapi aku harus tetap tenang. Jangan sampai karena aku yang memaksa, dia malah tidak ingin bercerita kepadaku—ralat, kepada kami. Kalau begitu kan, yang rugi kami sendiri. Habis waktu, informasi tak didapatkan. Grenda pasti mengamuk kalau kali ini tidak ada hasil yang berarti, dan kemungkinan besar dia tidak akan menemaniku untuk menanyakan hal-hal yang menurutku perlu, menurutnya tidak—itulah yang disebut kepo.

"E-engga, kok," jawabnya terbata-bata, "gue nggak kenapa-kenapa. Santai aja."

"Ah, lo jangan coba bohong dari gue. Gue tahu tadi lo nangis. Kelihatan noh, dari mata lo yang sembap begitu. Masih berani bilang nggak kenapa-kenapa?" balasku agak nyolot. Dia tidak menjawab, berarti skakmat!

"Udah, lo cerita aja sama kami," bujukku sambil mengusap punggungnya. "Tenang aja, kami bukan pembocor rahasia orang, kok. Pasti terkunci rapat." Aku seperti memberikan garansi padanya. Tak apalah, ini supaya rencana kami berhasil.

"Janji, ya, nggak cerita ke siapa-siapa," katanya pelan. Kami mengangguk.

"Jadi, gue lagi ada masalah di sekolah ini. Gue ngerasa kesal dan emosi, tapi gue nggak bisa mengeluarkan emosi itu secara langsung di hadapan orang yang menurut gue itu adalah musuh gue. Makanya tadi gue ke ruang serbaguna," jelasnya.

Nah, kan, dia yang menangis di ruang serbaguna saat istirahat tadi!

Jackpot! Sepertinya usaha kami akan berguna dan tak sia-sia kali ini.

Continue Reading

You'll Also Like

The Killer [END] By annaa

Mystery / Thriller

18.7K 1.9K 63
[SANG PEMBUNUH] 18+ PLAGIAT DILARANG MENDEKAT ❗ *** Blurb : Katanya, tiada yang menandingi pesona Dokter Alferd, setidaknya sebelum dia tewas secara...
2.4K 155 7
Kehidupan Kanra berubah begitu takdir mempertemukannya dengan Atlaraka, seorang pemuda absurd yang terkurung dalam menara. Setelah tak sengaja mengus...
603 146 33
Di Kota Metro Lowokwaru, tempat di mana tebing-tebing menjulang seperti menatap rahasia langit, seorang pria muda ditemukan tewas di dasar jurang. Re...
Wattpad App - Unlock exclusive features