Detektif✔

By -nrshfms

247K 18.4K 107

Kehilangan ayah kandungnya, membuat Prilly mengikuti kelompok detektif yang aktif di sekolahnya. Ia di pertem... More

Prolog
Awal dan Pertemuan
Aneh
Bos Hebat
Masalahku Dalam Misi Pertamaku
Kamu Terlalu Jahat
Dibalik "Kamu Terlalu Jahat"
Apa Arti Dari Tatapan Itu?
Mereka Tidak Ada di Ibu Kota
Serah dah, Serah
Akhir Pencarian
Ibu
Dibalik "Ibu"
Pasar Malam
First Kiss
First Day
Tidaaak
Maaf
Rumah Sakit
Misi Baru
Bukti
Mulai Hari Ini
Prilly Dalam Bahaya
Akhir Rendy
Date
Ingat
Memory (Prilly POV)
Masa Lalu (Prilly POV)
Bertemu dan Pergi
End
after my girlfriend died
Brother
PENTING!!
GIVEAWAY [Now - 28 Oktober]
Tersedia Di Google PlayStore
Jaket BTS

Oke Deh, Ketua

7.1K 565 0
By -nrshfms

Tidak terasa sudah pagi. Untung saja hari ini aku ada kerjaan. Aku sangat tidak sabar bertemu dengan Ali. Setelah kejadian kemarin, aku jadi sadar siapa aku ini. Benar, Ali sudah mempunyai seseorang dihatinya. Dan aku harus tau diri aku ini siapa.

"Oh iya, nelfon Ali. Gue lupa" seruku lalu membuka hape. Aku mencari nomor hape Ali lalu menelfonnya. Aku harap hari ini adalah hari yang baik.

"Halo bos?"

"Halo, apa Prill?"

"Jangan panggil Prill dong, panggil Ily aja"

"Terserah gue dong, gue 'kan bos lo!"

"Ya, ya serah dah serah"

"Ngapain lo telfon?"

"Lo lupa? Katanya lo ada misi"

"Misi?"

"Iya, misi"

"Hem... oh iya, gue lupa. Hari ini gue jemput lo deh!"

"Oke, jam berapa?"

"Jam 10an deh"

"Oh, masih lama dong"

"Iya"

"Yaudah deh, gue tutup"

"Iya"

"Iya, lo aja yang tutup"

"Iya, gue tutup"

"Kok belum ditutup hehe"

Jangan ditutup deh, masih kangen.

"Lo duluan aja deh" ujar Ali.

"Ih, 'kan lo dulu"

"Lo aja deh"

"Gue dulu ya"

"Iya"

"Yaudah gue tutup"

"Oke. Duaaar telfonan sama siapa lo? E... eh, gue tutup ya!" Ujar Ali terburu-buru karena ada suara seorang perempuan yang tiba-tiba berbicara di telfon.

Tuut

Tuut

Tuut

"Eh, Li? Ali? Halo? Bos? Yah, dimatiin. Tadi suara siapa ya? Kok kayak suara cewe sih?" Tanyaku kebingungan. Sebenarnya disitu aku sangat cemburu. Aku sangat rindu kepada Ali. Walaupun beberapa jam tapi seperti sudah setahun bahkan lebih.

Yasudahlah, lebih baik aku jogging  saja.

Ali POV

"Ah, jongging dulu deh! Biar sehat" ucapku sambil ganti baju.

Miss chubby is calling.

"Prilly? Kebetulan banget nih gue lagi kangen sama dia" ujarku sambil tersenyum melihat hape lalu duduk diatas kasur.

"Halo bos?"

"Halo, apa Prill?"

"Jangan panggil Prill dong, panggil Ily aja"

Kalau miss chubby boleh ga?

"Terserah gue dong, gue 'kan bos lo!"

"Ya, ya serah dah serah"

Hihihi lucu banget nih si sayang. Jadi gemez.

"Ngapain lo telfon?"

"Lo lupa? Katanya lo ada misi"

"Misi?" Misi apaan?

"Iya misi"

"Hem... " Oh iya, kemaren 'kan gue bilang ke dia kalau ada misi. "oh iya, gue lupa. Hari ini gue jemput lo deh!"

"Oke, jam berapa?"

"Jam 10an deh"

"Oh, masih lama dong"

"Iya"

"Yaudah deh, gue tutup"

"Iya"

"Iya, lo aja yang tutup"

"Iya, gue tutup"

"Kok belum ditutup hehe"

Gaah, nanti ampe maghrib aja. Aku masih kangen.

"Lo duluan aja deh" ujarku.

"Ih, 'kan lo dulu"

"Lo aja deh"

"Gue dulu ya"

"Iya"

"Yaudah gue tutup"

"Oke." Jangan deh, masih kangen.

"Duaaar telfonan sama siapa lo?" Seorang perempuan berwajah kearaban mengagetkanku dari belakang. Dia adalah Kaia kakaku.

"E... eh, gue tutup ya!" Ujarku dengan terburu-buru.

"Lo ngagetin aja deh!" Ujarku kesal.

"Teleponan sama siapa lo?"

"Kepo deh lo!"

"Siapa? Pacar bau ya?"

"Pacar baru kalee!"

"Beneran lo punya pacar baru?"

"Bukan, ini Prilly tauu!"

"Prilly? Gue pengen ketemu dia..."

"Gaboleh" ujarku lalu berdiri.

"Nyebelin banget sih lo!" Kaia pun ikut berdiri.

"Biarin"

"Ih, gue 'kan kakak lo"

"Kaka? Kok tinggian gue sih" sambil mengukur kepalaku dan kepalanya.

"Ih, tapi kangen sama Prilly"

"Kak, lo tau 'kan gimana kondisinya sekarang?"

"Iya gue tau, tapi..." Kaia langsung berlari ke kamar tanpa melanjutkan apa yang akan di bicarakannya tadi.

Benar, Kaia sangat dekat dengan Prilly dulu. Sebelum terjadinya kejadian itu.

***

Aku keluar dari rumah dengan rambut diikat dan memakai sepatu bola. Aku lalu berlari ke arah samping rumah.

Beberapa saat setelah aku berlari, tiba-tiba ada yang mencolekku dari belakang. Aku menengoknya dan saat aku lihat ternyata seorang perempuan cantik yang sepertinya tidak asing buatku.

"Hai Prilly!"

"Hai, maaf siapa ya?"

"Saya? Saya murid alumni di sekolah kamu!"

"Alumni? Kok kenal saya sih? Saya 'kan baru aja masuk ke sekolah tersebut!"

"Hah? Kita 'kan tetanggaan jadi kenal. Saya kakanya Ali. Nama saya Kaia" jawabnya gugup sambil mengulurkan tangannya.

Aku membalas uluran tangannya.

"Oh, kakanya Ali! Pantes aja mirip trus kayak yang ga asing wajahnya"

"Iya, eh jogging nya udah dari tadi?"

"Belum sih, baru"

"Aku udah dari tadi. Tapi, mending kita makan dulu yu!"

"Yaudah deh, ayo!"

Kamipun berjalan beberapa meter dari tempat kami bertemu. Dan ternyata, kami hanya memakan es Cendol. Kaia bilang itu adalah makanan favoritenya.

"Eh, aku sering kesini tiap hari. Jajan es cendol iya 'kan mang?" Ujar Kaia dibarengi dengan bertanya.

"Iya" jawab si mang cendol.

Aku sangat nyaman bersama Kaia. Dia sangat menyenangkan. Membuatku tidak canggung dekat dengannya.

"Eh, ada Prilly!" Ujar seorang gadis yang sepertinya sebaya denganku.

Benar, aku pernah melihatnya di sekolah. Stiap aku melihatnya dia seperti berusaha ingin berbicara denganku tetapi selalu saja ada yang menghalangi. Dia bertiga dengan temannya. Benar, mereka selalu bertiga.

"Kalian 'kan satu sekolah sama gue. Kok kita bisa ketemu disini sih?" Tanyaku kepada mereka. Kulihat Kaia seperti tidak senang kepada mereka. Ada apa sebenarnya ini?

"Lo masih belum inget siapa kita?"

"Maksudnya?"

Kaia langsung menghadang mereka, membuat mereka tidak terlihat olehku.

"Gue minta kalian pergi dari sini!" Perintah Kaia dengan nada tinggi.

"Sabar dong, gue 'kan cuma mau ngenalin diri aja. Santai aja"

Apa ini? Apa yang sebenernya terjadi?

"Prillyku, inget nama gue baik-baik. Gue Vandra Rebecca. Orang yang pacarnya dicuri sama lo!"

Aku mengerutkan dahi menandakan berbagai arti.

"Ngapain lo disini?" Ujar seorang cowo dari belakang Vandra.

Itu 'kan Ali!

"Ali?" Tanyaku sambil berdiri

Vandra berbalik kebelakang "A... a... Ali? Kok lo disini sih?" Tanya Vandra gugup.

"Prill, lo pergi dulu deh sama Kaia"

Aku sebenernya tidak ingin pergi, aku ingin penjelasan dari keadaan ini. Tapi, daripada ada keributan, yasudahlah, aku menurut saja.

"Ayo kak!" Ajakku sambil menarik tangan Kaia.

Aku tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa harus Aku?

***

"Ali mana sih? Kok lama banget?" Gumam Kaia.

"Kak? Yang tadi itu siapa sih?" Tanyaku.

"Yang tadi? Rebecca maksudnya?"

"Iya, kayanya dia benci sama aku."

"Dia mah emang gitu kalau ada orang yang deket sama Ali"

"Mantannya Ali?"

"Iya, tapi gitu lah, padahal dia udah punya pacar, tapi masih aja ganjen sama Ali. Gue sih sebenernya gasuka sama dia"

"Gasuka? Kenapa?"

"Dia orangnya ga asik"

"Ish kaka, kirain apa"

"Kaka sih sukanya sama kamu."

"Gak kak, makasih. Aku masih normal"

Kamipun bertatap-tatapan lalu tertawa. Nyaman sekali sama Kaia. Dia menyenangkan.

"Kak, aku panggil kaka apa ya? Masa kak Kaia?"

"Panggil aja kak Ia, atau kak Kai juga boleh"

"Oke deh" lalu aku menengok kedepan. "Eh, itu Ali"

"Lama banget sih lo" ujar kak Ia.

"Sorry, sih. Ribet tau ngurusin mereka." Ujar Ali ke kak Ia lalu melihatku. "Eh, Prill, ayo katanya kumpul"

"Eh? Iya" jawabku gugup.

Kami sekarang sedang bertatapan. Jantungku berdegup kencang melihat Ali yang sekarang berada di depanku. Rasa rinduku seakan menghilang dengan melihatnya. Ali memang ajaib. Dia bisa menghilangkan rasa rinduku padanya hanya dengan menatapnya.

"Priwit" ujar kak Ia membuyarkan tatapanku dengan Ali. "Fiuh, seharusnya lo ga usah kesini tadi, gue di kamcongin 'kan!"

"Iya, tadi kita ketawa-ketiwi sebelum ada lo!" Timpalku.

"Ah, lo juga kesenengan kan?"

Ah, gendok.

"Ish, kak Ia" ucap Ali membelaku.

"Kan aku pacarnya kak Ia"

"Gak, makasih. Kaka udah punya pacar" jawabnya.

"Hah? Kaka selingkuh?" Tanyaku.

Kami bertiga bertatap muka lalu tertawa.

"Hihi, aku salah ngomong ya?"

***

Aku menyisir rambutku sambil melihat diriku di cermin. Benar, hari ini harus lancar. Paling tidak, habiskan waktu dengan Ali lebih lama.

Tengnong

Hapeku berbunyi menandakan pesan. Kulihat hapeku, ternyata Ali.

Isi pesan :

Prill, gue udah depan rumah lo.

Aku melihatnya sambil tersenyum. Tanpa membalas pesan Ali aku langsung memasukkan hapeku kedalam tasku lalu turun menemui Ali.

Kulihat Ali sedang melihat hapenya sambil tersenyum. Aku mengerutkan dahi mengartikan 'apa yang Ali lihat?'

"Bos" seruku mengagetkannya dan diapun refleks memasukkan hapenya.

Bener, aku harus tau diri.

"Ayo berangkat!" Perintahku.

Ali menstarter motornya. Aku lalu naik ke motor Ali. Sepanjang jalan terasa hening. Yasudah, aku saja yang duluan bicara.

"Bos, tim detektif kalian punya pekerjaan masing-masing ga?"

"Maksudnya?"

"Ya, kaya tim analisis, tim lapangan, atau apa gitu?"

"Oh, yang kaya begituan. Iya sih, kita punya kerjaan atau keistimewaan masing-masing"

"Misalnya apa?"

"Hmm... misalnya gue, gue bisa berbagai macem. Misalnya mecahin kasus, bisa bela diri dan... bisa ngendarain kendaraan apa aja. Dari yang ber-roda satu sampai yang ber-roda banyak. Dari yang dilaut sampai di udara."

"Oh... hah? Beneran? Kereta api sama pesawat bisa dong"

"Pesawat sih pernah, tapi kalau kereta api, gue belum ngalamin sih."

Wah hebat banget Ali.

"Trus anggota lainnya?" Tanyaku.

"Emm... Misel, dia yang suka nyari misi, nge-hack, ngasih virus ke komputer, sama nyuri data-data gitu. Pokoknya, dia bisa IT kaya gituan, bela diri juga bisa."

"Emm" jawabku sambil mengangguk menandakan mengerti.

"Trus kalau Mila, dia jago bela diri juga, jago akting, larinya cepet, dan bisa megang senjata."

"Wow"

"Trus Dika, dia sebelas dua belas sama Mila. Dia disukai banyak cewe. Dan pesonanya bisa memikat perempuan. Dia jago di bidang penyamaran."

"Oh, jadi semua anggota detektif itu harus bisa bela diri..."

"Trus lo, lo jago bela diri juga, pemberani, jujur, cantik, dan chubby"

"Oh... HAH? Bos, tadi itu gue 'kan?" Jawabku kaget.

"Iya, elo"

"Tapi bos..."

"Jangan panggil gue bos lagi, lo udah jadi anggota tim detektif"

"Tapi bos, lo 'kan ga setuju"

"Gue, berubah fikiran. Lo berguna buat kita"

Gue seneng banget, sampe-sampe mau ngeluarin air mata. Eh tapi, darimana dia tau kalau gue bisa bela diri?

"Bos... eh Ali, kok lo bisa tau kalau gue bisa bela diri?"

"Hah? Gu... gu... gue cuma nebak-nebak aja, emang beneran lo biasa bela diri?" Jawabnya dengan terkejut dan gugup.

"Iya gue bisa. Gue juga bisa megang senjata"

"Bagus deh kalau gitu. Lo 'kan udah jadi anggota tim gue. Jadi, lo panggil gue ketua!"

"Hah? Kenapa gitu? Yang lainnya engga"

"Lo 'kan anggota baru"

"Ah, bos..."

"Eh... ketua"

"Oke deh, ketua"

~Detektif~

Continue Reading

You'll Also Like

46.5K 2.5K 27
New story update 15 Maret 2020 Chapter 25 ** * ** Kisah gadis kembar Prilly dan Sisi
468K 34.3K 55
[S E L E S A I] Ali mencintai Prilly. Begitu juga sebaliknya. Sifat Ali yang tempramental, keras kepala dan tidak mau diatur, membuatnya dijuluki Bad...
191K 13.5K 22
Cerita ini saya private acak. Adegan dewasa dan part 20-ending! Perpisahan kedua orang tuanya membuat seorang Prilly Almira harus kerja banting tulan...
199K 21.2K 31
"Prilly itu punya Abang." #2 - aliprilly (10/10/2019) #1 - ggs (05/11/2021) #94 - fanfiction (26/11/2018) #4 - aliandoprilly (17/10/2019) #3 - alian...
Wattpad App - Unlock exclusive features