JANETTA P.O.V
02:03 PM
Seoul selalu memiliki cara sendiri untuk membuat seseorang merasa tidak tenang. Siang itu, langit yang sejak pagi terlihat mendung akhirnya menumpahkan hujan tepat ketika aku baru saja tiba di area belakang Seoul National University.
Aku sebenarnya memiliki jadwal kuliah siang hari itu tapi aku memilih untuk tidak masuk saja karena aku pikir ini lebih penting dari segalanya.
Aku datang hanya untuk menemui Jiah, satu-satunya orang yang ingin kuajak bicara mengenai sesuatu yang sejak semalam terus mengganjal pikiranku. Namun sebelum sempat mencapai taman tempat kami biasa bertemu, hujan turun begitu deras. Aku refleks mempercepat langkah, tetapi percuma.
Aku tidak membawa payung.
Mantel juga tidak kubawa karena ketika berangkat dari apartemen, langit masih terlihat hanya mendung biasa. Dalam hitungan menit rambut dan ujung pakaianku mulai terkena percikan air. Aku akhirnya berlari menuju koridor terbuka di salah satu gedung fakultas, lalu berhenti di bawah atap sambil mengatur napas. Air hujan jatuh seperti tirai tebal di hadapanku, menutupi sebagian halaman kampus yang beberapa menit lalu masih dipenuhi mahasiswa. Aroma tanah basah bercampur dengan udara dingin membuat suasana semakin sunyi. Aku memeluk kedua lengan sendiri sambil menatap hujan yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera berhenti. Seharusnya aku hanya merasa kesal karena kehujanan. Namun yang sebenarnya membuat dadaku sesak bukanlah hujan.
V.
Pria itu tetap akan pergi ke Hongdae malam ini.
Aku sudah melarangnya. Sudah berulang kali menjelaskan bahwa aku tidak ingin ia datang ke tempat itu sendirian. Aku tahu ada sesuatu yang sedang direncanakan RM dan orang-orangnya. Aku tahu Jungkook belum ditemukan. Aku tahu Jimin bahkan sudah membagi tugas karena mereka tidak boleh bergerak sembarangan. Dan yang paling membuatku takut adalah kenyataan bahwa Jin ternyata berusaha memanfaatkan Jiah untuk membuatku sendiri yang membujuk V agar datang ke tempat yang mereka inginkan.
Namun V tetap V.
Keras kepala, dingin, dan selalu merasa harus menyelesaikan semuanya sendiri.
Ia mengatakan bahwa ia sudah memiliki rencana dan tidak akan mengubah keputusannya hanya karena aku takut. Bahkan ketika aku berusaha membuatnya memahami bahwa kepergiannya bisa menjadi perangkap, ia hanya mengatakan bahwa ia tahu apa yang sedang dilakukannya. Aku membenci jawaban seperti itu. Bukan karena aku tidak percaya kepadanya, melainkan karena aku terlalu takut kehilangan dirinya.
Aku mengusap wajah dengan kedua tangan sebelum mengembuskan napas panjang. Aku datang ke kampus untuk menemui Jiah bukan untuk membicarakan V.
Setidaknya, bukan pada awalnya.
Ada sesuatu yang jauh lebih sulit untuk kusampaikan.
Jin.
Aku sudah mendengar percakapannya dengan RM. Aku tahu ia sedang berusaha membuat Jiah menjadi bagian dari rencana mereka tanpa sepengetahuan sahabatku sendiri. Tetapi bagaimana aku harus mengatakan itu kepada Jiah?
Jin adalah kekasihnya.
Pria yang selama ini ia cintai, pria yang bahkan beberapa kali ia bela ketika aku merasa tidak nyaman dengan sikapnya. Jika aku langsung mengatakan bahwa Jin mungkin bekerja sama dengan RM, apakah Jiah akan percaya kepadaku? Atau justru mengira aku sedang mencoba menghancurkan hubungan mereka?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.
Aku bahkan sudah menyusun kalimatnya berkali-kali sejak meninggalkan apartemen.
Jiah, aku ingin membicarakan sesuatu tentang Jin.
Terlalu langsung.
Menurutmu, Jin akhir-akhir ini bersikap aneh?
Terlalu mencurigakan.
Kalau suatu hari aku mengatakan sesuatu yang buruk tentang Jin, maukah kau mendengarkanku dulu sebelum marah?
Lebih buruk lagi.
Aku mengembuskan napas frustrasi. Tidak ada satu pun cara yang terasa aman.
"Jane?"
Suara itu akhirnya terdengar dari ujung koridor.
Aku langsung mengangkat kepala.
Jiah berjalan cepat menghampiriku sambil memeluk beberapa buku di depan dada. Rambutnya sedikit basah di bagian ujung, mungkin ia juga baru saja keluar dari gedung kuliah ketika hujan turun. Begitu melihatku berdiri sendirian di bawah koridor, ekspresinya langsung berubah heran.
"Sudah daritadi?"
Aku mengangguk. "Baru saja kok."
Ia berjalan mendekat, lalu berdiri di sampingku sambil ikut memandang hujan.
"Kenapa tidak bilang kalau sudah di kampus? Aku tadi habis kelas dan langsung ke sini."
"Tak apa. Aku hanya tidak ingin menganggu waktumu."
Nada suaraku terdengar lebih serius daripada yang kuinginkan.
Jiah langsung menoleh.
"Oh ya ngomong-ngomong ada apa soal Jin?"
Aku tidak segera menjawab.
Mataku masih tertuju pada hujan yang jatuh deras di halaman. Beberapa mahasiswa berlari sambil menutupi kepala dengan buku. Sebagian memilih berhenti di bawah atap seperti kami. Suasana kampus yang biasanya ramai kini berubah menjadi lebih tenang karena hujan memaksa semua orang memperlambat langkah.
Aku menarik napas panjang.
"Aku mau membicarakan sesuatu."
Seketika ekspresinya berubah sedikit.
Tidak banyak.
Namun cukup untuk membuatku tahu bahwa aku harus berhati-hati.
Ia merapikan buku-buku yang berada dalam pelukannya sebelum bertanya, "Ada masalah?"
Aku kembali terdiam.
Inilah bagian yang paling sulit.
Aku tidak ingin membuatnya panik. Aku juga tidak ingin menuduh seseorang tanpa memberikan alasan yang jelas. Namun aku harus membuat Jiah setidaknya mulai memperhatikan perilaku Jin. Jika aku langsung mengatakan semuanya, mungkin ia akan menolak mempercayaiku.
"Menurutmu..." Aku berhenti sebentar, mencari kata yang paling aman. "...akhir-akhir ini Jin ada yang berbeda?"
Jiah tampak berpikir. "Berbeda bagaimana?"
Aku menggeleng kecil. "Aku juga belum tahu pasti. Makanya aku bertanya kepadamu."
Jiah menatapku beberapa detik.
"Kau dan Jin sedang ada masalah?"
"Tidak." Aku menjawab terlalu cepat, lalu segera memperbaiki nada suaraku.
"Aku hanya merasa ada beberapa hal yang aneh."
Jiah kembali memandang hujan.
"Hal yang aneh?"
Aku menggigit bibir bawah.
Aku tidak bisa langsung mengatakan bahwa aku mendengar Jin berbicara dengan RM. Belum. Setidaknya sampai aku tahu bagaimana Jiah akan menerima informasi tersebut.
"Aku hanya ingin kau lebih berhati-hati."
Jiah menoleh.
"Jane..."
Nada suaranya terdengar bingung.
"Kau membuatku takut."
Aku tersenyum tipis, meskipun sebenarnya aku sendiri jauh lebih takut daripada dirinya.
"Aku tidak bermaksud menakutimu."
Aku menarik napas panjang.
"Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."
Hujan masih turun deras di hadapan kami.
Dan di tengah suara air yang terus menghantam atap koridor, aku akhirnya menyadari satu hal.
Mungkin untuk menyelamatkan Jiah dari seseorang yang ia cintai...
aku harus terlebih dahulu membuatnya mempertanyakan orang tersebut.
Dan aku tidak tahu apakah setelah percakapan ini...
hubungan kami akan tetap sama.
Aku menarik napas panjang. Tidak ada lagi alasan untuk memutar kata-kata. Kalau aku terus berhati-hati sampai tidak pernah mengatakan apa pun, mungkin justru akan lebih berbahaya bagi Jiah. Hujan masih turun deras di hadapan kami, membentuk tirai air yang membuat halaman kampus tampak kabur. Udara dingin menyusup melalui pakaian yang kukenakan, tetapi rasa dingin itu tidak seberapa dibandingkan kegelisahan yang sejak tadi menekan dadaku. Aku menatap sahabatku beberapa detik, mencoba menguatkan diri sebelum akhirnya membuka suara, kali ini tanpa menyembunyikan apa pun.
"Jiah, semalam aku mendengar Jin sedang menelepon seseorang dari dapur."
Wajah Jiah langsung berubah. Senyum tipis yang tadi masih tersisa di wajahnya lenyap perlahan. "Menelepon siapa?" tanyanya pelan.
Aku menelan ludah sebelum menjawab, "RM."
Hujan di hadapan kami masih turun deras, tetapi seketika rasanya suara air itu menjadi semakin jauh. Jiah tidak langsung bereaksi. Ia hanya menatapku, seolah sedang menunggu aku tertawa dan mengatakan bahwa semua itu hanyalah salah dengar. Namun aku tidak melakukannya. Aku membiarkan keheningan menggantung beberapa detik sebelum kembali melanjutkan.
"Aku tidak sengaja mendengarnya. Aku berada di kamar ketika mendengar Jin menyebut nama Jungkook. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan, tetapi kemudian aku mendengar namaku disebut. Jin mengatakan kepada RM bahwa ia akan berusaha membuatmu membujukku agar aku menyuruh V datang ke markas mereka."
Jiah menggeleng perlahan. "Tidak." Satu kata itu keluar begitu pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan. "Jane, kau pasti salah dengar."
Aku langsung menggeleng. "Aku mendengarnya dengan jelas."
"Tidak mungkin." Kali ini suaranya lebih tegas. Ia memalingkan wajah ke arah hujan, lalu menarik napas panjang seolah sedang berusaha menata pikirannya yang tiba-tiba berantakan. "Jin tidak mungkin melakukan itu." Aku menatap profil wajahnya yang perlahan mulai menegang. Aku tahu kalimat itu bukan sekadar penolakan terhadap perkataanku. Jiah sedang berusaha mempertahankan sesuatu yang selama ini ia percaya sebagai bagian paling aman dalam hidupnya.
"Aku tahu kau mencintainya."
"Kau tidak tahu..." Jiah akhirnya menoleh kepadaku. Matanya mulai memperlihatkan emosi yang berusaha ia tahan. "Aku mengenalnya. Aku banyak menghabiskan waktu bersamanya. Aku tahu bagaimana dia memperlakukanku. Dia tidak mungkin mengkhianati kita seperti itu."
Aku menahan napas. "Aku juga tidak ingin mempercayainya, Ji. Justru itu alasan aku datang menemuimu." Aku merogoh ponsel dari saku, tetapi tidak langsung menunjukkannya. "Aku tidak datang untuk menghancurkan hubungan kalian. Aku datang karena aku takut sesuatu terjadi kepadamu."
Jiah tertawa kecil, tetapi sama sekali tidak terdengar bahagia. Ada kepahitan di balik tawanya. "Kau selalu bilang seperti itu setiap kali membicarakan Jin. Sejak awal kau memang tidak pernah benar-benar menyukainya."
Aku terdiam sesaat. "Bukan begitu."
"Lalu bagaimana?" Nada suaranya masih terkendali, tetapi luka di baliknya semakin jelas. "Kau sering menjauh ketika dia datang. Kau selalu curiga kepadanya. Sekarang tiba-tiba kau mengatakan dia bekerja sama dengan RM tanpa bukti apa pun."
Aku menggeleng cepat. "Ada terlalu banyak hal yang tidak masuk akal, Jiah." Aku menatapnya serius. "Ingat bagaimana Jin selalu ingin tahu ke mana V pergi? Ingat bagaimana ia berkali-kali mengatakan bahwa V hanya akan membuat hidupku rumit? Waktu itu aku mengira dia hanya mengkhawatirkan aku sebagai temanmu. Tapi sekarang aku mulai melihatnya berbeda."
Jiah tidak menjawab. Tatapannya jatuh pada lantai koridor yang mulai dipenuhi genangan kecil akibat percikan hujan. Aku bisa melihat pikirannya bekerja, tetapi ia seperti menolak memberikan ruang bagi kemungkinan yang sedang kubicarakan.
Aku melanjutkan, lebih perlahan, "Dan setelah semua yang terjadi dengan Jungkook, kita tahu RM sedang mencari cara untuk menarik V kembali. Jin tahu itu. Jin tahu kau yang paling dekat denganku. Kalau memang dia benar-benar berkomunikasi dengan RM, masuk akal kalau mereka ingin menggunakanmu untuk memengaruhiku."
Jiah menggeleng lagi. Kali ini lebih keras. "Tidak."
Ia menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kau tidak bisa membuat kesimpulan seperti itu hanya karena kau mendengar percakapan yang bahkan tidak kau pahami sepenuhnya."
Aku merasakan dadaku ikut sesak. "Aku mendengar cukup banyak untuk tahu bahwa mereka sedang membicarakan Jungkook."
"Jungkook memang saat ini menjadi masalah buat kita." Jiah mengusap pelipisnya, berusaha mempertahankan ketenangannya. "Tapi bukan berarti kau bisa menuduh Jin seenaknya."
Aku menatapnya lama. "Lalu kenapa dia harus menyebut RM?"
Pertanyaan itu membuatnya diam.
Untuk beberapa detik, aku melihat keraguan kecil muncul di matanya. Hanya sesaat, tetapi aku melihatnya. Dan mungkin justru karena itulah aku semakin yakin bahwa di dalam dirinya sendiri, Jiah sebenarnya pernah memiliki pertanyaan yang sama.
"Mungkin..." Ia berhenti. "Mungkin ada alasan lain."
"Alasan apa?"
"Aku tidak tahu!" jawabnya akhirnya. Suaranya meninggi untuk pertama kalinya. "Tapi aku lebih memilih mencari tahu sendiri daripada langsung menuduh orang yang kucintai sebagai pengkhianat."
Aku menghela napas panjang. Rasanya semakin sulit membuatnya memahami bahwa aku tidak sedang berusaha mengambil Jin darinya. Aku hanya ingin memastikan sahabatku tidak sedang berjalan menuju sesuatu yang berbahaya.
"Baik. Kalau begitu jangan percaya kata-kataku. Perhatikan sendiri."
Jiah menatapku. "Perhatikan apa?"
"Cara dia bersikap. Cara dia menyembunyikan ponselnya. Cara dia pergi ketika menerima telepon tertentu. Cara dia selalu terlihat gelisah setiap kali nama V muncul. Kau sendiri pasti pernah merasakan ada sesuatu yang aneh."
Jiah tidak menjawab. Hanya memandangku dalam diam. Aku tahu ada bagian dari dirinya yang sebenarnya pernah mempertanyakan hal yang sama. Namun cinta sering kali membuat seseorang memilih memaafkan tanda-tanda yang seharusnya tidak diabaikan. Ia mungkin pernah melihat perubahan kecil pada Jin, tetapi selama ini memilih menganggap semuanya sebagai kelelahan, tekanan, atau sekadar masalah pribadi.
"Dan satu hal lagi," kataku lebih pelan. "Jin membenci V."
Jiah langsung mengerutkan kening. "Terus apa hubungannya?"
"Banyak." Aku menatap hujan yang mulai sedikit mereda. "Kau pernah bertanya kenapa Jin selalu ikut campur ketika aku dekat dengan V? Kenapa dia selalu memperingatkanku? Kenapa dia seolah punya alasan pribadi untuk tidak menyukai V?"
Jiah terdiam beberapa saat sebelum menjawab dengan suara yang lebih dingin, "Mungkin karena V selalu membuat Jin kalah dalam permainan judi."
"Atau mungkin..." sambungku cepat, "dia punya urusan sendiri dengan RM."
Jiah tiba-tiba memalingkan wajah. Aku bisa melihat rahangnya mengeras. Tangannya menggenggam tali tas yang berada di bahunya semakin erat.
"Aku tidak mau mendengar ini lagi."
"Jiah—"
"Tidak." Kali ini ia memotongku. "Aku sudah cukup mendengar."
Ia menarik napas panjang, lalu menatapku dengan mata yang jelas terluka. Tidak ada lagi nada bercanda atau kehangatan seperti ketika kami pertama kali bertemu di koridor tadi. Yang tersisa hanyalah kekecewaan seorang sahabat yang merasa kepercayaannya sedang diuji.
"Kau datang kepadaku sebagai sahabat, Jane. Tapi yang kulakukan sekarang hanya mendengar kau mengatakan hal-hal buruk tentang laki-laki yang kucintai hanya karena seseorang seperti V?"
Aku menahan perasaan yang mulai bergejolak. "Aku mengatakan ini karena aku sahabatmu. Tidak ada hubungannya dengan V."
"Tidak." Suaranya bergetar. "Kalau kau benar-benar sahabatku, kau seharusnya mempercayaiku untuk memilih siapa yang ingin berada di hidupku."
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada yang kuduga.
Aku terdiam beberapa detik. Hujan mulai mereda, tetapi rasanya justru semakin sulit bernapas. "Aku menghargai pilihanmu," jawabku akhirnya, berusaha tetap tenang meskipun dadaku terasa sakit. "Tapi ketika pilihan itu mungkin membahayakanmu, aku tidak bisa hanya diam."
Jiah tertawa hambar. "Jadi sekarang kau merasa lebih tahu tentang hidupku daripada aku sendiri?"
"Bukan itu maksudku."
"Tapi itulah yang terdengar." Ia menatapku lurus. "Kau selalu terlalu sibuk menyelamatkan orang lain. V, Jungkook, sekarang aku. Kau terlalu ikut campur, Jane. Apalagi dengan anggapan anehmu itu!"
Aku membeku. Ada air mata yang mulai memenuhi mataku, tetapi kutahan sekuat mungkin. Aku tidak ingin menangis di hadapannya. Tidak ketika percakapan ini sudah terlanjur berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar perbedaan pendapat.
"Mungkin aku memang salah karena terlalu ikut campur." Suaraku mengecil. "Tapi aku tidak pernah berniat menyakitimu."
Jiah menggeleng pelan. "Kau sudah menyakitiku."
Hanya 3 kata.
Namun cara ia mengucapkannya membuat seluruh keberanianku runtuh. Tidak ada kemarahan yang meledak. Tidak ada teriakan. Justru ketenangan dalam suaranya terasa jauh lebih menyakitkan.
"Dan aku tidak tahu apakah setelah ini aku masih bisa mempercayaimu seperti dulu."
Aku menatapnya tanpa mampu menjawab.
Hujan akhirnya benar-benar mulai mereda. Air menetes dari ujung atap koridor satu per satu, meninggalkan suara kecil yang justru terasa lebih menyakitkan daripada derasnya hujan tadi. Mahasiswa mulai keluar dari tempat berteduh, beberapa membuka payung, beberapa berlari menuju gedung berikutnya. Dunia perlahan kembali bergerak, tetapi hubungan kami seolah baru saja berhenti di tempat.
Kami berdiri berdampingan, tetapi jarak di antara kami terasa jauh lebih besar daripada sebelumnya.
Aku menatap Jiah untuk terakhir kalinya. "Kalau suatu hari nanti kau menemukan sesuatu yang membuatmu sadar bahwa anggapanku benar, tolong lindungi dirimu, Ji."
Jiah tidak menjawab.
Ia hanya mengambil tasnya dengan gerakan tenang, lalu berjalan melewatiku.
Aku tidak mencoba menahannya.
Aku tahu, kalau aku memanggil namanya sekarang, mungkin hanya akan membuat semuanya semakin buruk.
Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti sebentar tanpa menoleh.
"Mulai sekarang..."
Suaranya terdengar sangat pelan.
"Kau bukan sahabatku lagi. Dan jangan pernah berbicara soal Jin lagi di hadapanku."
Aku memejamkan mata.
Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh begitu saja.
Aku tidak menyangka kalimat itu akan datang dari mulut Jiah. Tidak pernah terpikir bahwa persahabatan yang kami bangun sejak SMP bisa berakhir hanya dalam satu percakapan, di bawah koridor kampus, ditemani sisa hujan yang perlahan menghilang.
Namun mungkin justru itulah yang paling menyakitkan dari kehilangan.
Seseorang tidak perlu pergi jauh untuk membuatmu merasa ditinggalkan.
Kadang mereka hanya perlu berhenti mempercayaimu.
Jiah akhirnya pergi.
Aku tetap berdiri di bawah koridor, memandangi punggung sahabatku yang semakin menjauh di antara sisa-sisa hujan.
Untuk pertama kalinya sejak kami berteman sejak SMP...
aku merasa benar-benar kehilangan Jiah.
Bukan karena ia pergi jauh.
Melainkan karena untuk pertama kalinya...
ia memilih untuk tidak mempercayaiku.
***
Sore perlahan berubah menjadi petang ketika aku kembali ke apartemen. Setelah pertengkaranku dengan Jiah di bawah koridor kampus tadi, rasanya seluruh tubuhku seperti kehilangan tenaga. Aku berjalan pulang tanpa benar-benar memperhatikan jalan yang kulewati. Biasanya perjalanan dari kampus menuju apartemen terasa begitu biasa, bahkan terkadang menyenangkan ketika udara Seoul sedang sejuk. Namun hari itu semuanya terasa berbeda. Setiap langkah justru membuat kalimat Jiah kembali terngiang di kepalaku. Kau bukan sahabatku lagi. Sederhana. Hanya beberapa kata. Tetapi entah mengapa mampu menghancurkan sesuatu yang telah kami bangun sejak SMP.
Begitu pintu unit 508 terbuka, keheningan langsung menyambutku. Tidak ada suara Jiah dari kamar. Tidak ada musik yang biasanya terdengar ketika ia sedang mengerjakan tugas. Tidak ada suara pintu lemari dapur dibuka dan ditutup karena ia mencari camilan. Apartemen itu masih sama seperti biasanya, tetapi rasanya seperti bukan rumahku lagi. Aku meletakkan tas di atas sofa, lalu berdiri beberapa saat di tengah ruang tamu tanpa tahu harus melakukan apa. Mataku perlahan beralih ke sofa tempat kami sering duduk bersama, meja makan tempat kami pernah menghabiskan begitu banyak malam sambil mengobrol tentang kuliah, pekerjaan, bahkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Semua benda di tempat ini tiba-tiba terasa seperti menyimpan kenangan yang terlalu banyak.
Aku akhirnya duduk di sofa dan menundukkan kepala. Untuk beberapa menit aku hanya diam, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa pertengkaran tadi tidak akan berlangsung selamanya. Jiah mungkin hanya sedang marah. Mungkin besok ia akan kembali seperti biasa. Mungkin ia akan masuk ke kamarku sambil mengomel karena aku sibuk membaca buku atau menonton drama. Mungkin kami akan bertengkar kecil lagi, lalu tertawa seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Namun semakin lama aku memikirkan kemungkinan itu, semakin sulit aku mempercayainya. Kalimat terakhirnya terdengar terlalu tegas. Tatapan matanya juga tidak seperti seseorang yang hanya sedang kesal sesaat.
Aku meraih ponsel.
Hal pertama yang kulakukan bukan menghubungi Jiah.
Aku justru membuka kontak Jimin.
Aku ingin tahu bagaimana penyelidikannya berjalan. Apakah ia sudah mendapatkan sesuatu dari kawasan industri yang sedang ditelusurinya? Apakah ada kendaraan yang mencurigakan? Apakah ia menemukan jejak yang bisa membawa kami lebih dekat kepada Jungkook?
Aku menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya terputus sendiri. Aku mengerutkan kening dan menatap layar ponsel yang kembali gelap.
Jimin tidak mengangkat.
Mungkin sedang menjalankan rencananya di kawasan industri. Mungkin ponselnya sengaja dimatikan agar tidak menarik perhatian. Aku mencoba meyakinkan diri dengan kemungkinan-kemungkinan yang masuk akal, tetapi entah mengapa rasa tidak nyaman justru semakin kuat.
Aku menekan tombol panggil sekali lagi. Kali ini bahkan tidak terdengar nada sambung yang panjang. Panggilan langsung berakhir. Aku menatap layar beberapa detik.
Tidak dapat dihubungi.
Aku menggigit bibir bawah.
Seharusnya aku tidak langsung berpikir buruk. Jimin bukan orang ceroboh. Ia tahu apa yang sedang dilakukannya. Atau setidaknya, aku berharap begitu.
Aku meletakkan ponsel di atas meja, tetapi hanya bertahan beberapa detik sebelum tanganku kembali meraihnya. Kali ini mataku berhenti pada satu nama yang sejak tadi membuatku cemas.
V.
Jempolku menggantung di atas tombol panggil.
Aku masih mengingat pertengkaran kami.
Wajahnya ketika mengatakan bahwa ia tetap akan pergi ke Hongdae malam ini. Cara aku berusaha melarangnya karena tahu tempat itu mungkin sudah menjadi perangkap. Dan bagaimana pada akhirnya ia meninggalkan apartemen dengan wajah keras, seolah keputusan apa pun yang kuambil tidak akan mampu mengubah pikirannya. Aku tahu ia sedang marah. Aku juga tahu ia mungkin tidak ingin mendengar suaraku. Namun semakin lama aku memandangi namanya di layar, semakin sulit bagiku menahan keinginan untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja.
Akhirnya aku menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tidak ada jawaban. Aku menunggu sampai panggilan berakhir sendiri, lalu menatap layar dengan perasaan yang semakin tidak tenang.
Aku mencoba lagi.
Tetap sama.
Tidak diangkat.
"V..." gumamku pelan.
Aku ingin marah. Ingin mengatakan bahwa ia keras kepala dan menyebalkan. Namun di balik semua itu ada ketakutan yang jauh lebih besar. Bagaimana jika ia benar-benar sudah berada di Hongdae? Bagaimana jika sesuatu terjadi sebelum ia sempat mengangkat teleponku?
Aku langsung menggeleng kuat-kuat.
Tidak. Aku tidak boleh berpikir sejauh itu.
Aku membuka percakapan dengan Lili dan Rosie. Keduanya masih terlihat aktif beberapa waktu lalu. Mungkin mereka masih sibuk di kampus. Mungkin sedang mengikuti kelas atau mengerjakan sesuatu bersama. Aku tidak ingin mengganggu mereka hanya karena pikiranku sedang kacau.
Akhirnya ponsel itu kembali kutaruh di meja. Ruang tamu terasa semakin luas dalam kesunyian. Aku menatap kursi kosong di seberang sofa, lalu tanpa sadar membayangkan Jiah duduk di sana sambil mengomel tentang tugas kuliah, mengeluh lapar, atau tertawa karena sesuatu yang sebenarnya tidak lucu. Sekarang bahkan suara kecil seperti itu terasa sangat berharga.
Aku berdiri dan berjalan menuju kamar Jiah. Pintu itu masih tertutup. Aku berhenti di depannya, mengangkat tangan, lalu mengurungkannya lagi. Apa yang harus kukatakan? Bahwa aku menyesal? Bahwa aku hanya ingin melindunginya? Bahwa semua yang kukatakan tentang Jin bukan karena aku membencinya, melainkan karena aku takut sesuatu terjadi kepadanya? Tidak ada kalimat yang terasa cukup. Aku akhirnya kembali ke kamarku dan menutup pintu perlahan.
Waktu berjalan tanpa terasa. Lima sore berubah menjadi enam. Enam menjadi tujuh. Cahaya dari jendela perlahan menghilang dan digantikan kilauan lampu kota Seoul. Aku memilih menenggelamkan wajahku di bantal. Tanganku bahkan beberapa kali meraih ponsel tanpa sadar.
Tidak ada pesan dari Jimin. Tidak ada panggilan dari V. Tidak ada kabar dari Jiah. Aku mencoba menghubungi Jimin sekali lagi ketika jam menunjukkan hampir pukul delapan. Tetap tidak aktif. Kali ini rasa khawatir mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih nyata. Ada bagian kecil dalam diriku yang mengatakan bahwa mungkin sesuatu telah terjadi.
Ponselku masih berada di tangan ketika layar tiba-tiba menyala kembali. Jantungku langsung melonjak, berharap nama yang muncul adalah V. Namun hanya beberapa detik kemudian sebuah pesan masuk itu memang darinya.
Singkat.
Tanpa penjelasan panjang.
Tanpa kalimat manis seperti yang biasanya ia kirim ketika mengingatkanku makan atau menyuruhku tidak tidur terlalu malam atau mungkin ia mengirim pesan bahwa ia tidak akan pergi ke Hongdae malam ini, tapi malah pesan yang datang tidak sesuai dengan yang aku harapkan.
Jangan keluar dari apartemen malam ini.
Aku membacanya berulang kali.
Hanya satu pesan.
Hanya satu kalimat.
Tetapi justru karena terlalu singkat, kalimat itu terasa jauh lebih mengkhawatirkan.
V tidak pernah memberi perintah tanpa alasan, apalagi setelah pertengkaran kami beberapa jam sebelumnya. Jika ia benar-benar hanya marah kepadaku, ia tidak akan repot-repot mengirim pesan seperti ini. Pasti ada sesuatu yang terjadi.
Aku langsung menekan tombol panggil. "V..." gumamku pelan sambil menunggu. Nada sambung terdengar satu kali, kemudian berubah menjadi suara pendek yang menandakan panggilan tidak dapat diteruskan.
Aku mencoba lagi.
Tetap sama.
Tidak ada nada sambung.
Tidak ada kesempatan bagiku untuk mendengar suaranya.
Hanya tulisan tidak dapat dihubungi yang muncul di layar.
Aku menatapnya dengan dada yang semakin sesak. "Angkat, V..." bisikku.
"Tolong sekali saja." Aku mencoba untuk ketiga kalinya, lalu keempat kalinya, tetapi hasilnya tetap sama. Ponsel V benar-benar tidak bisa dihubungi.
Rasa takut yang sejak tadi hanya berupa firasat perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih nyata. V sudah pergi. Jimin tidak bisa dihubungi. Jungkook masih hilang. Dan sekarang V justru mengirimiku satu pesan yang terdengar seperti peringatan terakhir sebelum menghilang.
Aku memejamkan mata, mencoba mengatur napas.
Jangan panik. Aku harus berpikir.
Kalau aku hanya duduk di sini dan menunggu, aku mungkin tidak akan mendapatkan jawaban apa pun sampai pagi atau malah mungkin akan terjadi sesuatu dengan V. Dan entah mengapa, di tengah kepanikan itu, satu nama tiba-tiba muncul di kepalaku.
Dohyun.
Tanpa membuang waktu lagi, aku mengambil jaket kulit milik V yang tergantung di dekat pintu. Ya, ia memang pernah meninggalkan jaketnya di kamarku. Kemudian aku meraih tas, lalu memastikan ponsel berada di dalam genggaman. Satu-satunya orang yang mungkin mengetahui ke mana V pergi mungkin adalah Dohyun. Jika ada seseorang yang bisa memberiku petunjuk, mungkin hanya dia.
Aku segera turun ke lobi dan memesan taksi menuju bengkel Dohyun. Sepanjang perjalanan, kota Seoul terasa berbeda. Lampu-lampu jalan berlari di balik kaca, kendaraan masih memenuhi beberapa ruas jalan, tetapi pikiranku hanya tertuju pada satu hal. Aku harus menemukan V sebelum sesuatu terjadi.
***
V P.O.V
Motorku melaju meninggalkan bengkel Dohyun, membelah jalanan Seoul yang semakin ramai menjelang malam. Udara dingin menghantam tubuhku dari segala arah, tetapi pikiranku jauh lebih dingin daripada angin yang menerpa wajah. Lampu toko, papan reklame digital, suara klakson, dan kerumunan orang di trotoar hanya menjadi latar yang bergerak tanpa arti. Aku tidak datang untuk menikmati malam. Aku punya tujuan.
Hongdae.
Sudah lama aku tidak kembali ke kawasan itu. Namun tempat yang kutuju bukanlah bagian Hongdae yang dipenuhi mahasiswa, kafe, atau klub yang selalu ramai. Aku menuju sebuah bangunan tua yang selama ini menjadi salah satu tempat RM, Suga, dan J-Hope berkumpul. Tempat itu bukan rumahku. Bukan pula bagian dari masa lalu yang ingin kuingat sebagai sesuatu yang pernah menjadi milikku. Itu dunia mereka—dunia yang selalu terasa kotor bahkan ketika dibungkus tawa, alkohol, perempuan, dan musik keras.
Aku pernah membawa Jane ke kawasan itu. Malam ketika ia menginap di rumahku, lalu ikut ketika aku harus pergi ke suatu tempat. Aku memintanya menunggu di dalam mobil karena aku tidak ingin ia melihat apa yang sebenarnya ada di balik pintu bangunan tersebut. Aku tahu ia pasti akan bertanya jika melihat terlalu banyak, dan malam itu aku sedang tidak memiliki kesabaran untuk menjelaskan apa pun. Sampai sekarang pun Jane belum mengetahui seluruh kenyataannya.
Aku memperlambat laju motor ketika memasuki jalanan Hongdae. Kawasan utama masih hidup seperti biasa. Musisi jalanan memenuhi beberapa sudut trotoar, restoran kecil dipadati mahasiswa, pasangan muda berjalan berdampingan, dan cahaya neon dari toko-toko memantul di kaca bangunan. Suara musik dari berbagai klub bercampur dengan suara kendaraan dan percakapan orang-orang yang memenuhi jalan.
Namun semakin jauh aku meninggalkan pusat keramaian, suasana perlahan berubah. Jalanan menyempit. Lampu toko mulai jarang. Bangunan modern berganti dengan deretan bangunan tua yang catnya mulai memudar. Aku mengambil jalur yang lebih sepi dan memperlambat motor.
Beberapa menit kemudian bangunan itu terlihat.
Masih sama.
Tiga lantai.
Dinding tua.
Jendela-jendela sempit.
Dan lampu neon kecil yang menyala redup di dekat pintu masuk.
Dari luar, tidak ada sesuatu yang membuat orang biasa berhenti dan curiga. Bangunan itu bahkan tampak seperti rumah tua yang sudah kehilangan masa jayanya. Namun aku tahu siapa yang biasa menggunakan tempat ini. Aku tahu bagaimana RM, Suga, dan J-Hope menjadikannya tempat berkumpul dan berpesta. Jika RM masih mempertahankan tempat seperti ini, berarti ada alasan yang lebih besar daripada sekadar nostalgia.
Aku mematikan mesin motor beberapa puluh meter dari bangunan, lalu menurunkannya di tempat yang tidak terlalu mencolok. Helm kulepas dan kusimpan di bawah jok. Aku tidak langsung mendekat. Dari seberang jalan, aku mengamati pintu utama, jendela lantai dua, serta kendaraan yang terparkir di sisi bangunan. Dua mobil asing terlihat berjajar di dekat tembok. Sedikit lebih jauh terdapat sebuah van hitam. Beberapa jendela menyala, sementara sebagian lainnya tetap gelap.
Aku berdiri di bawah bayangan bangunan di seberang jalan.
Menunggu.
Mengamati.
Tidak ada gunanya terburu-buru.
Bangunan itu memang bukan gudang atau tempat penyimpanan. Tempat tersebut digunakan sebagai lokasi pesta pribadi ketika RM, Suga, dan J-Hope berkumpul. Musik keras, alkohol, perempuan, orang-orang baru, dan pesta yang bisa berlangsung sampai pagi adalah pemandangan biasa di sana. Malam ini pun suasananya mulai hidup. Dari celah jendela lantai dua terdengar dentuman musik elektronik yang samar, disusul sorakan dan tawa orang-orang di dalam. Lampu merah dan biru berkedip dari balik tirai, membuat bangunan tua itu terlihat seperti klub malam tersembunyi.
Aku baru saja hendak mengalihkan pandangan ketika suara mesin mobil terdengar dari ujung gang.
Sebuah Ford Mustang hitam melaju perlahan, lalu berhenti tepat di depan bangunan.
Aku langsung mengenalinya.
RM.
Pintu pengemudi terbuka. RM turun dengan pakaian gelap, rambut sedikit berantakan, dan wajah yang terlihat terlalu santai untuk seseorang yang masih bermain dengan kehidupan yang seharusnya sudah ia tinggalkan. Ia berjalan mengitari mobil, membuka pintu belakang, lalu beberapa perempuan turun satu per satu sambil tertawa. Mereka mengenakan pakaian malam dan membawa tas kecil. Salah satunya bahkan masih menggenggam gelas plastik.
RM mengatakan sesuatu yang tidak bisa kudengar. Salah seorang perempuan tertawa, kemudian mereka berjalan menuju pintu masuk. Satu perempuan masuk, disusul dua lainnya. RM menjadi orang terakhir yang masuk setelah sempat menoleh ke sepanjang jalan.
Pintu tertutup.
Beberapa detik kemudian musik dari dalam terdengar sedikit lebih keras.
Aku mengembuskan napas pelan.
Tidak ada yang aneh dengan kebiasaan RM. Sejak dulu ia memang seperti itu. Pesta, alkohol, perempuan, dan orang-orang yang datang silih berganti. Namun justru karena semuanya terlihat begitu biasa, aku semakin tidak menyukainya.
Aku kembali menatap jendela lantai dua. Bayangan orang-orang bergerak di balik tirai. Seseorang mengangkat gelas. Seseorang menari. Lampu berubah warna mengikuti musik.
Terlalu normal.
Aku hampir berbalik ketika pintu depan kembali terbuka. Seorang pria bertubuh besar keluar sambil menyalakan rokok. Ia berdiri di anak tangga, mengembuskan asap, lalu menyapu pandangan ke sepanjang jalan.
Tatapannya berhenti ke arahku.
Aku langsung mundur ke balik sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari sana. Tubuhku tetap diam. Aku menunggu sampai pria itu akhirnya membuang pandangan dan kembali masuk.
Beberapa detik kemudian aku kembali mengintip.
Musik masih terdengar.
Lampu masih berkedip.
Orang-orang masih tertawa.
Aku tidak datang untuk berpesta.
Aku datang karena Jungkook.
Aku belum tahu apakah Jungkook pernah dibawa ke sini. Aku juga belum tahu apakah RM menggunakan tempat ini hanya untuk berkumpul atau menyimpan sesuatu yang tidak ingin diketahui orang lain. Namun selama tempat ini masih berhubungan dengan mereka, kemungkinan adanya petunjuk tetap ada.
Aku mengambil ponsel dari saku jaket.
Nama Jimin muncul di layar.
Aku menekan panggil.
Sekali.
Dua kali.
Tidak ada jawaban.
Aku mencoba lagi.
Tetap tidak aktif.
Aku membuka pesan dan mengetik cepat.
Jimin, aku sudah di Hongdae. Sepertinya aku akan masuk ke dalam. Kau di mana?
Pesan terkirim.
Tidak terbaca.
Aku mengerutkan kening.
Jimin tahu aku akan bergerak malam ini. Ia seharusnya memberikan kabar sekecil apa pun jika ada perubahan.
Aku kembali menelepon.
Tidak ada jawaban.
Layar menunjukkan bahwa nomornya tidak dapat dihubungi.
Aku menatap layar beberapa detik.
Ada sesuatu yang salah.
Jimin bukan orang yang menghilang tanpa alasan.
Aku kembali menatap bangunan tua di hadapanku. Musik masih mengalun. Lampu lantai dua menyala. Bayangan orang-orang bergerak di balik tirai.
Semuanya terlihat normal.
Namun naluriku mengatakan sebaliknya.
"Brengsek..."
Aku memasukkan ponsel kembali ke saku.
Jimin sudah mengingatkanku berkali-kali untuk tidak bertindak gegabah. Tetapi semakin lama aku berdiri di luar, semakin kuat perasaan bahwa sesuatu sedang terjadi di balik pintu itu. Jungkook masih belum ditemukan. Jimin tidak bisa dihubungi. Dan tempat ini merupakan salah satu lokasi yang masih digunakan orang-orang RM.
Aku tidak bisa pulang dengan tangan kosong.
Aku berjalan menyusuri sisi bangunan, menjaga jarak dari pintu utama. Suara musik semakin jelas. Dari balik dinding terdengar tawa, suara gelas beradu, dan teriakan orang-orang yang menikmati pesta.
Aku mengenal suara seperti itu.
Namun aku tidak merasa menjadi bagian darinya lagi.
Aku berhenti di dekat pintu samping.
Pintu itu tidak sepenuhnya tertutup.
Ada celah kecil di antara kusen dan daun pintu.
Aku menatapnya beberapa detik.
Kemudian mengulurkan tangan.
Perlahan...
kudorong pintunya.
Cahaya merah dari dalam langsung jatuh ke wajahku.
Suara musik menjadi jauh lebih jelas.
Kalau Jimin tidak bisa dihubungi, aku tidak punya siapa pun yang bisa menghentikanku.
Dan jika ada sesuatu di balik pintu ini...
aku harus melihatnya sendiri.
Aku menarik napas panjang.
"Kalau begitu..."Tatapanku mengeras. "...aku akan mencari jawabannya sendiri."
Tanganku mendorong pintu sedikit lebih lebar.
Cahaya merah menyapu tubuhku.
Suara musik memenuhi telinga.
Aku melangkah masuk.
***
Begitu pintu tertutup di belakangku, suara musik langsung menghantam telinga. Dentumannya jauh lebih keras daripada yang terdengar dari luar. Lampu merah, biru, dan ungu berputar di langit-langit, sesekali menyorot wajah orang-orang yang memenuhi ruangan. Bau alkohol, parfum, asap rokok, dan keringat bercampur menjadi satu. Beberapa orang sudah kehilangan kendali. Ada yang tertawa terlalu keras, ada yang menari sambil memegang botol, ada pula yang duduk berdesakan di sofa dengan tatapan kosong.
Aku menahan ekspresi jijik.
Tempat ini masih sama. Hanya orang-orangnya yang semakin banyak.
Aku menarik tudung jaket ke kepalaku sedikit lebih rendah, membiarkan sebagian wajah tertutup bayangan. Tidak ada gunanya menarik perhatian. Aku tidak datang untuk mencari masalah. Setidaknya belum. Mataku bergerak perlahan menyusuri ruangan, mencari satu dari tiga wajah yang kukenal.
RM. Suga. J-Hope.
Tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat.
Bagus, berarti aku masih memiliki waktu.
Aku berjalan menyusuri kerumunan tanpa tergesa. Sesekali seseorang menyenggol bahuku, tetapi aku hanya melirik tajam sebelum kembali melangkah. Seorang perempuan yang hampir menabrakku bahkan sempat tertawa dan meminta maaf, tetapi aku tidak menjawab. Aku tidak punya waktu untuk basa-basi. Fokusku hanya satu—mencari tanda bahwa Jungkook pernah berada di tempat ini.
Aku melewati meja-meja penuh botol, tangga menuju lantai dua, dan sebuah lorong sempit yang dipenuhi orang-orang yang sedang berbicara dengan suara terlalu keras. Tidak ada tanda-tanda Jungkook. Tidak ada pula sesuatu yang terlihat seperti ruangan tahanan. Tempat ini memang tampak seperti rumah pesta biasa. Namun justru itu yang membuatku semakin waspada. RM tidak pernah sebodoh itu sampai menjadikan tempat seperti ini sebagai satu-satunya lokasi untuk semua urusannya.
Aku baru saja hendak menaiki tangga ketika seseorang dari belakang tiba-tiba mendorong tubuhku cukup keras. Aku kehilangan keseimbangan dan terhuyung beberapa langkah ke depan.
"Brengsek..." desisku sambil berbalik, tetapi sebelum sempat mencari siapa yang melakukannya, sebuah tangan kembali mencengkeram lenganku.
Aku refleks menepisnya, namun orang itu sudah lebih dulu menarikku menuju lorong samping yang jauh lebih gelap. Langkahku terhenti ketika sebuah pintu terbuka di hadapanku, lalu seseorang mendorong tubuhku masuk begitu saja. Aku hampir membalikkan badan untuk menghantam orang tersebut ketika sebuah sosok lain tiba-tiba ikut masuk ke dalam ruangan yang sama.
Pintu langsung ditutup dari dalam.
Aku mengerutkan kening dan berbalik dengan cepat.
"Apa-apaan—" Kalimatku terhenti.
Perempuan yang berdiri beberapa langkah di belakangku langsung membuatku membeku. Dress hitam, rambut panjang bergelombang yang tertata rapi, dan wajah yang terlalu kukenal.
"Juhyun?" Suaraku terdengar datar, tetapi keterkejutan jelas tidak bisa kusembunyikan.
Perempuan itu juga membeku. Matanya membesar begitu melihatku.
"V!" Untuk beberapa detik kami hanya saling menatap, sama-sama tidak memahami bagaimana kami bisa berakhir di ruangan yang sama.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya akhirnya, suaranya terdengar jauh lebih gugup daripada biasanya.
Aku justru tertawa hambar. "Seharusnya aku yang bertanya." Tatapanku menyapu dirinya sekilas. "Kenapa kau ada di tempat seperti ini?"
Juhyun tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan cepat menuju pintu, memastikan kenopnya tertutup rapat, lalu mengunci pintu dari dalam.
Klik.
Aku memperhatikan gerakannya dengan tatapan tajam. "Kau mengunci kita?" tanyaku dingin.
Ia mengangguk pelan. "Aku tidak ingin mereka masuk."
Aku mengerutkan kening. "Mereka siapa?"
Juhyun tidak menjawab. Ia hanya berdiri membelakangi pintu, menarik napas panjang seolah sedang mencoba menenangkan dirinya sendiri. Aku mendekat beberapa langkah.
"Aku bertanya." Kali ini suaraku lebih rendah. "Siapa yang kau takutkan?"
Ia menatapku. Ada kepanikan yang tidak berhasil disembunyikannya.
"Aku tidak takut."
Aku mendengus. "Wajahmu mengatakan sebaliknya."
***
JANETTA P.O.V
Taksi yang kutumpangi akhirnya berhenti di depan bengkel Dohyun. Kawasan industri itu sudah jauh lebih sepi dibandingkan siang tadi. Beberapa toko di sepanjang jalan mulai menutup pintu, lampu-lampu bangunan menyala pucat, sementara udara malam Seoul membawa sisa aroma hujan dan aspal basah. Aku membayar ongkos taksi, lalu turun sambil merapatkan jaket kulit hitam milik V yang kukenakan. Entah mengapa, mengenakan sesuatu miliknya membuatku merasa sedikit lebih tenang, seolah ada bagian kecil dari dirinya yang masih berada di dekatku meskipun aku sama sekali tidak tahu di mana dia sekarang.
Aku menatap bengkel di hadapanku beberapa detik sebelum akhirnya masuk. Pintu rolling masih terbuka, cahaya lampu putih dari dalam tumpah hingga ke area parkir, dan suara peralatan mekanik terdengar samar dari balik deretan kendaraan. Begitu melewati pintu, aroma oli, bensin, logam, dan karet langsung memenuhi udara. Seorang mekanik sedang membungkuk di dekat sebuah motor, sementara Dohyun berdiri di sisi meja kerja sambil membersihkan tangannya menggunakan kain lap. Ia langsung mengangkat kepala ketika mendengar langkahku.
"Dohyun?"
Tatapannya berhenti padaku. Kemudian turun sebentar ke jaket kulit yang kukenakan sebelum kembali ke wajahku.
"Jane?"
Ia segera meletakkan kain lapnya dan berjalan menghampiriku. Namun sebelum aku sempat menjelaskan apa pun, pandangannya justru beralih ke area parkir di belakangku.
"Kau datang sendiri?"
"Iya."
Aku menarik napas pelan. "Aku sedang mencari V."
Ekspresi Dohyun langsung berubah. Tidak banyak, tetapi cukup membuatku yakin bahwa ia tahu sesuatu.
"Ada apa?"
"Aku tidak bisa menghubungi V sejak tadi." Aku menelan ludah. "Pesanku tidak dibaca. Teleponku juga tidak bisa tersambung. Aku yakin tadi siang dia datang ke sini untuk mengambil motornya, jadi aku pikir mungkin kau tahu dia pergi ke mana."
Dohyun terdiam beberapa detik.
Kemudian ia mengembuskan napas pelan. "Dia memang datang tapi sudah pergi."
Jantungku langsung berdetak lebih cepat. "Kapan?"
"Tidak terlalu lama sebelum kau datang."
Aku spontan menoleh ke arah area parkir. Waktu itu aku datang kesini bersama V, Ducati hitam miliknya masih berada di sana. Namun sekarang tempat itu kosong. Aku bahkan tidak perlu bertanya untuk mengetahui bahwa motor tersebut sudah dibawa pergi.
"Berarti motornya sudah diambil?"
Dohyun mengangguk.
Aku kembali menyapu pandangan ke area parkir. Tidak ada Ducati V. Yang tersisa hanya beberapa motor lain yang berjajar di bawah lampu bengkel.
Aku mengembuskan napas lega sekaligus cemas. Setidaknya aku tahu V tidak menghilang begitu saja. Ia memang datang ke tempat ini, mengambil motornya, lalu pergi ke suatu tempat.
"Dia bilang mau ke mana?"
Dohyun tidak langsung menjawab.
Aku langsung menatapnya. "Dohyun."
Ia mengusap tengkuknya pelan. "Jane, sebelum dia pergi, dia meninggalkan satu pesan padaku."
Aku mengerutkan kening. "Pesan apa?"
Dohyun memandangku cukup lama.
"Dia bilang aku harus mengawasi dan menjagamu selama dia tidak ada."
Aku terdiam.
"Dia juga bilang..." Dohyun berhenti sebentar. "...kau kekasihnya."
Dadaku terasa hangat sesaat, tetapi perasaan itu segera tertutup kecemasan yang jauh lebih besar.
"Dia pergi ke mana?"
Kali ini Dohyun mengembuskan napas panjang. "Hongdae."
Satu kata itu membuat seluruh tubuhku menegang. "Hongdae?"
Aku mengulanginya pelan.
Dohyun mengangguk. "Dia tidak menjelaskan apa urusannya. Hanya bilang dia harus pergi ke sana."
Aku menggenggam ujung jaket V lebih erat.
Sekarang semuanya terasa semakin jelas. V sengaja tidak memberitahuku karena ia tahu aku akan melarangnya. Ia bahkan meminta Dohyun menjagaku agar aku tidak menyusul.
Namun V seharusnya tahu satu hal.
Aku tidak akan diam kalau tahu dia pergi sendirian ke tempat yang berhubungan dengan masa lalunya.
"Dohyun, Bisa kau megantarku ke Hongdae?"
Ekspresinya langsung mengeras. "Maaf tidak bisa, Jane." Jawabannya tegas.
"Aku harus menyusulnya."
"Jane, dengarkan aku. V sudah meminta aku menjagamu. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi ke sana."
Aku menatapnya tidak percaya. "Jadi aku harus duduk diam di apartemen sementara dia pergi menghadapi masalah sendirian?"
"Ini bukan soal duduk diam." Dohyun menghela napas. "Ini soal keselamatanmu."
Aku menggigit bibir bawah.
"Antar aku."
Dohyun langsung menggeleng. "Aku tidak bisa."
Aku menatapnya beberapa detik.
"Kalau kau tidak mau mengantarku, aku akan pergi sendiri."
"Jane."
"Aku serius."
Dohyun terdiam.
Aku tahu ia sedang mempertimbangkan apakah harus membiarkanku pergi atau menahanku di sini. Namun aku tidak akan mengubah keputusan. Aku sudah terlalu sering melihat V menghadapi semuanya sendirian hanya karena ia menganggap dirinya harus melindungi orang lain.
Malam ini aku tidak ingin menjadi orang yang hanya menunggu.
"Aku ingat tempatnya," kataku akhirnya. "Waktu itu aku pernah ikut V ke Hongdae. Aku memang tidak tahu persis apa yang ada di balik bangunan itu, tetapi aku ingat jalannya."
Dohyun menatapku lekat-lekat. "Jane, kau tidak boleh pergi."
Keheningan memenuhi bengkel. Dohyun menatapku cukup lama sebelum akhirnya mengusap wajahnya kasar.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Beberapa detik kemudian ia mengambil kunci motor dari atas meja. "Baiklah, Ayo."
Aku langsung menatapnya.
"Benarkah?"
"Jangan salah paham." Ia mengenakan jaketnya. "Aku bukan setuju dengan keputusanmu. Aku hanya tidak akan membiarkanmu pergi ke Hongdae sendirian malam-malam seperti ini."
Aku mengangguk cepat.
"Terima kasih."
Dohyun berjalan menuju salah satu motor yang terparkir di dekat pintu bengkel. Ia menyalakan mesinnya, lalu menoleh kepadaku.
"Naik."
Aku segera mengenakan helm yang diberikan kepadanya, lalu naik ke jok belakang.
Beberapa detik kemudian motor mulai bergerak meninggalkan bengkel. Aku merapatkan kedua tangan pada sisi jaket Dohyun ketika kendaraan itu memasuki jalan utama. Lampu-lampu Seoul bergerak cepat di kanan dan kiri, tetapi pikiranku hanya tertuju pada satu hal.
V.
Aku tidak tahu apa yang sedang ia lakukan.
Aku tidak tahu apa yang menunggunya di Hongdae.
Dan aku tidak tahu apakah Jimin benar-benar baik-baik saja.
Namun malam itu aku sudah mengambil keputusan.
Apa pun yang menunggu di ujung perjalanan...
aku akan menemukannya.
_________________________
TO BE CONTINUED
Halo Armyblinks! kita sudah mulai masuk ke puncak konfliknya nih! 👀🔥
Jangan lupa tetap ikuti Singular, dan tinggalkan vote + komentar kalian ya! Thank you!