Pagi hari di kawasan elit Jakarta disambut oleh langit biru yang masih bersih dan hembusan angin tipis. Kesibukan hari Senin akan segera dimulai.
Langkah kaki ringan menuruni anak tangga satu per satu. Pagi ini, Sabiel sudah rapi mengenakan setelan seragam SMA abu putih. Pipinya tampak merona alami, dipadu dengan aroma manis khas yang semerbak tercium mengiringi setiap langkahnya.
"Good morning Papi, Mami!" sapa Sabiel riang begitu menginjakkan kaki di ruang makan.
Tanpa ragu, Sabiel menghampiri Maminya untuk mendaratkan kecupan hangat di pipi, lalu beralih melakukan hal yang sama pada Papinya. Di meja makan, sang Mami tengah sibuk menata hidangan sarapan, sementara sang Papi duduk santai sambil menyesap kopi hitam hangatnya sembari membaca koran digital.
"Pagi, Adek manisnya Mami." balas sang Mami lembut.
"Cantik banget anak Papi pagi ini. Udah siap banget nih ke sekolah baru?" puji sang Papi, menatap anak bungsunya dengan bangga.
Sabiel duduk di kursi yang berada di hadapan Papinya. "Harus cantik dong, Papi! Biar nanti di sekolah baru banyak yang langsung ngajakin Biel kenalan dan rebutan mau temenan!"
Sang Papi terkekeh. "Persis Mami kamu waktu muda dulu, nggak mau rugi kalau soal penampilan."
"Lho, memangnya kenapa kalau mirip Mami? Bagus, dong!" sahut Mami sambil tertawa pelan, lalu melangkah menghampiri Sabiel untuk meletakkan segelas susu hangat dan sepiring roti panggang beroleskan mentega.
"Makasih, Mami sayang." ujar Sabiel, langsung meraih selembar roti panggang dan menggigitnya kecil.
Tak lama kemudian, derap langkah kaki yang tegap kembali terdengar menuruni tangga. Alejandro muncul dengan setelan jas kantor berwarna gelap membalut tubuhnya, arloji mahal melingkar di pergelangan tangan, serta tatanan rambut hitam yang tersisir rapi. Wangi maskulin khasnya langsung semerbak memenuhi indra penciuman seisi ruangan.
"Pagi Abang!" sambut Sabiel paling heboh, melambaikan tangan yang memegang separuh roti.
"Pagi, sweetheart." balas Alejandro lembut. Ia mengusap sekilas puncak kepala Sabiel sebelum mengecup kening Mami, lalu menduduki kursi kosong di samping adiknya.
Di sela-sela sarapan, perbincangan ringan mulai mengalir antara Papi dan Alejandro. Mereka berdiskusi mengenai perkembangan proyek sistem keamanan teknologi terbaru yang tengah dipimpin Alejandro di pusat kota.
"Nanti ke sekolahnya Adek diantar Pak Anang ya." ujar Mami memecah obrolan bisnis di meja, menatap Sabiel yang sedang meminum susunya.
Mendengar ucapan Maminya, bibir Sabiel langsung mengerucut, matanya membulat menatap Maminya heran. "Kok sama Pak Anang, Mi? Biel kira berangkatnya sekalian sama Abang!"
Mami tersenyum melihat reaksi bungsunya. "Biel... Abang itu berangkatnya masih nanti. Lagipula kantor Abang sama sekolah baru kamu itu beda arah, sayang. Kasihan Abang kalau harus muter macet-macet."
Sabiel tidak puas dengan jawaban itu. Sifat manja khas anak bungsu yang biasa ia dapatkan dari sang Eyang langsung keluar. Ia memutar tubuhnya menghadap Alejandro yang berada di sampingnya, lalu menggoyang-goyangkan lengan jas kakaknya dengan tatapan memohon.
"Abang... beneran nggak mau ngantar Biel?" bisik Sabiel dengan nada mengalun manja.
Alejandro yang sedang mengunyah makanan hampir saja tersedak mendengar rengekan adiknya. Ia melirik Mami dan Papi yang hanya menggeleng-gelengkan kepala menahan tawa.
"Bener kata Mami, Biel. Kantor Abang sama sekolah kamu beda arah. Dan jalanan Jakarta selalu padat tiap pagi." jelas Alejandro mencoba memberi pengertian, meski hatinya mulai goyah melihat raut wajah Sabiel yang makin memelas.
"Biel janji nggak bakal lama di jalan! Kita berangkat sekarang juga ayo!" Sabiel makin gencar, kedua tangannya kini menangkup jemari Alejandro. "Sekali ini aja, Abang... ya? Please... nanti Biel janji nggak nakal deh seminggu ini!"
Alejandro menghela napas panjang, namun bibirnya tak sanggup menahan senyuman tipis.
"Papi sama Mami liat sendiri kan? Gimana Ale bisa nolak?" ujar Alejandro terkekeh pelan pada kedua orang tuanya. Ia lalu menoleh kembali pada Sabiel, merapikan poni adiknya yang sedikit menghalangi dahi. "Iya, iya. Abang antar sampai depan gerbang sekolah kamu. Tapi rotinya dihabisin dulu, jangan buru-buru."
"Yeay! Makasih Abang Ale paling ganteng sedunia!" seru Sabiel girang, wajah cemberutnya seketika sirna.
Mami hanya menggelengkan kepala melihat kepasrahan putra sulungnya. "Kamu ini ya, Ale, dari dulu selalu aja kemakan rayuan adiknya."
Sementara itu di sudut lain Jakarta, sebuah kamar bernuansa gelap masih tampak minim pencahayaan. Gorden tebal membendung sinar matahari pagi yang mulai meninggi. Di atas ranjang, Kairo masih bergulat dengan selimut tebalnya. Semalam ia benar-benar lupa waktu akibat keasyikan bermain game online bersama teman-temannya hingga larut malam.
Dering nada jam alarm yang kesepuluh kalinya terabaikan, sebelum akhirnya mata Kairo terusik. Ia mengucek pelan kelopak matanya yang masih terasa berat, lalu melirik ke arah jam digital di dinding.
Mata Kairo seketika membelalak sempurna. Angka merah di dinding menunjukkan pukul setengah tujuh lebih.
"Sial, mati gue!" umpat Kairo panik, seketika melompat bangun dari tempat tidur.
Pagi hari di Jakarta dan jam sekolah dimulai pukul tujuh tepat adalah kombinasi bencana besar. Biasanya, suara omelan dan usapan lembut dari sang kakak yang memisahkan selimut serta membuka gorden lebar-lebar adalah ritual wajib setiap pagi. Namun pagi ini, unit apartemen terasa begitu hening. Kemana kakak cantiknya itu?
Sambil berlari terbirit-birit menuju kamar mandi, Kairo menyempatkan diri menyambar ponsel di atas meja. Layar menyala, menampilkan deretan notifikasi pesan singkat dari Rajesha yang dikirim beberapa jam lalu.
Kairo menghela napas panjang sembari memijat pelipisnya. Pantesan saja pagi ini terasa begitu kacau. Kehadiran Rajesha di rumah memang fondasi utama hidupnya.
Tanpa sang kakak, Kairo tak beda jauh dari kapal oleng yang kehilangan kapten.
Di depan gerbang megah SMA Jakarta, sebuah mobil Palisade hitam baru saja menepi.
Sabiel menuruni kendaraan dengan helaan napas kagum. Matanya yang bulat memancar penuh keheranan menatap bangunan sekolah barunya yang menjulang megah. Suara klakson yang bersahut-sahutan di jalan raya, lalu-lalang siswa-siswi berpenampilan modis, hingga deru kendaraan dari arah area parkiran sempat membuat dada Sabiel sedikit sesak. Ia memang belum terbiasa dengan ritme cepat Kota Metropolitan ini.
Dari dalam mobil, Alejandro menurunkan kaca jendela.
"Biel, fokus. Jangan ngelamun di tengah jalan gitu." panggil Alejandro.
Sabiel menoleh cepat. "Eh... iya, Abang. Biel cuma kaget aja, sekolahnya segede ini."
"Ingat pesan Abang, ya. Kalau ada apa-apa atau bingung cari ruang kepala sekolah, tanyain baik-baik ke petugas atau murid lain. Jangan takut. Nanti sore Abang usahain jemput kalau rapat kantor udah selesai."
"Iya Abang sayang, makasih ya udah diantar!" sahut Sabiel manis. Ia melambaikan tangannya hingga mobil Alejandro perlahan kembali membelah jalanan kota.
Sepeninggal sang kakak, Sabiel membalikkan badan. Ia menyisir poninya yang tertiup angin pagi, lalu menginjakkan kaki melewati gerbang utama. Tatapan beberapa murid yang melintas sempat tertuju padanya---memperhatikan murid baru berparas amat manis yang tidak biasa.
Namun, baru beberapa langkah Sabiel berjalan menyeberangi jalur kendaraan menuju gedung utama, sebuah raungan suara mesin motor custom bersuara nyaring mendadak membelah keheningan koridor luar.
BARRR! BARRRR!
"WOI-" teriak Kairo dari balik kemudi, hendak meluapkan kekesalannya pada seseorang yang menyebrang seenaknya saja.
Namun, teriakan itu mendadak tertelan di tenggorokan begitu sosok di hadapannya menoleh.
Sabiel terperanjat kaget, reflek bergeser dua langkah ke samping. Sepasang mata bulatnya menatap tajam ke arah pengendara motor tersebut, sedikit bergetar karena terkejut.
Kairo menatap paras manis Sabiel yang tampak merona alami, dipadu bulu mata lebat dan tatapan polos yang langsung menghujam jantungnya tanpa permisi. Sial, siapa bidadari nyasar ini? batin Kairo bersorak.
Sabiel melangkah maju mendekati motor Kairo. "Kalau bawa motor di area sekolah tuh pelan-pelan! Kenapa harus ngebut sih? Kalau tadi aku ketabrak gimana?!"
Alih-alih meminta maaf atau merasa bersalah, sudut bibir Kairo justru terangkat membentuk senyuman miring penuh pesona. Ia melepas helm cakil nya, lalu menatap Sabiel lekat-lekat.
"Anak cantik... kalau mau nyebrang tuh matanya liat kanan-kiri dulu, jangan ngelamun." goda Kairo dengan nada suara yang sengaja dilembutkan. "Mentang-mentang cantik, nggak boleh seenaknya sendiri."
Pipi Sabiel yang tadinya merona kini berubah memerah sepenuhnya---bukan karena malu, melainkan karena sebal luar biasa. "Hah? Siapa juga yang ngelamun? Kamu itu yang ugal-ugalan! Udah salah, malah merayu!"
Kairo tertawa rendah. "Siapa yang merayu? Kan gue cuma ngasih tau fakta, cantik."
Tanpa membuang waktu lagi dan tak ingin meladeni gombalan murahan itu, Sabiel berlari kecil meninggalkan Kairo menuju gedung utama. Langkah kakinya terdengar tergesa-gesa, berusaha menjauh dari sosok yang sukses membuat ritme jantungnya berantakan pagi ini.
Kairo tetap duduk di atas motornya, menatap punggung Sabiel yang kian menjauh dengan senyuman penuh kemenangan tersungging di bibirnya.
Sosok itu benar-benar asing---Kairo belum pernah melihat wajah tersebut di lingkungan sekolahnya sebelumnya.
Lampu-lampu softbox berukuran besar di studio pemotretan ternama perlahan dimatikan.
Di sudut area lounge studio, Rajesha duduk terkulai di sofa panjang. Balutan baju desain khusus yang mewahnya menyita perhatian tadi telah berganti dengan pakaian santai, namun riasan tipis di paras cantiknya masih tersisa. Wajahnya tampak lesu luar biasa, matanya yang bulat meredup menatap layar ponsel di genggamannya.
Sebuah mangkuk plastik berisi bakso berkuah hangat yang tergeletak di meja kopi sama sekali belum tersentuh.
Archie---manajer sekaligus sahabat dekat yang sudah mendampingi karier Rajesha sejak awal, melangkah mendekat membawa dua kaleng minuman dingin. Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala melihat pemandangan di depannya.
"Kok baksonya belum dimakan sih?" tegur Archie, lalu mendudukkan dirinya di samping Rajesha. "Tadi sebelum pemotretan aja rewel banget minta dibeliin bakso Pak Kumis. Sekarang udah dibeliin, malah didiemin gitu aja. Keburu dingin dan nggak enak lagi tuh, Jes."
Archie menatap lekat-lekat wajah lesu Rajesha. Pandangannya bergantian menatap layar ponsel Rajesha yang sengaja dinyalakan tanpa menampilkan notifikasi baru.
Sebagai orang yang paling dekat dengan Rajesha dalam urusan kerja maupun personal, Archie sangat paham arti dari tatapan hampa itu.
Archie menghela napas panjang. "Kenapa lagi? Galauin cowok itu lagi?"
Rajesha menoleh seketika, tatapan matanya tajam dengan alis bertaut. "Chie-"
"Udah berapa kali sih gue bilang, Jes... lepasin cowok kayak Deco." potong Archie tanpa ragu. "Apa sih yang sebenarnya lo cari dari cowok bingung kayak gitu? Hah?"
Rajesha mendengus pelan, mengalihkan pandangannya kembali ke layar ponsel. "Lo nggak ngerti, Chie..."
"Iya, gue emang nggak ngerti!" sahut Archie cepat. "Gue juga nggak ngerti gimana bisa seorang Rajesha Elkaino---yang cantiknya nggak ada obat, pinter, dan dicintai jutaan orang, malah mau-maunya bertahan sama cowok yang jangankan ngasih kepastian, ngabarin lo aja sesuka hati dia!"
Rajesha mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Deco itu aneh, Jes." lanjut Archie, suaranya kini melunak. "Dia sering banget ngabaikan lo, ngilang berhari-hari tanpa alasan jelas. Tapi begitu lo mulai menjauh, dia datang lagi. Gue yang ngeliat lo dari luar aja capek, apalagi lo yang jalanin?"
Rajesha memejamkan mata sejenak, merasakan pening yang mulai menjalar di kepalanya. Pikirannya melayang pada sosok Deco---pria yang kini menjalin hubungan dengannya. Pria yang serba membingungkan. Deco bisa sangat manis, tapi di saat yang sama terasa begitu jauh dan tak terjangkau.
Dengan helaan napas berat, Rajesha akhirnya mematikan layar ponselnya dan meletakkannya tengkurap di atas meja.
"Dari semalam dia belum balas pesan gue..." gumam Rajesha lirih, suaranya terdengar sangat lelah. "Padahal gue cuma nanya dia lagi di mana. Dibaca pun enggak, Chie."
Archie merangkul bahu Rajesha, menepuk-nepuknya pelan untuk memberikan ketenangan. "Makanya, be happy, Jes. Di kehidupan lo yang makin bersinar ini, lo berhak dapat seseorang yang bisa menghargai lo sepenuhnya. Bukan cowok yang bikin lo terus-terusan merasa sendirian di dalam hubungan."
Rajesha menyandarkan kepalanya di bahu Archie. Di balik kilauan sorot lampu panggung dan kepopulerannya sebagai model papan atas, hati Rajesha sebenarnya hanya merindukan sebuah ketenangan dan kepastian yang nyata.
"Udah, jangan dipikirin terus." hibur Archie sambil meraih mangkuk bakso. "Nih, makan dulu baksonya. Abis ini lo masih ada pemotretan, jangan pasang muka lesu gitu kayak cucian basah."
Rajesha terkekeh tipis, akhirnya menerima sendok dari Archie. "Iya, bawel banget sih lo."
"Gue gini karena sayang sama lo, Jes." balas Archie tersenyum lega melihat sahabatnya mulai mau menyantap makanannya.
Di sudut paling pojok kantin SMA Jakarta, suasana siang ini terasa makin ramai. Sebuah meja panjang dipenuhi oleh dominasi siswa laki-laki yang memang terkenal hobi bikin masalah di sekolah.
"Lo dari awal masuk kelas tadi sampai udah jam istirahat gini, gue liat-liat senyum-senyum sendiri. Sawan lo, Kai?" celetuk Edwin sembari menyeruput es tehnya dengan muka heran.
Edwin---teman sekelas Kairo, sudah menatap aneh sahabatnya itu sejak pagi. Kairo yang biasanya sibuk menggerutu atau merencanakan bolos, kini justru bersandar santai di kursi sambil sesekali mengulas senyum tipis yang membingungkan.
"Tau nih, punya gebetan baru lagi kali tuh anak." sahut Athar ikut menimpali.
Kairo menaikkan satu alisnya. "Lo pada tau nggak, sekolah kita ada anak baru?"
"Terus? Lo incer?" Athar menyipitkan mata.
"Kayak nggak hapal aja lo sama tabiatnya Kairo kalau nemu yang bening dikit." potong Edwin.
"Gue serius, bangsat." Kairo meremas botol air mineral kosong di tangannya. "Tadi pagi gue hampir nabrak dia di dekat area parkiran. Anjing... mukanya cantik banget, wangi, pipinya pink gitu pas lagi ngomel ke gue!"
"Anak kelas mana, kocak?" Dewa yang dari tadi sibuk main game di ponsel akhirnya ikut nimbrung. "Lo pasti cuma tau mukanya doang. Namanya aja kagak tau."
"Nah, itu dia masalahnya!" tegas Kairo sambil menggebrak meja pelan. "Mangkanya dari tadi gue ngeliatin sekitar terus. Siapa tau dia ke sini."
Sementara itu, di dekat pintu masuk area kantin yang padat, Sabiel tampak ragu-ragu menghentikan langkahnya. Riuhnya suara piring beradu, bau asap makanan, dan gelombang siswa yang lalu-lalang membuat Sabiel sedikit kewalahan.
"Rame banget, Jen... kantinnya. Emang selalu kayak gini, ya?" bisik Sabiel pelan pada cowok manis di sampingnya.
Sejak pagi tadi, Sabiel sudah berkenalan dan langsung akrab dengan Jena---sosok teman sekelasnya yang berkulit putih bersih dan lembut.
"Duh, ini mah belum seberapa tau, El." balas Jena. "Ramenya segini karena kelas 12 masih pada ujian serentak di gedung sebelah. Kalau mereka udah keluar, bisa lebih ricuh lagi. Udah ayo, aku ajak ke meja yang biasa aku tempatin!"
Tanpa menunggu jawaban Sabiel, Jena langsung menarik jemari Sabiel dengan erat, membelah kerumunan murid yang sibuk mengantre makanan.
Kembali di meja pojok, Edwin yang lagi asyik menikmati semangkuk bakminya mendadak kaget waktu tangan Kairo menepuk lengannya kencang.
PLAK!
"Apaan lagi sih, bangsat?!" kesal Edwin sambil mengusap bahunya yang panas.
"Tuh! Liat depan, bego!" bisik Kairo setengah berteriak. "Yang lagi digandeng sama Jena... tuh cowok yang gue maksud tadi pagi!"
Sontak seluruh teman-teman Kairo di meja itu serempak menoleh ke arah dua cowok yang baru saja berjalan melewati meja-meja kantin.
"Eh buset... bening amat!" celetuk Dewa spontan, ponselnya bahkan hampir terlepas dari genggaman.
"Mata lo dijaga, ya!" tegur Kairo cepat sambil menoyor pelan kepala Dewa. "Punya gue itu."
"Punya lo dari mananya, anjing? Kenalan aja belum!" cibir Athar tertawa geli. "Tapi jujur, tipe-tipe anak rumahan banget itu sih. Muka manis, gaya pakaiannya rapi. Masa iya mau sama modelan anjing beringas kayak lo?"
Kairo tidak mengindahkan ejekan teman-temannya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring khasnya. Tatapannya terus mengunci sosok Sabiel yang kini tampak agak bingung celingukan di dekat penjual minuman.
"Liat aja nanti." gumam Kairo santai. "Gue terjang juga tuh bentengnya."
Denting bel panjang penanda berakhirnya jam pelajaran akhirnya membahana ke seluruh sudut sekolah. Sorak-sorai riang terdengar dari koridor-koridor gedung saat para murid berbondong-bondong keluar dari kelas.
Hari Senin yang melelahkan di sekolah baru telah berhasil diselesaikan oleh Sabiel dengan baik.
Rasa lelah Sabiel seketika hilang begitu saja ketika sebuah pesan singkat dari Alejandro beberapa menit lalu mengabarkan bahwa ia bisa menjemputnya setelah rapat dengan klien di luar kantor selesai lebih cepat.
Kini, Sabiel duduk manis di halte bus persis di luar gerbang utama sekolah. Keduanya kakinya yang terbalut sneakers putih berayun-ayun pelan, sementara sepasang mata bulatnya mengedar memperhatikan jalanan ibu kota yang mulai dipadati kendaraan. Ia sangat berharap mobil milik Alejandro secepatnya memunculkan batang hidungnya.
Namun ternyata...
Alih-alih sebuah mobil yang menghampiri, dari kejauhan justru terdengar raungan nyaring motor---persis seperti suara yang didengarnya pagi tadi.
Pengendaranya pun tak asing lagi.
Sabiel refleks membuang muka ke arah lain, berpura-pura sibuk memandangi dedaunan pohon di samping halte. Namun, harapannya untuk diabaikan sirna seketika. Pemilik motor garang itu memang sudah mengincarnya sejak tadi dan dengan sengaja memelankan laju kendaraannya begitu mendekati halte.
"Nungguin jemputan, ya?" sapa Kairo santai, menghentikan motornya tepat di tepi trotoar di hadapan Sabiel.
Sabiel menoleh tipis, menghela napas pasrah. "Kamu lagi... kamu lagi..." gumamnya pelan. "Iya, aku lagi nunggu jemputan."
Kairo tersenyum menang. Tanpa membuang waktu, ia melepas helmnya dan mengaitkannya di setang motor. Alis Sabiel makin mengerut heran melihat cowok itu malah mematikan mesin motor, lalu melangkah menghampirinya.
"Kamu mau ngapain?" Sabiel mendadak panik, matanya membelalak waspada.
Kairo yang melihat reaksi itu terkekeh geli, mengangkat kedua tangannya. "Eh, buset... lo kelihatan ketakutan banget sama gue? Muka gue mirip penjahat, ya?"
"Kamu aneh soalnya." balas Sabiel polos tanpa ragu, refleks menggeser posisi duduknya ke sudut bangku panjang halte, makin menjauh dari Kairo.
Kairo juga mendudukkan dirinya di ujung bangku yang sama. "Padahal gue cuma berniat baik, loh. Kan kita belum kenalan resmi dari pagi."
Kairo mengulurkan tangan kanannya. "Gue Kairo. Anak 11 IPS 2."
Sabiel menatap ragu uluran tangan di depannya itu. Ia menimbang-nimbang sejenak, ragu apakah harus membalasnya atau tidak.
Melihat Sabiel yang ragu, Kairo tertawa kecil. "Tenang aja, tangan gue wangi kok, nggak bau terasi. Juga nggak ada mantranya kalau lo sentuh."
Mendengar godaan itu, Sabiel mengerucutkan bibirnya tipis lalu akhirnya mengulurkan tangannya untuk menjabat jemari Kairo sekilas. "Aku Sabiel... kelas 11 IPA 1."
Gotcha!
Kairo bersorak puas dalam hati. Nama sosok manis di hadapannya ini akhirnya berhasil ia dapatkan.
"Panggilannya apa? Biel? Atau... sayang?" goda Kairo.
Sabiel buru-buru menarik tangannya kembali dari genggaman Kairo. Lelaki manis itu langsung memalingkan wajah lurus ke depan, berusaha menyembunyikan kedua pipinya yang mendadak merona.
"Kamu jangan ganggu aku terus, deh!" sungut Sabiel dengan nada kesal.
"Gue nggak ganggu, Sabiel." sahut Kairo. "Cuma mau nemenin sampai jemputan lo datang. Halte sini kalau udah mulai sepi suka agak... serem, sih."
Sabiel melirik Kairo dari sudut matanya. "Serem karena ada kamu..."
Kairo tertawa lepas mendengar balasan spontan itu. "Parah banget! Gue ganteng gini disamain sama hantu halte."
"Lagian kamu tengil banget!" balas Sabiel tak mau kalah, meski bibirnya akhirnya menyunggingkan senyum tipis yang berusaha ia sembunyikan.
"Tengil-tengil gini tapi jujur, kan?" Kairo menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap samping wajah Sabiel dari dekat tanpa berkedip. "Ngomong-ngomong, nama lo bagus. Sabiel. Pas banget sama mukanya yang manis."
"Bisa diam sebentar nggak?" Sabiel menutup mukanya yang makin membara dengan kedua telapak tangan. "Telinga aku panas dengar gombalan kamu dari tadi."
"Oke, oke, gue diam." Kairo terkekeh pelan, mengacak pelan rambutnya sendiri. "Tapi beneran, jemputan lo masih jauh? Kalau masih lama, mending naik motor sama gue aja. Biar gue antar selamat sampai rumah."
"Nggak mau." tolak Sabiel cepat. "Abang aku udah dekat kok. Lagian aku juga nggak mau dibonceng kamu soalnya ugal-ugalan."
"Elah, pagi tadi kan kepepet karena telat." Kairo membela diri. "Kalau bonceng anak cantik kayak lo mah, gue bawa dua puluh kilometer per jam juga gue jabanin. Biar lamanya makin berasa."
Alis Alejandro berkerut saat dari kejauhan matanya menangkap sosok Sabiel yang tengah duduk di halte sekolah.
Di sebelah adiknya, duduk seorang remaja laki-laki dengan gaya santai yang tengah tersenyum lebar ke arah Sabiel. Dari balik kemudi, Alejandro bisa melihat dengan jelas bagaimana pipi Sabiel memerah merona dipadu dengan bibir yang mengerucut cemberut.
Mata Sabiel berbinar seketika saat mengenali mobil kakaknya yang perlahan mendekat. Sabiel buru-buru berdiri, mengapit tali ranselnya erat-erat ketika mobil itu menepi tepat di depan motor milik Kairo.
Kairo pun ikut beranjak dari duduknya. Di dalam hati, ada sedikit rasa tidak rela lantaran jemputan Sabiel datang begitu cepat, padahal ia baru saja ingin mengobrol lebih lama dengan cowok manis itu.
Alejandro menurunkan kaca mobil. "Maaf ya nunggunya lama, sweetheart. Tadi Abang sempat kejebak macet sebentar di persimpangan."
Sabiel mengangguk cepat, memamerkan senyum cerianya. "Nggak apa-apa, Abang! Biel belum terlalu lama kok nunggunya."
Sebelum melangkah mengitari pintu mobil, Sabiel menoleh ke arah Kairo. "Kai, aku pulang duluan ya. Makasih udah mau nemenin nunggu... walaupun kamu nyebelin banget dari tadi!"
Mata Alejandro perlahan bergeser, ikut mengamati cowok yang berdiri di samping adiknya. Senyuman percaya diri dan binar hangat di matanya kala menatap Sabiel benar-benar tidak bisa diabaikan.
"Sama-sama, Biel. Hati-hati di jalan, ya." balas Kairo, senyumannya tak luntur sedikit pun. Ia memberikan lambaian tangan saat Sabiel masuk ke dalam mobil.
Kairo kemudian mengalihkan pandangannya pada pria tegas di balik kemudi. Ia menganggukkan kepalanya sekali sebagai gestur pamit. Alejandro membalas anggukan itu singkat, mengamati lambaian tangan adiknya dari balik kaca jendela yang perlahan terangkat naik sebelum akhirnya menginjak pedal gas.
Mobil Alejandro perlahan meninggalkan kawasan sekolah, membelah hiruk-pikuk lalu lintas sore kota Jakarta.
"Gimana hari pertama sekolahnya? Senang?" tanya Alejandro memecah keheningan.
Sabiel menyandarkan punggungnya di kursi, menyisir poninya ke belakang telinga. "Senang banget, Abang! Di kelas tadi banyak banget yang ngajakin aku kenalan. Apalagi yang namanya Jena, dia teman sebangku aku, lucu banget dan cerewet. Walaupun sejujurnya aku masih agak shock sih, suasananya beda banget sama kehidupan di Jogja."
"Syukur deh kalau kamu senang dan udah punya banyak teman baru." sahut Alejandro sembari mengulas senyum tipis. "Pelan-pelan aja adaptasinya. Lama-lama juga kamu pasti terbiasa kok sama kehidupan di Jakarta."
Alejandro hening sejenak. Pandangannya lurus ke depan, namun guratan rasa penasaran di wajahnya tak bisa disembunyikan.
"Ngomong-ngomong, cowok yang di halte tadi... siapa, Biel?"
Seketika, bayangan wajah tengil Kairo dan godaan-godaannya dari pagi tadi melintas cepat di pikiran Sabiel.
"Ah... itu... cuma teman, Bang." jawab Sabiel. "Dia anak IPS. Tadi dia cuma kasihan ngeliat aku sendirian, jadi dia nemenin nungguin Abang datang."
Alejandro mengangguk-angguk mengerti, meski sudut matanya tetap memperhatikan gestur adiknya yang sibuk memainkan tali sabuk pengaman.
"Ooh, gitu..." Alejandro bergumam lirih. "Tapi... senyuman cowok tadi berasa nggak asing ya."
Sabiel mendadak menoleh cepat, menatap wajah kakaknya dengan rasa ingin tau. "Hah? Nggak asing? Abang kenal sama Kairo?"
Alejandro menggelengkan kepalanya perlahan. "Nggak kenal, Biel. Abang cuma merasa... garis senyum dan tatapan matanya kayak pernah Abang liat sebelumnya. Tapi mungkin cuma perasaan Abang aja."
TBC.