Happy Reading
Asa dan Rora kini berada di ruangan Dokter Irene. Sejak awal keduanya datang dengan satu tujuan yang sama: meminta penjelasan mengenai kondisi adik bungsu mereka.
Irene sebenarnya enggan menjelaskan. Ia beberapa kali mengatakan bahwa sebaiknya Taehyung dan Jennie sendiri yang berbicara kepada putri mereka. Namun Asa dan Rora tidak menyerah. Setelah melihat sendiri perubahan sikap Canny sejak sadar, keduanya tidak bisa lagi hanya menunggu tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Pada akhirnya, Irene terpaksa menjelaskan kondisi Canny kepada mereka secara detail.
"Ja-jadi... saat ini adikku mengalami kemunduran memori?" tanya Asa. Suaranya terdengar pelan. Ia masih berusaha mencerna setiap penjelasan yang baru saja didengarnya.
Di sampingnya, Rora hanya terdiam. Sejak tadi gadis itu tidak memberikan respons apa pun. Tatapannya tertuju ke depan, tetapi pikirannya seolah masih berusaha memahami kenyataan tentang adik bungsunya.
Asa kembali menatap Irene.
"Saat ini Canny berpikir bahwa dia masih berusia sepuluh tahun? Begitu maksud Dokter?"
Irene mengangguk pelan.
"Itulah sebabnya aku meminta kalian untuk tidak menanyakan hal-hal yang dapat membuat adik kalian bingung," jelas Irene. "Untuk sementara, biarkan dia beradaptasi dengan kondisinya."
Irene berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Saat ini aku dan Profesor Han masih mencari tahu apakah semua ini merupakan efek samping pascaoperasi atau bukan."
Tatapannya beralih kepada Asa dan Rora yang duduk di hadapannya.
"Kami belum bisa memastikan apakah kondisi ini hanya sementara atau akan berlangsung lebih lama. Karena itu, Canny masih harus terus berada dalam pemantauan."
Ruangan itu kembali hening.
Asa dan Rora tidak mengatakan apa-apa. Penjelasan tersebut justru membuat keduanya semakin sulit untuk menyusun pikiran mereka sendiri.
Beberapa saat kemudian, Asa perlahan berdiri dari tempat duduknya.
Ia tidak mengatakan apa pun.
Tatapannya tampak kosong, seolah ada terlalu banyak hal yang berputar di kepalanya dalam waktu bersamaan.
Rora yang melihat kakaknya berdiri segera ikut bangkit.
"Kak Asa, tunggu."
Namun Asa tetap berjalan menuju pintu tanpa menjawab. Rora pun langsung mengikuti kakaknya keluar dari ruangan Irene.
Pintu tertutup setelah keduanya pergi.
Irene menghela napas panjang.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu mengangkat satu tangan untuk menekan pelipisnya yang terasa berat.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini..." gumamnya pelan.
Irene menatap kosong ke arah pintu.
Ia tidak pernah membayangkan prosedur itu akan menghasilkan kondisi seperti sekarang. Sejak awal, tujuan mereka adalah menekan atau memanipulasi bagian ingatan yang berkaitan dengan trauma Canny, bukan membuat sebagian ingatannya mengalami kemunduran.
Namun sekarang, justru itulah yang terjadi.
Dan Irene sendiri masih belum memiliki jawaban mengenai penyebabnya.
Canny akhirnya kembali dibawa ke ruang perawatannya. Kepanikan yang terjadi di taman rumah sakit beberapa saat lalu sempat membuat semua orang panik, terutama ketika Canny terus mengeluh kesakitan sambil memegangi kepalanya.
Karena rasa sakit yang terus berlanjut dan membuatnya sulit tenang, dokter akhirnya memberikan suntikan obat untuk membantunya beristirahat. Setelah kondisinya mulai stabil, Canny perlahan tertidur.
Kini, ruangan itu kembali tenang.
Setelah selesai memeriksa kondisi Canny dan memastikan semua sudah baik-baik saja, dokter dan suster meninggalkan ruangan, Ahyeon dan Rami akhirnya bisa menghela napas lega. Keduanya sempat begitu panik melihat kondisi adik bungsu mereka beberapa saat sebelumnya.
Ahyeon berjalan mendekati ranjang. Canny kini tertidur dengan tenang, wajahnya terlihat jauh lebih damai dibandingkan sebelumnya.
Perlahan, Ahyeon mengangkat tangannya dan mengusap kepala sang adik dengan lembut.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Canny, jangan seperti ini..." suara Ahyeon terdengar serak. Ia menatap wajah adiknya tanpa berani mengalihkan pandangan. "Kakak tidak bisa melihatmu menderita seperti ini."
Rami yang berdiri tidak jauh darinya ikut terdiam. Melihat Ahyeon mulai menangis, ia segera mendekat dan mengusap bahunya dengan lembut, berusaha menenangkan gadis itu.
"Ram..." Ahyeon menarik napas, tetapi dadanya terasa semakin sesak. "Harusnya dulu kita bisa mencegah Papa dan Mama saat mereka membawa Canny ke tempat Nenek."
Rami tidak langsung menjawab. Ia hanya diam mendengarkan.
"Harusnya kita, sebagai saudaranya, berada di sisinya saat Canny mengalami masa-masa sulit itu..." Ahyeon menundukkan kepala. Suaranya semakin pelan. "Tapi apa yang kita lakukan dulu?"
Ia menghela napas panjang.
"Kita diam saja. Membiarkan Papa dan Mama membawa Canny pergi."
Isak tangis Ahyeon terdengar semakin jelas. Penyesalan itu terasa begitu berat, terutama sekarang ketika mereka kembali melihat Canny dalam keadaan seperti ini.
Rami menggenggam bahu Ahyeon sedikit lebih erat.
"Yeon, semua sudah terjadi..." ucapnya pelan. "Yang harus kita lakukan sekarang adalah memperbaiki semuanya."
Ahyeon mengusap air matanya dengan punggung tangan. Ia kembali menatap Canny yang masih tertidur.
"Kita harus memperbaiki enam tahun yang pernah hilang dalam hidup adik kita," ucapnya lirih.
Rami menatap Ahyeon beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Klik.
Suara pintu yang terbuka membuat keduanya menoleh bersamaan.
Asa dan Rora masuk ke dalam ruangan.
Namun ada sesuatu yang berbeda dari keduanya.
Asa terlihat murung, begitu pula Rora. Tatapan mata mereka bahkan tampak kosong, seolah semangat yang biasanya terlihat dari keduanya mendadak menghilang entah ke mana.
Rami mengernyitkan dahi.
"Kalian berdua dari mana saja?"
Asa dan Rora tidak langsung menjawab.
Keduanya justru berjalan mendekati ranjang, lalu berdiri di sisi Canny yang masih tertidur dengan wajah tenang.
Asa perlahan meraih tangan adik bungsunya.
Ia menggenggamnya erat.
Tanpa berkata apa-apa, air mata mulai mengalir dari sudut matanya.
Ahyeon dan Rami saling pandang dengan bingung.
"Kak Asa, kau kenapa?" tanya Rami. Nada suaranya terdengar heran sekaligus khawatir melihat Asa yang tiba-tiba menangis.
Ahyeon kemudian mengalihkan pandangannya kepada Rora.
"Ra, sebenarnya apa yang terjadi? Dan kalian berdua dari mana?"
Rora menghela napas panjang. Ia terlihat berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum akhirnya menjawab.
"Kami berdua baru saja kembali dari ruangan Dokter Irene."
Ahyeon langsung menatapnya serius.
"Apa yang Dokter Irene katakan tentang kondisi Canny?" tanyanya penasaran.
Ruangan itu kembali hening.
Pukul tujuh pagi, suasana di ruangan rawat Canny mulai dipenuhi cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela tirai jendela. Setelah semalaman berada di rumah sakit, suasana kamar masih cukup tenang. Hanya terdengar samar suara langkah kaki para perawat yang sesekali melewati lorong serta bunyi roda troli yang didorong dari kejauhan.
Pharita baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih sedikit lembap, sementara tangannya sibuk merapikan ujung pakaian yang sempat kusut. Namun, baru beberapa langkah meninggalkan pintu kamar mandi, ia langsung berhenti.
Ranjang pasien di hadapannya kosong.
Pharita mengerutkan kening dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Beberapa menit yang lalu, saat dirinya hendak masuk ke kamar mandi, Ruka masih duduk di sisi ranjang bersama Canny.
Sekarang keduanya menghilang begitu saja.
"Ke mana mereka berdua?" gumam Pharita dengan alis berkerut.
Ia berjalan mendekati ranjang pasien, kemudian memperhatikan selimut dan bantal yang tampak berantakan. Pharita menghela napas kecil sebelum mulai merapikannya. Tangannya menarik selimut hingga kembali tertata rapi, lalu ia membenahi posisi bantal yang bergeser ke samping.
Setelah itu, Pharita berjalan menuju jendela dan menggeser tirai.
Pemandangan taman rumah sakit terlihat jelas dari lantai tersebut. Taman itu cukup luas, sengaja dibuat sebagai ruang terbuka bagi pasien dan keluarga yang ingin mencari udara segar. Beberapa pohon rindang berjajar di sepanjang jalur pejalan kaki, sementara hamparan rumput hijau yang masih dihiasi titik-titik embun terlihat berkilau terkena cahaya matahari pagi.
Di beberapa sudut terdapat bangku-bangku kayu dan tanaman bunga yang dirawat dengan rapi. Udara pagi juga terasa lebih segar dibandingkan udara di dalam gedung rumah sakit yang dipenuhi aroma khas antiseptik.
Pharita menyipitkan mata, mencoba melihat ke bawah.
"Apa Kak Ruka mengajak Canny jalan-jalan ke taman?" gumamnya.
Ia kemudian berbalik dan merapikan beberapa barang yang terlihat berserakan sejak semalam. Sejak kemarin, Ruka dan Pharita memang berada di rumah sakit menggantikan Asa, Ahyeon, Rami, dan Rora yang sebelumnya bergantian menjaga Canny.
Namun, Pharita sama sekali tidak menyangka Ruka akan membawa Canny keluar sepagi itu.
--------------------
Sementara itu, di taman rumah sakit...
Canny justru sedang berlarian ke sana kemari tanpa mengenal lelah.
Gadis itu berlari menyusuri jalur setapak yang membelah taman, sesekali berpindah arah hanya karena melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Tawa riangnya terdengar di antara suara burung dan percakapan beberapa keluarga pasien yang sedang duduk di bangku taman.
Ruka yang berada beberapa meter di belakangnya sudah mulai kewalahan.
Langkahnya melambat. Ia bahkan beberapa kali harus berhenti untuk mengatur napas sebelum kembali mengejar sang adik.
Pemandangan itu benar-benar tidak seperti ketika Ruka menjaga Canny sebelumnya.
Rasanya seperti sedang menjaga seorang toddler berusia tiga tahun yang baru saja menemukan taman bermain dan sama sekali tidak kehabisan energi.
"Kenapa setelah sadar tingkahnya jadi seperti ini?" ucap Ruka di sela napasnya.
Ia membungkukkan tubuh sedikit sambil bertumpu pada kedua lutut. Napasnya terdengar terengah-engah setelah beberapa kali berlari mengejar Canny.
Ruka mengusap keningnya, kemudian menatap ke arah adiknya yang masih berlari dengan santainya.
"Apa ini efek amnesia?" gumamnya lagi, lebih kepada dirinya sendiri.
Namun, sebelum sempat memikirkan lebih jauh, Canny sudah kembali berlari menjauh.
Ruka sontak mengangkat kepalanya.
"Canny!"
Ia kembali menegakkan tubuh dan segera mengejar.
"Canny, hei! Jangan berlari terlalu jauh!" teriak Ruka sambil mempercepat langkahnya.
Canny menoleh sekilas ke belakang. Bukannya berhenti, gadis itu justru tertawa semakin lebar sebelum kembali menghadap ke depan.
"Ayo kejar aku, Kak Ruka!" teriaknya riang.
Kedua kakinya terus bergerak menyusuri jalur taman. Sesekali ia tertawa kecil melihat Ruka yang masih berusaha mengejarnya.
"Kakak lambat sekali larinya!"
Ruka yang sudah cukup jauh di belakang hanya bisa melongo tidak percaya.
Di kejauhan, napasnya kembali memburu. Rambutnya mulai berantakan akibat angin dan aktivitasnya sendiri, sementara kedua tangannya bertolak pinggang selama beberapa detik sebelum akhirnya ia kembali mengejar.
"Yaaakkkkk, Canny! Berhenti!"
"Tidak mau!" jawab Canny tanpa menoleh sedikit pun.
Gadis itu malah mempercepat langkahnya sambil tertawa.
"Kakak harus bisa menangkapku!" teriaknya lagi.
Ruka menghela napas panjang.
Pagi-pagi begini, bukannya menikmati udara segar di taman, dirinya malah harus berlarian mengejar adik bungsunya.
Jennie baru saja tiba di ruangan rawat Canny. Begitu melangkah masuk, pandangannya langsung menyapu seluruh ruangan. Namun, hanya Pharita yang terlihat duduk sendirian di sofa.
Jennie mengernyitkan dahi, lalu berjalan mendekat.
"Ri, di mana adikmu? Kenapa hanya kau saja sendiri?" tanya sang ibu sambil meletakkan tasnya di salah satu kursi.
Pharita yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya langsung mengangkat kepala. Begitu melihat sang ibu, ia segera berdiri dari sofa.
"Ma," sapanya.
Jennie membalas dengan anggukan kecil, kemudian meletakkan paperbag yang dibawanya di atas meja.
"Canny di mana?"
Belum sempat Pharita menjawab, suara pintu kembali terdengar.
Klik.
Pintu terbuka, dan Canny muncul dari baliknya sambil berlari-lari kecil. Begitu melihat putri bungsunya, Jennie langsung tersenyum lega.
"Sayang, kau dari mana saja?" tanyanya.
Namun, senyum di wajah Jennie perlahan berubah menjadi tatapan bingung ketika matanya mulai memperhatikan penampilan Canny dari kepala hingga kaki.
Rambutnya sedikit berantakan. Bajunya terkena noda tanah, bahkan bagian lutut celananya tampak kotor.
Jennie melongo beberapa detik.
"Hei, apa yang terjadi padamu, sayang? Kenapa pakaianmu kotor sekali?" tanyanya sambil mendekati Canny.
Canny hanya tersenyum santai. Ia bahkan menunduk untuk melihat pakaiannya sendiri, seolah baru menyadari bahwa dirinya memang sudah dalam keadaan cukup mengenaskan.
Belum sempat menjawab, Ruka muncul dari belakang Canny.
Berbeda dengan sang adik yang tampak segar dan puas, Ruka justru terlihat seperti baru saja menyelesaikan perlombaan lari. Napasnya masih tersengal, rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya menunjukkan kelelahan yang tidak bisa disembunyikan.
"Bagaimana tidak kotor? Dia saja berguling-guling di taman seperti ulat, Ma," ujar Ruka dengan napas yang masih belum sepenuhnya teratur.
Canny menoleh kepada kakaknya, lalu tersenyum lebar seolah sama sekali tidak merasa bersalah.
Pharita yang mendengar penjelasan Ruka langsung menutup mulutnya, berusaha menahan tawa.
Namun, bahunya tetap bergerak-gerak.
Ruka langsung melirik tajam.
"Jangan tertawa, Ri."
Pharita akhirnya menyerah. Ia terkekeh sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Maaf, Kak. Tapi wajah Kakak benar-benar-"
"Tidak perlu dilanjutkan," potong Ruka cepat.
Jennie sendiri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia menatap Canny beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas kecil.
"Jadi kalian ke taman?"
Ruka mengangguk lemas.
"Bukan cuma jalan-jalan, Ma. Dia lari ke sana kemari. Aku sampai hampir tidak bisa mengejarnya."
Canny kembali tersenyum tanpa dosa.
Jennie menatap putri bungsunya dengan tatapan antara gemas dan pasrah. Ia kemudian mendekat dan menepuk-nepuk bagian pakaian Canny yang kotor untuk membersihkan sisa tanah yang menempel.
"Sayang, sekarang bersihkan dirimu, ya. Setelah itu ganti pakaian. Mama bawakan makanan kesukaanmu."
Mata Canny langsung berbinar.
"Benarkah?"
Jennie mengangguk sambil tersenyum.
"Hmm... sekarang bersihkan dirimu dulu, ya."
Canny mengangguk cepat.
Pharita yang melihat perubahan ekspresi adiknya hanya bisa tersenyum. Baru saja beberapa detik lalu Canny terlihat seperti anak yang tidak peduli dengan pakaian kotornya, tetapi begitu mendengar kata makanan, reaksinya langsung berubah.
Jennie kemudian menoleh kepada Pharita.
"Sayang, bantu adikmu, ya."
Pharita mengangguk.
"Ayo, Canny."
Ia meraih tangan Canny dan membawanya menuju kamar mandi. Canny menurut begitu saja, bahkan masih sempat melirik paperbag di atas meja dengan tatapan penuh harapan sebelum akhirnya menghilang bersama Pharita di balik pintu kamar mandi.
Begitu kedua putrinya pergi, Jennie kembali menggelengkan kepala. Ia lalu menatap Ruka yang masih berdiri di tempat dengan wajah kelelahan.
Jennie mendekat, kemudian mengusap bahu putri sulungnya dengan lembut.
"Sayang, Mama harap kau bisa bersabar menghadapi adikmu yang sekarang, ya."
Ruka menoleh kepada ibunya. Kali ini ekspresinya tidak lagi menunjukkan kejengkelan karena kelelahan. Tatapannya berubah serius.
"Ma..." panggilnya pelan.
Jennie berhenti mengusap bahunya.
"Hmm?"
Ruka menarik napas sebentar sebelum akhirnya bertanya, "Sebenarnya apa yang terjadi pada Canny? Kenapa setelah sadar sikapnya jadi berubah seperti itu?"
Pertanyaan itu membuat Jennie terdiam.
Ruka memang masih belum mengetahui apa pun mengenai kondisi Canny saat ini. Sejak Canny sadar, Jennie belum menceritakan perubahan yang ditemukan Irene kepada anak-anaknya.
Dan kini, melihat sendiri bagaimana adiknya bertingkah begitu berbeda dari sebelumnya, rasa penasaran Ruka tentu semakin besar.
Di ruang perawatan itu kini hanya ada Jennie dan putri bungsunya. Ruka dan Pharita sudah pulang karena keduanya harus pergi ke kantor.
Jennie memperhatikan putri bungsunya dengan serius. Sejak tadi, ia terus melihat perubahan sikap Canny yang begitu jelas. Gadis itu kini jauh lebih ceria, mudah tertawa, dan seolah tidak lagi membawa beban yang selama ini membuatnya menjauh dari keluarga.
Jennie seakan lupa bahwa beberapa hari lalu dirinya sempat diliputi kebimbangan setelah mengetahui bahwa Canny mengalami kemunduran memori.
Namun, melihat putrinya sekarang terlihat begitu bahagia, Jennie kembali pada satu keyakinan yang sama.
Mungkin semua ini salah di mata orang lain. Mungkin suatu hari nanti semua orang akan menyebutnya egois karena memilih keadaan seperti ini untuk putrinya.
Tapi Jennie tidak peduli.
Ia lebih rela melihat putri bungsunya seperti ini daripada harus melihat Canny kembali hidup dengan rasa trauma dan kebencian yang selama bertahun-tahun membebaninya. Jennie tidak sanggup melihat putrinya kembali terluka.
Jika untuk itu semua orang harus menganggapnya egois, biarlah.
Setidaknya, untuk saat ini, Jennie bahagia melihat Canny bisa tersenyum lagi.
Tangannya terangkat, lalu mengusap kepala Canny perlahan.
Canny yang sedang sibuk mengunyah makanannya langsung menoleh.
"Bagaimana, sayang? Kau suka masakan Mama?" tanya Jennie lembut.
Canny mengangguk kecil sambil masih mengunyah.
"Hmm... suka sekali. Masakan Mama selalu enak," jawabnya polos.
Setelah itu, ia kembali menikmati makanannya tanpa memikirkan apa pun.
Jennie hanya memperhatikannya dalam diam. Tatapannya mengikuti setiap gerakan putrinya, seolah ingin menyimpan baik-baik pemandangan sederhana itu dalam ingatannya.
Beberapa menit kemudian, Canny akhirnya menghabiskan seluruh makanan yang dibawakan Jennie. Setelah meletakkan sendoknya, ia kembali menoleh kepada sang ibu.
"Ma," panggil Canny.
Jennie yang sedang merapikan peralatan makan langsung menoleh.
"Kenapa, sayang?"
Canny tidak langsung menjawab. Tangannya justru sibuk memutar-mutar ujung selimutnya. Ia tampak ragu untuk mengatakan sesuatu.
Jennie memperhatikan perubahan ekspresinya.
"Kenapa, hm? Katakan saja," bujuknya.
Canny menghela napas kecil sebelum akhirnya mengangkat wajah.
"Ma, kapan aku boleh pulang? Aku bosan di rumah sakit." Ia mengerucutkan bibir, jelas tidak puas dengan keadaan yang mengharuskannya terus berada di sana. "Aku merasa sudah baik-baik saja. Jadi, untuk apa berlama-lama di rumah sakit?"
Jennie berjalan mendekat, lalu duduk di sisi ranjang. Tangannya terangkat mengusap pipi Canny dengan lembut.
"Sebentar lagi, ya, sayang. Kau masih harus menjalani beberapa pemeriksaan lagi. Dokter Irene juga bilang, kan, kau harus berada di rumah sakit untuk beberapa hari ke depan."
Wajah Canny langsung berubah tidak puas.
Ia menghela napas panjang dan menjatuhkan tubuhnya sedikit ke sandaran ranjang.
"Tapi aku bosan, Ma."
Jennie hanya tersenyum tipis.
Canny kemudian menatap ibunya lagi dengan tatapan memohon.
"Apa Mama tidak bisa bicara kepada Dokter Irene agar mengizinkanku pulang sekarang saja?" pintanya. "Aku bosan, Ma. Aku ingin pulang. Aku ingin kembali ke sekolah dan bertemu teman-temanku."
Jennie terdiam.
Seketika, senyum tipis yang tadi menghiasi wajahnya menghilang.
Baru sekarang ia menyadari sesuatu yang selama ini tidak terpikirkan olehnya.
Ia memang bahagia melihat perubahan Canny. Ia bahagia melihat putrinya kembali ceria, kembali banyak bicara, bahkan kembali memiliki keinginan sederhana seperti pulang ke rumah dan pergi ke sekolah.
Namun, Jennie ternyata tidak memikirkan apa yang akan terjadi setelah itu.
Bagaimana jika Canny mulai bertanya tentang kehidupannya selama beberapa tahun terakhir?
Bagaimana jika ia bertanya tentang sekolahnya?
Tentang teman-temannya?
Tentang orang-orang yang seharusnya ia kenal?
Tentang berbagai hal yang bagi Canny seharusnya menjadi bagian dari kehidupannya, tetapi kini mungkin tidak lagi ia pahami dengan cara yang sama?
Jennie bahkan belum memikirkan sejauh itu.
Untuk pertama kalinya, kebahagiaan yang tadi memenuhi dadanya terasa sedikit terusik oleh kenyataan yang baru saja muncul di hadapannya.
Canny sendiri masih menatapnya polos, sama sekali tidak menyadari bahwa pertanyaan sederhananya baru saja membuat sang ibu terdiam.