Almost Is Never Enough

By anjanidm

10.3K 1K 105

Ketika kita tak bergerak, biarkan waktu yang menjawabnya.. Kita terlalu dekat hingga aku jatuh cinta. Kita te... More

Prolog
1
2
3
4
5. Deny
6. Hurt
7. She's Broken
8. She's Broken (II)
9. I Know
10. I'm Fine
12. Over
13. Lunch
14. Tender
15. Full Day
16. Worst
17. Movie
18. Come Back
19. Confused
20. Dinner
21. The End of a Love Story vs You're Mine
22. Hurt (II)
23. Midnight
24
25. For Better or Worse?
26. For Better or Worse? (II)
27. Complicated
28. Leave Him. Please
29. Choice
30. Choose
31. Decision
32. For Better
33. For Better (II)
34. The Letter
Epilog
PENGUMUMAN

11. Birthday

220 30 7
By anjanidm

Dinar sudah meminta izin pada Dira dan Faisal untuk bersembunyi dirumahnya. Ia juga sudah meminta izin bahwa ia akan memberikan kejutan untuk anaknya.

Tentu saja hal ini diterima dengan baik oleh Dira dan Faisal. Dinar senang, maka dari itu, ia memutuskan untuk membawa kue beserta kado yang sudah disiapkannya di tempat yang ia percaya keamanannya.

Raka yang berada dikamarnya pun tak menyadari bahwa Dinar tengah berada dirumahnya. Raka hanya tertidur dengan tenang di atas ranjangnya.

***

"Happy birthday Raka, happy birthday Raka, happy birthday, happy birthday, happy birthday Raka"

Suara lembut Dinar terdengar begitu tenang ditelinga Raka. Kamar Raka hanya bercahaya sedikit dan itu dari lilin yang berada di atas kue bolu.

"Raka, wake up. Today is your birthday."

Raka mengerjapkan matanya berkali-kali. Dan ia sedikit menyipitkan matanya karena cahaya dari api pada lilin tersebut.

"Dinar?" Suara Raka masih terdengar parau. Raka tersenyum melihat gadis yang hanya terlihat wajahnya karena efek daru cahaya api tersebut.

"Tiup lilinnya, jangan lupa make a wish,"

Raka memejamkan matanya dan mulai berdoa di dalam hatinya. Cukup lama, sampai akhirnya ia membuka matanya dan langsung meniup lilin tersebut. Api pun padam. Semuanya menjadi gelap dan,

Krek

"HAPPY BIRTHDAY!!!" seru tiga orang yang berada di setiap sudut kamar Raka.

Raka menatapnya dengan berbinar. "Mama? Papa? Dan... Agatha?"

Kedua bola mata Dinar terbelalak ketika Raka menyebutkan nama Agatha. Ia langsung memutar tubuhnya dan melihat Agatha yang berada di antara Dira dan Faisal.

Agatha berjalan menghampiri Raka lalu memeluk prianya. "Happy birthday, Baby,"

"Thank you,"

Dinar berjalan ke arah Dira dan berdiri disebelahnya. Dinar menatap sepasang kekasih itu yang masih berpelukan dan membuat hatinya kembali teriris.

"Tante juga kaget, tiba-tiba ada dia pas kamu nyanyi lagu happy birthday buat Raka" bisik Dira seolah mengerti apa yang dipancarkan oleh raut wajah Dinar.

Dinar hanya tersenyum masam. Lalu ia meraih sekotak kado yang telah rapi terbungkus. Ia menyimpannya di atas meja yang terdapat di kamar Raka.

"Om, Tante, Dinar pulang, ya. Papa pasti nunggu" ucap Dinar, "Permisi"

Dinar pun berjalan keluar dari rumah Raka dengan perasaan yang terluka. Ya, ia terluka. Air matanya pun tak mampu terbendung lagi.

Langkah kakinya terkesan lamban. Seolah-olah ia masih harus melakukan seribu langkah lagu untuk sampai rumahnya.

Lututnya lemas, ia pun menjatuhkan tubuhnya di atas rerumputan yang rapi.

Ia tidak ingin terdiam disini. Ia hanya ingin pulang, berbaring di atas ranjang merenungkan semua yang terjadi hari ini dan akan terjadi esok hari.

Tetapi nihil, kakinya seolah tak bisa bergerak. Kaku. seluruh badannya menjadi kaku.

***

"Dinar, bangun sayang. Itu ada Raka nunggu dibawah juga"

Dinar menggeliat ketika Tandri membangunkannya dengan lembut. Matanya perlahan terbuka, ia merasakan berat dimatanya karena ia baru saja tidur pukul 5 dini hari dan terus menerus menangis. Ia melirik jam weaker yang telah menunjukkan pukul 7.

"Pagi, Pa"

Tandri tersenyum melihat wajah anaknya yang baru saja bangun dari alam tidurnya.

Tandri melihat kedua bola mata anak gadisnya yang bengkak. Ia tahu apa yang terjadi sebelumnya. Ia tahu bahwa anaknya baru saja tidur pukul 5 dini hari.

"Ada Raka diluar" ucap Tandri mengelus puncak kepala Dinar.

Dinar mengerutkan dahinya, "Ngapain?"

Tandri menaikkan kedua bahunya. "Kamu samperin dia, gih, kasian udah nunggu lama"

Dinar mengangguk. Ia beranjak dari ranjangnya lalu menuju wastafel untuk membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar.

Tak peduli dengan pakaian semalam yang masih ia pakai hingga saat ini. Ia pun berjalan menuju dimana Raka berada.

"Raka?"

Yang dipanggil menolehkan wajahnya lalu tersenyum. "Thanks buat surprise nya tadi malam," ucapnya, "sampe-sampe lo minta Agatha untuk datang"

Dinar mengerutkan dahinya. Setahunya, Dinar tak mengajak Agatha untuk memberikan surprise pada Raka. Tapi...., entahlah.

Dinar hanya tersenyum.

"Sekarang, lo mandi, dan siap-siap. Gue mau ajak lo ke Trans Studio. Cepetaann!" Seru Raka seraya mendorong pelan bahu Dinar.

Dinar hanya menuruti apa yang dikatakan oleh Raka. Ia pun kembali menuju kamarnya, dan memasuki kamar mandi yang berada dikamarnya.

Setelah mandi, ia segera mencari pakaian santai. Matanya pun tertuju pada kaos lengan panjang berwarna maroon yang didepannya terdapat tulisan Style. Ia juga mengambil celana pendek berbahan brukat dengan warna peach.

Ia menuju meja rias lalu menaburkan bedak bayi di permukaan wajahnya. Ia juga memoleskan lipgloss natural hanya agar terlihat segar.

Rambut hitam panjangnya ia biarkan tergerai. Ia menarik tas selempangnya, lalu memasukkan dompet, ponsel, headset, power bank dan USB ke dalamnya. Lalu ia meraih sneakers dan memakainya. Segera ia keluar kamar dan menghampiri Raka.

"Udah siap?" Tanya Raka, dan mendapat anggukkan dari Dinar.

Mereka pun berpamitan dan segera menuju mobil Raka yang terparkir di depan rumah Dinar.

Dinar hendak membuka pintu mobil bagian belakang, namun ditahan oleh Raka.

"Lo di depan aja. Entar gue dikira supir"

Dinar terkekeh. Ia pun akhirnya terduduk di jok penumpang bagian depan.

Raka mulai menginjak pedal gas lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal.

Setelah mereka keluar dari daerah perumahannya, mereka menelusuri jalan raya dan kembali memasuki kawasan perumahan yang mewah.

"Loh? Katanya mau ke Trans Studio?"

Raka tersenyum. "Gue mau jemput Agatha dulu"

Seketika Dinar terdiam. Awalnya ia senang akan pergi berdua dengan Raka. Namun ternyata, Raka juga mengajak Agatha.

Mobil Raka terhenti di depan sebuah rumah mewah. Seorang gadis yang tengah menunggunya itu langsung menuju pintu bagian depan dan mengetuk kacanya. Dinar pun membuka kaca mobil.

"Lo bisa keluar, kan? Gue pacarnya, seharusnya gue yang duduk di depan" ucap Agatha dengan lembut namun sinis.

Dinar tak menjawab, ia langsung pindah ke jok penumpang di belakang. Setelah Dinar pindah dan Agatha sudah terduduk dengan manis disamping Raka, Raka kembali mengemudikan mobilnya.

Selama diperjalanan Dinar hanya terdiam mendengarkan pembicaraan sepasang kekasih di depannya. Ia juga hanya menatap jalanan dengan bosan.

Terkadang Raka dan Agatha tertawa. Dan Agatha menyandarkan kepalanya di bahu Raka yang tengah mengemudi.

Dinar menatap kedua bola mata Raka melalui cermin di atas dasbor. Raka yang merasa diperhatikan pun segera melihat ke arah cermin dan mendapati Dinar yang tengah memperhatikannya.

Raka tersenyum pada Dinar, sementara gadis itu hanya tersenyum tipis lalu kembali membuang pandangannya lagi.

Dinar terus memandangi jalanan yang sedikit ramai karena hari ini adalah hari minggu.

Hatinya masih terasa sakit hingga sekarang. Ia bahkan hampir tak tidur seharian karena menangis.

"Yeay! Kita sampai!" Seru Agatha dengan antusias.

Agatha, Raka, dan juga Dinar turun dari mobil. Segera mereka berdiri di antrian loket untuk membeli tiket.

Setelah 3 tiket didapatkannya, mereka pun segera memasuki area bermain.

Agatha berjalan seraya bergelayut manja ditangan Raka. Dan Raka pun tak merasa risih.

Sementara Dinar, ia berjalan dibelakang sepasang kekasih tersebut.

"Kita ke wahana hantu dulu, yuk!" Ajak Agatha, kemudian Raka menyetujuinya.

Raka menoleh ke arah Dinar untuk meminta persetujuan. Dinar pun mengangguk.

Mereka mulai berjalan dan terhenti di antrian wahana hantu. Antrian pun tak terlalu panjang. Jadi mereka tak usah menunggu terlalu lama.

"Kita di depan, yuk" ajak Agatha pada Raka.

"Lebih baik kamu sama Dinar. Kasian kalau Dinar dibelakang sendiri nantinya" ucap Raka.

Agatha melirik sekilas Dinar yang juga meliriknya. "Nggak mau! Pokoknya kamu sama aku, OK? Yuk!"

Agatha mulai menarik tangan Raka dan terduduk di kereta kecil paling depan. Dan dengan berat hati, Dinar terduduk di kereta belakangnya.

"Seatbelt jangan lupa," ucap Raka yang tertuju kepada keduanya.

Kereta mulai berjalan. Agatha mulai ketakutan dan memeluk Raka dengan refleks. Dinar hanya tersenyum masam.

Selama diperjalanan, ia tidak memperhatikan sekitar dan tidak begitu fokus pada suara apapun. Tatapannya kosong. Berbagai macam pikiran masuk ke otaknya.

"Dinar, lo mau ikut keliling lagi?" Tanya Raka menyadarkan gadis yang tengah melamun itu.

Dinar pun terlonjak lalu tersadar dari lamunannya. "Eh"

Dinar pun turun dari kereta kecil dan mulai berjalan menyusul Raka dan Agatha.

Agatha berjalan dengan terus bergelayut manja di lengan Raka. Dinar yang berjalan dibelakangnya pun hanya terdiam seolah tak peduli.

"Jelajah, yuk!" Agatha menarik pergelangan tangan Raka menuju antrian wahana air.

Ketika di kereta pun, Agatha dan Raka terlihat sangat romantis. Sementara dirinya terduduk dibagian tengah seorang diri.

Dibelakangnya terdapat dua insan yang juga berlawan jenis. Namun Dinar tak terlalu memperdulikannya.

Byuurr

Cipratan air mengenai permukaan wajah Dinar dan sedikit mengenai pakaiannya membuatnya tersadar dari lamunannya.

Bahkan diwahana ini pun ia tidak merasakan sensasinya.

Beberapa wahana sudah ia rasakan, namun tak ada yang membuatnya merasakan keseruan. Bahkan wahana ekstrem sekalipun.

"Gue toilet dulu, ya" ucap Dinar dan mendapat anggukkan dari Raka.

Ia pun berjalan menuju toilet. Ia berdiri dihadapan cermin. Ia membuka kran wastafel untuk mencuci tangannya dan membasuh wajahnya.

Ia menyesal ikut pergi bersama Raka kalau begini jadinya. Rasanya ia ingin buru-buru pulang.

Dinar pun berjalan keluar dari toilet. Ia mencari dimana Raka dan Agatha. Matanya tertuju pada sepasang kekasih yang saling mendekatkan wajahnya. Lalu-

Deg

Refleks Dinar membuang pandangannya jauh-jauh. Ia tahu apa yang kini tengah terjadi. Ia pun berlari kecil menjauhi kedua insan itu.

Lagi-lagi, hatinya terluka. Air matanya kembali turun. Ia menyesal mengikuti ajakan Raka. Ia amat sangat menyesal.

Kakinya masih terus melangkah sampai pada akhirnya terhenti ketika ia menabrak seseorang.

Ia mendongakkan wajahnya. Melihat siapa yang baru saja ia tabrak. Bersyukur karena orang yang ia tabrak adalah pemuda yang dikenalnya.

Tanpa basa-basi, ia pun memeluk pemuda tersebut.

Pemuda teraebut membalas pelukan Dinar, dan mengelus rambut Dinar secara lembut untuk menenangkannya.

"It's OK, Dinar. It's OK"

***

"Mau sampai kapan makanannya diplototin kayak gitu terus, hm?"

Dinar menghela napasnya. "Aku sudah bilang nggak lapar, kamu malah pesan makanan"

"Wajah kamu pucat, Di. Aku yakun kamu belum sarapan"

Dinar menatap pria dihadapannya kini. Akhirnya, ia menuruti apa yang dikatakan pria tersebut.

Untung saja seseorang yang ditabrak Dinar tadi itu adalah Aji. Kalau bukan, ia pasti sudah dijera rasa malu.

Tapi jangan pikir saat ini ia tak merasa malu. Ia amat sangat malu.

Karena apa? Bayangkan saja, kau menabrak seseorang seraya menangis dan tiba-tiba memeluknya. Dan sekarang, seseorang itu malah mengajakmu makan.

Hhh, Dinar memilih untuk membenamkan wajahnya di tumpukkan bantal. Ia malu.

Suapan terakhir diterima dengan baik oleh lambung Dinar. Setelah itu, ia menyeruput Lemon Tea nya.

"Makasih, ya, Ji"

Aji mengangguk mantap. Ia menatap gadis dihadapannya. Gadis patah hati, mungkin. Matanya yang sembab, penampilannya yang hancur.

"Ngomong-ngomong, kamu kesini sama siapa, Ji?" Tanya Dinar memastikan.

"Aku kesini sama adikku dan teman-temannya. Ya, biasalah. Tapi mereka lagi keliling, mungkin"

Dinar mengangguk mengerti.

"Kalau kamu?"

Dinar terdiam beberapa saat, sebelum pada akhirnya ia menjawab. "A-Aku sama sahabatku dan pacarnya"

"Oh, jadi setan, dong?"

Dinar hanya tersenyum tipis. Ya, kalau begini caranya, ia sama saja mengantar sepasang kekasih untuk kencan.

Dan mengingat kejadian beberapa waktu lalu, membuat matanya kembali memanas.

"Kayaknya aku lupa nanya ada apa sama kamu, deh" ucap Aji. "Why you crying? Disaat orang lain tengah bersenang-senang, kamu malah menangis?"

Dinar tersenyum masam. "Aku--"

"It's OK kalau kamu belum siap cerita sekarang. Kamu bisa cerita lain kali, mungkin?"

Dinar mengangguk menanggapi. Ia tersenyum ke arah Aji dengan perasaan tak enak yang menyelimuti.

"Aku boleh minta ID Line kamu? Untuk memastikan kalau kamu baik-baik saja" pinta Aji seraya memberikan ponselnya.

Dinar terkekeh lalu mengangguk. Ia meraih ponsel milik Aji dan mengetik ID Line.

***

"Makasih, ya, Ji, atas traktirannya, hiburan dan tumpangannya," ucap Dinar ketika mobil Aji sudah terparkir dengan mulus di halaman rumahnya. "Baru 3 kali ketemu kamu udah baik banget"

Aji menawarkan tumpangan kepada Dinar, dan Dinar menerimanya. Walau dari Trans Studio menuju rumah Dinar harus melewati perumahan Aji, hal ini tak keberatan.

Aji mengantarkan adiknya pulang terlebuh dahulu, kemudian mengantarkan Dinar pulang kerumahnya.

"Kamu bilang makasih mulu, bosan aku dengarnya" sahut Aji terkekeh.

"I'm sorry. But thanks."

Aji mengangguk mantap. "Aku melakukannya dengan ikhlas, kok,"

Dinar mengangguk seraya tersenyum. "Kalau gitu, aku turun dulu. Hati-hati, ya"

"See you later, Dinar"

Ketika mobil Aji menghilang ditikungan jalan, Dinar pun membalikkan badannya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.

Namun, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia pun meraih ponsel yang berada di dalam tasnya dan melihat siapa yang menelponnya itu.

Raka's calling

Dengan sekali usapan ke sebelah kanan, panggilan berhasil terjawab.

"Ha-"

"Halo, Dinar? Lo dimana sekarang? Please jangan buat gue khawatir. Daritadi gue cari lo kemana-mana tapi nggak ketemu juga, gue telfonin nggak lo angkat. Lo dimana?"

Terdengar nada khawatir diseberang sana. Dinar menghela napas, antara sedih dan senang bahwa Raka masih memberikannya perhatian.

"Lo tenang dulu. Gue baru sampe rumah-"

"Lo pulang sama siapa?!"

"Raka, please, dengerin gue dulu" sela Dinar. "Gue udah sampe rumah, tadi gue ketemu sama temen gue disana. Abis gitu kita makan, terus dia ngajak gue pulang. Gue lupa bilang sama lo"

Terdengar helaan napas lega diseberang sana. Ia yakin, Raka baru saja lolos dari rasa khawatirnya.

"Yaudah kalau lo udah sampe rumah. Tadinya gue mau ajak lo nonton bareng gue dan Agatha. Tapi ya, karena lo udah pulang, gue nonton berdua bareng Agatha aja, ya?"

"Hm,"

"Yaudah kalau gitu gue mau nonton bareng bidadari gue dulu, ya. Bye!"

Sambungan terputus. Namun Dinar masih menempelkan ponselnya ditelinga.

Raka benar-benar mencintai Agatha.

***

Raka terduduk di sisi ranjangnya, hanya menggunakan boxer dan bertelanjang dada. Handuk abu-abunya melingkar di bahunya. Butir demi butir air berjatuhan dari rambutnya yang basah.

Senyum kebahagiaan terpancar jelas diwajahnya. Ulang tahunnya kali ini jelas lebih mengesankan. Tapi ia merasa kecewa. Sahabatnya yang lain belum ada yang memberinya ucapan.

Tiba-tiba saja matanya tertuju pada sebuah kotak di atas meja belajarnya. Ia pun meraihnya.

Perlahan namun pasti, tangannya membuka kertas kado tersebut hingga akhirnya menampakkan sebuah kardus polos yang terdapat suatu benda didalamnya.

Ia pun membuka perekat yang menempel di kardus tersebut, dan melihat isinya dengan mata yang berbinar.

Sebuah miniatur pria dan wanita yang tengah terduduk di sebuah ayunan dan saling berpegangan tangan. Dihadapan miniatur pria terdapat sebuah huruf R, sementara dihadapan miniatur wanita terdapat huruf D.

Raka tersenyum melihat miniatur dihadapannya. Seolah-olah ia melihat ada bayangan dirinya dan juga bayangan Dinar.

Sepucuk kertas yang tak jauh dari miniatur tersebut kini diraih oleh Raka. Ia membuka lipatan kertas yang hanya dilipat dua, dan mulau membacanya.

-----

Dear Raka

Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
Happy birthday
Happy birthday to you..

Yeay! Happy birthday my bestie!!!

Selamat tambah tuaa:p semoga, diumur sahabat gue yang ke 23 ini, apa yang diinginkan bisa tercapai, ujian praktek dan ngurus skripsi tanpa hambatan biar bisa lulus, dan cita-citanya untuk jadi reporter tercapai. Aamiin..

Panjang umur, sehat selalu, murah rezeki, makin ganteng *huek*, makin baik sama gue dan yang lain, jangan sering-sering gelitikin gue karena, you know gue gelian.

Semoga lo bisa semakin jaya!! Wkwk.

Ohiya lupa. Longlast with your girlfriend.

Sekali lagi, happy birthday!

Love u

-Dinar

-----

Raka kembali melipat dua kertas tersebut dan tersenyum bahagia. Ia menyimpan miniatur tersebut dengan rapi di atas meja belajarnya. Lalu mengambil ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan yang akan dikirimkan kepada seseorang.

Raka Surya Mahendra: Thanks:* gw suka bgt sm kadonya. Lo emg sahabat terbaik gw. Gw sayang lo, cantik:*

Dinar Asya Drita: Well, gw tau ko gw cantik.

Dinar Asya Drita: Hm, urwell.

***

Continue Reading

You'll Also Like

589K 52.9K 78
Warning, adult content 21+ "dan akhirnya , lo sakit lagi kan? Gue bilang juga apa? mending lo nikah sama gue?" "dan atas dasar apa lo mau nikah sama...
2.4K 102 22
Slow update:) Apa yang bakal lo lakuin kalo seandainya lo sama temen lo jatuh cinta sama orang yang sama? "Gue bakal ngalah...mungkin" - Adira "Pent...
3.1K 342 23
Dia begitu dekat. Tapi aku tidak bisa menggapainya. Dia tersenyum padaku, tapi kata cintanya bukan untukku.-Ara Pada dasarnya aku lah yang menyakitin...
1.2K 91 7
Semakin bersamanya,semakin aku merasakan adanya cinta yang sempurna. Cinta yang merasa bahwa akulah wanita yang ditakdirkan untuk memiliki berjuta-ju...
Wattpad App - Unlock exclusive features