Izamiyah Nuha

By KikiSaengiSarangheyo

210 18 4

More

Prolog
2. Seoul, Love
4. Perjuangan
2. Pertemuan, pertempuran
Tamate
Ayah 3

Akhir Kyu dan Nuha

14 3 0
By KikiSaengiSarangheyo

Seoul, 2016

Bandara Incheon menjadi pusat perhatian media saat putra pengusaha sukses Kim Hyun Joong. Kembali ke tanah air. Ia mengenakan kaos biru langit, dengan jeans senada. Topi serta kaca mata tak luput ia kenakan.
Tinggi Kim Kyu Jong mencapai 186 cm. Sorot mata elangnya mampu membius ribuan wanita, dari berbagai kalangan.

Ia berjalan menuju mobil hitam panjang yang telah siap melayaninya. Ia ingin berjalan sendiri di antara kerumunan orang, namun semua itu hanya mimpi. Karena setibanya kapal yang ia tumpangi mendarat mulus, di pintu telah berdiri empat pria bertubuh kekar dengan jas hitam serta kaca mata hitam. Mirip tukang pijat. Tapi jangan salah, mereka bertubuh kekar, otak jenius, serta wajah garang. Sehingga tidak banyak yang berani mendekat bahkan sekedar untuk bertanya.

"Silahkan tuan," Ucap salah satu pria kekar. Ia membukakan pintu mobil.
Setelah Kyu Jong masuk ke dalam mobil. Keempat pria itu membungkukan badan, memandang kepergian mobil yang membawa tuannya. Mereka segera mengikuti dari belakang, dan melaju cepat tatkala sebuah mobil silver hendak menghadang mobil Kyu Jong.

Jembatan itu menjadi saksi di mana pertarungan terjadi.
Batu hantam antara pria. Kyu Jong tetap berada di dalam, ia tak perlu ikut andil. Benar dugaan ayahnya, akan ada orang yang berniat membuat masalah dengannya.

Entah motif apa yang mendasari enam pria bertubuh tegap menemui Kyu Jong dengan cara seperti itu.
Salah seorang dari Kyu Jong menghantam pipi lawan, meninju perut dan menginjak kakinya.
Sang lawan yang kalah telak langsung lari terbirit-birit.
"Kenapa kita membiarkannya pergi?" tanya salah seorang diantara mereka berempat.
"Biarkan, ini peringatan awal buat mereka."

*********

"Uang, perkataan, tindakan, semua itu saling berhubungan. Jika kita punya uang kita bisa membeli buku, entah itu buku baru atau bekas. Beli buku yang mengandung banyak manfaat. Ambil kosakata dan inti dari buku tersebut. Belajar mengolah kata dan mengembangkannya. Dan jika kita pandai mengola kata dalam kehidupan, itu bisa menjadi salah satu penghasilan kita. Seperti menjadi penulis, motivator dan lainnya. Apa kalian bisa memahami maksud kakak?."
"Ia Kak." Jawab anak-anak.
"Kak?"
"Ia? Asty mau tanya apa?"
"Kenapa Kakak mau mengajari kami? Apa Kakak ada yang bayar?"
"Kenapa Asty berfikir begitu? Kak Zam hanya ingin membantu anak-anak yang kurang mendapat pendidikan. Karena pendidikan itu penting dari sedini mungkin. Kak Zam tak perlu bayaran, bayaran tertinggi adalah keberhasilan membuat kalian pintar. Kak akan sangat bahagia. Kebahagian adalah hal yang tak bisa disamakan dengan uang. Benar bukan?"
"Ia Kak," jawab Asty.
"Dan kalau kalian pintar, kalian bisa membedakan mana yang berniat jahat terhadap kalian. Tidak akan mudah dibodohi oleh orang. Kalian ingin pintar tidak?"
"Tentu Kak, kami ingin ..."
"Kalau begitu kalian harus rajin belajar, oke ..."
"Ia Kak," semua anak menjawab dengan lantang.

Selesai mengajar, Nuha langsung pulang ke apartemen, ada tugas yang belum selesai ia kerjakan.

Di pertengahan jalan ia merasa lapar, ia pun berhenti di sebuah kedai.
"Selamat datang, mau pesan apa Nona?" tanya seorang pelayan.
"Gyeran ppang dan Yangnyeom tongdak, lalu teh hangat tanpa gula," jawab Nuha.
"Annyeong, boleh tidak saya duduk di sini?" tanya seorang pemuda, ia berdiri di depan Nuha, memberi isyarat kalau tidak ada tempat duduk yang kosong lagi.
Nuha mengikuti arah pandang pemuda itu, ia mengangguk. Semua tempat duduk telah penuh.

"Kamsahamnida ..."
"Ne, cheonmaneyo ..."

Pelayan mengantar pesanan Nuha, menaruhnya gyeran ppang di hadapan Nuha sementara yangnyeom tongdak di depan pemuda yang ia pikir adalah kekasih Nuha.
"

*********

Bulan menggulung mentari, menyeret kepraduan. Pulang kesinggahsana dengan senyum riang.

Kim Izamiyah Nuha, biasa disapa Izam, Zam, dan Nuha. Izam adalah sosok peri bagi anak-anak yang berada di kawasan bebatuan. Mereka tinggal di kawasan tandus, terjal dan banyak diselimuti bebatuan. Jika mereka hendak menuju sekolah, mereka harus menempuh jarak 1jam dengan berjalan kaki. Tidak ada kendaraan umum. Hanya orang yang tergolong kaya di desa tersebut yang mampu menggunakan kendaraan. Itu pun maaih sebatas sepeda ayun dan sepeda motor.
Jarang di lalui oleh kendaraan roda empat. Karena kondisi jalanan yang kurang memadai.

"Penempatan gedung akan segera dilancarkan. Beberapa pihak sudah menandatangani kontrak. Hanya saja ada kerikil kecil, yang menolak untuk menandatangani."
"Siapa yang berani menolak?." Seru suara yang tiba-tiba keluar dari pintu.
Sekretaris Lee langsung membenarkan posisi duduknya. Sementara pria yang diperkirakan 80tahunan duduk santai dengan senyum lebarnya.
"Pulang juga rupanya." Ucap pria itu.
"Yah begitulah presdir. Apakah anda tidak bahagia?."
"Tidakkah kau harus memeluk ayahmu ini?."
Kyu Jong langsung berhambur kedalam pelukan ayahnya. Ayah yang ia rindukan. Enam tahun bukan waktu yang singkat. Ia sangat merindukan ayahnya. Tentu, selama enam tahun tidak pulang, hanya komunikasi melalui media sosial.

Kerinduanku tak dapat ku tulis dalam kavas
Kerinduanku tak dapat ku gambar dalam pena
Kerinduanku, kusimpan dan kini kutuangkan
Dalam pelukan

"Tuan muda Kim Kyu Jong? Benarkah itu anda?."
"Tentu, sekretaris Lee kira siapa? Apa anda sudah lansia?." Celetuk Kyu Jong yang mendapat jitakan dari ayahnya.
"Hehe anda bisa saja, sekarang anda tampak dewasa dan--"
"Dan tampan," sergah Kyu Jong, "hahaha ... Tadi aku bercanda paman. Jangan ambil hati ya hehe."
"Saya mengerti, anda selalu begitu. Sejak dulu tidak berubah."
"Hehe ... ayo duduk kembali. Dan bicarakan masalah tadi."
"Apa sebaiknya anda menghabiskan waktu bersama presdir?."
"Tidak, aku penasaran."
"Baiklah, ada seorang wanita muda yang mencoba menghalangi jalan kerja kita. Dia membujuk warga lain untuk tidak menandatangi kontrak. Bahkan dia telah berhasil membuat warga yang tadinya sudah menandatangani kontrak jadi batal dan merobek kertas tersebut. Dan hari berikutnya semua warga menolak kehadiran kami. Mereka beranhgapan kami adalah orang jahat.
"Kenapa bisa kalah hanya dengan seorang wanita? Lalu apa istimewanya tempat itu?"
"Menurut George Han, tanah disana memiliki sesuatu yang istimewa. Dan cocok untuk tujuan kita. Memang tidak mudah dijangkau, tetapi setiap langkah kaki kita, kita akan disuguhi dengan pemandangan yang luar biasa. Nuansa alam yang begitu kuat."
"Lalu, kita hanya harus membereskan wanita itu bukan?."
"Yah begitulah. Namun wanita itu misterius, sulit untuk bertemu dengannya. Kehadirannya tidak tentu. Warga disana juga tutup mulut. Jika bukan karena putriku, aku tidak akan mendapat info tentang wanita itu."
"Info apa?."
"Anda terlihat begitu penasaran?."
"Katakanlah, jangan membuat penasaran."
"Baiklah, mereka memanggil wanita itu dengan nama izam. Namun anak-anak memanggilnya kak zam. Kabarnya wanita itu mengajari anak-anak berbagai bahasa serta pelajaran lainnya. Dia juga ahli teknologi dan biologi. Meski penampilannya sangat sederhana. Rambut dikuncir kuda. Namun tidak bisa dipungkiri wajahnya berkharisma."
"Sepertinya anda juga kerap berjumpa?."
"Tidak juga, banyak foto dia bersama warga. Juga saat mengajari anak-anak."
"Bahkan dia membantu pria membangun gubug kecil untuk peristirahatan dan pembelajaran kerajinan tangan."
"Wah, benarkah. Wanita yang serba bisa. Keren." Puji presdir.
"Mengapa harus didokumentasi? Seolah ingin terkenal."
"Karena-entahlah. Mungkin dia mahasiswa."
"Berapa usianya?."
"Tidak ada yang tahu. Dilihat dari wajahnya seperti gadis belasan tahun. Tapi aku rasa dia sudah duapuluh tahun keatas. Pemikiran serta tata bahasanya terlihat sangat berpengetahuan."
"Masih muda. Aku juga berfikir pasti dia seorang mahasiswa. Tapi kenapa seorang diri?."
"Tidak, di beberapa foto ada seorang pemuda yang berdiri disampingnya. Mengenakan jas dokter. Setelah diselidiki pemuda itu adalah rekannya." jelas sekretaris Lee.

Setelah berbincang cukup lama. Tanpa ada titik temu untuk menangani wanita itu, Kyu Jong berinisiatif akan menengok lokasi yang dijadikan target perusahaan.

************

Kyu Jong membaringkan tubuhnya diatas kasur berlapis seprai putih.
Siapa wanita itu?. Batin Kyu Jong.
Ia terus memutar otaknya. Buntu, hanya kebuntuan yang ia dapatkan.
Hingga malam semakin diselimuti kabut lebat, dan hembusan angin semakin terasa dingin. Kyu Jong akhirnya terlelap oleh buaian lelah.

Mentari menembus jendela kamarnya. Membuat Kyu Jong terpaksa bangun. Hembusan nafas lembut membelai wajahnya.

"Bangun sayang. Sudah jam tujuh pagi, bangun dan bersiap-siap."
"Eomma!!(mama) Masih ngantuk. Mau kemana?."
"Jalan-jalan. Eomma kangen, sudah lama kita tidak jalan berdua. Eomma juga sudah meminta izin appa mu."
"Hmm ... akh aku ... aku ada urusan eomma."
"Urusan apa? Wanita?."
"Ia, eomma sudah diceritakan?."
"Wah anak eomma punya wanita."
"Siapa yang cerita? Kamu baru pulang, setiap telepon tidak pernah cerita. Apa appa mu tahu lebih dulu?" Sambung sang ibu.
"Bukan wanita dalam artian seperti itu eomma. Dia wanita partner kerja."
"Eomma tidak tahu menahu urusan pekerjaan."
"Baiklah, eomma tidak perlu tahu. Hari ini kita akan jalan kemana dan sampai jam berapa?." tanya Kyu Jong tanpa basa-basi.
"Bertemu seseorang dan sampai dia izin pulang."
"Siapa dia? Apa begitu penting dan istimewa?"
"Akh baiklah ...." ucap Kyu Jong saat mendapati tatapan ibunya.

Kyu Jong bergegas menuju garasi. Setelah beberapa kali mendapat teriakan dari sang ibu.
Ia membuka pintu mobil, mempersilahkan ibunya masuk.
"Lelet." Seru sang ibu
"Maaf eomma."
"Masih ingat jalan?."
"Eomma! Jangan meremehkan putramu ini?."
"Baik. Kita menuju taman yang sering kita kunjungi. Dan parkirkan mobil direstoran terdekat."
"Lalu kita akan bertemu dengan orang itu dimana? Restoran atau taman? Bagaimana jika dia belum datang? Masih terlalu pagi eomma."
"Bagi dia sekarang sudah terlalu siang. Sudahlah jangan banyak tanya, simpan pertanyaanmu. Keluarkan saat bertemu dengannya." ucap ibu Kyu Jong panjang lebar.
Kyu Jong melepaskan nafas berat. Ibunya masih sama. Yah dia tidak akan berubah.
"Berhenti disini. Eomma turun, kamu parkirkan mobil." seru ibu Kyu Jong.
Kyu Jong mengangguk. Ia melajukan mobilnya kearah yang dimaksud ibunya. Tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang ia rindukan. Peri kecilnya.

Ku simpan kenangan antara kita. Dalam almari kerinduan. Rindu yang tak pudar terhalang waktu. Dapatkah ku temui dirimu dimasa mendatang duhai sayang.

Setelah penampakan itu hilang. Kyu Jong menemui ibunya. Ia melihat ibunya sedang berbicara dengan seseorang. Ia tidak berniat untuk gabung, hanya menunggu hingga lawan bicara ibunya berlalu.

"Akh begitu. Sayang sekali. Kapan dia memiliki waktu lagi?."
"Putriku jarang memiliki waktu. Aku sangat menyesal, seharusnya mereka bisa bertemu. Putriku mendapat telepon dan dia bilang darurat. Jadi apa boleh buat, maaf ...."
"Aku mengerti, jangan khawatir. Masih ada waktu. Jika putri mu memiliki waktu hubungi aku."
"Tentu, sampai jumpa." jawab lawan bicara. Iapun berlalu dari hadapan ibu Kyu Jong. Melambaikan tangan dengan senyum.

Kyu Jong menghampiri ibunya.
"Siapa dia eomma? Orang yang akan kita temuikah?." tanya Kyu Jong antusias. Ia berharap benar, agar segera pulang.
"Salah satunya. Dia adalah ibu dari wanita yang ingin eomma kenalkan denganmu. Namun putrinya mendapat telepon darurat. Kamu lelet, jadi telat. Akh, anak eomma belum beruntung. Coba lagi nanti."
"Ya ampun eomma."
"Memang benar. Akh, menyebalkan. Eomma juga ingin bertemu dengannya lagi. Dia gadis yang menarik, gaya berfikirnya sungguh mempesona."
"Sudahlah eomma, berlebihan. Jika jodoh pasti bertemu eomma."
"Semoga saja. Belakangan ini dia pulang larut malam."
"Eomma sangat memperhatikannya. Apa eomma berfikir mengangkatnya sebagai putri eomma?."
"Hmm ..."
"Berapa usianya?"
"Dua puluh empat tahun. Anggun tapi tegas. Jago bela diri."
"Wow."
Kyu Jing ber-wow-riang. Dan mendapat tatapan ibunya. Tatapan yang sama, tatapan tak suka. Seolah berbicara, 'jangan macam-macam'.

"Kita pulang eomma?"
"Iya, mau apalagi disini?"
"Tidakkah kita bisa jalan-jalan? Setidaknya hari ini aku akan memberi waktuku seharian untuk eomma." bujuk Kyu Jong dengan senyum maut yang dapat menaklukan siapapun yang melihatnya.

**********

"Kim Nuhaaaaa ...." teriak seorang pria dari kejauhan.
Nuha menengok kesumber suara. Ia menggelengkan kepalanya saat sosok itu hendak mendaratkan tubuhnya. Namun penolakannya tidak bermanfaat. Tubuh itu telah berhasil menyelimuti tubuh Nuha. Dengan senyum khas miliknya ia tersenyum lebar.

"Sesak tahu." Gerutu Nuha.
"Maaf, Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu Nuha sayang." seru sosok itu.
"Aku tahu. Sejak kapan seorang otter tidak merindukanku? Itu tidak bisa terjadi." ejek Nuha.
"Yah. Kamu tahu. Aku tidak bisa tidak merindukan peri kecilku." ucap Young saeng sambil mencubit pipi Nuha.
"Bagaimana kabar ibu mertua?." lanjutnya.
"Baik. Semakin baik saat kamu tidak ada."
"Aish ... Sungguh tega." wajahnya dibuat seperti anak kecil yang cemberut.
"Haha ... kalau ada kamu. Ibuku selalu memujimu. Dan aku akan dinomer sekiankan. Setelah kamu tentunya."
"Ciee yang cemburu. Aku tidak akan menomer duakan mu. Ibumu juga pasti begitu. Jangan berfikir seperti itu sayang. Mungkin dia menginginkan putra atau seorang pria untuk menjagamu."
"Hmmm ... aku bisa menjadi seperti pria. Hanya saja ibu selalu melarang. Terlebih setelah kepergianmu. Beliau selalu memantau gerak gerikku. Menyewa seseorang pula. Menyebalkan bukan."
"Akh. Untung cuma dua tahun. Sekarang aku kembali. Ayo kita cari penyewaan sepeda?" ajak Young Saeng seraya menarik lengannya.
Nuha hanya pasrah, ia sesekali melirik Young Saeng. Semburat merah diwajahnya lebih bercahaya dari pantulan mentari pagi itu.
"Es krim melon."
"Baiklah."

******

Saat purnama menyapa indra mata. Saat senyum angin terasa mendamaikan hati. Aku terjerat dalam penantian yang memabukan. Berjalan terasa nyeri. Berhenti jauh lebih tertatih. Akupub hanya bisa pasrah diri. Aku merasa akan menyerah dan mengakhiri nafas yang diberi. Namu ... Itu tak ku lakukan.

"Nuha. Besok ada waktu tidak. Seminggu sudah berlalu. Apa masih sibuk?."
"Hmm ... Young Saeng sudah kembali bu. Aku dan dia sedang berusaha mengembangkan sesuatu. Kami membutuhkan waktu extra. Saat ini kami tidak bisa bernafas lega. Kami akan gagal jika tidak secepat mungkin menyelesaikannya."
"Usaha apa? Apa pencakokan pisang?."
"Ah. Itu ide berlian Bu. Tapi tidak, bagaimana caranya. Ini masalah lain Bu. Kami pasti bisa. Setelah semua selesai Young Saeng akan kemari." jelas Nuha setenang mungkin.
"Kamu dan Young Saeng?." selidik ibu Nuha.
"Ia? Sudahlah bu. Tolong beri kami waktu ya." pinta Nuha sembari merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"Baiklah. Ibu akan simpan pertanyaannya. Jangan sampai kurang istirahat."
"Ia Bu."

**********

"Dengar-dengar wanita itu hari ini akan datang jam delapan pagi. Bersama rekannya. Mereka juga telah membuat rencana." Lapor sekretaris Lee kepada presdir dan juga Kyu Jong.
"Aku ingin melihatnya. Setiap kesana selalu telat."
"Baiklah sekarang juga kita kesana. Tidak baik melewatkan kesempatan ini."

Terik mentari rak menghalangi semua orang yang sedang bercocok tanam. Mereka saling melempar senyum. Dan saat tiba waktunya akan difoto, mereka berpose sesuai gaya mereka. Seorang anak lelaki mencium pipi Nuha saat ia berada dalam gendongan Nuha.
"Yak. Beraninya mencium kan Zam." Teriak Asty.
"Baiklah. Gantian, sini Asty kak Zam gendong."

Kyu Jong kembali terperangah, ia melihat peri kecilnya. Ia mengerjapkan mata berkali-kali. Benarkah dia? Mungkinkah ini bukan mimpi?

Kyu Jong mendekati keramaian tersebut. Ia mempertajam penglihatannya setelah jarak mereka semakin dekat. Nuha merasakan kehadiran mereka, ia melirik kearah Kyu Jong. Matanya bertemu. Nuha terdiam.
Young saeng mengikuti arah pandang sahabatnya. Ia melihat Kyu Jong.
"Kau kembali hyung? Apa kau masih ingat?." Tanya Young Saeng spontan. Semua memandang kearah yang Young Saeng tujuh.
"Nuha." ucap Kyu Jong lirih.
"Young Saeng." Lanjut Kyu Jong melirik kearah Young Saeng.
"Apa yang membuatmu datang kemari?."
"Dia yang beberapa kali datang dan menanyakan kak Zam." sela Asty.
"Aku ingin bertemu denganmu." ucap Kyu Jong.
"Wah reuni senior dengan junior. Lebih baik kita bicarakan didalam. Tidak baik berjemur." celetuk Young Saeng.
"Ayo semua kita istirahat dulu." lanjut Young Saeng.

Semua mengikuti intruksi Young Saeng. Beberapa anak memilih bermqin kejar-kejaran. Bapak-bapak memilih duduk selonjoran, ada juga yang menyilangkan kaki. Dan rokok tak luput dihisap dengan nikmat. Sementara Ibu-ibu bergelut didapur umum. Mereka membagi tugas, ada yang mengupas bawang, ada yang mencincang daging, ada yang memasak nasi dan lain-lain.

Kyu Jong, Nuha, Young Saeng, Presdir serta sekretaris Lee berkumpul. Mereka melingkari sebuah meja.
"Jadi apakah anda yang berada dibelakang tuan Lee?."
"Itu saya, bukan putra saya. Saya adalah presdir Kim. Ayah dari Kim Kyu Jong. Jadi kamulah wanita itu? Wanita yang menjadi publik figure warga disini?."
"Publik figure? Itu berlebihan."
"Baiklah. Apa alasanmu mempertahankan tanah ini?."
"Saya rasa semua orang sudah tahu. Dan saya tidak perlu mengulangnya lagi."
"Saya ingin mendengar langsung."
"Apakah cinta membutuhkan alasan?."
"Tentu."
"Lalu apa alasannya?."
"Mengapa mengarah kesana?."
"Karena aku mencintainya. Dan aku ingin melindungi sesuatu yang aku cintai. Ingin melindungi keluargaku. Apa itu bisa menjadikan alasan?."
"Apakah dengan menghalangi kami, mereka bahagia?."
"Apakah dengan menerima tawaran anda mereka bahagia? Dan dapatkah tujuan pembangunan itu membuat mereka bahagia? Dan bagaimana dengan beberapa orang yang akan hadir, senasib dengan mereka?."
"Wanita yang pandai. Tapi itu adalah pemikiran sempit jika beranggapan kami tidak bisa membuat mereka bahagia."
"Logika berbicara dan menghitung. Pembangunan anda justru akan menyerap uang mereka. Kecuali anda membuatnya gratis. Hmm...apa itu bisa terjadi?"
3
"Jika itu bisa terjadi, apa yang akan kamu lakukan?." Tanya Kyu Jong.
"Jika semua itu tidak terbukti, apa tanah yang retak dapat kembali utuh? Tanpa luka?."
"Kami akan membuktikannya."
"Maaf. Tapi saya tidak akan membiarkan tanah ini menjadi kelinci percobaan. Saya memang pengecut yang tak berani mencoba. Karena saya tak menginginkannya. Maafkan saya. Jika kalian sudah selesai, dengan hormat saya memohon bapak-bapak bersedia meninggalkan tempat ini. Langit mulai tenggelam, tidak begitu baik untuk perjalanan. Dan tolonglah urungkan tujuan kalian."
"Apakah kita harus berhenti?." Tanya presdir menatap anaknya.
"Berhentilah Ayah." Ucap Kyu Jong sendu.
Kyu Jong berdiri tanpa sepatah kata lagi. Wajahnya nampak muram. Sangat tergambar lantang. Tatapannya tak berjalan seirama dengan langkah kakinya.
Dibelakang, sang Ayah dan sekretaris Lee berbisik-bisik. Setia mengokor Kyu Jong.
"Apa putraku memiliki hubungan khusus dengan wanita itu? Akh, gadis. Dia tampak belasan tahun."
"Saya juga tidak tahu presdir, yang saya tahu tuan muda selalu sibuk belajar dan bekerja. Dia bukan lagi gadis belasan tahun presdir. Wajahnya saja, usianya sebaya dengan putri saya Eun Ah."
"Oh...benarkah? Wah, berarti benar mereka pernah memiliki hubungan. Tatapan gadis itu tajam, mengisaratkan sesuatu pada putraku. Pria yang bersama gadis itu, eh wanita itu bilang reuni senior dan junior. Itu artinya mereka bertiga saling mengenal, memiliki hubungan khusus yang tidak aku dan istriku ketahui. Ah, pasti sewaktu SMA. Iya pasti."
"Mungkin saja."
Kyu Jong tak peduli bisik-bisik yang berdengung ditelinganya. Pikirannya melayang pada Nuha. Sang peri kecilnya.
Senja, bermuaralah engkau dihatiku
Hanya dihatiku
Senja, berjalanlah kearahku
Hanya kearahku
Senja, datanglah padaku
Sambut hati dan ragaku
Bernafaslah bersamaku
Hanya denganku
"Nuha, apa kamu tidak ingin pulang?."
"Aku ingin, twpi aku takut. Aku takut ibu akan bertanya banyak. Saat melihat kondisiku sekarang."
"Biarku antar, dan aku akan berusaha mengalihkan kekhawatirannya. Bukankah, kita telah berjanji akan menemui ibumu? Sejak kepulanganku, aku belum sempat menemuinya. Pasti beliau merindukan putranya hehe. Ayo..."
Nuha mengangguk, ia mengulurkan tangannya. Young Saeng meraih dan membantu Nuha berdiri.
Mereka menemui anak-anak dan warga lainnya yang telah menunggu mereka.
"Kak Zam dan kam Young Saeng pulang ya adek, paman bibi, kami izin pamit. Tetap semangat ya. Semoga malam ini hujan. Agar usaha kita hari ini lebih cepat subur."
********
Kyu Jong kembali ketempat dimana Nuha mengajar. Ia duduk disalah satu bangku. Kyu Jong memang tidak mendapat pebolakan oleh warga. Mereka merasa kasihan melihat wajah Kyu Jong yang memelas.
"Kakak. Masih kesini lagi? Bukankah kemarin sudqh bertemu kak Zam? Ko masih datang lagi?."
"Jangan begitu, mungkin kakak itu punya urusan pribadi dengan kak Zam. Dan hanya bisa menemui kak Zam disini."
"Aku tidak suka dengan kakak. Gara-gara kakak, kak Zam kemarin nangis. Untung ada kak Otter, kakak pasti bukan orang baik. Orang baik engga akan membuat perempuan menangis. Jadilah pria pemberani donk."
"Ga boleh ngomong gitu dek."
"Biarin. Biar kakak itu tahu."
"Bisa beri tahu kakak alamat kak Zam?."
"Tidak!."
"Kami tidak tahu, maaf ya kak. Kami tidak bohong ko,"
"Baiklah. Kakak masih boleh menunggu? ."
Saat Asty hendak membuka mulutnya, Nuha muncul seorang diri.
"Tidak perlu, jika ingin bertemu untuk urusan pribadi jangan disini."
"Ia. Sekarang untuk urusan pribadi. Maaf, karena hanya disini tempat yang aku tahu kamu datangi."
"Ikut aku."
"Asty, Eun Gyeong. Kakak hati ini absen ya. Salam untuk semuanya, kakak minta maaf."
"Ia kak."
"Kak..." Belum sempat Asty berbicara, Eun Gyeong menutup mulutnya lagi. Ia tidak ingin adiknya itu merusak.
Setelah Kyu dan Nuha pergi. Eun Gyeong membuka tangannya, dan mendapat amukan dari adiknya.
Fajar mulaj menipis. Setelah percakapan cukup panjang lebar usai. Mereka keluar dari rumah makan. Menuju pantai kecil.
Nuha dan Kyu Jong duduk diatas pasir, menatap langit yang menguning. Melihat proses pulangnya sang fajar. Kyu Jong membeku saat kepala Nuha menyentuh pundak lebarnya.
"Saat fajar tenggelam, aku harap rasa letihku ikut bersamanya."
"Jika ia tak mampu membawanya, izinkan aku membalut letihmu, dan bersandarlah padaku. Aku akan berusaha menjagamu. Aku takut kehilanganmu." Ucap Kyu Jong.
"Lagi. Takut kehilangan lagi." Lanjut Nuha.
"Benar. Aku juga takut kamu direbut orang jika aku membiarkanmu berlalu. Jadi bersediakah kamu bernafas bersamaku?."
"Sekarangpun, kita bernafas bersama."
"Jadilah istriku, Kim Izamiyah Nuha."
"Aku bersedia, jika kamulah yang menjadi imamku."
Tuhan yang membuat skenario. Mendatangkan orang-orang untuk menghiasi kehidupan.
Seperti garis jodoh, Tuhan telah menuliskannya. Siapa jodoh kita.
Kapan akan dipertemukan dan dengan cara apa dipersatukan.

Continue Reading

You'll Also Like

413K 2K 17
Hts dengan adik tiri? Kael dapat melakukan apa yang "IA INGINKAN" pada sang adik selama 3 bulan. Sesuai janji mereka ditengah malam. + - + - + - Sa...
1.2M 53.2K 53
Usai menjalani pendidikan strata 1 di Ibu Kota, Adara Ruby Sanjaya (22), gadis jelita nan cantik yang sering dipanggil dengan sebutan Dara diminta ke...
634K 37.6K 36
Tania Ivana Prameswari sudah punya segalanya: followers jutaan, endorsement melimpah, dan wajah viral di TikTok. Tapi sayangnya, satu hal yang belum...
1.4M 71.3K 62
(BELUM DI REVISI MASIH BANYAK TYPO) Ansera, gadis centil dan cerewet, langsung jatuh hati pada Raha saat pertama kali ia melihat lelaki itu, pengacar...
Wattpad App - Unlock exclusive features