Chap sebelumnya...
Dan kami pun larut dalam pikiran masing-masing, membuat ruangan ini hening seketika. Satu pertanyaan melintas di benakku dan tanpa bisa ditahan, pertanyaan itu keluar begitu saja. "Kau ini apa?"
-Author's P.O.V-
"Aku pulang." Niall membuka pintu penthousenya dengan wajah lesu, membuatnya dibanjiri tatapan pertanyaan dari Harry yang memang tidak kuliah hari itu
"Kau kenapa?" Tanya Harry antusias
Niall mengusap wajahnya, tampak frustasi. "Memalukan." Kata Niall sambil merebahkan dirinya di sofa ruang tamu dan memejamkan mata
"Ada yang salah?" Tanya Harry lagi
Niall menggeleng sambil tetap memejamkan matanya. Pikiran Niall masih melayang kemana-mana, tidak bisa kembali ke raganya yang sedang berbaring di sofa. Setelah keheningan yang lama dan membosankan itu berlalu, Niall bangkit hendak ke kamarnya dan beristirahat yang super banyak. Sesampai Niall di kamarnya, ia langsung menghempaskan tubuhnya di sana, teringat dengan sesuatu, ia langsung mengambil hpnya dan mengirim pesan kepada Andrew dan kembali menelungkupkan wajahnya ke bantal di kasurnya
Hari yang melelahkan, pikir Niall. Niall sudah tenggelam dalam dunia mimpinya, memimpikan ingatan-ingatannya selama menjadi manusia
Harry mengganti-ganti acara di tv mencari yang menarik, sebelum seseorang mengetuk pintu penthouse mereka dengan tidak sabar
"Siapa?" Teriak Harry sambil tetap memfokuskan matanya ke tv
'Orang' di sisi lain pintu itu tetap mengetuk pintu yang sekarang sudah menjadi gedoran. Dengan jengkel Harry berjalan menuju cctv yang mengarah ke luar penthouse, Harry hanya bisa merutuki cctv itu karena tidak bisa fokus. Terpaksa, Harry pun menghampiri pintu sampai sesuatu yang keras menghantam pintu, membuat pintu itu terlempar dari engselnya dan mengenai Harry, Harry meringis kesakitan saat kayu di pintu itu menusuk kulitnya yang dingin. Pandangannya buram karena kepalanya sempat membentur meja di dekat pintu, sesosok bayangan berjalan menghampirinya, menarik kerah bajunya untuk memaksanya berdiri
"Dimana Protector itu?" Tanya bayangan itu pelan dan mengancam. Sadar ada seseorang yang mengincarnya, Harry hanya menggeleng lemah
"Dimana Protector itu?!" Bentak bayangan itu, membuat Harry menutup matanya, ketakutan akan apa yang akan terjadi selanjutnya, ia belum pernah berlatih berduel langsung tanpa adanya tindakan gegabah
Sosok itu memberikan Harry sesuatu, membuatnya mati rasa, tidak dapat merasakan maupun menggerakkan anggota tubuhnya. Sosok itu menurunkan Harry di ruang tengah dengan kasar, membuat Harry hanya tergeletak di sana tanpa bisa bergerak. Berdoa dalam hati agar Niall tidak senasib dengannya, berdoa semoga keberuntungan memihaknya
Mendengar kegaduhan yang terjadi di bawah, Niall membuka matanya dengan berat dan mengintip ke luar kamar hendak meneriaki Harry. Niall kembali menutup pintu kamarnya panik melihat keadaan sahabatnya itu, Niall tidak bisa berpikir jernih untuk melakukan apa-apa, yang terlintas di benaknya hanya memberitahu Andrew tentang ini. Tangan Niall bergetar mengetik nomor Andrew
"Halo?" Terdengar suara dari ujung sana
"SOS." Kata Niall panik saat mendengar suara langkah kaki menuju kamarnya. Niall segera mengunci pintu dan mendorong lemarinya untuk mencegah orang asing itu masuk
"Niall, apa yang terjadi?" Tanya Andrew
"SOS, SOS." Kata Niall lagi saat mendengar sesuatu berusaha membuka pintu kamarnya. Niall mematikan sambungannya dan langsung mengacak-acak nakas di samping tempat tidurnya, mencari sesuatu yang mungkin bisa menyelamatkannya, batin Niall melompat-lompat kegirangan saat mendapatkan handgun Diana di sana, tapi kembali merutuki nasibnya saat melihat bahwa tidak ada amunisi yang tersisa di sana. Niall teringat, ia sempat mengeluarkan semua amunisinya dan menaruhnya di suatu tempat. Perpustakaan, pikir Niall
Sambil mengumpulkan sisa keberanian, Niall bersiap untuk menyerang langsung orang itu. Orang itu sedang berusaha menyingkirkan lemari Niall, jika jantung Niall masih berdetak, mungkin sekarang sudah melompat kesana-kemari sangking deg degan nya. Orang itu berhasil menjatuhkan lemari Niall yang omong-omong beratnya tak terkira. Orang itu hanya berdiri memandangi Niall dengan senyum sarkas
"Kita bertemu lagi." Kata orang itu, Niall teringat orang itu adalah salah satu suruhan Tybalt waktu Niall pertama tiba di London
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Niall
"Aku hanya ingin tahu, dimana dan siapa Protector itu." Katanya
"What the hell 'protector' is?" Tanya Niall lagi. Niall memulai perkelahian di antara mereka, pukul memukul, tendang menendang, dan sebagainya, beberapa kali Niall di lempar dan beberapa kali pula Niall bangkit dengan adrenalin yang membara. Sekali lagi Niall terlempar dengan keras, Niall meringis dan tidak bangkit lagi
"Jangan pernah coba-coba untuk melawanku, Vampire bodoh! Lihat akibatnya, kau dan teman keritingmu hanya perlu mengatakan yang sebenarnya tanpa harus kesakitan seperti ini." Orang itu tertawa sarkas dan mengangkat paksa Niall untuk berdiri, dan melingkarkan tangannya di leher Niall sambil menarik rambutnya
"Beritahu aku sekarang." Kata orang itu dengan lembut dan mengancam
"Never in a billion years." Niall menyikut perut orang itu lalu mengambil selimut dan handgun di kasurnya dan bergegas ke luar kamarnya
Niall menutup kamarnya dan mengikatkan selimut itu pada pintu kamarnya agar orang itu terkurung di kamarnya. Niall berlari menuju tempat Harry terbaring dan berusaha menggerakkan sahabatnya itu. "Harry?" Panggil Niall. Harry berusaha menggerakkan tubuhnya, Niall membopong Harry menuju perpustakaan kecil di penthousenya. Niall meletakkan Harry di sofa kecil di sana dan mengunci pintu perpustakaannya. "Dimana yah." Kata Niall sambil mengacak rambut pirangnya
Niall mendorong rak buku kecil dan berseru "Bingo!" Saat menemukan ada ruangan lain di sana. Niall segera masuk ke ruangan itu, mencari sesuatu dengan terburu-buru. Terdengar langkah kaki samar-samar menuruni tangga, panik, Niall mulai mengacak-acak isi ruangan itu dan akhirnya menemukan sekotak penuh amunisi pelumpuh sarafnya, Niall curiga bahwa orang itu bukan manusia dan tidak bakal mempan dengan amunisi biasa. Dengan tangan yang bergetar, Niall memasukkan isinya dan bersiap menembakkannya ke arah orang itu
Niall keluar dari perpustakaan, meninggalkan Harry sendirian. Niall bersembunyi mengambil tempat terstrategis untuk menembak orang itu, ia melihat orang itu sedang mencarinya dan Harry. Sesuatu yang dingin menyentuh lehernya tiba-tiba, Niall melirik dan melihat sebuah mata pisau melekat di lehernya. Pisau Perak. Salah satu senjata yang bisa membunuh Vampire
"Stand up." Perintah orang yang memegang pisau itu, mau tidak mau Niall berdiri mengikuti perintahnya
"Ini si pirang yang kau cari!" seru orang itu kepada rekannya yang sedang mencari Niall dan Harry
"Akhirnya." Rekannya tersenyum sarkas memandang Niall
"Menyesallah pernah berurusan dengan kami pirang."
"Kill me." Kata Niall santai
"Apa?" Tanya si orang pertama
"Kau memerlukan informasi dariku 'kan? Aku tidak akan berguna jika mati." Jelas Niall
Orang pertama terkekeh mendengar penjelasan Niall. "Aku bisa mencari informan lain. Aku akan mengabulkan permintaanmu." Orang itu mengambil handgun dari sakunya--itu handgun perak untuk membunuh Vampire--dan mengarahkannya tepat di jantung Niall yang dulu berdetak berada. Lalu orang itu menarik pelatuknya
"Liam, Andrew, apa yang terjadi?" Louis dari tadi menanyakan hal itu terus di mobil sejak mereka mendapat pesan SOS dari Niall
"Zayn?" Louis berusaha mendapatkan jawabannya dari Zayn, karena ia pasti tahu apa yang mereka pikirkan. Zayn hanya duduk memandangi ujung sepatunya
Louis akhirnya menyerah untuk tahu dan duduk tenang dengan wajah yang kusut
Mereka sampai di penthouse Niall dan Harry, Andrew segera menuju ke lantai tempat penthouse mereka berada. Sesampainya di sana, Andrew menarik napas dan mengkokang handgunnya, Louis, Liam dan Zayn mengeluarkan belatinya. Liam mendobrak pintu dan melihat dua orang tergeletak di lantai dengan kepala yang terpisah dari tubuh mereka
"Ew..." Louis memandang kepala dan tubuh itu dengan jijik, lalu melihat Harry berlutut di samping Niall
"Niall? Lenganmu?" Tanya Zayn panik melihat lengan Niall yang--susah untuk dijelaskan--itu
"Tak apa. Hanya terkena paku perak." Jawab Niall
"Seberapa dalam?" Tanya Andrew langsung menghampiri Niall
"Well, tidak sampai tulang." Jawab Niall lagi
"Cukup parah, melihat hasil yang diakibatkan paku itu." Andrew--entah dari mana--mengambil perban dan menutup luka di lengan Niall
"Ikut aku." Andrew menarik Niall dengan kasar, mungkin lupa bagaimana nasib lengan Niall
"Dan kau Mr. Styles, lebih baik kau tinggal di rumahku dulu sebelum aku melacak siapa otak di balik semua ini." Lanjut Andrew lalu keluar dari penthouse itu diikuti Zayn, Liam, Louis dan Harry
Keesokan harinya
Harry berjalan santai di koridor UoC, tapi pikiannya bercampur aduk. Tak lama, seorang gadis bermata cokelat menghampirinnya
"Cliff?" Tanya-nya
"Yeah." Jawab Harry
"Dimana Cliff, maksudku Horan?" Tanya-nya lagi
"Aku Diana Cato." Sambungnya
"Teman sekelas Niall." Tebak Harry. "Niall tidak datang. Dia..."
"I'm here." Kata seseorang dan membuat Harry serta Diana berbalik
"Niall?" Kata Harry heran. Wajah Niall sangat pucat, seperti kemarin serta lengan yang diperban membuat Diana langsung memeluknya
"Apa yang terjadi kemarin? Ada apa dengan lenganmu." Diana membanjiri Niall dengan pertanyaan
"Satu-satu, Diana." Kata Niall dan melirik Harry, mengerti, Harry pun pergi meninggalkan mereka
Terjadi keheningan selama beberapa menit, sampai Niall iseng dan mulai mungutak-atik perban di lengannya. "Hentikan!" Seru Diana sambil memukul tangan Niall yang mengutak-atik perbannya sendiri
"Kalau terjadi sesuatu, aku yang akan susah." Kata Diana ketus
"Kalau begitu, tinggalkan saja dan beritahu yang lain." Balas Niall enteng
"Aku hanya bercanda, bodoh." Diana meninju lengan Niall yang tidak diperban, tapi ekspresi Niall datar
"Kau berbeda." Kata Diana lagi
"Itu urusanku." Balas Niall
"Niall Cliff!" Seru Diana
"Apa?!" Seru Niall lagi
"Dimana Cliff teman kelompokku?" Tanya Diana
"Seharusnya kau tanyakan itu pada dirimu sendiri." Niall tersenyum sinis dan pergi meninggalkan Diana
Hati Niall terasa berat meninggalkannya sendiri, tapi ia tahu bahwa mereka perlu menjaga jarak mulai dari sekarang.
Diana berdiri mematung melihat Niall pergi. Ingin sekali ia marah kepada Niall, tapi ia tahu itu bukan pilihan yang tepat, ia hanya bisa membiarkannya pergi dan itu bukan sebuah pilihan
Itu sebuah pengorbanan
To Be Continued...
Yay!! Diana-Niall moment again!!
Okay, mereka perlu nama shipper. Bagusnya apa yah? Pendapat dong
Yay kita bertemu lagi setelah sekian lama
Sorry yang sebesar-besarnya krn lagi sibut dengan tugas-tugas, abisnya udah mau UN
Doain yah semoga UN-nya lancar
NTA