Sehun mencampakkan dirinya di atas ranjangnya setelah meletakkan tas sekolahnya si atas meja studynya.
"Tiffany lagi ngapain ya? Apa dia masih marah padaku? Apa aku telfon saja dia ya? Tidak usah ah, hantar pesan saja." Kata sehun dalam hati lalu mengetik-ngetik sesuatu.
Tiffany' side
Tiffany lagi selesai dari mandi lalu membuka ponselnya yang dari tadi terus berbunyi. "Ternyata ada pesan." Kata tiffany pelan lalu dibaca nama pengirimnya.
FROM: SEHUN TOLOL
Hai tif-pany... lagi ngapain?
Tiffany menaikkan alisnya. "Apa-apaan coba. Apa dia masih belum tau kalau aku masih sebal dengannya. Berani-beraninya dia menghantar pesan untukku. Baiklah akan ku balas ini." Tiffany mula mengetik-ngetik sesuatu di ponselnya lalu ditekan send olehnya. Dia mau tau apa reaksi sehun apabila membaca pesan yang dihantarnya.
Sehun's side
Brrtt..burrtt..
Bunyi getaran ponsel menyebabkan sehun beralih dari lamunanya lalu mengambil ponselnya dan membaca pesan yang dihantar oleh tiffany.
FROM: TIFFANY YAEPPO
Lagi mau mandi. Mau ikut?
Sehun mengerutkan keningnya. "Dia lagi marah atau apa sih. Ya udah, aku hantar ini aja." Kata sehun sambil tersenyum gaya orang begok.
TIFFANY' SIDE
La..la..la..happiness
Bunyi telfonnya fany. Lalu segera tiffany membuka pesannya.
FROM: SEHUN TOLOL
Wow benaran ni.. mau dong!!
* wajah happy*
"Brengsek ini cowok. Biarin aku ngak mau balas." Tiffany menjelirkan lidahnya pada ponselnya lalu merebahkan badannya di atas kasur dan segera tidur. Dia tidak mau balas pesan sehun sebentar tadi kerna malas melayani sikapnya yang kekanakan dan tidak matang. Biarkanlah dia tidur dan bermimpi indah.
SEHUN POV
"Lama banget tiffanynya. Apa dia tidak mau balas pesanku? Ya udah, ngak papa. Besok kita sambung ya." Sehun juga segera menutup matanya dan tanpa menunggu waktu yang lama dia sudah tertidur seperti bayi. Berharap tiffany akan muncul dalam mimpinya dan bisa berdua-duaan walaupun hanyalah mimpi.
SEHUN POV END
Kring..kring..
Loceng milik tiffany berbunyi dan mengejutkan tiffany dari tidur indahnya. Dia segera bangun lalu langsung ke kamar mandi. Selesai mandi, tiffany memakai unformnya. Hari ini tiffany mengikat tinggi satu rambutnya.
"Baiklah, aku sudah bosan melepas rambutku terus. Ini lebih baik." Katanya lalu tersenyum manis menampakkan deretan giginya yang putih.
"Eomma aku berangkat dulu!" Jerit tiffany pada eommanya sewaktu turun dari tangga lalu segera keluar dari rumahnya.
Di jalan mood tiffany lagi baik. Senyumannya tidak pernah pudar dari bibirnya. Tiba-tiba ada yang menyapanya dari belakang.
TIFFANY POV
"Hai tippany.." sapa namja itu. Aku menolehka wajahku ke belakang dan itu luhan. Ya, luhan lah satu-satunya namja yang memanggil namaku dengan sebutan tippany. Tapi aku tidak marah, malah aku senang kalau ada orang memanggilku begitu. Terlihat lebih mesra dan lucukan.
"Kau berangkat sekolah sendirian?" Tanya luhan padaku.
"Iya begitulah.." kataku singkat sambil menatapnya.
"Bisa aku berangkat denganmu?" Tanyanya sedikit ragu. Aku hanya tersenyum menatapnya.
"Nde. Tentu aja bisa. Ayo." Kataku yang terdengar sedikit mesra. Di jalanan aku sahaja yang membuka bicara. Ternyata luhan senyap sekali. Untung deh aku ini orangnya peramah. Kalau tidak bisa bosan di jalan.
"Ya xi luhan." Kataku. "Hah!" Nampaknya dia kaget. Dari reaksinya saja aku bisa tau. Aku tertawa melihatnya.
"Hahah.. santai aja luhan, ngak usah begitu samaku. Kamu ngak perlu malu kok sama aku. Aku ini orangnya ramah loh." Kataku sambil menyiku pelan lengan luhan sehingga dia tersenyum kearahku.
TIFFANY POV END
LUHAN POV
Ya tuhan, dia cantik sekali. Kok matanya turut tersenyum ya. Sungguh, inilah pemandangan yang paling indah pernahku lihat. Sebenarnya aku masih kikuk berjalan dengan tippany. Aku juga malu kerna aku sudah menyimpan lama perasaanku padanya. Hanya saat ini aku berani mendekatinya. Aku kira sangat sukar untuk ku dekat dengannya tapi ternyata tidak. Dia malah sangat peramah. Aku suka cara dia bercerita kepadaku. Sangat imut ^_^
LUHAN POV END
TIFFANY POV
Di sekolah aku meletakkan tasku di bangkuku lalu segera duduk. Taeyeon masih belum datang. Tumben dia datang telat. Aku melihat jam di sebelah tangan kiriku. Sudah 7.15 pagi. Sebentar lagi bel berbunyi. Apa taeyeon tidak datang ke sekolah ya hari ini. Aku lihat ponselku dan ternyata ada pesan masuk. Aku membukanya buat baca dan ternyata itu dari taeyeon.
FROM: TAEYEON
Maaf tiff hari ini aku tidak masuk soalnya aku harus temanin eommaku ke jepang. Aku ngak tau kapan pulang dan mungkin aku menginap di sana 2 atau 3 hari ya. Jaga diri baik-baik dan.. jangan nakal -nakal dengan sehun!! Annyeong ^_^
"Haisshh, apa-apaan ini taeyeon. Emangnya aku yang nakal sama sehun? Rasanya sehun yang begitu padaku."
"Baru tau ya? Emang kau nakal samaku." Bisik sehun tepat pada telingaku. Aku mengerang kegelian kerna hembusan nafas sehun lalu ku tolehkan wajahku ke belakang. Ya, lagi-lagi wajahnya begitu dekat dengan wajahku. Aku dengan cepat langsun menolehkan wajahku ke depan kembali.
"Hai tiff.." sapa baekhyun yang menyebabkanku kaget setengah mati.
"Ya byun baekhyun! Bisa tidak jangan mengkagetkanku, eoh?" Kataku sambil memegang dadaku. Tiba-tiba dia cemberut.
"Maafin aku tiff, aku tidak berniat untuk mengkagetkanmu." Lagi-lagi baekhyun menaruh tampang imut di hadapanku. Wah, sungguh lucu sekali dia. Jadi tidak tega aku memarahi dia tadinya.
"Ya udah ngak apa-apa kok baekhyun. Sana ke tempatmu." Kataku seraya menyuruhnya pergi. Baekhyun tidak pergi tapi malah berbisik di telingaku.
"Maafin aku ya pasal kemarin. Gara-gara aku kau jadi dituduh curi telfonnya luhan." Aku mengangguk lalu menepuk pundak baekhyun yang bermaksud aku tidak apa-apa.
Sehun menghampiriku lalu bertanya kepadaku. "Apa yang baekhyun bisikan padamu barusan?" Tanya. Aku hanya menatapnya datar.
"Bukan apa-apa." Hanya itu yang aku jawab dan kelihatannya dia tidak puas hati dengan jawabanku. Sehun terus bertanya sehingga membuatku risih dengannya. Aku keluar kelas untuk ke toilet dan lagi-lagi sehun mengikutiku.
"Oh sehun! Apa sampai aku mau ke toilet saja kau mau ikut? Pikkyeo!" Kataku menolaknya dan sehingga aku tetabrak dengan seseorang sehingga menimuman yang dipegangnya tumpah di atas baju dan skirt sekolahku. Mau tau siapa itu? Ya siapa lagi kalau bukan jessica.
"Ya! Kau tidak punya mata apa? Seharusnya matamu digunakan untuk melihat bukan menabrak seenaknya!" Bentak jessica padaku. Hey, seharusnya dia meminta maaf padaku kerna gara-gara dia bajuku jadi kotor terkena kopi miliknya. Ya ini teruk sekali. Kenapa aku yang dipersalahkan. Ini bukan sepenuhnya salahku. Aku hanya mampu melihat jessica dan temannya yuri pergi meninggalkan ku dalam keadaan sebal bercampur marah dan sebagainya.
"Tiff, gwaenchana?" Tanya sehun khawatir untuk memastikan kondisi aku sekarang ini. Aku menatapnya.
"Gimana ni sehun, bajuku kotor semua." Kataku panik sambil menunjukkan bajuku padanya. Tiba-tiba dia menarik tanganku lalu disuruhnya ku duduk di bangku yang berdekatan dengan toilet. Sehun mengambil sapu tangan di dalam sakunya lalu membersihkan kotoran kopi yang masih basah di uniform sekolahku. Sehun cuci bajuku dengan lembut dan menyebabkan aku terpaku sebentar.
"Tidak usah sehun, biarin saja. Kalau kau bersihin juga kotornya ngak akan hilang." Kataku lalu menepis tangan sehun yang dari tadi mencoba untuk mencuci kotoran di bajuku.
"Kamu gimana sih tiff, bajumu itukan basah. Sekurang-kurangnya biarkan aku mengerinkan bajumu. Tuh lihat, kopinya udah terkena kulit badanmu." Kata sehun sambil menunjukkan jari telunjuknya ke atas dadaku.
Aku memandangnya sekilas lalu menaruh telapak tanganku menutup wajahku.
"Hah! Hari sial." Gumamku perlahan. Sehun yang menatapku turut bersimpati.
"Ya tiff, apa kau punya baju gantindi lokermu?" Tanyanya dan aku langsung menatapnya datar. Aku menggelengkan kepalaku.
"Ngak ada, hun. Aku ngak taruh baju ganti di loker." Kataku lagi. Sehun menatapku tidak percaya.
"Masa sih?" Tanya nya lagi dan aku hanya mengangguk. Tiba-tiba sehun menarik tanganku lagi. Kali ini aku hanya mengikuti sehun yang entah kemana akan dibawa olehnya.
"Tempat apa ini?" Tanyaku setelah aku sudah berada tepat di depan loker seseorang. Dia menatapku.
"Ini lokerku." Kata sehun. Aku memandangnya bingung.
"Lalu?"
"Ya, aku ada baju ganti kok. Kamu pakai ya." Kata sehun lalu membuka lokernya dan mengeluarkan baju dan seluar miliknya. Dia menghulurkannya padaku.
"Apa-apaan kau sehun. Inikan baju namja, masa aku pakai baju ini sih." Kataku tidak percaya dengan situasi sekarang ini. Bagaimana bisa dia menyuruhku memakai pakaian namja. Ini sungguh gila.
"Ayolah tiff pakai aja. Apa kamu mau pakai baju kotormu ini sampai sore? Mau diketawain oleh semua orang?" Kata sehun panjang lebar. Aku masih tidak bisa memikir dengan baik tindakannya sekarang ini. Aku menatapnya masih tidak percaya.
"Emangnya kau kira kalau aku pakai baju ini orang tidak ketawa? Malah lebih lucu tau." Kataku sambil menunjukkan baju yang dipegang sehun. Sehun menghela nafasnya perlahan.
"Iya sih. Tapi sekurang-kurangnya kau lebih selesa pakai baju ini daripada baju basahmu itu. Melekit-lekit lagi. Ni, pakai." Kata sehun lalu menghulurkan pakaiannya di hadapanku. Aku mengambilnya.
"Ya udah aku ganti. Bentar, aku mau ganti dimana?" Tanyaku lagi padanya. Masa aku mau ke toilet lagi. Itukan jauh banget. Bisa-bisanya nanti aku telat jam pelajaran.
"Tiffany hwang! Di sini aja." Kata sehun sambil menunjukkan kamar ganti namja.
"Emangnya bisa? Apa ngak ada yang lihat?"
"Sudahlah, cepat gantinya. Sekarang bukan waktunya olahraga jadi ngak ada yang ganti baju di dalam. Kau ganti aja sana. Aku akan mengawasimu jika memang ada yang datang." Terang sehun padaku sambil mendorongku buat masuk ke dalam.
"Ya sudah, aku masuk."
"Cepatan gantinya ya. Sebentar lagi jam pelajarannya mula." Kata sehun tegas.
"Iya iya bawel." Kataku ringkas lalu masuk dan menutup pintu kamar itu. Setelah 2 menit di dalam akhirnya aku keluar.
"Ya oh sehun! Lihat ini." Kataku sambil menunjukkan baju dan seluar yang kebesaran. Sehun memandangku atas bawah.
"Emangnya kenapa sehun?" Tanyaku aneh kenapa dia melihatku begitu.
"Ngak apa-apa. Cuma kau kelihatan imut pakai pakai baju aku tiff." Puji sehun yang semestinya bisa membuatku kembang.
"Ayo." Ajak sehun lalu berjalan dulu di depanku.
BRUKK!
"Auww! Appayo.." Kataku sebaik saja aku sudah duduk dari jatuhku tadi. Sehun menghampiriku.
"Tiffany? Kau tidak apa-apa?" Tanya sehun dengan nada cemas lalu membantuku berdiri.
"Ya sehun! Seluarmu ini kebesaran sehingga menyapu lantai. Gimana aku mau jalannya kalau begini? Gumamku lagi. Dia menghela nafasnya lagi.
"Kau gimana sih tiff. Sini" sehun mendudukkan dirinya betul-betul di depan kakiku. Lalu dilipatnya seluarku yang labuh itu dengan lembut sehingga menampakkan buku laliku.
Ya kok sehun romantik sekali. Aku jadinya terharu. Dia bangun dar posisinya lalu menatapku.
"Nih sudah ku betuin. Yakan sekarang mudah ni kau mu jalan. Ngak bakal jatuh-jatuh segala." Kata sehun lalu mencuit daguku.
"Iya-iya gomawo sehun-na." Kataku lembut lalu tersenyum kearahnya. Sehun membalas senyumanku dengan senyumannyajuga.
"Ah! tampan sekali." Gumamku dalam hati.
TBC