DIKAL

By zahirra

437K 34.3K 1.1K

DIKAL Aku bersumpah tidak akan pernah menikahi siapapun seumur hidupku tapi gara-gara perempuan itu aku melan... More

1. DIKAL
2. FIO
3. DIKAL & CALLAN
4. FIO & TYDES
5. DIKAL & FIO
6. MEET AGAIN
7. TROUBLE
8. DOUBLE TROUBLE
9. RASA TANGGUNG JAWAB
10. FIOOOOO !!!!
11. DIKALLLL!!!
12. STUPID MISTAKE
BUKAN UPDATEAN
14. SEMPURNA
15. PERTENGKARAN ITU KEMBALI TERJADI
16. BE A GENTLEMAN
17. SEGALANYA LEBIH MUDAH, TAPI...
18. PERTEMANAN DENGAN OSCAR
19. CALLAN, JANGAN BUAT KAMI STRESS!!
20. BIG FAMILY BIG TROUBLE
21. RAHASIA FIO
22. END

13. PESTA RAKYAT

16.4K 1.5K 43
By zahirra

Maaf-maaf-maaf, comment di part sebelumnya tidak sempat
aku balas. Jaringan error, signal lemot.

Fio POV

Kalau kalian berpikir aku bisa lolos dari masalah besar yang sedang aku hadapi saat ini, kalian salah besar karena sekarang aku sedang duduk di sebuah cafetaria rumah sakit bersama dua orang wanita yang sangat berharga di dalam kehidupan Dikal yaitu Ibu dan Kakak iparnya.

Tidak mudah bagi kami untuk bisa duduk bertiga seperti sekarang ini karena sebelumnya kami harus menenangkan Callan terlebih dahulu, membujuknya dan memberi ia pengertian. Sangat susah membujuk Callan yang belum mengerti apa-apa, ia sempat melakukan aksi mogok bicara dan mengancam akan kabur dari rumah kalau sampai aku menerima lamaran Dikal. Tapi beruntung Callan punya Ibu seperti Tante Dina yang pintar sekali membujuk, meskipun aku yang jadi korbannya.

Callan baru bisa tenang dan mau mengerti setelah aku berjanji tidak akan menikah dengan Omnya. Dan sekarang dia sedang ikut Kakeknya keliling bangsal rumah sakit.

"Jadi bisa tolong jelaskan semuanya pada kami." Tante Dina meminta penjelasanku dengan tidak sabar dan itu membuat aku semakin gugup.

"Baiklah." Ku tarik napas dalam dan menghembuskannya. "Kalau maksud Ibu dan Tante kami berdua sedang menjalin hubungan, Ibu dan Tante salah. Kami berdua tidak pernah menjalin hubungan apapun. Semua yang terjadi diantara kami hanya kebetulan."

Maka mengalirlah semua cerita dari mulutku. Aku memulai cerita dari pertemuan pertama kami, penculikan sampai dengan aku berkewajiban merawat Dikal karena merasa bersalah.

"Dan aku betul-betul marah ketika tau Dikal membohongiku selama aku merawatnya. Tapi melihat kondisi Dikal sekarang ini aku malah merasa bersalah tidak mau memaafkannya. Ibu, Tante. Fio minta maaf secara pribadi karena telah membuat Dikal sakit." Terus terang aku hanya bisa menundukkan kepala tidak sanggup menatap dua orang wanita di hadapanku. Apa lagi mendengar cacian mereka.

"Fio." Ibu Lili menyentuh tanganku dan mengusapnya. "Harusnya kami yang minta maaf karena telah merepotkanmu. Maafkan kelakuan Dikal ya." Ku lihat senyum tulus yang berusaha diperlihatkan Ibu Lili. "Apa yang dilakukan Dikal untuk menahanmu supaya tetap tinggal, nak?" Lanjutnya.

"Banyak hal." Aku tersenyum membayangkan hal-hal bodoh yang sering kami lakukan contohnya bertengkar dan tidak saling bicara. "Dikal bahkan mogok makan kalau tidak aku suapi."

"Dia melakukannya?" Tante Dina memekik tidak percaya. "Dan kamu menuruti kemauannya karena merasa bersalah."

"Ya, apa yang bisa aku lakukan untuk menebus semua rasa bersalahku."

"Ibu pikir Dikal tidak tahu siapa kamu. Sekali lagi Ibu minta maaf. Ya Tuhan, anak bodoh itu betul-betul memalukan." Ibu Lili bergumam sendiri.

"Bu Lili baru sadar ya kalau putra Ibu satu-satunya memang bodoh." Tante Dina menimpali

Ibu Lili terkekeh "Aku pikir setelah sepuluh tahun tinggal jauh dari keluarga kelakuan Dikal akan berubah tapi nyatanya? Aku malu dan merasa tidak pantas untuk menjadi bagian dari keluargamu Fio. Tolak lamaran Dikal dan carilah pria yang lebih pantas untuk mendampingimu." Ucapnya sungguh-sungguh.

"Ibu bicara apa sih? Orang lain akan merasa senang kalau aku menerima lamaran anaknya tapi Ibu sepertinya Ibu tidak mendukung niat baik Dikal."

"Bukan begitu Fio, Ibu merasa Dikal tidak pantas untukmu nak."

"Cinta tidak ada yang tidak pantas Bu."

Tante Dinapun tidak setuju dengan apa yang diucapkan Ibu Lili tentang cinta." Bu, Ibu Lili melupakan satu hal, Ibu lihat aku. Aku bahkan tidak pernah berpikir akan dinikahi seorang Fere. Jangankan berharap mimpipun aku tidak berani untuk menikah dengannya. Jadi biarkan Fio yang menentukan. Aku rasa Fio tidak membutuhkan seorang suami yang sempurna. Betulkan Fio."

Semua yang di bilang Tante Dina benar aku memang tidak  mengharapkan pendamping hidupku kelak sesempurna pangeran William atau pangeran-pangeran dari negeri dongeng.

"Semua yang di bilang Tante Dina betul Bu. Kalau Dikal memang serius ingin melamarku, biarkan dia sendiri yang datang menemui keluargaku."

"Kamu sunguh-sungguh Fio." Ibu Lili dan Tante Dina memekik tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan barusan.

Aku sendiri tidak tahu kenapa mengatakan hal bodoh seperti itu, tapi tidak bisa kupungkiri kalau aku memang membutuhkan Dikal. Kalau aku tidak mempunyai perasaan apapun padanya kenapa aku cemas dan selalu khawatir ketika Dikal meneleponku dan mengabarkan jika ia belum makan. Aku bahkan tidak konsentrasi bekerja ketika mendengar dia sakit dan harus dirawat di rumah sakit.

Pertemuan singkat dengannya menumbuhkan perasaan yang berbeda.

Dikal POV

Rasanya aku tidak ingin membuka mata lagi setelah permintaanku barusan, aku lebih baik tertidur seperti ini dibanding harus berurusan dengan Callan. Aku tahu Callan sedang menungguku terbangun dan meminta penjelasan yang sama sekali sulit untukku jelaskan. Callan masih terlalu kecil untuk mengerti dan memahami hati kami orang dewasa.

Perasaan dan hati bukan kita yang mengaturnya jadi jangan salahkan aku kalau aku begitu mencintai Fio dan sayangnya Callan tidak bisa menerima itu.

"Sampai kapan Om akan berpura-pura teridur seperti itu." Dan rupanya Callan tahu kalau aku enggan membuka mata, aku hanya malas saja harus berdebat dengan anak yang umurnya enam belas tahun lebih muda dariku. Bagaimanapun juga aku sangat menyayangi keponakanku satu-satunya itu, aku tidak ingin bertengkar dengannya sekarang ini.

"Aku jelas mencintai Kak Fio dari sebelum aku lahir." Seseorang tolong katakan apa karma itu berlaku?

Kenapa Callan melakukan hal yang sama bodohnya denganku. Kenapa Callan begitu mencintai Fio seperti aku mencintai Ibunya, ini sudah tidak benar dan harus diluruskan segera. Aku tidak ingin Callan merasakan sakit yang sama denganku.

"Callan, Om mohon biarkan Om istirahat sebentar, Om sedang sakit. Kita bisa membicarakannya nanti setelah Om sembuh." Callan bersidekap, melipat kedua tangannya di dada, memicingkan matanya dan menatapku tajam.

Tunggu, apa aku semarah itu ketika tahu Mas Fere mencintai Teh Dina? aku rasa tidak. Aku sangat berlapang dada menerima Teh Dina yang lebih memilih Mas Fere dan Callan apa Callan bisa menerima keputusan Fio seandainya Fio lebih memilih diriku?

"Baiklah aku tunggu sampai Om sembuh." Aku langsung menghembuskan napas lega setelah Callan berjalan kearah pintu.

"Callan." Panggilku. Dia langsung berhenti dan berbalik menatapku  tanpa sepatah katapun. "Percayalah aku menyayangimu sampai kapanpun."

"Simpan saja rasa sayang Om Dikal untuk keponakan yang lain!" Callan membanting pintu dengan marah.

"Keponakanku hanya kamu Callan tidak ada yang lain." Jawabku lesu, aku kembali berbaring dan berusaha memejamkan mata tapi belum sampai dua menit pintu kembali terbuka dan seseorang masuk.

"Ada apa lagi Callan." Tanyaku tanpa berniat untuk membuka mata.

"Ini Mamanya Callan. Sekarang juga kamu bangun kita bicara." Teh Dina tidak menarik kursi seperti yang sering dilakukannya tapi ia memilih duduk di ranjangku.

"Teh Dina." Aku berusaha duduk dan mencari posisi senyaman mungkin.

Lama sekali Teh Dina diam mengamati dan menatapku lekat, entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Kecewakah? atau malah senang mendengar aku sudah bisa move on darinya.

"Ada apa Teh? Kalau maksud Teh Dina ingin membicarakan Fio dan juga Callan, lupakan saja karena aku sedang tidak ingin bicara apapun."

"Tapi sayangnya itu yang ingin aku bicarakan sekarang."

"Kalau begitu lupakan saja."

Teh Dina tidak mau mendengar. "Fio gadis yang baik Dikal. Aku senang mendengar kamu jatuh cinta pada orang yang tepat. Tapi jelas kamu melupakan satu hal." Jeda sesaat, membuat aku menunggu dan memasang pendengaran dengan baik.

"Keluarganya. Fio berasal dari keluarga baik secara moril ataupun materil, tentunya kedua orangtua Fio menginginkan seorang menatu yang sama sempurnanya dengan anaknya atau kalau bisa lebih lagi."

Aku tau arah tujusn pembicaraan Teh Dina "Stop. Aku tau arah tujuan pembicaraan Teh Dina. Please jangan paksa aku untuk bekerja sekarang."

"Kalau kamu tidak bekerja apa yang bisa kamu banggakan di hadapan mereka? Ibunya seorang Dokter terkenal dan Ayahnya seorang arsitek ternama Jadi pikirkanlah jangan sampai kamu dipermalukan mereka."

Teh Dina memang pintar, dia selalu bisa membujukku dengan kata-kata manisnya dan parahnya aku selalu menuruti dengan apa yang di bilang Teh Dina. Tapi kali ini. Maaf, meskipun kata-kata Teh Dina ada benarnya, aku tidak akan menuruti keinginannya.

"Aku punya cara sendiri supaya mereka bisa menerimaku tanpa nama besar kalian."

Terlihat sekali Teh Dina begitu lelah membujukku. Bukan hanya Teh Dina tapi semuanya Mas Fere, Papa dan Mama. Mereka semua  membujukku seperti di komando.

"Terserah kamu tapi rasanya akan sangat sulit. Selamat berjuang."

Sekarang Teh Dina malah meragukanku, tapi lihatlah aku akan berjuang demi mendapatkan hati Fio masalah keluarganya itu urusan nanti aku tidak perlu memikirkannya sekarang.

***

Setelah pertemuan terakhir mereka di rumah sakit, tidak sekalipun Fio bertemu lagi dengan Dikal selain karena ia sebuk mempersiapkan pesta rakyat yang akan di gelar besok Fio juga cukup disibukkan menghadiri seminar beberapa hari ini. Karenanya ia tidak terlalu memikirkan masalah pribadinya, ia lebih fokus pada pekerjaannya dan mengurus acara pesta rakyat yang telah jauh-jauh hari ia ajukan kepada walikota.

Fio tersenyum puas ketika melihat hasil kerja relawan yang membantunya. Taman balaikota sudah sangat berubah, ada dua puluh sampai tiga puluh stand yang terpasang dan nantinya stand-stand itu akan menjual berbagai hasil karya yang dibuat anak-anak, mulai dari aksesoris, mainan sampai dengan makanan.

Fio juga telah memikirkan acara hiburan untuk para pengunjung makanya di sudut paling ujung di pasang sebuah panggung yang rencananya akan diisi salah seorang penyanyi ternama. Fio telah membuat kesepakatan dengan penyanyi tersebut untuk mengisi acara di pesta rakyat,meskipun cukup susah karena job-job manggungnya tapi dia telah menyatakan kesiapannya dan akan membantu Fio semampunya, tentu saja Fio merasa lega.

Sudah bisa dibayangkan bagaimana meriahnya acara besok. Fio dan teamnya sudah sangat bekerja keras untuk mewujudkan pesta rakyat ini. Semoga acaranya berjalan lancar dan tidak ada halangan apapun, doa Fio dan rekan-rekannya ketika menutup meeting terakhir mereka.

***

Fio merasa bangga dengan pencapaiannya selama ini, ia bangga karena hasil kerja kerasnya dihargai keluarga besarnya. Seperti sekarang ini mereka semua hadir, bukan hanya kedua orangtua dan kedua adiknya yang datang tapi kakek, nenek dan juga pamannya  ikut hadir meski mereka harus terbang dari Balikpapan.

Kebahagian Fio bertambah ketika melihat keluarga besar Callan datang tapi Fio sedikit kecewa tidak melihat Dikal ada diantara mereka. Mungkin Dikal masih marah dan tidak ingin bertemu dengannya.

Kekecewaan Fio terhadap Dikal langsung berubah ketika melihat acaranya berjalan lancar dari mulai sambutan, penggalangan dana, pembagian beasiswa bagi yang kurang mampu dan siswa berprestasi, semuanya tidak ada masalah apalagi sampai ada kerusuhan. Hanya ada sedikit  masalah ketika pembagian cupcake gratis, semua berebut ingin mendapatkan jatahnya, beruntung pihak panitia acara bisa menanganinya dengan cepat.

Sebagai penyelenggara acara Fio cukup disibukan dengan berbagai laporan dan masalah, Fio bahkan sempat memarahi salah seorang relawan yang sedang asik bertelepon padahal rekan-rekannya yang lain sibuk kesana-kemari mengerjakan hal satu ke hal yang lainnya.

Saking sibuknya Fio hanya bisa  sesekali mengontrol rekan-rekannya karena harus mendampingi tamu undangan yang datang, terutama pejabat daerah yang begitu banyak bertanya sampai Fio harus  menjelaskannya berulang-ulang dan Fio tahu itu, ia sudah terbiasa dengan sikap sinis mereka makanya ia masih tetap bisa mempertahankan wajah malaikatnya, ia selalu tersenyum dan menjawab setiap pertanyaan dengan ramah dan cerdas.

Tapi konsentrasinya hilang seketika, ketika melihat Dikal berada di dalam rombongan pejabat yang sedang bersamanya, kenapa ia tahu ada Dikal didalamnya karena Dikal sempat melambaikan tangannya. Dikal bahkan selalu melambai dan mengedipkan matanya jika kebetulan ia  menatapnya. Ada rasa senang dan juga marah melihat Dikal ada diantara mereka, ingin rasanya ia menarik tangan Dikal untuk menjauh tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya menatap Dikal yang begitu akrab ngobrol dengan para pejabat tersebut.

Dikal tidak segan-segan memamerkan senyum menawannya yang mau tidak mau membuat Fio sedikit terpesona, Fio melihat Dikal tersenyum seperti itu ketika mereka baru pertama kali bertemu dan setelahnya Fio tidak pernah melihatnya lagi, yang ada malah senyum jahil dan seringai menyebalkan milik Dikal.

Dikal begitu asik berbicara dengan salah seorang pejabat dari dinas kesehatan, mereka berdua sangat serius berbicara entah apa sedang mereka bahas. Fio merasa penasaran dan ingin mendekati mereka, bukankah ia sangat pandai berkomunikasi. Maka tanpa membuang waktu lagi ia berjalan mendekati dua orang tersebut tapi belum lagi sampai tiba-tiba seseorang mencekal lengannya dan... "Ada apa?" Fio balas menatap rekannya.

"Maaf Fio, Dion Putra tidak jadi datang managernya barusan menelepon ia sakit mendadak. Kalau tidak percaya kamu bisa telepon balik." Fio sampai ternganga, bagaimana bisa dia membatalkan kesepakatan secara mendadak.

"Lantas siapa yang akan mengisi acaranya?" Fio sedikit panik dan ia merebut ponsel rekannya lalu menghubungi manager Dion Putra penyanyi yang sedang naik daun dan bersedia meluangkan waktunya.

Cukup lama Fio berbicara sampai akhirnya menutup telepon dengan wajah kecewa. "Harusnya dari awal mereka bilang tidak bisa, kalau sudah begini apa yang akan kita lakukan, membuat janji dengan penyanyi lain rasanya tidak mungkin dan lagi sebagian besar pengunjung datang ke sini memang untuk melihat Dion Putra."

"Bagaimana kalau kita ganti acaranya dengan kontes menyanyi secara mendadak." Rekan Fio merasa mempunyai ide brilian tapi langsung di tolak.

"Jangan konyol, siapa yang akan jadi jurinya? belum lagi hadiah untuk pemenang siapa yang akan menyiapkannya?" Fio tidak setuju.

"Kalau begitu bagaimana kalau kita kosongkan."

"Dan akan membuat pengunjung bosan lalu pergi meninggalkan acara yang belum selesai, begitu." Fio paling tidak suka acara yang telah dibuatnya gagal meskipun itu hal kecil, ia selalu ingin sempurna.

"Ada apa?" Tahu-tahu Dikal sudah berdiri di samping Fio melihat kepanikannya.

"Tidak ada apa-apa. Hanya sedikit masalah." Dikal tahu Fio tidak akan sepanik itu kalau masalahnya kecil.

"Bisa tolong jelaskan?" Kali ini tatapan mata Dikal beralih ke rekan Fio.

"Itu Mas, orang yang telah kami kontrak membatalkan kontraknya secara mendadak dan sekarang kami tidak punya penyayi untuk mengisi acara yang kosong." Rekan Fio menjawab pertanyaan Dikal.

"Begitu ya. Jadi itu yang membuat kamu panik." Dikal merangkul bahu Fio dan mengusapnya perlahan. "Jangan khawatir, aku yang akan menggantikannya."

"TIDAK." Teriak Fio yang langsung menutup mulutnya, ia sendiri kaget dengan teriakannya. Bisa hancur acaranya kalau Dikal yang menggantikan Dion Putra.

"Maksud aku, aku tidak mau kamu berbuat macam-macam dan merusak acaranya." Merasa risih Fio berusaha melepaskan diri dari rangkulan Dikal.

"Percayalah aku tidak akan berbuat macam-macam, aku hanya ingin berbuat satu macam dan aku janji tidak akan merusak apapun." Tanpa di komando Dikal mencium pipi Fio sekilas lalu melesat pergi meninggalkan Fio yang menganga tidak percaya dengan apa yang terjadi.

"DIKAL AWAS KAMU!"

Awas saja kalau dia merusak acaranya. Seumur hidup Fio tidak akan memaafkannya.

***

Dikal naik keatas panggung, dia mengambil alih mix yang dipegang MC. Meminta perhatian pengunjung dan meminta maaf atas tidak hadirnya Dion Putra yang di tunggu-tunggu tapi dia berjanji akan membuat acara yang tidak kalah serunya.

Fio sampai menutup mata dan memilih untuk pergi meninggalkan panggung, ia tidak sanggup kalau harus melihat Dikal di lempar botol air meneral para pengunjung. Tapi dugaan Fio salah, Dikal memang seorang penghibur sejati ia mampu membuat acara menjadi lebih hidup dengan keahlian pick pocketnya sehingga kekecewaan para pengunjung sedikit terobati.

Pertama yang di kerjain habis-habisan oleh Dikal adalah seorang pejabat dari dinas kesehatan yang tadi sempat mengobrol dengannya, selain dompet dan kunci mobil,  jam tangan mahalnyapun tidak luput dari incaran Dikal. Ia baru menyadari barang yang dipakainya sudah berpindah tangan ketika Dikal menyebutkan namanya dan menyuruhnya naik keatas panggung untuk mengambilnya kembali, ia sampai terkekeh ketika melihat dasi yang dipakainya hilang sesaat setelah berpelukan dengan Dikal. Semua pengunjung tertawa, mereka terhibur.

Tidak hanya itu Dikal juga menyebutkan beberapa nama yang merasa dompet dan kuncinya hilang, Dikal bahkan sempat ngerjain salah seorang pengunjung sampai bolak-balik keatas panggung karena dompetnya kembali diambil setelah di kembalikan.

Fio yang awalnya tidak ingin melihat pertunjukan Dikal malah berdiri paling depan, ikut berbaur dan menikmati setiap aksi Dikal, ia ikut tertawa jika Dikal melakukan hal lucu dan ia juga ikut menyoraki Dikal ketika Dikal melakukan kesalahan.

Tawa ceria Fio langsung terhenti ketika namanya di sebut Dikal untuk naik keatas panggung, Dikal menunjukan anting-anting milik Fio yang tadi sempat diambilnya.

"Aku tau ini milikmu." Dikal menunjuk Fio sampai Fio  gelagapan, beberapa kali ia memegang telinga sebelah kiri dan memang antingnya itu sudah tidak ada. Ia yakin Dikal mengambilnya ketika tadi merangkulnya.

"Ayolah Nona ambil antingmu?" Teriak seorang Bapak yang berdiri tidak jauh dari Fio.

"Ambil..."

"Ambil..."

"Ambil..."

Penonton berteriak menyuruh Fio mengambilnya dan mau tidak mau Fio pun naik keatas panggung berdampingan dengan Dikal. Tapi apa yang dilakukan Dikal, alih-alih mengembalikan anting Fio ia malah mengeluarkan lidi yang berubah menjadi sekuntum mawar dan menyerahkannya pada Fio. Semua orang bersorak sambil tertepuk tangan tapi Callan tidak melakukan ia malah menekuk wajahnya. Mengetahui hal itu Dikal langsung berucap.

"Ini dari Callan." Sengaja ia  mengeraskan suaranya dan  menunjuk bocah sepuluh tahun yang sedang berdiri ditengah keluarganya lalu melambaikan tangannya, spontan Callan tersenyum dan balas melambaikan tangan.

"Jadi izinkan aku memasangkan anting-anting ini." Fio hanya mengangguk setuju.

Dengan hati-hati Dikal memasangkan anting Fio sambil berbisik. "Callan tidak akan tahu skenario yang sedang kita jalankan. Tetaplah seperti ini." Bisik Dikal

"Maksud kamu apa?" Fio ikut berbisik.

"Selesai." Anting-anting sudah terpasang tapi Fio masih diam tidak mengerti ucapan Dikal

"Terima kasih Nona." Setelah selesai memasangkan anting-anting Fio Dikal menyuruhnya  turun." Silakan." Fio mengangguk dan hendak turun tapi Dikal memanggilnya kembali.

"Maaf ponsel siapa ini?" Fio berbalik dan meraba saku celananya, ia cemberut lalu mengambil ponselnya dari tangan Dikal.

"Bagaimana dengan dompet ini apa ini milikmu?" Fio membelalakkan matanya lalu mengambil dompetnya dan hendak berlalu.

"Cincin yang sangat indah, aku yakin ini pasti milikmu." Dikal mengeluarkan cincin berlian dengan mata kecil milik Fio yang tadi sempat diambilnya.

"Bagaimana kamu bisa  melakukannya?" pekik Fio tidak percaya dan memperlihatkan jarinya. Cincin itu adalah hadiah ulang tahun ke 25 dari kedua orangtuanya, kenapa bisa berada di tangan Dikal dalam sesaat.

"Biar aku pasangkan." Tanpa dikomando Dikal meraih jari tangan Fio dan memasangkan cincin di jari manisnya lalu mengecup cincin itu. Wajah Fio merah seketika tidak menyangka Dikal akan melakukannya diatas panggung dan di tonton ratusan mata, terlebih lagi mereka semua bertepuk tangan dan tertawa. Fio semakin tidak bisa menyembunyikan rona merah diwajahnya.

"Terimakasih." Katanya sambil menarik tangannya dan buru-buru turun, Fio masih mendengar suara riuh di belakangnya.

"Tepuk tangan untuk Fio  penyelenggara acara."

Di belakang panggung Fio meneguk air mineral dari dalam botol dengan rakus untuk meredam dengup jantungnya yang semakin tidak terkontrol, ia masih merasakan kecupan Dikal di jari tangannya padahal sebelumnya Dikal mengecup pipinya terlebih dahulu tapi kenapa kecupan di jarinyalah yang membekas.

"Hai." Sapaan Dikal membuat Fio semakin gugup meskipun ia memalingkan wajahnya tapi Fio yakin Dikal pasti mengetahuinya.

"Selamat acaranya sukses."

"Berkat kamu."

"Berkat kita semua." Dikal merebut botol air mineral dari tangan Fio lalu meminumnya.

"Kamu yang telah membuat acaranya jadi sempurna."

"Baiklah, apa aku boleh meminta hadiahku karena telah membuat acaranya sukses." Fio langsung waspada melihat seringai Dikal.

"Katakanlah." Jawabnya sambil kembali mengambil botol air mineral dari tangan Dikal lalu meneguknya.

"Bisakah kita jalan berdua hanya berdua." Glek, Fio menelan air seperti ia menelan batu besar. Ini pertama kalinya ia akan berkencan dengan Dikal.

"Ayo." Dikal menarik tangan Fio sebelum ia mendengar jawabannya.

***

Continue Reading

You'll Also Like

258K 7.2K 54
__Mawardah sania azzahra__ Aku adalah wanita biasa yang dijodohkan orang tuaku dengan guruku sendiri, Aku tak tau kalau dibalik pernikahanku dan ini...
41.2K 1.2K 92
Hayy ni cerita ku yg pertama moga aja pada suka tpi blum tau jdul nya,,, tpi udah ada bayangan jalur cerita nya,,,,,,,, aku sengaja ga ganti ending d...
70K 4.7K 36
Ini adalah kisah kehidupanku, yang seharusnya tidak pernah kuceritakan kepada siapapun... Ketika satu-satunya orang kumiliki, berlaku sangat tidak ad...
3K 178 78
aku hanya wanita biasa terlahir dari keluarga sederhana. aku bisa belajar arti kesabaran yang sesungguhnya setelah aku menikah...
Wattpad App - Unlock exclusive features